Sebelumnya…

Dengan sekuat tenaga ia pejamkan kelopak matanya, sungguh ia tak sanggup melihat apa yang tersaji nanti. Belum lagi kembali ia rasakan tetesan cairan berbau anyir itu semakin banyak, bahkan kini tak bisa disebut tetesan lagi—lebih mirip cucuran. Tubuhnya benar-benar basah dengan cairan merah itu, bau anyir memaksa masuk ke dalam indera penciumannya. Sakura bisa merasakan, beberapa benda utuh terjatuh dan berdiam di kepalanya—benda itu mirip organ tubuh manusia, namun sebisa mungkin ia tak mau berpikir demikian.

'Tuhan kumohon selamatkan aku—aku, aku…aku benar-benar takut.' Saat ini Sakura benar-benar menangis dalam diam, ia tak bisa melakukan apapun sekarang. Hanya mampu berdiam dan menerima cairan berbau tak sedap itu membasahi tiap jengkal tubuhnya.

.

.

.

.

.

CANTERVILLE

.

.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Inspirator by Novel Para Pengganggu (novel terjemah)

Story Written By Lady Bloodie

Rate T-M

Genre Friendship, Horror, Mistery

Main Character [Sasuke x Sakura] x Hinata x Itachi

.

.

.

[KETERANGAN]

Uchiha Itachi 20 tahun

Uchiha Sasuke 18 tahun

Haruno Sakura 17 tahun

Hyuuga Hinata 17 tahun

.

.

Summary

Baik Itachi maupun Sasuke tidak mau mempercayai tentang adanya hal mistik. Namun semenjak ayahnya menikahi janda beranak satu itu, mereka dipaksa untuk mempercayainya. Mistery akan asal mula rumah itu perlahan akan terkuak/ "Kau percaya dengan hantu? Maksudku…"/ "Sasuke, sudah kukatakan jangan—ehh?"/ "Sasuke, Sakura dengar! Tidak ada apapun jadi jangan berkhayal terlalu tinggi, okay?"

.

.

.

.

.

.

Warning

OOC, Typo(s), AU type, Terinspirasi dari salah satu novel berjudul Para Pengganggu *entah karya siapa yang pasti itu novel terjemahan*, Lemon/Lime impilisit, Multichapter, Don't bashing chara please!, DLDR, Mind RnR?

.

.

.

Request from ' '

.

.

.

.

Chapter 4

Sekilas. Hanya sekilas, namun Sasuke yakin dapat melihat bayangan dari dalam kamar mandi berlapis keramik itu, dan ia juga bisa mendengar suara samar isak tangis seorang gadis dari dalam sana. Dan cukup ia akui, tengkuknya terasa meremang seketika. Karena ia yakin, mereka—saudaranya—tak mungkin sedungu keledai untuk bersembunyi, dengan menyisakan jejak berupa suara.

Sulit ia percaya, walau jantungnya berdegup kian cepat—namun langkah kakinya tak sejalan dengan otaknya. Pada akhirnya, ia berjalan secara perlahan untuk masuk ke dalam sana…dan sungguh bau busuk yang pertama kali menyeruak dalam indera penciumannya.

Darah bukanlah darah, kotoran pun bukanlah kotoran. Mungkin, pernah sekali ia mencium bau ini—dan itu di rumah sakit, lebih tepatnya di kamar mayat…saat memastikan jenazah sepupunya—Uchiha Shisui—yang mengalami kecelakaan pesawat, dan baru ditemukan lima hari setelahnya.

Walau kakinya melangkah, namun ia sendiri pun tak mampu menahan getaran serta keringat dingin yang mengucur di sekujur tubuhnya. Dan barulah ketika ia sampai pada tiga deret pintu toilet, ia memberhentikan langkahnya.

Alisnya saling bertaut, tidak ada lagi rasa takut yang menggetarkan jiwanya. Ketika sudah dalam jarak sedekat ini, ia mengenal suara siapa itu. Ia kenal betul isak tangis itu milik Uchiha Sakura, saudari tirinya—walau tak ada ikatan darah.

Dengan segera dibukanya salah satu dari ketiga pintu tersebut. Dan benar adanya—sosok Sakura terduduk pada salah satu toilet yang tertutup lubangnya, dengan keadaan rambutnya yang basah namun tidak dengan bajunya, karena hanya sekedar tetesan air dari langit-langit. Kulitnya pucat pasi dengan kedua matanya yang tertutup dan seraya mengeluarkan air mata.

"Sakura! Sakura! Sadarlah!" Dan ia pun menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu, demi menyadarkannya.

Tak lama setelahnya, gadis itu membuka matanya yang berair. Kemudian dipeluknya pemuda yang berada di depannya, dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti…serta seiring dengan menguatnya pelukan itu pada tubuh Sasuke, membuat pemuda berambut raven itu dilanda keheranan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

"Hei…hei—tenanglah! Ada apa sebe—"

"Kemana saja kau?! Aku hampir mati serangan jantung di sini!" Dan itu adalah sebuah bentakan atas luapan rasa leganya. Masih dengan pelukan terhadap tubuh Sasuke, serta isakan yang tersisa di bibirnya. Ia berucap kembali, "kau—kau tidak mengerti…aku takut, sangat takut…"

Sasuke tak mengerti dengan keadaan ini, ia hanya terdiam dan membiarkan Sakura menenangkan dirinya walau ia tak mengerti sebab ini semua. Dan tak dapat ia pungkiri, hatinya menghangat ketika mendengar gadis itu berkata demikian. Itu artinya, Sakura mengharapkan dirinya—dan membutuhkannya.

Entah ia harus bersyukur atau mengumpat atas rasa takut yang bahkan masih ia rasakan sampai detik ini.

Bahkan tengkuknya kembali meremang.

"HAAAHHH!"

Teriakan Sakura menyadarkannya, ia pun bisa merasakan kepala gadis itu berpindah ke dadanya. Ia pun hanya membelai lembut surai merah muda gadis itu, demi menenangkannya.

"Kepala! Aku melihatnya melayang melewati lorong kamar mandi," ucap Sakura seraya berusaha menunjuk ea rah lorong toilet yang menuju ea rah shower, walau dengan tangan bergetar. "Aku takut…takut sekali, Sasuke."

Dan tak dapat Sasuke pungkiri, bahwa rasa takut dan panik kembali menyergapnya. Sontak ia menolehkan pandang ea rah belakang, namun ia tak menemukan apapun di sana, hanyalah suara tetesan air kran yang mungkin ada masalah dengan pipanya.

"Sebaiknya kita keluar dari sini dan mengeringkan rambutmu." Tanpa menunggu jawaban pasti dari Sakura, ia pun segera menariknya keluar dari toilet.

.

.

.

Di bagian Hinata, gadis itu bersembunyi di dalam sebuah Almari berkayu tua dengan ditemani oleh sebuah senter dalam genggamannya. Sesekali manik amethyst-nya mengintip ke arah luar, memastikan bahwa Sasuke tidak bisa menemukannya. Dan ia sedikit terkejut begitu mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Ketika ia kembali mengintip dari balik celah, sosok Sasuke berada di sana, berdiri dan memanggil namanya. Tapi…

—kenapa, Sasuke begitu bodoh dengan mengenakan pakaian bak seorang pangeran? Benarkah yang di sana itu Sasuke?

Dan saat ia kembali mengintip, sosok itu menghilang dari sana—tanpa terdengar derap langkah kakinya. Sungguh, saat itu pula Hinata merasakan tengkuknya seakan meremang, seperti ada seseorang yang sengaja meniup-niup tengkuhnya yang terekspos karena dia mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Namun di samping itu, yang lebih mendasari adalah rasa penasaran dalam dirinya. Ia begitu penasaran, mengapa Sasuke berpakaian demikian dan menghilang begitu saja.

Setelah menimbang-nimbang, ia pun memutuskan untuk keluar dari dalam almari dan berjalan menuju pintu ruangan, seraya memanggil-manggil Sasuke—berharap bahwa sang kakak muncul, dan menemukannya. Namun apa yang ia harapkan tak kunjung datang, dan yang ada hanyalah hawa dingin yang semakin menusuk di sekitarnya.

Demi Tuhan, Hinata tak menyukai keadaan seperti ini! Ini sama seperti malam itu, ketika ia tidur dengan Sakura. Sungguh, ia tak bisa melupakan saat-saat itu. Saat itu pula, rasanya ia ingin mengutuk pamannya karena sudah membeli rumah suram seperti ini! Walau terbilang mewah dan klasik, namun harganya yang murah itu menjadikannya tak wajar.

"Sa-Sasuke…? Sasuke? Ka-kau di sana? Sasuke!" Semakin lama, suaranya terdengar kian meninggi. Entah hanya ketakutannya belaka, namun ia yakin bahwa hawanya semakin sesak, seakan tak mengizinkannya menghirup sepersen pun dari oksigen.

DRAP DRAP DRAP

Tubuhnya seketika menegang, kala ia mendengar suara langkah kaki berat yang mendekat ke arahnya. Ia ingin berteriak, namun suaranya tak sanggup keluar, walau itu sebuah bisikan sekalipun. Dan ingin rasanya ia memuntahkan isi perutnya saat ini, begitu bau busuk nan menyengat masuk ke dalam lubang hidungnya. Namun yang dilakukannya justru, menangis dengan tubuh yang bergetar ketakutan.

Barulah ketika sebuah tepukan di bahunya, ia sanggup menjerit begitu lantang. Namun itu tak lama, karena sebuah tangan besar membekap mulutnya dan menghentikan jeritannya dengan suara lembutnya. Saat itu pula, Hinata mampu bernafas lega, karena yang berada di belakangnya adalah Itachi.

"Hah…hah…hhh. Sungguh, kau ingin membuatku sekarat? Itachi?" tanya Hinata seraya memukul pelan dada Itachi sebagai syarat atas gurauan yang dilakukan kakak sepupunya itu. "Ku pikir kau makhluk astral. Kau tidak mengerti betapa takutnya aku tadi."

Yang dilakukan Itachi hanya menghela nafas perlahan, ketika mendengar perkataan Hinata yang seakan menghinanya. "Kuanggap itu sebuah pujian darimu, adik sepupu."

"…"

"Ngomong-ngomong, kenapa kau tadi menjerit selantang itu? Aku tidak pernah tau kau bisa menjerit sekeras itu."

Hinata masih belum mampu menjelaskan apapun tentang apa yang terjadi terhadapnya, dan apa-apa yang dilihatnya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di atas sofa kusam di ruang utama, seraya mengatur detak jantungnya yang menggila. Sesekali manik amethyst-nya melirik Itachi yang juga terduduk di sebelahnya, dan juga tampak mengatur nafasnya. Padahal, kakak sepupunya itu tadi terlihat seakan tak terjadi apapun.

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa ayah membeli rumah ini," ucapnya tiba-tiba, seolah membuka pembicaraan. Dan yang dapat dilakukan Hinata hanyalah terdiam dan mendengarkan baik-baik, serta menyetujui betul akan apa yang diucapkan kakak sepupunya itu.

Itachi tiba-tiba menoleh ke arahnya, dengan raut pucat yang masih tersisah di wajahnya. "Hhh…aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya di rumah ini. Menurutmu, apa hantu itu ada?" tanyanya dan ia kembali menghela nafasnya begitu melihat adik sepupunya itu menggeleng cepat.

"Syukurlah jika begitu. Tapi kau tau? Kejadian yang kualami ini di luar nalar." Sejenak ia terdiam guna menarik nafas pelan, dan detik berikutnya barulah ia kembali berucap, "mulai dari terkunci di ruangan, entah gudang atau apa—tapi sungguh lembab baunya. Lalu hari ini, aku bersembunyi di kamar kosong lantai dua. Dan kau tau apa yang terjadi?!"

Hinata menggeleng pelan, seraya bergerak menjauhkan tubuhnya karena kini Itachi mencengkram erat sepasang bahunya, dan menatap sepasang matanya, dan entah kenapa ia begitu gugup sekarang. Namun detik berikutnya, Itachi melepaskan cengkraman tangannya dan bergerak menjauh dari tubuhnya.

Pemuda itu tampak begitu frustrasi, dengan memijat kedua pelipisnya pelan, serta sebuah helaan nafas berkali-kali terdengar darinya. Itu cukup membuktikan bahwa kakak sepupunya itu tengah mengalami frustrasi.

"Aku mendengar seseorang bernyanyi—twinkle twinkle little star, how I want the what you are—begitu, dengan suara seperti berbisik." Itachi berucap seraya menirukan nyanyian tersebut, dengan logat orang Jepang tentunya. "Bagaimana denganmu? Kenapa kau menjerit? Aku tidak pernah tau kau bisa menjerit sekeras itu."

Tampak Hinata sedikit terlonjak, kala mendengar penjelasan serta pertanyaan kakak sepupunya itu. "Aku tadi melihat Sasuke, dengan pakaian—kau tau? Seperti seorang bangsawan Inggris? Dan Sasuke memanggil namaku. Kupikir itu wajar, karena kita sedang memainkan hide and seek."

"…"

"Tapi satu hal yang salah. Entah kenapa, nada Sasuke saat memanggil namaku terlihat seperti marah. Dan ketika aku kembali mengintip, aku tak menemukan siapapun di sana. Aku keluar dari dalam almari, dan memanggil Sasuke." Hinata berhenti sejenak, seraya memijat kedua pelipisnya. Entah kenapa ia kini merasakan pening menyergap kepalanya.

"…"

"Aku memanggil Sasuke, berharap bahwa kakak benar-benar datang dan menemukanku. Tapi yang kurasakan justru adalah hawa dingin yang semakin mencekam. Aku tidak mengerti betul kenapa. Tapi jujur, saat itu aku benar-benar ketakutan. Dan aku begitu lega, ketika tau yang menepukku adalah kau Itachi," ucapnya dengan menggeleng pelan di akhir kata.

"Aku benar-benar tak mengerti kenapa paman membeli rumah di tengah hutan cemara seperti ini. Kupikir apartemen sederhana itu lebih baik, daripada rumah aneh dan—tua? Seperti ini." Ia kemudian mengeluarkan dua buah permen karet dari dalam sakunya. Ia membukanya satu, dan memberikan satu kepada Itachi, yang diterima oleh kakaknya dengan senang hati.

Setelah itu, keheningan menyelimuti keduanya. Hanya terdengar suara deru nafas yang mulai teratur dari keduanya. Dan saat itu pula, Itachi sedikit mencuri-curi pandang terhadap Hinata yang terduduk di sebelahnya. Bukan pandangan dalam kesan romantika, namun pandangan kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.

Dan Itachi berpikir, bahwa gadis penakut dan manja itu telah tumbuh menjadi, sosok gadis cantik nan anggun. Pantaslah, adik sepupunya ini menjadi primadona di sekolahnya dan bahkan sanggup mempesona seorang Namikaze Naruto, walau kini hubungan mereka sudah kandas.

"Menurutmu, apakah ada sesuatu yang buruk terjadi sebelumnya?" tanya Itachi, berusaha memecahkan keheningan di antara mereka.

"Aku berpikir bahwa itu ada."

Sebuah suara dari arah tangga, mengejutkan keduanya. Di sana sosok Sasuke tengah berjalan, dengan Sakura yang berjalan berdampingan dengannya. Terlihat jelas bahwa, saat ini keadaan Sakura sedang tidak dalam kondisi yang baik. Lihat saja, wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Mungkin saja ia sudah mengalami kejadian aneh, seperti mereka.

"Sasuke?" ucap Hinata terkejut akan kehadiran kakak sepupunya itu, terlebih dengan Sakura. Padahal, mereka berdua tak bisa akur dalam radius satu meter. Tapi kali ini berbeda, dengan sikap Sakura yang selalu lekat pada Sasuke, seperti dua buah perangko yang menempel. Dan pandangannya itu…terlihat berbeda, dari saat pertama kali mereka bertemu.

Mereka berdua mendudukkan diri, di sofa yang berhadapan dengan dirinya dan Itachi. Sejenak, keheningan kembali terkumpul sebelum Sasuke kembali memecahkannya dengan suara gumaman ambigunya. "Hn, aku sudah berusaha mencarinya tadi di internet tentang rumah ini."

"Lalu?" tanya Itachi seraya mendengarkan secara seksama.

Sasuke menggeleng pelan, dan itu menyebabkan kekecewaan tersendiri bagi Itachi maupun Hinata. "Semua data yang ada seperti di blokir, dan entah kenapa koneksiku selalu terputus saat aku berusaha mengakses salah satu informasinya. Hanya saja…"

"…"

"—aku tau rumah ini pernah di tempati oleh bangsawan Jerman pada tahun 1980, dan orang penduduk sekitar sering menyebutnya Canterville. Itu saja yang kuketahui." Dan penjelasan Sasuke berakhir sampai di sana.

Mendengar penjelasan dari sang adik, yang sama sekali tak memecahkan apapun, membuatnya mengerang frustrasi, seraya mengacak rambut hitam legamnya. Sedangkan Hinata, tampak berusaha mengakses salah satu situs yang menginformasikan tentang rumah yang bernama Canterville ini. Namun seperti kata Sasuke, berkali-kali ia menemui kegagalan koneksi. Sebenarnya, ada apa ini?!

"Percuma saja, kau tidak akan bisa membuka situs manapun yang memaparkan informasi tentang rumah berjudul Canterville ini." Suara Sasuke yang tiba-tiba membuat Hinata menghentikan aksinya, dan menutup smartphone miliknya.

Gadis itu tampak menghela nafas pelan. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya Sasuke? Apakah malam ini kita akan bermalam di hotel—menyewa selama seminggu penuh, atau kita tetap berada di sini dan ketakutan setengah mati?" tanya Hinata, seraya mengeluarkan dompet dari sakunya dan mengeluarkan kartu ATM miliknya. "Aku memiliki sejumlah uang, cukup untuk kita pergi dari kota ini selama seminggu dan melakukan liburan. Bagaimana menurutmu?"

"Itu sia-sia." Kini semua mata beralih menatap Sakura, karena tiba-tiba saja gadis itu berucap datar. "Kupikir, para roh itu akan mengikuti kita kemanapun kita pergi," ucap gadis itu dan membuat semua orang memandangnya bingung.

Hinata tampak terlonjak begitu mendengar ucapan Sakura. Pikirannya kembali memutar memori saat mereka pertama kali bertemu, dimana Sakura menghinanya yang mempercayai tentang hantu di tahun 2014 ini. Tapi yang terjadi sekarang, justru malah sebaliknya. Yang mana, Sakura berkata seolah-olah yang dikatakannya benar adanya.

"Roh, eh? Kau percaya dengan itu di tahun 2014 ini?" tanya Sasuke tak percaya dengan apa yang diucapkan Sakura.

"Terkadang kita memang harus percaya pada hal semacam itu, dalam masa kapanpun itu. Dan kupikir setelah apa yang terjadi pada kita ini, bukankah pemikiranku ini adalah bentuk dari kewajaran?" ucap Sakura dengan logat sopan, dan tutur katanya tegas.

Dari caranya berjalan, duduk, berbicara, dan berekspresi. Hinata yakin itu semua adalah etika dan estetika para bangsawan dari kelas atas. Dan, apakah Sakura mengikuti kelas drama di sekolahnya? Bahkan apa yang dilakukan gadis itu, tak terlihat seperti sandiwara. Bahkan terlalu natural, untuk disebut sebuah sandiwara.

Hening sejenak, sebelum suara tawa menggelegar dari arah Sakura, membuat semuanya terkejut akan sikap gadis itu yang tiba-tiba berubah drastis. "Hahahaha…jangan menganggap semua ucapanku itu serius. Hei! Aku sedang berlatih drama, aku mengikuti kelas drama di sekolahku. Kalian tau? Aku pandai bermain peran."

Dan sungguh, Hinata mengenyahkan segala pemikiran buruk terhadap Sakura, serta ikut tertawa walau tak sekeras Sakura. "Yeah, kau memang pandai memainkan peran—Uchiha Sakura. Kau pantas menyandang nama Uchiha di punggungmu," ucap Hinata yang tak sepenuhnya merupakan pujian pada Sakura, namun juga sebuah sindiran yang ditujukan terhadap Sasuke. "Jadi, bagaimana dengan tawaranku sebelumnya?"

"Kupikir kau bisa menyimpan uangmu, untuk bersenang-senang. Kau tau? Tidak ada yang namanya hantu, roh, ataupun makhluk astral. Yang ada hanyalah manusia berhati setan, atau iblis," ucap Sakura dengan logatnya seperti biasa—yang menyenangkan dan santai. "Jadi bisakah kita pergi keluar, dan membeli sesuatu untuk makan siang? Kudengar ada kedai yang baru saja di buka di tengah kota. Namanya, kedai Naomi Sushi."

"Err…bukankah itu sudah dibuka dari tahun 80-an? Kau pasti sedang bercanda kan, Sakura?" ucap Itachi, yang mengerti betul seluk beluk kota tempat kelahirannya ini. Dan memang benar kedai Naomi Sushi itu menjadi salah satu tempat favorite-nya.

"Kau benar, Uchiha. Aku hanya bercanda—itu tempat favorite-ku, dan kupikir akan menjadi tempat paling nyaman untuk makan siang," sanggah Sakura seraya tersenyum lebar. Dan ia pun segera menyambar kunci mobil di atas rak, dan melemparkannya begitu saja kepada Itachi. "Yang paling tua, akan menyetir."

Dan entah itu sebuah candaan atau sengaja mengejeknya, Itachi tak benar-benar mengerti. Ia juga tak peduli dengan itu—ia pun berdiri, dan menekan tombol membuka kunci secara otomatis mobil milik Hinata itu. Memang benar, Hinata membawa kendaraan sendiri kemari. Padahal kota tempat tinggal mereka tidaklah bertetangga. Benar-benar, gadis yang berani.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

.

.

Balasan Review

.

Chu sarang

Heeehh? Aku gak mau bikin incest yang ada hubungan darah ._. lagian ItaHina cuma sebatas kakak adik. Tapi terima kasih atas dukungannya.

Hanazono Yuri

Terima kasih atas dukungannya.

Harulisnachan

XD Aku ngakak sendiri baca reviewmu. Entahlah aku gak bisa menjelaskan apa-apa tentang chapter ini, tapi emang sih aku gak berniat bikin setannya muncul kayak kemarin di chap 2 atau 3 :D. Ntar aku kehabisan stok setan XD, biarkan mereka istirahat sejenak *puk2 para setan*. Oke makasih atas dukungannya.

Uchiha Riri

Di chap ini jangan takut lagi ye? XD. Terima kasih atas dukungannya.

Azizaanr

Aku gak bisa komen apa-apa, tapi makasih atas dukungannya ya.

Suket alang alang

Yosh! Sesuai permintaaanmu di review entah fic apa XD saya tetap melanjutkan fic-fic lain. Maaf ya baru bisa update. Tugasku banyak banget -,- tanganku pegel nulisnya, mending deh diketik lha ini di tulis tangan 4 lembar folio bergaris, harus penuh T.T *merana*. Tapi, makasih atas dukungannya selama ini.

Lullaby Cherry

Makasih atas masukannya ._. tapi jujur ini fic horror pertamaku lho -,- dan aku terinspirasi dari sebuah novel berjudul Para Pengganggu, entah karya siapa. Dan memang aku bikin OOC ._. sengaja. Aku gak bisa bikin karakter pure dari Masashi Kishimoto-san, aku rata2 cuma pinjem nama sama rupanya aja. Oke terima kasih atas dukungannya.

Jun30

Terungkap di chapter ini, sebenarnya itu cuma sugestinya si Saku aja sih menurutku *lol, nih anak gimana sih jadi authornya* #digeplakRame. Oke makasih atas dukungannya.

Perasaan yang ngebet banget itu Sasuke deh O_o Sakuranya sih malah gak cinta sama sekali. Makasih atas dukungannya.

Songforyou

XD semoga permohonanmu dikabulkan, nak. Terima kasih atas dukungannya.

Hezlin Cherry

Makasih atas dukungan serta pujiannya.

Kawaii

Terima kasih atas dukungannya.

Silent reader xD

Terima kasih atas dukungannya.

Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q

Semoga permohonanmu dikabulkan oleh author yang agak somplak ini ya. Terima kasih atas dukungannya.

Guest

Lebih gak enak lagi kalo dilanjutin, entar gampang terungkap misterinya. Terima kasih atas dukungannya.

Novi Ai Luph You

Haduh banyak banget reviewmu nak. Aku jawab jadi satu ya? Hantunya itung sendiri nanti ada berapa, karena aku jg gak tau aku punya stok berapa. Bau amis itu bisa cari tau sendiri ya nanti. Melukai? Iya, secara tidak langsung nantinya bakal melukai. Makasih atas dukungannya ya.

Fuzzy Young

Hahahaha chap ini justru nyantai sih, sengaja aku buat gini :v gak enak ah horror mulu. Lemon? Mungkin di chap2 akhir.

Finlic

Banyak setannya. Dingin? Entahlah. Terima kasih atas dukungannya.

NikeLagi

Terima kasih atas dukungannya :D

Undhott

Terima Kasih atas dukungannya.

.

.

.

A/N

Hola!

Aku gak bisa berucap apapun, selain semoga kalian suka dengan chapter ini.

Itu aja sih, sekian.

Jika berkenan silahkan tinggalkan apresiasi kalian di kolom review atau bisa PM saya untuk menyampaikan request atau menyampaikan kritik saran pendapat, jika kalian menganggap itu adalah privasi.

Terima kasih

Lady