londonGossip

by: CountessCaroline ( kalian bisa memanggilku dengan carol)

rating: T mendekati M ( untuk beberapa kata kasar dan adegan 17+)

disclaimer : yang pasti not mine. Harpot jelas-jelas punya jk rowling. Sementara gossip girl series punya cw tv,kalau novelnya sendiri punya cecily von ziegesar.

Wahhhhh….makasih banget bagi yang udah review. Seriusan aku senang, well…mengingat aku gak punya bakat menulis dan selalu saja banyak typonya. Sekali lagi makasih. Aku harap sih makin banyak yg review. selamat membaca

Chapter 4

bertaruh dengan playboy

Jenny potter menghela napasnya. Ia terlihat begitu sedih,kecewa,dan marah secara sekaligus. Saat ini ia telah pulang sekolah dan sedang berjalan bersama kakaknya. Harry sendiri sebagai kakak secara diam-diam melirik adiknya yang bermurang durja tersebut. Mencoba memberanikan diri ia bertanya.

"kenapa heh? Kau di tolak ya?"

Seketika jenny menoleh dengan horor. Tatapan itu menatap penuh benci. "aku tak di tolak harry,pokoknya gak mungkin aku di tolak"

"lalu ada apa?"

Jenny mengalihkan tatapannya kembali. Ia menatap kedepan dengan penuh rasa putus asa. Seolah hanya dialah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. " saat itu kondisinya benar-benar tak memungkinkan untukku" Ia bergumam dengan sedih.

"tak memungkinkan gimana maksudmu,jen?" lagi-lagi harry bertanya. Entah kenapa ia jadi terlihat seperti cewek yang sangat ingin tau dan haus akan gossip.

"maksudku adalah terjadi peperangan dunia ke-3 di hogwarts,dan itu membuatku tak bisa sedikitpun menghampiri hermione. Memang kau gak baca london gossip heh? Semuanya jelas-jelas di ceritakan dengan terperinci di sana"

Wajah harry seketika terlihat semakin tak mengerti. " well.. jujur saja aku gak merasa tertarik dengan situs bodoh itu. So aku gak pernah membacanya. Lagipula jen. Perang dunia ke-3 itu tak ada,setidaknya belum ada. Tapi sih jangan sampai ada. Dan apa hubunganya perang dunia ke-3 dengan kau yang tak bisa menghampiri granger? Aku tak mengerti."

Jenny berhenti melangkah. Ia menatap kesal akan harry. "bisa gak sih kau tak menghubungkan segala sesuatunya dengan pelajaran harry? Lagipula aku juga tau tak ada yang namanya perang dunia ke-3. Tidakkah kau mengerti kalau itu hanya kata kiasan? Dan harry yang sebenarnya terjadi itu adalah adanya perkelahian hebat antara hermione dengan astoria. Jadi tak ada cela bagiku untuk mendekati hermione. Kan gak mungkin di tengah-tengah pertarungan itu aku menyapa hermione. Bisa-bisa dia jijik lagi melihatku?" ucap jenny secara cepat tampa jeda bahkan penuh dengan penekanan,khususnya terhadap nama astoria. Ia juga gak peduli walau harry nampak kesulitan mengerti akan omelannya barusan.

Harry sendiri tak mau repot-repot untuk mengerti akan omelan jenny. Toh kini pikirannya hanya terpusat akan nama yang baru saja jenny ucapkan. Yaitu astoria.

"kau melihat astoria?"

Jenny menghela napasnya. Kedua matanya pun mendelik dengan malas. "iya aku melihatnya dalam radius 3 m dari posisiku berdiri,dan harry saat itu ia benar-benar tak terlihat cantik sama sekali."

Tatapan marah segera terpancar dari kedua mata harry. Biasanya ia jarang marah,tapi kalau soal cinta pertamanya ia akan marah. "astoria selalu terlihat cantik jenny."

"oh god" keluh jenny. Ia sudah sangat malas sekali mendengar semua pujian mengenai astoria. Khususnya dari mulut harry. "pokoknya dia tak cantik sama sekali. Dan sekarang aku nyatakan aku membencinya. Luar biasa benci. Kau mau apa heh?kalau aku berkata begitu?"

"ya ampun….sekarang kau sungguh terlihat bagaikan hermione granger. Kurasa ini efek dari bando yang kau pakai itu jen."

"ini tak ada hubungannya dengan bando yang kupakai oke? Lagipula aku terlihat manis dengan bando ini"

"yang benar saja! Bagiku kau justru terlihat seperti anak tk"

Jenny memutar kedua bola matanya. Ia malas berdebat dengan harry yang memang tak tau sama sekali akan fashion. "terserahmu sajalah" ucap jenny segera berbalik. Ia hendak melangkah pergi,namun ketika melihat sosok ketiga wanita yang sedang berjalan menuju sebuah cafe,membuat jenny mempunyai ide.

Ya ampun betapa beruntungnya aku! Jenny sangat senang sekali takdir membantunya untuk bertemu ke tiga pengikut hermione. Saking senangnya ia bahkan mengecup pipi harry dan kemudia pergi begitu saja.

"bye harry. Aku ada urusan. Ketemu di rumah oke" teriaknya dari kejauhan.

"bye" ucap harry pelan. Ia masih tak mengerti akan perubahan suasana hati jenny.

#

Bagi harry potter bekerja paruh waktu sebagai karyawan supermarket benar-benar tidak membantunya sama sekali untuk menjadi terlihat keren,tapi setidaknya ia mendapat uang tambahan untuk biaya kuliahnya kelak kan? Itulah satu-satunya alasan harry masih bekerja sebagai seorang kasir.

Untuk hari ini ia kebagian bekerja sore. Hanya beberapa orang saja yang membeli dan sisanya harry hanya duduk-duduk dengan santai di balik meja kasirnya sambil membaca beberapa novel sastra lama yang menurutku sangat tak menarik. Ia memang sangat menyukai novel-novel lama. Kelak ia bahkan bercita-cita menjadi seorang penulis. Penuh kesenangan dan hanyut akan cerita yang sedang ia baca,harry samapi tak menyadari seseorang sedang berdeham.

"ehemz"

Merasa mendengar sesuatu. Harry menutup novelnya dan menatap ke arah seorang wanita berambut pirang yang sangat ia kenal. Siapa itu?

Jantungnya berpacu 2 kali lipat dari seharusnya begitu pula dengan aliran darahnya. Jenny jelas-jelas sudah berbohong dengan mengatakan astoria greengrass tidaklah cantik. Bagi harry sekarang, astoria nampak bagaikan wanita tercantik yang pernah ia lihat. Seolah di dunia ini tak ada lagi yang namanya perempuan kecuali astoria.

"eu…maaf" ucap astoria sambil mengarahkan kedua matanya kepada kaki harry yang berselonjor di atas meja kasir. Astoria tersenyum namun dalam hati ia benar-benar merasa tersinggunh akan perlakuan harry padanya.

"iya?" harry bertanya dengan suara yang bagaikan sedang bermimpi. Lagi-lagi ia nampak terlihat konyol dan aneh secara bersamaan. Ia bahkan tak menurunka kakinya. Tatapan matanya hanya terfokus akan pada astoria yang tersenyum.

"kakimu" ucap astoria menjawab pertanyaan konyol harry seramah mungkin.

Menyadari hal itu. Harry lekas-lekas menurunkan kakinya. Ia bangkit berdiri dan wajahnya memerah menahan rasa malunya. "oh…maafkan aku" kata harry begitu sangat pelan. Untung suasana sunyi sehingga astoria dapat mendengar permintaan maaf tersebut.

"tak apa" sahut astoria masih berusaha bersikap ramah. Wanita itu lalu meletakkan semua belanjaanya yang sebagian besar adalah cemilan,minuman dan eskrim itu diatas meja kasir.

Harry memerhatikannya. Ia enggak menyangka astoria memiliki napsu makan yang besar. Sungguh mustahil dengan bentuk tubuhnya yang begitu sempurna.

"well…kau tak sedang berpikir napsu makanku besarkan?" ucap astoria sambil menahan tawa ketika melihat raut wajah harry yang kini berubah terkejut itu.

Bagaiman bisa ia tau apa yang ku pikirkan?

"eu…eu…" harry terbata-bata. Ia gak tau harus berkata apa.

"sebenarnya ini semua bukan untukku saja,tapi juga untuk saudara ku." Sela astoria. Ia kembali tersenyum. Lalu berdiri diam sambil memandang harry yang membatu. Lima menit mereka berdua hanya saling menatap. Dan itu membuat astoria akhirnya kesal.

" kau tak mau mengecek harga-harganya?"

Seakan baru sadar,harry segera menggeleng2 kan kepalanya dan mulai melakukan tugasnya tampa mengeluarkan suara sedikitpun. Ya ampun…ia benar-benar lelaki dengan rasa grogi yang akut. Dan kini tangannya malah gemetar.

Semuanya itu nampak jelas ketika tangannya yang gemetar itu memasukan belanjaan astoria kedalam kantung plastik. Astoria tentu melihat itu. Keningnya mengerut.

"kau baik-baik sajakan?"

Harry tak berani menatapnya. Pria itu merasa jantungnya akan meledak setiap mendengar suara astoria. Jadi harry hanya menganggukkan kepalanya.

"kau yakin?"

Harry hanya mengangguk lagi. Ia tak bisa mengeluarkan suaranya sedikitpun.

"eu…apa kau tak punya suatu penyakit gitu? Seperti parkinson misalnya. Well sebenarnya aku pernah melihat orang yang menderita parkinson dan tiap kali penyakitnya kambuh maka tangannya juga gemetaran seperti kau sekarang ini. Jadi apa kau yakin kau tak punya penyakit?"

Sialan aku benar-benar sudah sangat memalukan diriku. Bukannya membuat astoria terkesima denganku,aku malah membuatnya mengira aku pria berpenyakitan. Ya ampun… bodohnya aku.

Tak mau mengeluarkan suaranya lagi,harry hanya menyodorkan kantung belanjaan super besar astoria. Wanita itu menerimanya tapi matanya tetap memandang harry dengan rasa khawatir.

Harry lekas-lekas mengalihkan tatapannya dengan menunduk menatap penuh serius ke sepatu bututnya. Entah apa yang ia pikirkan dengan dengan memilih memerhatikan sepatunya di banding wajah jelita milik astoria.

"eu…nih" ucap astoria ini malah membuatnya merasa janggal. Ia pun meletakkan uangnya dimeja kasir. Harry tak merenspon. Itu membuat astoria segera ingin keluar dari sana. Maka ia pun melangkah pergi tampa mengucapkan apapun lagi.

Well di sisi lain ia takut telah membuat harry tersinggung akan ucapannya. Karena merasa tak enak hati, astoria berbalik. Itu membuat harry terkejut. Pandangan mereka bertemu. Astoria tak berkata apa-apa,ia hanya berdiri di hadapan harry sambil mengaduk-ngaduk tasnya,seolah berniat mengambil sesuatu.

Rupanya dompetnya. Tampa basa basi ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang cukup banyak. Meletakkanya di atas meja kasir harry.

Ia tersenyum. "well aku minta maaf bila kata-kataku barusan membuatmu tersinggung. Tapi aku jujur merasa khawatir padamu. Jadi terima uang ini. Kau harus segera memeriksakan dirimu ke dokter oke?"

Harry lagi-lagi tak bersuara. Pria itu terus menatap astoria dengan tatapan terpukau.

"well…eu…aku pergi . sampai jumpa." Ucap astoria ragu-ragu. Harry jujur membuatnya merasa takut. Jadi dengan segera astoria memilih pergi.

#

Berbanding terbalik dengan keadaan sang kakak. Jenny potter malah menunjukkan rasa percaya dirinya terhadap hermione granger. Si queen b sendiri sedang setengah berbaring di sofa dengan kaki yang di kompres oleh seorang pelayan wanita berbadan gemuk bernama dorota. Sedangkan ketiga pengikutnya duduk di sofa yang lain dalam posisi mengelilingi jenny yang berdiri.

Tatapan menilai dari hermione tak membuat jenny gentar sedikitpun. Adik harry potter itu tetap berdiri tegak. Ia bahkan tersenyum manis.

"so…kau adalah…?"

"jenny! Jenny potter"

Hermione tersenyum. Ia tak pernah mendengar apalagi mengenal orang yang bermarga potter di kalangannya.

"jijur kukatakan aku sangat asing dengan marga potter. Well apakah kita penah bertemu?"

"kita belum pernah ketemu. Eu…maksudku lebih tepatnya kau tak pernah mengingatku." Kini jenny merasa grogi sekali. Tatapan hermione membuat perutnya melilit.

Hermione sekali lagi tersenyum. "well potter,perlu kau tau. Aku gak suka mengingat orang. Apalagi bila orang itu tak penting" sahut hermione sambil memainkan rambutnya.

"iya aku tau" ucap jenny sedikit sebal. "aku lumayan tau banyak tentangmu"

"oh" gumam hermione pura-pura terkejut. "aku merasa tersanjung kau tau banyak tentangku."

Jenny tersenyum. Ia merasa senang akan hermione yang berkata begitu. Setidaknya ada kemajuan yang sedikit akan renspon hermione,pikir jenny. Andai ia tau apa sebenarnya isi hati hermione.

"jadi potter. Kau kelas dua apa?"

Senyum jenny menghilang. Sial. Mengapa hermione langsung menanyakan kelasnya. Apa yang harus aku lakukan?

"kenapa terdiam potter?"

"eu…aku kelas…oh ya ampun. Aku sebenarnya bingung harus jawab apa."

Hermione terkekeh tertawa. ia lalu menatap ke-3 pengikutnya yang lain. "orang yang kalian bawa ini benar-benar lucu."

Lavender,padma,dan parvatil hanya tersenyum. Itu jelas bukan senyum bahagia,melainkan ketakutan. Mereka gak mau kena marah lagi.

"jawab saja potter. Kau ini kenapa sih?" tanya hermione di sela tawanya.

Jenny menelan ludahnya. Kini sekarang ia percis seperti harry. "sebenarnya hermione aku murid tahun pertama."

"oh my god…." Pekik hermione. Ia tersenyum tak menyangka. "kau serius? Maksudku kau sungguh junior junior junior."

Jenny menggigit bibir bagian bawahnya. Ia berusaha untuk tetap terlihat percaya diri dengan tak gemetaran. "iya,aku serius"

"well…little J kau taukan bahwa aku tak berniat merekrut murid tahun pertama sebagai anggotaku. Seperti yang kita tau bersama,aku hanya mengambil murid tahun kedua sebagai anggota baru"

"tapi hermione,aku…."

"kau apa heh" potong hermione,kali ini ia tak tersenyum. Raut wajahnya serius.

Jenny menunduk. Ia tak berani menatap hermione. "well…aku ini adalah kandidat yang paling sempurna untukmu"

Mendengarnya hermione tertawa. ia lalu melirik lavender,padma dan parvatil yang nampak ketakutan itu. "wah…wah aku luar biasa di kejutkan dengan yang kalian bawa ini."

Lagi-lagi ketiganya hanya nyengir. Ini menakutkan,pikir mereka kompak.

"dengar hermione." Jenny mendongak. Rasa percaya dirinya kembali timbul. Penuh keyakina ia melanjutkan ucapannya. "aku sungguh punya banyak bakat dan aku adalah orang yang setia. Jadi kau akan menyesal bila menolakku."

"astaga…kau sungguh lucu little J." sahut hermione. Ia kembali tersenyum. "dan aku sangat di kejutkan kau berani mengatakan itu padaku"

"apa itu berarti aku telah melakukan kesalahan?"

Hermione terkekeh tertawa. "tentu saja tidak dear,kau lumayan mengaggumkan."

"really?" nada senang terdengar dari suara jenny.

"kelihatannya?"

Jenny tersenyum. Ia merasa senang luar biasa. Tubuhnya bagaikan melayang-layang kelangit ketujuh. Inilah yang ia nanti-nantikan semenjak smp.

"satu pesanku little J. aku benci seorang pembohong dan pengkhianat. Paham?"

"sangat paham." Jawabnya yakin. Kemudian suara histeris senang terdengar dari lavender,padma,dan parvatil. Ketiganya bangkit berdiri dan segera memeluk jenny. Bagi mereka semua di terimanya jenny merupakan anugerah yang akan menolong mereka terhindar dari amarah hermione. Well little J kusarannkan kau siapkan raga dan mentalmu.

#

Malamnya di apartemen keluarga granger.

Draco malfoy menyeringai. Ia tak percaya pelayan hermione sedang menatapnya dengan tajam dan penuh benci. Rupanya pepetah yang mengatakan ayah dan anak itu sama sudah tergantikan menjadi majikan dan pelayannya sama saja.

"mau apa anda kemari mr malfoy?" tanya dorota. Ia adalah pelayan yang begitu dekat dengan hermione. Ia memiliki postur tubuh yang gendut dan berwajah ke ibuan. Draco memasukan kedua tangannya di saku celananya. Ia terkekeh tertawa.

"serius dorota. Nonamu sendiri yang menyuruhku ke sini."

Dorota tak segera menyahut. Ia menatap penampilan draco dari atas sampai kebawah. Pria itu memakai setelan jas bewarna abu-abu yang entah kenapa begitu pas di tubuhnya. Memeperlihatkan betapa bentuk tubuh itu begitu terlihat sempurna bagi seorang pria manapun. Tak lupa seorang draco malfoy selalu mempunyai ciri dalam penampilannya. Dasi kupu-kupu ataupun syal selalu ia pakai. Buktinya saja kali ini ia memakai dasi dorota kembali menajam ketika ia menatap tepat kearah draco.

"maaf mr malfoy. Jika kau hendak mengajak miss mione pergi. Ia tak di perbolehkan. Seperti mrs granger katakan miss mione tak boleh keluarlebih dari jam 10 malam dan sekarang jam 10.30. jadi maafkan aku,kau harus keluar sekarang juga."

Draco terkekeh tertawa. " aku tak berniat mengajaknya keluar. Dia yang justru menyuruhku kesini."

"tepatnya itu dua jam yang lalu malfoy."

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menyela. Siapa lagi kalau bukan hermione. Ia berjalan menuruni tangga dan segera menghampiri dorota dan draco. Kedua tangan wanita itu terlipat di dadanya,dan tatapan matanya seperti biasa menajam.

"tak punya jam tangan heh?"sindir hermione.

Draco tak merenspon. Pandangannya hanya terfokus kearah hermione. Matanya benar-benar memerhatikan dari bawah hingga atas. Jelas penampila hermione yang mengenakan gaun tidu betbelahan dada dan begitu di atas lutut itu sangat menarik perhatian draco sebagai seorang pria yang tentunya normal. Walau ungu bukanlah warna favoritenya,tetap saja mau tak mau draco menyukai warna ungu gaun tidur hermione tersebut.

"melihat sesuatu yang kau sukai heh malfoy?" tanya hermione sangat menyindir.

Draco menyeringai. Pandangannya bertemu dengan kedua mata hazel hermione. "sangat granger"

Hermione mendengus. "kejujuranmu benar-benar membuatku semakin yakin kalau kau pria yang mesum." Saat itu juga hermione segera mengikat sabuk jubah tidur sutranya. "kurasa ini jauh lebih baik"

"ya ampun granger. Aku takkan menyentuhmu oke? Otakku ini masih waras."

Hermione memutar bola matanya. Ia memang sangat tak menyukai draco,tapi kali ini ia membutuhkan draco. Hermione segera berbalik,ia berjalan menuju tangga. "ayo malfoy tunggu apa lagi heh?" tanyanya ketika draco malah tetap terdiam pada tempatnya.

"miss mione" hardik dorota. Ia panik nonanya mengajak draco untuk ikut keatas bersamanya.

Hermione berhenti melangkah. Tampa turun dari tangga ia menatap ke bawah. Tepat kearah dorota yang melototinya. "please dorota jangan berpikiran yang aneh-aneh." Ucap hermione dengan nada suara memerintah. "aku hanya akan berbicara dengan malfoy paham?"

Kedua mata dorota menyipit. Ia melihat draco dengan curiga,tapi dia pun pada akhirnya hanya mengangguk dan pergi.

Hermione membawa draco ke atas. Mereka berdua berjalan tampa suara melewati salah satu koridor. Jujur saja,setelah beberapa kali ke apartemen keluarga granger baru kali ini hermione mengajaknya keatas. Maka tak heran bila mata draco melihat kesekitarnya dengan rasa tertarik. Khususnya ke sepanjang koridor yang ia lewati ragam lukisan indah hingga lukisan yang begitu jelek terpajang. Membuat draco mengernyitkan dahinya tak mengerti akan selera seni yang dimiliki mrs granger.

"aku tak percaya kalu ibumu suka juga membeli likisan. Well aku akn maklum bila ia membeli lukisan yang indah tapi untuk beberapa lukisan jelek? Oh yang benar saja!" ucap draco sambil berjalan tepat di belakan hermione.

Hermione seketika berhenti. Ia memutar tubuhnya dan menatapi draco penuh marah."lukisan mana yang kau maksud jelek itu heh?"

Draco mengangkat bahunya,bersikap seolah tak peduli. "well…beberapa lukisan barusan jujur saja menurutku terlihat jelek seolah di buat oleh anak kecil berusia 3 tahun yang bahkan belum bisa mengeja."

Tatapan marah hermione tetap terpancar. "saat itu usiaku memang masih 3 tahun malfoy. Namun perlu kau tau aku sudah bisa mengeja saat itu. Bahkan aku sudah bisa membaca satu buku penuh"

Draco sendiri seketika menunjukkan raut wakah yang terkejut mengetahui hermione lah yang melukis lukisan jelek barusan.

"dan yang perlu kau tau juga malfoy. Semua lukisan disini aku yang membuatnya jadi baik lukisan jelek dan indah yang kau katakan tadi akulah yang membuatnya." Ucap hermione lantas berbalik kembali dengan kasar. Ia pun melangkahkan kakinya dengan hentakan yang kuat. "dasar tak tau seni" gumannya penuk kesal. Draco tentu mendengarnya,membuat ia menyeringai senang. Sungguh baginya hermione sangat tak bisa di tebak.

#

Satu jam kemudian.

"bagaimana menurutmu malfoy?" tanya hermione,seketika bangkit berdiri dari posisi duduknya di ranjang. Dengan tangan terlipat di dada,ia tersenyum semanis mungkin. "sejak dulu ia sangat menyukaimu"

"aku tak percaya granger." Sahut draco. Ia terlihat sama sekali tak tertarik akan semua yang di ucapkan hermione selama setengah jam penuh itu. Andai saja draco malfoy adalah pria-pria lannya disekolah. Mungkin ia akan loncat-loncat bahagia ketika hermione mengatakan astoria menyukainya.

Hermione melotot. "kenapa kau tak percaya padaku? Kan sudah kukatakan dari awal astoria sendiri yang mengatakan seperti itu padaku."

Draco lagi-lagi tak merasa tertarik. Ia bahkan lebih memilih berputar-putar di kursi belajar hermione yang beroda. Ya ampun…memang dia pikir kursi itu adalah wahana bermain?

"memang buat apa astoria menceritakan perasaanya padamu hehe?"

Raut wajah hermione seketika berubah. Jelas terlihat tak nyaman sekali. " eu…" hermione terdengar sedang memikirkan apa yang hendak ia ucapkan. Itu membuat draco menyeringai. Pria berambut pirang itu lantas berhenti berputar-putar dan menatap hermione yang kebingungan.

" tak bisa jawab heh?"

Hermione melotot. " apa maksudmu tak bisa jawab?" tanyanya segera merubah gaya berdirinya. Kedua tangan ramping dan putih mulus itu memengang pingangnya. Ia sangat mengintimidasi,tapi draco bukanlah orang yg gampang di intimidasi.

"kau lupa ya kalau aku bersahabat dengannya? Jelas seorang sahabat menceritakan segalanya."

Draco mendengus mendengarnya. " dan apa kau lupa juga ya? Baru tadi pagi kalau aku gak salah lihat melihat kau berkelahi dengannya bagaikan orang gila. Jadi coba pikirkan apakah logis bagiku percaya bahwa kalian masih bersahabat?"

Sial. Ternyata malfoy mempunyai otak juga. Kupikir akan mudah untuk menipunya. Mengingat diakan akan selalu tertarik dengan wanita.

"mau mengelak apa lagi granger?"

"oke baiklah. Kami memang sudah tak bersahabat. Tapi yang pasti dulu ia pernah berkata seperti itu padaku." Ucap hermione dengan nada suara yang yakin. Namun di dalam hatinya ia jelas ragu akan apa yg ia ucapkan.

Draco tertawa. ini mengelikan baginya. "aku tau kau mempunyai suatu siasat di balik semua omonganmu ini granger."

"apa maksudmu?"

"ayolah akui saja kau punya suatu rencana yang melibatkan akukan untuk memaluka astoria."

Sial. Itu benar sekali malfoy. Kenapa sih kau bisa membaca pikiranku.

" kau tau. Kau tak perlu berbalat-belit lagi. Katakan saja dengan jujur maksud rencanamu granger."

Hermione menhela napasnya. " oke. Aku memang punya rencana. Semua yang kau ucapkan itu benar. Puas?"

Draco menyeringai. Ini menarik. " jadi seperti apa rencanamu itu granger?"

"well…aku mau kau menciumnya di pesta pra ulangtahunku,dan…aku serta teman-temanku akan mengabadikan moment itu dalam sebuah video yang di tonton langsung oleh orang banyak. Sebenarnya aku pun berniat mengundang para paparaji, dan oh iya tak lupa nanti aku akan memberikan beberapa tulisan di video itu sebagi efeknya."

"tulisan seperti apa maksudmu itu?"

Hermione tersenyum. " bagaiman kalau wanita terjalang tahun ini?"

"oh damn granger." Pekik tertawa. ia tertawa sangat lepas sekali. " aku tak percaya kau dapat menjadi seorang bad girl."

Hermione tetap tersenyum." Jadi kau ikut atau tidak?"

"kalau aku ikut apa untungnya untukku granger?"

"kenapa kau bertanya lagi heh? Memang mencium seorang greengrass tak merupakan ke untungan untukmu?"

"aku tak tertarik dengan greengrass."

" ya ampun…sejak kapan seorang draco malfoy tak tertarik dengan wanita? Lagipula astoria itu luar biasa bad girl malfoy. Jadi aku yakin dia juga sudah sangat berpengalaman di atas ranjang. Apa kau masih tak tertarik heh?"

Draco terkekeh tertawa."bagaimana bisa seorang bad girl menyebut orang lain dengan bad girl?"

"aku bukan bad girl oke? Astoria jelas lebih jalang di banding aku. Jadi aku ini bisa di katakan wanita baik-baik."

"oh yeah…kau wanita luar biasa baik dengan segudang rencana jahat. Bagaimana heh?"

Hermione mendengus. Draco sangat bisa membuatnya kesal. " sudahlah. Katakan saja kau ikut atau tidak?"

"tidak" jawab draco singkat dan begitu datar.

Hermione menghela napasnya. Ia terdengar kecewa. "kenapa tidak?"

"tak manarik."

Hermione lantas melangkah mendekat ke draco. " baiklah bila menurutmu tak manarik. Kalau gitu mari buat menjadi menarik."

"dengan cara apa granger?" draco terdengar malas.

"mari kita buat jadi semacam pertaruhan malfoy. Hanya di antara kau dan aku."

"buat apa aku bertaruh denganmu?"

Hermione mengangkat bahunya,seolah bersikap acuh. "emmm…gimana kalau untuk membuktikan kau lebih hebat dari cedric."

"aku memang lebih hebat darinya."

"buktikan kalau gitu"

Draco lantas bangkit berdiri. Raut wajahnya marah. Ia sangat tak suka di ragukanseperti itu."jika aku bisa membuktikannya. Apa yang kumenangkan?"

Hermione tersenyum. Ia sama sekali tak terlihat takut akan draco yang berdiri begitu dekat dengannya. Apakah ia tak sadar sedang berhadapan dengan siapa?

"aku akanmembuat sebuah sertifikat yang mengatakan kau lebih hebat di banding tangani sendiri dan juga akan ku cap."

"cap seperti apa granger?"

Sial si malfoy ini.

"emmm" hermione benar-benar bingung. Ia gak punya cap. Diakan bukan para pekerja hukum. "baiklah akan ku cap dengan bibirku. Puas draco? Jarang-jarang aku memberikan kecupan."

Wajah draco semakin nampak serius. Ia tak tersenyum sama sekali walau hermione tengah tersenyum.

"kecupan di kertas heh? Siapa yang mau granger? Lagi pula aku sudah banyak memiliki sertifikat di rumah."

"memang aku harus mengecup di mana lagi malfoy?" bentak hermione cukup keras untuk terdengar oleh dorota yang sejak tadi menguping di luar. Jadi jangan salahkan dorota apabila sekarang ia mulai berpikiran yang aneh-aneh.

Draco saat itu lantas menarik hermione kearahnya membuat wanita yang masih mengenakan gaun tidur itu merapat ke tubuhnya. Hermione memekik kaget. Ia mencoba memberontak. Sayang salah satu tangan draco mengunci kedua tangannya dengan erat untuk memeluk lingkar penggang draco.

Hermione mendongak. Kedua matanya memancarkan kemarahan dan ketakutan secara sekaligus. Tatapan draco terlihat sama marahnya. Tapi tampa rasa takut.

"lepaskan aku malfoy." desis hermione pelan namun mematikan.

Draco tak menurut. Ia takkan melepaskan hermione. "katakan aku jauh lebih hebat di banding diggory. Baru aku akan ku lepaskan."

"takkan. Kau harus membuktikannya dulu. Cium astoria dan aku dengan senang hati mengatakan kau hebat di banding cedric."

Draco mendengus. "bagaimana bisa kau menyuruhku mencium wanita lain untuk membuktikan aku lebih hebat di banding cedricmu itu. Bukankah itu terdengar aneh granger?"

"aneh apanya malfoy? Yang aneh itu kau. Jadi lepaskan aku." Hermione kembali memberontak. Ia gak sadar apa kalau itu percuma.

"aku gakaneh granger. Dimana-mana untuk membuktikan aku lebih hebat di banding pacarmu tentu dangan cara menciummu. Bukan astoria yang harus ku cium." Ucap draco sambil menyentuh dagu hermione dengan salah satu tangannya yang bebas.

"baiklah cium aku. Tapi setelah kau mencium astoria. Bagaimana? Apa sekarang kau tertarik bertaruh denganku."

"deal."

Hermione mendengus. Ia sangat kesal pada draco."jika kau tak berhasilmenciumnya,kau akan menjadi pelayannku selama seminggu malfoy."

Draco masih menatap marah." Aku pasti berhasil. Jadi siapkan saja bibirmu ini untuk menciumku." Ucap draco. Tangannya yang masih di dagu hermione kini meraba lembut bibir sang queen b.

Hermione segera mengalihkan wajahnya. Ia gak mau di sentuh draco. "bisa lepaskan aku?"

Draco tersenyum. Raut wajah marahnya menghilang ketika menyadari wejah hermione merona. "kenapa heh? Gak suka dengan posisimu yang sedang memelukku ini."

"exusme? Siapa yang memelukmu? Jelas-jelas tanganku kau tahan di sekitar lingkar pinggangmu malfoy."

"well…wajahmu merona tau?"

"ichhhhhh…kenapa sih kau menyebalkan sekali… pokoknya lepaskan aku malfoy." Saat itu hermione menjerit dan ia kembali memberontak. Kali ini kekuatannya jauh lebih bertenaga di banding tadi. Mungkin ini karena ia sudah sangat kesal. Sialnya draco saat itu sedang lengah dan benar-benar tak menduga tenaga hermione bertambah. Jadi dengan sangat terkejut karena hermione berhasil melepaskan diri dan mendorongnya hingga terjatuh keranjang,draco tak sadar telah ikut menarik hermione jatuh bersamanya.

Suara gaduh di dalam,membuat dorota tak tahan lagi. Ia akhirnya memutuskan menerobos masuk. Pandangan yg tersaji di hadapannyanya membuat ia tercengang.

"miss mione"

Hermione yg berbaring di atas tubuh draco segera mengalihkan tatapannya. Ia menatap dorota.

"dorota" pekiknya kaget.

Tatapan dorota menajam. "aku tak percaya rupanya miss dari tadi bersama me malfoy sedang melakukan…."

Hermione segera menyela." Dorota ini tak seperti yg kau pikirkan."

Tatapan dorota tak berubah. Ia tetap menatap tajam dan penuh marah."bagaimana bisa aku tidak memikirkan yg aneh-aneh sementara posisimu dgn mr malfoy sanagt intim begitu."

Seakan menyadari posisinya,hermione kembali menatap draco. Draco balasmenatapnya balik. Kedua tangan pria itu masih dalam posisi menyentuh bahu hermione. Sambil menatap tak suka,hermione menangkis tangan draco dan memberikan pencetan yang keras hingga draco memekik kesakitan.

" sialan granger sakit…"

"rasakan itu." Hermione bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk tubuhnya seolah membersihkan diri dari draco. "dan dorota. Kau harus percaya aku tak melakukan apapun dengan malfoy."

"maaf miss,tapi aku takkan percaya." Dorota langsung berbalik sambil berlari dengan terburu-buru untuk keluar dari kamar hermione. "aku akan menelepon ibumu yg sedang berada di perancis sekarang juga"

"dorota jangan." Hermione menjerit dengan kaget. Ini akan kacau jika melibatkan mrs granger. Seperti yang kita tau ibu hermione itu sangat membuat batasab-batasan akan kehidupan seksual hermione setidaknya sampai putrinya itu berusia 18 tahun. Jadi jangan kaget bila hermione masih perawan. Kan ultahnya masih 1 bulan lagi.

Draco yang sejak tadi hanya menonton drama antara hermione dgn dorota akhirnya tertawa begitu puas. " astaga kalian berdua benar-benar lucu."

"kau kira ini lucu heh?dorota akan menelepon ibuku dan semua rencanaku takkan terlaksana. Jadi jangan harap kau dapat menciumku nanti."

"memang kenapa bisa begitu?"

Hermione melotot."karena ibuku akan menyuruhku tinggal di gereja selama seminggu penuh"

Mendengar hal itu. Tawa draco semakin meledak. Hermione sendiri hanya mendengus sebagiai rensponnya terhadap draco. Ia bahkan lebih memilih pergi mengejar dorota dibanding meladeni draco.

"dorota" teriaknya sambil berjalan keluar." Please jangan berlebihan"

#

sebelum

selanjutnya

Ajukan pertanyaan

Email kalian

Foto

PS: semua nama,tempat dan peristiwa asli telah di ubah atau di singkat demi melindungi pihak yang tidak bersalah yaitu aku.

Hai girls!

Kalian pasti heran mengapa malam-malam begini aku sudah up date lagi. Well salahkan saja tanganku yang begitu gatal ingin mengetik sesuatu. Apalagi aku menemukan sesuatu yang menarik. Seperti yang kita tau D dan B gak masuk sekolah hari ini. Kebanyakan orang mengira mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Tapi itu tak benar sama sekali. Toh nyatanya mereka menghabiskan waktu secara terpisah. B berada di rumahnya dan D entahlah yg pasti di suatu tempat. Mungkin bersama wanita-wanitanya.

Tapi sekarang kita lupakan saja mereka dulu. Ada yg lebih menarik dari mereka. Siapa lagi kalau bukan dengan A. sore tadi aku melihatnya masuk kedalam supermarket. Sialnya itu adalah supermarkert dimana mr frak bekerja. Iuhh…kalau aku jadi A aku pasti akan segera keluar.

Tapi A tidak. Mugkin karena ia gak tau betapa aneh dan menjijikannya mr freak. Lalu ia keluar dengan membawa kantung belanjaan super besar dan coba tebak kemana dia pergi?

Ho …ho…ho dia pergi ke ostrof center.

Aku tau kalian tak kan percaya. Tapi A memang pergi kesana. Aku heran ngapain ia ke tempat di mana orang-orang yang bermasalah dirawat? Bagaimana menurutmu girls?

Penampakan.

D baru saja keluar dari kediaman B.

( foto)

C nampak sedang bergalau ria dengan berjalan-jalan tampa tujuan di sekitar jalanan london. Eh tau-tau ia malah berhenti tepat di depan gedung apartemen A.

(foto)

Wah…wah sebenarnya ada apa dengan kedua pria tampan ini?sungguh mereka membuatku penasaran. Terus terang aku akan mengamati dengan seksama.

Email kalian

Z: dear LG

Seriusan A ke ostrof center? Bukankah itu tempat perawatan untuk orang2 yg terlibat hal-hal negative ya? (maksudku seperti para pemakai narkoba,alkoholic,atau yg gila sekalipun) ya ampun….apakah A terlibat hal-hal negative? By lipstik

X: dear lipstik

Aku serius. Memang kapan aku menuliskan sesuatu yang bohong?well aku sih malah menduga bukan A yg terlibat hal-hal negative. Seperti yg tadi kutulis,dia itu membawa kantung belanjaan. Jadi kemungkinan besar A hanya datang utk menjenguk. Jadi pertanyaanya siapa yg ia jenguk? By londonGossip.

Z: dear LG

Aku sih gak peduli dengan A. aku lebih tertari dengan B dan D. aku sekarang sanagt yakin mereka berdua diam-diam sudah mulai saling suka. Bagaimana menurutmu? Lagipula kemana sih C? kenapa ia tak menjenguk B dan malah keapartemen A? memang dia gak takut jika B direbut?oh ya ampun aku pokoknya tak setuju jika dramione jadian. Oh iya satu baiknya kau tak usah menuliskan tentang mr freak. Dia itu menjijikan tau. By luna89

X: dear luna89

Wah…wah… kau sepertinya harus mengontrol emosimu. Dan tentang semua pertanyaanmu itu aku sih gak bisa jawab. Aku kan bukan tuhan. Kalau soal mr freak,sebenarnya aku tak berniat untuk menulis tentangnya. Tapi berhubung ia terlibat akan aktivitas A terpaksa aku menuliskan tentangnya. By londonGossip.

You know you love me. XOXO londonGossip.

#

Sampai di sini chapter 4 ini. Sebagai cat tambahan.

Kalau B itu: hermione

A : astoria

D : draco

C : cedric

Mr freak : harry

Little J : jenny

Nah sekali lagi kukatakn maaf bila ada typo yg luar biasa banyak ataupun ceritanya mulai gak menarik dan gj. Jadi maafkan aku. Dan oh iya kalau nanti aku takkan bisa up date kilat. Mengingat jadwal sekolahku mulai itulah deritanya jika kalian masuk jurusan farmasi.

By the way karena aku cerita mulai binggung utk alur2 selanjutnya jadi aku minta bantuan kalian utk membantuku. Misalnya seperti menjawab pertanyaan yg ku ajukan.

Siapa sih karakter yg kalian benci dari fic ku ini?

Siapa karakter yg kalian suka?

Moment apa yg kalian suka?

Yg menjawab itu,aku akan mengucapka trims sekali. Apalagi kalau di sertai itu sgt membantuku utk membuat cpter selanjutnya.

Dah….please R&R ya.