Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M

Pairing: SasuNaru

Warning: AU, Shounen-ai, Typo(s), Abal, violence scene, and A little bit OOC maybe.

Don't Like Don't Read!

Obsesi seseorang terhadap suatu hal itu bagaikan sebuah perangko yang melekat pada sebuah amplop surat. Tidak mudah untuk melepasnya. Kalaupun dapat terlepas, salah satu akan rusak. Jika bukan amplopnya yang sobek maka perangko tersebut dapat rusak atau bahkan keduanya dapat rusak. Ketika sang pemilik obsesi dipaksa pergi menjauh dan meninggalkan obsesinya, maka keduanya dapat rusak di saat yang bersamaan dan hal itu cukup sulit untuk dihindari.

Ketika salah satu terluka, yang satunya akan merasa bahwa ini semua karena mereka saling menjauh satu sama lain. Ketika obsesi tersebut sudah melewati takaran akal sehat seorang manusia, di saat itulah kekerasan mulai membakar emosi. Setetes darah kini tak berarti lagi. Membunuh bukanlah hal yang tabu. Saat cara biasa tak mampu menjangkau logika, memiliki tubuhnya yang terlepas dari raga pun merupakan suatu hal yang membuat sang pemilik obsesi tersenyum lebar.

I am not Sane

4th Chapter

Thank You

Sasuke menatap Gaara yang sedang tersungkur di hadapannya dengan nyalang. Kedua manik hitam miliknya tampak berkelabut oleh emosi yang membuncah. Sasuke mendekati Gaara dan menraik rambunya dengan kasar. "Brengsek! Apa yang ada di dalam otakmu, hah? Kau bisa membunuhnya!" Sasuke kembali memukul wajah Gaara yang kini penuh dengan darah segar. Darah segar tampak menyelimuti kepalan tangan kanan Sasuke—tidak lain dan tidak bukan adalah darah Gaara. Sasuke membanting tubuh Gaara ke piano besar yang ada di belakang Gaara.

BRUAK

Sasuke hendak memukul Gaara lagi, namun sebuah suara kecil menghentikan gerakannya. "He-hentikan. Ku-kumohon hentikan," ucap Naruto sembari menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa begitu kaku dan tak dapat digerakkan. Dapat mengeluarkan kata-kata itu sudah lebih baik daripada dia hanya berdiam diri menunggu ajalnya. "Lepaskan Gaara dan pergilah dari sini."

"Apa maksudmu, Naruto? Dia hampir saja membunuhmu!" Sasuke perlahan meninggalkan Gaara yang masih dapat memasang seringaiannya dan mendekati Naruto yang sedang menutup kedua matanya. "Aku harus membawamu pergi dari sini," ucap Sasuke sembari mencoba mengangkat tubuh Naruto. Namun sedetik kemudian Sasuke sudah tersungkur di bawah piano besar tersebut dengan kepala yang berlumuran darah.

Gaara tersenyum lebar di balik wajahnya yang penuh dengan darah tersebut. "Sudah kukatakan kau tak boleh menyentuh Naruto. Sampai kapanpun dia akan menjadi milikku. Sampai aku mati." Naruto hanya mampu memejamkan kedua matanya dengan erat saat melihat Gaara memegang sebuah besi penyangga jendela yang berlumuran darah dan tubuh Sasuke yang terbaring tak sadarkan dirimu dengan kepala yang mengalirkan darah segar. "Naruto kita ke apartemenku." Naruto hanya menggangguk dan membiarkan Gaara mengambinnya. Naruto sempat berusaha menolehkan kepalanya dan melihat keadaan Sasuke yang sama sekali tak menandakan kehidupan.

"Don't die." Naruto mengucapkan kata-kata itu di dalam hati sebelum menidurkan kepalanya di bahu Gaara. Naruto berharap ada seseorang yang melihat Sasuke dan segera membawanya ke rumah sakit. Sasuke bisa mati jika dibiarkan mengeluarkan darah terus-terusan seperti itu. Naruto tiba-tiba membuka matanya dan melepaskan sebelah tangannya dari leher Gaara dan mengambil ponsel yang ada di kantong celananya. Berusaha agar Gaara tak melihat apa yang sedang dilakukannya. Naruto kemudian mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkan pesan tersebut ke salah satu kontak yang dia tahu dapat diandalkan pada saat seperti ini. Setelah mengetikkan pesan tersebut, Naruto kembali memasukkan ponselnya.

"Apa yang kau lakukan, Naruto?"

"Hm? Bawa aku pulang. Aku lelah dan ingin tidur." Mendengar jawaban Naruto, Gaara hanya menganggukkan kepalanya dan mengangkat tubuh Naruto sedikit. "Aku ingin kau menemaniku, Gaara." Gaara menyeringai mendengar kata-kata Naruto barusan.

"Tidurlah," ucapnya sembari meletakkan Naruto ke dalam mobilnya. Gaara sampat mengecup kening Naruto dengan lembut dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Dia mengambil segumpal tisu yang ada di sebelahnya dan membersihkan wajahnya yang penuh dengan darah. Dia tersenyum saat berbalik dan menatap Naruto yang sedang tertidur dengan pulas. "Gomen," lirihnya sembari mulai menjalankan mobil tersebut. Gaara mengerutkan keningnya heran saat ada mobil yang cukup dikenalinya berhenti tepat di depan gerbang kampusnya. "How nice, Naruto," ucapnya sembari mengambil ponsel Naruto dengan pelan—berusaha untuk tidak membangunkannya. "Kau melembut," tambahnya saat membaca pesan terakhir yang ada di kotak terkirim Naruto. "Sepertinya aku memang harus menyingkirkanmun, Uchiha."

.

.

.

Shikamaru memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang kampus Naruto dengan terburu-buru. Matanya kembali menatap layar ponsel yang sedang menerakan sebuah pesan dari Naruto. Ini pertama kalinya Naruto menghubunginya setelah beberapa tahun dia tak dapat menemuinya.

[Ruang musik.]

Hanya itu pesan yang disampaikan Naruto. Shikamaru tidak tahu dan sebenarnya tidak mau tahu apa yang akan dia temukan di ruang musik tersebut nantinya. Namun karena ini berhubungan dengan Naruto, akhirnya Shikamaru bergegas menuju ruang musik tersebut. Cukup gampang menemukannya karena Shikamaru tahu benar tentang denah kampus besar ini. Shikamaru mendorong pintu tertutup yang ada di hadapannya. Satu hal yang langsung menyapanya saat dia membuka pintu tersebut, bau anyir dan ruangan yang penuh dengan … cairan berwarna merah—darah kental. Shikamaru menjatuhkan pandangannya pada sosok yang sedang tergeletak tak sadarkan diri di bawah sebuah piano besar yang penuh dengan lumuran darah.

Shikamaru mengeryitkan keningnya saat menghampiri sosok tersebut. "Uchiha?" desis Shikamaru saat melihat wajah sosok tersebut. Shikamaru mengutuk saat merasakan nadi Sasuke sudah mulai melemah. Dengan cepat Shikamaru menghubungi seseorang untuk membersihkan ruangan tersebut dan membawa Sasuke keluar dari ruangan itu. Sesampainya di depan gerbang, Shikamaru meletakkan tubuh Sasuke dengan hati-hati ke dalam mobilnya. Dia menghela napas lelah dan segera mengandarai mobilnya dengan kelajuan di atas rata-rata. Shikamaru masih memiliki satu pertanyaan yang terngiang di dalam otaknya, "Apa Naruto yang melakukan ini terhadap Uchiha?" Shikamaru membatin sembari menatap lurus ke depan. Setidaknya dia harus menyerahkan Uchiha ini ke rumah sakit terlebih dahulu. Dia bisa menyelidiki hal ini belakangan. Dia tidak ingin ada mayat di dalam mobilnya nanti.

-VargaS. Oyabun-

Gaara meletakkan tubuh Naruto di atas ranjangnya dengan sangat hati-hati—memerhatikan luka yang dia torehkan sebelumnya di tubuh Naruto. Gaara tersenyum tipis dan mengambil sebuah kotak obat yang memang selalu tersedia di rumahnya. Gaara menyobek pakaian Naruto dengan perlahan, kini Naruto hanya memakai boxer. Dengan perlahan Gaara membersihkan luka-luka Naruto dengan telaten. Seperti layaknya seorang profesional yang selalu menghadapi hal seperti ini setiap harinya. "Maafkan aku Naruto. Lebih baik jika aku yang melukaimu daripada kau dilukai oleh orang lain. Baik fisik Maupun mentalmu,"bisik Gaara sembari memerban tubuh Naruto dengan rapi. Gaara mencium bibir Naruto dengan pelan—takut akan memperbesar luka di sudut bibir Naruto.

"Engh, Gaa-Gaara?"

Gaara menggigit bibir bawah Naruto dengan pelan sebelum menjilatnya. Naruto hanya mampu mendesah saat Gaara melesakkan lidahnya untuk mengeksplorasi rongga mulut Naruto yang hangat. Gaara meraba tubuh Naruto yang terbalut perban dengan pelan, membuat Naruto kembali mendesah sembari memejamkan matanya.

"Gaa-ah! Hen-hentikan," Naruto mencoba membuka matanya dan menatap Gaara yang saat ini sedang bermain di lehernya. Mendengar ucapan Naruto, Gaara menghentikan aktivitasnya dan menatap Naruto dengan tampang yang sedih.

"Suatu saat, aku bahkan akan memiliki hatimu," ucapnya pelan sembari bangkit dari tubuh Naruto dengan perlahan. Gaara tak menatap Naruto berang sedetik pun dan langsung meninggalkannya begitu saja. Naruto yang mendengar ucapan Gaara hanya mampu membisikkan kata maaf yang hanya mampu dia dengar sendiri. Mungkin akan tiba saatnya di mana Gaara akan lepas kendali dan memakannya saat itu juga. Beruntung hal tersebut belum terjadi dan selama dua tahun Gaara telah mengklaim Naruto sebagai miliknya, Naruto masih dalam keadaan perjaka.

Dua tahun Naruto hanya menghabiskan sebagian waktunya dengan Gaara, namun anehnya … mereka bukanlah sepasang kekasih. Ini hanya perasaan sepihak. Naruto yang juga merupakan anti sosial semenjak kepergian orang tuanya hanya menerima hal tersebut dengan senang hati. Selama dengan Gaara, tak ada seorang pun yang mendekatinya. Hal tersebut membuat Naruto tak perlu lagi berusaha menjauhkan diri dari orang-orang di sekitarnya.

BRUK

"Gaara?" Naruto mengalihkan pandangannya pada pintu yang sedang dalam keadaan terbuka dengan lebar. Dia mengerutkan keningnya bingung saat Gaara tak menjawabnya sama sekali. Dengan perlahan Naruto mencoba bangkit dan berjalan menuju pintu dan mendapati Gaara sedang memegang sebuah tongkat golf yang Naruto yakin jika mendarat di kepalanya, dia tidak akan bangun selama seminggu penuh. "A-ada apa de—"

"Pergi dari sini Naruto. Cepat," ucap Gaara dengan nada dingin dan menusuk. Naruto memang sudah sangat sering mendapat perlakuan seperti ini. Di satu sisi Gaara bersikap lembut dan baik terhadapnya, namun di sisi lain dia berubah drastis seperti sekarang ini.

"Hm." Naruto hanya menjawabnya dengan gumaman pelan dan mengambil sepasang pakaian Gaara yang masih bersih dan memakainya—hal ini sudah sangat biasa bagi mereka berdua. Naruto berjalan tertatih-tatih menuju pintu depan apartemen tersebut. Helaan napas kecil dan suara desisan nampak meluncur dari bibirnya saat gerakannya membuat lukanya terbuka kembali. Naruto berbalik dan menatap Gaara dengan senyuman lebarnya. "Thanks dan sampai jumpa," ucapnya sembari menutup pintu tersebut dengan pelan. Gaara hanya mampu menutup kedua matanya saat tahu Naruto sudah tak ada di hadapannya lagi.

"Maaf Naruto. Aku takut aku tidak bisa mengontrol diriku lagi kali ini."

.

.

.

Sasuke membuka kedua matanya perlahan. Aroma obat-obatan dan cat putih yang mendominasi menyapanya dengan lembut. Dengan perlahan dia memiringkan kepalanya dan menatap sosok yang sedang tertidur di sebelahnya. "Aniki?" lirihnya sembari mencoba menyentuh kedua tangan yang terlipat di sebelahnya tersebut. Itachi yang merasakan kontak tersebut perlahan mengerjap-kerjapkan matanya dan menatap Sasuke dengan lembut.

"Bagaimana perasaanmu? Pihak kampus mengatakan kau kecelakaan di dalam ruang musik."

BUKAN

Sasuke membulatkan matanya saat mengingat semua kejadian yang dia alami sebelumnya. Itu bukan kecelakaan. Bagaimana dengan Naruto? Sasuke berusaha untuk duduk namun Itachi melarangnya dan menuruhnya utuk tetap berbaring. "Di mana Naruto?" tanyanya pada Itachi. "A-aku bersamanya di dalam ruangan tersebut dengan Gaara." Sasuke menggigit bibirnya. Sedikit khawatir dengan apa yang terjadi dengan Naruto pada saat itu.

"Mereka mengatakan kau kejatuhan lampu di ruang musik. Mereka tak mengatakan kau bersama Naruto ataupun Gaara, siapa itu Gaara?" tanya Itachi sembari menatap Sasuke dengan intens. Sepertinya Sasuke menyembunyikan sesuatu darinya. "Apakah dia salah satu muridmu?" Sasuke mengangguk pelan, membuat Itachi bernapas lega. "Kau yakin bersama dengan mereka?"

Sasuke ingin mengatakan yang sebenarnya, namun dia tidak punya bukti dan dia sudah berjanji akan menyelesaikan masalah ini sendirian saja. "Entahlah, mungkin hanya ilusiku saja atau aku baru saja bermimpi tentang mereka," elaknya saat Itachi terus saja menatapnya dengan lekat. Hal tersebut membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Dia tidak suka jika ada orang yang menatapnya terlalu lama, siapapun orangnya termasuk Itachi dan kedua orang tuanya.

"Segitunya kau mengkhawatirkan muridmu. Sebaiknya kau istirahat. Dokter mengatakan kau sudah boleh pulang saat kau merasa baikan." Itachi tersenyum kecil dan mengacak rambut Sasuke dengan pelan. "Hubungi aku jika kau ingin pulang, oke?"

Sasuke mengangguk pelan dan menyuruh Itachi untuk meninggalkannya saja karena dia ingin sendiri. Pikirannya kini dipenuhi dengan pria pirang yang saat ini tidak dia ketahui keadaannya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia mati? Tidak, tidak boleh berpikiran seperti itu. Lamunan Sasuke terbuyar saat seseorang yang tak dikenalnya memasuki ruangannya. Pria dengan mata kecil dan rambut hitam yang diikat ke atas seperti nanas sedang menatapnya dengan lekat. "Siapa kau?"

"Berterima kasihlah karena aku yang mambawamu kemari. Tidak, seharusnya kau berterima kasih ke Naruto. Narutolah yang menghubungiku untuk menengok ruang musik tersebut dan aku menemukanmu dengan simbahan darah tersebut."

"Bagaimana keadaan Naruto?"

"Itu yang mau aku tanyakan kepadamu. Apa yang kau lakukan di ruangan tersebut bersama dengan Naruto?"

Sasuke tampak menggigit bibir bawahnya dan menatap Shikamaru dengan lekat. "Entahlah, aku menemukannya bersimbah darah di atas sebuah piano dan Gaara sedang memainkan piano yang satunya. Saat aku mencoba menyelamatkannya, aku hanya merasa ada yang memukulku dengan benda tumpul dan saat aku bangun aku sudah ada di tempat ini. Kau siapanya Naruto?"

"Aku penjaganya semenjak dia masih kecil. Jadi Gaara ada bersamanya. Sepertinya Gaara memang harus dipisahkan dari Naruto. Kau guru pembimbingnya, bukan?" Shikamaru bertanya dengan nada malas dan Sasuke hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Karena aku dan Sasori tak dapat mendekatinya, kuharap kau mau membantu kami. Buat dia tunduk kepadamu. Jadikan dirimu seperti Gaara. Sosok yang mampu membuat Naruto tenang meskipun dengan cara yang kasar ataupun berbahaya. Jauhkan dia dari Gaara dan dekatkan dirimu dengannya."

Sasuke menatap Shikamaru dengan nyalang. Apa maksudnya hal itu? Mana mungkin dia menjadi Gaara yang tega melukai Naruto dengan kasar seperti itu. Bahkan Sasuke belum tahu apa sebabnya Gaara melukai Naruto. Yang ada di pikirannya adalah Gaara marah karena dirinya mulai mendekati Naruto. Tapi hal tersebut belum Sasuke buktikan benar apa tidak. Sasuke ingin melakukannya dengan cara yang lembut dan perlahan. Bukan menundukkan Naruto dengan cara yang kasar dan dapat melukainya. "Pergi."

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Sasuke barusan. Dia mendekatkan wajahnya kepada Sasuke. "Kautahu jika kau berhutang dua nyawa dengan Namikaze, bukan?" Shikamaru menyeringai saat melihat rahang Sasuke nampak mengeras. "Kautahu apa yang terjadi jika aku mengatakan hal sebenarnya ke Naruto dan Kyuubi, bukan?"

"Diam kau brengsek. Aku tidak butuh ancamanmu dan aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Dan aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu. Jika kau ingin mengatakan hal yang sebenarnya terhadap Namikaze bersaudara, katakan saja." Sasuke menyeringai tipis ke arah Shikamaru yang nampaknya sedang kesal dengan ucapan Sasuke barusan. "Kurasa menyakitinya dengan kenyataan bukan sifatmu, Na-ra."

"Bagaimana kau tahu tentangku?" Shikamaru mendekat ke arah Sasuke dan menarik baju Sasuke dengan kasar. "Setahuku kau bahkan menanyakan namaku saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini, bukan?" Shikamaru memicingkan matanya tajam dan mundur dengan cepat saat Sasuke mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil. "Wow, sepertinya kau cukup lihai, Uchiha."

Sasuke menyeringai dan meletakkan kembali pisaunya di bawah bantalnya. "Pergilah. Nara tidak pernah akur dengan Uchiha. Kalau bisa, aku akan memberitahu Naruto secara langsung."

"Kau akan menyesal, Uchiha."

-VargaS. Oyabun-

Naruto menatap pantulan dirinya di cermin dengan muka miris. Kali ini Gaara benar-benar menghabisinya. Semua badannya terasa sakit dan ngilu. Naruto memegang luka yang paling besar yang Gaara torehkan di pinggang kirinya. "Sepertinya ini akan sembuh lebih lama dari biasanya. Ish, darahnya kenapa merembes sepert—"

"Naru?"

Naruto segera menurunkan bajunya dan berbalik menatap Kyuubi yang sedang tersenyum ke arahnya di ambang pintu kamarnya. "A-ada apa Kyuu-nii? Seharusnya Kyuu-nii mengetuknya dulu. Aku sangat terkejut," ucap Naruto sembari mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang—takut jika Kyuubi melihat lukanya yang selama ini selalu disembunyikannya. Naruto mengangkat sebelah alisnya tak mengerti saat Kyuubi mendekatinya dan memberikannya segelas susu hangat.

"Akhir-akhir ini cuaca sangat dingin. Aku melihatmu begitu pucat, seperti orang yang habis mendonorkan darahnya."

"Aku memang mendonorkan darahku untuk psikopat berambut merah tersebut," batin Naruto sembari menerima segelas susu tersebut dan meletakannya di atas meja kecil. Dia tertawa kecil dan mengajak Kyuubi untuk minum bersamanya, namun Kyuubi menolaknya karena dia harus pergi menemui Itachi—harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda akibat Sasuke yang masuk rumah sakit. "Baiklah, aku pasti akan meminumnya. Kyuu-nii juga harus beristirahat dengan teratur. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Naruto serya mengantar kakaknya sampai ke depan pintu kamarnya. Dia melambaikan tangannya dengan pelan dan membisikkan selamat tinggal ke Kyuubi.

Naruto menghela napas lega saat Kyuubi telah pergi dari pandangannya. Dari tadi dia menahan rasa sakit dikarenakan saat menurunkan bajunya tadi, tangannya menyenggol lukanya cukup kuat. "Aku ingin mengunjungi Ayah dan Ibu," lirihnya pelan sembari mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Naruto kemudian meninggalkan rumah tersebut dan tak lupa menguncinya."

.

.

.

Sasuke menatap Itachi dengan malas dan berjalan melewatinya begitu saja. Perban yang melilit di kepalanya tampak masih baru—sepertinya baru saja diganti. "Aku ingin keluar sebentar. Mungkin akan pulang telat."

Itachi menghela napas lelah dan menarik tangan Sasuke dengan pelan, "Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Beristirahatlah Sasuke, kau ingin keluar sebentar tapi kau bilang kau akan telat. Berarti itu bukan sebentar, Sasuke. Sebaiknya kau istira—"

"Aniki, aku ingin mencari udara segar. Aku sudah cukup lama berbaring di ranjang rumah sakit dan sekarang badanku sakit semua." Itachi yang melihat raut wajah Sasuke seperti itu hanya mampu tersenyum dan melepaskan tangan Sasuke. Sasuke menghela napas lega dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Itachi kemudian menatap punggung Sasuke seraya berkata, "Jangan buat masalah lagi Sasuke."

.

.

.

Naruto menatap kedua batu nisan yang ada di hadapannya dengan sedih. "Ne, Naru sekarang masih bermain dengan Gaara. Meskipun Gaara selalu menyakiti Naru, tapi Naru senang karena Gaara lebih mengerti Naru. Terkadang Naru ingin menampilkan sisi Naru yang ini di publik, akan tetapi setiap menatap orang yang Naru benci ataupun keramaian … Naru selalu memasang tampang yang dingin tanpa Naru sadari. Terkadang Naru tak merasa bahwa yang Naru lakukan terhadap Naru membuat Naru merasa sakit. Tapi tenang saja, Naru akan tetap menjaga Kyuu-nii dan akan membalaskan dendam kalian. Naru tahu kalian pasti sedih karena tak satupun orang peduli dengan keanehan di balik kematian kalian. Sepertinya sudah cukup lama Naru di sini, Naru harus pulang sebelum Kyuu-nii pulang."

Naruto berdiri dan membersihkan pakaiannya yang sempat terkena tanah. Saat dia berdiri dan hendak melangkah, Naruto membalikkan badannya. "Umm, akhir-akhir ini aku menemukan satu orang lagi yang bersih keras untuk memasuki hidup Naru, kemarin dia sempat ingin menolong namun dia malah celaka karena Naru. Naru belum berterima kasih kepadanya. Ceh dia orang yang menyebalkan! Naru takut semakin banyak yang masuk ke hidup Naru, akan semakin banyak orang yang terluka. Ayah dan Ibu tahu bukan kalau Gaara sangat menjaga Naru untuk memiliki teman lain. Tapi Naru akan berusaha. Sampai jumpa."

Naruto kemudian berjalan meninggalkan makam tersebut. Matanya menerawang menatap langit yang nampaknya sebentar lagi akan trurun hujan. Sesampainya Naruto di sebuah jalan kecil, Naruto memicingkan matanya dan mempertajam pendengarannya.

"Sasori, kau tahu bukan yang kita beritahu ke Kyuubi bukan rahasia yang sebenarnya?"

Naruto bersembunyi di balik tembok yang ada di sebelahnya. Mencoba menajamkan pendengarannya. Dia tahu dua pria yang sedang berbincang di jalan kecil tersebut adalah Shikamaru dan Sasori.

"Ya, aku tahu. Apa yang kau lakukan kepada Uchiha Sasuke? Apa kau berhasil membujuknya?" tanya Sasori sembari menyandarkan tubuhnya di dinding yang ada di belakangnya.

Shikamaru membujuk Sasuke? Untuk apa? Batin Naruto terus saja mengutarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

"Aku menyuruhnya uuntuk menundukkan Naruto dan merebutnya dari Gaara. Aku bahkan mengancamnya jika tak mau membantu, aku akan memberitahukan rahasia yang sebenarnya kepada Naruto dan Kyuubi."

"Lalu?"

"Dia tidak mau. Katanya dia akan melakukannya dengan caranya sendiri. Bahkan dia menantangku untuk membocorkan rahasia tersebut. Dia ingin memberitahukan Naruto secara pribadi. Dia bocah yang sangat keras kepala."

Naruto mengernyitkan keningnya bingung. Sebenarnya apa rahasia yang sebenarnya sampai-sampai dia mengancam Sasuke seperti itu. Apa ada hubungannya dengan Sasuke?

"Cerita seperti apa yang kau berikan kepada Kyuubi?"

Shikamaru menghela napas lelah, "Aku memberitahukannya bahwa kedua orang tuanya meninggal karena ingin menyelamatkan keluarga Uchiha. Akan tetapi, cerita yang sebenarnya adalah Uchiha menjebak mereka berdua di dalam sebuah pesta dan menyuruh seseorang bernama Kabuto untuk membunuh mereka. Mereka takut jika Namikaze akan menjadi saingannya. Yang kutahu Kabuto juga merupakan dokter pribadi Uchiha."

"Jadi Kabuto yang me—"

"Terim kasih atas informasinya."

Sasori terdiam saat ada yang memotong pertanyaannya dan Shikamaru membulatkan matanya saat mengenali suara tersebut. Mereka berdua bersamaan menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut. "Na-Naruto?" lirih mereka tak percaya saat Naruto hanya tersenyum ke arah mereka dengan air mata yang berlinangan. Bukan seringaian ataupun tatapan dingin. Akan tetapi Naruto tersenyum tulus. "Na-Naru ak-aku ti—"

"Tidak apa Shika, aku sungguh berterima kasih denganmu Karena telah mempermudah pencarianku. Aku pergi dulu."

Ketika Sasori dan Shikamaru berusaha mencegah Naruto, ada seseorangg yang tampak mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kuat di balik sebuah pilar yang tak jauh dari tempat percakapan Sasori dan Shikamaru. "Dasar bodoh," desisnya sembari mengelap air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya.

BERSAMBUNG …

HOOP! Bertemu lagi hahaha maaf no lemon NaruGaa, tapi kalau ada yang mau bilang aja silahkan nanti Oyabun pertimbangkan. Seminggu full ngebut buat update fanfic hahahaha I'M SO DONE NOW!