Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.
Genre : Romance/Supernatural
Chara : Sepertinya udah pada tau yah…heran,,kalian punya kekuatan supernatural ya buat nebak?XD
So, this is it! Ch.4!
Sebelumnya, kaya biasa, saya mu nanggepin beberapa ripiu yang udah masuk ya.
#Tsujiai-kun : makasih banyaaak yaah. ^^
#Sabaku Tema-chan : ehehe, ndapapa. Makasih banyak dah mau review tiap chapter-nya yak? Ohyah, gomen, saya belum bisa mengabulkan request kamu yang KibaHina .
#uchihyuu nagisa :ahahhaa. Gitu toooh… saya agak lemot menanggapi review kamu XD
#Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura : haha. Makasih banyak buat reviewnya. Wah, chapter kemarin paling seru? Yosh, kalau chapter ini gimana? *grin*
#Masahiro NIGHT Seiran: ehehe. Makasih banyak! Yup, tebakannya benar sekali, chapter kali ini tentang Hina-chan. Dan pasangannya siapa? Boleh dilihat di bawah….:D
#uchan aja lah : sejujurnya, cerita kemarin ada sedikit mengalami perubahan plot. Dan jadilah seperti itu. Hahaha. Yak, silakan menikmati chapter kali ini! Dan untuk pihak dewasa, mungkin jadi slight2-nya aja kali ya? Hehe
#Shu '7' S-F : yap. Gakpapa. Makasih banyak dah mau menyempatkan diri untuk baca dan review di tengah2 kesibukan ^^
#Miya Hime Chan : yak! Silakan di liat pair di chapter ini! Moga-moga kamu puas dengan cerita kali ini yaaa. Hehe.
Saqee-chan: makasih banyak. Silakan, ini update-an-nya :D
Sawaii 'chan' Nakamatsu : makasih Sawaii-chan. Nah, selamat membaca chapter kali ini. ^^
#Cendy Hoseki : wkwkwk. Makasih banyak yah, Cendy-chan. Chapter kali ini tentang Hina-chan dan pasangannya adalah…. *silakan dilirik-lirik ke bawah ^^
#airi-zela : makasih banyak mau baca dan review fic ini, airi-san. Hehe. Pasangan kali ini adalah… Silakan digeser mouse-nya agak ke bawah… :P
#Yuki Tsukushi : yuki-san, makasih banyak lho dah mau review buat tiap chapter. Dan maaf yah kalau yg chapter 1 agak2 memusingkan. Ehehe. Nah, selamat membaca chapter kali ini ^^
#Sugar Princess71 : su-chan, makasih yah dah mau nyempet2in baca fic ini. Moga2 ulangan fisika kamu malah tambah bagus yah setelah baca fict ini *seenaknya, dilempar pake daya sentrifugal terus mental menabrak pegas dan… yah..pokoknya gitu lah… :P
#Nara Aiko : gakpapa. Malah saya yang berterimakasih karena dah mau abca, ngereview, bahkan ngefave. Makasih banyak yaaa… ^^
Yosh, selesai juga balesin ripiu2nya. Sebelumnya, maaf juga yah kalau update-an buat chapter ini cukup lama. Ditambah ffn yang masih error. Jadi ja summary-nya belum bisa saya ganti. maaf yaaaak. Huwaaa… T.T
Ah, pokoknya, it's time for…
Reading the story! Enjoy!XD
Konoha Gakuen – Perguruan Konoha.
Sebuah perguruan terkenal yang terdiri dari Kindergarten sampai dengan High School. Sekolah terkemuka yang sudah berdiri puluhan tahun. Banyak orangtua lulusan sekolah itu yang kemudian menyekolahkan anak-anaknya di almamater mereka tersebut. Benar-benar suatu sekolah yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.
Tapi…
Apa kau tahu bahwa di bagian High School dari perguruan ini memiliki suatu legenda yang cukup unik?
Tidak?
Kalau begitu biar kuceritakan sedikit padamu.
Di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2, terdapat sebuat jam kuno. Jam tersebut berbentuk sebuah jam tinggi dengan pemberat yang mengayun-ayun di bawahnya. Konon, jam tersebut tetap berjalan walaupun tidak disetel puluhan tahun. Yah, soal itu sih bisa jadi bohong. Dan memang bukan itu legenda yang kumaksud.
Yang ingin kusampaikan adalah…
Saat kau mendengar jam tersebut mendadak berdetak dengan keras yang diikuti suara lonceng yang berdentang dua kali, maka saat itulah kau akan mengalami suatu perjalanan waktu yang tak terduga.
Kau percaya?
.
.
.
TIME ~The Reason~
SasuHina : The Reason Why She Should Believe in His Feeling
"Hyuuga Hinata! Jadilah pacarku!"
Pengakuan di suatu siang itu tak pelak lagi membuat seorang siswi kelas 2-2 Konoha High School yang memiliki sifat pemalu tersebut mundur tiga langkah dari sang pembuat pengakuan.
"E-eh?"
Hanya itulah respon Hinata terhadap pengakuan, atau lebih tepatnya paksaan, yang dilontarkan oleh seorang pemuda berambut hitam dengan model sedikit jabrik di bagian belakangnya.
"Apa perlu kuulangi lagi?" balas si pemuda bermata tajam setelah sebelumnya ia menghela nafas akibat reaksi yang diperlihatkan Hinata.
"G-Gomen, Uchiha-san! A-aku…" jawab Hinata tergagap dengan tangan yang sudah sedikit menempel di dekat mulutnya. Untuk saat itu, wajahnya yang sebenarnya berwarna pualam sudah semerah tomat ranum. Untuk menutupinya, Hinata sedikit menunduk.
Melihatnya seperti itu, pemuda yang dipanggil Uchiha itu malah mendekat ke arah Hinata dan dengan cepat, ia mengangkat dagu Hinata. Matanya yang berwarna onyx itu mengunci mata Hinata yang berwarna pearl. Lalu, dengan suara rendah dan setengah berbisik, pemuda itu mengulangi ucapannya.
"Kubilang, jadilah pacarku!"
"A-a…"
GABRUUUGH!
Dan berakhirlah pengakuan si pemuda tersebut dengan Hinata yang jatuh pingsan karena tak kuat menahan degup jantungnya sendiri.
o-o-o-o-o
"Hina-chan?"
Panggil sebuah suara.
"Halo, Hinata?"
Ulang suara tersebut.
Hinata mengerjab-ngerjabkan matanya. Pandangannya yang semula kabur perlahan menjelas, menunjukkan sosok seorang gadis berambut blonde yang tengah menatapnya dengan pandangan yang khawatir.
"I-Ino-chan?" panggil Hinata begitu ia menyadari siapa yang tengah berdiri di sampingnya tersebut. Lalu perlahan, Hinata langsung menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya sebelum ia bangun dari posisi berbaringnya. Ia memandang ke sekelilingnya sejenak sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia sedang berada di ruang kesehatan.
Ino sendiri kemudian menyelipkan rambutnya yang sedikit berjatuhan sebelum ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping Hinata.
"Kau nggak apa-apa kan, Hina-chan?" tanya Ino sambil mengulurkan tangannya untuk memegang dahi Hinata.
Hinata menggeleng sambil berusaha menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"A-aku baik-baik saja, Ino-chan. Nggak ada masalah!"
"Kau membuatku jantungan tau!" ujar Ino cepat sambil menarik kembali tangannya. "Waktu melihat Sasuke-kun menggendongmu yang pingsan, kukira kau kenapa-kenapa!"
Mendengar nama Sasuke disebut, spontan wajah Hinata kembali memerah. Tentu saja, pengakuan tadi bukan mimpi! Itu fakta! Kenyataan! Sasuke baru saja 'menembak'-nya!
"Lho? Kau kenapa?"
"I-Ino-chaaaan! G-gimana nih?" seru Hinata panik.
"Hah?"
Beberapa menit lamanya, Hinata mengulangi kejadian yang baru saja dialaminya sesaat sebelum ia pingsan. Ino yang mendengarkan dengan seksama langsung terperangah saat gadis pemalu itu menyelesaikan ceritanya.
"KAU HEBAT HINA-CHAN!" seru Ino dengan mata yang berbinar-binar. "Bayangkan saja! Kau berhasil membuat seorang Uchiha Sasuke yang angkuh, yang nggak suka didekati cewek, yang School Prince itu, jatuh hati padamu!"
"Ng-nggak mungkin, I-Ino-chan!" tukas Hinata dengan kedua tangan yang ia letakkan untuk menutupi wajahnya yang kembali memerah.
"Nggak mungkin kenapa?"
"A-aku nggak tau apa yang m-membuatnya j-j-jatuh.. J-jatuh hati padaku!" ujar Hinata dengan kegugupan tingkat maksimal. "I-ini aneh, Ino-chan! Aku.. Aku jarang ngobrol dengannya! L-lagipula, kami nggak dekat!"
Mata Ino kembali melongo. Gadis berambut blonde yang diikat high-ponytail itu kemudian tampak berpikir. Tangannya ia lipat di depan dada sebelum ia mengangguk-angguk penuh pengertian.
"Benar juga sih… Tapi.." ujar Ino dengan pandangan menyelidik ke arah Hinata. "Dia menembakmu.. Itu fakta kan?"
Hinata mengangguk ragu-ragu.
Ino kemudian tersenyum dengan sumringah.
"Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan! Terima saja ajakannya untuk berpacaran! Kapan lagi kau bisa dapetin cowok seganteng itu, Hina-chan? A~h! Iri juga sih! Tapi kalian pasti akan jadi perfect couple kalau bersama!"
"T-t-t-tapi…."
"Lagipula, kau pikir aku nggak tau?"
"Eh?"
Ino menyeringai jahil.
"Kau juga suka curi-curi pandang ke arahnya kan? Akui saja!" ujar Ino kemudian sambil menyenggol lengan Hinata dengan sikunya.
Hinata kembali ber-blushing-ria.
Ino pun tertawa sebelum ia dengan seenaknya menepuk-nepuk pundak Hinata dengan brutal. Lalu masih dengan seringainya, gadis talk-active itu menambahkan.
"Tenang, walaupun ada gosip dia itu seorang gay, sadistik, dan hobi melihara ular di rumahnya, aku yakin itu semua cuma gosip yang disebarkan oleh orang yang iri akan kesempurnaannya! Dia pasti sebenarnya cuma cowok pemalu yang kurang tahu caranya berteman! Cocok denganmu kan? Hahahaha!"
Sayangnya, penjelasan panjang lebar Ino sudah tidak terdengar oleh Hinata. Karena gadis itu kembali pingsan sesaat setelah mendengar kata 'ular' yang disebutkan oleh Ino. Niat menyatukan malah menakutkan. Ino memang tidak berbakat menjadi cupid tampaknya.
o-o-o-o-o
Hinata terbangun ketika pelajaran sudah menjelang akhir. Saat ia terbangun kedua kalinya, bukan Ino yang ada di dekatnya, melainkan guru jaga.
Sebenarnya, saat Ino menemani Hinata pertama kali, pelajaran di kelas mereka sudah dimulai. Tapi karena Ino mencemaskan Hinata, ia meminta izin pada guru yang tengah mengajar untuk melihat sahabatnya yang sedikit rapuh itu. Dan begitu Ino yakin bahwa Hinata tidak kenapa-kenapa dan hanya pingsan biasa –bagaimanapun, gadis berambut indigo itu memang cukup sering pingsan saat di sekolah- ia akhirnya bisa meninggalkan sahabatnya yang pingsan untuk kedua kalinya dengan tenang.
Setelah Hinata diinterogasi sebentar oleh guru jaga untuk memastikan bahwa gadis itu memang baik-baik saja, Hinata-pun mendapat izin untuk kembali ke kelas. Meskipun demikian, toh pada akhirnya Hinata hanya bisa mengikuti 1 pelajaran yang tersisa sebelum bel pulang dikumandangkan.
"Kau sudah baik-baik saja, Hina-chan?" tanya Ino saat kelas keduanya sudah kosong. Hanya kursi-kursi dan meja-meja yang berbaris yang bisa mendengar percakapan mereka saat itu.
Hinata mengangguk sambil tersenyum lemah.
"Gomen ne, kalau aku tadi malah membuatmu takut?" ujar Ino lagi sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"D-daijoubu yo, Ino-chan! Aku hanya.. Yah.. Kau tau.. Nggak kuat dengan hal-hal s-semacam itu!"
Ino tersenyum kecil.
"Iya, iya!" jawab Ino riang. "Lalu, gimana dengan Sasuke-kun?"
Sekali lagi, rona kemerahan langsung mendominasi wajah Hinata. Bahkan telinganya pun sampai memerah. Dan untuk menanggapi pertanyaan Ino, Hinata hanya bisa menggeleng sekuat tenaga.
"Hina-chan…" ujar Ino sambil berkacak pinggang sebelah, sementara tangan yang satunya memegang tali tas yang disandangkan di sebelah bahunya. "Orang yang terlihat jahat di luarnya, kadang malah lebih baik dibanding orang yang bermulut manis lho!"
Hinata masih tidak menjawab.
"Lagipula, Uchiha Sasuke itu cowok yang bisa terbilang sempurna kan?" imbuh Ino akhirnya. "Kalau nggak, mana mungkin kau tertarik padanya.
"A-aku nggak tahu, Ino-chan," sangkal Hinata sambil memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas. Gerakannya kemudian terhenti dan gadis itu kembali menunduk. "A-aku…"
"Yah, oke-lah!" ujar Ino sambil menjembil pipi Hinata untuk membuat gadis itu tersenyum. "Kau pikirkan aja baik-baik! Jangan sampai nyesel nantinya!"
Hinata kemudian tersenyum lemah sehingga Ino melepaskan jembilannya.
Ino kemudian siap beranjak setelah ia mengatakan sesuatu seperti janji dengan Shikamaru dan sebagainya. Tapi begitu sampai di depan pintu kelas, langkah Ino terhenti sesaat. Selanjutnya, gadis itu menyeringai sebelum menunjuk ke arah Hinata yang masih terdiam di dekat tempat duduknya.
Hinata melayangkan tatapan kebingungan yang hanya dijawab Ino dengan sebuah lambaian tangan. Ino sendiri kemudian kembali menggerakkan kakinya untuk menjauh sebelum mempersilakan sosok yang semula berbicara dengannya untuk masuk.
"Udah baikan?" ujar sosok pemuda berambut hitam yang tadi siang baru saja 'menembak' Hinata.
Tentu saja Hinata dibuat kaget setengah mati dengan kedatangannya. Wajahnya kembali terasa memanas dan memerah seketika.
"A-ano…" ujar Hinata sambil menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Kau membuatku kaget saja! Tiba-tiba pingsan seperti itu!" dengus pemuda itu dengan sinisnya.
"G-gomen!"
Pemuda itu –Uchiha Sasuke- tidak menjawab dan hanya bisa mengamati gerak-gerik Hinata yang tampak gelisah. Gadis itu bahkan tampak menggenggam erat tali tas yang kini sudah disandangnya di sebelah bahu. Lalu, seolah teringat sesuatu, Hinata memberanikan diri untuk berkata.
"T-tadi… T-terima kasih, sudah membawaku ke.. ruang kesehatan!"
"Hn."
"K-kalau begitu! Ma-mata ne!" ujar Hinata sambil berusaha melewati Sasuke.
Kalau Hinata berpikir Sasuke akan membiarkannya lewat begitu saja, berarti Hinata salah besar. Pemuda itu menahan lengannya tepat sesaat setelah Hinata melewatinya. Ia kemudian membuat dirinya dan Hinata kembali berhadapan sebelum ia melepaskan pegangannya dengan cepat.
"Kurasa, kita masih harus bicara!" ujar Sasuke, lagi-lagi, dengan nada yang dingin.
"I-itu…" ujar Hinata yang mulai melirik ke kanan dan kiri, berusaha mencari apa saja yang bisa membantunya melepaskan diri dari situasi ini. Tapi usahanya sia-sia. Ia tidak menemukan jalan keluar yang ia inginkan.
"Walaupun aku memang nggak meminta jawaban untuk pengakuanku, tapi aku rasa aku juga perlu kejelasan."
"K-kejelasan apa ya?" tanya Hinata berlagak linglung.
Sekejab saja, pandangan Sasuke berubah mematikan. Hinata jadi teringat kata-kata Ino soal gosip bahwa pemuda Uchiha ini seorang sadistik. Gimana nasib Hinata nanti?
"Kejelasan bahwa mulai sekarang kau jadi pacarku!"
"E-eh?" seru Hinata kembali panik.
"Hm?" tanya Sasuke dengan penekanan yang terasa begitu mendominasi.
Refleks saja, Hinata langsung mengangguk dan berseru, "H-Hai'!"
Bagaimanapun, gadis itu bisa merasakan aura ancaman yang keluar dari tubuh Sasuke. Tentu saja Hinata menjadi ketakutan karenanya dan jawabannya tadi pun keluar refleks sebagai wujud rasa tertekannya. Tapi selanjutnya, Hinata tampak menyesali perkataan yang lolos dari mulutnya begitu saja. Ia pun menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulut tersebut.
Dengan ragu-ragu, ia kemudian melirik ke arah Sasuke, siap untuk meralat jawabannya. Betapa terkejutnya Hinata karena di depannya bukan lagi berdiri seorang pemuda yang diliputi hawa kegelapan melainkan seorang pemuda yang tampak terkejut dengan wajah yang memerah. Mata kelamnya tampak terbelalak dan sesaat kemudian pemuda itu mulai menutup mulutnya dengan sebelah tangan, seolah itu adalah usahanya untuk menyembunyikan rona merah yang mendadak saja muncul tanpa dikehendakinya.
Sasuke kemudian melihat ke arah lain sebelum ia kemudian menghela nafas dan kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Bukan begitu…" gumam pemuda itu kemudian.
"A-apanya y-yang bukan begitu?" tanya Hinata yang ikutan terkejut karena tidak menyangka akan melihat ekspresi langka dari seorang Uchiha.
"Salah! Aku bukan bermaksud memaksamu jadian denganku!" ujar Sasuke yang diakhiri dengan decakan kesal. Kesal karena dia malah bersikap memaksa dan menunjukkan keegosiannya pada gadis yang ia sukai. Sama sekali tidak gentle!
"A-ano…" ujar Hinata tampak bingung. Sebelah tangannya kemudian terangkat untuk menenangkan Sasuke.
Sasuke tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung saja menangkap tangan Hinata. Dengan tatapan seriusnya, sekali lagi Sasuke berkata.
"Hyuuga Hinata… Maukah kau.. Jadi pacarku?"
BLUSH!
Wajah Hinata kembali memerah. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Lidahnya terasa kelu dan jiwanya seolah tersedot ke dalam mata kelam Sasuke. Nafas gadis itu terasa tercekat dan otaknya mulai tidak bisa berpikir dengan jernih.
Oke, Hinata akui, pemuda Uchiha ini memang luar biasa. Daya tariknya sangat besar sehingga tidak heran ia dijuluki sebagai seorang Pangeran. Pemuda itu bahkan memiliki fans club-nya tersendiri dengan anggota yang berjumlah cukup banyak! Dari kakak kelas sampai adik kelas. Apalagi teman seangkatan!
Memang, seperti kata Ino, sesekali Hinata suka mencuri pandang ke arah Sasuke saat sosok pemuda tersebut tidak sengaja tertangkap oleh mata pearl-nya. Dan itu mulai dilakukan Hinata saat Sasuke, secara tidak langsung dan tidak sengaja, memberikannya kekuatan untuk bangkit setelah Hinata menyadari bahwa cintanya pada Namikaze Naruto tidak akan mungkin berbalas. Kenapa? Karena Naruto lebih menyukai sahabat pinky-nya, Haruno Sakura.
~Flashback~
Kala itu matahari tengah berada tepat di atas kepala, jam istirahat makan siang. Hinata memutuskan untuk makan seorang diri di taman belakang. Karena ia baru saja patah hati, ia masih merasa berat untuk bisa berkumpul bersama Haruno Sakura. Bukan berarti ia jadi membenci Sakura karena itu. Sama sekali bukan. Ia hanya perlu waktu, untuk sedikit mengatur perasaannya dan menghilangkan berbagai macam harapan kosong yang dibentuk sekali otaknya. Harapan bahwa masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Naruto yang sangat ia sukai.
Sambil memandangi daun yang berguguran, Hinata kemudian memakan bento-nya dalam diam. Sesekali, gadis itu menghela nafas sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan saat angin memainkannya dengan nakal.
Saat ia baru saja selesai menghabiskan bekalnya, mendadak saja ia mendengar kasak-kusuk orang berbicara.
"Kau jahat Sasuke-kun! Padahal.. Padahal aku benar-benar menyukaimu!"
Hinata mengerutkan dahinya. Didorong rasa ingin tahunya, ia kemudian menyelinap untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan… Oh! Hinata melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat! Adegan penolakan yang baru saja dilakukan oleh seorang pemuda terpopuler di Konoha High School.
"Lalu kenapa kalau kau menyukaiku? Aku tidak menyukaimu!"
Tangisan gadis itu semakin pecah. Sasuke sendiri tampak cuek dan kemudian mengeluarkan sebelah tangannya –yang semula ia masukkan ke dalam saku celana- untuk menyumpal sebelah telinganya dengan jari telunjuk.
"Sudahlah! Sia-sia bicara padamu!"
"S-Sasuke-kun!" panggil gadis itu. Ia bahkan nekad menahan tangan Sasuke.
"Berisik! Cari saja cowok lain!" ujar Sasuke sambil melemparkan death-glare-nya. "Jangan memaksaku dengan perasaanmu!"
Sasuke kemudian menepis tangan gadis itu dan membiarkannya sesengukan di tanah sementara ia sendiri sudah berbalik, hendak meninggalkan gadis itu.
"Aku… Aku nggak bisa hidup tanpa Sasuke-kun!" ujar gadis itu berlebihan. "Aku.. aku bisa mati kalau Sasuke-kun menolakku!"
Sasuke hanya memandang gadis itu dengan jijik dari balik bahunya. Lalu, dengan sinis, ia mengatakan.
"Kalau gitu mati saja kau!"
Spontan, gadis itu terbelalak.
"Kau pikir dunia akan berhenti berputar saat kau mati? Dan kau pikir lagi aku akan peduli seandainya kau mati? Heh! Jangan mimpi!"
Segera setelah itu, sang gadis menggigit bibirnya dan kemudian berlari menjauh sambil meraung-raung. Sasuke yang melihat itu kemudian hanya bisa menggerutu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Saat ia siap beranjak, mendadak Sasuke bisa menangkap sosok seseorang yang tersembunyi di balik tembok gedung sekolah. Melihat rambut indigo panjang itu, Sasuke dengan ragu-ragu berkata.
"Hyuuga?"
DEG!
Hinata siap mengambil langkah seribu tapi ia terlambat. Sasuke sudah berada di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"T-t-t-tidak! Tidak ada apa-apa! A-aku hanya… Tidak sengaja lewat sini!"
Sasuke mendengus sebal. "Kau mendengar semuanya?"
Hinata terdiam sambil memainkan jarinya.
"Kau dengar semuanya?" ulang Sasuke dengan nada yang lebih kejam.
"G-g-g-g-g-gomen! Gomen! Gomen!" ujar Hinata sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
Hinata tidak dapat melihat ekspresi wajah Sasuke saat itu. Tapi kemudian Hinata bisa mendengar suara pemuda itu.
"Sudahlah!" ujarnya sambil mulai melangkah menjauh. "Aku nggak peduli seandainya kau mendengar semuanya! Yang jelas, jangan sampai kau jadi seperti cewek itu! Mengancam akan mati hanya karena ditolak! Memang cowok cuma ada ada satu di dunia?"
Saat itu, Hinata hanya bisa memandangi punggung Sasuke yang mulai menjauh. Sebenarnya, ia sedikit takjub juga karena seorang Uchiha yang katanya irit dalam bicara bisa mengeluh panjang lebar seperti ini. Tapi, Hinata mengabaikan fakta itu karena ia lebih tertarik dengan isi dari kata-kata itu sendiri.
Mendadak, pemuda itu berhenti dan menengok ke arah Hinata.
"Atau menurutmu aku salah?"
DEG!
Dengan cepat Hinata menggeleng. Sekilas, Hinata seolah bisa melihat senyum tipis di wajah pemuda itu. Tapi karena hanya sekilas, ini membuat Hinata sedikit tidak yakin dengan penglihatannya. Apalagi setelah itu Sasuke-pun langsung berbalik dan melenggang begitu saja, meninggalkan Hinata yang mulai jatuh pada pesona School Prince itu.
~End of Flashback~
Memori yang baru saja menyeruak di benak Hinata itu membuat gadis itu sadar bahwa sebenarnya ia tidak punya alasan untuk menolak sang Pangeran. Ia tertarik pada Uchiha Sasuke. Itu tidak bisa disangkal. Fakta bahwa mereka sebenarnya jarang berbicara dan belum terlalu mengenal satu sama lain tidak bisa dijadikan alasan. Bagaimanapun, kedekatan bisa diperoleh saat ia memutuskan untuk menerima Sasuke sebagai pacarnya.
Selesai menimbang-nimbang, Hinata kemudian bergumam lirih dengan kepala yang masih tertunduk.
"…i…"
"Hah?" tanya Sasuke yang tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Hinata.
"I-iya!" ujar Hinata lebih mengeraskan suaranya. "A-aku.. M-mau…j-jadi.. pa-pa-pacarmu!"
Karena Hinata masih menunduk dengan wajah yang merah sejadi-jadinya, alhasil ia pun melewatkan saat-saat di mana Sasuke tampak tersenyum. Meskipun tipis, tetap saja itu adalah sebuah senyuman. Sesuatu yang amat sangat langka untuk dapat dilihat dari ekspresi seorang Uchiha. Dan Hinata-lah yang berhasil memunculkan ekspresi itu di wajah sang Uchiha Sasuke.
Dengan perlahan, kemudian Sasuke mengangkat wajah Hinata untuk melihat ke arahnya. Pemuda itu mengelus pipi lembut Hinata sebelum ia mendekatkan bibirnya untuk menyentuh pipi tersebut.
Hinata yang kaget langsung menutupi pipi yang menerima jejak bibir Sasuke dengan sebelah tangannya. Tentu saja semburat merah itu tidak bisa absen dari wajah gadis Hyuuga itu.
"Arigatou, Hinata!" ujar Sasuke sambil menyeringai sinis. Pemuda itu bahkan tampak menyentuh bibirnya sendiri dengan jempol tangan kanannya dan menatap Hinata dengan tatapan angkuh terbaiknya.
Hinata yang mendengar nama kecilnya disebut, ditambah gelagat Sasuke yang seolah sudah kembali menjadi seorang sadistik, akhirnya pingsan dengan sukses untuk ketiga kalinya hari itu.
o-o-o-o-o
Keesokan harinya, Konoha High School dihebohkan oleh suatu pemandangan langka yang baru pertama kalinya terjadi! Ya, apalagi kalau bukan pemandangan di mana seorang Uchiha Sasuke berjalan berdampingan dengan seorang Hyuuga Hinata?
Sasuke, lho, yang sedang dibicarakan! Bagaimanapun, pemuda satu itu terkenal anti perempuan. Nah, jadi kenapa dia bisa berjalan berdampingan dengan Hinata?
"Karena dia pacarku! Ada yang keberatan?" jawab sang School Prince dalam nada cool-nya yang biasa.
Tentu saja pengakuan pemuda berambut raven itu langsung menduduki peringkat pertama Hot News di koran sekolah. Saat istirahat siang-pun, Hinata jadi dikerumuni banyak orang yang penasaran dengan hubungan mereka sebenarnya. Tentu saja pertanyaan menganai bagaimana Hinata memikat Sasuke-pun tak luput ditanyakan pada gadis berambut indigo yang satu itu.
"A-ano.. Itu.." jawab Hinata dalam keadaan wajah yang sudah sangat memerah. Ino yang sekelas dengannya pun jadi tidak bisa berkutik menghadapi lautan manusia yang sudah mengelilingi Hinata tersebut. Sebenarnya ia ingin sekali menolong Hinata. Pasti sesak rasanya menjadi Hinata, didesak dan dikerumuni banyak orang seperti itu. Apalagi Hinata bertubuh lemah. Kalau itu dibiarkan lebih lama, rasanya tinggal menunggu waktu saja sampai Hinata pingsan dengan sukses.
Belum sampai kejadian terburuk terjadi, mendadak kerumunan manusia itu menyingkir. Bagaimana mereka tidak menyingkir? Sasuke sudah melemparkan pandangan mematikan yang menjadi isyarat agar mereka semua mengosongkan meja Hinata! Dan bagai digerakkan oleh benang yang tidak terlihat, kumpulan manusia itu pun langsung bubar meskipun beberapa di antaranya masih memilih bertahan untuk curi-curi pandang.
Dengan cekatan, Sasuke menarik tangan Hinata agar gadis itu berdiri. Tapi belum sempat Sasuke menariknya lebih jauh, Hinata buru-buru mengambil suatu bungkusan dari dalam tas-nya. Setelah itu, gadis pemalu itu pun mengikuti Sasuke yang sudah menunggunya di depan pintu kelas.
"S-Sasuke-kun.. K-kita mau ke mana?" tanya Hinata dengan ketegangan yang belum juga mereda. Ia bahkan menunduk saat mengatakannya. Apa boleh buat, hanya dengan cara itulah Hinata bisa menghindari pandangan orang-orang yang penasaran akan hubungannya dengan Sasuke.
"Hn," jawab Sasuke, "terserah kau saja."
"K-k-k-kalau begitu… Bagaimana.. Kalau di.. Atap sekolah?" tanya Hinata sambil melirik Sasuke dengan ragu-ragu.
Kali ini, Hinata bersumpah kalau dia memang melihat sebuah senyuman di wajah Sasuke!
"Hn!" jawab pemuda itu sambil menggenggam tangan Hinata. "Sudah kubilang terserah kau!"
Semburat merah kembali menguasai wajah Hinata. Tapi sekali ini, ia pun tidak bisa tidak menyunggingkan sebuah senyuman manis di wajahnya. Bahkan, Hinata menggenggam balik tangan Sasuke meskipun tidak seerat Sasuke memegangnya.
Setelah sampai di atap sekolah, Hinata dan Sasuke langsung mengambil tempat di sisi yang sedikit terlindung oleh tangki penyimpanan air sehingga mereka tidak terkena sengatan matahari secara langsung. Keduanya pun mengambil posisi duduk.
"A-ano, Sasuke-kun.. Kore!" ujar Hinata sambil menyorongkan sebuah kotak dari dalam bungkusan yang ia bawa. "B-bento!" imbuh Hinata sambil menenggelamkan wajahnya sedikit di antara kedua tangannya yang terjulur lurus ke arah Sasuke.
Sasuke sendiri mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum ia menerima bento dari tangan Hinata.
"Arigatou," ujarnya singkat seraya membuka tutup bento tersebut.
Lalu, dalam keadaan hening –yang menurut Hinata sedikit canggung- keduanya mulai menghabiskan bento yang sudah dibuatkan oleh Hinata.
"Ba.. Bagaimana rasanya?" tanya Hinata sambil melirik ke arah Sasuke yang tampak tidak menunjukkan ekspresi apapun saat melahap bento dari Hinata.
"Hn."
"Eh?"
"Cukup enak," jawab Sasuke akhirnya.
Perlu dicatat, dalam kamus keluarga Uchiha, 'cukup enak' sudah berarti 'sangat enak'. Jadi Hinata boleh-lah berbangga diri mendengar penuturan kekasihnya tersebut. Belum lagi perkataan Sasuke selanjutnya.
"Ashita mo…" ujar Sasuke terputus.
"Ng?" Hinata menatap mata onyx Sasuke.
"Kau bisa buatkan bento lagi untukku?"
Mulut Hinata menganga sekilas sebelum ia mengubahnya menjadi sebuah lengkungan yang tampak sangat memukau. Lalu, satu anggukan cepat menegaskan kata-kata yang hendak diucapkan Hinata selanjutnya.
"Tentu! Akan kubuatkan lagi untukmu!"
Sasuke menarik sedikit ujung bibirnya. Dan setelah itu, tiada suara lagi sampai Hinata menghabiskan bento-nya.
o-o-o-o-o
Satu minggu sudah berlalu semenjak Hinata berpacaran dengan Sasuke. Siswa-siswi Konoha High School sudah tidak lagi seheboh sebelumnya. Hanya ada beberapa yang masih kasak-kusuk mempertanyakan hubungan mereka, seperti kapan keduanya akan putus dan sebagainya.
Sedikitnya, alasan keduanya berpacaran masih diragukan oleh segelintir orang. Bahkan ada yang menduga bahwa ini hanyalah salah satu upaya Sasuke untuk membuat para fangirls-nya mundur teratur. Ada pula gosip yang menyatakan bahwa keduanya ditunangkan oleh orangtua. Ada lagi yang mengatakan bahwa Sasuke kalah taruhan dengan teman-temannya sehingga terpaksa 'menembak' Hinata.
Namun, yang diduga paling mendekati kebenaran adalah gosip yang mengatakan bahwa Sasuke menembak Hinata tak lain dan tak bukan adalah karena Hinata mirip dengan 'mantan' Sasuke dahulu. Meskipun tidak ada yang tahu siapa 'mantan' tersebut.
"Ck! Gosip-gosip makin seenaknya saja nih!" ujar Sakura kesal saat lagi-lagi temannya mendapat tatapan aneh dari beberapa perempuan. Lebih menyebalkan lagi, perempuan-perempuan itu kemudian langsung berbisik-bisik setelah puas melemparkan pandangan yang membuat Sakura ingin mencolok mata mereka dengan kedua jarinya.
Temannya sendiri – Hinata- yang menjadi sasaran tatapan itu, malah tersenyum.
"S-sudahlah, Sakura-chan," ujar Hinata menenangkan. "Aku tak apa-apa kok."
"Kau kok bisa sabar begitu sih, Hina-chan?" tanya Sakura lagi sambil berjalan terlebih dahulu menaiki tangga, untuk menuju ke ruang kelas di lantai 2.
"E-eh? Ano… Aku… M-mungkin itu karena aku sudah siap dengan resiko seperti ini semenjak aku memutuskan untuk.. Pa-pacaran dengan Pangeran Sekolah?" jawab Hinata sambil memainkan jari-jarinya.
Sakura mendesah pelan dengan senyuman lembut terpampang di wajahnya. Selanjutnya, ia mengacak-acak bagian atas rambut Hinata.
"Tapi, Hinata," ujar Sakura sebelum ia masuk ke kelasnya sendiri dan siap berpisah dari Hinata yang tidak sekelas dengannya, "apa kau pernah bertanya kenapa Sasuke memintamu jadi pacarnya?"
"Ng?"
"Yah? Cuma penasaran saja," ujar Sakura sambil tersenyum. "Tapi mungkin harus kau tanyakan? Agar semua jelas dan gosip-gosip tidak bertanggungjawab itu bisa segera hilang!"
Hinata tampak diam sejenak sambil memandangi Sakura. Sementara itu, pikirannya mulai berputar-putar di sekitar perkataan Sakura barusan. Sebenarnya, selama ini Hinata tidak pernah memikirkan soal alasan Sasuke memintanya jadi pacar. Gosip-gosip yang beredar pun ia anggap angin lalu karena Hinata bukan tidak menyadari bahwa banyak orang, terutama perempuan, yang tidak setuju dengan hubungan mereka.
Tapi, mendengarkan pendapat dari sahabatnya sendiri, mau tidak mau, Hinata jadi mulai memikirkannya.
"Hina-chan?"
"A-ah.. I-iya, Sakura-chan! M-memang sebaiknya aku tanyakan ya?"
Sakura membesarkan matanya sebelum ia mengangguk perlahan.
"M-mungkin nanti akan kutanyakan! Kalau begitu.. A-aku ke kelas dulu! Jaa, Sakura-chan!" ujar Hinata cepat sambil mengangkat sebelah tangannya.
Sakura menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Tapi kemudian, ia hanya bisa mengangkat bahu dan kemudian melenggang masuk ke dalam kelasnya.
o-o-o-o-o
Selama di kelas, Hinata jadi tidak bisa berkonsentrasi terhadap materi yang tengah diajarkan. Sahabatnya yang lain –Ino- sudah berulang kali berusaha mengingatkan Hinata agar dia bisa kembali fokus pada pelajaran. Tapi setiap kali selesai diingatkan, setiap kali pula Hinata kembali masuk ke dalam alam pikirannya sendiri.
"Kenapa Sasuke-kun memintaku jadi pacarnya ya?" ujar Hinata, yang tentu saja hanya ada dalam benaknya. "Kalau berdasarkan beberapa gosip, dia menjadi pacarku hanya untuk menangkal fan girls yang mendekat."
Tanpa sadar, Hinata menghela nafas. Tindakannya ini tentu saja membuat Asuma-Sensei yang tengah menjelaskan reaksi kimia jadi memandangnya penasaran.
"Ada apa, Hyuuga?"
"Eh?"
Bisa dilihat kalau Ino tengah menepuk dahinya sendiri sekarang. Gadis berambut blonde itu pun menggelengkan kepalanya pasrah. Padahal sedari tadi ia sudah berusaha memperingatkan Hinata. Tapi akhirnya gadis berambut indigo itu kena tegur juga.
"Apa kau tidak puas dengan pelajaranku?" tanya Asuma-Sensei lagi tanpa ada niatan untuk menyindir sama sekali. Asuma-Sensei memang merupakan salah satu guru yang 'baik' di antara sekian banyak guru Konoha High School yang cukup 'killer' dan sering bertingkah aneh. Tapi justru karena itulah, Hinata jadi semakin tidak enak hati.
"G-gomen, Sensei!" ujar Hinata sambil menunduk. Wajahnya sudah kembali memerah karena sekarang semua pandangan di dalam kelas itu mengarah padanya.
Berniat menolong sahabatnya, Ino langsung mengangkat tangannya sembari berdiri.
"Sensei! Sepertinya Hinata sedang tidak enak badan! Dari tadi dia tidak bisa fokus pada pelajaran!"
Hinata menengok takut-takut ke arah Ino. Sementara Asuma-Sensei memandang Hinata dengan tatapan 'apa-itu-benar-?'. Saat Hinata sadar akan pandangan Asuma-Sensei, dengan cepat gadis itu kembali menunduk.
Ino kemudian kembali berbicara, "Kalau Sensei tidak keberatan, saya akan mengantarkan Hinata ke ruang kesehatan!"
"Aa.. Ya! Pergilah!" ujar Asuma-Sensei sambil menggerakkan kepalanya ke arah pintu.
"Ayo, Hinata!" ujar Ino sambil mengajak sahabatnya itu untuk berdiri. Hinata pun patuh dan kemudian mengikuti Ino dengan langkah yang agak lambat. Wajahnya masih tertunduk. Bagaimanapun, Hinata tidak terbiasa untuk menjadi pusat perhatian seperti ini. Ia terlalu pemalu untuk berdiri di atas sebuah panggung dengan spotlight yang mengarah padanya. Dan cukup untuk ketenaran yang telah dirasakannya semenjak ia menjadi kekasih Pangeran Sekolah.
Setelah berada di koridor, Ino mulai membuka mulutnya kembali.
"Kau kenapa sih, Hina-chan? Tidak biasanya kau bengong selama pelajaran!"
"A-ano…" respon Hinata sambil menempelkan kedua telunjuknya satu sama lain. Ia kebingungan untuk menjawab pertanyaan Ino. Tapi karena dipikirnya Ino mungkin bisa membantunya, Hinata pun mulai menceritakan kegelisahannya. Dengan terbata-bata seperti biasa tentunya.
"I-Ino-chan pernah… Bertanya pada Shikamaru-kun… S-soal… Kenapa dia mau… Ja-jadi p-pacar Ino-chan?"
Ino mengerjab-ngerjabkan matanya sebentar.
"Oh?" jawab Ino kemudian. "Itu yang membuatmu cemas? Alasan Sasuke-kun memintamu jadi pacarnya?"
Wajah Hinata seketika itu juga memerah.
"A-a-a-apa aku.. Tidak sopan karena terkesan tidak mempercayainya ya?" ujar Hinata sambil melihat ke arah Ino dengan kedua tangan yang terkepal di depan dada.
"Tidak juga!" jawab Ino santai sambil mengedipkan sebelah matanya. "Wajar kalau kau cemas! Apalagi cowok yang jadi pacarmu itu tipe cowok dingin yang terkesan tidak peduli ama cewek! Kalau cowok seperti itu tiba-tiba menembakku… Aku juga pasti akan curiga sih! Meskipun senang juga! Hahaha!" cerocos Ino dengan bawelnya.
Hinata tersenyum simpul mendengar jawaban Ino. Bagaimanapun, setelah mendengar pendapat sahabatnya ini, keyakinan Hinata untuk bertanya pada Sasuke semakin besar. Pulang sekolah nanti dia akan bertanya.
o-o-o-o-o
"Oh? Sasuke-kun? Hinata sih ada di ruang kesehatan!" ujar Ino saat melihat Sasuke menghampiri kelasnya sesaat setelah bel sekolah berbunyi. Apalagi kalau bukan mencari Hinata?
"Kore!" ujar Ino lagi sambil mengangkat tas Hinata. "Bawain ini untuk Hinata ya? Onegai?"
Tanpa banyak bicara, Sasuke pun menerima tas tersebut dari tangan Ino. Tapi belum sempat pemuda itu beranjak pergi, mendadak Ino menahan bahunya.
"Eh, chotto matte!"
Sasuke memandang Ino dengan tatapan yang seolah berkata 'Apa-lagi-?-Cepat-katakan-!'
"Tolong ya… Kau jangan membuat Hina-chan cemas!"
"Huh?"
"Dan," ujar Ino sambil mendekatkan wajahnya ke arah Sasuke, "kalau kau sampai menyakiti Hina-chan, aku juga tidak akan tinggal diam, Sasuke-kun!"
"Kau tidak perlu ikut campur urusan kami!" ujar Sasuke sambil membuang muka dan kemudian berjalan menjauh hingga pegangan tangan Ino terlepas.
Ino hanya bisa menyeringai dengan urat yang sedikit menyembul di pelipisnya. Yah, kalau menghadapi Pangeran Sekolah itu, terkadang emosi juga akan bermain. Orangnya saja cukup menyebalkan gitu sih?
Ino menghela napas. Sedikitnya, dia juga agak mencemaskan hubungan sahabatnya yang alim dan pendiam itu dengan Pangeran Sekolah yang cool dan jutek. Tapi apa lagi yang bisa Ino perbuat? Itu sudah jadi keputusan Hinata sendiri untuk menerima Sasuke sebagai pacarnya.
Walaupun demikian, Ino hanya tidak tahu saja bahwa 'penembakan ala Sasuke' lebih kental dengan unsur pemaksaan dari pada permohonan.
o-o-o-o-o
"Lagi-lagi kau di sini," ujar Sasuke sambil menyodorkan sebuah tas selempang berwarna putih dengan sedikit garis-garis berwarna baby-blue.
Hinata menerima tas itu sambil berusaha turun dari tempat tidurnya. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis berambut indigo itu pun langsung menunduk dengan tangan yang menggenggam pinggiran tas-nya.
"Ada apa?" tanya Sasuke dengan tidak lembut, tapi cukup menyiratkan rasa kekhawatirannya pada sang kekasih yang bertingkah lebih diam dari biasanya.
"A-ano…" ujar Hinata setelah ia menguatkan dirinya untuk menyampaikan apa yang tengah mengganggu pikiran dan perasaannya. "A-aku…"
Sasuke menyipitkan matanya dengan heran.
Hinata menelan ludah dengan gugup.
"Gi-gimana nih? Haruskah kutanyakan sekarang? Moment-nya udah tepat sih. Lagian, kalau nggak sekarang, kapan lagi?" batin Hinata mulai berisik sendiri. Rupanya keragu-raguannya kembali mencuat. "Gimana kalau setelah aku menanyakannya Sasuke malah meminta putus karena menganganggapku nggak mempercayainya?"
"Ada apa sih?" tanya Sasuke mulai terdengar tidak sabar. Alisnya mulai melengkung di tengah. Tangannya pun sudah ia lipat di depan dada.
"K-k-ke…"
"'Ke..' ?" ulang Sasuke membeo ucapan Hinata.
"K-kenapa… Sasuke-kun…"
"Aku kenapa?"
Hinata memutar bola matanya dengan gugup. Ia mulai memainkan jarinya. Tangannya sendiri mulai terasa dingin sementara jantungnya bekerja semakin cepat dalam memompa darahnya. Keringat dingin mulai timbul di pelipisnya.
"Ayolah, Hinata! Ini bukan hal yang sulit untuk ditanyakan! Maju, Hinata!" ujar batinnya kembali menyemangati gadis itu agar berani menyampaikan maksud sebenarnya. Hinata pun mencoba menenangkan diri dengan menghirup dan membuang nafasnya. Setelah merasa jauh lebih tenang. Hinata pun mengangkat kepalanya dan memandang Sasuke.
Tapi rupanya, memandang Sasuke hanya akan membuatnya tambah gugup. Akhirnya, ia pun menunduk dan melihat ke arah lantai sementara mulutnya mulai berbicara dalam satu tarikan napas dan kecepatan yang tergolong luar biasa untuk seorang Hyuuga Hinata.
"KenapaSasuke-?"
Sasuke mengerutkan dahinya seraya berkata, "Hah?"
Hinata memejamkan matanya. Gadis itu pun menggigit bibir bawahnya.
"Aku nggak bisa mendengar apa yang baru saja kau ucapkan, Hinata!" ujar Sasuke terus terang.
Spontan, Hinata membuka matanya kembali. Ia melihat Sasuke yang tampak kebingungan. Pemuda itu masih memandanginya dengan tatapan yang seolah menyiratkan bahwa ia ingin Hinata mengulangi perkataannya.
"Aku…" ujar Hinata perlahan. "Aku… Ingin tahu…"
Sasuke mendekat ke arah Hinata. Jarak yang semakin menyempit membuat nafas Hinata semakin tercekat.
"Apa?" ujar Sasuke sambil menggenggam tangan Hinata. "Apa yang ingin kau ketahui?"
Jantung Hinata semakin berdebar dengan kencang.
"Katakanlah dengan lantang! Nggak usah ragu-ragu!"
Hinata menunduk sambil menggenggam balik tangan Sasuke dengan erat. Gadis pemalu ini akhirnya menutup matanya sekuat tenaga sebelum berbicara dalam suara pelan.
"Aku.. Cuma ingin tahu… Kenapa… Sasuke-kun menjadikanku… P-pacar?"
Sekali ini, Sasuke berbalik membesarkan matanya.
"Kupikir kau ingin bertanya apa," ujarnya sambil melepaskan genggamannya pada tangan Hinata.
Hinata mengangkat wajahnya. Saat itulah, terlihat di mata pearl Hinata, sosok Sasuke yang tengah menggaruk bagian belakang kepalanya sambil melihat ke arah lain.
"S-Sasuke-kun?"
"Kau kepikiran dengan gosip-gosip itu, heh?"
Reaksi spontan Hinata saat itu adalah mengangguk.
"Baiklah. Aku pun akan jujur padamu!" ujarnya sambil menatap kembali ke arah Hinata. "Aku menjadikanmu pacar karena aku menyukaimu!"
"E-eh?"
"Awal aku melihatmu," ujar Sasuke tenang, "kau membuatku teringat akan cinta pertamaku."
Hinata langsung tersentak di tempatnya. Tangannya mulai menggenggam tali tasnya dengan lebih erat.
"Namanya Hiuna. Usianya jauh lebih tua dariku."
"L-lebih tua?"
Sasuke mengangguk.
"Tapi itu udah masa lalu. Yang kulihat sekarang bukan Hiuna, tapi Hyuuga Hinata!"
Untuk sesaat, Hinata terdiam. Tapi akhirnya, gadis itu kembali memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Hiuna itu… Cewek yang seperti apa?"
"Hn? Dia tipe cewek yang pemalu! Agak ceroboh juga." jawab Sasuke cepat. "Kurang lebih sepertimu lah!"
Hinata kembali menunduk. Lalu, ia bergumam dengan suara kecil yang tidak mungkin terdengar oleh Sasuke.
"Nggak. Yang kau lihat masih Hiuna. Bukan Hyuuga Hinata."
"Apa?"
"A-aku… Ada yang ketinggalan di kelas! Sasuke-kun tunggu di sini aja ya sebentar!"
Hinata pun langsung berlari melewati Sasuke. Sasuke hanya bisa mengeryitkan alisnya dengan tidak peka-nya. Ia pun memilih duduk di salah satu kursi yang ada sambil menunggu Hinata kembali sesuai dengan yang diperintahkan gadis itu. Ia tidak tahu, atau belum menyadari, bahwa sang gadis berniat untuk pergi dan meninggalkannya saat itu juga.
o-o-o-o-o
Hinata berjalan lunglai. Ia sudah hendak pulang begitu saja. Tapi, alih-alih bergerak menuju ke arah loker untuk mengganti sepatu dan kemudian pulang, ia malah menggerakkan kakinya menaiki tangga. Ia tidak tahu dorongan apa yang membuatnya bergerak untuk menapaki anak tangga itu satu demi satu. Bahkan, tanpa tahu sebabnya, Hinata kini terdiam di depan jam kuno yang masih saja menggerakkan jarum penunjuk detiknya dengan perlahan. Untuk beberapa saat, Hinata hanya bisa termangu sambil terus melihat perpindahan waktu yang ditandai oleh perubahan jarum penunjuk detik dan menit.
"Kenapa.. Aku malah ke sini?" gumam Hinata lirih. Hinata kemudian menggelengkan kepalanya. Ia akhirnya berbalik dan siap menuruni tangga kembali.
Baru saja kakinya menuruni satu anak tangga, mendadak suara detak jam itu terdengar lebih keras dari biasanya. Mendadak saja, jam itu pun berdentang sebanyak dua kali dan membuat Hinata terkejut. Ia menengok ke arah jam itu tepat di saat sang jam mulai menujukkan keanehan dengan berputar ke arah sebaliknya dengan kecepatan yang luar biasa.
Hinata terpaku. Bahkan sampai jam itu sudah menghentikan putaran ganjilnya, Hinata masih tetap terdiam.
Begitu ia tersadar bahwa sudah beberapa menit ia memandangi jam itu, Hinata pun langsung beranjak pergi dengan setengah berlari. Ia buru-buru menuju lokernya untuk mengganti sepatu. Begitu ia memasukkan kunci lokernya, ia mendapati bahwa loker itu tidak bisa terbuka dengan kuncinya.
"Lho? Kok aneh?" tanyanya sambil tetap berusaha membuka pintu loker itu.
Tapi.. Usahanya sia-sia.
"Gawat nih," ujar Hinata sambil menyentuhkan sebelah tangannya ke bibirnya. "Gimana yah?"
Saat ia sedang kebingungan seperti itu, mendadak saja sesuatu terasa menyentuh punggungnya. Hinata pun langsung berbalik. Begitu ia melihat apa yang menyentuh punggungnya, mau tidak mau, gadis berambut indigo itu menutup mulutnya untuk menahan teriakan kaget yang nyaris meluncur begitu saja.
"Hei," kata seorang bocah cilik berambut hitam dengan bola mata yang juga berwarna kelam. "Kau siswi di sini juga kan?"
Hinata menggangguk cepat. Pikirannya masih sedikit kosong sementara matanya menjelajahi setiap inci wajah bocah di hadapannya dengan pandangan yang tidak percaya.
"Hn! Kalau begitu, kau kenal Aniki-ku?"
"A-Anikimu?" tanya Hinata sambil menggenggam tasnya dengan erat.
Bocah itu mengangguk. "Uchiha Itachi! Dia kelas 2-1! Bisa tolong panggilkan dia?"
"E-eh?"
Hinata semakin bingung mendengar nama itu terucap dari mulut si bocah. Setahunya, Uchiha Itachi adalah nama kakak laki-laki Sasuke. Tunggu, apa mungkin ini adalah adik Sasuke yang lain? Tapi.. Lho? Tadi dia bilang Uchiha Itachi masih kelas 2? Dia kan sudah lulus entah kapan!
"K-kau yakin mencari Uchiha Itachi? Apa bukan Uchiha Sasuke?"
Bocah itu malah mengerutkan alisnya dengan tatapan yang aneh.
"Kenapa aku harus mencari diriku sendiri?"
Kali ini, Hinata benar-benar merasa terkejut. Ia bagaikan mendapat hantaman petir di siang bolong saat hari sedang cerah-cerahnya.
"E-EH? Kau Uchiha Sasuke?" tanya Hinata tidak percaya. Jelas saja ia kaget. Bagaimanapun, bocah di hadapannya ini baru berusia sekitar 9 atau 10 tahun. Sementara Sasuke? Sasuke dan Hinata itu seumuran!
"Apa sih? Memangnya kau mengenalku ya?"
"T-tidak.. Aku…"
"Kau pacar Itachi-nii?"
Hinata menggeleng cepat. "Bukan! Aku…"
"Siapa namamu?" tanya Sasuke yang sekaligus memotong ucapan Hinata untuk kedua kalinya.
"A-aku..?"
"Ya! Kau! Siapa lagi?" tanya si bocah Uchiha itu sambil menunjuk Hinata dengan angkuhnya.
Dari luar, Hinata terlihat begitu diamnya. Padahal, otaknya saat itu mulai berpikir dengan keras.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa Sasuke-kun jadi menciut? Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Ah, dia sedang menanyai namaku. Apa sebaiknya aku menyebutkan nama asliku? Eh, tapi.. apa yang sedang terjadi sebenarnya ya? Anak ini bilang namanya Sasuke. Tapi… Apa dia benar-benar Sasuke yang sama dengan Sasuke yang kukenal? Kalau dilihat dari sikap angkuhnya sih mungkin nggak salah. Tapi… Tapi.. Tapi…"
Berbagai pertanyaan itu mulai berkecamuk di pikiran Hinata. Mulutnya masih saja terkatup tanpa ada tanda-tanda membuka kembali untuk memberi jawaban. Melihat Hinata yang tampak ragu-ragu itu, Sasuke kecil jadi kehilangan kesabaran.
"Hei?"
"A-ah? Ya?" jawab Hinata, sedikit tersentak.
"Apa susahnya sih memberitahukan namamu?"
"I-iya! Na-namaku.. Hyuu.." jawab Hinata sambil menunduk.
"'Hiu…'?"
"Hyuu… Hyuu… HyuugaHinata!"
Saking cepatnya Hinata berbicara dan saking pelannya volume suaranya, yang ditangkap Sasuke dari namanya adalah…
"Hiuna?"
DEG!
"Eh?" ujar Hinata yang malah terkejut sendiri saat mendengar nama itu meluncur dari mulut Sasuke.
"Namamu Hiuna ya?"
"A-ano…"
"Kalau begitu, Hiuna! Bisa kau panggilkan Aniki-ku?" Sasuke kembali pada pertanyaan awalnya. Ia bahkan dengan begitu saja meng-klaim bahwa gadis di hadapannya ini bernama Hiuna.
"S-sebenarnya…"
"Bisa nggak?"
"B-bisa!" jawab Hinata sambil menegakkan tubuhnya, layaknya prajurit yang bersiap setelah diberi komando oleh atasannya.
"Jawabanmu mencurigakan!" ujar Sasuke kecil dengan tatapan tidak percaya. "Sudahlah! Antarkan saja aku ke kelasnya!"
Dengan demikian, bocah kecil nan sombong itu berjalan di depan, mendahului Hinata. Dengan ragu-ragu, Hinata pun menunjukkan ruang kelas 2-1 dari belakang Sasuke.
Setelah sampai di lantai 2, barulah Hinata menyadari sesuatu yang janggal.
"Ini…" ujarnya sambil menengok ke kanan kiri.
"Ada apa?" tanya bocah yang tengah berada di sampingnya saat itu.
"Kenapa suasanannya tampak berbeda? Benarkah aku masih berada di Konoha High School? Kenapa.. Rasanya ada yang berbeda?" ujar batin Hinata sambil mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak mendengarkan perkataan Sasuke sebelumnya dan masih sibuk mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, mencoba mencari perbedaan yang terasa mengganjal di pikirannya.
"Hei!" panggil Sasuke lagi sambil menarik tangan Hinata yang langsung membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"A-ada apa?"
"Itu pertanyaanku! Kenapa kau tiba-tiba jadi celingukan gitu sih?"
"T-tidak! Tidak ada apa-apa," jawab Hinata sambil memaksakan sebuah senyum.
"Kau aneh."
"Eh? M-maaf!" ujar Hinata cepat dan terburu-buru. Gadis satu itu bahkan menundukkan kepalanya dengan panik ke arah bocah yang tidak lebih tua darinya itu. Sasuke yang melihat polah Hinata malah jadi mengerjabkan matanya dengan bingung.
Tapi tak lama, kebingungan itu berubah menjadi sebuah tawa tertahan.
"Humft! Uh! Huhuhu!"
"Ng?" Hinata bisa melihat si bocah kecil yang mati-matian menahan tawanya.
Setelah sadar bahwa Hinata tengah memandanginya, si bocah itu langsung berdeham-deham dan kemudian memalingkan wajahnya. Rona merah yang tipis sempat melekat di wajah bocah itu. Ia pun menggaruk pipinya dengan salah tingkah.
Dasar Uchiha! Sebegitu tabu-kah untuk tertawa di depan orang lain?
"Ehem! Baru kali aku melihat orang yang malah minta maaf setelah dikatai aneh!" ujar Sasuke sinis sambil meletakkan kepalan tangannya di depan mulutnya. "Apalagi kau lebih tua! Apa kau nggak merasa kalau sedang diperolok-olok?"
"A-ano… Tapi… Memang banyak yang mengataiku aneh," jawab Hinata dengan polosnya. "Katanya, aku terlalu pemalu. B-bahkan bicara pun tergagap! Kalau terlalu tegang, aku bisa langsung jatuh pingsan!"
"Heh? Apaan itu?" tanya Sasuke kecil lagi dengan senyum lebar yang kini terlihat jelas di wajahnya. Meskipun demikian, tetap saja kesinisan tidak bisa dipisahkan dari senyum yang melekat di wajah putih bocah cilik itu.
Meskipun demikian, senyum sinis yang cukup kekanakan itu mau tak mau membuat Hinata jadi tertawa kecil karenanya.
Sebuah tawa.
Hanya sebuah tawa kecil di wajah oval sempurna Hinata.
Tapi tawa itu langsung membuat sang Uchiha muda terdiam, terpaku di tempatnya. Ia hanya bisa memandangi wajah Hinata, yang dianggapnya bernama Hiuna itu, dengan mulut yang sedikit ternganga. Melihat Sasuke yang sudah termangu, Hinata pun menghentikan tawanya dan mengubahnya menjadi sebuah senyuman yang manis.
DEG!
Jantung Uchiha muda itu pun langsung berdegup kencang.
"A-ada apa Sasuke-kun?"
BLUSH!
Mendengar nama kecilnya dipanggil oleh gadis yang bahkan belum terlalu dikenalnya itu kontan saja membuat wajah Sasuke memerah.
"A… Ng… Nggak ada apa-apa!" jawabnya yang malah jadi sedikit tergagap seperti Hinata. "Daripada itu.. Aniki mana sih?"
Sasuke kecil itu langsung berlari menuju ke sebuah ruang kelas dengan plang bertuliskan '2-1' tertempel di bagian atas pintu. Sasuke langsung menggeser pintu itu dan menemui ruang kelas yang sudah kosong, tidak ada orang.
"Cih! Dia pasti pulang duluan! Padahal dia janji mau menemaniku ke game center hari ini! Dasar Aniki sial!" umpat Sasuke sambil menutup kembali pintu ruang kelas itu dengan agak kasar. Saat menengok, dilihatnya Hinata yang kembali celingukan. Bocah cilik itu sempat hening sesaat sebelum ia memutuskan untuk kembali bersuara.
"Hoi?"
"Ng?" Satu panggilan yang langsung membuat Hinata menoleh ke arah orang yang mengajaknya bicara.
"Apa kau sedang sibuk?"
"Ng-nggak begitu sih?"
Sebuah seringai kini mendarat di wajah Sasuke cilik.
"Kalau begitu, temani aku!"
o-o-o-o-o
"Heh! Mudah sekali!" seringai Sasuke saat ia telah selesai memainkan satu game.
"Wah, hebat!" puji Hinata sambil bertepuk tangan pelan. "A-aku nggak tahu kalau Sasuke-kun pintar bermain game!"
Sasuke kecil itu hanya terdiam. Memang wajahnya sedikit merona saat mendengar pujian Hinata, tapi di saat yang bersamaan, ia juga mengernyitkan alisnya.
"Kenapa cara bicaramu seolah-olah kau sudah mengenalku jauh sebelum ini?"
"E-eh?" Hinata langsung berhenti bertepuk tangan. "A-ano…"
Sasuke memberikan pandangan menekan yang menuntut Hinata untuk menjawab. Hinata langsung kelabakan. Matanya bergerak-gerak gelisah. Sampai ia memutuskan untuk melarikan diri dengan berkata.
"Ah! Mesin penjepit! A-aku ke sana dulu ya!"
Hinata berlari-lari kecil ke arah mesin yang dimainkan untuk mengambil boneka dengan cara dijepit. Tentu saja cara penjepitnya bisa dikendalikan dari luar.
Hinata memasukkan beberapa koin sebelum mencoba berkonsentrasi untuk mendapatkan boneka yang ia inginkan. Meskipun demikian, ia tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Ia masih berusaha menganalisa apa yang sebenarnya sedang terjadi dari berbagai fakta ganjil yang dilihatnya.
Situasi sekolah dan gedung sekolah yang berbeda.
Jalan-jalan dan gedung-gedung yang tampak asing.
Sasuke yang mendadak kembali jadi anak kecil.
Saat penjepitnya sudah menyentuh salah satu boneka, mendadak Hinata seolah mendapatkan suatu ide dalam benaknya.
"Jangan-jangan," ujar batinnya, "aku terlempar ke masa lalu? Dan… Yang bikin aku terlempar ke sini… Eh... J-jadi… Apa legenda jam itu benar-benar nyata? Masa iya… Aku…"
Bersamaan dengan didapatnya ide itu, penjepit yang tadi sudah dikendalikan Hinata gagal mendapatkan boneka lumba-lumba yang diinginkannya. Hinata hanya terpekik tertahan saat melihat sang mesin penjepit yang sudah berhenti bergerak. Ia menghela napas.
"Kau bodoh sekali sih? Padahal tinggal sedikit lagi!" ujar Sasuke kecil sambil menggeser Hinata ke sampingnya.
"S-Sasuke-kun…"
Tanpa banyak bicara, bocah itu kemudian memasukkan koin dan menggerakkan penjepit hingga meraih boneka yang sebelumnya diincar Hinata. Dengan mudah, tanpa membuang koin lebih banyak, Sasuke langsung berhasil mendapatkan boneka yang diincarnya.
"Nih!" ujarnya sambil melemparkan boneka yang didapatnya ke arah Hinata.
"E-eh? I-ini… Buatku?"
"Sudah jelas kan? Cowok nggak butuh boneka!"
Wajah Hinata sedikit memerah. Tapi selanjutnya, ia pun tersenyum. "Arigatou, Sasuke-kun!"
Sasuke menatap Hinata sebentar sebelum membuang mukanya. "Hn!" adalah komentar selanjutnya.
Baru saja Hinata hendak mengatakan sesuatu, mendadak ada sebuah suara yang memanggil nama Sasuke.
"Sasuke! Ah! Untunglah!"
"Onii-san!" seru Sasuke saat melihat kakaknya yang tampak terengah-engah.
"Gomen ne, Sasuke! Aku benar-benar lupa kalau aku ada janji denganmu hari ini!" ujar pemuda yang berwajah mirip Sasuke namun berambut panjang itu. "Dan aku… Oh? Jadi kau berhasil menemukan penggantiku, eh?" goda Itachi sambil melirik jahil ke arah Hinata.
Tak pelak lagi, wajah Sasuke kecil kembali memerah menanggapi ejekan jahil Itachi.
"Bukan!" bantah Sasuke kemudian. "Dia ini…"
Mengabaikan usaha Sasuke untuk menjelaskan, Itachi langsung menghampiri Hinata sambil berkata.
"Konnichiwa! Namaku Uchiha Itachi, Aniki-nya Sasuke. Maaf ya, Sasuke sudah merepotkanmu!" ujarnya sopan sambil membungkuk.
"I-ie… Sasuke-kun sama sekali nggak merepotkan kok," ujar Hinata sambil menggerak-gerakkan tangannya.
Itachi tersenyum lembut. "Lalu? Namamu?"
"A-aku…"
"Sudahlah, Onii-san! Ayo pulang!" ujar Sasuke yang entah kenapa malah mendorong-dorong punggung Itachi.
Itachi tertawa. "Wah, dia memang seperti ini!" ujar Itachi yang lebih ditujukan bagi Hinata. "Kalau ada sesuatu yang dia suka, pasti dia nggak akan membiarkanku menyentuhnya! Atau kalau dalam hal ini, nggak membiarkanku untuk mengenal orang yang dia suka lebih jauh!" Bersamaan dengan itu, Itachi mengacak-acak rambut Sasuke.
"E-eh?" Hinata sedikit terkejut pengakuan Itachi.
"ONII-SAN! Ayo pulang!" teriak Sasuke yang wajahnya sudah memerah total. Itachi kembali tertawa kecil. Sementara, Hinata mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Otaknya kembali membuat dugaan-dugaan.
"Sa-Sasuke-kun kecil menyukaiku? Eh? M-masa? Tapi kami baru bertemu hari ini… Apa mungkin… Tapi, kalau memang begitu, berarti Hiuna yang dimaksud Sasuke…." batin Hinata yang sudah tidak terlalu mendengarkan kata-kata Itachi maupun Sasuke.
Hinata pun terbelalak saat Sasuke yang masih berusaha mendorong Itachi menjauh mendadak berbalik menghadapnya. Sasuke kecil itu kemudian menggerak-gerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, menyampaikan bahwa ia sangat senang bisa bertemu Hinata-yang disebutnya sebagai Hiuna itu. Bocah kecil itu bahkan menyatakan ucapan sampai jumpa lagi yang menyatakan harapannya agar dapat bertemu Hinata lagi. Rona merah tampak masih jelas di kedua pipi Sasuke saat ia mengatakannya, meskipun sudah tidak semerah tadi.
Hinata sendiri akhirnya hanya bisa terdiam sambil menggenggam boneka pemberian Sasuke dengan lebih erat. Dan begitu sudah agak jauh, Itachi malah dengan sengaja melambai pada Hinata yang membuat Sasuke semakin cepat mendorong kakaknya sembari menggerutu tidak jelas.
Setelah Sasuke dan Itachi tidak lagi memandang ke arahnya, Hinata pun kemudian tersenyum.
"Tapi namaku Hyuuga Hinata, Sasuke-kun. Bukan Hiuna…"
o-o-o-o-o
Saat ini, Hinata tengah berdiri di depan jam kuno yang ada di perbatasan lantai satu dan dua gedung sekolahnya. Ia menangkupkan tangannya seolah berdoa. Mulutnya tampak menggumamkan sesuatu yang terdengar, "Kami-sama, aku akhirnya sudah mengetahui yang dimaksud Sasuke-kun mengenai orang yang bernama Hiuna. Tapi aku tetap harus memastikannya langsung pada Sasuke-kun. Karena itu, kumohon… Kembalikan aku ke tempatku semula…"
Hinata kemudian mengangkat wajahnya dan memandang jam di hadapannya. Awalnya jam itu tidak menimbulkan reaksi apapun. Hanya berdetak seperti biasa. Hinata menghela napas kecewa. Tepat saat ia tengah berbalik, suara detak jam itu terdengar semakin besar.
TIK.
Hingga mengundang perhatian Hinata.
TIK.
Dan saat ia menengokkan kepalanya…
TENG.
TENG.
Dentang yang sama yang ia dengar sebelum ia terlempar ke masa lalu.
Setelah itu, jarum jam kembali berputar cepat sesuai arah seharusnya ia berputar.
Hinata masih berdiri diam di tempatnya.
Terpaku.
Sampai suatu suara mengagetkannya.
"Hinata! Apa yang kau lakukan di sana?"
Hinata tersentak dan langsung menolehkan kepalanya ke arah bawah tangga, di mana asal suara tadi berada.
"S-Sasuke-kun…"
Perlahan, Sasuke berjalan mendekat ke arah Hinata. Tidak bisa dipungkiri, betapa senangnya Hinata saat melihat sosok itu di hadapannya. Ia pun tidak bisa lebih lama lagi menyembunyikan senyumannya.
"Barang yang ketinggalan udah ketemu?" tanya Sasuke. Perlahan, matanya bergerak sampai berhenti di satu titik. Tangan Hinata. Dan boneka lumba-lumba berwarna biru yang tengah dipegang gadis itu. "Itu…" Mata Sasuke terbuka lebar. "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Ng? Kau tahu boneka ini?" tanya Hinata sambil mengangkat boneka lumba-lumba yang sedari tadi dipegangnya erat dengan kedua tangannya.
Sasuke tampak mengamati boneka itu. Sesaat, pandangannya tampak mengawang-awang.
"Sasuke-kun?"
"Ah, ya.. Maaf!" ujar Sasuke sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Boneka itu, mirip sekali dengan boneka yang kuberikan untuk Hiuna waktu itu!"
Hinata mempersempit jaraknya dengan Sasuke.
"Dari mesin jepit di game center?" tanya Hinata dengan volume suara yang terbilang perlahan.
Sasuke membelalakkan matanya. "Dari mana kau tahu?"
Jelas sudah. Hiuna yang dimaksudkan Sasuke saat itu ternyata memang Hinata. Bagi Hinata, itu adalah suatu fakta yang menarik, mengingat bagaimana Sasuke kecil menyukainya hingga terus membawa bayang-bayangnya sampai mereka kini menjadi sepasang kekasih.
Tidak ada keraguan.
Ya.
Tidak ada lagi keraguan bahwa Sasuke melihat bayang-bayang orang lain dalam diri Hinata.
Yang dilihat Sasuke selama ini, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah dirinya seorang.
Hinata seorang.
Hinata akhirnya memandang langsung ke bola mata onyx Sasuke. Melihat kebingungan pemuda itu, Hinata pun memilih untuk menggelengkan kepalanya.
"Itu… Rahasiaku," ujar Hinata sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.
"Hn?" tanya Sasuke.
"Tapi aku bisa memberitahumu satu hal." Hinata kemudian tersenyum. "Aku menyukaimu, Sasuke-kun!"
BLUSH!
Tak pelak lagi, wajah cool si Pangeran Sekolah itu pun berubah merah, semerah tomat yang disukainya. Ia bingung. Sangat bingung dengan kelakuan Hinata yang menurutnya berubah menjadi aneh. Sebelumnya, ia merasa Hinata tampak sedih dan sekarang, gadis itu tampak luar biasa ceria.
"K-kau? Apa-apaan sih?" tanya Sasuke sambil menutupi mulutnya dan memalingkan wajahnya.
Hinata menggerakkan tangannya dan menyentuhkan moncong boneka lumba-lumba yang sedai tadi dipegangnya ke pipi Sasuke. Dan saat Sasuke menoleh, hendak memprotes tingkah Hinata yang tampak seperti sedang mempermainkannya, mendadak Hinata berjinjit dan langsung menyentuhkan bibirnya sendiri ke bibir Sasuke.
Setelah itu, Hinata langsung melepaskan dirinya dengan wajah merah yang bersaing dengan Sasuke. Sasuke yang masih terlalu terkejut, tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan saat Hinata sudah berlari menuruni tangga sambil berkata.
"Mata ashita ne, Sasuke-kun!"
"Hinata!" teriak Sasuke pada akhirnya. Hinata berhenti sejenak sambil menengok ke arah atas, tempat Sasuke masih berdiri dengan canggung. "Aku… Aku juga menyukaimu!"
Hinata hanya mengangguk kecil dan kemudian berlari meninggalkan Sasuke yang tampak masih berusaha mengolah berbagai keanehan yang baru saja dihadapinya. Hinata tidak bisa menyembunyikan senyum puasnya sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
"Kau tampak senang, Hime?" ujar seorang pemuda berambut panjang dengan mata yang berwarna sama dengan mata Hinata.
"Ya, Neji-nii," jawab Hinata lembut. "Aku sudah mendapatkan alasan untuk selalu percaya padanya."
Hinata kemudian tidak mengacuhkan lagi pandangan kebingungan di wajah Neji. Biarlah ia menjadikan ini sebagai rahasianya sendiri. Neji, atau bahkan Sasuke, tidak perlu mengetahuinya.
Yang jelas, keraguan Hinata lenyap sudah. Sasuke memang benar-benar menyukainya. Bahkan sebelum pemuda itu benar-benar mengenal Hinata. Dan meski waktu berlalu selama apapun, hanya sosok Hinata-lah yang akan terus dicari pemuda itu. Hinata tidak perlu meragukannya lagi.
Gadis itu kemudian mendekatkan moncong lumba-lumba itu ke bibirnya sendiri. Selanjutnya, ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil yang tengah dikendarai oleh supir keluarga Hyuuga. Pemandangan yang memperlihatkan gedung sekolah yang normal, jalan-jalan yang familiar, membuat Hinata semakin mengembangkan senyumnya.
Ia lega ia bisa kembali ke tempatnya tinggal, ke masa seharusnya tinggal.
Bukan hanya itu. Ia pun merasa senang karena ia berhasil mengetahui fakta yang paling ingin diketahuinya.
Fakta yang berhasil membuat hatinya tertambat semakin dalam pada satu orang.
Dan Hinata pun bersumpah.
Ia tidak akan pernah bisa melupakan dentangan bel yang mengalun dengan lembut dalam pendengarannya.
Sama seperti ia tidak akan pernah bisa melupakan pemuda yang akan mengisi hari-harinya, mulai dari sekarang….
Dan sampai selamanya.
*** FIN***
Hufft! Beres juga chapter 4 ini! Uyaaaayyy!:D
Chapter kali ini tentang si cowok pemaksa dan cewek pemalu. Ternyata saya jadi lumayan suka juga dengan kombinasi dua orang ini. Haha.
Ah yah, ngomong-ngomong, udah tinggal 1 couple. Lagi. Udah tahu siapa couple-nya? Yep! Next chapter will be NejiTen (saya buka kartu karena memang tinggal 1 lagi, dan pastinya dah pada bisa nebak sih, hehe)
Nah, gimana dengan chapter ini menurut minna-san? Saya masih tetap membutuhkan review-nya lho…. Jadi jangan lupa review yak? ^^
Review, onegai?
Masukan dan kritik membangun amat sangat diharapkan. ;)
~Thanks for reading!~
