"Tuan Besar mengalami serangan jantung?!"

Akashi Seijuurou yang tengah melaksanakan home-schooling terkejut dengan suara salah satu pelayannnya. Tanpa berkata apa-apa, Akashi junior segera berlari meninggalkan mansion kebanggaannya. Ayah merupakan satu-satunya yang dimilikinya, dan Akashi tak mau kehilangan orangtuanya setelah kematian ibu.

Memang sudah biasa terjadi bila Akashi Masaomi mengalami serangan jantung sewaktu di kantornya, tapi entah mengapa Akashi memiliki firasat buruk tentang kejadian ini. Firasat akan kehilangan dan ... kesepian.

Tidak. Akashi kecil di usia delapan tahun masih ingin memiliki keluarga, sekalipun itu berarti harus mengorbankan kebebasannya.

Rumah sakit kepercayaan keluarganya menjadi tujuan Akashi saat ini. Dia tahu jaraknya yang terlampau jauh akan membuatnya lelah sebelum sampai di destinasi, namun Akashi tak bisa menahan rasa panik. Apalagi dengan kondisi mendung yang akan segera hujan bisa saja menghambatnya, juga memperburuk keadaan fisik sang ayah.

Akashi melihat seorang anak sebayanya tak jauh di depannya. Di saat yang sama, petir menyambar pohon di dekat anak itu. Pohon tersebut bisa saja roboh dan menimpanya!

Tidak memikirkan dirinya sendiri, Akashi berusaha menyelamatkan si serba biru muda. Namun, di saat Akashi hampir menggapainya, tampak anak itu sadar kalau mereka dalam bahaya. Dia berlari ke arah Akashi, dan alhasil mereka berdua jatuh dengan posisi si anak menimpa Akashi, sementara pohon jatuh ke jalanan, mengacaukan aktivitas lalu lintas. Sikut Akashi berdarah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Akashi.

"Akashi Seijuurou."

Tidak dipungkiri bahwa Akashi tersentak. Dari mana orang asing ini mengetahui namanya? Di sisi lain, Mayuzumi Chihiro yang berada dalam tubuh Kuroko Tetsuya rasanya ingin menghilang saja. Kenapa dia malah menyebutkan namanya?! Akashi Seijuurou, pemegang kristal merah, bisa curiga padanya.

Ternyata mencari pemilik kristal tak sesulit yang dibayangkannya.

"Di masa depan, kau akan bertemu dengan anak ini, Kuroko Tetsuya." Dengan nada tegas, Chihiro mengungkapkan masa depan.

"Jadi kau ... siapa?"

Sebenarnya Chihiro tidak akan masuk ke dalam tubuh medianya, jika saja tadi Shougo tidak memasukinya. Chihiro tahu niat Shougo yang ingin membunuh Akashi dengan pohon yang menimpanya.

Bukankah orang ini terlalu lemah untuk menjadi pemegang kristal?

"Aku bukan siapa-siapa."

"Eh?"

"Aku akan memberikanmu kemampuan penyembuhan." Chihiro memegang tangan Akashi yang tengah menatap penuh tanda tanya. "Tapi, kau juga harus berjanji padaku untuk menjaga Kuroko Tetsuya saat kalian ditakdirkan untuk bertemu."

Akashi mengangguk polos. Tubuhnya bersinar untuk sesaat ketika sepasang tangannya digenggam. Mudah bagi seorang penyihir putih seperti Chihiro untuk menciptakan kemampuan, mengingat dia adalah keturunan penyihir paling kuat di masa dia hidup.

"Setiap orang yang ingin kausembuhkan, cukup pegang tangannya. Bila ingin menyembuhkan dirimu sendiri, lipat saja kedua tanganmu." Melalui tubuh Kuroko, Chihiro mengulas senyum tipis. "Terima kasih juga telah menolong anak ini. Sampai jumpa di masa depan."

Chihiro meninggalkan Akashi Seijuurou yang masih terdiam tak mengerti.


PRO-MI-SE

Kuroko no Basuke / Kuroko's Basketball belongs to Fujimaki Tadatoshi

OOC, AR, plot hole, failed supranatural, miss EyD/EBI, typo(s) and misstypo(s), Childhood!MidorimaKuroko, AkaKuro and another slight pairing(s) will appear

[Perhatian! Untuk ending, saya akan membuat variasi ending alias ending lebih dari satu karena kebingungan antara mana ending yang saya harus pilih. Yah, saya labil gitu(?). Fic ini didedikasikan untuk May Angelf karena terlibat dalam barter request fic]


Akashi menempelkan tangannya pada dahi Kuroko. Masih panas. Sepertinya, suhu empat puluh derajat Celcius belum turun juga.

Atas usul Kise yang seenaknya namun juga rekomendasi terbaik, seluruh anggota Kiseki no Sedai kecuali Murasakibara menginap di rumah Kuroko dan Midorima. Aomine sudah mengabari ibunya, Kise dengan mudah meninggalkan apartemennya, sementara Akashi telah menghubungi para pelayan keluarga Akashi untuk tidak mencari keberadaannya.

Tentunya tidak hanya sekadar menghabiskan malam bersama, tapi mereka sudah berjanji menginap di kediaman Kuroko setiap hari Sabtu untuk menjaga si rambut biru langit. Ingatkan mereka untuk mengajak Murasakibara minggu depan.

"Akashi, tidak tidur?"

Percaya tidak percaya, tapi mereka berlima tidur di kamar Kuroko yang tidak terlalu lebar. Posisi Kise di sebelah kanan ranjang, Aomine di sebelah kirinya. Sementara di depan ranjang, Midorima tidur di sana, dan Akashi di sebelah Midorima. Jarak yang lebar antara pintu sampai tempat Akashi tidur mereka siapkan untuk Murasakibara.

"Kita memang ingin menjaga Tetsu, tapi tidak harus seperti ini, bukan? Bagaimana kalau Tetsu jatuh dan menimpaku?"

"Aominecchi seperti takut ditimpa Murasakibaracchi saja-ssu," celetuk Kise.

"Lagipula Kuroko tidur tidak sepertimu, Aomine," timpal Midorima.

"Dengarkan aku." Aomine yang awalnya ingin mengajak Kise dan Midorima berdebat membatalkan niatnya saat mendengar suara Akashi. "Sesuai apa yang menjadi perbincangan kita tadi, tidurlah sebelum pukul sembilan."

Kise melirik jam. "Sudah jam setengah sembilan-ssu."

"Kita harus bangun pagi untuk memulai penyelidikan mengenai Kuroko hingga sore hari dan pulang ke rumah masing-masing," lanjut Akashi sambil melihat ketiga temannya. "Aku akan tidur. Selamat malam."

Akashi mulai bersiap untuk tidur. Sebenarnya ini pertama kali dirinya tidur di lantai dengan hanya beralas kain, mengingat dia selalu bermandikan kekayaan dari kecil. Tapi siapa sangka tidur bersama teman-temannya begitu menyenangkan, tidak peduli di mana dia tidur? Setidaknya itu yang dipikirkan Akashi.

Sebelum menutup matanya, bahkan ketika dia masih terduduk, Akashi melihat Kuroko yang tidur dengan damai. Melihat Kuroko, Akashi bisa merasakan hatinya menghangat.

Akashi tidak menyesal sudah berjanji enam tahun silam, meski saat itu dia hanya mengangguk. Hingga sekarang, Akashi masih memikirkan siapa sebenarnya yang dulu dia temui.

"Apa yang kaulakukan, Akashi? Melihat Putri Tidur?" Tanpa mengetahui situasi dan kondisi, celetuk dari Aomine sanggup membuat lamunan Akashi buyar.

"Hahaha! Akashicchi menatap Kurokocchi seserius itu-ssu! Akashicchi terpesona dengan keimutan Kurokocchi ya?" goda Kise.

Sebuah gunting menancap di dinding. Bisa saja menembus kening Kise, kalau saja model majalah itu tidak menunduk dengan refleks yang bagus.

"Jangan bicara yang aneh-aneh, Ryouta."

"Kise, kau nekat ya!" seru Aomine bahagia, tentunya sebagai sahabat yang berhati mulia.

"Kalian semua berisik. Aku ingin tidur-nanodayo." Seperti memang ingin cari mati, Midorima berbicara dengan spontan tanpa menyaring kata-katanya.

Karena posisi Akashi dan Midorima yang bersebelahan tanpa pembatas, dengan mudah gunting kedua Akashi hampir menancap di wajah Midorima apabila waktu tidak berhenti.

"Kenapa kau menghentikan waktu, Shintarou?" desis Akashi. Meskipun dia masih bergerak bebas, namun guntingnya terikat waktu sehingga membeku di udara.

"Midorimacchi, Kurokocchi bisa sakit lagi kalau kau menghentikan waktu-ssu!" pekik Kise.

Midorima tak menanggapi. Dia memejamkan mata, kemudian tak sampai satu detik, keadaan kembali seperti semula. Perbedaannya adalah Akashi menurunkan guntingnya, membatalkan niatnya yang ingin menusuk kepala Midorima.

Mereka berempat menunggu saat-saat Kuroko akan terbangun karena asam lambung meningkat, asma, atau penyakit lainnya. Tapi nyatanya, mereka sudah menunggu sampai pukul sembilan, dan Kuroko sama sekali tak menunjukkan gejala-gejala kemunculan penyakitnya.

"Eh? Tetsu tidak terbangun?" Aomine menelengkan kepalanya ke kanan, menunjukkan kebingungannya.

"Shintarou, kauingin memperlihatkan sesuatu pada kami." Bukan pertanyaan, namun pernyataan. Sangat khas Akashi Seijuurou yang sedang bertukar posisi.

Midorima melepas kacamatanya, meletakkan alat bantu lihat tersebut di samping bantalnya. "Aku hanya ingin bilang kalau penyakit Kuroko tidak selalu kambuh. Akan kujelaskan besok-nanodayo."


Pertama kali yang terbangun bukanlah Akashi yang selalu mengikuti jadwal hariannya, atau Midorima yang tak pernah sekalipun menyia-nyiakan waktu, bukan juga Kise maupun Aomine yang bahkan ke sekolah saja hampir selalu terlambat. Tapi Kuroko Tetsuya, yang kali ini terjaga pada pukul setengah empat pagi.

Terlalu pagi? Sepertinya tidak.

Kuroko mengusap kedua iris akuamarinnya, kemudian melihat sekeliling dengan rasa kaget. Di kanan-kirinya ada Kise dan Aomine, kemudian di depan tempat tidurnya ada Midorima. Ah, bahkan Akashi juga tidur di ruangan ini.

Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka semua menghabiskan malam di rumahnya?

Kuroko mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur demi segelas air. Biasanya kalau terbangun sebelum jam lima, Kuroko akan membaca novel atau mengerjakan tugas. Namun, sekarang ini, dia bahkan tidak bisa ke mana-mana. Semua jalan aksesnya turun dari kasur ditutup.

Ingin tidur lagi karena sangat mengantuk, tapi sudah berusaha berkali-kali dia tidak kunjung tertidur. Kemarin dia tidur pukul delapan, lalu terbangun sesaat karena ada yang seperti mengganjal jalur napasnya entah jam berapa, kemudian terbangun lagi jam dua dini hari. Mengingat belakangan ini dia memang kurang tidur, Kuroko ingin membayar utang-utang tersebut, namun sayangnya mata dan otak tak memihak kepadanya.

Oh, Kuroko baru saja ingat sesuatu.

Bantal bersarung putih diangkatnya. Terdapat enam bulu angsa yang masing-masing memiliki warna yang berbeda. Kalau dipikir-pikir, warnanya sama dengan rambut Midorima dan keempat teman tim basketnya.

Ah, teman. Bisakah Kuroko menjadi bagian dari mereka berlima juga?

Dia mendapatkan bulu-bulu ini sekitar enam hari yang lalu. Selama itu pula, Kuroko menyembunyikannya di selipan buku catatan tugasnya. Tidak diketahui siapa pun kecuali dirinya sendiri, dia memindahkan enam bulu ke bawah bantalnya.

Soal asal-usulnya, Kuroko menemukannya saat sedang bercermin. Kala itu, pemuda dengan tinggi satu setengah meter lebih sedikit itu terkejut saat menemukan setengah tubuhnya berubah untuk beberapa menit di bayangannya. Rambutnya masih berwarna biru muda pada setengah tubuhnya, namun rambut pada sisi setengahnya berwarna keabu-abuan dan ukuran tubuhnya lebih besar. Beberapa helai rambut perpaduan hitam dan putih itu jatuh dan berubah menjadi enam bulu berwarna cerah, kemudian refleksinya pada cermin kembali normal.

Kuroko mengambil bulu berwarna biru muda berdasarkan perintah instingnya. Bulu tersebut bercahaya ketika Kuroko memegangnya, kemudian dia merasa tubuhnya tertarik.

"Bertahanlah, Kuroko. Bertahanlah. Aku ada untukmu, selalu."

"Agar lebih sopan, biar kuperkenalkan ulang diriku. Namaku Akashi Seijuurou, dari kelas 3-A. Salam kenal, Kuroko."

Ternyata bulu ini menyimpan memorinya yang bersifat mundur ke belakang. Bahkan Kuroko merasa seolah-olah kembali ke masa lampau. Figur Akashi yang pertama kali muncul di sana.

"Kau sudah sadar?"

Satu pertanyaan muncul. Mengapa yang terus terlihat hanya suara dan memori bersama Akashi? Apakah dia memiliki hubungan dengan ketua OSIS di sekolahnya itu?

"Jadi ... kau siapa?"

Jadi ... kau siapa?

Kuroko tertegun untuk beberapa saat. Kapan Akashi pernah bertanya padanya seperti itu? Lalu, di visualisasinya, Kuroko merasa tubuhnya lebih pendek, dan Akashi tampak lebih muda dan ... mungil?

Mungkinkah di masa lalu ... mereka pernah bertemu? Tapi kapan?

Selanjutnya memori kembali ke awal, kali ini wajah Kise Ryouta yang muncul. Ah, jadi memori yang terputar di sini ditampilkan sesuai urutan? Sistem apa yang dipakai? Abjad, mungkin?

"Kurokocchi, aku senang kau sudah sembuh-ssu!"

Itu percakapan mereka kemarin sore. Saat itu, tidak hanya ada Kise, tapi orang lain juga mengelilinginya. Lantas, mengapa Kuroko hanya bisa melihat Kise?

Sebelum Kuroko bisa melihat seluruh memorinya bersama Kise, sebuah tepukan menyentaknya.

"Kuroko, bagaimana keadaanmu? Sejak kapan kau terbangun?"

Kini Kuroko menunggu momen yang tepat untuk bertanya pada Sang Penyembuh.


Kelima pemuda berambut warna-warni berkumpul di ruang makan pukul setengah tujuh. Akashi mengenakan pakaian Kuroko, sementara Kise dan Aomine memakai pakaian Midorima.

"Kalian berdua jangan mengotori bajuku-nanodayo!" Itu sudah yang kesepuluh kalinya Midorima berteriak pada Kise dan Aomine, yang tengah berkompetisi memperebutkan sepiring udang goreng.

"Ah, sudah lama rumah tidak seramai ini. Tetsuya dan Shintarou orang yang sangat tenang, jadi aku kesepian." Wanita yang sudah berambut putih seluruhnya tersenyum ramah. "Seijuurou, jangan sungkan untuk menambah porsi. Aku, Shintarou, dan Tetsuya memang sengaja memasak banyak."

"Waaah, jadi ini masakan Kurokocchi dan Midorimacchi?!" tanya Kise sambil melahap udang goreng. "Enwak-sswu!"

"Terima kasih. Aku menghargainya." Akashi tersenyum kalem. "Kalau tidak keberatan, kami berencana menginap di sini setiap hari Sabtu."

"Hahaha! Aku sangat menyetujuinya. Keramaian adalah hal yang kusukai." Nenek dari Kuroko Tetsuya tertawa lebar.

Sebuah udang goreng mengenai pipi Akashi, yang kemudian jatuh di mangkuk nasinya. Aomine sebagai tersangka membulatkan matanya. Kise berhenti mengunyah udang. Kuroko dan Midorima tetap makan dalam suasana mengheningkan cipta. Akashi mati-matian menahan sisi lain dalam dirinya yang ingin muncul dan mengamuk. Akashi sadar dengan adanya sisi lainnya yang jauh lebih temperamental, dia hanya akan memperburuk keadaan bila dia membiarkannya keluar mengambil alih.

Akashi mengembuskan napas. "Lanjutkan makan kalian."

Aomine dan Kise saling berpandangan. Tidak ada amukan dari pemuda yang irisnya bisa berubah sendiri, hanya sebelah pula. Kemunculan pemikiran itu membuat mereka berdua kompak menggelengkan kepala, seolah memiliki ikatan batin. Mengejek Akashi Seijuurou, kau cari mati!

"Aku sudah selesai," ujar Kuroko yang sedari tadi diam.

"Aku juga." Midorima menyusul.

"Aku pun begitu." Akashi berdiri dari kursinya, diikuti Midorima dan Kuroko. "Terima kasih atas makanannya."

Kuroko berniat mengambil mangkuk Midorima, namun pria tersebut menolaknya. "Kembali saja ke kamarmu. Kau harus banyak istirahat-nanodayo. Biarkan aku yang mengurus ini semua."

"Apa pun katamu, Shintarou-kun." Kuroko mengangguk sekali tanpa bantahan. Tidak ada gunanya berdebat dengan Midorima. Selain menghabiskan waktu, Midorima tak pernah sekalipun kalah berdebat dengannya. "Aku permisi."

"Kami ingin berbicara dengan Obaa-san." Midorima menatap Kise yang sudah selesai, sementara Aomine mempercepat tempo makannya. Mungkin takut ditinggal. "Mengenai Tetsuya."


"Orangtua Tetsuya selalu merekam kegiatan Tetsuya setiap ada hal penting. Mungkin kalian ingin melihatnya."

Keranjang berisi setumpuk kaset disodorkan pada Akashi. Kise yang berada di sebelahnya mengambil sebuah kaset secara acak. Ada label "Shintarou and Tetsuya's Interview" pada kaset itu.

"Midorima dan Tetsu?"Aomine yang duduk di samping Kise bertanya seusai membaca label tersebut.

Tanpa sebab, wajah Midorima memerah.

"Ah, pilihan yang bagus, Ryouta. Ini waktu Tetsuya dan Shintarou mengikuti wawancara dan tes masuk sekolah dasar." Sang nenek menempelkan telunjuknya pada dagunya, mengorek ingatan lebih. "Saat itu, Shintarou sudah sangat dewasa. Dia seperti anak berumur sebelas tahun."

Nenek Kuroko menghidupkan televisi dan pemutar DVD, lalu memasukkan kaset tersebut. Televisi kemudian menampilkan Midorima dan Kuroko kecil yang sedang bergandengan tangan. Dari tangan Akashi, Kise mengambil keranjang berisi kaset-kaset dan mulai mengeksplorasi kaset yang mungkin mengandung konten menarik.

Di video, terlihat Midorima dan Kuroko beserta perekam melewati sebuah tempat. Kamera menyorot pada tanda "Tata Usaha" di depan pintu. Wajah berkulit putih dengan pipi gempal sukses membuat Kise menahan jeritannya.

"Tata Usaha itu apa, Okaa-san?" Suara Kuroko ternyata tidak berubah dari dulu. Tetap lembut seperti biasa.

"Itu tempat untuk mengurus surat-surat, Tet-chan." Suara wanita yang merdu menjawab pertanyaan Kuroko. Sepertinya itu ibunya.

"Bukankah itu kantor pos-nanodayo?" Kali ini suara Midorima. Tidak seberat sekarang, namun sejak kecil Midorima sepertinya memang memiliki bakat suara bass.

"Ah, maksudnya surat-surat yang ada di sekolah, Shin-kun."

"Apa tukang pos juga bekerja di Tata Usaha?"

"HAHAHAHAHAHA!" Kise dan Aomine tertawa, tidak menyangka bahwa Midorima sangat cerewet saat kecil.

"D-Diam kalian!" bentak Midorima dengan semburat merah di wajahnya.

Nenek Kuroko juga ikut terkekeh. Setelah melakukan zoom-in, sebuah kurva tipis terukir dari bibir Akashi.

"Ternyata dari kecil Midorimacchi sudah memakai kacamata-ssu," komentar Kise. "Kira-kira kapan Midorimacchi tinggal di rumah Kurokocchi?"

"Saat umurku lima tahun. Orangtuaku meninggal. Adikku sempat tinggal di sini kurang dari setahun, pada akhirnya ikut menyusul orangtuaku-nanodayo," jelas Midorima tanpa rasa sedih. Kalau diperhatikan baik-baik, ada getaran hebat dalam suaranya.

Di video, Kuroko dan Midorima memasuki sebuah ruangan bersekat, kemudian duduk di dua kursi yang telah disediakan. Ada perbincangan kecil di antara kepala sekolah dengan kedua anak beda marga tersebut. Mulai dari pertanyaan dasar seperti nama dan umur, sampai pertanyaan mengapa mereka berdua masuk bersama, yang dijawab Kuroko kalau dia tidak ingin berpisah dengan Midorima. Kuroko tidak ingin melepas tangannya dari sang sahabat.

Itu manis.

"Sekarang kalian jawab soal ini, ya?" Lelaki yang kira-kira berkepala tiga itu tampak menyodorkan kertas kepada Midorima dan Kuroko.

Omong-omong, bahkan sampai menulis pun tangan mereka masih bertautan. Kuroko menulis dengan tangan kanannya, sementara itu, karena Midorima kidal, dia menulis dengan tangan kiri. Tangan mereka yang tak terpakai saling menggenggam. Hal itu membuat Aomine tertawa.

"Astaga, ternyata Midorima begitu memperhatikan Tetsu! Hahahaha!" Karena komentarnya yang tidak penting, Kise mencubit lengan pemuda berkulit kecokelatan itu.

Arah kamera yang semula menampilkan Kuroko dan Midorima dari belakang, kini memperlihatkan bagian belakang dari kepala sekolah. Terlihat wajah kedua anak yang sedang serius mengerjakan soal.

"Ini angka berapa? Dua ya?" Midorima bertanya.

"Iya, itu dua." Suara bariton menjadi jawaban.

"Jelek sekali."

Astaga, Midorima ternyata orang yang terlalu jujur.

"Dan ini angka lima ya?"

"Benar, itu angka lima."

"Kok hitam-hitam begini? Mana boleh hitam-hitam, itu jorok. Tulis angka lima itu seperti ini-nanodayo." Tampak Midorima yang tengah mempraktikkan cara menulis angka lima yang benar.

"Kenapa aku merasa Midorimacchi menjadi guru dadakan ya-ssu?" tanya Kise sambil terkikik. Tidak terpikirkan kalau Midorima kecil begitu lucu.

"Kuku Sensei panjang-panjang." Suara Kuroko terdengar memberikan komentar. Anak itu masih menghitung jawaban matematika dasar.

"Iya, belum sempat dipotong."

"Hitam-hitam pula. Sensei sangat jorok."

"ASTAGA MIDORIMACCHI, KAU BENAR-BENAR CEREWET-SSU! AHAHAHAHAA!"

"Obaa-san, kenapa kita tidak mengganti kasetnya?" tanya Akashi sopan.

"Sebentar ya. Ada yang aneh dalam video ini. Tunggu."

Midorima dan Kuroko terlihat sudah menyelesaikan soal mereka. Guru yang wibawanya seperti telah dirontokkan Midorima mulai bersiap memberikan pertanyaan-pertanyaan lagi.

Sebelum bisa mendengar pertanyaan dari kepala sekolah itu, wanita yang telah lanjut usia mem-pause rekaman, menunjuk anak berambut biru langit di video.

"Kalau kalian perhatikan, ada dua orang samar-samar yang berada di belakang Tetsuya."

"Woah, penglihatan Obaa-san masih bagus-ssu!" puji Kise.

"Tentu saja! Meski aku tua, namun aku masih bisa melihat dan mendengar, hmph!" Maksud nenek Kuroko ingin bersikap angkuh, tapi malah justru terlihat lucu.

"Benar. Bila aku tak salah ingat, aku merasa ada yang tidak enak saat itu-nanodayo." Midorima buka suara.

"Mu-Mungkinkah itu hantu?" tanya Aomine. Fobia pada hantu merupakan hal yang sangat memalukan bagi pria sejati.

"Ah, kalian semua sedang menonton videoku dan Shintarou-kun ternyata."

"WOO! KUROKOCCHI, KAU MENGAGETKANKU-SSU!" jerit Kise.

"Kami sedang menonton video dua sahabat kami untuk mengenalnya lebih jauh, apa salahnya?" Aomine menatap Kuroko dengan rasa syok karena kemunculan Kuroko yang tidak diprediksi. Dipikir-pikir, Kuroko mirip dengan hantu yang ditakutinya karena melihat keanehan video tadi.

"Sahabat?" Kuroko menaikkan alis penuh keheranan, juga rasa bahagia dalam hatinya yang meluap-luap. Mereka belum akrab sepenuhnya, tapi mereka sudah menganggapnya ... sahabat?

"Ya. Kau adalah sahabat kami, Tetsu."

Akashi berdiri, kemudian memegang tangan Kuroko. "Wajahmu masih pucat. Lebih baik kau istirahat lagi."

"Akashi-kun, aku memang sedang pilek," jawab Kuroko. "Aku juga ingin berbincang dengan Akashi-kun."

"Aku harus memanaskan air. Jangan lupa untuk makan siang saat jam satu nanti."

Setelah Nenek Kuroko meninggalkan ruang keluarga, Midorima mengeluarkan kaset dan memasukkannya kembali ke tempat semula. Pemutar DVD dan televisi dia matikan.

"Sebenarnya aku bingung. Apa di rumah Kurokocchi dan Midorimacchi saling memanggil nama kecil-ssu?" tanya Kise penasaran.

"Ya, saat berada di hadapan Obaa-san. Kata beliau, anggap saja satu sama lain sebagai saudara-nanodayo." Midorima mana mungkin menjawab ketika Kuroko ingin dihibur atau saat Midorima ingin menegur atau meneguhkan hati Kuroko. Dia terlalu gengsi mengatakannya.

Dasar tsundere.

"Apa yang sekarang kaurasakan, Tetsu?" tanya Aomine yang mulai menunjukkan rasa solidaritas sebagai sahabat yang baik.

"Hanya pilek biasa. Terima kasih telah bertanya, Aomine-kun," jawab Kuroko. "Akashi-kun, bisakah kau menjawab pertanyaanku?"

Midorima baru pertama kali melihat sorot mata Kuroko yang sangat intens. Seperti penuh akan rasa penasaran dan ... sedih?

"Tanyakanlah. Aku akan menjawabnya," tutur Akashi tenang.

"Apakah sebelum ini ... kita pernah bertemu? Saat kita kecil, maksudku."

Akashi menahan napasnya untuk sesaat. Pertanyaan ini sungguh di luar dugaannya. Sebentar, apa Kuroko menyadari pertemuan mereka? Tapi, bukankah saat itu bukan Kuroko?

"Bila aku menjawab iya, apa reaksimu, Kuroko?"

Sepasang pupil melebar. Kuroko melepaskan tangannya dari genggaman Akashi.

"Jadi ... kita pernah bertemu?"

"Kita semua pernah bertemu sebelum menginjak SMP, Kurokocchi."

Keempat pemuda mengelilingi Kuroko Tetsuya, sementara yang menjadi pusatnya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Enam bulu yang selama ini disembunyikannya kini dia tunjukkan. "Aku melihat semua memoriku dalam salah satu bulu yang berwarna biru muda, sementara yang lain tidak memberikan efek untukku."

"Itu bulu yang kulihat saat memanggilmu," tutur Akashi.

Ketika Midorima berniat mengambil salah satu bulu dari tangan Kuroko, seakan ada aliran listrik yang membuat Midorima tersentak. "Sepertinya hanya kau yang boleh memegangnya-nanodayo."

"Tadi kepalaku pusing, dan itu rasanya sakit," tutur Kuroko datar, dan Midorima sudah bersiaga memberikan pertolongan pertama. "Namun semuanya hilang saat aku menyentuh bulu-bulu ini. Tepatnya yang merah."

"Oh! Warna-warnanya sama dengan rambut kita-ssu!" Kise tertawa ceria. "Akashicchi memang bisa menyembuhkan seseorang, dan melalui bulu itu, kemampuan Akashicchi tersalurkan ke tubuh Kurokocchi!"

"Akashi Seijuurou, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Aomine Daiki, kita bertemu lagi. Sungguh disayangkan Murasakibara Atsushi tidak dapat bergabung dalam pertemuan ini."

Keempatnya terkejut saat mendengar nama lengkap mereka, serta sebuah suara yang bukan milik Kuroko, melainkan seseorang yang lain ... seseorang yang mereka temui dulu, yaitu dalang dari semua ini.


Mayuzumi Chihiro tidak bisa membiarkan Mayuzumi Shougo—adiknya—menguasai dunia.

Beberapa hari yang lalu, Chihiro memutuskan untuk ikut serta membantu para pemegang kristal dan Sang Cermin. Pertama, Chihiro membantu Kuroko dengan mengurangi efek penggunaan kemampuan yang diciptakannya. Memang dia bisa menciptakan semuanya, tapi ada sesuatu yang dinamakan bayaran. Maka dia tak pernah membuat sesuatu kecuali sangat diharuskan.

Chihiro tidak bisa mengambil kebahagiaan sebagai bayaran, karena itu bisa menyeret mereka ke jurang keputusasaan, dan berakhir dengan kristal mereka yang menghitam. Mereka tidak mati, namun ketika kristal tersebut berwarna hitam, mereka tidak lebih dari sekadar mayat hidup atau zombie.

Kalau dulu Chihiro bisa memasukkan bayarannya menjadi jiwa negatif ke dalam tubuhnya yang akan memotong umurnya, dia tak bisa melakukannya pada tubuh Kuroko yang hanya manusia biasa. Sebagai gantinya, Chihiro mengubah jiwa negatif menjadi penyakit yang diderita Kuroko, yang akan timbul bila salah satu pemilik menggunakan kekuatannya.

Tidak sesederhana itu.

Sebuah penyakit timbul apabila seseorang dalam keadaan fisik yang tidak sehat, dan itu juga berlaku pada Kuroko. Bila faktor-faktor penyebab memungkinkan, maka penyakit itu bisa muncul. Bukan berarti setiap kekuatan yang terpakai akan membuat penyakit Kuroko kambuh, melainkan menunggu gejala-gejala yang menjadi peluang timbulnya penyakit tersebut. Lama atau tidaknya penyakit berlangsung tergantung pada pemakaian kekuatan.

Melihat kesehatan Kuroko yang buruk, kemungkinan besar Kuroko bisa meninggal. Karena kemampuan kelima sahabatnya tidak ada yang berpengaruh pada Kuroko, termasuk Akashi yang dapat menyembuhkan orang, Chihiro memberikan enam bulu pada Kuroko. Lima bulu yang akan memberikan kemampuan yang sama dengan milik Kiseki no Sedai sesuai warnanya, sementara satu bulu berwarna biru muda yang menyimpan memori tubuh Kuroko, termasuk Kuroko dalam keadaan tidak sadar, alias ketika Shougo atau dirinya mengambil alih.

Bicara soal Shougo, adiknya terlihat tidak main-main dengan rencananya, dan Chihiro harus bisa menghentikannya, seperti yang pernah dilakukannya dulu. Bila mereka hanya dibiarkan tanpa peringatan, mereka akan dengan mudah dihancurkan. Percuma saja dia sampai membahayakan nyawa seseorang hanya demi menciptakan sesuatu sebagai pelindung para pemegang kristal.

Maka dari itu, pada kesempatan ini, Chihiro memutuskan untuk berkomunikasi melalui tubuh Kuroko.

"Namaku Mayuzumi Chihiro, The Light Deity, yang mungkin membuat ini semua terjadi."

"Mungkin katamu, hah?" Aomine tampak marah. "Kembalikan keadaan seperti semula! Tetsu tidak bersalah, dan kau tak seharusnya menjadikan dia korban!"

"Kalian akan mati sedari dulu jika aku tak melakukannya." Perkataan Chihiro sukses membuat Aomine bungkam. "Penyakit dalam diri Kuroko timbul atau tidak, tergantung pada Kuroko sendiri. Midorima Shintarou, tentu kautahu apa maksudku."

"Em yaa ... Akashicchi memang mengatakannya semalam-ssu …."

"Shintarou, kau ingin memperlihatkan sesuatu pada kami."

"Ada apa?" tanya Akashi. Tatapan tajam dari sepasang rubi dilayangkan pada Midorima. "Jelaskan padaku apa yang kautahu, Midorima."

"Selama ini kita salah terka. Penyakit Kuroko tidak timbul karena kekuatan kita-nanodayo."

"Haaah, Midorima, jangan menjelaskan sesuatu setengah-setengah," gerutu Aomine.

"Dengan kata lain, apabila lingkungan memungkinkan penyakit Kuroko timbul, maka efek dari kekuatan kita akan timbul sebagai penyakitnya yang kambuh-nanodayo." Midorima berhenti sesaat untuk menaikkan kacamatanya, kemudian melanjutkan, "Gastritis Kuroko kambuh karena dia belum sarapan. Di saat yang sama, Kise membuat kloning dirinya sendiri untuk mengambil botol air minumku. Itu terjadi setelah asam lambung Kuroko naik, karena Kise mengatakan kalau Kuroko menghilang-nanodayo."

"Aku menemukan Kuroko pingsan di depan kelasnya, dan aku membawanya menuju klinik sekolah." Akashi meneruskan. "Ketika Kuroko bangun, aku sudah menghilangkan penyakitnya dengan kemampuanku. Anehnya, aku tak bisa menyembuhkannya, jadi aku memindahkannya ke tubuhku dan menyembuhkan diri sendiri. Tak lama, asma Kuroko kambuh karena dinding klinik baru dicat."

"Karena aku mengatakan Kurokocchi hilang, Midorimacchi kehilangan kendali atas kekuatannya-ssu." Kise mengangguk. Dia mulai mengerti segalanya dengan semua kronologi mengenai kejadian kemarin di sekolah, yang dijelaskan oleh mereka bertiga secara berurutan.

"Ketika waktu berhenti, di saat yang bersamaan Kuroko mengalami sakit kepala yang menyakitkan. Mungkin disebabkan rasa paniknya atau memang Kuroko sedang dalam keadaan stres." Akashi mengakhiri penjelasan.

"Jadi intinya ... kita tidak secara langsung membuat Tetsu sakit? Kekuatan Kise menyebabkan gastritis pada Tetsu, kekuatan Akashi menyebabkan asma, dan Midorima membuat kepala Tetsu pusing?" Aomine menyimpulkan berdasarkan informasi yang didapatkannya. Meski dia dicap bodoh secara akademis, namun jangan meremehkan bakat sebagai polisi yang dimiliki Aomine. "Aku mengerti sekarang."

"Tak lama setelah ini, adikku ingin menyerang kalian. Aku akan katakan kalau dalam tubuh kalian, terdapat sebuah kristal yang diincarnya," terang Chihiro. "Dan dia akan mendapatkannya bagaimana pun caranya, termasuk membunuh kalian."

"Oh, begi—EEEEEEHHH?!" jerit Kise syok. "Aku masih mau hidup-ssu!"

"Tidak ada yang ingin mati, Bodoh," respon Aomine. "Bagaimana bisa kau memasukkan kista ke dalam tubuh kami, Tuan Mayuzumi Chihiro?"

"Kau memalukan. Bukan kista, tapi kristal-nanodayo," ralat Midorima.

"Rasanya Mayuzumicchi menyebut kristal, bukan kristal nanodayo," ujar Kise dengan maksud meledek.

Chihiro menghela napas. Sepertinya untuk bicara dengan mereka agak sulit.

"Bukan aku yang melakukannya, tapi kristal sudah ada di tubuh kalian sejak lahir." Chihiro memejamkan matanya. Di saat yang tidak tepat, Shougo mengajaknya bertelepati. Anak pertama keluarga Mayuzumi itu menolaknya. "Waktuku tidak banyak di tubuh ini. Kita akan membicarakan semua hal sedetil mungkin hingga ke akarnya."

Sepertinya sekeping harapan akan akhir cerita yang bahagia mulai datang.


to be continued


A/N : Pada akhirnya, Chihiro memutuskan untuk membantu Kisedai melalui tubuh Kuroko. Ternyata para pemegang kristal telah mengetahui rahasia antara keterkaitan kekuatan mereka dengan Kuroko. Di sisi lain, Shougo yang telah merencanakan penyerangan ingin menghubungi Chihiro. Kira-kira, apa yang ingin disampaikan seorang adik pada kakaknya?

M-MAAF! Maafkan saya yang terlambat update! Kelas Farmasi membuat sibuk meski baru di kelas satu, terlebih lagi saya harus mengejar ketertinggalan. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya buat semua yang menantikan fic ini (kalau ada), terutama Mei-nee sebagai requester.

Mau cerita sedikit. Karena keformat, seluruh data termasuk data berisi keseluruhan cerita dari awal hingga akhir hilang, jadi saya sedikit lupa beberapa isi ceritanya. Walaupun demikian, saya tetap akan mengusahakan yang terbaik '3')/

Langsung saja balas review ^^

Review Replies :

kudaganteng : Ini udah lanjut, review lagi ya ^0^ btw, penname-mu imut sekali! XD

May Angelf : Tidaaak! Mereka saudara, bukan pairing! Etapi boleh juga jadi incest XD /plak

CD ... anu(?). Kalau memang itu celana dalam, apakah Aomine sebegitu gak modalnya sampai minjam celana dalam? XDD

Yup, Kuroko adalah wadah bagi Mayuzumi bersaudara. Kalau mengenai status Kuroko sebagai Mirror, di chapter ini tersirat jawabannya, jika Mei-nee jeli.

Makasih untuk review-nyaa~ tinggalkan jejak lagi ya~

narakura : Saya masokis, jadi saya tega-tega aja XD /dihajarGoM

Sepertinya pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini. Jangan bosan-bosan RnR ya :3

Soal kekhawatiran Akashi pada Kuroko ... ini permintaan requester ^^)" (aslinya dakuh fans MidoKuro garis keras).

Upah : Sudah lanjut~

Park RinHyun-Uchiha : Maafkan soal informasi yang telat itu uwu)"

Kalau ada yang bingung, jangan sungkan ditanyakan :)

Sekian yaaww! See you! Kita akan bertemu di chapter 5 : From Start to End, We'll Stand until The World Ends

~ marmaladelicious