Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano
More Sakura Addiction © Marchenhaft
More Sakura Addiction
Forth Addiction: Jealousy
.
.
Murasaki Sakura sedang menyapa Sawada Tsunayoshi.
Hibari menggerakan jarinya sedikit.
Murasaki Sakura sedang mengobrol dengan Yamato Takeshi.
Sekarang, ia memainkan jemarinya risih.
Murasaki Sakura sedang bercanda dengan Gokudera Hayato.
Ia mulai mencengkram lengannya sendiri.
Murasaki Sakura sedang membantu Kusakabe Tetsuya menata rambutnya.
Oh, lihat. Dia menghancurkan tembok.
-.-.-
Kusakabe menelan ludahnya gugup. Baru kali ini ia dipanggil oleh Hibari melalui orang lain, dan begitu ia sampai di ruangannya, ia melihat sosok Hibari yang melipat tangannya, wajah kesal, dan belum lagi aura membunuh yang menusuk tulang. Kusakabe sudah berdiri selama lima menit dan sudah delapan kali ia menanyakan mengapa ia dipanggil, namun tidak ada jawaban sama sekali dari atasannya itu.
"Ehm, Kyoya-san…" Kusakabe mulai berkeringat dingin. "A-Apakah saya melakukan kesalahan atau…"
"Oh, ya. Kau melakukan kesalahan," Hibari akhirnya angkat bicara, namun dengan nada datar dan menyeramkan.
Kusakabe melirik ke para anggota lain, mengharapkan penjelasan. Namun, mereka hanya mengalihkan pandangan mereka, memasang ekspresi kasihan, dan bahkan ada yang menggumamkan 'tabahlah'.
"Rambutmu." Hibari melirik rambut Kusakabe sinis. "Hari ini rapih sekali. Siapa yang menatanya?"
Kusakabe kembali cerah, mengira Hibari memaafkannya. "Ah, yang menatanya Sakura-san," jawabnya ceria. "Sakura-san benar-benar terampil! Tangan-tangannya lihai sekali menata rambut—ah."
Hibari berpangku tangan, mengeluarkan aura pembunuh yang semakin membuat Kusakabe ketakutan. "Oh, jadi kau meminta Sakuraku untuk menata rambutmu, hm? Sakuraku?" tanya Hibari, menekankan pada bagian 'ku'-nya. Kusakabe menelan ludah, menyadari kesalahannya.
"K-K-Kyo—Tolong, Kyoya-san! Apapun selain tonfa!"
"Akan kugigit kau sampai mati!"
-.-.-
"Eeeeh? Kyoya-kun cemburu pada Kusakabe-san?" sahut Sakura terkejut. Kusakabe, yang lelah dan kasihan melihat semua pria-pria tak bersalah yang terlihat dekat dengan Sakura dihabisi tanpa pandang bulu oleh Hibari, terpaksa mengaku ketika Sakura menggeretnya ke atap sekolah karena ia heran mengapa teman-teman laki-lakinya kini terlihat menjauh.
"Ia marah sekali," Kusakabe mulai curhat. "Sepertinya ia memang cemburu pada siapapun yang dekat dengan Sakura-san. Pernah sekali ia menghancurkan pintu hanya karena Kyoya-san melihat anda sedang dilatih bermain baseball oleh Yamamoto-san."
Sakura tertawa garing. "Protektif sekali, atau mungkin lebih ke posesif?" cadanya, selesai memberi perban pada kepala Kusakabe.
"Dua-duanya, Sakura-san."
"Ah, Kusakabe-san benar."
Mata hijau Sakura berputar, memikirkan sesuatu. "Aku harus mempunyai cara agar dia tidak melukai semua laki-laki yang dekat denganku," sahutnya. "Bisa gawat kalau populasi laki-laki di Namimori berkurang drastis hanya karena Kyoya-kun yang cemburu berat."
Kusakabe mengangguk setuju. "Tapi, caranya?"
"Tenang saja, otakku sudah menyimpan ribuan cara, Kusakabe-san."
Sebelum Kusakabe bisa berkomentar apa-apa, Hibari tiba-tiba medobrak masuk dengan wajah yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata apapun. Aura membunuh kembali menusuk Kusakabe, belum lagi kedua mata yang tidak memberikan sedikitpun rasa kasihan menatap tajam Kusakabe.
"Ah, kau disini, Kusakabe?" suara Hibari terdengar seperti suara malaikat pencabut nyawa di telinga Kusakabe. "Berani sekali."
"M-M-Ma—"
Ujung pedang Sakura sudah sampai tepat di depan wajah Hibari sebelum Kusakabe dapat menyelesaikan permohonan maafnya. Kusakabe menahan nafasnya tegang. Hibari menaikkan alisnya. Sakura menatap Hibari lurus.
"Membawa pedang ke sekolah juga, Sakura?" Hibari melembut, menunjukkan dirinya yang biasa di hadapan Sakura.
"Jangan berlebihan dan jangan lukai semua laki-laki yang pernah berbicara denganku, Kyoya-kun." Sakura menaruh pedangnya di atas pundak Hibari.
Hibari tertawa kecil dan menggeser pedang itu sampai jatuh, menangkap lengan kanan Sakura cepat, dan mendekatkan wajah mereka berdua. "Oh?" sahutnya singkat, bergerak untuk menutup jarak diantara kedua bibir mereka.
"Tidak boleh menyentuhku kalau kau melukai mereka," ultimatum dari Sakura menjadi sebuah pedang yang menusuk Hibari kencang. "Tidak ada ciuman, pelukan, sentuhan tangan. Ah, apa harus kutambahkan tidak boleh berbicara denganku?"
Hibari mengambil satu langkah ke belakang. Kusakabe terdiam terkejut.
"Mengerti?"
Hibari mendecak, ia menatap Kusakabe seakan-akan ia berkata 'Ini-semua-karena-kau-idiot'. Sakura menampar lembut kedua pipi Hibari dengan kedua tangannya dan membuat kepala Hibari mengarah padanya. "Tidak ada kekerasan, oke?" tanya Sakura tersenyum. "Kasihan mereka, Kyoya-kun!"
Hibari menghela nafas. "Terserah," sahutnya putus asa, dan mengecup Sakura. "Apapun katamu."
Hibari melongos pergi, meninggalkan ruangan itu dengan sedikit kesal. Kusakabe masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. "Baru kali ini aku melihat Kyoya-san kalah berargumen dengan seseorang," sahutnya.
"Sudah kubilang, ia takkan berani denganku."
"Sakura-san, anda takkan memakai status anda itu untuk mengerjai Kyoya-san, bukan?"
"Ah, itu ide yang bagus, Kusakabe-san. Tidak pernah terpikirkan olehku."
Kusakabe terdiam. Sakura tersenyum dengan ribuan ide iseng untuk mengerjai kekasihnya itu. Setelah 'perjanjian' itu, keadaan di Namimori mulai kembali tentram. Para laki-laki kini sudah aman untuk berbicara dan bercanda dengan kekasih hewan buas penguasa Namimori itu. Hanya saja, setiap harinya, entah mengapa ditemukan banyak sekali kerusakan parah di tembok sekolah, meja, kursi, bahkan gerbang sekolah.
Yah, setidaknya yang rusak bukan tulang-tulang para laki-laki malang itu, bukan?
Besok saya masih ada UKK dan saya mantengin komputer dari tadi sore. Yeay!
