Disclaimer: 17 © Pledis Entertainment


.

.


Unsolved Riddle


.

.


4


Ini adalah hari yang aneh, pikir Mingyu.

Saat itu hampir pukul delapan malam. Dia baru saja kembali dari kencan bersama Jihoon. Sebenarnya kencan bersama Jihoon bukan istilah yang tepat. Karena yang sebenarnya terjadi adalah: Dua hari lalu dia, Seokmin, Seungkwan, Soonyoung dan Jihoon bermain Mario Kart di apartemen Seokmin. Itu jumat malam. Teman seapartemen Seokmin sedang tidak ada sana, jadi mereka menguasai tempat itu sampai hari berikutnya. Mereka memutuskan bermain game. Siapa pun yang kalah akan mendapat hukuman yang mereka cabut secara acak dari kaleng hukuman. Kaleng hukuman itu sudah ada sejak sejuta tahun lalu. Dibuat sejak lama untuk kepentingan seperti saat itu.

Karena Mingyu adalah seorang pria malang yang akhir-akhir ini peruntungannya sangat jelek, dialah yang hari itu kalah. Kata Seokmin "kau jadi menyedihkan sejak kenal makhluk setengah iblis setengah peranakan setan bernama Jeon Wonwoo di apartemenmu, bahkan peruntunganmu sekarang berbalik meninggalkanmu," yang berusaha keras diabaikan oleh Mingyu karena demi Tuhan teman-temannya sangat suka menghubungkan seluruh kesialan yang dia alami dalam hidupnya akhir-akhir ini dengan Wonwoo. Apa hubungannya antara Wonwoo dengan Mingyu kalah Mario Kart? Kecuali fakta bahwa teman-temannya tidak berhenti membuyarkan konsentrasinya dengan tidak berhenti mengingatkan Mingyu bahwa—Seungkwan berkata dan Mingyu mengutip—"Sementara kau sedang berkonsentrasi penuh dengan Mario di sini seperti pecundang, mungkin Wonwoo sedang menghabiskan malam dengan perempuan asing di diskotik atau kamar hotel." Sehingga dia merasa sangat sulit mengendalikan jempolnya untuk mengendalikan stik. Pemikiran Wonwoo dengan perempuan asing berparfum menyegat membuat darahnya mendidih hebat. Tunggu. Apa itu berarti Wonwoo memang membuatnya kalah dalam permainan ini? Kalau begitu Seokmin ada benarnya juga. Menghela napas panjang, Mingyu meratapi betapa naif dirinya.

Mingyu pikir peruntungannya tidak bisa lebih buruk lagi, tapi nyatanya, ya itu bisa menjadi lebih buruk. Dia mencabut kertas hukuman. "Berkencan dengan Jihoon!" tertulis di atas kertas itu. Terdengar erangan keras dari Mingyu, karena berbicara dengan normal bersama Jihoon tanpa pemuda pendek itu menaikkan gitar ke atas kepala untuk menyerang Mingyu saja sudah cukup sulit. Bagaimana mau berkencan?

Erangan Mingyu diikuti dengan teriak protes Jihoon. "Hei, kenapa berkencan denganku masuk dalam daftar hukuman seolah-olah itu hal yang buruk?" Seokmin, Mingyu, dan Seungkwan mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Diam-diam mereka berbagi tatapan yang sama, berbicara tidak secara verbal "Itu memang hal yang sangat buruk Lee Jihoon."

Setelah itu terdengar satu erangan lagi. Bukan dari Mingyu mau pun JIhoon, melainkan Soonyoung kali ini. Dia meletakkan kedua tangannya di lantai dan melempar kepalanya ke belakang dengan kecewa. "Ah, Kim Mingyu sialan. Apa kau tidak bisa menjadi tidak beruntung sendiri saja? Kenapa menyeret aku juga?"

"Hah?" Empat orang lainnya serempak memutar kepala melihat Soonyoung.

Pemuda bermata sipit itu berbicara lagi. "Itu kertas yang sengaja kusiapkan untukku supaya aku bisa berkencan dengan Jihoon. Kenapa kau mencabutnya?"

Soal Soonyoung yang sudah setahun lebih berusaha menaklukkan hati Jihoon memang bukan rahasia lagi. Dan soal Jihoon yang menolak mentah-mentah setiap usaha menyedihkan pemuda yang lain jauh lebih tidak rahasia lagi. Tapi Soonyoung itu tidak sampai mencapai level menyedihkan Kim Mingyu. Semua orang juga tahu kalau Jihoon diam-diam suka Soonyoung. Soonyoung juga tahu itu. Tapi mereka punya permainan tarik ulur yang terlalu memusingkan. Mingyu tidak mau repot-repot terlibat dengan kisah cinta mereka, kisah cinta dia saja—yang tidak betul-betul nyata—sudah cukup membuat kepalanya serasa mau pecah.

Jadi begitulah kronologinya. Karena hukuman adalah hukuman—seberapa besar pun rasa tidak suka Mingyu, Jihoon, dan Soonyoung akan hal itu—biar bagaimana pun Mingyu harus membawa Jihoon berkencan.

Tapi kencan itu sebenarnya bukan benar-benar kencan. Lebih seperti acara "Jihoon berkeliling ke sana ke mari di sekitar pusat perbelanjaan dan Mingyu mengekor di belakang seperti anjing setia merangkap pembawa barang". Mereka berangkat sejak pagi. Karena itu hari minggu. Sarapan McMuffin telur dan kopi di McDonald. Semua dibayar oleh Mingyu. Setelah itu mereka berjalan-jalan di sekitar Garosugil. Dia menemani Jihoon melihat-lihat beberapa CD baru dan mencari album-album lama yang eksistensinya dipertanyakan oleh Mingyu. Karena "Jihoon, kenapa kau mencari album In Utero Nirvana? Apa kau bahkan sudah lahir saat vokalis mereka mati?"

"Diam Mingyu, ikut saja dan jangan banyak bicara!"

Mereka melakukan pencarian sia-sia di banyak toko kaset dan musik sampai tengah hari. Album Nirvana tetap tidak ada di tangan. Sebagai gantinya, Jihoon membawa pulang beberapa album Shinee. Semuanya dibayar oleh Mingyu.

"Kalau aku sendiri yang bayar, berarti itu bukan betul-betul hukuman bagimu." Begitu dalih Jihoon.

Mingyu memilih mengabaikannya dan malah bertanya, "Kenapa kau membeli album Shinee? Apa kau bahkan suka mereka? Bukannya Soonyoung yang suka Shinee?"

Dijawab Jihoon dengan, "Beritahu Soonyoung, dan kuberitahu Wonwoo kau menyimpan fotonya saat sedang tidur di ponselmu."

Mingyu mengerang imajinatif dalam kepalanya. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa selain bertanya kenapa Jihoon membeli album Shinee dan pemuda itu langsung merespon dengan ancaman. Tapi dia tahu lebih baik untuk tidak menganggap remeh peringatan itu. Jihoon betul-betul bisa memberi tahu Wonwoo kalau dia mau. Dan Wonwoo akan membencinya seumur hidup. Shinee pun tidak lagi dibicarakan sepanjang hari.

Setelah itu mereka pergi ke mal. Keluar masuk toko baju. Keluar masuk toko sepatu. Menonton film laga yang ternyata sangat membosankan. Keluar masuk too baju lagi. Jihoon membeli beberapa potong kaus—dengan merogoh kocek sendiri—dan satu jaket yang jelas-jelas lebih besar dari ukuran tubuhnya. Sekali lagi Jihoon mengancam akan meberitahu Wonwoo tentang foto tidur di ponsel Mingyu kalau sampai Mingyu bilang apa-apa pada Soonyoung.

"Aku memang tidak berniat melakukannya," balas Mingyu, merotasikan matanya. Mingyu tidak mengerti sebenarnya kenapa sih Jihoon bersikap impulsif begitu? Kalau suka, kenapa terus menarik ulur? Seperti anak kecil saja. Itu membuat sakit hati seseorang yang cintanya tidak terbalas di sebelah sini. Tentu saja, itu tidak berani dia sampaikan secara kuat.

Mereka tidak makan malam lagi, karena Mingyu sudah merasa seakan-akan separuh jiwanya dihisap keluar hanya dengan menghabiskan satu hari bersama Jihoon. Dia ingin cepat-cepat pulang ke apartemennya yang pasti kosong. Karena ini hari minggu dan dia sama sekali tidak akan mengharapkan Wonwoo duduk tenang di sofa mereka membaca buku apa pun yang selalu dibacanya.

Nyatanya Wonwoo ada di sana saat dia melangkah masuk ke dalam apartemen. Seluruh apartemen dalam keadaan terang benderang. Sepatu Wonwoo diletakkan rapi di dekat pintu. Mingyu mengangkat tangan kanannya ke depan wajah. 19:53 berkedip-kedip dari jam tangan digitalnya. "Apa Wonwoo lupa mematikan lampu sebelum keluar?"

Dia melangkah lebih jauh ke dalam apartemen. Dan menjadi lebih terkejut lagi. Wonwoo ada di sana. Betul-betul ada di sana. Di atas sofa mereka. Duduk bersandar dengan santai, kedua kaki dilipat di depan tubuh. Kaca mata bulat bertengger di atas hidungnya. Satu tangan memegang buku. Dan televisi yang sama sekali tidak ditonton menyala. Mingyu berhenti berjalan begitu matanya bersambut pemandangan itu. Mengamati penampilan Wonwoo dari atas sampai ke bawah. Sepertinya dia baru selesai mandi. Masih ada sisa-sisa air menetes dari rambutnya yang tidak ditata. Dia menggunakan sweater merah jambu yang sering dia pakai kalau dia ada di apartemen. Bawahannya hanya sebuah celana piyama bergaris. Itu sama sekali bukan penampilan orang yang berniat pergi ke bar.

Wonwoo tiba-tiba bertanya dari balik bukunya. Membuat Mingyu terkejut. "Apa kau mau berdiri di sana sepanjang malam dan memandang ke sini seolah mau mengulitiku?"

Unuk sesaat Mingyu berpikir, 'apa dia punya semacam indra keenam? Bagaimana Wonwoo tahu kalau aku memandangnya padahal matanya tidak sekali pun beralih dari bukunya?'

"Hyung kenapa kau ada di sini?" Mingyu malah bertanya seperti itu. Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah tuduhan.

Masih tidak menatap lawan bicaranya, Wonwoo menjawab. "Apa aku harus punya alasan untuk ada di apartemenku?"

"Bukan. Bukan begitu maksudku," sangkal Mingyu cepat. Tangannya digerakkan panik di depan wajah, hal yang sangat sering dia lakukan di depan Wonwoo. Karena tidak ingin pemuda itu salah paham dengan perkataannya. Saat itu dia gagal menangkap senyuman Wonwoo mendapati reaksinya itu. "Kau boleh ada di sini. Kapan pun. Tanpa alasan."

Wonwoo menurunkan bukunya. Lalu membalikkan wajah menghadap Mingyu. Dia memandang teman satu apartemennya yang sedang bergumam kacau itu dengan pandangan terhibur.

"Kau tidak berniat pergi ke mana-mana malam ini?" tanya Mingyu.

Wonwoo mengedik dan mengangkat kedua tangannya di samping tubuhnya. "Tidak. Malam ini aku mau di sini."

"Tapi kenapa?"

"Apa aku harus punya alasan?" Pertanyaan yang sama lagi.

"Biasanya kau selalu keluar di akhir pekan. Jadi..."

"Hm, coba kupikirkan." Wonwoo meletakkan tangan di bawah dagunya. Seolah sedang memikirkan alasan. "Apa 'karena teman satu atapku selalu memintaku untuk tinggal di apartemen di malam hari' cukup menjadi alasan?"

Dari semua jawaban yang mungkin dia berikan, Wonwoo mengatakan itu. Mingyu sebenarnya nyaris tidak percaya. Apa Wonwoo benar-benar baru saja mengatakan kalau dia tinggal di apartemen malam ini karena Mingyu? Tanpa bisa dikontrol, wajah si pemuda tan segera berubah cerah. Rasa lelah menghadapi Jihoon dari pagi langsung sirna tanpa jejak.

Ini benar-benar hari yang aneh, pikir Mingyu. Setelah dia kembali mengingatnya—sungguh-sungguh mengingat dan memperhatikan—Wonwoo tadi pagi bersikap lebih baik kepadanya. Tidak membentak, tidak berbicara kasar, pulang tidak dengan bau wanita, membiarkannya mengelus kepalanya. Lalu dia pergi dengan Jihoon dan menjalani dua belas jam terburuk penuh penyiksaan bersama pemuda itu. Sekarang dia pulang ke apartemen—yang disangkanya akan kosong—disambut oleh pemandangan yang sudah sejak lama dia dambakan untuk disaksikannya.

Mingyu pikir, ini benar-benar hari yang tidak biasa.

.

.

.

Melompat sedikit ke depan. Berapa puluh menit kemudian, Mingyu selesai membersihkan diri. Sepanjang mandi dan memilih pakaian dalam dari lemarinya, dia tidak bisa berhenti bersenandung bahagia. Dia berusaha membuatnya tidak terlalu jelas. Memandang ke arah refleksi dirinya di cermin dan mengontrol ekspresi, tapi itu selalu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum senyumnya kembali menginvasi seperempat bagian dari geometri wajahnya. Dia memilih kaus bergaris lengan panjang dari lemarinya dan training abu-abu.

Melompat lagi ke beberapa menit kemudian. Dia duduk berdua dengan Wonwoo di depan televisi. Mengobrol sambil makan mi cina yang dipesan Wonwoo selagi Mingyu mandi tadi. Di hadapan mereka sedang tayang acara dokumenter yang tidak mereka pedulikan.

Pertama-tama mereka mengunyah dalam diam. Mingyu mencoba menikmati momen. Masih belum bisa sepenuhnya percaya kalau dia, pada satu minggu malam di musim gugur, sedang menonton televisi sambil makan mi cina berdua dengan Wonwoo. Wonwoo, pada minggu malam di musim gugur, setelah pagi hari tadi pulang tanpa bau seks dan wanita, sekarang memutuskan untuk tidak keluar. Serius. Jantung Mingyu serasa mau pecah saking girangnya. Tapi dia tetap bertanya-tanya kenapa?

"Mingyu?"

"Ya?"

Mingyu mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan Wonwoo hati-hati. Wonwoo baru saja meletakkan piringnya yang masih berisi setengah lalu melap bekas saus hitam di pinggir bibirnya menggunakan telapak tangan.

"Bagaimana kencanmu tadi?" tanya Wonwoo.

Mingyu diam sejenak. Memperhatikan wajah serius Wonwoo saat bertanya. Kenapa dia peduli? "Biasa saja. Mengerikan malah."

"Mengerikan bagaimana?"

"Yah mengerikan," jawab Mingyu. Dia memasukkan mi lagi ke dalam mulutnya. Mengunyah. Mengunyah. Mengunyah. Menelan. Lalu melap bibirnya dengan telapak tangan, sama seperti Wonwoo tadi. "Kuharap aku tidak pernah melakukannya lagi seumur hidup. Jihoon hyung betul-betul menghabiskan setengah isi dompetku."

"Tunggu! Jihoon?" Wonwoo mengerutkan alis. Memandang Mingyu dengan aneh. Dia kenal Jihoon. Pemuda pendek itu mengambil satu kelas yang sama dengannya. Mereka satu departemen. Dia tidak betul-betul dekat dengan Jihoon, tapi dia mendengar serta memperhatikan cukup banyak untuk tahu kalau Jihoon itu ada apa-apanya dengan Soonyoung. Semua gosip dikreditkan kepada Seungcheol. "Kau pacaran dengan Jihoon?" tanya Wonwoo tidak percaya.

"Iya. Jadi..." Sadar dengan pertanyaan terakhir Wonwoo, Mingyu segera memotong ucapannya sendiri. Ikut-ikutan mengerutkan kening, memoncongkan bibir dan berpikir. "Tunggu. Apa? Tidak. Aku tidak pacaran dengan Jihoon hyung. Jeez. Aku masih cukup waras untuk tidak melakukan itu."

"Jadi?"

"Kau pikir aku pacaran dengannya?"

Wonwoo menjawab dengan menaikkan bahu. "Kalian berkencan dan aku tidak begitu tahu tentang kehidupan asmaramu jadi kusimpulkan begitu saja." Bohong. Wonwoo sedang berbohong. Dia manjawab dengan pura-pura acuh tapi dalam kepalanya muncul sedikit—sedikit saja kok tidak banyak—rasa excited mengetahui kalau kencan Mingyu yang tadi tidak dilakukan dengan pacar atau partner cinta atau apa pun sebutannya. Sugesti Jeonghan kurang dari dua puluh empat jam lalu sekali lagi berputar-putar dalam kepala. Meloncat dari satu neuron ke neuron lain. Memantul-mantul dengan berisik. "Dia itu jatuh cinta denganmu untuk waktu yang sangat lama" Berarti masih ada kemungkinan kalau yang dikatakan Jeonghan dan Jisoo itu benar. Tunggu dulu, kenapa jadi Wonwoo yang kelewat semangat ya?

Mingyu di sisi lain menjawab dengan panik. Seperti cara dia biasa menjawab setiap kali Wonwoo menyebut siapa saja yang dia bawa ke apartemen mereka adalah pacarnya. Dalam hati juga sedikit menggerutu, kenapa Wonwoo suka sekali menyimpulkan siapa pun sebagai pacarnya? "Bukan. Bukan seperti itu. Bahkan kalau hanya tinggal aku dan dia di dunia ini, aku akan lebih memilih mati menjomblo dari pada berhubungan dengannya," katanya seraya menggelengkan kepala berkali-kali. Bayangan itu betul-betul menyeramkan baginya. Hanya segelintir orang di dunia ini yang menganggap sifat temperamen Jihoon itu menggemaskan dan punya pesona yang bisa membuat jatuh cinta. Soonyoung adalah salah satunya. Tapi Mingyu tidak.

Wonwoo hanya terdiam memandangi Mingyu yang panik dengan senyum samar selama beberapa detik. Mingyu sering melakukan hal-hal yang dia pertanyakan di masa lalu—masa lalu yang dimaksud Wonwoo itu masih termasuk kemarin—tapi kalau beranggapan dia memang jatuh cinta kepada Wonwoo, beberapa dari kelakuannya itu mulai sedikit masuk akal. Termasuk yang sekarang ini. "Kurasa juga begitu," ujar Wonwoo. "Apa Jihoon bukannya pacaran dengan Soonyoung ya?"

"Entahlah. Hubungan mereka itu rumit. Terlalu banyak tarik ulur. Yang satu menarik dengan tidak sabaran, yang lain mengulur tidak henti."

"Oh."

Ha. Lucu sekali. Ini tiba-tiba mengingatkan Mingyu pada sesuatu yang dikatakan Wonwoo beberapa waktu lalu di musim panas. Katanya bahwa kau adalah orang yang paling beruntung jika mencintai seseorang, dia mencintaimu kembali, dan dia membiarkanmu mencintainya. Mingyu bukan orang beruntung itu. Karena jelas-jelas rasa cinta yang dipendamnya sangat lama hanya bertepuk dengan angin tanpa bersambut dengan Wonwoo. Tapi ternyata, Soonyoung yang cintanya sebenarnya dibalas Jihoon juga masih belum termasuk orang beruntung itu. Dia dan Jihoon saling mencintai tapi bisa dikatakan Jihoon tidak membiarkan Soonyong mencintainya. Menyedihkan. Tapi begitu juga, tetap saja Soonyoung masih sedikit lebih beruntung dari Mingyu. Lihat dirinya. Mengharapkan suatu kemustahilan untuk terjadi.

Mereka diam setelah itu. Keheningan yang canggung. Mingyu berusaha mengusir perasaan melankolis yang tiba-tiba menguasai. Dia menatap piring mi nya yang sudah kosong. Meletakkannya di sebelah piring setengah berisi milik Wonwoo. Memandang piring itu selama beberapa saat sebelum Wonwoo dengan santai berkata dari belakangnya, "Habiskan saja kalau mau."

Dan itu tepatnya yang dilakukan Mingyu.

Melompat lagi ke beberapa menit kemudian. Semua piring mi cina sudah kosong, diletakkan begitu saja di atas meja. Perut Mingyu penuh setelah diisi satu setengah porsi makanan itu. Wonwoo masih ada di sebelahnya. Melanjutkan membaca bukunya yang tadi.

Ketika memandang Wonwoo, Mingyu tidak bisa berhenti berpikir tentang betapa dia menyukai Wonwoo yang seperti ini. Duduk diam di rumah pada malam hari, bukannya berkeliaran di tempat yang tidak Mingyu tahu, mabuk dan mencari wanita asing untuk ditiduri. Seandainya saja yang seperti ini bisa menjadi pemandangan reguler apartemennya setiap malam. Mingyu bersumpah setengah dari lara hatinya yang sentimen akan menguap tanpa sisa. Tapi Mingyu tidak berani dengan serakah mengharapkan hal seperti itu. Apa pun alasan Wonwoo tinggal malam ini, dia tahu lebih dari siapa pun bahwa itu tidak permanen. Oleh sebab itu selagi memiliki kesempatan yang sangat jarang begini, Mingyu ingin menikmati momen sepenuh hati. Karena dia sadar Wonwoo tidak akan selalu ada di sana. Besok atau bahkan beberapa jam dari sekarang, pemuda itu mungkin sudah kembali ke dirinya yang biasa. Yang selalu hanya membuat Mingyu nelangsa akan rasa cinta tak terbalas. Seokmin benar. Dia menyedihkan. Mingyu tidak akan repot-repot menyangkalnya.

Mingyu mengumpulkan segenap nyalinya saat itu untuk meletakkan tangan ke atas kepala Wonwoo. Dia menunggu reaksi Wonwoo beberapa detik. Yang lebih tua terlihat merinding dengan gerakan tiba-tibanya itu. Tapi dia tidak melakukan apa-apa untuk menyingkirkan tangan Mngyu. Malah menutup matanya saat Mingyu mulai menggerakkan tangan untuk mengelus rambutnya lembut, seakan-akan menikmati sentuhan itu.

Dalam hati Mingyu merasa tersesat. Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak menyingkirkan tangan Mingyu? Kenapa dia tidak melotot tajam? Kenapa dia tidak memperingatkan Mingyu kalau dia bukan pacarnya seperti yang selalu dia lakukan? Meski itu bukan sesuatu yang benar-benar diharapkannya terjadi, Mingyu berteriak dalam batin. 'Marahlah! Marahlah! Tepis tanganku. Ingatkan aku tempatku.' Tapi Wonwoo tidak melakukan satu pun dari itu.

Yang dilakukan Wonwoo malah meletakkan bukunya di atas pangkuannnya. Lalu dia menggeser pantatnya, merangsek mendekat ke Mingyu. Gerakannya tidak cepat. Memberi Mingyu kesempatan untuk berpikir. 'Apa itu halusinasi? Atau dia memang benar-benar sedang menggeser tubuhnya mendekat? Apa yang sedang terjadi sekarang?'

Tidak berapa lama kemudian Mingyu sama sekali berhenti berpikir. Seolah-olah darahnya membeku di salah satu pembuluh otaknya. Menghambat syaraf-syarafnya untuk menghantar gelombang-gelombang pikir berisi kecerdasannya. Wonwoo menjatuhkan kepalanya di atas bahu Mingyu. Dia berbisik pelan. "Apa kau tahu kalau aku biseksual?"

'Apa yang kau bicarakan? Apa maksudnya itu?' Mingyu ingin berteriak frustasi.

Hari yang sangat aneh memang.

Unsolveable riddle, indeed.


TBC


Terima Kasih Banyak:

Kyunie, DevilPrince, Viyomi, Ourwonu, K1mut, Re-Panda68, Albus Convallaria majalis, meanieci, KMaddict, Park RinHyun-Uchiha, aigyuu, CorvusOnyx, xoshxun, jeononu, aishautami, LOVEJaeYong, KimAnita, itsathenazi, Lissanien, Mocca2294, , NichanJung, Mbee99, 7D, straxberry, , Kim Ve, WooMina, kurangaqua, Beanienim, realwonwoo, Wonu bukan pengemis cintaaa, mes, whatamitoyou, RPuspitasary21


a.n. sebenarnya ini sudah selesai diketik minggu lalu, tp krn pas itu saya belum bikin lanjutannya methaporical heart dan lg kesel sama dosbing dan asisten lab, jd gak update ehe /apa hubungannya coba/ yah bagi saya itu berhubungan T^T gitu deh. Sorry for the late update ehe

Maafkan segala typo dan keanehan ceritanya ya, Ini tuh sebenernya ff ringan, gak galau2an dan kuketik tiap kali mau melarikan diri dari laporan, jd kadang isinya agak ngaco. Semoga gak aneh2 banget sih T^T