Beautiful In Time –Sequel End-
Luhan-Kai
By DeushiiKyungie
-Request from novisaputri09-
Summary: Jalan ini terlalu rapuh bukan begitu? Perasaan ini yang terlalu ringan, aku mencari jawaban untuk semua ini. Meskipun itu sangat jauh. Dan meskipun aku akan hancur, aku akan menunggu pada nasib baik.
Desclaimer: cast milik diri mereka masing-masing, author hanya meminjam nama. Dan cerita ini murni dari otak saya dengan ide dari novi….. so, jangan di plagiat.
Warn: Full Kai POV, drama, sedikit kata-kata kasar, GS, OOC dan GAJE. Dan ada couple terselubung =.=
a/n: fict HanKai pertama saya. Err, apa ya? Saya kok ngerasa judul sama ceritanya gk nyambung ya? =_= maapkan! Bacanya pelan-pelan yaa.. dan sorrieh jika feel-nya kurang ngena….. yo yo yo~
hanya sebatas kisah luhan dan kai.
Semoga suka! Hati-hati typo…. And don't like, don't read…
Enjoy!
…
#Han-Kai#
…
Semua terdiam… aku tak tahan. Mereka menatapku diam dan aku takut.
Tidak.. aku tidak mau berpisah dengan Luhan oppa. Aku tidak mau bercerai dengan suamiku.
Dengan lirih, aku kembali memohon pada mereka. "Oppa… Kai mohon. Hanya bersama Luhan oppa aku dapat merasakan kasih sayang dan cinta dari seorang laki-laki. Hanya Luhan oppa yang mampu membuatku tidak bisa berpaling pada yang lain. Aku tau seperti apa Luhan oppa dan aku menerima semua kekurangannya. Bukankah oppa ingin aku bahagia? Dan sekarang aku bahagia bersama laki-laki yang ku inginkan. Oppa tega memisahkan aku dengan kebahagiaanku?"
Sungguh aku tak sanggup. Jika seperti ini terus aku akan menangis…
Mereka masih diam. Aku tak tahan dan akhirnya aku luruh. Aku tak bisa menahan kesedihan dalam hatiku. Aku tak sanggup…
"Hikss.. oppa, Kai mo-"
Bukh.
"Minseok hyung, Baekhyun noona aku mohon. Aku mohon jangan pisahkan Kai dari ku. Aku begitu menyayangi dan mencintainya. Aku akan berusaha merubah diriku untuknya. Aku berjanji walau tak mungkin akan aku ingkari, aku akan membahagiakannya. Aku tidak akan membiarkan ia terluka lagi. Tidak akan meninggalkan nya sendirian… aku mohon…"
Hikss, kenapa? Oppa, kenapa kau harus berlutut? Kau merendahkan dirimu untuk bersamaku? Nada suara oppa bergetar. Menangiskah ia? Ku mohon jangan. Hiksss.. Kenapa. Kenapa mereka tetap diam? Min-oppa… Baek-eonni…
Aku ikut berlutut dan menundukkan kepalaku di hadapan dua orang yang aku hormati. Membalas genggaman erat suamiku. Mendekatkan tubuh bergetarku pada tubuhnya.
"Kai, apa yang kau lakukan. Berdiri lah,"
Aku merasakan tangan Chen eonni di bahuku. Memaksaku untuk berdiri. Tapi tidak. Aku tidak akan menegakkan tubuhku hingga Minseok oppa dan Baekhyun eonni mengabulkan permohonan kami. Aku tak ingin dipisahkan dari Luhan oppa.
Terdengar olehku deru nafas kasar Minseok oppa. Ada pergerakan di depan kami dan setelahnya ku rasakan elusan lembut di pucuk kepalaku.
"Bangunlah Luhan, Kai. Kalian tidak perlu sampai berlutut seperti ini," Baekhyun eonni memaksa wajahku untuk tegak dan menatap wajahnya yang sarat akan rasa bersalah dan sendu. Mata indahnya terlihat berkaca seakan ingin menumpahkan air mata. Ia mengelus wajah basahku lembut. Apa yang sebenarnya kau rasakan saat ini eonni? Marahkah? Bencikah?
"Hikss.. eonni, Kai mohon.."
"Ssshhhttt… jangan menangis, sayang." Dia mengangkup wajahku dan menatapku lembut. Kurasa pergerakan di sampingku.
"Noona. Kami mohon. Kami saling mencintai, aku sudah berusaha menjadi lebih baik dalam dua bulan ini. Aku mohon," Luhan oppa meminta dengan mata yang memerah. Ia menahan dirinya untuk tidak menangis. Semakin kuat menggenggam tanganku. Aku balas genggamannya.
Kenapa rasanya sakit sekali saat melihat ia begitu rapuh dan lemah seperti ini? Oppa, kuatlah, aku mohon. Hatiku sakit melihatmu seperti ini...
Baekhyun eonni terdiam. Ia kemudian menoleh ke belakang, menatap Minseok oppa yang menunduk, memejamkan matanya. Terlihat berpikir dalam diamnya.
Aku kembali menatap Baekhyun eonni yang berdehem pelan. "Ehem. Baiklah. Err.. sayang," panggilnya pada Min-oppa.
"Boleh aku katakan sekarang?" tanyanya.
Ada apa? Katakan apa?
"Haah… terserahlah. Kau tau aku tak bisa lagi mendebatmu, sayang. Semua perkataan dan tingkah mereka sudah terlihat jelas. Dan kau tau aku kalah padamu."
Ada apa? Oppa mengalah pada Baekhyun eonni? Kena-
"Luhan, Kai sayang. Kembali lah duduk dan dengarkan apa yang akan kami katakan pada kalian." Ucap eonni, kembali duduk di samping Minseok oppa dan menatapnya dalam dan penuh arti. Sungguh aku bingung.
Saling menatap beberapa saat, akhirnya kami memutuskan untuk kembali duduk. Luhan oppa dengan lembut menghapus air mata di wajahku. Terseyum tipis menenangkanku. Aku balas ternyum padanya.
"Ehm. Baiklah. Dari yang kami dengar dari cerita Chen dan Chanyeol, kurang dari dua bulan ini kalian sudah baikkan dan hidup bersama seperti sepasang kekasih. Tapi itu tetap membuat kami tidak bisa membiarkan kalian untuk tetap bersama dalam menjalankan pernikahan kalian," Baekhyun eonni memulai. Aku ingin bicara tapi ia mengangkat sebelah tangannya, pertanda aku untuk diam.
"Aku dan Minseok sudah membicarakan ini sebelumnya. Tentang awal dari pernikahan kalian, Kai yang 'tersiksa' dalam pernikahan ini hingga Luhan yang mulai sadar akan posisinya dan sudah mulai berubah lebih baik,"
Eonni kembali menghentikan ucapannya. Aku menatap Minseok oppa yang menolak menatapku. Aku melirik Chen eonni sejenak. Jelas olehku sirat matanya menenangkanku. Bergumam, semua akan baik-baik saja. Kembali aku menatap Baekhyun eonni.
"Haa... jujur, sebenarnya aku juga tak ingin memisahkan kalian, tapi mungkin inilah keputusan terbaik. Luhan," Baekhyun eonni memanggil nama Luhan oppa dengan tegas.
"Kau tau kan, umur kalian masih terlalu dini untuk menjalankan sebuah rumah tangga. Kau masih muda dan masih banyak yang akan kau lakukan di kemudian hari. Begitu juga dengan Kai. Ia bahkan masih berumur 15 tahun walau tak lama lagi, Kai akan tamat sekolah. Tetap kalian masih belum bisa menjadi sepasang suami istri.
"Pernikahan bukanlah sebuah hubungan yang mudah dijalani. Butuh pengorbanan dalam menjalaninya. Hubungan sepasang manusia yang berbeda karakter, pikiran dan segala sesuatu yang dapat membuat hubungan itu retak dan hancur. Kepercayaan diantara pasangan sangat dibutuhkan. Kasih sayang dan cinta memanglah dasar dari hidup untuk bersama dan bahagia. Namun, itu semua akan hancur dan lenyap saat suatu kepercayaan itu di khianati."
Aku terdiam, mendengar semua yang Baekhyun eonni katakan. Aku tahu, pernikahan adalah suatu hubungan yang tak mudah dijalani. Saling mencintai tak lah cukup. Aku rasakan lagi genggaman itu semakin kuat, namun tidak menyakiti ku. Aku melirik sekilas wajah laki-laki yang menjadi suamiku.
Luhan oppa terlihat lebih tenang dari beberapa saat lalu. Mata rusa nya terlihat lebih yakin namun gurat takut dan cemas masih dapat kulihat.
Eonni masih diam. Ia kembali melirik Minseok oppa. Oppa menghela nafanya pelan dan kemudian menatapku dan Luhan oppa bergantian. Wajahnya tak lagi keras karena amarah dan kesal. Raut wajahnya tampak mulai melunak dan tenang. Namun tatapannya masih tetap datar.
Tatapan penuh arti yang sulit ku mengerti.
"Keputusan ini memang hanya aku dan Baekhyun yang menentukan. Maaf karena kami tidak membicarakan ini sebelumnya dengan aboji, eomonim dan keluarga Xi. Seharusnya, sekarang mereka bersyukur bisa lebih dekat dan memperbaiki kehidupan rumah tangga mereka sebelum kami mengetahui lebih dulu, apa yang terjadi pada Kai. Kau masih beruntung, Luhan."
Minseok oppa berbicara dengan nada datarnya. Menatap tajam pada Luhan oppa. Kembali rasa takut itu menguasaiku. Dan kembali kurasa genggaman Luhan oppa.
"Dan maksud kami sebenarnya adalah Luhan dan Kai akan kami pisahkan. Kalian tidak aka bercerai, tetapi kami hanya ingin Kai lebih focus untuk melanjutkan sekolahnya di Jepang. Sebagai gadis dan istri ia juga harus mengerti bagaimana posisinya. Kami tak ingin Kai dewasa sebelum umurnya. Banyak yang harus ia pelajari dan pahami. Dan mengenai Luhan,"
"Kau harus melanjutkan sekolah mu di China. Perbaiki dirimu dan jadilah pria yang pantas untuk menjadi suami dan panutan bagi Kai. Kami sudah cukup tau bagaimana kelakuanmu dulu dan kami berharap kau tidak mengulanginya lagi.
"Dan walaupun kau putra tunggal keluarga Xi, bukan berarti kau bisa dengan mudahnya melanjutkan usaha milik keluarga mu. Kau harus bisa membuka atau mencari pekerjaan yang layak dengan usahamu sendiri. Kau harus berhasil untuk dirimu sendiri sebelum kau berikan kebahagiaan untuk Kai."
Kembali aku terdiam. Ap- apakah ini yang mereka mau? Memisahkan aku dengan Luhan oppa? Maksudnya apa?
Ak- aku tak menyangka mereka akan berkata semua itu. Apakah sebelumnya mereka sudah merencanakan ini? Ap- apa ini yang mereka bicarakan berdua? Aah.. aku tidak tau. Aku masih tidak mengerti. Aku masih belum paham apa yang mereka katakan. Tapi sepertinya tidak bagi laki-laki di sampingku ini. Luhan oppa terlihat senang. Kenapa?
"Op- Oppa, aku masih tidak mengerti-"
"Hyung, ka-kalian tidak jadi meminta kami bercerai? Be- benarkah? Kalian tidak memintaku untuk menceraikan Kai kan? Te- terimakasih! Terimaka-"
"Kau jangan senang dulu. Kalian tidak bercerai bukan berarti kalian tidak akan kami pisahkan. Kau sudah mendengar penjelasan kami. Seharunya kau mengerti semua yang sudah kami katakan."
Aku masih tidak mengerti. Sungguh! Apa yang maksudnya? Tolong jelaskan padaku. Bercerai? Pisah? Ap- apa yang kalian bicarakan?
"Kai,"
Aku berusaha menatap Baekhyun eonni yang memanggilku. Menyadarkan aku dari keterdiaman ku.
"Kau pasti tidak pahamkan?"
Ya. Aku sama sekali tak paham apa yang kalian bicarakan. Aku menggangguk.
"Kau dan Luhan tidak akan bercerai. Tapi kami ingin kau dan Luhan untuk tidak tinggal bersama. Berpisah namun tetap masih menjalankan pernikahan kalian. Kau akan kami bawa kembali ke Jepang dan melanjutkan sekolah mu disana. Sedangkan Luhan, dia akan kembali ke China. Dia harus berusaha sendiri tanpa mu."
"Mak- masksud eonni, aku dan Luhan oppa pisah-"
"Kalian hanya terpisah jarak dan waktu. Namun kalian masih terikat dengan pernikahan. Kalian masih dapat bersama dan saling mengunjungi. Dan waktu untuk semua itu tergantung pada Luhan. Apakah ia berhasil menjadi lebih baik dan dapat diharapkan dalam waktu cepat atau lama. Maka kalian bisa bersama kembali."
Aku langsung menatap Luhan oppa yang aku rasa sedari tadi ia melihatku. Ia tersenyum. Ia terlihat bahagia namun ada rasa sedih terlukis di matanya. "Sayang, kau paham sekarang? Kita tidak akan bercerai. Kita hanya dipisahkan jarak dan waktu. Berhubungan jarang jauh, tapi aku tak masalah. Aku akan berusaha menjadi lebih baik dan menjadi laki-laki yang pantas untukmu. Kau harus bersabar untuk itu, Kai…"
Ya. Aku paham sekarang. Mereka hanya memisahkan aku dan Luhan oppa dalam jarak, yang aku yakin sangat jauh namun kami masih tetap bersama. Bersama.. aku hanya ingin bersama Luhan oppa.
Aku menatap matanya yang memancarkan rasa kesungguhan. Apakah waktu yang dibutuhkan sangat lama? Aku tak ingin terpisah terlalu lama dengan Luhan oppa. Walau kami pasti akan bertemu, tapi…
"Kau harus percaya padaku. Aku percaya padamu. Kau harus yakin dan percaya suatu hari nanti aku akan datang padamu, menjemputmu dan memelukmu. Kita akan bersama, selamanya. Hanya waktu dan jarak yang memisahkan kita. Tapi, hati, pikiran dan jiwa ku hanya teringat dirimu. Istriku…"
Aku terbata. Haah. I- ia kembali mengatakan kata-kata yang sulit ku balas. Oppa, kenapa kau selalu saja membuatku terpesona akan dirimu? Setiap kata-kata mu selalu membuatku tak berkutik. Selalu aku mematuhi setiap katamu.
"Ya. Aku percaya. Dan aku akan menunggu hingga hari itu tiba. Dan aku harap semua akan indah pada waktunya."
.
#Flasback-off-#
Aku tak menyangka, hingga sampai detik ini aku masih bisa bertahan tanpa dia berada disisiku. Apakah karena aku sudah terbiasa ia acuhkan sehingga aku merasa, jika ia tak ada dan aku tak melihatnya, aku merasa biasa saja?
Tapi aku tak bisa menutupi rasa rindu yang mendalam saat setengah tahun yang lalu ia muncul dengan tiba-tiba. Datang dengan sebuket bunga cantik dan berdiri dengan tampanya di depan panggung. Berjalan kearahku yang waktu itu tengah menerima penghargaan sebuah ajang karya tulis.
Menghiraukan setiap mata yang melihatnya dan suara-suara yang mulai rebut saat ia memberikan buket bunga itu dengan senyum manis yang membuat ia tampak tampan berkali-kali lipat. Aku terpesona.
Tidak. Aku selalu terpesona akan dirinya. Suamiku yang tampan.
Drrt… drrt… drrrt…
Kurasa smartphone di samping ku bergetar. Ahh… aku yakin, itu pasti dia!
"Hallo? Lu-ge-"
/"Sayang! Gege- /Kaiiii! Oppa merindukan mu! Auwh, hyung! Biarkan aku bica-/Tidak! Enak saja. Pergi sanah, albino!/Nooo.. Ka-/Buakh! Braak!/Haah.. dasar cadel jelek! Hampir aku kecolongan lagi… sayang, maaf ada gangguan dari alien albino yang sayangnya mirip denganku.. kkhheh!"/
Oh.
Sehun oppa ya?
Khekeke… dasar. Mereka selalu saja begitu.
Ah, kalian pasti heran dan bingung? Aku cerita sedikit. Sebenarnya Luhan oppa dan Sehun oppa adalah adik kakak. Bukan, bukan saudara kandung, tapi mereka bersumpah saudara. Yah.. semacam berikrar menjadi saudara dengan Luhan oppa sebagai kakak dari Sehun oppa. Bukankan aku pernah bilanng jika hubungan mereka dulu sangat dekat? Dan mungkin karena Luhan oppa adalah anak tunggal dan Sehun oppa juga, yaah… jadilah mereka mengikat hubungan saudara. Namun marga mereka tetap Xi dan Oh.
Dan kenapa aku memanggil Luhan oppa dengan panggilan gege? Itu adalah permintaan oppa. Dia bilang kerena dia sekarang tinggal di China dan sebagai orang China ia ingin aku memanggilnya gege. Dan dia akan memanggilku baobei. Aku malu.
/"Sayang? Kau masih disana?"/
Ah, aku sedikit tersentak saat ia menyapaku lagi.
"Ye, gege. Maaf, aku sedikit melamun." Jawabku.
"/Melamunkan gege mu yang tampan ini?"/
"Narsis. Ya. Dan aku selalu memikirkanmu,"
Ia terdiam. Ah, aku yakin ia disana tengah berblusing ria. Aku hampir hafal semua tingkahnya. Walaupun kami berada di jarak yang sangat jauh dan tak mungkin kami saling bertatap. Tapi aku sudah tau semua sifatnya. Apalagi jika aku balik menggombalinya. Ey… aku bukan lagi gadis pemalu yang selalu meng-iyakan segalanya dan menerima begitu saja.
Aku sudah berumur 19 tahun lebih. Aku sudah dewasa, walau di Korea umur dewasa adalah 20 tahun. Tapi sekarang aku sudah paham dan mengerti tentang hidup ini. Hidup yang aku jalani.
Aku adalah Xi Kai, istri dari Xi Luhan.
Dan aku benar-benar bahagia untuk itu.
/"Kai, gege merindukanmu…"/
Suara lembut gege seakan nyanyian untuk ku. "Kai juga merindukan gege…"
/"Kapan kita bertemu? Kai, gege sekarang sudah sukses. Semua juga sudah mengakuinya dan hanya kau yang belum hadir di sini, mendampingiku."/
"Ge, aku baru saja menyelesaikan kuliahku disini. Aku ingin menemuimu, tapi masih ada yang harus aku selesaikan."
/"Haa.. andai aku di beri izin untuk menjemputmu. Kau pasti sudah berada disini. Di samping gege. Gege peluk dirimu di malam yang dingin ini, baobei…"/
Huuuh. Lagi-lagi dia menggeombal.
Yah. Luhan ge sekarang sudah sukses menjadi dokter spesialis yang kemampuannya tak perlu diragukan lagi. Tak hanya menjadi dokter spesialis, ia juga merangkap sebagai direktur di rumah sakit tempat ia bekerja sekarang di usia yang begitu muda. Di umur 23 tahun? Di salah satu rumah sakit terkenal di China. Ia mendapatkan semua itu dengan usaha kerasnya sendiri. Namun pasti tak semudah dibayangkan.
Menjadi dokter adalah impian Lu ge sejak dulu. Gege menjadi pembangkang dulu, itu karena ia selalu di paksa untuk menjadi penerus usaha keluarga Xi yang bergerak di bidang property dan jasa. Namun Luhan ge menolak dan memberontak. Gege ingin menjadi dokter. Ia ingin mengobati dan menjadi penyembuh.
Haah, sekarang memang sudah malam. Tak terasa olehku sinar matahari sore sudah berganti dengan langit malam yang cerah. Bulan tampak indah dan bintang-bintang dengan jelas oleh mata ku. Sangat indah. Berbeda dengan langit Korea yang dulu ku tatap.
"Ge. Aku akan berangkat besok pagi,"
/"Penerbangan jam berapa? Gege akan menjemput mu di bandara."/
"Tidak perlu. Besok pagi, pasti gege sibuk di rumah sakit,"
/"Tidak. Aku akan menjemput mu. Katakan, baobei. Aku ingin menyambut mu dengan pelukan ku,"/
Haah… dasar pemaksa.
Ya. Besok aku sudah bisa pergi dari rumah kedua ku ini. Jepang adalah tempat ku di besarkan. Selama setahun berada di Korea dan selebihnya aku mengisi hari-hari ku di Negara Sakura ini. Tinggal bersama Minseok oppa dan keluarganya.
Namun sekarang aku sendiri. Minseok oppa, Baekhyun eonni dan Minhyun, keponakan lucuku. Mereka sudah lebih dulu berangkat ke Beijing. Dan Chen eonni, Chanyeol oppa dan keluarga ku yang lain, sudah lebih dulu berada di China. Dan soal aku pergi ke China sendiri tak diketahui oleh mereka. Sengaja aku tak beri tahu.
"Penerbangan jam 7." Ucapku. Aku melirik jam tanganku. Ah, sudah jam setengah 8 saja… lapar mulai ku rasa.
/"Oh. Baiklah. Gege akan menunggu mu besok di bandara. Ahhhh… gege tak sabar melihat dan memeluk dirimu sayang…"/
"Kkk… sebegitu rindu kah?"
/"Ya. Rasanya hidup ini hampa bila tak jua dirimu hadir di sisi ku dan memeluk ku manja,"/
"Uugh, gege, hentikan perkataan mu, aku geli mendengarnya."
/"Tidak, my love. Because, I really- really love you…"/
"Ge~"
/"Kai baby… "/
"Ge, cukup!"
/"Haahahaa…. Iiihhh.. istriku lucu sekali siihh…"/
Uughhh.. dasar rusa jelek! Wajah ku sekarang pasti sudah merah. Aaahh."/"
Dari dulu sempai sekarang, masih saja dia berhasil membuatku tak berkutik. Ish, menyebalakan!
Beberapa saat setelah Luhan ge berhenti tertawa. Ketenangan menyelimuti kami. Hening. Aku nyaman dengan suasa-
Kryuuuukk
Ups!
/"Kai? Suara apa itu?"/
Mampus! Iiiiihh. Kenapa harus bunyi siih… ahh.
"Ah, bukan suara apa-apa. Uhm,"
/"Oh. Gege pikir suara pesawat tadi,"/
Ngik!
Apaan sih!
Aku lapar bodoh!
/"Sayang, apa kau sudah makan? Ini sudah malam loh,"/
Idiot. Aku juga tau ini sudah malam. Huuhuu.. aku lapar. Bodohnya aku tak membawa apapun kesini sebelumnya. Huuft..
"Belum, ge."
/"Belum? Yah, sayang, kenapa kau belum makan? Tunggu. Apa kamu masih di atap gedung?"/
"Ya. Aku masih disini,"
/"Yah! Cepat turun dan pergilah makan. Gege tak ingin kamu sakit,"/
"Iya iya, tapi teleponya?"
/"Uh? Oh, yasudah. Matikan saja."/
"Tidak mau, gege saja yang matikan."
/"Kai, kamu saja ya?"/
"Eoh? Kan gege yang menelponku duluan. Berarti gege yang memutuskan sambungan nya,"
/"Tidak, kamu saja."/
"Ge,"
/"Umh,?"/
"Matikan,"
/"Anniyo…"/
"Gege ingin aku berdiri terus disini dan tidak mak-"
/"Iya iya. Gege pustakan nih. Tapi kiss by nya mana?"/
"Luhan ge."
/"Ish, yasudah kalau tidak ma-"/
"Luhan ge! Love you! Muuach!"
-Tuut-
Aaaaghhh ya Tuhan. Aku malu sekaliiiiii
Uughh… untung saja aku sendirian disini. Haaah.. dasar ikan lohan.
Ugh, lapar sekali. Lebih baik aku turun dan pergi makan. Umh.
.
#...Han-Kai…#
Haah… akhirnya aku tiba juga di bandara Beijing. 15 menit yang lalu pesawatku take-off dan sekarang aku sedang berjalan ke arah luar bandara.
Aku tak sabar bertemu dengan Lu-ge. Tapi aku ragu ia akan benar-benar menjemputku. Ini masih pagi dan pasti ia tengah sibuk di rumah sakit. Sebagai dokter, tentu ia harus menjalankan kewajibannya sebagai dokter.
Sembari melangkah, aku melihat ke sekeliling bandara. Berusaha menemukan seseorang yang aku kenal. Tapi aku tak melihat siapa pun yang aku kenal. Karena aku memang tidak memberitahu yang lain kalau aku akan datang ke China. Yah, kecuali Luhan ge.
Aku sudah mengirim pesan pada Lu-ge. Kenapa aku tak menelpon saja? Yah, seperti yang aku pikirkan tadi, pasti pagi ini Lu-ge sibuk. Dan kenapa aku tak menelpon keluarga ku? Simple, karena aku hanya ingin melihat Luhan ge yang menyambutku duluan. Seperti janjinya.
Aku mengambil tempat duduk yang berada di ruang tunggu. Istirahat sejenak. Di sampingku ada seorang laki-laki muda dengan jaket coklat yang terlihat pas di tubuhnya. Aku yakin, pasti dia memiliki tubuh yang tinggi.
Kembali, aku mengedarkan pandanganku. Dan stak.
Aku melihat sesuatu yang membuat ku terpaku. Seorang gadis kecil tengah menangis di samping pot besar di depan kaca ruang tunggu. Aahh.. pasti gadis kecil itu hilang dari pengawasan orang tuanya. Aku melihat ke sekeliling, banyak orang disini. Tapi mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dasar manusia. Haaa.. aku merasa déjà vu.
Aku terus menatap gadis kecil itu. Aku ingin menghampirinya, tapi aku ragu ia akan mengerti apa yang aku katakan. Walaupun suamiku orang China, aku hanya belajar sedikit padanya. Uuh.. kalau begini, sebaiknya aku juga mengambil kelas bahasa Mandarin dulu!
Sesaat aku beranjak dari tempat dudukku. Ya, aku ingin menghampiri gadis kecil itu. Tapi seseorang lebih dulu menghampiri gadis kecil yang masih menangis itu. Seorang pria, memakai jaket warna ungu. Ck, norak. Pikirku langsung.
Laki-laki itu berjongkok dengan lutut kanannya sebagai tumpuan. Menatap dan mengelus kepala gadis kecil itu. Aku yakin, dia sedang berusaha menenangkan gadis itu. Aku masih melihat mereka dari jauh.
Ia menegakkan kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Dan stak
Ia akhirnya bertemu pandang denganku.
"Hei, umm… apa kau punya syal?"
Syal? Aku sedikit memiringkan kepalaku. Eh, tunggu. Dia tadi berbicara bahasa Korea?
"Eoh? Syal? Ah, aku punya. Tunggu sebentar."
Aku kembali ke tempat duduk ku tadi. Barang-barang yang kubawa tak terlalu banyak. Satu koper dan tas biasa. Dan tas kecil yang tengah aku pakai. Aku membuka tas ku dan segera aku menemukan syal berwarna orange lembut. Pemberian Chen eonni.
Aku segera menghampiri laki-laki dengan topi hitam itu dan memberikan syal ku.
"Ah, xie xie.. nah biar gege pakaikan ya? Sebentar." Di berbicara begitu lembut dan memakaikan syal itu pada leher mungil si gadis kecil. Dia benar-benar manis ternyata. Mata gadi kecil itu sipit dan pipinya bulat. Ah, aku jadi ingin mencubitnya.
Gadis itu sudah tak menangis lagi. Ia menatapku lama dan aku balas menatapnya, tersenyum.
"Jiejie… xie xie.." ucapnya dan tersenyum lucu padaku. Pipinya sedikit memerah. Mungkin karena menangis? Dan, ah ya. Di China sedang musim gugur. Pasti dingin ya..
"Ye. Sama-sama. Umm.. kenapa kamu bisa sendirian disini?" aku nekat bertanya dengan bahasaku. Uh, bodoh.
Lihatlah ia tidak mengerti dan mengalihkan pandangannya dariku, menatap bingung pada laki-laki bertopi yang masih berjongkok di depannya. Dan aku baru sadar dia memiliki dimple. Oh!
Aku melihat laki-laki itu berbicara pada si gadis kecil dan kemudian dia menatapku. "Gadis ini bilang, dia terpisah dari orang tuanya. Eh, umm.. bisakah kau bantu aku menemukan orang tuanya?" aku yakin laki-laki ini orang China. Tapi kenapa bahasa Korea-nya fasih sekali? Ah, pasti dia sudah lama tinggal di Korea.
Aku hanya balas mengangguk. "Tentu."
[…]
Aku sedang berjalan kearah tempat aku duduk tadi, sebelum aku pergi menemani namja dimple tadi. Setelah menemaninya mencari orang tua gadis itu dan akhirnya orang tua si gadis kecil muncul dan sedikit berbasa-basi, akhirnya aku pergi. Dan, ahh, bodohnya aku tak sempat bertanya siapa namanya. Dia laki-laki yang baik.
Aah..kan. Lagi-lagi aku teringat laki-laki tampanku. Huh.
Satu belokan lagi aku bisa sampai ke tempat ku tadi.
Dan
Ah!
Apa aku tak salah lihat?
Dia… uuhg, baru saja aku memikirkannya. Dia, sudah berdiri disana. Berdiri dengan wajah khawatirnya. Kenapa? Ah! Kai bodoh! Tentu saja di khawatir padamu karena dia tidak menemukanmu di tempat yang seharusnya.
"KAI! Kai, sayang. Kau dari mana saja? Kau pergi kemana, eoh? Kenapa aku tidak menunggu di sini? Gege mencari mu dari tadi. Gege takut kau kenapa-kenapa. Ge-"
"Gege. Aku tidak apa-apa. Aku… tadi dari toilet." Jawabku. Bohong. Memotong begitu saja ucapannya.
Di menatapku selidik. Beberapa saat, ia pun melepas tangannya yang sedari tadi menangkup wajahku. Turun ke behuku. Lalu dengan lembut membawaku ke dalam pelukannya. Pelukan hangatnya yang aku rindukan. "Kai, gege sangat merindukan mu…" bisiknya di telingaku.
Hatiku hangat. Aku balas memeluknya erat. Membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Hangat. Sungguh. Aku benar-benar merindukannya. "Kai, juga merindukan gege… sangat."
Aku tak tau berapa lama kami saling berpelukan melepas rindu, hingga aku mendengar suara yang terdengar cempreng di belakang Luhan ge. Membuatku mengangkat kepalaku dan sedikit memiringkan kepalaku. Dan…haah.. kenapa dia lagi? Aku merasa déjà vu. Lagi.
"Aaaahh… kenapa kalian selalu membuatku iri, sih!"
Jelas terasa oleh ku, Luhan ge terkejut dengan suara tingi di belakangnya. Dengan masih memelukku, ia membalikkan tubuhnya menghadap Chen eonni yang merengut lucu. Bibir tipisnya di pout. Tapi malah membuat ia terlihat aneh kalau seperti itu. Khe…
Eonni idiot.
"Yah! Park Chen. Kenapa kau selalu mengganggu moment ku bersama istriku, eoh? Dasar pengganggu."
"Xi Luhan yang terhormat. Kau pikir aku mau selalu menggangu kebersamaanmu itu dengan istri mu, eoh? Seharusnya kalian sadar, kalian berada dimana sekarang. Kangen-kangenan sih boleh saja. Tapi tidak perlu selama itu kalian saling berpelukan,"
"Aku memang merindukan istriku. Kalau kau rindu si tiang Park, susul saja sanah."
"Tidak mau! Dan jangan katakan apapun tentang si Dobi jelek itu!"
"Wah, kau mengejek tunangan mu sendiri,"
"Xi Luhan diam."
"Aku tidak ak-"
"Lu-ge, diam. Kenapa kalian malah bertengkar sih? Dan eonni, kenapa kau selalu mengejek Chanyeol oppa. Dia itu calaon suami mu,"
Aku tak habis pikir dengan Chen eonni. Kenapa dia salalu saja menghina Chan-oppa. Padahal Chanyeol oppa kan laki-laki tampan dan baik. Yah, tidak setampan Lu-ge tentunya.
"Dia menyebalkan! Dia meninggalkan aku sendiri disini dan pergi ke perusahaan. Huh." Dia menggerutu sebal.
"Oh. Aku pikir eonni datang bersama Lu-ge. Tunggu, dari mana eonni tau kalau aku datang hari ini?"
"Sehun. Dia bilang pada ku kalau kau akan kesini hari ini. Dan dia juga bilang kalau suami mu ini yang akan menjemut mu. Tapi kau tau sendiri kalau Xi Luhan ini akan selalu sibuk di pagi hari dan pasti dia tidak akan datang untuk menjemputmu. Maka dari itu eonni datang kesini. Menjemput mu."
Ya Tuhan… kenapa dia cerewet sekali. Satu jawaban singkat kan bisa. Ini malah panjang kali lebar. Beuh.
Aku hanya terdiam mendengar eonni menjelaskan kenapa dia ada disini. Haah.. kalau begini pasti semua keluarga sudah tau aku akan datang hari ini.
Terdengar helaan nafas dari pria yang masih memelukku.
"Haah.. yasudah. Ayo kita pulang. Semua pasti sekarang sedang menunggumu."
Dan dengan begitu aku pun melepas tangan Luhan ge dan berjalan cepat dengan menarik jemari Chen eonni. Meninggalkan suamiku yang terdiam melihat aku pergi dari dirinya. Dan menghiraukan teriakkannya.
"Yah! Kenapa kau meninggalkan aku sendiri? Kai! Tunggu gege!"
.
[Han-Kai]
Aku bahagia. Sungguh. Aku benar-benar merasakan bahagia itu.
Semua keluarga ku hadir malam ini. Di mansion mewah kediaman keluarga Xi. Rumah suamiku.
Setelah berbincang-bincang dan melakukan segala sesuatu yang melelahkan dari semenjak aku sampai di mansion ini hingga malam ini, aku bisa bernafas lega.
Hampir semua orang menanyaiku. Ckh, mereka pikir aku apa? Bagian informan? Ckh.
Tapi aku senang. Aku sengan mereka menanyai keadaanku. Itu berarti mereka semua menyayangiku.
Dan sekarang aku berada di kamar yang begitu luas dan elegan. Kamar tidur aku dan suamiku.
Aku berdiri di jendela besar kamar ini. Menatap bulan yang terang, seakan tersenyum cerah padaku. Dan aku balas tersenyum
Greep
Ku rasakan pelukan hangat dari belakang tubuhku. Ah… aku merasa déjà vu lagi. Dan aku harap tidak ada satupun yang mengganggu moment romantic yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Iya kan?
"Kau benar-benar indah, sayang…" ia bergumam di telingaku, lalu mengecup daun telingaku lembut.
"Kau juga, sangat menawan, ge…"
"Kau tau? Betapa bahagianya aku saat ini. Akhirnya kita benar-benar bersama tanpa ada lagi penghalang. Dan tidak mungkin rintangan akan menghadang lagi, tapi, kau berada disisiku. Aku tak akan lemah menghadapinya.."
Aku hanya tersenyum. Suamiku memang pandai bermain kata. Lagi-lagi membuatku tak berkutik.
Ketenangan sungguh terasa olehku. Suasana yang begitu romantis. Disinari cahaya rembulan. Aku tak ingin semua ini berakhir.
aku membalikkan tubuhku menghadapny. Menatap mata rusanya yang selalu membuatku jatuh dan sulit berpaling darinya.
Dia sungguh mempesona.
"Wo ai ni…"
"Wo ye ai ni… "
Saling menatap dan berbalas kata cinta. Sungguh aku harus bisa menahan rasa yang mengebu-gebu di hatiku.
Cup
Lembut. Ia mengecup bibirku lembut. Dan aku tersenyum manis padanya.
"Really love you, my love."
Dan akhirnya ia menciumku penuh kasih sayang. Membuatku melayang. Sangat lembut.
Aku terbuai. Aku tak ingin semua ini berakhir.
Karena aku tau, ini lah akhir kisah cintaku. Bahagia akhirnya aku dapatkan.
Aku bahagia. Dengan cinta ku bersama dia yang mencintaiku.
Aku bahagia, terimakasih, Luhan oppa .
.
.
.end…
.
.
Hai! Udah end. Beneran end… selesai.
Beneran panjang nihh… maaf kalo lama updatenya. Tau lah wb -_-
Gak tau mau ketik apa lagi. Maap jika masih membosankan atau monoton. Tapi saya suka chapter terakhir ini. Siapa yang setuju dengan saya?
Untuk novi saputri09, mungkinkah chapter terakhir ini sama dengan permintaan kamu yang waktu itu?saya rasa sudah, ya.
Terimakasih idenya.
Yah.. udah..
Jeongmal gomawo yang udah baca, review, fav, folw…. Saya senang banyak respon untuk ff ini.
Sekian…
See in another story…
By!
Jangan lupa reviewnyaaaaa….
