—Disclaimer—
SMT: Persona 3(FES) © 2008, Atlus
HELL-O! wagh chapter ini jedanya tidak terlalu panjang dari yang sebelumnya ya. Sebab saya sudah menyelesaikan chapter sebelumnya seminggu sebelum saya update di fanfic, tapi selama test internet disegel (sial…) jadi ya…. Tau sendiri lanjutannya. Seperti biasa, segala kesalahan tulis, cerita, dan terlebih lagi kesalahan tanggal dan waktu tolong diingatkan melalui R&R. Terima kasih pula bagi yang sudah me-review si chap sebelumnya.
BTW bisa komentari gaya bahasa saya tidak? Karena saya orang jawa (maksud saya terbiasa menggunakan bahasa jawa. Tentunya kebanyakan kita hidup di jawa bukan?) jadi saya khawatir ada kata-kata bahasa jawa yang tidak sengaja tertulis, sehingga ada yang tidak dimengerti. Well, Enjoy.
Summary sebelumnya: Shadows menginvasi Port Island. Souji dan Naoto kembali harus menggunakan personanya, dan memecahkan kasus di hadapan mereka.
Persona 3: Forgotten Memories
—Chapter 3—
Tower which penetrated the Sky
April 13 2012
-Early Morning-
Sinar mentari pagi menggelitik mata Souji yang masih tidur diranjangnya, memaksa dia untuk bangun. Anak berambut abu-abu itu tidak terlalu memedulikannya, menarik selimutnya untuk menghalangi cahaya tersebut mengusik matanya. Sesaat kemudian, terdengar suara yang dikenalnya memanggilnya lembut.
"Souji-san, tolong bangun…" kata suara itu.
"Nyem nyem… 5 menit la…!" spontan Souji membalik selimutnya melihat kearah suara itu. Tampak sebuah android berbentuk gadis remaja yang cantik jelita berambut pirang yang jelas dikenalnya tampak didepannya.
"Souji-san, tolong segera bangun…" ulang Aigis.
"…. Jam wekerku…." Kata Souji pelan.
"5 menit lagi akan berdering, Mitsuru-san mengajariku untuk melakukan segala sesuatu 5 menit lebih awal…" jawab Aigis. Souji yang mendengarnya pun sweatdrop.
"Kau… disuruh Mitsuru?" Tanya Souji.
"Tidak…"
"Bagus… sekarang aku punya 2 weker…" pikir Souji sambil sweatdrop.
"Tunggu dulu… seingatku kamarnya terkunci…" kata Souji.
"Aku bisa membuka kunci yang sama sekali tidak rumit seperti itu…" jawab Aigis.
"Ya ampun Kirijo-co. itu memasukkan program bertempur atau program pencuri sih? Bisa-bisanya dia masuk seenaknya sendiri.." batin Souji + sweatdrop.
-Dorm, 1st floor-
Souji menuruni tangga menuju lantai 1 untuk menikmati sarapannya yang telah tersedia. Disana adik kelasnya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri itu menyapanya. Begitu juga dengan penghuni asrama yang lain.
"Pagi senpai.." sapa Naoto.
"Pagi…" jawab Souji agak malas. Kepalanya terisi hal-hal aneh karena event 'weker baru' barusan.
"Kau terlihat mengantuk Souji-kun…"kata Fuuka, masih mengenakan celemeknya menyiapkan sarapan secara rutin.
"Tidak juga…"jawab Souji singkat. Walau demikian, anak kecil seumuran Nanako ataupun Ken pun dapat mengetahui bahwa Souji kurang tidur. Tampak jelas dari garis hitam di bawah matanya.
"Kau kurang ahli berbohong Souji, aku aja tau kalau elu kurang tidur. Wah-wah hari ke-2 sudah menemukan tempat macam 'itu' ya…" ejek Junpei.
"Sembarangan…" jawab Souji sama singkatnya dari tadi.
'Sial, tidak biasanya aku tidur selarut kemarin. Biasanya maksimal jam 12, setelah menonton midnight channel lalu tidur. Kemarin jam berapa ya?' pikir Souji.
"Menurutku tidak baik jika kau sering-sering tidur malam Seta. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Iori barusan." Kata Mitsuru memecahkan lamunan Souji.
"Mitsuru-senpai, yang percaya dengan perkataan Stupei itu hanya kamu saja lho.." jawab Yukari menghela nafas, bosan sama 'kepolosan' senpainya itu atau lebih tepatnya 'ketololan'.
"Arisato-san belum bangun lagi, Fuuka-san?" Tanya Ken penasaran.
"Dia mules… entah minum apa itu anak di escapade kemarin…" jawab Junpei kepada Ken.
"Hari ketiga, dan Souji belum bertemu dia.." kata Yukari menghela nafas lagi.
"Dia, minum alkohol?" Tanya Mitsuru dengan suara yang sedikit lebih keras dan raut wajah yang berubah serius.
"Maaf menyela tapi saya ragu akan hal itu Kirijo-senpai. Seingat saya escapade tidak menyediakan minuman beralkohol lagi. Bukankah hal ini telah berlaku dari tahun lalu?" Tanya Naoto.
"Entahlah, aku tidak pernah ke tempat itu…" jawab Mitsuru.
"Tidak, benar kata Naoto, Mitsuru-senpai. Tahun lalu saya pernah kesana bersama teman-teman saya ketika sedang school trip ke Gekkoukan. Tidak ada minuman keras disitu." Jawab Souji.
"Anehnya Yukiko-senpai dan Rise bisa mabuk…" kata Naoto pelan, walau sangat jelas.
"Ah, jangan bahas hal itu lagi Naoto. Aku masih agak trauma dengan 'permainannya' Rise…" jawab Souji.
"Betul, itu bukanlah kenangan yang layak diingat…" jawab Naoto setuju.
"Hoo, kalian pernah ke Gekkoukan sebelumnya?" Tanya Fuuka.
"School trip sewaktu kami masih di Yasogami, Inaba." Jawab Souji dan Naoto bersamaan.
"Aku berangkat ke sekolah duluan Senpai…" kata Ken yang telah menyelesaikan sarapannya.
"Ya" jawab semuanya (minus Aigis yang memang tidak merasa dirinya senpai dan Koromaru yang menyalak sebagai pengganti 'ya')
"Sebaiknya kalian juga segera berangkat ke sekolah…" Kata Mitsuru kepada Souji dan Naoto.
"Ya…" jawab keduanya.
Tak lama kemudian Souji dan Naoto menyelesaikan sarapan mereka. Mereka segera mengambil tas mereka masing-masing dan segera berangkat ke sekolah. Tepat setelah pintu asrama tertutup karena kepergian mereka, seorang pemuda berambut biru turun.
"Lho? Mereka sudah berangkat lagi?" Tanya pemuda tersebut.
"Telat…" jawab semuanya bersamaan (tentunya minus koromaru yang tidak mungkin mengatakan 'telat' kalau bisa, semuanya pasti sudah pingsan.)
"De, déjà vu…" pikir pemuda itu.
"Sakit perutmu itu betulan Arisato-kun?" Tanya Fuuka.
"Lho? Siapa yang bilang aku sakit perut?"Tanya Arisato.
"Haah… seperti yang kuduga Stupei…" kata Yukari sambil menghela nafas untuk yang ketiga kalinya. Semua orang yang disana pun melihat kearah Junpei.
"Ap, Apa? Ayolah, aku 'kan hanya salah sekali-dua kali aja!" kata Junpei gelagapan.
"Yah… sekali-sekali setiap saat…" ejek Yukari.
-After School-
-Gekkoukan High School, front gate-
Souji dan Naoto berjalan pulang bersamaan. Keduanya sama-sama terdiam berpikir apa yang harus dilakukan untuk mencari informasi tentang kasus Apathy Syndrome. Langkah keduanya terhenti ketika melihat seorang gadis yang dijumpai mereka kemarin malam masih mengenakan sundress birunya. Souji semakin ragu kalau sundress itu pernah dicuci, karena 3 hari berturut-turut ia melihat sundress yang sama. Walaupun demikian Souji tidak mau memikirkannya terlalu jauh, toh robot tidak akan berkeringat kok.
"Selamat siang, Souji-san." Sapa Aigis ramah.
"Selamat siang, Aigis. Ada apa menunggu kami disini?" Tanya Souji.
"Bukankah kita akan memikirkan cara untuk mengembalikan ingatan yang lainnya, Souji-san?" jawab Aigis.
"Tentu saja Aigis-san, tapi sebaiknya kita cari tempat yang lebih nyaman daripada disini. Kau tahu tempat yang nyaman untuk berbicara senpai?" Tanya Naoto.
"Mana kutahu.. Aku 'kan baru 2 hari disini, jam segini Escapade juga belum buka.."
"Memangnya kalau sudah buka mau kesana senpai?" jawab Naoto menyipitkan matanya, menyindir Souji.
"Ya enggak lah… Dulu terakhir kesini kita pernah ke Hagakure 'kan? Kesana saja yuk. Perutku lapar nih…"
"Terserah, asal bukan escapade…." Jawab Naoto.
-Iwatodai, Hagakure-
Aroma ramen yang sedap meliputi tempat itu, banyak orang yang makan disana walau sebagian besar adalah murid Gekkoukan. Souji dan kawan-kawan memasuki tempat itu.
"Satu hagakure bowl jii-san!" pesan Souji.
"Sama dengannya.." kata Naoto.
"Saya satu miso ramen…" pesan Aigis.
"ya, ya… wah-wah, anak-anak jaman sekarang ya… Satu cewek cowoknya dua.." kata koki Hagakure itu melihat Souji dkk.
"Dia ini cewek lho..." kata Souji sweatdrop.
"Ya sudah… sama saja, satu cowok ceweknya dua… dasar playboy…" katanya lagi.
"Uhuk.. uhuk.. Playboy? Jii-san mereka ini bukan—"
"Sampai mana pembicaraan kita tadi Aigis-san?" Tanya Naoto tidak menghiraukan omongan koki Hagakure itu.
"Kita bahkan belum bicara tadi. Bukankah kita mau memikirkan cara untuk mengembalikan ingatan Mitsuru dan lain-lain?" kata Aigis.
"Kesimpulannya mereka amnesia nih? Hmm… pukul kepala mereka dengan sesuatu yang keras" celoteh Souji ngawur. Naoto pun sweatdrop.
"Pikirkan cara yang lebih logis senpai." Kata Naoto sedikit kesal.
"Aku 'kan hanya bercanda…"
"Mungkin itu dapat dicoba…" kata Aigis menyetuji celotehan Souji. Naoto dan Souji sweatdrop.
"Halo Aigis? Itu hanya bercanda lho.. Seandainya kita gagal, perasaanku mengatakan kita akan dibunuh Mitsuru-senpai." Kata Souji merinding membayangkannya.
"Bukan dibunuh, tapi dieksekusi Souji-san…" kata Aigis membenarkan.
"Itu malah lebih parah!" kata Souji sweatdrop.
"BISAKAH KALIAN BERPIKIR DENGAN LEBIH SERIUS?" bentak Naoto kesal sambil berdiri. Spontan saja para pelanggan yang lain melihat kearah Souji dkk. Naoto yang baru sadar sesaat kemudian segera duduk karena malu.
"Maaf… barusan itu, diluar karakterku…" kata Naoto dengan wajah memerah karena malu.
"Baik, kembali ke topik. Jadi, tidak adakah ide untuk menghilangkan amnesia mereka?" Kata Souji pelan, tidak ingin pelanggan yang lain mendengar pembicaraan aneh mereka.
"Hmm….." ketiganya berpikir, tampak ada tali atau apapun itu diatas kepala mereka pertanda mereka berpikir keras.
"Baik, dua hagakure bowl dan satu miso ramen!" kata koki Hagakure tersebut semangat sambil meletakkan ketiga mangkok berisi ramen tersebut.
"Ittadakimasu…" kata ketiganya seraya mengambil sumpit dan menikmati pesanan mereka masing-masing.
"… Jadi Naoto? Apa yang kau bicarakan dengan Mitsuru kemarin?" tanya Souji.
"Bukan apa-apa.. hanya detail soal kasus apathy syndrome. Sejauh ini, belum ada perkembangan tentang kasus itu. Bahkan dikhawatirkan apabila kasus itu menyebar luas ke luar area Port Island." Jawab Naoto.
"Betul juga… walau dark hour telah ada sejak 2 tahun lalu, tetapi kita yang di Inaba tidak menyadarinya ya? Berarti fenomena dark hour itu hanya terjadi disini…"bisik Souji ke Naoto.
"Oh ya Souji-san, kalian dapat menggunakan persona sejak dulu 'kan? Bagaimana kalian membangkitkannya?" Tanya Aigis yang sudah menghabiskan miso ramennya dalam sekejap. Kenapa cepat sekali? karena robot tidak memerlukan system pencernaan jadi seisi mangkok langsung ditelan semua, cara makan yang sangat tidak etis *ditembak Aigis*.
"Personaku dibangkitkan oleh Izanami, Naoto bangkit setelah menerima shadownya begitu juga yang lain." Kata Souji menjelaskan.
"Izanami? Menerima shadow? Aku tidak mengerti…" bingung Aigis.
"Sudahlah, kapan-kapan aku jelaskan…"jawab Souji malas.
"Ngomong-ngomong senpai, tampaknya sikapmu sedikit aneh ketika berbicara dengan Mitsuru-senpai ya? Seperti… tegang." tanya Naoto.
"Ramennya enak ya, Aigis-san." Kata Souji pura-pura tidak mendengarkan.
"Hei… jangan mengalihkan pembicaraan dong…" kata Naoto kesal karena dicuekin.
Beberapa saat kemudian, Souji dan Naoto juga telah menyelesaikan pesanan mereka tetapi mereka masih belum menemukan solusi untuk masalah mereka. Naoto dan Aigis bergegas duluan keluar dari Hagakure.
"Tolong bayarin ya senpai.." kata Naoto menarik tangan Aigis.
"Eh? Tunggu dulu, uangku…" kata Souji tapi Naoto tidak mendengarkan dan langsung keluar dari Hagakure bersama Aigis.
"…tidak cukup…"lanjut Souji walau sudah telat. Koki hagakure yang melihat hanya tinggal Souji seorang pun dengan santai mengatakan "Bayar atau kau harus kerja disini…" Souji yang mendengarnya terkejut sekaligus menuduk lesu.
-Evening-
-Dorm-
Souji memasuki asrama tersebut, wajahnya terlihat sangat lesu sekaligus kesal. Fuuka, Ken, dan Yukari yang melihatnya tidak berani bertanya apa yang terjadi. Mitsuru dan Naoto tidak ada, begitu juga Aigis. Pemuda bernama Arisato yang belum sempat diketahui wajahnya pun tampaknya tidak ada di asrama.
"Whoa. Ada apa Souji-chan? Dompetmu jatuh?" tebak Junpei ngawur.
"Lebih parah… Mana Naoto?" Tanya Souji kepada yang lain.
"Belum kembali. Hubungan Souji-san dengan Naoto-san sebenarnya apa sih?" Tanya Ken polos.
"Uwaa.. Ken, cara bertanyamu itu terlalu langsung! Mestinya kau pancing dulu!" sela Junpei mengejek.
"Hubunganku dengan dia? DIA PUNYA UTANG AMA GUE!" teriak Souji, bahasanya yang biasanya disopan-sopankan berubah drastis. Semuanya spontan kaget + sweatdrop melihat jawaban Souji.
"Hutang? Memangnya ada apa Souji-kun?" Tanya Fuuka.
"SIALAN TUH ANAK! PESAN RAMEN YANG PALING MAHAL, LALU NINGGAL-NINGGAL AJA! BELUM BAYAR LAGI! Aku jadi harus kerja cuci piring disana gara-gara hal itu…" teriak Souji tetapi pada bagian akhir kalimatnya, Souji terdengar lemas. Semuanya serentak sweatdrop lagi mendengar hal itu.
"Singkatnya, kau ditolak ya?" Tanya Junpei ngawur seakan-akan memadamkan api dengan minyak.
"Terserahlah…" jawab Souji kesal sambil naik menuju kamarnya. Yang lainnya (minus Junpei) pun sweatdrop melihat pertanyaan bodoh Junpei.
"Seperti biasa stupei… cerdas sekali…" kata Yukari menghela nafas.
"Lho? Apa aku salah tebak?" bingung Junpei. Semuanya (kecuali Yukari yang malas) pun sweatdrop lagi..
Sementara itu…
-Paulownia Mall, Chagall café-
Aroma kopi yang harum memenuhi ruangan café itu. Banyak anak-anak muda, juga karyawan kantor yang menghabiskan waktunya sambil bersantai minum kopi. Aigis dan Naoto tampak sedang menikmati kopinya sambil berbincang-bincang masalah apathy syndrome dan kasus pembunuhan berantai di Inaba. Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 11.
"Jadi itu yang kalian lakukan di Inaba dulu, Naoto-san?" tanya Aigis.
"ya, begitulah. Karena Souji-senpai lah kita dapat memecahkan kasus itu sekaligus mengalahkan Izanami." Jawab Naoto sambil meminum kopi miliknya.
"Berarti Souji-san itu multi persona-user. Hmm, mirip dengan Arisato-san." Gumam Aigis pelan.
"Pemuda bernama Arisato yang kau katakan itu juga multi persona-user? Terus terang saya masih penasaran dengan motifnya membunuh avatar dari nyx seperti yang kau katakana kemarin."katanya meminum kopinya lagi.
"Saya yakin dia memiliki alasan. Lalu Naoto-san, sebentar lagi waktunya lho." Kata Aigis.
"Kelihatannya kita memang hanya dapat menyelidiki kasus ini saat dark hour saja. Lebih baik kuhubungi senpai." katanya seraya mengambil Handphone dari tas sekolahnya, tangannya memencet Handphone tersebut, mencari-cari nama Souji.
'KRIIINNG! KRIIIINNG!' bunyi handphone Souji.
Souji yang sedang tiduran di kamarnya sambil membaca buku pelajaran yang tadi dibelinya saat di sekolah segera meletakkan majalah tersebut di kasurnya lalu mengambil handphone miliknya yang tersimpan di dalam laci meja belajar miliknya. Melihat nama yang sedang menghubunginya itu, Souji segera menjawab panggilan tersebut.
"Senpai? Bisa segera temui kami di Chagall café?" Tanya suara dari handphone tersebut.
"Naoto ya? Boleh, asal kau yang bayarin…"jawab Souji mengejek.
"Ugghh, iya-iya nanti saya kembalikan uang ramen tadi."jawab Naoto mencoba keluar dari pembicaraan barusan.
"Hei… aku hanya bercanda, tapi aku tidak mau kausuruh bayarin lagi lho." Jawab Souji tidak enak apabila adik kelasnya itu sungguh-sungguh mengembalikan uangnya, walau sebenarnya ia masih agak dendam karena disuruh mencuci piring sebagai pengganti biaya ramen.
"Ya, segeralah. Dark hour akan segera muncul." Kata Naoto sambil menutup handphonenya itu.
"Sudah jam 11 ya.. Waktu terasa lama sekali akhir-akhir ini, dulu di Inaba waktu serasa berlalu sangat cepat dengan adanya kawan-kawan di sampingku. Memang ada Naoto dan teman-teman baru di sampingku saat ini sih, hanya saja… terasa ganjil." Gumam Souji melamun mengingat-ingat kenangannya tahun lalu. Tak lama setelah Souji mengingat masa lalunya itu, terdengar suara yang memecahkan lamunannya. Suara wanita yang khas dan sangat dikenalnya, Izanami.
"Tak biasanya kau terlihat lesu, wahai putra manusia… Biasanya pikiranmu selalu terisi dengan harapan." Kata suara tersebut .
"Tak bosan-bosannya juga kau menggangguku, tidak adakah hal lain yang dapat kau perbuat selain mengusikku hei dewi yang gagal mati?" balas Souji. Sebuah senyum kesal terlintas di wajahnya.
"Tidak juga, sudah kukatakan aku lahir karena kebimbanganmu. Tampaknya masa lalumu justru menggoyahkan hatimu.." jawabnya mengejek. walau tak dapat melihatnya, Souji pun dapat merasakan senyumnya yang menyebalkan tapi ia tidak mau terbawa emosi hanya karena suara yang sekedar 'numpang lewat'.
"Hoo, karena kau berada di hatiku berarti kau tahu tentang misteri yang kuhadapi 'kan? Kau tahu bagaimana solusinya?" kata Souji mencoba mengorek informasi dari suara tersebut.
"Fufufufu. Seandainya aku tahu pun, sudikah kau mendapat jawabannya dariku? Tidakkah itu akan mencoreng harga dirimu, bertanya kepada musuhmu? Wahai putra manusia…" jawab Izanami santai, nadanya masih tetap mengejek.
"Setelah kupikir lagi, kurasa tidak. Lagipula kalau aku dapat memecahkan misteri ini secepat itu, tentunya tidak akan seru bukan?" jawabnya santai.
"Seru ya… aku tidak mengerti cara pikir manusia sejauh itu, aku lebih memilih menonton kehidupanmu dengan santai." Jawab Izanami,
"terserah kaulah, aku harus segera menyusul Naoto ke Chagall café sebelum dark hour dimulai."
"Fufufufufufufu.. pergilah putra manusia, aku akan mengawasimu.." tawa Izanami mengejek, suara itu semakin lama semakin menghilang dari hati Souji. Souji yang menyadari bahwa waktu telah berlalu cukup lama segera bergegas menyusul Naoto.
-Late Night-
-Paulownia Mall-
Souji mempercepat langkahnya, melihat waktu telah menunjukkan pukul 11.20. Setibanya di Paulownia Mall, Souji menghentikan langkahnya begitu ia teringat tentang velvet room yang kemarin dilihatnya di penghujung jalan sempit itu, tepat dibawah mandragora. Souji terhenti, berpikir sejenak haruskah ia masuk ke ruangan itu kembali? Belum sempat Souji memutuskan sesuatu, seseorang meraih punggungnya dari belakang.
"Sedang melamun apa Souji-san?" Tanya bocah berambut coklat dari belakangnya.
"Ah, Ken? Sedang apa disini?" jawabnya balik bertanya.
"Aku sedang menunggu seseorang…" jawabnya singkat, walau agak aneh untuk seorang anak kecil menunggu seseorang dimalam hari seperti itu. "Kalau kau Souji-san?" Tanya bocah berambut coklat itu.
"Oh aku hendak ke Chagall café, Naoto menungguku. Siapa yang kau tunggu?" Tanya Souji balik.
"Orang yang sangat kukagumi… aneh, semestinya ia sudah datang. Kenapa lama sekali ya?" kata Ken sedikit cemas.
"Orang yang sangat kau kagumi? Siapa di—"
"Selamat malam Amada-san, Souji-san" sapa Aigis yang tiba-tiba muncul dari belakang Souji bersama Naoto. Spontan saja Souji kaget mendengar suara robot itu yang tidak terasa kehadirannya.
"Kau itu selalu muncul mendadak ya.. Aigis" katanya pelan.
"Halo, namamu Ken 'kan?"Tanya Naoto kepada Ken sopan.
"Ya, betul sekali Naoto-san. Kita sudah bertemu tadi pagi 'kan?"
"Hmph, hal begitu jangan disebut 'bertemu' dong…" tawa Naoto ringan.
"Naoto terlihat lebih ramah kalau berurusan dengan anak kecil ya, dulu dengan Nanako juga sikapnya seperti itu.."pikir Souji.
"Kamu sedang apa disini Amada-san?" Tanya Naoto ramah.
"Ah, kau menanyakan hal yang sama dengan Souji-san. Aku sedang menunggu seseorang…" jawab Ken tidak kalah ramahnya.
"Kau sedang menunggu Sanada-san 'kan?" tebak Aigis.
"Tepat sekali Aigis-san, tapi tumben hari ini dia telat… ada apa ya?"
"Wah, wah siapa saja itu Ken?" Tanya seorang pria yang tampan (menurut saya atau setidaknya dia cool lah…) mendadak muncul dari belakang Ken. Pria tersebut berambut abu-abu pendek dan ia mengenakan jas dan celana panjang kain berwarna putih dan sebuah syal merah terbalut di lehernya. Tampak sebuah plester terpasang di dahi nya tapi juga tampak beberapa luka kecil seperti bekas pukulan dan luka sayatan ringan di pipinya.
"Ah selamat malam Sanada-san, tumben kau terlambat.." panggil Ken dengan senang.
"Yah, ada sedikit 'masalah' di jalan tapi sudah beres kok." Jawab orang yang bernama Sanada itu.
"Masalah? Jangan bilang…"
"Yah, sebentar lagi ada pertandingan. Beberapa orang membayar para preman-preman itu untuk mencederaiku sebelum pertandingan.."
Kedua orang itu, Ken dan pria itu lalu bercakap-cakap sejenak. Souji, Naoto, dan Aigis hanya menyaksikan mereka bercakap-cakap. Waktu menunjukkan pukul 11.45, 15 menit sebelum dark hour dimulai. Ketiganya pun segera sadar, jika mereka tidak menghilang dari hadapan mereka berdua, pasti akan sangatlah aneh apabila saat dark hour selesai mereka tidak ada dihadapan Ken dan pria bernama Sanada itu.
"Eh, maaf kami pergi duluan Ken-san. Kami ada urusan…" pamit Souji sedikit berbohong kepada anak berambut coklat itu.
"Yah, sayang sekali Souji-san. Kau bahkan belum kenal sanada-san 'kan?"
"Yah, itu kapan-kapan saja kalau aku bertemu dia lagi…" katanya berjalan pergi.
"Sampai ketemu lagi Akihiko-san.." kata Aigis sambil tersenyum ramah.
"Kami duluan ya.." kata Naoto.
Souji, Aigis, dan Naoto pergi.
"Siapa mereka Ken?"Tanya orang bernama Sanada itu.
"Oh, mereka adalah penghuni asrama yang baru. Yang berambut abu-abu bernama Souji Seta, sedang yang memakai topi bernama Naoto… Naoto siapa ya? Aku lupa tanya nama keluarganya. "
"Naoto? Hmm… sepertinya aku pernah mendengar nama itu.." pria bernama Sanada itu mengkerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
"Betul juga seingatku aku pernah melihatnya pula." Jawab Ken sambil mengkerutkan dahinya meniru pria berambut abu-abu itu.
-Souji & the gang-
-Chagall café-
Souji dkk. memasuki Chagall café setelah berpisah dengan Ken dan pria bernama sanada itu. Seperti sebelumnya, aroma kopi memenuhi ruangan café itu hanya saja aromanya semakin kuat semakin malam tiba. Hanya Souji yang memesan kopi dan tampak menikmati atmosfir café itu, walau yang lain tidak terlihat terlalu menikmatinya entah kenapa. Waktu menunjukkan pukul 11.50 saat ini.
"Well? Kemana kita sekarang?" tanya detektif bertopi biru itu.
"Hmm? Bukankah disini juga tidak apa-apa? Kenapa kita harus pergi lagi? Toh waktunya tinggal 10 menit lagi." tanya Souji.
"Justru karena tinggal 10 menit lagi, seharusnya kita tidak ke tempat yang banyak orangnya begini senpai. Lagipula, kenapa kita kesini lagi sih?" omel Naoto pelan.
"Yah, kata 'lagi' hanya berlaku buat kalian. Aku baru saja kesini.." katanya santai sambil meminum kopi feromonnya.
"Souji-san, orang-orang entah kenapa melihati kita lho…" kata Aigis datar.
"Wow, rupanya efek kopi ini benar-benar nyata ya.." jawabnya santai, tepatnya terlalu santai.
"INI BUKAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBAHAS HAL ITU 'KAN?" teriak Naoto memukul meja yang membuat orang-orang berganti melihat ke arahnya. Menyadari hal itu, Naoto pun terduduk malu.
"Wah, rupanya memukul meja dan berteriak rupanya dapat membuat orang-orang memerhatikanmu ya… bahkan melebihi efek pheromone coffee ini." kata Souji sambil meneguk kopinya lagi. Naoto dan Aigis sweatdrop melihat betapa kalem – bukan kalem, melainkan betapa santainya anak berambut abu-abu itu.
"Waktu tinggal 2 menit lagi Souji-san, benar kata Naoto-san sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini." kata Aigis sedikit khawatir.
"Ya ya, kuselesaikan kopiku dulu…" teguknya sekali lagi dengan tersenyum santai. Naoto yang tidak sabar lagi segera berdiri dan langsung membayar ke kasir, sementara Souji masih meminum kopinya dengan santai. Aigis sweatdrop saja melihat tingkah keduanya yang bertolak belakang itu.
"Sudah kubayar, mari kita pergi Aigis-san." Kata Naoto menarik lengan Aigis.
"Ya, ayo kita pergi Souji-san…" Souji segera berdiri, menyusul kedua rekan barunya itu keluar dari chagall café.
Tepat setelah mereka keluar dari Chagall café langit berubah lebih gelap dari biasanya, banyak darah yang sudah mengering terletak di jalan, air mancur Paulownia mall berubah menjadi darah, dan lampu jalanan mati bersamaan. Pertanda dark hour telah tiba.
"Baik Aigis-san karena dark hour sudah tiba, bisa kita lakukan rencana kita tadi siang?" kata Naoto kepada robot itu.
"Tadi siang?" tanya Souji.
"Akan kujelaskan sambil jalan senpai, bisa kau pimpin arahnya Aigis-san?"
"Tidak perlu, kita hanya perlu ke Gekkoukan kok…" kata robot tersebut.
"Eh? Gekkoukan? Jangan bilang…"
"Ya, saat ini Gekkoukan berubah menjadi tempat itu…"
"Haloooo? Bisa jelaskan ada apa ini?" tanya Souji sedikit kesal karena dicuekin.
"Siang tadi, kita berencana untuk ke tempat bernama tartarus malam ini ketika dark hour tiba. Menurutku sangatlah sulit untuk mencari informasi tentang dark hour maupun cara untuk mengembalikan ingatan mereka di waktu yang biasa." Jelas Naoto.
"Hoo, singkatnya sumber info kita yang paling memungkinkan adalah tempat itu ya. Lalu, seperti apa tempat bernama tartarus itu?"
"Tartarus adalah sebuah menara tinggi yang menjulang ke langit, dan juga sebuah tempat dimana shadow-shadow berkumpul kurasa istilah 'sarang' cukup tepat untuk menunjukkan tempat itu. Jujur saja, saya tidak tahu apa yang terdapat didalam tempat itu. Dulu sebelum kami mencapai puncak menara itu, yang lain sudah kehilangan ingatan mereka." kata Aigis dengan jelas, walau agak kepanjangan *dilempar tombak Athena*.
"Oh, jadi penasaran seperti apa tempatnya…" kata Souji kalem, hanya wajahnya yang tadi terlalu santai tampak semakin serius seiring mereka makin dekat dengan Gekkoukan.
"Wah, sudah lama tidak terlihat wajah seriusmu senpai. Biasanya wajahmu santai, seperti yang tadi kau perlihatkan di Chagall café.." ejek Naoto.
"Oh, sikapku tadi hanya akting kok." Jawabnya singkat.
"Eh? Akting..?"
"Yah, jika aku tidak bersikap sesantai tadi tentunya kau tidak akan emosi hingga terpaksa mentraktirku 'kan?" katanya dengan nada menyindir.
"JADI TADI ITU HANYA AKTING?" teriak Naoto emosi.
"Yah, habis jika didepanku sikapmu jauh lebih kekanak-kanakan dan gampang emosi sih… Lagipula, dengan begini kita impas 'kan?" katanya masih dengan nada menyindir.
"Wah, wah, aku tidak mengira kau orangnya pendendam ya senpai…" sindir Naoto dengan wajah yang diusahakan kalem walau gagal sepenuhnya.
"Aku juga tidak menyangka kau orangnya emosian Naoto, kukira kau orangnya lebih kalem lagi…" jawab Souji balas menyindir.
"Kita hampir sampai lho, Souji-san, Naoto-san…" sela Aigis menyuruh mereka diam secara halus.
Walau sebenarnya Gekkoukan masih cukup jauh, tapi sudah cukup jelas seperti apa menara yang baru saja mereka bicarakan. Tampak, sebuah menara yang sangat tinggi menjulang ke awan seakan-akan menara tersebut dapat menusuk langit dengan tingginya itu. Menara tersebut berwarna hijau dominan, seperti layaknya warna bangunan lain saat dark hour tiba. Di puncak menara tersebut tampak, sebuah bulan yang sangat besar sekaligus menakutkan berwarna kuning. Bulan tersebut, saat ini nyaris mencapai fase bulan purnama.
"I, inikah tartarus itu?"
"Wow, menara ini besar sekali…" Souji dan Naoto terdiam sesaat melihat menara itu, bengong sekaligus kagum, atau lebih tepatnya kaget.
"Sudah 2 tahun aku tidak kemari, entah seperti apa sekarang tempatnya." Kata Aigis ikut melihat menara yang membawa kenangan bagi dirinya itu, walau bukan kenangan yang indah.
"Kalau tidak ada yang bisa kemari kecuali kamu seharusnya tidak ada yang berubah dong." Kata Souji kepada robot berambut pirang itu.
"Yah, kuharap begitu. Dari tadi perasaanku tidak enak seiring kita mendekati tempat ini.." katanya dengan wajah yang tampak tegang.
"Tidak ada gunanya kita disini terus 'kan? Ayo kita masuk senpai." Ajak Naoto yang sudah duluan berjalan kedalam menara itu.
"Yah, kau benar." Kata Souji seraya ia melangkahkan kakinya menuju menara itu, begitu juga Aigis.
Ketiganya melangkah semakin dekat ke pintu masuk utama menara itu. Tiba-tiba saja Souji mendengar suara di kepalanya, suara yang sama dengan kemarin malam, bahkan kali ini lebih jelas..
"Do you… fear death?"
"Ugh…" rintih Souji pelan, hingga yang lain bahkan tidak mampu mendengarnya. "Suara itu lagi ya…" pikir Souji.
"Akan kubuka pintunya…"kata Aigis selagi ia membuka pintu gerbang dari menara itu.
'GRUGGUGGUGGUGG, JDHARR!'
"Wah, wah… sudah sangat lama tidak ada pengunjung yang datang kemari…"
"..!"
To be continued…
Author's words
Well, HELL-O! Seperti biasa, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih banyak buat yang me-review yakni: (isi nama). Lalu buat lalanakmalas, seperti yang kau tulis di bagian R&R kata 'kalem' sudah saya kurangi sebanyaknya di chapter ini (walau kelihatannya sekarang saya kebanyakan nulis kata 'santai' sih…) Well, jadi untuk chapter ini memang lebih pendek dari sebelumnya. Yah maklum, chapter sebelumnya 'kan gabungan dari 2 chapter, tapi sudahlah. Dan testku untuk minggu ini sudah selesai dengan hasil yang cukup… menjijikan jika dibandingkan dengan Minato dan Seta yang juara 1. Eh? Enggak ada yang tanya? Yah, biar aja ah… mereka hanya iri kok *diinjak-injak massa* (bercanda….)
Lalu di chapter ini, maaf kepada para Naoto-fans & Souji-fans apabila saya membuat Naoto jauh lebih emosian dan Souji lebih…. Yah mirip Yosuke lah, suka menggoda orang. Jujur saya paling menikmati scene Naoto tampak emosian seperti waktu Naoto dipancing oleh shadownya yang maniak cosplay scientist itu walau saat itu agak berlebihan ejekannya *Dihajar Naoto + Shadow Naoto*.
Lalu buat char P4 yang lain, saya belum tahu siapa lagi yang akan saya munculkan. Sebab dilihat dari sudut logisnya (cieee…) Naoto yang paling memungkinkan untuk pindah, Yosuke dan Rise juga memungkinkan sih… Tapi kalau Rise, menurutku hanya bisa sebagai mood maker aja karena sudah ada Fuuka sebagai analyzer, dua analyzer tidak dibutuhkan seperti peribahasa, kebanyakan koki masakan jadi hangus (emang ada?). Lalu Yosuke, lumayan memungkinkan… Lagipula sifat Yosuke yang trouble maker *ditonjok Yosuke* dan sifat penggoda itu tidak terlalu cocok dengan Souji yang imejnya kutu buku *Didepak Souji* maksud saya pendiam. Saya tentunya tidak mau dihajar massa, eh maksudku para penggemar Souji karena merusak imejnya 'kan?
Well, akhir kata terima kasih buat yang sudah membaca terutama yang sudah me-review. Seperti biasa, segala kritik, saran, dan komentar lainnya akan saya pertimbangkan sebisa mungkin, jadi review sesering mungkin. Jangan lupa untuk komentari gaya bahasa saya (yang menurut saya amburadul), kenalan saya yang diluar jawa (maksud saya yang bisa bahasa jawa) tidak ada yang tahu fanfic jadi saya tidak bisa menanyakan tentang gaya bahasa saya. Dan tentunya tidak mungkin saya menanyakan guru bahasa Indonesia saya tentang fic ini 'kan? BTW, lelucon yang saya selipkan jayus tidak? Disekolah teman-teman bilang saya jayus sih, jadi saya agak khawatir dengan lelucon saya. Kalau jayus mungkin harus saya hilangkan sepenuhnya di chapter berikutnya, dan mungkin gaya bahasanya saya ubah. Jadi, tolong review juga bagian ini ya… Bagi yang masih ujian good luck aja ya! 2 Minggu lagi saya juga ujian lagi kok.
Chapter 4 Update ASAP
GOD BLESS US ALL
—Tetsuwa Shuuhei
