A/N:Mohon maaf atas keterlambatan yang sudah sangat kelewatan ini. Mau bagaimana lagi mencari inspirasi itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun saya tetap bersaha mencari dan akhirnya inilah hasilnya. Semoga kalian puas.

Dan untuk Light yagami terima kasih telah meriview cerita saya. Tapi mengapa anda mengatakan Fic saya ini Fic banci? Mungkin memang benar Fic ini adalah Fic yang lebay dan terkesan banci. Tapi, yang jadi pertanyaan bagi saya adalah kenapa anda meriviewnya ci chap 3? Kenapa bukan di chap pertama. Berarti secara tidak lansung anda menyukai Fic saya ini. Dan terima kasih atas kritiknya.

Dan mari kita tinggalkan masalh tadi. Disini saya mencoba gaya penulisan yang baru. Semoga kalian suka.


Pair: Naruto x FremKyuu

Genre: Tragedy & Romance (Bingun apa memang benar ngak Genrenya? Kalau salah nanti saya ubah dan untuk Adventure kemungkinan di chap depan)

Warning: Typo, occ, oc, bahasa yang aneh, abal-abal, banyak kekurangan di sana-sini, alur yang terlampau cepat, sistim SKS (Sistim kebut semalam)

Maaf bagi pengemaar Sasuke, Sakura, dan Rokie 12 lainnya. Karena di fic ini mereka semua saya buat jadi jahat. Bukan saya menjeklekan mereka semua. Ini hanya untuk mendukung jalannya cerita ini.


Apa kalian melihatku sebagai orang yang suka bermimpi?

Tapi, percayakah kalian bahwa aku tidak pernah bermimpi dalam tidurku?

Bukan dalam artian yang sebenarnya.

Hanya saja aku tidak pernah melihat bunga tidur dalam mimpiku.

Hanya kegelapan yang aku lihat. Ketika, mata ini terpejam.

Lalu. Apakah kalaian menyangka aku akan terbangun dengan kondisi. Dimana, aku bangun dengan nafas yang ngos-ngosan, mata terbelalak, keringat bercucuran, sakit dikepala?

Kalau kalian menjawab iya, berarti kalian salah.

Sebab aku bangun. Dalam keadaan yang tenang. Menatap langit kamarku sejenak dengan pandangan kosong. Lalu mulai beraktifitas seperti biasanya.

Karena pada akhirnya aku yakin bahwa.

Kegelapanku adalah kenyataanku.

.

.

.

.

.

Awan hitam menggantung dilangit, yang akan menjadi pertanda bagi penghuni alam bahwa hari akan hujan atau mungkin akan terjadi badai. Namun entah kenapa, seolah langit enggan untuk menangis saat ini. Dan seolah awan hitam hanya menjadi penghias hari yang suram ini.

Di dalam sebuah hutan, atau lebih tepatnya berlari diantara dahan pepohonan, terlihat seorang pemuda yang berlari melewati melompati dahan pohon dengan tangkas. Dan jika melihat lebih dekat, kita bisa melihat sorot mata yang tajam dari dua warna mata yang berbeda.

Dari mata kanannya bisa dilihat iris biru bagaikan laut atau bagaikan langit cerah tanpa awan yang dapat menenangkan siapa saja, tapi sekarang sudah kusam. Dan dari mata kirinya terdapat iris onyx bagai langit malam tanpa bintang. Sungguh perpaduan yang aneh untuk sebuah iris mata. Namun satu hal yang pasti mata kiri itu bukan miliknya.


Flash Back on

Malam ini, langit hitam menjadi latar dan bulan yang berdiri sendiri menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melihatnya, namun sayang bintang menghilang entah kemana. Terus memandangi langit, tanpa sadar malam sudah mencapai puncaknya. Namun tatapan pemuda itu tetap kosong. Dirinya. Masih dalam proses pemulihan akibat operasi kecil yang dilakukannya.

Hanya sebuah operasi pendonoran mata, bukan berati dia buta. Bukan!

Hanya sebuah hadiah kecil yang diberikan oleh mendiang Senseinya, yang kini telah menghadap Kami-sama. Masih lekat di ingatannya, bagai mana dia menjalankan berbagai latihan bersama tim 7, masih di ingatnya bagai mana dia menjalankan misi rank C yang sebenarnya itu misi rank A. Belajar berjalan diatas pohon, dan banyak latihan konyol dan tak berguna lainnya. Namun yang paling berkesan baginya iyalah ajaran sang Guru yang hobi terlambat itu tentang.

Pentingnya seorang teman.

Tapi, dia merasa untuk kali ini, Senseinya salah.

Karna pada saat ini pandangannya terhadap seorang teman sangat jauh berbeda.

"Masih memikirkan gadis itu?"

Mendengar sebuah suara yang menyapanya, lansung membuyarkan lamuannya. Mengalihkan pandangannya menuju asal suara, kemudian tersenyum simpul mendapati siapa yang menyapanya.

"Menurutmu?"

"Cih.." ucap pemuda itu seraya menguap bosan. "Apa kau masih tidak percaya kepada kami?"

"Tidak. Shikamaru" ucap pemuda bersurai pirang tersebut. "Aku sepenuhnya percaya kepada kalian"

Sejenak Shikamaru tertengun mendengar ucapan pemuda bersurai pirang didepannya, namun dengan cepat dia tersadar dan kemudian memberikan senyum yang bersahabat pada pemuda pirang itu.

"Mendokusai..." ucap Shikamaru seraya menguap kembali. "Sudahla ayo masuk Naruto"

Mengangguk kemudian Naruto mengikuti langkah Shikamaru, masuk kedalam Goa. Dan setidaknya pandangannya akan arti persahabatan sudah mulai berubah karena empat orang pemuda ini. Pandangannya bahwa teman adalah...

Bukan siapa yang datang lebih dahulu, bukan siapa yang lebih kama kamu kenal. Tapi teman adalah mereka yang datang dan tidak pernah pergi!

Flash Back off


Masih melompati pepohonan. Sebentar lagi dia akan sampai disebuah desa. Sebuah desa yang menjadi kenangan buruk baginya. Sebuah desa yang membuatnya melalui masa lalu yang sulit. Sebuah desa yang pernah menjadi impian dan angan-angan kosongnya. Desa itu...

Konoha.

Berdiri diatas dahan sebuah pohon, dengan jelas Naruto meliat gerbang desa itu. Memejamkan matanya dia teringat akan ucapan Shikamaru, Shino, dan Sai yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa membantu dirinya untuk menyerang desa tersebut. Dan dia memakluminya. Sedangkan Gaara, saat ini sudah kembali ke Suna, berusaha berunding dengan Konoha agar Kyuubi dilepaskan. Tapi semua itu sia-sia..

.

.

.

.

.

Banyak orang yang berkata bahwa kehidupan itu, seperti kanfas putih yang kosong.

Lalu kau bisa menghiasnya dengan berbagai tinta kehidupan yang telah disediakan Tuhan.

Tapi, Bagaimana jika kau tidak bisa memilih tinta yang kau ingginkan.

Bagaimanakah? Jika Tuhan yang telah memilih tinta kehidupan untukmu.

Seperti warna tinta dalam kanfasku. Yang kelam yang takmungkin terhapuskan lagi. Karena sudah mengeras.

Kanfasku yang telah dilukiskan oleh warna-warna. Menyedihkan.

Merah pekatnya darah.

Hitam kenangan buruk dari masa lalu.

Abu-abu untuk sesuatu yang tidak pernah pasti dalam hidupku.

.

.

.

.

.

Membuka scrol jutsu clan Uzumaki. Naruto mengigit jarinya hingga berdarah. Lalu, mengoreskan luka tersebut diatas gulungan yang telah dikembangkannya. Merapalkan segel tangan dengan cepat. Naruto mulai mengucapkan satu kata..

"Anubis"

Dan seketika di sekitar Naruto. Muncullah sekitar 50 mahluk dari kegelapan. Mahluk ini mempunyai wujud kepala jackal dan berbadan manusia. Dengan subuah sabit besar yang dibawanya.

"Anubis. Mahluk yang tercipta dari air mata 1000 Malaikat. Sang Dewa kematian dari dasar neraka. Putra, dari Dewa Amon - Ra. Dengan kesakitan yang aku rasakan, aku memanggilmu. Dan dengan kebencian yang ada dihatiku. Aku membuat perjanjian denganmu. Bahwa ketika kau mati. Maka jiwa mu akan terbelah menjadi dua"

Setelah mengucapkan sederet kalimat perjanjian. Naruto mulai menghilang menggunakan shusin. Dan diikuti Anubis yang berlarian menuju Konoha.

.

.

.

.

.

Pernahkah kalian berfikir.

Untuk menilai seseorang dari mata kepala kalian sendiri?

Bukan dari presepsi yang kalian dengar dari orang lain.

Tapi sayang.

Kebanyakan orang, hanya mendengar apa yang dilakukan seseorang. Dari orang lain.

Kemudian menghakiminya dengan semena-mena.

Tanpa tau, kenyataan apa yang telah dilalui oleh sang tertuduh.

.

.

.

.

.

"Hari-hari yang membosankan" keluh Kotetsu seraya menguap bosan di pos penjagaan gerbang Konoha.

"Mau bagaimana lagi" ucap Izumo seraya melirik rekannya yang kelihatan bosan itu. "Inikan sudah tugas kita sebagai penjaga gerbang.

"Hanya menerima administrasi dari warga atau shinobi yang keluar masuk Konoha itu sangat membosankan" kembali Kotetsu berkeluh. "Kami-sama aku butuh tantangan"

"Hus... ngaco jangan berdo'a yang seperti itu" nasehat Izumo pada rekannya ini.

Entah kebetulan atau Kami-sama yang memang mengabulkan do'a Kotetsu. Terlihatlah sekitar 50 mahluk aneh yang berlarian menuju arah gerbang. Kotetsu dan Izumo yang melihat kedatangan mahluk-mahluk tersebut kaget. Lalu, Izumo pergi untuk melaporkan hal tersebut kepada sang Hokage. Sedangkan Kotetsu memilih tinggal untuk menghadapi mahluk-mahluk tak jelas ini.

"Huh... rupanya hanya mahluk-mahluk bodoh ya" ejek Kotetsu seraya melirik para Anubis yang makin mendekat. "Ini mudah" seraya mencabut kunainya.

Traanggg...

Suara kunai yang beradu dengan sebuah sabit. Berbunyi keras hingga mengangetkan beberapa shinobi dan para penduduk yang lewat. Merasa terancam para penduduk berlarian menyelamatkan diri ketempat yang paling aman menurut mereka. Dan bagi para shinobi yang kebetulan lewat. Segera membantu Kotetsu untuk menghabisi para Anubis yang menyerang Konoha.

"Sial" ucap Kotetsu, berusaha menahan serangan Anubis yang dihadapinya. "Sepertinya aku salah menilai mahluk aneh seperti kalian.

Dengan lihai Kotetsu segera menghindari sabitan dari Anubis didepannya. Lalu dengan cekatan Kotetsu segera menebas leher Anubis tersebut.

"Sepertinya aku salah lagi menilaimu" ucap Kotetsu seraya menatap Mayat Anubis yang tergeletak . "Ternyata kau sangat lemah"

Mengalihkan pandangannya. Kotetsu tersenyum penuh kemenangan ketika melihat para Anubis yang lainpun sudah berhasil dikalahkan. Tapi senyuman itu, harus hilang seketika.

Karena. Dari mayat-mayat Anubis yang mati tadi. Tiba-tiba keluar bola cahaya berwarna hijau seukuran kelereng. Dan terbelah menjadi dua. Lalu dari bola cahaya yang terbelah menjadi dua. Membentuk seekor Anubis baru, lengkap dengan sabit besar ditangannya.

"Oh tidak" shok Kotetsu melihat adengan didepannya. "Mereka membelah diri menjadi dua!"

"Apa maksudmu?" ucap salah seorang Shinobi yang berada disampingnya.

"Maksudku. Setiap kali kita membunuhnya, maka dia akan bangkit kembali dan lansung membelah dirinya" lalu kembali meyiapkan kunainya. "Sama seperti tadi aku membunuhnya. Dia lansung bangkit dan lansung membelah dirinya"

Dan dari 50 Anubis yang baru saja dihabisi para Shinobi. Bangkit sekitar 100 Anubis baru yang siap bertarung.

"Laporkan ini pada Hokage!"

.

.

.

.

.

Banyak orang yang menuduhku sebagai monster.

Tanpa tau apa yang aku rasakan.

Tanpa tau kejadian yang sebenarnya

Lalu

Merekalah monster yang sebenarnya didunia ini

Monster yang telah melahirkan monster yang baru, yang selama ini mereka takuti.

Yaitu aku.

.

.

.

.

.

menatap gerbang Konoha dari jendela Gedung Hogake dengan datar. Sasuke, sebenarnya sudah menyaksikan semua kejadian yang ada. Bahkan dia bisa melihat, bahwa mahluk yang tak jelas apa - itu. Sudah mulai memporak porandakan. Hampir setengah dari Konoha.

Menerima semua laporan. Dari shinobi yang baru saja datang. Dia tau setiap dibunuh. Maka, mahluk itu akan membelah dirinya menjadi dua. Mengepalkan tangannya, sampai memutih buku-buku jarinya. Dia geram dan sangat marah. Terhadap siapa saja yang berani membuat Konoha menjadi begini.

"Sial"

Lalu Sasuke menghilang via Shunsin.

.

.

.

.

.

Jangan takut dengan bayangan.

Karena jika ada bayangan berarti ada sebuah cahaya yang bersinar didekatnya.

Lalu

Bagaimana jika kegelapan.

Adakah cahaya yang bersinar didekatnya?

.

.

.

.

.

"Untung kau segera datang Sasuke!" ucap Kiba yang baru saja selesai menghabisi empat Anubis yang akan menyabit seorang warga. "Ck.. sial mereka membelah diri lagi" ucap Kiba, melihat para Anubis yang kembali membelah dirinya.

"Sakura laporkan sudah beberapa Shinobi yang tewas" ucap Sasuke tegas.

"Ya... saat ini sudah 24 shinobi yang tewas. 4 orang dari Jounin. 7 orang dari Chunin. Dan sisanya dari Genin"

"Hn.."

Mengaktifkan Eternal Mangekyou Sharingan. Sasuke berlari kedepan dengan cepat, seraya mengayunkan Kusanaginya yang telah teraliri listrik. Dan dengan kekuatan penuh Sasuke menebas 8 Anubis yang kebetulan sedang ada dihadapannya.

Tapi , seperti biasa para Anubis yang ditebas. Kembali membelah dirinya menjadi dua.

"Sial.." kembali Sasuke mengumpat kesal. Melihat 16 Anubis baru yang bangkit.

"Bagaimana ini Sasuke?" ucap Sugetsu

"Hn"

Melihat para Anubis dengan Eternal Mangekyou Sharingan. Sasuke berusaha mencari aliran cakra. Atau, sisa-sisa cakra sang pengendali. Atau apalah yang bisa dicarinya.

Namun nihil, yang dicarinya tidak ketemu. Karena mahluk ini tidak mempunyai sistim cakra. Kesal dengan apa yang terjadi. Sasuke kembali mencoba menyerang. Kali ini, dia menggunakan Ameterasu untuk memusnakan para Anubis.

Berhasil! Karena ketika akan membelah diri kembali sisa dari Ameterasu, kembali membesar dan kembali memakan Anubis yang bangkit. Tapi, Sasuke segera sadar. Jika terus dibiarkan jumlah Anubis akan semakin banyak, karena Ameterasu secara tidak lansung telah membantu memperbanyak jumbah Iblis tersebut.

"Sial" Sasuke merutuki kebodohannya. "Cari tau informasi tentang Jutsu ini segera!"

"Baik"

.

.

.

.

.

Jangan pernah mencoba untuk hidup dengan sangat bijaksana.

Jangan menangis karena kamu benar.

Jangan rapuh oleh kepalsuan dan keetakutan.

Karena pada akhirnya kamu akan membenci dirimu sendiri.

.

.

.

.

.

"Hokage-sama" lapor seorang Jounin. Seraya memberi hormat kepada sang Hokage.

"Ada apa?" Balas Sasuke seraya masih memandang situasi.

"Jutsu ini Hokage-sama!"

"Ya!" ucap Sasuke cepat. "Jutsu apa ini?"

"Ini Kinjutsu" ucap Shinobi tersebut lirih.

"Apa!" kejut Sasuke tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Jelaskan!"

"Kinjutsu ini bernama Anubis mahluk dari dasar Neraka yang dijuluki Dewa kematian. Putra dari Dewa Amon - Ra. Mahluk ini dikabarkan tercipta dari air mata 1000 malaikat. Mahluk abadi yang tak akan bisa mati. Karena jiwa mereka akan bangkit lagi dan membelah diri menjadi dua"

"Kinjutsu ini sangat unik. Karena, tidak memiliki dampak bagi sipengguna. Sama seperti Edo Tensei. Satu-satunya cara untuk megalahkan mahluk ini adalah dengan membunuh sipengguna jutsu"

"Tidak adakah cara lain? Karena kita belum menemukan sipengguna Jutsu" balas Sasuke.

"Sayangnya tidak ada Hokage-sama" balas Jounin tersebut masih memberi hormat.

"Hn"

"Permisi Hokage-sama"

"Hn"

"KARIN, KIBA, SUGETSU, JUGO, SAKURA, TEN-TEN!" teriak Sasuke ditengah medan pertempuran.

Begitu mendengar nama mereka dipanggil. Mereka semua lansung menghadap sang Hokage untuk menerima perintah.

"Kalian cari sipengguna Jutsu ini" titah Sasuke. "Karin gunakan kemampuan sensormu. Dan Kiba gunakan penciumanmu bagaimanapun caranya"

"Siap Hokage-sama" balas mereka berlima, seraya menghilang via shunsin.

Sasuke kembali melihat bagaimana Anubis menghabisi satuper satu. Shinobi tanpa ampun. Geram. Dia merasa tidak berdaya menhadapi serangan mendadak seperti ini. Dan satu hal terlintas dipikirannya.

'ulah siapakah ini?'

Berbalik arah kemudian Sasuke melakukan shunsin ke gedung Hokage.

Sesampainya disana. Dengan cekatan, tangannya menulis suatu surat sebanyak tiga lembar.

"Kirimkan surat ini kepada Kirigakure, Kumogakure, dan Iwagakure!" titah Sasuke kepada seorang Anbu yang baru saja dipanggilnya

Menatap Konoha yang sedang diporak porandakan. Sasuke kembali menghilang via shunsin untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.

.

.

.

.

.

Ikutilah saranku ketika kau telah mencapai batasanmu.

Santaikanlah sejenak tubuhmu

Darahmu perlu mengalir perlahan.

Lampaui semangatmu untuk meraih diri sebelum kamu suram.

Bayangan rasa takut akan membuat.

Bayangan kehampahan

Lalu akan berakir pada

Bayangan kebencian.

.

.

.

.

.

Di sudut desa Konoha yang sedang kacau balau. Berdirilah seorang pemuda diatas sebuah apartemen yang sudah rusak dimana waktu. Surai pirangnya bergerak pelan mengikuti angin. Iris dari dua mata yang berbeda. Menatap Konoha yang saat ini sedang kacau dengan pandangan satai. Seolah dia tidak merasa bersalah akan apapun.

Perlahan namun pasti iris onyx miliknya. Berganti menjadi sharingan.

Menatap para penduduk yang berlarian tak tentu arah menjadi kesenangan tersendiri baginya. Dan para Anubis, yang dipanggilnya ternyata mampu membuat Konoha. Desa yang berada dalam urutan teratas dari segi kekuatan militer. Menjadi kalang kabut.

Namun bukan itu tujuannya datang kesini. Karena pada dasarnya tujuannya hanyalah gadis itu. Dia sudah mengerahkan 100 Kage Bunshin yang kemudian melakukan Henge no Jutsu untuk mencari keberadaan gadis itu. Tapi, hasilnya nihil. Gadis itu tidak ditemukannya.

Tes.

Tes.

Tes.

Tes.

Mengadahkan kepalanya keatas, dia membiarkan hujan menghantam wajahnya. Membiarkan dingin yang mendera tubuhnya saat ini. Mengabaikan pakaiannya yang sudah lengket akbat hujan. Seakan pakaiannya, sudah menjadi kulit kedua baginya.

"Tunggu aku Kyuubi"


Thank to:

Guest, Black market, Guest, hime koyuki 099, koga-san, fajar jabrik, batapaa, Indranewbie, Vin'DieseL No Giza, kurama nii-sama, uzumakimahendra4, Guest, noval, TobiAkatsukiID, Akira no Rinnengan, By-U, imam. sholkhan, shinichi. kudosaki, huddexxx69, mitsuka sakurai, bohdong. palacio, Nauchi Kirika - Chan, Guest, namikaze Habanero, alvaro d diarra, Naozumi-kun, I hate sasuke, dony, Guest, Namikaze Reton Kumangawa, ocha-ocha, Guest, missapple05, Ayon R. Marvell, Devzlee, rifaiuzukaki1, Guest, Laght yagami.


Mencoba gaya penulisan yang baru. Sepertinya sangat sulit. Saya juga mencampurkan mitologi mesir kuno dalam chap kali ini. Dan saya rasa Actionnya kuran ya?

Lalu bagaimanakah chap kali ini menurut kalian jelekah, baguskah, atau gimana?

Saya menerima. Baik itu kritik, saran, pertanyaan, maupun hinaan dan cacian. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic aneh ini dan jangan ragu untuk menghina saya jika ada kejelekan dalam fic ini

Dan jika kalian penasaran dengan kelanjutannya? Maka riviewlah!