Jadikan Aku Muridmu!

.

.

"Si Haneuma tidak macam-macam padamu kan?" tanyanya seraya membuka pintu apartemennya yang terkunci. Hujan deras membasahi tubuh mereka. Payung yang mereka pakai tak kuasa melindungi tubuh mereka dari ganasnya terpaan air.

"Hn" Yuuya menggeleng. Ia memeluk erat tas ungunya seakan-akan tas itu akan menghilang jika tidak ia pegang. Pintu apartemen itu terbuka dan menampakkan ruangan medium size. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. "Ini benar-benar sesuai dengan Namimori anthem. 'Dai naku shou naku, name ga ii' (not big nor small, Nami (medium) is the best)." Yuuya menyunggingkan seberkas senyum menyadari fakta itu. Kyouya memang orang yang sederhana, sekaligus rumit.

Dia memandangi ruangan itu berkeliling. Perabotan di dalamnya tampak tertata rapi. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di samping jendela. Kyouya yang baru saja masuk ke kamar segera keluar lagi dan melempar handuk ke arah Yuuya. Handuk itu mendarat tepat di atas kepalanya. Yuuya meletakkan tas yang sedari tadi dipangkunya dan menarik turun handuk itu dari kepalanya.

"Mandilah duluan! Setelah itu gantian."

"Baiklaah~…" Yuuya beranjak dari sofa nyaman itu dan mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam tasnya. Ia menghela nafas sejenak ketika ingatan tentang peristiwa tadi siang kembali menyerangnya. Ia meremas pakaiannya, mengalihkan sedikit emosinya ke dalam genggaman tangannya dan segera berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi.

Titik air yang keluar dari mulut shower itu begitu dingin, menghujani kulit Yuuya seperti jarum. Ia memutar penghangatnya dan guyuran jarum dingin itu merlahan menghilang, digantikan oleh guyuran air hangat yang lembut. Ia membersihkan dirinya. Berharap pikirannya juga dibersihkan dengan guyuran air itu. Terlalu banyak hal yang berlarut-larut dalam pikirannya. Mulai dari hal tentang Vongola yang diceritakan oleh Tsuna padanya, rival Kyouya si Rokudou Mukuro, si mesum Dino, hingga masalah pribadinya dengan Kyouya. Ia menghela nafas. Lelah. Perutnya lapar. Hanya onigiri yang ia makan tadi pagi yang mengganjal perutnya.

Ia segera mengakhiri aksi bersih dirinya. Setelah memakai pakaiannya ia segera keluar dari kamar mandi. Bau harum masakan segera tercium ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat Kyouya berdiri di depan kompor. Dia mengaduk-aduk sesuatu dalam panci kemudian menoleh ke arah Yuuya sambil mematikan kompor. Uap air mengepul-ngepul keluar dari panci itu.

"Aku sudah menghangatkan makan malam kita. Makanlah" Ia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Yuuya mengintip ke dalam panci. Ia melihat potongan-potongan jamur dan daging ayam berenang-renang di kuah kekuningan yang agak kental, tapi masih terbilang encer.

~KruuuuukK~

Perutnya berbunyi nyaring tanpa persetujuannya. Ia menoleh ke arah kamar mandi. Berharap Kyouya tidak mendengarnya. Tidak ada tanda-tanda Kyouya akan melongok keluar dan mengejeknya. Gemericik shower sudah terdengar dari bilik kecil itu. Ia tersenyum dan mengambil mangkuk dari rak kecil di sampingnya. Menyendok isi panci dan membawanya ke meja makan. Ia memakannya perlahan. Panas. Tapi enak. Dulu Kyouya sering membuatkan masakan seperti ini untuknya. Ia rindu saat-saat itu. Ia menahan air matanya supaya tidak menetes dan kembali mengisi perutnya yang keroncongan dengan sup hangat buatan sang kakak.

Kyouya keluar dari kamar mandi, selembar handuk menutupi pinggangnya hingga ke paha. Pakaian kotor tersampir di lengan kanannya. Ia berjalan menuju mesin cuci dan memasukkan pakaiannya serta pakaian Yuuya yang basah ke dalamnya. Ia mencucinya. Kemudian, ia masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian ia keluar dengan ki-nagashi hitam yang membalut tubuhnya. Ia melihat ke arah meja makan, mencari Yuuya. Sosoknya ia temukan sedang tertidur pulas dengan bersandar pada meja dengan posisi telungkup. Tangannya yang disilangkan di atas meja dijadikannya alas untuk kepalanya.

Kyouya mengalihkan pandangannya dari Yuuya dan menangkupkan tangan kanannya di mulutnya. "Manisnya…" Ia berusaha menahan senyumnya. Semburat merah mulai bersemu di pipinya. Sister complex yang ia idap mulai kambuh lagi. Ia mengamati sosok gadis berambut hitam itu sejenak. Punggung gadis itu naik turun teratur seiring dengan alunan nafasnya.

Kyouya menghela nafas. Ia mengelus rambut halus Yuuya dengan tangan kanannya. "Kalau kau tidur di sini kau nanti bisa masuk angin…" katanya pelan. Bukan untuk didengar. Tapi untuk kepuasan dirinya sendiri. Ia mengecup pelipis adiknya itu dengan lembut dan mulai mengangkat tubuh mungilnya, menggendongnya dan meletakkannya dengan lembut di atas kasurnya yang empuk. Ia menyelimuti gadis itu. Melindunginya dari serangan hawa dingin, lalu mengecup pelan keningnya yang hangat.

"Selamat tidur Yuuya"

-xXx-

"Miidori tanabiku namimori no~
Daai naku shou naku, name de ii~"

Terdengar penyanyi sopran, bukan, suara Hibird yang menyanyikan lagu mars Namimori. Suara itu begitu dekat dengan telinganya dan memaksanya untuk bangun.

"Uhm… dimana aku?" ia memandang berkeliling. Sebuah ruangan yang tidak familier. Burung kuning kecil milik Kyouya terbang dan bertengger di puncak kepalanya. Ia pun beranjak keluar dari kamar itu dengan mata yang masih separuh terpejam. Ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kepalanya, mengusir Hibird yang tadinya bertengger di sana. Ia duduk di salah satu kursi di sekeliling meja makan bundar berdiameter 100cm itu. Ia kembali melanjutkan tidurnya, memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di atas meja dengan posisi telungkup. Tiba-tiba sepasang tangan dingin dan basah menyentuh tengkuknya. Ia pun terlonjak kaget dan memutar tubuhnya dengan cepat, hanya untuk mendapati Kyouya berdiri di belakangnya dengan celemek hitam yang menutupi seragam Namimorinya. Kedua tangannya yang basah masih terbuka. Posisinya belum berubah banyak sejak ia memegang tengkuk Yuuya dengan kedua tangan jahilnya itu. Senyum jahil terkembang di wajahnya. Yuuya menghela nafas dan kembali melanjutkan tidurnya di meja. Tak berapa lama kemudian, Kyouya meletakkan dua buah piring berisi sarapan mereka pagi itu dan duduk di kursi yang ada di seberang Yuuya. Tanpa dikomando, mereka mulai menghabiskan sarapannya.

"Nee… Kyouya…"

"Hn?"

"Rokudo Mukuro itu… siapa?" Yuuya bertanya pelan. Gerakan Kyouya terhenti. Ia menatap tajam ke arah gadis di seberang meja. "Kudengar kau pernah kalah darinya..." Kyouya berdiri sambil menggebrakkan tangan di atas meja. Tidak terlalu keras memang, tapi cukup untuk menggambarkan seberapa antinya Hibari Kyouya pada Rokudou Mukuro.

"Jangan pernah menyebut nama itu lagi di hadapanku!" mata Yuuya melebar melihat reaksi kakaknya yang segera berjalan ke dapur, entah melakukan apa.

"Hmmm… reaksi yang menarik. Sepertinya Rokudou Mukuro ini orang yang benar-benar hebat. Aku harus menemukannya hari ini." seberkas senyum, senyum licik, menghiasi wajahnya. Dia harus mencari tahu keberadaan orang bernama Mukuro ini. Kemudia ia teringat teman barunya, Tsuna. Senyumnya pun melebar.

-xXx-

Sekolah telah usai. Setelah memaksa Tsuna untuk memberitahukan keberadaan Mukuro, dia berjalan menuju kediaman Mukuro. Peta yang digambarkan oleh Tsuna cukup jelas untuk dimengerti. Mendung masih menggantung di langit dan udara di luar cukup dingin. Dia mempererat jas sekolahnya dan terus berjalan.

Tempat itu terlihat seperti lokasi shooting film horror, dengan gambar hitam putih. Langit mendung membuat tempat itu kehilangan warna. Di sana sangat sepi. Ia melangkah perlahan dengan hati-hati. Ia membayangkan seperti apakah Rokudou Mukuro itu? Mungkin ia adalah seorang pria besar seperti Kusakabe dengan kekuatan yang lebih besar sehingga ia bisa membuat Kyouya dendam padanya. Dia dengar, Rokudou Mukuro pernah mengalahkan Kyouya dalam sebuah pertarungan. Itu artinya Rokudo Mukuro cukup kuat. Dia hampir sampai di bangunan terbesar ketika tiba-tiba ia mendengar suara auman. Yuuya mengeluarkan kedua tonfanya, memasang kuda-kuda.

Dua orang laki-laki dengan seragam berwarna hijau menampakkan diri dari dalam gedung itu. Menuruni beberapa anak tangga hingga akhirnya sampai di permukaan tanah yang berhias lumut dan rumput liar. Salah satu dari mereka berambut pirang, dengan aura seperti hewan. Yang satunya lagi mengenakan kacamata dan topi aneh, dengan barcode di pipi kirinya. Ia memiliki aura yang suram. "Mereka pasti anak buah Mukuro yang diceritakan oleh si Bakadera. Kata si Bakadera, mereka cukup tangguh. Tidak, aku ke sini bukan untuk mereka. Aku di sini untuk Mukuro"

Yuuya menurunkan tonfanya dan berjalan ke arah mereka. "Aku ingin bertemu dengan Rokudou Mukuro."

"Siapa kau? Kenapa mencari Mukuro-sama?" tanya si pria berkacamata.

"Pulang sajalah kau, byon!" usir si pirang.

"Byon?" Yuuya agak terkejut. Ia tidak menyangka pria dengan wajah sangar ini bakal menambahkan kata-kata yang menggelikan seperti 'byon' di belakang kalimatnya.

"Mungkin Rokudou Mukuro tidak semenakutkan apa yang diceritakan Tsuna. Tapi, bagaimana dia bisa membuat Kyouya sampai seperti itu?" batin Yuuya

"Jaa… katakan saja dimana Rokudou Mukuro. Ada hal penting yang harus kubicarakan" kata Yuuya tenang. Namun, dibalik ketenangannya ia mempererat genggamannya pada tonfa yang dipegangnya. Bersiap menyerang seandainya diperlukan.

"Kufufufufu…" suara tawa yang khas itu terdengar dari belakang Ken dan Chikusa. Sesosok pria berambut model nanas berwarna biru muncul. "Rasanya wajahmu tidak asing… Apa kita pernah bertemu nona?"

Yuuya mengerutkan alisnya. Trio aneh yang berdiri di hadapannya membuatnya merasa berada di alam lain. "Aku ingin bertemu dengan Rokudou Mukuro." ia memandang lurus ke mata dwiwarna pria nanas biru di hadapannya, tidak mempedulikan pertanyaan pria itu.

"Aku Rokudou Mukuro." Dia pun turut menuruni anak tangga itu dan berjalan mendekati Yuuya. Tangannya mendekam hangat di dalam saku celana hijau Kokuyou yang ia kenakan. Kedua tonfa di tangan gadis itu menarik perhatiannya. "Kau mirip dengan seseorang yang aku kenal." Mukuro menghentikan langkahnya satu meter di hadapa Yuuya. Ia membungkukkan badannya, menyejajarkan tinggi kepala mereka dan mengamati gadis itu. Yuuya mundur selangkah. Mengantisipasi apa yang akan Mukuro lakukan selanjutnya.

"Oya, oya…" ia kembali menegakkan badannya. "Kau mirip sekali dengan Kyouya! Seperti female version Kyouya… dan lebih muda." Yuuya merinding mendengar pernyataan itu. Suara ramah Mukuro terdengar seperti suara host yang sering ia lihat di film-film picisan yang ditayangkan di televisi. Mukuro meletakkan jarinya di bibirnya, mengamati Yuuya lebih lanjut. "Saa… kenapa kau mencariku?"

Yuuya jadi tersadar tujuan utamanya datang mencari rival Kyouya. Orang yang pernah mengalahkan Hibari Kyouya.

"A…ano…" Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat sebelum meneruskan kembali kata-katanya.

"Rokudou Mukuro! Jadikan aku muridmu!"

-To be Continued-