Title : Hey! Class Leader!
Author : Miura Raichi
Rated : T
Pairing : Hunhan and KaiSoo, but Chanbaek thoo. Seluruh couple akan ada seiring jalan.
Genre : Romance, school-life, drama, a little bit comedy and friendship/maruk
DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.
Summary : Semua orang menginginkan posisi itu. Dipandang, menjadi perwakilan dari kelas dan mendapat perhatian penuh dari semua orang. Semuanya memperhatikan. Tapi dengan posisi itu, aku tak mendapatkan perhatian darimu.
Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai, YAOI. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?
NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD
Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^
tolong tetap beri saya review anda *bow*
.
.
Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.
.
.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
I TOLD YOU BEFORE!
.
.
IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!
Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^
.
.
.
Tata krama, disiplin, dan rasa tanggung jawab adalah nomer satu bagi Kyungsoo. Ada yang bilang, orang-orang yang mengukir sejarah adalah orang-orang dengan tata krama yang tinggi, disiplin tinggi dan rasa tanggung jawab tinggi untuk melatih diri dan melihat dunia dengan cara lebih baik. Tata krama dalam bicara, tegas dan tidak usah banyak bicara. Disiplin mengatur waktu dan dirinya sendiri, dan tanggung jawab tinggi atas segala yang di lakukan.
Itu adalah pengertian yang dipegang teguh oleh Kyungsoo, sedari dia kecil. Namun segalanya berubah ketika ia mengenal seorang pria ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Pria yang baginya sangat baik. Seorang atlet basket dan atlet Judo. Tubuhnya terbentuk (terlalu) bagus untuk ukuran anak sekolah menengah pertama kelas 7. Namanya adalah Jang Wooyoung. Tinggi, seorang atlet judo dan terkenal pembangkang. Kyungsoo pernah mengenal dan menjadi temannya.
Bahkan pernah menyukai Wooyoung tanpa sadar. Karena dekat, Kyungsoo selalu memanggilnya beruang karena tubuhnya yang lebih besar dari Kyungsoo yang cukup kurus kala itu. Tubuhnya kelewat mungil.
Jang Wooyoung selalu melindungi Kyungsoo bila ada yang berani membully tubuh mungil Kyungsoo, itulah saat Kyungsoo menyukai Jang Wooyoung.
Tapi siapa sangka saat itu ternyata Jang Wooyoung yang rabel, selalu bolos dan tidak menuruti perintah guru hanya memanfaatkan dirinya juga untuk bicara pada guru kala itu agar poinnya selamat dan tidak dikeluarkan dari sekolah. Karena posisi Kyungsoo yang sebagai teman sekelasnya dan ketua kelas. Awalnya, ia masih mendiamkan dan berharap Wooyoung membalas perasaannya. Namun batas tertinggi kesabaran Kyungsoo adalah ketika ia melihat Wooyoung mencium wanita lain di depannya setelah bermain basket.
Saat itulah, ia tak mau lagi berteman dengan Jang Wooyoung dan sudah pasti tak mau menaruh harapan lagi terhadap lelaki itu. Ia tak bisa pindah sekolah, jadi ia memutuskan untuk pindah kelas, menghindari Jang Wooyoung dan bersikap seolah ia tak mengenalnya. Wooyoung pindah sekolah karena poinnya turun drastis, saat itulah akhir dari segalanya.
Kyungsoo selalu menutup rapat cerita itu, tak ada yang tahu. Dan kini, Chanyeol mengetahui siapa 'beruang' yang ia sembunyikan. Itu adalah masalah besar yang harus segera ia tangani.
.
.
.
Sehun nampak membaca buku di taman, sore hari dengan hembusan angin lembut. Ia sedang menunggui Kai dan Chanyeol yang sedang mengikuti tes recruitment untuk basket. Sesekali ia menatapi temannya dari jauh sambil menghela nafas lalu membaca kembali. Dan tak lupa, sesekali membenarkan letak kacamatanya.
Entah apa yang menyetrum otak Kai, bocah hitam itu ingin mengambil klub Muay Thai dan basket. Sebenarnya bagus, akan menjadi olahraga untuk Kai yang perokok berat yang sampai Sehun ingin terbang ke surga dan memohon agar sahabatnya itu disadarkan agar tak merokok lagi. Chanyeol? Dari Kai, ia bilang ia ingin mengambil klub komputer dan basket. Hanya dua, satu untuk kegemarannya dan satu lagi untuk fisiknya.
"/Tao, semangatlah! Kalau kau diterima klub basket, Gege akan traktir kau makan cheese burger kesukaanmu!/" Sehun menoleh ketika mendengar sebuah suara dengan bahasa asing. Ia menemukan lelaki mungil yang ia ketahui namanya tadi siang, Luhan. Bersama seorang anak baru di kelasnya, Tao. Ia tidak tahu apa yang baru saja dibicarakan oleh Luhan, namun Tao terlihat senang dan segera berlari menuju lapangan. Sehun rasa hanya kalimat penyemangat. Ia kembali tenggelam dengan buku pelajarannya.
"Kau? Tuan kacamata?" tanya sebuah suara. Sehun menoleh dan menemukan Luhan yang tersenyum cerah. Ia duduk di depan Sehun (tanpa izin dari yang lebih duduk disana). "Kau sendirian disini?" tanya Luhan kembali.
"Menurutmu aku membawa seluruh keluargaku duduk denganku sekarang?" tanya Sehun sedikit sarkastik. Luhan hanya tertawa canggung.
"Hey, aku cuma ingin memulai obrolan. Kau menunggu seseorang?" tanya Luhan kembali. Sehun membalik halaman selanjutnya tanpa menatap mata Luhan.
"Teman-temanku." Jawabnya singkat, Luhan sedikit cemberut.
"Aku rasa aku tahu kenapa kau menggunakan kacamata. Karena terlalu serius membaca buku sampai kau tak mau menatap lawan bicaramu. Matamu jadi dobel untuk buku tapi tak punya mata untuk orang lain."
PAK! Buku itu tertutup oleh Sehun. Mata tajam Sehun menatap mata bulat cemerlang milik Luhan. Mengintimidasi mata berwarna cokelat gelap namun jernih itu. Berbanding terbalik dengan milik Sehun yang berwarna deep black.
"Itu bukan urusanmu."
"Memang bukan urusanku."
"Lalu kenapa kau menyinggungnya?"
"Karena kau tidak punya tenggang rasa terhadap sesama dan tak mau berteman?"
"Apakah itu permasalahan buatmu?"
"Bukan masalah untukku, namun kau akan dijauhi oleh sekitar bahkan mungkin temanmu suatu hari karena perkataanmu yang kasar dan sifatmu yang dingin."
Keduanya terdiam. Semilir angin lembut menenangkan api yang baru saja keduanya ciptakan. Apple adam Sehun bergerak naik turun. Bingung harus bicara apa lagi ketika mata jernih itu menatap matanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku kenal seseorang sepertimu ketika aku masih di Beijing. Pendiam, bicara sedikit cenderung sinis dan sarkastik sepertimu. Tak mau menatap mata lawan bicara dan aku yakin temanmu hanya satu atau dua orang. Mungkin kau beranggapan sahabatmu akan mengerti dirimu, namun ketika kau terlalu memperlakukan mereka seperti kau memperlakukanku sekarang, kau akan dijauhi lalu kau akan sendirian. Kau mungkin akan berkata tidak masalah, namun akan jadi masalah untukmu ketika satu teman itu menjauhimu."
"Tidak semua orang akan setuju ucapanmu, Luhan." Sehun menatap kedua temannya yang nampak tertawa sambil berangkulan. Ia kenal Kai, keduanya sudah berteman sejak lama.
"Kau benar, tidak semua orang akan setuju ucapanku, tapi semua orang setuju karena itu selalu terjadi." Ucapnya tenang sembari menatapi mata lawan bicaranya. Sehun memasukkan bukunya ke dalam tas. Ia melihat kedua temannya sudah berlari mendekati dirinya.
"Terserah." Ujarnya lalu berjalan mendekati kedua temannya dan mulai pergi.
"Kau berteman dengan Xi Luhan? Sepupu Huang Zi Tao?" tanya Chanyeol. Sehun menatap Chanyeol dengan wajah seolah berkata 'apa maksudmu?'. "Xiao Luhan, kakak sepupu Huang Zi Tao. Dia adalah 'flower boy face' yang terkesan cantik di sekolahnya dulu. Cukup terkenal."
"Kau mengerikan, Chanyeol." Ledek Kai. Mereka semua tertawa.
"Karena kami berdua berhasil masuk klub basket, ayo kita makan pizza!"
"Berhenti makan pizza terlalu banyak, bocah gila! Makanlah sayur atau telur! Protein yang bagus untuk massa otot kalian!" tegur Sehun. Kai menghancurkan tatanan rambut Sehun.
"Diamlah sedikit, sial. Perayaan tidak pernah menyenangkan kalau terlalu mengikuti aturan!"
Sementara ketiga pria itu pergi, Luhan menatap punggung lelaki dingin yang semakin jauh darinya dan tersenyum kecil.
"/Gege!/" ia menoleh ketika sebuah suara menginterupsi pikirannya. Hanya Tao, adik sepupunya.
"/Hm? Sudah selesai? Bagaimana? Kau diterima?/" tanya Luhan. Adik sepupunya itu tersenyum.
"/Ya, aku tidak menyangka Kris-ge adalah keturunan Chinese. Dia akan off di basket dalam waktu dekat, sebenarnya. Dia sangat menyenangkan!/" ujarnya. Luhan tersenyum. Namun pikirannya kini tertuju pada lelaki berkacamata yang mencuri sedikit perhatiannya.
.
.
.
Semuanya memutuskan untuk menginap di rumah Kai. Kamar Kai adalah kamar yang cukup simple. Double bed, meja belajar dengan beberapa action figure dan komputer di mejanya. Lemari berisi buku, lemari pakaian dan pintu kamar mandi. Sangat simple. Yang membuat nyentrik kamar ini adalah, pewarnaan yang dominan berwarna biru gelap dan merah. Dan cukup membuat Sehun merasa tidak mau menginap.
Chanyeol memakan pizza sembari menggunakan komputer Kai. Entah apa yang dia cari. Jemarinya sibuk mengetik dan terdengar cukup berisik, sedangkan Sehun sibuk membaca buku pelajaran sesekali meminum jus yang dibawakan ibu Kai. Sementara sang anak lelaki keluarga ini sibuk menatapi ponselnya sembari memakan pizza.
"Komite disiplin kita sangat menggemaskan, ya." Oh, ingin sekali Sehun menepuk kepala Kai dengan buku. Tidak usah tebal, 6 cm saja dirasa cukup agar bicaranya harus di atur. Sehun tahu Kai Bisexual, tapi Sehun tidak pernah tahu selera Kai adalah yang seperti Komite Disiplin.
"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?" tanya Sehun berusaha menahan diri untuk tidak bicara sarkastik.
"Lihat ini!" Oh! Bagus! Kai membuka halaman web sekolahnya dan memperlihatkan sang ketua Komite Disiplin. Do Kyungsoo. "Maksudku, lihatlah dia! Kulit halus..mata bulat yang besar dan hidung mungil namun cukup tegas. Bibir plum kemerahan alami dan leher jenjang. Mata yang menatap selalu dingin dan ya ampun! Dia imut sekali!"
Belum pernah Sehun melihat Kai yang seperti itu.
"Ah! Bicara soal Komite Disiplin yang menyangkut sekolah, aku baru saja meng-hack akun e-mail Ketua OSIS kita."
Oh, dia hanya menghack dan bicaranya santai sekali. Tanpa hambatan, tanpa dosa, tanpa rasa bersalah. Ingin Sehun menyiramnya dengan jus di tangan.
"Setahuku, hacking adalah tindak kriminal, Park Chanyeol. Kau harus menghargai sebuah privasi." Tegur Sehun sembari membaca kembali bukunya. Chanyeol memutar bola matanya bosan.
"Aku tidak menghancurkan privasi mereka, aku hanya mengetahui sebuah informasi penting. Lihatlah, sekolah kita akan mengadakan Festival SMA selama seminggu berturut-turut dan uangnya akan di donasikan untuk pembangunan sekolah yang masih membutuhkan fasilitas lebih dan menangani kelaparan di beberapa negara di Asia Tenggara. Woah! Dan akan ada Tsundere cafe yang di tangani langsung oleh Jaejoong Seseongnim. Menarik..." Chanyeol menyeringai kecil.
"Tsundere Cafe?"
"Ya, ini baru rencana dari OSIS karena para wanitanya melakukan survey selama 4 hari ini. Kau tahu Tsundere? Di tempatku dulu, Tsundere adalah kata untuk mendefinisasikan seseorang yang bertingkah tidak peduli, bicara sedikit, kasar, dingin namun sebenarnya baik hati dan hangat. Yaaahh...kebanyakan wanita menyukai hal semacam itu. Ditambah wajah yang menarik, jadilah magnet penarik. Ide yang sangat bagus, licik juga OSIS." Chanyeol kembali sibuk dalam suara ketikannya.
"Aku masih lapar..ada yang mau ayam goreng? Di dekat sini ada restoran ayam goreng yang enak. Aku akan pergi untuk beli sebentar." Ujar Kai. Lelaki itu bangkit dan mengambil jaketnya lalu keluar kamar meninggalkan keduanya. Dasar monster, bila sudah berkata ayam, maksudnya adalah ayam goreng utuh. Utuh satu ekor untuk dirinya sendiri.
Sehun masih sibuk membaca dan sesekali mengoret-oret bukunya. Sepertinya mengerjakan sesuatu. Chanyeol? Menatap layar komputernya.
"Sehun-ah." Panggilnya.
"Hm?"
"Apa Baekhyun baik-baik saja?"
"Dia bukan pengidap kanker, jangan membuatku tertawa."
"Aku hanya merindukannya." Sehun mengangkat kepalanya dan menatap punggung Chanyeol.
"Apa maksud-"
"Aku merindukan senyumnya..aku tak bisa membuat ia tersenyum, hanya tangis yang bisa aku berikan untuknya, dan kini aku ingin dia tersenyum karena aku hadir, namun sepertinya kehadiranku tak bisa diterima olehnya." Chanyeol berbalik dan menatap Sehun yang menatapnya tak mengerti.
"Jelaskan padaku, apa hubungan kalian berdua?"
"Bocah yang tidak bisa mengatakan perasaannya?"
.
.
.
Kai terlihat sedang menunggu pesanannya. Ia membeli 2 ekor ayam utuh. Pikirannya, satu untuknya, satu untuk kedua temannya. Ia sedikit menahan senyum karena ayam goreng yang ia sukai akan segera jadi dan ia bisa memakannya. Pertama, ia pasti akan mulai dari bagian leher, lalu paha..lalu nyam! Ia tak sabar memakannya dan persetan diet sedikit agar menjaga massa otot bagusnya.
"Bibi, tolong paket nomer dua." Sebuah suara tak begitu asing menginterupsi (khayalan indah) Kai. Ia menoleh dan menemukan seseorang yang langsung membuat pupil matanya melebar. Do. KyungSoo. Disana. Memesan ayam. Pasti untuk makan malamnya.
Sebenarnya melankonis sekali mereka bertemu di restoran ayam goreng kesukaan Kai. Ini bukan drama Korea, kenapa ia bertemu disini?
Ia tak menoleh ke kiri atau pun ke samping. Lurus, tak berekspresi dan sendirian. Kai tak begitu menyukai keindahan yang dikurung kesendirian, tak wajar baginya. Ada sesuatu yang menyakiti keindahan itu, sehingga ia tak mau keluar dan mengurung dalam gelap. Kai tak mau menerima fakta itu. Ia harus tahu, secepatnya.
"Kai-ya, ini pesananmu. Biasanya kau hanya membeli ayam secukupnya, namun ini full? Kau kelaparan atau ada Sehun?" suara bibi penjual yang di kenal Kai membuyarkan fokusnya pada Kyungsoo yang sudah membayar dan keluar dari restoran ini tanpa banyak kata. Hanya senyum dan melangkahkan kakinya.
"Ah Bibi, ada temanku yang lain lagi menginap. Aku rasa tak apa membeli cukup banyak.. ah, aku permisi dulu." Ia pamit dan segera berjalan agak cepat ketika melihat tubuh Kyungsoo sudah di luar restoran ini. Kyungsoo membelakangi Kai dan berjalan sembari bertelfon. Ia berbelok ke kiri gang, ia berniat ingin mengejar atau mungkin berbalik arah meninggalkan Kyungsoo namun firasat tak mengenakkan menghampiri Kai ketika ia melihat dua orang mengikuti Kyungsoo dari belakang.
Kai berbalik masuk ke restoran.
"BIBI! AKU TITIP SEBENTAR AYAMKU, ADA HAL PENTING YANG HARUS AKU LAKUKAN!"
"Kai-ya?! Hal penting apa?!"
Karena ayam juga penting, jangan hancur. Buang uang dan perasaan kalau ayamnya nanti hancur karena menghajar penjahat.
Pertanyaan sang bibi tak di dengar dan ia segera meletakkan ayam itu pada sang pelayan dan segera berlari keluar, tepatnya menuju gang dimana Kyungsoo masuk.
Benar saja dugaan Kai, Kyungsoo di tahan oleh dua orang itu.
"Ini dari SMA terkenal itu. Sudah pasti dia memiliki banyak uang."
"Kami boleh kan minta sedikit uangmu? Kau anak kaya raya, pasti memiliki banyak uang."
"Hey!" semuanya menoleh dan menemukan Kai yang menatap tajam dua orang pencuri yang ingin mengambil uang Kyungsoo.
"Apa masalahmu, bung?!"
"Kalian tahu yang baru saja kalian lakukan? Kalian ingin merampok, huh?"
"Kami tidak ada urusan denganmu, sialan!"
"Lepaskan dia atau kalian akan terima akibatnya!"
"Aku mulai muak dengan semua ini." Kedua pria itu berbalik dan segera berjalan mendekati Kai. Ia tidak begitu lemah, ia menguasai Taekwondo meski tak sampai sabuk hitam.
Tapi kadang, jangan nilai seseorang dari penampilan luarnya.
Salah seorang pria itu tumbang dengan tendangan mendadak di kepala bagian belakang dengan cukup kuat. Ia jatuh tersungkur, dan seketika tak bergerak. Ia membuat dua orang heran serta takut. Kai dan kawan dari pria yang pingsan.
"Aku tak punya uang yang kalian minta. Di dekat sini ada kantor polisi, aku bisa menelfon mereka untuk kesini. Pergilah, aku tak tertarik mencari masalah." Ucap Kyungsoo tegas. Pria itu mengambil temannya dan segera memapahnya dan menjauhi kedua pria itu.
"Kau..tidak apa-apa?"
"Sangat baik, terima kasih karena berniat menolongku tapi aku bisa menjaga diriku sendiri." Kyungsoo menunduk sedikit dan berbalik mengambil bungkusan makanannya lalu pergi menjauh, meninggalkan Kai. Dengan tenang. Seolah tak terjadi apapun.
Pelajaran malam ini untuk Kim Jongin, jangan terlalu mengira lelaki berparas manis adalah lemah. Kadang bidup bukan drama Korea yang sering di tonton kakak perempuan Sehun.
Ia menghela nafas, namun matanya tak sengaja menemukan sebuah buku saku dengan lambang sekolahnya. Ia mengambil buku saku itu dan membukanya. Senyum merekah di wajah Kai.
"Kita memang berjodoh, Kyungsoo." Kai tertawa kecil lalu memasukkan buku saku yang sebenarnya adalah buku idenditas siswa milik Kyungsoo. Oke, anggap saja drama Korea mengambil sedikit potongan kehidupan. Siapa yang mengira malam ini akan jadi permulaan ia dekat dengan Kyungsoo?
Kai berbalik, menuju restoran dan mengambil ayamnya. Pikirannya dipenuhi cara bagaimana bisa mendekati anak yang mencuri perhatiannya.
.
.
.
.
TBC
.
.
Thanks for reading my fanfict. Thanks for all your love and supports. Love you gengs!
Mind for review?
Sign,
Raichi
