Rasa Manis dan Pahit ini
.
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha Corption, , Crypton Future Media, Inc.
Aku mau bilang sesuatu, bahwa sebenarnya aku ini adalah seorang cewek *krik-krik-krik
Njiirrr ngomong apa gue wkwkwk, Hallo minna back again nih, siapa yang udah kangen ama Yuka-chan yang akhir akhir ini suka hiatus terus. Sorry sorry
Sekarang Yuka-chan balik untuk readers sekalian, yang penasaran dengan kelanjutan kisah duo rival Piko dan Yuuma disini. Udah chapter 4 aja nih
Daripada nunggu lama terus, ayoo kita scroll ke bawah yuk guys
.
.
Good Reading
.
.
.
.
Tinggal beberapa hari lagi konser akan diadakan dan juga tinggal beberapa hari lagi aku harus latihan dengan serius untuk memberikan hasil yang maksimal saat tampil, aku sangat tegang sekali namun satu hal yang membuatku malah senang adalah aku tidak akan satu studio dengan mahluk pink aneh itu lagi..
Aku selalu berlatih, melonggarkan pita suaraku beberapa kali, mencoba gaya keren saat bernyanyi, dan juga sedikit latihan menari. Kulakukan ini untuk mengalahkan lelaki sombong dan sok itu.
"Piko-kun, kau latihan keras sekali yaa?" suara seseorang mengkagetkan, aku menemukan sahabat sekaligus gebetanku yang kusuka, Miki
"Eeeh, Miki-chan, iyaa sebentar lagi aku akan konser.., jadi aku harus berlatih keras untuk tampil maksimal besok" jawabku selembut mungkin meskipun aku sempat mengumpat sendiri tadi mengejek laki laki pink Yuuma di jalan tadi
Aku tidak menyangka bisa bertemu Miki di halte ini
"Kamu hebat yaa, meskipun kamu sudah professional dalam hal bernyanyi bahkan kau sudah sangat popular, Piko-kun masih bekerja keras seperti penyanyi baru saja…" sebenarnya aku melakukan ini untuk mengalahkan Yuuma saja, kalau bukan karena itu mungkin aku tidak akan seserius ini
"Iyaa.., memang saat kita sudah diatas, bukannya kita harus lebih bekerja keras lagi.., karena level diatas akan lebih susah dan kita harus menampilkan yang terbaik untuk tetap bertahan" wow aku bisa mengatakan hal yang bijak seperti itu, keren…, meskipun ada sedikit kebohongan sih wkwkwkw karena aku jarang melakukannya
"Sugoii, perkataanmu menginspirasiku untuk menulis lebih keras lagii, eeh kau tahu tidak Piko-kun…" kagum Miki, ehm ada apakah
"Karya lirikku, akan dinyanyikan oleh seorang penyanyi di konsermu besok" senang Miki sampai melompat kegirangan
"Haah…apaa?" sialan, aku kalah duluan oleh seseorang itu, padahal impianku menjadi seorang penyanyi adalah menyanyikan lirik lagu buatan seseorang yang kucinta, Miki-chan. Namun, setelah mendengar hal itu dari Miki, membuatku down berat.
"Yupp, aku senang bangett, Kan kalo tidak salah pihak konsermu itu mengadakan kayak lomba menulis lirik lagu gitu, teruss aku ikut, tidak kusangka karyaku ternyata lolos dan akan dinyanyikan seseorang di konser itu" ujar Miki panjang
"Aku juga ikut senang" padahal aku sedih banget, aku sebenrarnya ingin menjadi penyanyi pertama yang menyanyikan lagunya Miki namun tidak sesuai realitaku yang ada
"Tentu saja aku akan datang ke konsermu, selain melihat penampilanmu, aku ingin melihat lirik buatanku dinyanyikan oleh seorang penyanyi, aah senangnya aku"
"Aah.., iyaa" aku merasa kesal banget, aku merasa seperti tidak punya energy lagi untuk bernyanyi..
"Bisnya datang, aku pulang duluan Piko-kun.., Oh yaa kau tidak latihan ke studio'kah?" tanya Miki berhenti di dekat pintu bis
"Sebentar lagi.., aku mau istirahat dulu" jawabku sambil tersenyum masam
"Baiklah, dah dah Piko-kun" Miki melambaikan tangannya, gadis berambut merah terang tersebut menghilang dari hadapanku terlalap pintu bis yang menutup dengan otomatis
.
.
Ucapan Miki barusan membuat moodku jatuh, impianku menjadi penyanyi adalah menjadi seseorang yang pertama untuk menyanyikan lirik lagu miliknya, namun semua itu kandas di konser nanti.
Aku belom tahu penyanyi mana yang akan membawakan lirik buatan Miki, namun aku merasa bukan aku karena Miki baru menyatakan hal ini barusan kemungkinan liriknya sudah dinyanyikan penyanyi baru lain.
Membuatku jengkel, sedih, marah namun mau mau marah sama siapa, tidak ada yang bisa kusalahkan. Itu membuat stress
"Jadi males ke studio" ucapku setelah menghela nafas panjang
"Aku mau pulang saja" aku rasa tidak ada yang bisa kulakukan untuk menjadi penyanyi karena impianku kandas di tengah jalan hari ini juga
Aku bangkit dari kursi halte, lalu aku pulang jalan kaki, mengapa aku bisa berada di halte ini sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin menyapa Miki yang menunggu di halte bis ini.
Belom sempat aku mau keluar dari wilayah halte, seekor anjing entah darimana berada di depanku menampilkan gigi tajamnya, anjing itu terlihat marah dan ingin menggigitku
"Erghh.., guk..,guk..guk"
"Aaaah.., tenang Piko.., tenang.., calm down baby.., anjing pasti akan tenang kalau aku memujinyaa…, aah.., aah .., baiklah.." aku berusaha menenangkan diriku, anjing itu masih memperhatikanku sambil memasang kuda kudanya
"Anjing baik.., anjing manis.., perkenalkan namaku Utatane Piko.., kau pasti akan luluh dengan pesonaku" ucapku sambil merapikan rambutnya
"Guk..guk..guk, eerrghh" eeeh, bukannya menjadi tenang, anjing itu malah lari mengejarku
"Anjay…, kok gak berhasil.. haaaaaaaa" akupun berlari menghindar dari serangan anjing liar tersebut
Sialan padahal rumahku bukan arah sini, namun aku harus terus berlari dari kenyataan pahit dan menyedihkan ini, namun apakah bisa? Apakah bisa kawan? Aku bukan seseorang yang bisa berlari kencang, aku..aku..aku terpaksa harus berlari
"Haaaaaa, anjing itu mendekat" akupun menambahkan kecepatan lari menjadi 101% seperti seorang atlit berlari di suatu perlombaan.
Sampai aku terpaksa masuk kesuatu tempat, apa lagi kalo bukan studio musikku.., Aku dengan singgap masuk ke dalam dan menutup pintu masuk, Dan juga terpaksa aku harus ikut latihan hari ini, karena aku sudah berada di cengkraman Sachiko-sensei yang sudah menunggu kehadiranku dari tadi
.
.
"Terima kasih atas latihannya, huh capeknya" rasanya jiwa sudah melayang entah kemana dan badanku sangat lemas sekali, seperti mayat hidup namun wajah masih tampan
"Seperti bukan diri senpai, ada apa denganmu?" tanya seseorang yang sangat aku tidak ingin aku temui saat ini, Yuuma
"Bukan urusanmu" aku berjalan cepat cepat meninggalkan studio setelah memakai sepatu
"Huh…," tidak kusangka Yuuma mengikuti dari belakang
Ada apa sih dengannya, biasanya ia bermalas malas di studio sambil meminum minuman kaleng dari mesin minuman ruang tunggu, namun ia pulang cepat dan bareng denganku
Sebenarnya, aku tidak memperdulikannya, akupun berjalan cepat cepat tanpa menoleh ke belakang. Aku benci harus meladeni ejekannya karena saat ini aku sedang tidak mood.
"Biasanya senpai selalu tepat waktu datang latihan dan memarahi setiap kita latihan, namun kau tadi malah terlambat dan sangat pendiam…, ada apakah?"
"Sudah kubilang bukan urusanmu, aku sangat kondisiku sangat tidak enak sekarang, sebaiknya kau pergi urus urusanmu sendiri" jawabku ketus sambil memasukkan tanganku ke saku jaketku.
Apaan apaan dia, sungguh menjengkelkan. Entah saat senang, sedih, galau dia selalu ada di sampingku. Padahal ia adalah sosok yang paling kubenci saat ini.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini, ikut aku sekarang"
"Eeeh apa apaan kau, lepaskan tanganku" tidak tahu apa yang dirasuki lelaki pink ini, ia tiba tiba menarik tanganku dengan keras. Namun karena aku kalah kuat dan aku pendek, sekuat tenagapun aku mau melepaskan, selalu ia bisa menarikku kembali.
"Sialan kau, Yuumaang…, kau mau membawaku kemana"
"Sudah kau diam saja"
"Kau sungguh menyebalkan, menjengkelkan, bisa lepaskan, nggak atau aku akan lapor polisi atas kelakukanmu ini"
"Heh.., coba aja lapor kalau kau berani"
"Wah..wah.., kau sudah mulai kurang ajar nih bocah.., tunggu yaa, aku siap menantikanmu masuk ke penjara" aku mengambil handphoneku di saku jaketku, eeh dimana handphoneku? Sialan dimana HPku
"Kau mencari ini senpai?" Yuuma menunjukkan HPku sudah berada di tangannya, sialan bagaimana bisa ia mengambilnya
"Memang kau akan menelfon apa ke polisi, apa alasanmu? Lagipula kejadian ini akan dimaklumi jika terjadi pada cewek namun kau'kan cowok, hehehehe" Yuuma tertawa kecil
"Eeeh..dasar kau…," aku mencoba menendang kaki Yuuma namun gak kesampaian karena kalah panjang. Terpaksa aku harus pasrah dengan apa yang ia lakukan padaku. Aku menutup mata dan menundukkan kepalaku.
"Kita sudah sampai…" ternyata sudah sampai, rasanya benar benar aku mau memukul lelaki ini, aku membuka mataku. What? What? What? Sebuah rumah besar dengan pagar tembok kokoh berdiri melindungi rumah tersebut, bukan rumah sembarangan namun rumah kaum elit. Meskipun rumahku termasuk besar dan tidak kalah bagus namun rumah ini benar benar mewah dan luar biasa.
"Cowok pink, dimana kita ini?" tanyaku sambil berteriak emosi
Tanpa menjawab pertanyaanku, ia menarik tanganku masuk ke dalam rumah tersebut. Apakah rumah ini adalah rumah miliknya? Astaga besar banget yaa, Tuhan. Sengklek, edan, gak sopan ternyata dia adalah orang kalangan elit rupanya.
Kami disambut para pelayan, lalu kami masuk ke ruang tamu. Akhirnya ia melepaskan tanganku setelah aku berusaha menggigitnya.
"Cukup.., sudah cukup.., aku butuh penjelasan, mengapa kau membawaku kemari?" tanyaku yang sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. Ia masih tidak menjawab pertanyaanku, namun ia terus menatapku tajam lalu ia mendekat kepadaku. Badannya yang kurus jangkung menghalangi pandanganku.
Yuuma memegang punggungku dari belakang…
.
.
.
.
Bersambung
Mau tau kelanjutan ceritanya? WKWKWKWK
Jangan Lupa klik Follow, Favorite, Review yak, Arigatou Minna
