"Maaf, ff ini akan mengalami perubahan sana-sini. Sehingga tidak akan sama dengan versi sebelumnya. Semoga teman-teman masih mau bacanya."
-0o0o0-
Naruto ©Masashi Kishimoto
Love in School
Chapter 4
Happy reading
-o0o0o-
Suasana hati Sakura terasa tidak menyenangkan. Pertemuaan dirinya dengan Sasuke memang sangat di luar perkiraannya. Kini ia bisa melihat punggung Sasuke yang berada di depannya. Rasanya ia ingin memeluk dan menumpahkan kerinduaannya. Tapi siapa dirinya sekarang ini? 'Sasuke, apa semuanya sudah berbeda?'
"Sakura lihat mereka ada disana." Ucapan Yumi menghentikan lamunan Sakura. "Ah iya, itu mereka." Balas Sakura.
Ucapan Yumi pun menarik perhatian Naruto dan Sasuke. Hingga mereka secara bersama-sama melirik kelompok Sakura.
Saat Sakura hendak pergi mendahului mereka dengan menarik Yumi, Naruto menghentikan langkah Sakura. "Sakura tunggu dulu."
Sesungguhnya Sakura ingin segera pergi dari tempat itu tanpa harus melihat wajah dingin Sasuke. Namun tidak mungkin dia bersifat egois setelah Naruto dengan baik hati mengantar mereka ke taman. Dia pun berbalik melihat Naruto dengan berusaha tidak menatap Sasuke namun itu sia-sia, dia malah bertemu pandang dengan Sasuke.
Sempat terpaku tapi hanya kekelaman yang dapat dilihat Sakura dari mata itu. Tidak sanggup terus melihatnya, Sakura segera memalingkan wajahnya. Mata itu seakan menusuk hati Sakura, membuat rasa pedih dan menyesakkan.
"Sakura kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat sangat pucat." Tanya yumi dan Sakura hanya menggeleng menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Sasuke kau mau kemana lagi?" Tanya Naruto yang melihat Sasuke pergi menjauh begitu saja. Teman-teman Naruto yang mendengar suara Naruto kemudian memandang kearah mereka bertiga –Sakura,Yumi dan Naruto.
"Bukan urusanmu." Entah kenapa nada bicara Sasuke terdengar sangat menakutkan. "Menyeramkan..." Naruto terlihat bergidik ngeri mendengar Sasuke.
"Ah iya, Sakura dapatkah kita saling memperkenalkan teman-teman kita?" Tanya Naruto dengan tangan di belakang kepala dan tersenyum lebar, sebenarnya Naruto hanya ingin berbicara pada Hinata.
Sakura tampak berpikir dan kemudian berkata, "Baiklah."
"Kalau begitu ayo kita temui teman-temanku dulu, baru setelah itu kita bertemu dengan teman-temanmu." Sakura dan Yumi mengangguk sebagai tanda setuju.
"Hei semua. Aku ingin memperkenalkan kalian pada mereka." Ucap Naruto dan menunjuk pada dua gadis di belakangnya.
"Kau datang lama dan hanya ingin memperkenalkan orang saja. Mana Sasuke?" Tanya Kiba yang sama sekali tidak melihat dua gadis di belakang Naruto.
"Dia tadi baru pergi ntah kemana. Dan kalau kau tidak ingin berkenalan ya sudah, aku bisa kenalkan mereka pada yang lain. Kenalkan mereka adalah Sakura dan Yumi."
Sakura dan Yumi tersenyum sambil memperkenalkan diri. "Aku Sakura Haruno dari Konoha dan Dia Yumi dari Kiri."
"Salam kenal." Kata Yumi lembut dan membuat Kiba menoleh seketika. Entah apa yang terjadi dengan dirinya tapi Kiba langsung saja memperkenalkan diri. "Aku Kiba, dia Sai, Neji dan Shikamaru kami sama dengan Naruto dari Konoha hanya lain sekolah saja."
"Tadi katanya tidak mau berkenalan, tapi sekarang lihatlah tingkah norakmu." Ucap Naruto.
"Diam saja." Balas Kiba.
"Naruto dapatkah kami pergi sekarang?" Tanya Yumi yang merasa tidak nyaman.
"Ah tunggu dulu, teman-teman ayo bertemu dengan teman-teman Sakura." Ucap Naruto sambil mendorong teman-teman yang dari tadi menolak namun berbeda dengan Kiba yang menurut saja.
"Minna… maaf membuat kalian menunggu lama." Kata Sakura sambil tersenyum.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Ino.
"Tadi kami tersesat saat mencari taman." Kata yumi.
Mereka saling berbicara dan melupakan sekelompok cowok yang ada di dekat mereka.
"Hai…" Sapa Naruto untuk mengingatkan keberadaan mereka pada Sakura. Namun ternyata kata sapaan itu hanya ditujukan pada Hinata. Dan orang yang disapa pun hanya menjawab malu-malu.
"H-hai Naruto-kun…" Mereka saling tersenyum namun satu kesalahan besar, Naruto melupakan kakak Hinata yang dari tadi menatap Naruto seperti ingin mencekiknya.
"Hinata." Panggil Neji.
"Kau mengenalnya Hinata?" Tanya Tenten.
"Tenten-chan dia Neji, sepupuku."
"Oke lebih baik kita saling berkenalan." Kata Naruto mengalihkan perhatian Neji yang melihatnya dengan aura mengerikan.
"Perkenalkan dia Ino, Tenten, dan Hinata. Mereka juga dari Konoha." Kata Sakura sambil menunjuk satu persatu temannya.
"Perkenalkan aku Naruto, dia Kiba, Shikamaru, Sai, dan Neji." Kata Naruto.
"Berasal dari sekolah mana kalian?" Tanya Hyuga. Ish, ish, ish, lihatlah sifat memandang remeh orang lainnya kambuh lagi.
"Kami bertiga dari Star High School." Terang Ino dengan wajah tidak suka melihat tingkah Neji yang tampak sangat belagu.
"Sekolah khusus yang bukan untuk orang-orang klan." Hyuga menatap jijik membuat Tenten naik darah, memang sudah biasa bagi orang-orang di Konoha melihat klan Hyuga yang sombong. Tapi bagi Tenten itu merupakan sesuatu yang salah dan keterlaluan.
"Neji-niii…" Hinata tidak enak dengan teman-temannya yang ditatap seperti itu oleh sepupunya. Dan Naruto hanya menggeleng kepala melihat Neji yang mengingatkannya dengan pertemuan pertama mereka.
"Hinata, tenang saja. Kali ini aku tidak melarangmu berteman dengan orang-orang macam ini." Perkataan Neji jelas-jelas menyulut emosi.
"Macam ini… Macam ini! Apa maksud perkataanmu hah! Kau hanya beruntung karena terlahir di klan itu dan kau bukanlah apa-apa." Tenten meninggikan suaranya.
"Sudahlah Tenten, kau tidak perlu semarah itu." Sakura menenangkan namun kemudian terdengar suara Ino. "Bagaimana bisa tenang menghadapi orang seperti dia Sakura. Kalau bukan kita yang berteman dengan Hinata pasti sekarang aku sudah memukulnya."
Karena suara keributan yang dibuat mereka banyak orang yang melihat mereka dan berbisik-bisik. Yumi yang dari tadi berbicara pada Kiba akhirnya melihat pertengkaran itu. Hyuga yang tidak suka dengan perkataan Ino pun nampak menahan amarahnya.
"Hei sudahlah lebih baik kita berteman saja, jangan ada yang bertengkar. Bukankah berteman akan membawa kebahagiaan bagi kita semua." Kata Sai dengan senyuman palsunya.
Ino yang melihat itu sempat berkata dalam hati sambil menatap sai, 'wah tampan sekali dia. Ahh apa yang kupikirkan akukan sedang bermasalah dengan anak belagu itu. Kenapa Hinata dapat memiliki kakak sepertinya?'
"Sudahlah lebih baik hentikan ini." Kata Shikamaru yang merasa bahwa diri mereka telah menjadi bahan perbincangan.
"Lebih baik aku pergi dari sini dari pada melihat orang-orang sepertimu. Kenapa sekolah ini dapat menerima murid yang sombongnya seperti kau!" Kata Tenten dan menunjuk Hyuga tepat di depan wajahnya.
Para perempuan pun pergi mengikuti Tenten, ini kali pertama mereka melihat Tenten yang semarah ini. Ingatkan mereka untuk membuat Tenten seperti itu lagi. Seram sekali melihatnya marah.
Kepergian para perempuan membuat Kiba dan Naruto hanya mengendus kesal. "Kenapa kau harus bertingkah seperti itu sih?" Ucap Kiba tidak senang karena Yumi yang juga ikut pergi. Dan ini semua karena seorang Neji.
"Seperti anak yang tidak terpelajar." Kata Shikamaru yang tidak menyukai sifat temannya yang satu itu.
"Kalau kau bersifat seperti itu, mungkin kau akan jatuh cinta padanya. Itu yang kubaca dari salah satu buku." Kata Sai.
"Aku tidak akan pernah menyukai orang-orang seperti itu."
"Sudahlah. Kita hampir lupa memberikan ini ke kantor kepala sekolah." Kata Naruto sambil menggerakkan kertas-kertas ditangannya.
"Ya lebih baik kita pergi saja."
-0o0o0-
Pagi ini terdengar lebih berisik lagi. Menjadi hari pertama memulai pembelajaran =, membuat semua anak susah payah untuk menyesuaikan jam bangun tidur mereka. Karena tepat pada pukul lima pagi semua siswa dibangunkan oleh bunyi bel asrama.
"Shikamaru cepat bangunkan Naruto." Perintah Neji.
"Mendokusai… Kenapa setiap saat aku yang harus membangunkannya? Kau saja Sasuke." Kata Shikamaru dan kemudian pergi ke kamar mandi, meninggalkan Sasuke yang harus membangunkan Naruto.
"Naruto bangun!" Sasuke membangunkan namun karena tidak mendapatkan respon, akhirnya dia memutuskan untuk menyiramnya dengan air.
"Kenapa kau menyiramku… Dattebayo!" Teriak Naruto.
"Cepat segera bersiap, sebentar lagi acara penyambutan akan dimulai. Kita masih harus menaiki bus." Kata Neji yang baru selesai mandi dan kemudian disusul oleh Shikamaru.
-0o0o0-
Di asrama wanita tidak ada keribut seperti di kamar Naruto, namun berbeda dengan kamar Tenten. Di kamar itu sedang ada perebutan kamar mandi antara Tenten dan Shion.
"Aku yang harus mandi terlebih dahulu. Aku tidak mau memakai air bekas dirimu." Kata Shion.
"Aku tidak memberikanmu air kotor dan lagi akulah yang terlebih dahulu bangun dari pada kau." Kata Tenten.
"Semua akan menjadi bekas jika setetes saja air dijarimu menyentuh air tersebut, dan aku tidak akan menjadi yang kedua. Aku adalah orang yang pertama dan harus menjadi pertama."
Perkataan Shion membuat Tenten geram, mungkin saja Tenten mendorong Shion. Karena dirinya sangat jago dalam hal bela diri dan kekuatannya jelas di atas Shion.
"Sudahlah, lebih baik Tenten mandi saja duluan di sini. Aku masih mempersiapkan keperluan untuk ke sekolah." Kata Matsuri yang membuat perkelahian Tenten dan Shion berhenti.
"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Tenten tidak enak.
"Ya, tidak masalah."
"Lebih baik kau mandi di sana dari pada aku mandi setelah dirimu yang busuk itu." Kata Shion dan masuk begitu saja ke kamar mandi.
-0o0o0-
Setibanya mereka di sekolah ternyata sama sekali tidak ada jam pelajaran hari ini. Semua siswa dan siswi hanya disibukkan mencari tahu kelas mereka masing-masing. Setiap orang akan memeriksa pada secaring kertas yang ditempelkan di setiap pintu ruangan.
"Apa-apaan ini, kenapa sekarang sekolah menjadi pasar begini." Kata Tenten terkejut.
Bukannya ini sekolah elit ya, kenapa siswanya harus berebutan begini sih. Apa sih yang ada dipikiran para kage. Tapi sudahlah biarkan itu jadi rahasia mereka. Ayo lihat begitu ramainya murid-murid yang berdiri di depan pintu kelas.
"Bagaimana lagi setiap siswakan ingin tau kelas mereka." Kata Sakura sambil menghela napas.
"Tapi inikan sudah tidak wajar Sakura. Bagaimana kita bisa melihat ruang kelas kita?" Kata Ino.
"Lebih baik kita berpencar saja, setiap orang akan melihat nama kita pada satu pintu kelas. Walaupun kita beda kelas, kita tetap bisa mengingat nama teman kita dan dimana kelasnya. Itu akan lebih mudah dan simple." Saran Yumi dan mendapat anggukan dari semua teman-temannya.
"Oke baiklah kalau begitu." Kata Tenten berseru keras dan mengundang perhatian seluruh murid di dekat mereka.
"B-baik lah." Ucap Hinata pelan bahkan tak terdengar karena kebisingan yang ada.
Mereka mulai berpencar.
…
"Banyak sekali orang-orang di depan mading. Gimana kita bisa tau ruang kelas kita, tebayo…" Kata Naruto dengan wajah frustasi.
"Lebih baik kita mencar dan siapa yang menemukan ruang kelas salah satu dari kita harus mengingatnya dan kita kembali ke tempat ini setelah lima belas menit." Kata Shikamaru tanpa mendapat protes.
-oo0oo-
"Per-permisi" Kata Hinata sambil berusaha maju ke depan pintu kelas untuk melihat kertas yang di tempel pada pintu ruangan itu. Tapi Hinata yang bertubuh munyil dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya membuat dia terperanjak dan hampir terjatuh.
Namun sebelum ia benar-benar terjatuh ternyata tubuhnya sudah ditangkap oleh seseorang. "Kau tidak apa-apa Hinata-chan?" Tanya Naruto. Naruto sebenarnya sudah melihat Hinata sedari tadi dan mengawasinya dari belakang, seperti penguntit.
"I-iya…" Jawab Hinata.
"Apa kau ingin melihat namamu?" Kata Naruto dan mendapat anggukkan dari Hinata.
"Biar aku yang lihat." Naruto hendak melangkah maju namun langkahnya dihentikan oleh tangan Hinata yang menarik lengan bajunya. "Ada apa lagi Hinata-chan?"
"A-ano aku bukan hanya ingin melihat namaku Naruto-kun, t-tapi juga nama teman-teman yang lain."
Naruto langsung mengerti maksud Hinata karena dirinya juga sama. "Ahh, tapi maaf Hinata-chan aku tidak mengingat nama mereka semua kecuali Sakura dan Yumi." Katanya sambil tertawa atas daya ingatnya yang lemah.
"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku akan melihat sendiri."
"Kalau begitu ayo lihat berdua."
Naruto segera memegang tangan Hinata dan menariknya masuk ke krumunan murid-murid tersebut. Sangat mudah untuk Naruto maju ke depan kerumunan tapi karena bersama Hinata dia lebih memilih menjaganya agar tidak terdorong oleh ramainya kerumunan.
Akhirnya mereka dapat melihat kertas pengumuman. Hinata dan Naruto secara teliti membaca nama-nama yang terpampang.
"Bagaimana Hinata-chan, apa nama teman-temanmu ada di ruang ini?"
"Tidak ada satu pun Naruto-kun."
"Ya sudah ayo kita keluar, di sini mulai bertambah sesak."
"I-iya…"
-oo0oo-
Ino berjalan dengan santainya melewati taman menuju sebuah kelas untuk melihat pengumuman, tugas yang sama dengan teman-temannya hanya saja Ino memilih kelas yang lebih dekat ke taman sekolah.
"Entah kenapa melihat bunga di taman ini membuat hatiku tenang. Ini mengingatkan aku pada rumah." Kata Ino pada dirinya sendiri.
Sepanjang jalan dia memandang bunga, sampai akhirnya ia mendesah saat melihat gerombolan murid yang berdesak-desakan.
"Katanya sekolah elit tapi kenapa harus berdesakan sih." Kata Ino kesal sambil maju ke dalam kerumunan.
Ino sedikit kesulitan masuk ke dalam kerumunan tersebut. Saat tepat di tengah-tengah dan selangkah lagi di depan papan pengumuman, dirinya didorong oleh seseorang sampai terjatuh. Ino memandang sengit pada orang yang berada di depannya saat ini masih dengan posisi terduduk di lantai. 'Aku tau dia sengaja mendorongku.' Batin Ino.
Ino terus saja memandang perempuan yang mendorongnya. Perempuan itu sama sekali tidak membantu ataupun menyatakan penyesalannya. Itu benar-benar membuatnya Ino marah
"Kau tidak apa-apa?" Kata seorang lelaki yang berjongkok di samping Ino dan membantunya berdiri.
"Iya, terima kasih." Jawab Ino.
Ino terpaku pada wajah pucat dengan senyum tidak alami dari laki-laki yang membantunya berdiri. Seakan waktu berhenti saat Ino menatap mata hitam itu, menikmati pemandangan yang dapat menghipnotisnya untuk pertama kalinya. Namun kemudian ia kembali menatap wanita berambut kuning yang tadi mendorongnya tadi.
"Ada apa?" Tanya wanita itu tanpa merasa bersalah.
"Kau sangat tidak memiliki sopan santun. Kau yang mendorong akukan…"
"Apa? Aku tidak ingat tuh." Perempuan itu berkata sambil berkacak pinggang.
Amarah Ino sudah di ubun-ubin ingin sekali dia menarik rambutnya.
"Sudahlah… Sebagai teman kita tidak seharusnya bertengkar." Kata laki-laki yang menolong Ino dengan senyum palsunya.
"Perlu kuingatkan, aku tidak sudi menjadi temannya." Kata gadis itu dan masuk kedalam kelas begitu saja.
Sepertinya ini adalah kelasnya, Ino berdoa agar tidak sekelas dengannya. Saat Ino mulai melihat nama siswa-siswa yang tertera. Ada perasaan senang dan tidak suka dengan pengumuman tersebut.
'Ini mengejutkan! Kenapa kami semua satu kelas? Dan kenapa harus dengan perempuan itu juga.' batin Ino.
Kualihkan pandanganku pada laki-laki yang sedang membaca nama-nama tersebut dengan sangat serius. Aku terus memandangnya, sampai dia menoleh dan tatapan kami pun bertemu. "Apa kau di kelas ini?" Tanya Ino padanya.
"Ya." Jawabnya sambil tersenyum seperti biasa.
"Kita bakalan jadi teman dekat mulai dari sekarang. Itu akan memudahkan kita untuk bekerjasama di kelas yang sama." Kata Ino sambil tersenyum, "Ngomong-ngomong namamu siapa? Aku lupa." Tambahnya.
"Sai." Jawab Sai.
Ino menyelipkan rambutnya pada belakang telinga, "Oh… Sai. Senang berteman denganmu."
-oo0oo-
Wajah Ino, Sakura, Yumi, Hinata dan Tenten terlihat sangat senang karena mereka satu kelas di LSHS. Sambil bercanda, tertawa memasuki kelas dan memilih tempat duduk masing-masing di depan meja guru. Mereka saling bertukar bercerita sampai tiba-tiba mereka terdiam, terkejut dengan berisik yang terjadi. Bukan karena cerita atau tawa mereka tapi karena tiba-tiba masuk sekelompok laki-laki yang membuat para perempuan di kelas mereka berteriak histeris.
"Hei ternyata kita semua satu kelas." Kata Naruto dengan kedua tangan dibelakang kepala dan senyum yang lebar pada Ino, Sakura, Yumi, Hinata dan Tenten.
"Tapi aku tidak berharap satu kelas dengan orang macam dia." Kata Tenten yang menatap tajam Neji.
Neji tidak mempedulikan perkataan Tenten. Malah Neji hanya mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. "Kita bisa duduk di sana." Katanya menunjuk deretan bangku kosong di belakang kelas. Setelah itu mereka semua bergerak menuju bangku tersebut.
Waktu sudah hampir menunjukkan jam masuk, setiap siswa memasuki kelas dan mengisi setiap bangku di dalam kelas. Ruangan itu tidak terlalu berisik hanya sedikit siswa-siswi yang berbincang-bincang. Tapi tiba-tiba terdengar suara meja yang dipukul dengan keras, suara itu tentu saja menarik perhatian seluruh murid di kelas itu.
"Hei! Siapa yang memperbolehkanmu duduk di sini!?" Kata Shion yang baru saja masuk dan menuju bangkunya pada Tenten.
Biar pun menjadi tontonan Shion sama sekali tidak merasa malu, dia malah semakin marah saat Tenten mengabaikannya. Shion yang memiliki tabiat emosional yang meledak-ledak segera menarik tas Tenten dan melemparkannya ke depan kelas.
Teman-teman Tenten tidak menyukai kelakuan gadis itu terutama Ino yang merupakan teman sekamar Shion. Mereka berusaha tidak menambah suasana panas di antara mereka berdua dan memilih untuk diam melihat.
"Kukatakan! Aku tidak sudi untuk berdekatan dengan orang-orang seperti kalian." Shion menunjuk Tenten, Sakura dan berakhir pada Ino. "Dasar parasit!"
Emosi Tenten sudah tidak tertahan lagi, segera dibalasnya perbuatan Shion dengan melemparkan tas milik Shion ke belakang kelas dan berkata, "Asal kau tau saja ya, aku juga tidak ingin duduk bersama orang sombong dan arogan sepertimu!" Kata Tenten dan pergi meninggalkan bangkunya lalu mengambil tasnya yang terletak di lantai.
Tenten mencari bangku mana yang masih kosong untuk tempat duduknya. Dan matanya tertuju pada satu bangku yang ada di belakang. "Aishh…" Sepertinya tenten tidak menyukainya.
Memang ada beberapa bangku yang tidak berpenghuni namun sudah ada tas di atas mejanya, itu menunjukkan bahwa meja dan bangku tersebut sudah ditempati. Yang tersisa tinggal satu saja dan itu juga bangku di samping Neji, berarti Tenten akan semeja dengan Neji.Tenten berjalan menuju bangku tersebut dan duduk dengan malas.
"Pagi semuanya." Kata seorang sensei yang baru saja masuk ke kelas.
"Pagi sensei" Balas beberapa siswa-siswi.
"Perkenalkan saya Iruka, penanggung jawab kelas ini, bisa dikatakan wali kelas juga. Saya berharap anak-anak di kelas ini tidak akan membuat masalah sehingga saya harus dipanggil kepala sekolah."
Semua hanya mengangguk menanggapi perkataan wali kelas mereka.
Tok…tok…tok…
Sebuah ketukan mengalihkan perhatian semua orang ke pintu. Disana telah berdiri empat orang murid yang terlambat masuk ke dalam ruangan.
"Maaf sensei, kami terlambat." Ucap salah seorang dari mereka. "Sudah segera masuk, tapi sebelum itu beritahu nama kalian."
"Oh… Saya Temari, dia Matsuri, Sasori dan Gaara." Setelah memberitahukan nama-nama mereka, akhirnya mereka diperbolehkan untuk memasuki ruang kelas.
Temari berhenti sejenak saat melihat orang yang ada di belakang bangkunya ternyata si rambut nanas. Raut kesal terlihat di wajah Temari. 'Ternyata dia sekelas denganku dan juga duduk di belakangku. Lihat saja wajahnya itu, sungguh mengesalkan." Batin Temari
"Anak-anak saya akan mengulang sedikit peraturan di sekolah ini. Mungkin kalian sudah mengetahuinya tapi saya hanya mengingatkan peraturan terpentingnya.
Di sekolah ini segala 'hubungan' siswa-siswi tidak akan dicampuri oleh pihak sekolah tapi ketika karena hal itu terjadi perkelahian maka akan diberikan sanksi.
Setiap siswa wajib mematuhi peraturan sekolah terutama masuk keruangan sebelum sensei yang mengajar masuk, jika melanggar akan ada pengurangan poin nilai.
Setiap siswa akan diberikan 100 poin awal, poin tersebut akan bertambah ataupun berkurang sesuai dengan perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan. Dan hati-hati jika poin akhir dibawah 40 maka kalian akan mendapatkan sanksi.
Akan ada pembagian tugas bersih-bersih yang diwajibkan oleh sekolah dan dilaksanakan seusai pulang sekolah.
Setiap bulan akan diadakan acara tertentu berdasarkan keputusan semua siswa.
Diwajibkan untuk mengikuti satu kegiatan tambahan di sekolah.
Dan bagi kalian yang baru saja masuk tidak akan diberi pengurangan poin karena ini merupakan hari pertama. Tapi untuk hari selanjutnya akan ada pengurangan sebesar 15 poin. Dan ini juga peringatan untuk semuanya. Paham?" Tanya sensei Iruka di akhir penjelasannya yang sangat lebar.
"Paham sensei"
"Baiklah kita akan memilih ketua, wakil ketua, dan sekretaris kelas."
Setelah melakukan voting maka didapatkan nama-nama yang menduduki posisi tersebut. Ketua Shikamaru, wakil ketua Naruto dan sekretaris Temari.
"Oke selamat bagi kalian bertiga, sensei harap kalian dapat membantu sensei dalam mengatur kelas."
"Baik sensei" Kata Naruto semangat.
"Dan hampir saja sensei lupa memberitaukan hal ini. Selama dua hari akan diadakan acara penganggrapan antar siswa baru dan para senior. Maka karena itu hari ini siswa di sekolah diperbolehkan berkeliling sekolah dan melihat-lihat para senior tapi jangan sampai mengganggu. Apa ada pertanyaan?"
"Sensei kegiatan seperti apa yang akan diadakan?" Tanya salah satu murid.
"Sensei juga kurang tahu hal itu, kalian lihat saja besok oke. Untuk hari ini penjelasan dari saya selesai dan setiap siswa selamat datang di LOVE SENIOR HIGH SCHOOL" Setelah mengucapkan itu Iruka-sensei pun keluar kelas.
…
Iruka-sensei keluar kelas, Shikamaru pun maju ke depan kelas. Dia melakukan tugas pertamanya sebagai ketua kelas dengan melakukan pemilihan petugas-petugas piket. "Teman-teman kita akan membagi petugas piket, maka diharapkan semuanya tetap di ruangan." Tapi karena sifat malasnya, dia pun melimpahkan tugas tersebut pada Naruto dan Temari.
"Apa-apaan kau itu, hanya menyatakan itu. Kau yang seharusnya mengurus ini." Kata Temari.
"Sudahlah Temari biarkan saja, dia memang begitu. Lebih baik kita lanjutkan ini saja. Setelah itu nanti kita bisa berkenalan dengan murid lainnya" Kata Naruto menenangkan. Naruto yang memiliki sifat gampang bergaul membuatnya mendapatkan teman lebih banyak dari teman-temannya yang lain. Lihat saja sekarang, dia sudah mengenal dan berbincang-bincang hampir pada seluruh anak sekelasnya.
"Dasar ketua pemalas!" Kata Temari.
Shikamaru terlalu malas untuk menanggapi perempuan yang satu itu, maka dia hanya kembali ke bangkunya untuk tidur. Entah kenapa satu hari ini banyak sekali murid-murid yang bertengkar di hari pertama. Tapi biarpun begitu semuanya mengerti dan berusaha untuk tidak ikut campur.
Pemilihan petugas piket menghabiskan waktu cukup lama hanya karena perdebatan tidak penting. Beberapa murid bersifat apatis dan ada murid yang selalu protes karena teman sekelompoknya. Melihat tingkah beberapa murid membuat Temari marah dan berteriak di ruang kelas. "Sudah cukup! Aku yang akan menentukan teman sekelompok kalian dan aku tidak akan menerima segala alasan. Hari ini cukup sampai di sini, kalian boleh kembali ke asrama." Kata Temari dengan amarah yang meluap-luap dan teman-temannya hanya memandang takut.
Saat ingin kembali ke asrama semua siswa diberikan kertas oleh beberapa senior di gerbang sekolah. Kertas itu berisi kegiatan dan keperluan untuk dua hari penggangrapan siswa baru dan senior.
"Hei teman-teman cepat baca lembaran yang diberikan tadi." Kata Naruto dan tidak mendapatkan respon dari teman-temannya.
"Ya sudahlah biar aku yang bacakan. Setiap siswa dan siswi haruslah memiliki pasangan. Bagaimana ini dattebayo…"
"Ah, sudahlah. Aku malas mencari-cari pasangan lebih baik aku kembali ke kamar saja." Kata Shikamaru.
"Lebih baik kita mencari sendiri-sendiri saja." Kata Neji.
"Tapi-" Kata Naruto.
"Memang lebih baik begitu bodoh. Kita tidak mungkin mencari bersamaan." Kata Kiba dan langsung masuk ke kamar asramanya.
Dan mereka pun kembali ke kamar dan tidak memikirkan hal lain.
Tbc
.
.
.
Aku ucapkan makasih buat teman-teman yang udah review, follow dan favorite.
Dan
Maaf jika cerita tidak sesuai harapan pembac
