Kurangkai Puisi dan Simfoni

A Hunter x Hunter Fan Fiction.

Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.


Chapter 4

Aku berharap ada cahaya yang 'kan menerangi langkahku

Hingga ke ujung sana

Tunggulah aku!

Aku hanya punya dua kaki

Yang tidak bisa melangkah secepat kilat

Jangan tinggalkan aku!

Aku akan segera sampai

Secepat yang aku bisa

Secepat angin surga membawaku

Mata yang menangis karena kesepian

Mata yang tersedu karena bahagia

Terlupa akan kenangan

Kututurkan lewat kata

Kuukir dalam elegi sanubari

Aku ingin mencintaimu

Aku ingin bersamamu

Tapi kebencian terlanjur merayapi lubuk hatiku

Aku ingin berlari memelukmu

Aku ingin menghampiri dan tersenyum kepadamu

Namun dendam telah bersarang di otakku

Menguasai segala kata yang hendak terucap dari bibirku

Menguasai semua tindakan yang hendak kulakukan

Di matamu

Apa ada sosokku?

Aku ingin tahu

Bagimu

Itu hanya pertanyaan yang sederhana, bukan?

Sebut namaku…

Maka aku akan balas meneriakkan namamu

Di tengah dunia yang penuh kepalsuan ini


Kurapika menghabiskan sarapan di depannya dengan tak berselera. Dia lebih banyak terlihat bengong daripada makan.

"Kurapika," panggil Senritsu dengan suara lembut. "Kamu kenapa?"

Kurapika tersentak dari lamunannya, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa," katanya.

"Ada masalah, ya?" tanya Senritsu lagi. "Detak jantungmu kacau."

"Aku tidak apa-apa," Kurapika mengulangi dengan suara yang lebih keras. "Jangan mengkhawatirkanku."

Senritsu diam tanpa kata. Mulutnya seolah digembok. Tapi dari tatapan matanya, dia tampak tidak yakin seratus persen terhadap kata-kata Kurapika barusan. Dia yakin telah terjadi sesuatu hal yang serius.

"Tapi aku mengkhawatirkanmu," Senritsu memberanikan diri untuk berbicara ketika Kurapika bangkit dari kursinya. Kurapika terdiam sejenak, kedua telapak tangannya masih melekat di atas meja. Dia menatap Senritsu dengan pandangan yang dingin dan membuat tubuh seolah beku.

"Memang benar, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Kamu seolah tahu segalanya, Senritsu," desah Kurapika. "Tapi… tidak mungkin segala hal yang berdiam di dalam otakku ini kutumpahkan padamu, 'kan? Ini menyangkut hal-hal yang bersifat pribadi. Kuharap kamu mengerti."

Tanpa menunggu Senritsu membalas perkataannya, Kurapika pergi meninggalkan tempat itu, pergi keluar…


Kuroro disekap di sebuah sel khusus, sebuah sel yang terpisah super jauh dari sel-sel lain yang biasanya digabung dalam satu gedung. Sel khusus itu terletak di tempat terpencil… dan tak sembarangan orang bisa masuk ke sana.

Sel tersebut dilindungi oleh pagar yang berbalut onak dan duri, yang tajamnya selangit. Pagar tersebut mengikuti bentuk sel, yaitu persegi, dengan diapit oleh satu penjaga bertubuh kekar pada masing-masing sudutnya, ditambah seorang polisi di muka pagar. Kurapika menatap lelaki-lelaki yang menjaga sel itu. Walaupun tubuh mereka lima kali lipat lebih besar dari Kurapika, tapi tekad Kurapika untuk menemui Kuroro secara empat mata sama sekali tidak luntur.

Kurapika melangkah dan mendekat, menyodorkan kartu Hunter miliknya dan segera menyatakan apa maksud dan tujuannya datang ke tempat itu. Tanpa banyak cakap sang polisi pun mempersilahkannya untuk masuk dan menemui Kuroro.

"Kuroro?" panggil Kurapika. Tangannya menggenggam jeruji besi sel tersebut. Tampak olehnya Kuroro tengah duduk di pojokan. Ketika Kurapika memanggilnya, dia tersenyum lemah.

"Kamu datang," ucapnya.

"Kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Kurapika dengan nada getir. "Semua pembunuhan… dan kebakaran yang disengaja itu… kenapa kamu melakukannya?"

"Sederhana," sahut Kuroro. "Aku melakukan ini semua untuk memanggilmu keluar."

"Apa maksudmu?" Kurapika nampak tidak mengerti.

"Yah… dengan melakukan semua tindak kriminal ini, kamu pasti akan penasaran siapa sebetulnya pelakunya, dan kamu akan mencari tahu sampai mendapatkan sebuah jawaban. Dengan cara itu, aku memancingmu agar kita bisa bertemu lagi. Aku ingin melihat wajahmu…"

Kurapika tercengang. Mata merahnya membara seperti api yang tengah berkobar, tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk padam sedikit pun.

"Kamu…" Kurapika menyelipkan tangannya di sela-sela jeruji besi tersebut. Tangannya mengarah ke pipi Kuroro. Kuroro diam. Posisinya sama sekali tidak berubah.

PLAK!

Kurapika menampar wajah Kuroro dengan penuh amarah. Darah menetes dari mulut Kuroro. Saking kerasnya tamparan itu, jemari dan rantai di tangan Kurapika nampak membekas di pipi Kuroro. Sebuah senyuman tersungging di bibir Kuroro yang berhiaskan noda darah.

"Dasar brengsek!" bentak Kurapika dengan geram. "Kenapa semudah itu menilai nyawa? Tidak bisakah kamu lebih menghargai orang lain?"

"Dari dulu, kamu selalu emosian," Kuroro menatap mata Kurapika. "Aku merindukan sosokmu yang seperti itu."

Wajah Kurapika memerah, antara berdebar dan terbakar amarah.

"Jangan macam-macam!" teriaknya.

"Aku senang kamu datang," ucap Kuroro, tanpa memperdulikan teriakan Kurapika yang telah membahana. "Itu artinya kamu masih peduli padaku."

'Peduli? Betulkah aku peduli padanya?'

"Aku… nggak peduli padamu, kok!" Kurapika berseru sambil memalingkan wajahnya, agar Kuroro tak dapat melihat wajahnya yang sudah semerah tomat. Kuroro hanya tertawa kecil.

"Sudahlah! Nggak ada gunanya aku ke sini! Aku mau pulang saja," ujar Kurapika sambil mengisyaratkan dirinya untuk pergi dari situ.

"Kurapika."

"Apa lagi?"

"Bolehkah… untuk terakhir kalinya, aku mengelus rambutmu?"

"HAH?" Kurapika kelihatan kaget ketika mendengar permintaan Kuroro yang menurutnya tak masuk akal itu.

"Aku mohon," pinta Kuroro dengan nada memelas, yang biasanya tak pernah digunakannya.

Entah kenapa, Kurapika merasa sulit untuk menolak permintaan Kuroro itu. Maka ia mendekat, membiarkan Kuroro menyentuh helaian rambutnya dengan lembut.

"Aku menyayangimu," ucap Kuroro pelan. "Selamat tinggal…"

Sesungguhnya Kurapika tidak mengerti apa maksud yang tersembunyi dari perkataan Kuroro itu. Kenapa Kuroro malah mengucapkan kata-kata perpisahan? Namun ia tak mau ambil pusing dan segera berlalu dari tempat itu, meninggalkan Kuroro yang masih terkungkung dalam sel dan menatap kepergiannya dari jauh…

Seraya meninggalkan tempat itu, Kurapika mendengar polisi yang berjaga tengah berbisik dengan salah seorang pria bertubuh besar di sampingnya.

"Malam ini tugas kita selesai. Besok kita tak perlu menjaga orang itu lagi…" katanya sambil menunjuk ke arah sel Kuroro. "Malam ini dia akan dihukum mati!"

Perasaan Kurapika seolah bergejolak. Langkah kakinya terhenti seketika. Ia menoleh dalam diam, bagai tak rela meninggalkan Kuroro sendirian…

"Selamat tinggal, Kurapika…"

_ to be continued _


~ Note:

Akhirnya chapter 4 selesai juga… ^^

Terima kasih banyak bagi minna-san yang sudah rela menunggu kelanjutan fanfic ini…

Oh ya, mohon maaf ya kalau chapter kali ini (lagi-lagi) kependekkan... untuk selanjutnya saya berusaha bikin yang lebih panjang lagi deh...

Di review yah!

Thanks!

-Azumaya Miyuki-