Chapter Four
Entah apa yang telah terjadi, tetapi saat gadis itu tinggal di kamar Sasuke, setelahnya yang terlihat hanya warna merah muda dimana-mana.
.
Naruto
Masashi Kishimoto
.
Pink
Copyright 2016 © bluecandle'ss
.
Sakura menatap pantulan dirinya di cermin. Haa, ia siap menjadi seorang mahasiswi baru sekarang. Setelah itu, Sakura harus segera mencari pekerjaan dan apartemen yang tepat untuknya. Semoga saja hari pertama menjadi mahasiswi tidak begitu buruk.
Berbicara soal itu. Mikoto mengatakan bahwa Sasuke juga kuliah di universitas yang sama dengannya. Secara tak langsung, Mikoto mengatakan bahwa Sasuke adalah calon kakak kelasnya. Tidak, ini buruk!
Lupakan, lupakan tentang lelaki itu, Sakura! Jangan rusak awal harimu dengan mengingat namanya. Tarik napas, lalu hembuskan kembali. Tarik lagi, lalu hembuskan lagi. Ini yang terpenting. Jangan sampai saking gugupnya, ia lupa bagaimana caranya bernapas. Itu tidak boleh terjadi.
Sakura tersenyum dan memakai tasnya di bahu. Kemudian, ia segera turun.
"Bibi, aku pamit. Ini hari pertamaku," ujarnya. Mikoto mengangguk dan tersenyum lembut. Wanita berambut raven itu sudah siap dengan setelan kantornya. Sepertinya, juga hendak segera berangkat bekerja.
"Tunggu dulu, Sakura-chan! Berangkat bersama Sasuke-kun akan lebih baik. Dia akan segera turun," cegah Mikoto. Sakura menggeleng cepat. Masa iya, dia harus berangkat bersama dengan Sasuke? Itu sudah pasti akan merusak imej-nya di hari pertama kuliah.
"Tidak perlu, bibi. Aku berangkat sendiri saja," tolaknya halus. Namun, Mikoto hanya tersenyum dan bergegas memanggil Sasuke yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mendekat.
"Ada apa, ibu?" tanya Sasuke.
"Berangkatlah bersama Sakura-chan. Kalau pergi sendirian, tak menutup kemungkinan dia akan tersesat, 'kan? Tokyo itu luas dan Sakura-chan baru disini," jelas wanita yang hampir berkepala empat itu. Sasuke tiba-tiba tersedak udara.
"Apa? Tidak, tidak! Itu sama saja seperti aku membunuh imej-ku sendiri, ibu."
"Apa yang kau maksud dengan 'membunuh imej-mu', Sasuke-kun? Kau hanya berangkat bersama seorang gadis, dan ibu rasa itu bukan suatu masalah, bukan?" Mikoto tak habis pikir dengan sikap anak bungsunya ini.
"Tapi, ibu—"
"Ini permintaan dari ibu, Sasuke-kun. Apa kau akan menolaknya?" Sasuke menghela napas panjang. Ibunya memang tahu dimana letak kelemahannya. Yaaa, mana mungkin Sasuke dapat menolak permintaan dari wanita yang paling dicintainya.
"Hn. Bailah," Mikoto tersenyum senang.
"Sebelum ke kampus, mampirlah ke restoran atau caffe untuk sarapan. Ibu tidak bisa membuat sarapan pagi ini karena ibu harus segera ke kantor. Hati-hati dijalan. Ibu pergi dulu, semoga hari kalian menyenangkan..." Dan Mikoto hilang di balik pintu.
"Bagus! Apa yang kau lakukan sampai ibu menyuruhku sampai berangkat bersamamu?" Sakura menggedikkan bahunya sambil membuang arah pandang. "Kau yang merayunya untuk menyuruhku, 'kan?"
Oke, dia mulai lagi. Uchiha Sasuke dan teori sok tahunya. Ini mulai menjengkelkan.
"Berhentiku menudingku dengan tuduhanmu yang konyol itu! Aku sama sekali tidak sudi untuk berangkat bersamamu. Ibumulah yang menyarankannya," balasnya kesal. Sasuke berdecih pelan.
"Ya, ya, sandiwaramu berhasil! Selamat!"
Apa lagi yang dimaksud si bokong ayam ini?!
"'Sandiwara'? Kau sungguh berpikir aku 'bersandiwara'? Sayangnya, aku sama sekali tidak melakukan tindakan yang kau sebut dengan 'sandiwara' itu." Sasuke diam tak mengubris dan berjalan di depan Sakura yang mengikutinya.
"Bisakah kau mempercepat laju langkahmu? Aku tidak ingin terlambat untuk kuliah," sungut Sasuke dengan ekspresi datarnya.
"Aku tahu itu. Kau tak perlu mengingatkanku untuk hal sekecil itu," Sasuke berdecak malas. Gadis yang merepotkan memang.
...
"Kenapa kita berhenti disini? Aku tak ingat Tokyo Daigaku berubah menjadi sebuah restoran klasik seperti yang berada di hadapanku ini,"
"Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan ibuku di rumah tadi? Kita belum sarapan apapun, jadi dia menyuruh kita untuk sarapan di perjalanan, bukan? Sebenanrnya, telingamu kau gunakan untuk apa? Aku yakin itu bukanlah barang antik yang hanya bisa kau pajang-pajang saja."
Hm, sarkasme yang bagus, Sasuke.
"Cerewet! Kau bisa menjawab seadanya saja, 'kan? Tidak perlu menambahkan sarkasme yang tidak enak didengar."
"Terserah," balas Sasuke cuek. Sakura mengikuti Sasuke dari belakang saat lelaki itu mulai masuk ke dalam restoran.
"Selamat datang, tuan, nona. Meja untuk dua orang?" Sasuke mengangguk dan pelayan itu mengatar mereka menuju meja yang dihadapkan oleh dua kursi. "Ini daftar menu yang kami punya," pelayan itu menyerahkan daftar menu masing-masing satu pada Sasuke dan Sakura yang duduk berhadapan.
Setelah melihat-lihat, Sasuke bertanya apa yang akan Sakura pesan. Setelah gadis itu menjawabnya, Sasuke mengangguk.
"Tolong, dua porsi Tamagoyaki, Yakizakana, Natto, Nori, Tsukemono, Sup Miso Dashi, dan nasinya." Pelayan itu mengangguk dan mencatat pesanan yang diucapkan oleh Sasuke.
"Minumannya, tuan, nona?"
Sasuke melirik Sakura dan menerima anggukan dari gadis itu. "Dua kopi hitam."
"Ada yang lain?" Sasuke menggeleng. "Baik, pesanan akan segera diantar dalam sepuluh menit. Permisi," pelayan itu pergi dan meninggalkan keheningan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin itu.
Sasuke menggaruk kepala belakangnya. Suasana ini begitu awkward baginya. Sakura? Lihat saja gadis itu, terlalu fokus dengan ponselnya. Sebenarnya apa yang sedang dilihat Sakura disana? Apa itu lebih menarik daripada Sasuke?
Eh, apa yang ia pikirkan barusan?
"Kau tidak gugup?" tanya Sasuke membuka pembicaraan.
"Gugup? Kenapa?" Sakura mulai mengalihkan atensinya dari ponsel.
"Hari pertamamu," jawab Sasuke sekenanya.
"Haruskah aku?" Sasuke berdecak saat gadis itu mulai memusatkan kembali perhatiannya ke ponsel. Setengah kesal Sasuke merampas ponsel tersebut dari genggaman sang pemilik yang memberikan reaksi melotot ke aras si pelaku. "Hei, ponselku!"
"Apa kau bisa memperhatikan lawan bicaramu?" Sakura mendengus.
"Punya masalah akan hal itu? Merampas ba—" kalimat Sakura terpotong oleh kalimat Sasuke yang sukses membuat Sakura melotot untuk kesekian kalian.
"Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku menyukaimu?"
"Ap—prff! Bicara apa kau, orang gila?" Sakura tertawa, tetapi tidak cukup keras hingga sampai dapat terdengar pengunjung lainnya.
"Aku serius," Sakura menatap mata Sasuke, mencari kebenarannya disana. Namun, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan saat memandang dalam manik obsidian milik Sasuke.
"Oke, oke—prrff! Ah, maafkan aku. Sungguh, leluconmu membuatku sakit perut, Sasuke," gadis itu mulai kembali tertawa. Sasukeb berdecak sembari membuang arah pandangnya.
"Sudah kukatakan bahwa aku serius. Kau tak men—"
"Ini pesanannya, tuan, nona. Silahkan dinikmati," pelayan itu meletakkan nampan berisi pesanan di atas meja mereka dan segera berlalu pergi.
"Nah, pesanan sudah sampai. Sekarang kau bisa makan. Kau pasti kelaparan, sebab itu kau membual, bukan? Baiklah, ittadakimasu!" Sakura mulai memakan sarapannya. Meninggalkan Sasuke yang terdiam sesaat. Kemudian, lelaki tersenyum tipis sambil memandang makanannya.
Entah mengapa, dengan melihat gadis maniak merah muda itu saja tertawa sudah membuatnya merasa kenyang.
.
To Be Continue
.
Author's Note, nah, sudah berapa lama saya tidak mengupdate fanfic ini? Hontou ni gomenasai untuk segala kekurangan dan juga untuk typo(s) yang masih bertebaran ;;3 sampai jumpa di chapter lainnya xD!
bloom
