Oke sepertinya perang benar-benar dimulai hamper setiap hari Naruto dapat sial dari kursinya di tempeli permenkaret, terpleset, dan lain-lain. Tapi ia bersyukur ada beberapa murid yang masih mencatat pelajarannya walau sambil menggerutu. Tapi lebih banyak yang sibuk sendiri.

Naruto bukanya tidak mau menegur atau semacamnya, ia hanya ingin tahu sejauh mana murid-murid ini akan begini, ia sadar saat sekolah dulu ia selalu menjahili guru bahkan sering bolos. Sepertinya ini ganjarannya. Ternyata karma itu memang ada.

BRUK!

Naruto menaruh pelajaran dengan kasar di meja guru, habis sudah kesabarannya. Ini adalah jam pelajaran pertama dan para murid itu sudah membuatnya ngap-ngapan bak ikan di darat. "U-Uzumaki-sensei.." Naruto menoleh dengan kasar, ia bisa melihat disana Hinata menatapnya dengan cemas. "Hyuga-san ! kenapa kau tidak bilang kalau murid-murid itu sanagat berandal?! Aaarrgghh, aku mau mencincang mereka semua rasanya!" kini Naruto menghentak-hentakan kaki di lantai dengan gemas, beberapa guru menatapnya bingung bahkan ada yang berucap 'Sabar-sabar' Ya tuhan , memangnya Naruto apa? Bawang diatas ramen? Dia benar-benar kesal sekarang.

"Hyuga-san, kau enak tidak mengajar di kelas XII ,nah aku?" Wajah Naruto kini memelas bak kucing yang dilempar kesungai . Hinata mengernyit ia jadi bingung juga, pasalnya ia memang tak mengajar disana , ia hanya mengajar di kelas X dan XI saja. Dulu ia pernah mengajar di kelas XII dan saat itu tepatnya ia mengajar di kelas XII-A , baru sehari dia sudah menangis , karena beberapa murid menggodanya perihal tubuhnya yang terbilang semok itu.

Naruto menghela nafas dengan kasar, lalu merapikan materi yang lan hari ini ia harus mengajar kelas XII yang lain. "Sudahlah.. aku akan mengajar di kelas XII-C. Permisi." Setelah itu Naruto berlalu meninggalkan Hinata yang menatapnya cemas.

"Hinata-san, sepertinya Naruto-kun akan keluar. Sama seperti yang lain." Kurenai salah seorang guru kelas XII membuka suara, Hinata menatapnya dengan seksama. "Aku , merasa para murid itu memiliki dendam penolakan pada para guru, atau hanya ingin main-main saja. Saat aku mengajar di kelas XII-A beberapa murid masih ada yang mendengarkanku. Walau selebihnya sangat menyebalkan. Tapi aku pun berharap kalau kelas itu sama seperti kelas lainnya." Wanita setengah baya itu tersenyum pada Hinata.

"Akupun berfikir sama," Hinata menunduk, "Nah, Hinata-san. Aku duluan." Hinata mengangguk lalu menatap kursi milik Naruto dengan sendu.

.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi, Naruto mengakhiri pelajarannya lalu keluar dari kelas XII-C. "Naruto-sensei!" ia menoleh saat seseorang memanggil namanya , ia bisa melihat seorang gadis bersurai coklat salah satu siswi kelas XII-A menghampirinya kalau tidak salah ingat namanya Matsuri.

"Ah, ada apa Matsuri-chan?" Tanya Naruto dengan ramah. Gadis itu menunduk takut-takut . "A-ano, bi-bisakah aku betanya soal pembahasan yang tadi?" gadis itu makin menundukan kepalanya.

Naruto tersenyum , lalu berucap "Kau bisa keruanganku saat istirahat kedua, aku akan menjelaskannya." Matsuri mengangkat kepalanya dan menatap Naruto tidak percaya. "Sungguh?" Naruto mengangguk dan tersenyum ramah.

"Ya , kalau begitu aku permisi."

"A-ARIGATO, NARUTO-SENSEI!"

Sakura mentap interaksi antara Naruto dengan Matsuri, ia menghampiri Matsuri dengan langkah ringan "Jadi, kau mau mengikuti pelajaran?" Matsuri menoleh kebelakang lalu membelalakan mata "Sa-sakura-hime!" ucapnya kelu. "Tak, apa, tapi kalau ada apa-apa aku tak mau membantumu. Jaa.. Matsuri-chan." Sakura meninggalnya sendiri .

.

.

.

.

Naruto memilih taman belakang sebagai tempat istirahatnya, ia membuka bento yang ia buat dengan perlahan. "Aaa.. sepertinya enak, Itadaki-" ucapannya terpotong tak kalah ia melihat murid tepatnya Kiba yang kini sedang memegangi perutnya , Naruto menghampirinya dengan perlahan. "Kau taka pa?" Kiba mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang bertanya padanya. Naruto bisa dengan jelas milhat raut keakitan yang bocah itu tampakan , wajahnya juga pucat. "K-kau.." bisik Kiba disela rasa sakitnya. "Hey, apa perutmu sakit? Mau aku antar ke UKS?" Naruto berjongkok dan bertanya dengan cemas. Namun kiba membuang mukanya hendak bangkit "Tak usah pedulikan aku!" baru saja Kiba ingin pergi namun pandangannya ti ba-tiba memburam membuatnya tumbang, untung Naruto menangkap tubunya. "Inu-Inuzuka.. oii!"

Hal pertama yang kiba lihat saat membuka mata ialah kamar serba putih, mencoba menggerakan tubuhnya untuk bangun dengan perlahan. "Yokatta, akhirnya kau siuman juga. Inuzuka-kun." Suara wanita terdengar lembut , ia bisa melihat dokter bername tag Shizune menghampirinya. "Shisuzune-sensei? Ini jadi di ruang kesehatan? " Shizune tersenyum lalu memberikan air minum yang langsung diminum oleh Kiba. "Uzumaki-sensei yang membawamu dalam keadaan pingsan kesini, wajahnya panic sekali tadi. Aku samapai kaget." Kiba membolakan matanya "Uzumaki-sensei..?" bisiknya tidak percaya.

Shizune mengangguk sembari tersenyum. "Ne, Inuzuka-kun sepertinya kau belum makan hingga kau merasakan nyeri lambung ya? Lain kali jangan lupa sarapan." Jelas Shizune. "Ah.. tadi Uzumaki-sensei juga menitipkan ini.." Shizune menyerahkan kantung pelastik pada Kiba, "Itu harus kau makan, dia bilang begitu. Nah makanlah.. aku akan akan mengambilkan obat untukmu." Setelah kantung plastic itu diterima Kiba, Shizune meninggalkannya.

Kiba membuka kantung pelastik yang berisi , sekotak bento serta sari buah, ia benar-benar tak percaya. Guru yang ia jahili melakukan ini untuknya, ia menggigit bibir bawahnya lalu mulai membuka kotak bento itu dan memakannya dengan pelan.

.

.

.

"KYAA SAKURA-SAN LIHAT DEH!" Fuu memanggil-manggil Sakura sembari memanggil sebuah majalah di tangannya. "Lihatlah Sasuke-san disini sangat rupawan!" dengan wajah merona Fuu menunjukan majalah tersebut pada Sakura. "Apa ini edisi baru?! Astaga Sasuke-kun kakoi~" Ucap Sakura memperhatikan majalah yang tertampang diri Sasuke yang sedang menggunakan jaket jeans untuk iklan.

"Kyuubi-san memang keren, pengambilan anglenya selalu oke!" ucap Sakura semangat , "Kau sangat mengidolakan Kyuubi itu ya?" Fuu berkacak pinggang sembari menyeringai jahil pada Sakura. Bola mata emerald Sakura langsung terbelalak dengan wajah bersemburat malu. "Waahh, Hime wajahmu memerah." Kali ini Suzume yang menggodanya. "Apa yang kau idolakan darinya Sakura?" Ino mengambil majalah Sasuke sembari membolak baliknya dengan wajah berseri-seri.

Sakura menunduk lalu tersenyum, "Aku sangat menyuka seni photographer, aku berharap bertemu dengan Kyuubi-san. Aku ingin minta foto dan tanda tangannya!" ucap Sakura semangat. "Ahaha, tapi sepertinya banyak laki-laki disini yang menunggumu." Sasame menepuk pundak Sakura dengan ringan.

"Ah , mereka hanya antek-antekku saja."

Hening tercipta

"oya, Kiba-kun mana?" Sakura bertanya sembari melihat seisi kelas. "Entahlah, mungkin bolos. Sekarang kan sudah masuk mata pelajaran Anko-sensei." Jelas Tenten sembari memainkan pulpennya. "Oya Sakura, nanti kita mampir yuk. Ada poster Sasuke yang terbaru loh!" Sakura mengangguk dengan semangat. "Ya! Aku juga mau melihat karya-karya Kyuubi-san!" jelas Sakura dengan riang.

Tak lama kelas terasa hening saat Anko datang, "Baiklah, murid-muridku.. kita mulai pelajaran hari ini." Semuanya bergidik saat wanita itu menjilat bibirnya sendiri dengan pandangan nafsu.

.

.

.

.

"Karin, kau taka pa?" Karin menatap Juugo yang kini memberikan sebotol minuman padanya. "Ya," jawab Karin sembari membuka botol meniman tersebut. "Kau , rindu sama Sasuke?" Tanya Juugo enteng. "Ti-tidak. Aku hanya.. khawatir pada Naruto." Jelas Wanita bersurai merah itu dengan pelan.

Juugo menatapnya seksama tanpa berani berkomentar.

.

.

.

.

"Arigato Sensei," Matsuri memberi hormat setelah keluar dari ruang guru. Naruto menghela menatapnya sembari tersenyum, padahal tadi dia minta agar bocah itu datang disaat istirahat kedua namun bocah itu malah datang saat pulang sekolah, ya.. biarlah lagipula Matsuri sudah menjelaskan perihal keterlambatannya. Sepertinya hari ini Naruto akan datang telat ke studio.

Memasuki ruang guru lalu membereskan barang-barangnya, disana sudah sepi karna para guru sudah pulang. Setelah selesai memebereskan barang Naruto pergi keluar sekolah.

Berjalan kearah parkiran, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Kiba berdiri disana, "Ada apa Inuzuka?" tegur Naruto halus. Kiba yang tadinya menatap tanah , mengangkat kepalanya dan menghampiri Naruto. "Kau sudah terlihat lebih sehat." Ucap Naruto memperhatikan Kiba.

"Kenapa , kenapa Sensei.." ucapan Kiba terpotong saat tangan Naruto berada dikepalanya lalu diusapnya dengan pelan.

"Karna kau muridku."

Sebuah angin berhembus pelan, Kedua bola mata Kiba membelalak. Ia benar-benar tak percaya. Guru yang selalu ia jahili dan kata-katai melakukan ini padanya. "Baiklah, ayo ku antar kau pulang." Jelas Naruto berjalan melewati Kiba.

Kiba membalikan tubuh lalu berucap dengan lantang "ARIGATO SENSEI! HONTOU NI GOMENASAI!" Naruto tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. "Ayo cepat." Ucap Naruto, Kiba mengangguk sembari tersenyum menampilkan giginya dan berjalan menghampiri Naruto.

Bolehkan Naruto berharap bahwa dengan begini perlahan beberapa muridnya akan luluh pada dirinya?

.

.

.

.

"Kyaa.."

"Kyaaa.."

Beberapa gadis-gadis tengah heboh di sebuah café diwilayah Konoha barat. Sakura ia tengah disibukan juga dengan majalah photographi yang ada di tangannya sedangkan teman-temannya dsibuk dengan majalah K-pop serta majalah Sasuke. Bukan karena Sasura tidak suka dengan Sasuke. Ia suka sangat suka malah. Tetapi ia lebih tertarik dengan si pemotretnya itu. 'KYUUBI' hanya itu yang tertera disana. Sakura bahkan sudah mencari situsnya dan wikipedianya tapi memang orang itu merahasiakan dirinya.

Disana hanya berisi hasil-hasil jepretan yang ia miliki dan itu membuat Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak berdecak kagum. Sakura berharap bisa berjumpa dengannya, punya emailnya saja juga tidak papa. Menurut data yang Sakura baca Kyuubi itu baru berusia 22 tahun berarti seusia dengan Sasuke. Lalu disana juga tertera kalau mereka bersahabat. Sakura pernah menonton konser Sasuke , sering sekali malah tetapi yang ia dapat hanya Cuma tanda tangan dan beberapa foto, setiap kali ingin bertanya tentang Kyuubi pasti ada saja halangan. Ah.. ngobrol sama bintang itu sulit sekali.

Drrt

Drrtt

Handphone Sakura bergetar, gadis itu menaruh majalahnya lalu mengangkat telefon tersebut. "Moshi-moshi Hidan-kun. Aku di café. Sekarang? Kau dimana? Baik aku kesana." Setelah menutup telefon , Sakura menatap teman-temannya. "Aku pergi duluan ya. Makanan dan minumannya biar aku yang bayar. Jaa~" jelas Sakura sembari mengambil tas lalu keluar café, temannya hanya melambaikan tangan sembari tersenyum padanya.

Sakura memacu langkahnya kearah taman Midori , Hidan memintanya bertemu disana. Taman Midori memang cukup dekat dari café yang tadi ia tempati, ia ternyum saat melihat Hidan tengah duduk di bangku taman sembari menyesap minuman kaleng. "Hidan-kun!" panggilnya dengan ceria.

Hidan menatapnya lalu tersenyum, "Apa aku lama?" Tanya Sakura sembari duduk disebelah Hidan. "Tidak.." jelas Hidan santai. "Jadi apa?" Tanya Sakura mengaitkan tangannya pada Hidan. "Aku mau pinjam uang. Aku ada praktek, aku butuh uang." Sakura menatapnya lalu tersenyum , "Baiklah yang kau butuhkan berapa?" Tanya Sakura , gadis itu mengambil dompetnya.

Tanpa Sakura ketahui Hidan menyeringai tipis padanya.

tbc

.

.

.

Note :

ada beberapa dari kalian bilang Naruto kelembekan ya? bukan . Naruto disini hanya saya buat kalo dia diam tapi akan membalas. namun dengan cara dia sendiri. nanti ada masa lalu jelek Naruto , lalu alasan murid-murid onar juga akan saya jelaskan.

makasih buat kalian yang menunggu cerita saya. saya sangat menghargai review kalian. makasih banyak ya.

salam. cinta.

Kazeuta.