Akhirnya~ setelah bebas dari iblis bernama UTS, aku bisa balik lagi. Yup, chap VI (?) is update! :D

Disclaim : Seorang remaja bernama Els. #dijitak

Warn : Yaio (?), Lime/Melon (?), gaje, OOC, Typo(s), EYD berantakan, alur kecepetan, minim pendeskripsian, etc.

Pair : BiruOrange.

Rated : Masih Romance

Genre : T-M

A/N : Maaf, buat chap ini gak ada blsan review, mungkin di chap depan. Khusus buat 'A-chan Is Happy', kok kau nyasar ke FNI? Ke Yaoi pula! Haha. Oya, di sini ada Lemon, kau kuat gak bacanya? Tapi kayaknya kuat ya, coz kau udh review semua fict rated M ku yg ada Lemonnya (Makasih ya). Maaf, udh jarang main ke fandom GA, kena virus Fujoshi sih. #nyengir.

Don't Like? Don't read!

#*#*#*#*#

Chap IV

Sasuke tersenyum simpul, "Hn, begitu?"

Naruto menghela napas, mengunci kamar Sasuke, dan berjalan kearah si pemilik kamar. Sasuke mengulurkan tangannya begitu Naruto mendekat, dan disambut oleh si pirang.

Bruk!

"Uuh… Jangan terburu-buru begitu, Tuan Muda," ujar Naruto yang telah berada di bawah Sasuke.

Sasuke tersenyum, lalu menempelkan keningnya pada Naruto, "Maaf, aku rindu denganmu, bodoh. Lagipula kemarin tertunda-tunda,"

Sasuke langsung memulai aksinya, perlahan dia mulai mencium bibir si pirang dengan lembut. Naruto sudah memejamkan matanya kuat-kuat, takut kalau ciuman Sasuke kali ini sama dengan ciumannya yang pertama kali dengan si raven—yang menurutnya ganas.

Namun setelah ditunggu beberapa saat, ciuman itu tak kunjung 'memanas', melainkan terlepas. Naruto membuka matanya perlahan. Mata mereka bertemu.

"Kenapa kau terpejam seperti itu?"

"A-Ah, maaf Tuan Muda. Sa-saya hanya… Uum…"

"Kenapa? Kau terpejam seperti orang ketakutan tadi,"

"I-Itu…"

"Jawab saja, Naruto,"

Naruto memalingkan wajahnya, "Itu… Karena saya kira Anda akan mencium saya sama seperti saat insiden waktu itu,"

Sasuke tersenyum kecil, dia mengerti apa maksud Naruto, "Maaf, waktu itu aku sudah tidak bisa menahan diri lagi,"

"Ya, saya mengerti," Naruto juga tersenyum.

"Atau jangan-jangan kau malah ingin aku menciummu seperti waktu itu?" goda Sasuke.

"Eh? Bu-Bukan! Ke-kenapa Anda malah berbicara seperti itu?"

"Ya, siapa tahu saja benar,"

Naruto menggembungkan pipinya sesaat, kemudian tersenyum, "Lakukan dengan perlahan, Tuan Muda,"

Sasuke kembali menempelkan keningnya pada kening Naruto, "Ya, itu pasti,"

Sasuke memulai kembali aktivitasnya yang sempat tertunda, dia kembali mencium bibir si pirang.

Memang ciuman itu semakin lama semakin ganas, tetapi tidak seganas seperti yang pertama. Kembali bermain lidah? Tentu saja.

Tangan Naruto mengalung di leher Sasuke, sedangkan tangan Sasuke mulai menyusup ke dalam kaos Naruto. Meraba setiap jengkal tubuh si pirang.

"Mmh… Ngh…"

Sasuke memainkan titik sensitif yang ada di dada si pirang, sementara wajahnya bermain di leher si pirang, membuat beberapa kissmark di sana.

Puas dengan lehernya, dia menuju dada Naruto, mengulum salah satu titik sensitif yang ada di sana, sementara tangan lainnya terus memainkan yang satunya.

"Ah… Ah…"

Tangan kanannya mulai menuju ke bagian bawah Naruto, meremas 'barang' milik si pirang dari luar.

"Aaahh! Ja-Jangan memainkan bagian itu, Tuan Muda—Aah!"

"Memangnya kenapa, hn?"

"Kenapa Anda suka sekali memainkannya?—Ngh!"

"Karena di situlah titik lemahmu,"

"Ah! Hentikan, Tuan Muda!"

"Tapi…,"—Tangan kiri Sasuke mulai menyusup kembali ke dalam kaos si pirang, menuju titik sensitif yang ada di sana. Sementara wajahnya menuju leher si pirang, tangan kirinya? Tetap di bawah.—"Lebih enak kalau seperti ini, Naruto,"

Sasuke langsung memulai aksinya tanpa aba-aba, Naruto yang merasakan semua titik sensitif-nya disentuh hanya bisa mendesah keras.

"A-Aah! Ah! Apa yang Anda lakukan, Tuan Muda?—AAH!"

"…"

"Hentikan… Tuan Muda—Ngh!"

"…"

"Sa-Saya mohon—AAH! Akh!"

Sasuke menatap Naruto, "Hn, kalau begitu berhentilah berbicara formal, bahkan di saat seperti ini kau masih saja memakai etika berbicara sopan, aku tidak suka gaya bicara formalmu itu,"

"Tidak—AAH!" Sasuke langsung meremas 'barang' si pirang ketika tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh si pirang; 'Tidak bisa,'.

"Tidak ada kata 'tidak bisa', dan sebut namaku, Naruto. Atau kau mau aku tidak berhenti melakukan ini?" Sasuke mempercepat setiap gerakannya.

"A-AAH! Tuan Muda, saya mohon hentikan—AH!"

"Seperti yang aku bilang tadi,"

Harus berhenti berbicara sopan dan menyebut langsung nama Tuan Muda-nya? Tentu si pirang canggung melakukannya, "A-Aku… Aku…"

"Teruskan, Naruto,"

"A-Aku… Aku mohon hentikan…,"—Naruto menggigit bibir bawahnya sejenak, ragu untuk menyebut nama sang Tuan Muda—"Sa… Sasuke…"

Sasuke tersenyum kecil, dia menghentikan aktivitasnya, "Akhirnya,"

Naruto terdiam, dia sudah kehabisan napas, bisa dilihat dari dirinya yang terengah-engah.

Sasuke memeluk Naruto, menempelkan keningnya pada kening si pirang, "Kau lelah ya,"

Naruto mengalungkan tangannya lagi di leher Sasuke sambil mengatur napasnya, "Tuan Muda, itu adalah perintah tersulit yang pernah saya terima, apalagi di saat seperti tadi,"

"Menyenangkan, bukan? Lagipula kau sudah bilang kalau kau akan mencoba berhenti berbicara formal padaku, tapi sampai sekarang belum ada perubahan. Jadi apa boleh buat? Sepertinya memang harus kupaksa sedikit,"

Naruto menghela napas.

Sasuke mencium sekilas bibir si pirang, "Kau sudah tidak lelah?"

"Masih sedikit, tapi tidak selelah tadi,"

"Kalau begitu kita lanjutkan,"

"A-Apa? Masih ada?"

"Tentu, jangan bilang kalau kau berpikir ini sudah selesai,"

Sasuke melepaskan pelukannya, begitupun Naruto. Sasuke segera menuju organ vital si pirang, dia membuka celana si pirang.

"Tu-Tunggu, Tuan Muda. Anda mau apa?"

"Melakukan round terakhir,"

Sasuke segera mengulum 'barang' si pirang, membuat si pirang kembali mendesah. Dia memaju-mundurkan kepalanya.

"AAH! AAH!"

"Hn, seperti biasa, cepat mengeras," Sasuke menyeringai, dan kembali mengulumnya.

"AH! Tuan Muda, sudah cukup!"

Sasuke tidak memperdulikan Naruto, dia terus mengulumnya.

"Tuan Muda, saya—Akh!"

Sasuke mengerti, si pirang sudah mau mencapai klimaks-nya. Karena itu dia semakin mempercepat gerakannya.

"AAAH!" Naruto mendesah saat cairan putih itu akhirnya keluar dari tubuhnya, cairan itu tentu langsung ditelan oleh sang penerima.

Sasuke mengeluarkan 'barang' Naruto dari mulutnya, dia menghela napas saat melihat keadaan Naruto yang kelelahan, "Maaf Naruto, aku tidak akan memberimu istirahat lagi,"

Si raven melebarkan kaki si pirang dan langsung memasukkan salah satu jarinya, di susul oleh jari ke dua dan ke tiga.

"Akh! Ah… Hah…"

Sasuke mengeluarkan jari-jarinya, dan langsung memposisikan 'barang'nya di depan rektum Naruto, "Naruto, mungkin ini memang sedikit sakit, tahanlah,"

Naruto ragu sejenak, tapi kemudian dia mengangguk.

Si raven mulai memasukkan ujungnya secara perlahan, dan terus mendorong agar masuk seluruhnya.

"Akh! Sa-sakit, Tuan Muda,"

"Tahanlah sedikit, Naruto. Ini hanya akan sakit sebentar,"—Sasuke masih terus berusaha memasukkan 'barang'nya dengan perlahan—"Kau sedikit sempit,"

"Apa boleh buat, aku harus melakukan ini," Tanpa memberi aba-aba, Sasuke langsung menghentakkan 'barang'nya.

"AAAHH!" Naruto terkejut merasakan hentakkan itu, sakit memang. Dia juga merasakan 'barang' Sasuke telah seutuhnya berada di dalam dirinya.

"Sakit?"

"Ya, sedikit,"

"Boleh aku mulai?"

Naruto mengangguk.

Sasuke segera memulainya, dia memaju-mundurkan miliknya dengan perlahan yang semakin lama semakin cepat.

"AH!"

Binggo! Ketemu titik terdalamnya, Sasuke tidak menghentikan aktivitasnya, dia terus mendorong dan menghantam titik terdalam si pirang.

"AH! AH! AAH! Tuan Muda!"

"Sebentar lagi, Naruto. A-Aku…"

Sepertinya Sasuke juga sudah mau mendekati klimaks.

"Na-Naruto…" Satu hentakkan terakhir, berhasil membuat cairan putih itu keluar dari tubuh sang Tuan Muda.

"AAAH!"

#*#*#*#*#

Sasuke terbangun dari tidurnya, dia menoleh kearah kiri, didapatinya seorang berambut pirang masih tertidur dengan pulasnya, wajahnya pun damai. Sasuke tersenyum melihat kepolosan wajah itu.

Diciumnya kening si pirang, lalu dipeluknya tubuh itu.

"Ngh…" Perlahan mata si pirang mulai terbuka. Sasuke tahu, tapi dia tidak kunjung melepaskan pelukannya.

"Pagi," bisik Sasuke di telinga Naruto. Wajah putih itu turun menuju leher si pirang, diciumnya leher tersebut.

"Uuh… Tuan Muda, kita baru melakukannya kemarin malam,"

"Aku tahu, aku hanya ingin menghirup aroma citrus-mu saja," ujar Sasuke yang masih terus 'bergelayut' di leher Naruto.

Naruto menghela napas, "Saya mau mandi, Tuan Muda,"

"Akh!" pekik Naruto saat merasakan gigitan Sasuke di lehernya, "Ma-Maaf, maksudnya aku mau mandi,"

"Dari kemarin kau itu tidak bisa merubah cara bicaramu,"

"Maaf, beri aku waktu. Kalau begitu, aku mau mandi dulu,"

"Mandi saja di sini,"

"Tidak ada bajuku di sini,"

"Pakai saja bajuku,"

"Tidak,"

"Ini perintah,"

"Ayolah, Tuan Muda. Jangan begitu, lagipula aku harus menyiapkan sarapan untukmu,"

Sasuke tersenyum, "Gaya bicara yang baik, pakailah cara berbicara seperti itu padaku,"

Naruto balas tersenyum, "Tentu, seperti yang kau mau,"

Sasuke bangun dari posisinya, begitupun Naruto. Si pirang merapikan pakaiannya agar tidak terlihat kusut dan segera keluar dari kamar itu. Naruto tersenyum sebelum benar-benar menutup pintu kamar tersebut.

Lorong mansion ini masih sepi, berhubung ini juga masih jam enam. Mansion ini akan terasa ramai pukul tujuh nanti.

Naruto berjalan menuju kamarnya, segera mandi dan lain-lain.

#*#*#*#*#

Sekarang sudah menunjukkan pukul setengah delapan, saatnya para Uchiha untuk sarapan. Naruto sibuk menata peralatan makan yang ada di meja itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya sang ayah pada si bungsu.

"Sudah lebih baik,"

"Hm, baguslah. Fisikmu memang kuat,"

"Sudah minum obat, Sasuke?" Kali ini sang ibu yang bertanya.

"Tidak. Sekali minum obat saja sudah cukup,"

Mikoto tertawa kecil, "Kau itu memang pembenci obat,"

"Ayah ingin tahu,"—Fugaku mengalihkan pandangannya pada Naruto—"Naruto, bagaimana caramu meminumkan obat pada Sasuke?"

GLEK!

Naruto langsung mematung di tempat, wajahnya pun sudah mulai panik.

"Uhuk! Uhuk!" Sedangkan Sasuke langsung terbatuk mendengar pertanyaan ayahnya.

"Ada apa denganmu, Sasuke?" tanya Mikoto khawatir.

"Ti-Tidak, tidak apa-apa," Sasuke segera mengelap bibirnya dengan serbet yang tersedia.

"Naruto?" panggil Fugaku.

"I-Iya, Tuan?"

"Apa jawabanmu?"

"E-Eh? I-Itu… Saya hanya meminumkannya seperti biasa,"

"Apa benar? Pasti kau menggunakan cara yang unik 'kan? Tidak mungkin semudah itu Sasuke mau meminum obat. Lagipula waktu itu dia bilang kau menggunakan cara yang menarik,"

Naruto semakin mematung, tentu rasa paniknya semakin besar, "A-Ah, tidak kok. Sa-Saya tidak menggunakan cara yang menarik, mungkin Tuan Muda terlalu menganggapnya berlebihan,"

Sasuke mendengus, "Sudahlah, Tou-san. Sudah kubilang Tou-san tidak perlu tahu,"

"Sebegitu menariknya kah sampai tou-san dan kaa-san tidak boleh tahu?"

"Ya,"

Fugaku menghela napas, "Baiklah, kali ini benar-benar terserah padamu,"

"Hn,"

"Ah ya, Sasuke. Siang ini kita akan ke tempat Itachi,"

Sasuke sedikit terkejut mendengarnya, "Ke tempat aniki? Untuk apa?"

'Aniki? Jadi Tuan Muda punya kakak laki-laki?' batin si pirang.

"Tidak apa, hanya sekedar menengok saja,"

"Apa kita akan menginap?"

"Tentu saja, siapkan bajumu. Kita akan menginap di tempatnya selama satu atau dua hari,"

Sasuke mendengus, "Satu hari atau aku akan nekat pulang sendiri,"

"Jangan memasang raut wajah seperti itu. Naruto akan ikut,"

Dua kali Sasuke dan Naruto terkejut. Si raven menatap ayahnya, mengeluarkan raut tanda tanya.

"Ayah tahu kau tidak akan tahan kalau tidak ada yang melayanimu. Itachi 'kan tinggal sendiri, tentu tidak ada pelayan di sana,"

Sasuke tersenyum, "Tou-san memang selalu tahu apa yang kusuka,"

#*#*#*#*#

"Kau sudah siap, Naruto?" tanya Sasuke saat melihat Naruto yang sudah rapi dengan sebuah tas kecil bertengger di tangannya.

"Ya,"

"Pinjam tas-mu,"

Naruto menatap bingung pada Sasuke, kemudian memberikan tas-nya. Lalu dengan entengnya, Sasuke mengeluarkan seluruh barang yang ada di tas kecil itu sehingga berantakan di tempat tidurnya.

"A-Ah, apa yang Anda lakukan, Tuan Muda?"

'Lagi-lagi,' batin si raven. "Aku hanya ingin melihat barang apa saja yang kau bawa," lanjutnya.

Sasuke memilah-milah barang yang dibawa oleh Naruto, dan melemparkan tailcoat hitam pada si pirang, "Itu tidak usah dibawa,"

"Eh? Kenapa? Itu 'kan pakaian—"

"Aku tidak suka melihatmu bekerja menggunakan tailcoat hitam itu,"

"Lalu apa yang akan saya pakai untuk bekerja?"

"Naruto!" Sasuke menatap tajam pada Naruto.

"A-Ah, ma-maksudku, nanti aku pakai apa untuk bekerja?"

"Kau bisa memakai pakaian yang biasa,"

"Apa tidak apa?"

"Hn,"

Sasuke segera memasukkan barang-barang Naruto yang tersisa ke dalam tasnya.

"Eh? Kenapa barang-barangnya dimasukkan ke situ?"

"Kau akan tidur bersamaku di sana, jadi satu tas saja sudah cukup,"

"Tidur bersamamu?"

"Ya, di sana tidak ada pelayan, tentu saja jumlah kamarnya juga tidak sebanyak di sini,"

Sasuke berjalan keluar kamar diikuti oleh Naruto. Mereka menuju ke depan mansion, di sana sudah terdapat sebuah mobil yang siap berangkat.

Mobil itu berjalan setelah semua penumpang berada di dalamnya.

TBC

Asiiiikk~ udh gak punya utang Lemon lagi sm para readers. Udah lbh panjangkah? Udah dong! Jgn ada yg minta Lemon lagi lho ya! #tampared, canda-canda. Sedikit bocoran *Asiiikk* nanti bakal ada Lemon lagi, mungkin di chap VI? ==a Tapi gak tau jadi/gak, coz baru rencana. Jadi jangan ada yg berharap banyak dulu ya, nanti kecewa. ;)

Special thanks buat Lavender Hime-chan. Makasih ya, setelah aku pikir2, kata2 km di sms ada benernya juga. Makanya aku gak jd hiatus-in fict ini. Arigatou, imou-chan! (khusus buat skrng aku gak bakal godain nama panggilanmu, haha) :D

Dan itu… Boleh minta usul gak mereka ngapain aja di rmh Itachi? Coz aku buntu, gak dpt2 ide yg cocok. Itu aja yg scene mereka main ke rmh Itachi dpt usul dr temen. Gak nyangka ujung2nya aku bakal buntu sendiri. Kirain bakal dpt ide baru dgn ngikutin usul temen, ternyata oh ternyata… -_-' Jadi, ada usul?

Haah~ jgn pada males review ya, aku butuh bgt bantuan kalian. -_-'