Summary:
Kim Kai adalah Pemimpin tertinggi dari tiga kelompok Iblis. Mereka sudah menguasai bumi termasuk Seoul selama 10 tahun. Yang mana mereka membuat peraturan untuk para manusia. Mengumpulkan mereka yang berumur 17 tahun sebagai budak dan setelah itu tidak ada yang tau bagaimana kelanjutan untuk mereka yang 'terpilih'.
Do Kyungsoo, seorang pria pendek yang mencoba kabur dari mereka yang selalu mengambil manusia saat manusia itu berumur 17 tahun. Dan mereka yang manusia sebut dengan incubus.
[incubus adalah iblis yang mengambil energi manusia dengan berhubungan badan]
Cast :
Do Kyungsoo
Kim Kai
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Oh Sehun
Xi Luhan
Warning: di Chapter ini banyak unsur dewasa.
Chapter 3 : Pertemuan yang menjadi musibah
Seorang pria dengan postur tubuh yang indah sedang duduk dengan gelisah di sisi ranjangnya. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Pria itu menggigit jarinya yang merupakan kebiasaannya jika ia sedang gelisah.
Tidak lama datanglah pria tinggi dengan mata berwarna biru dan telinga yang besar namun masih terbilang sangat tampan bahkan bisa dikatakan sempurna memasuki kamar tempat pria cantik itu menunggu.
Wajah cemas itu kini menatap dengan gelisah saat orang yang dinantikannya datang. Berharap berita baik yang akan ia dapatkan dari makhluk di depannya.
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?"
"Kau menyembunyikannya sebelum Kai ataupun Sehun datang, bukan?"
"Ia baik-baik saja,kan?"
Terlalu anyak pertanyaan yang keluar dari mulut cantiknya membuat dirinya malas untuk menjawab. Pria tinggi tersebut justru duduk di samping sang pria kecil dan mulai menciumi lehernya, mencium bau mawar yang sangat nikmat memasuki hidungnya. Ingin rasanya ia menyerang orang di depanya lagi jika orang itu tidak mendorongnya menjauh.
"Aku bertanya, apakah kau menemukannya, Chanyeol?"
Chanyeol menghela nafas kasar dan melihat pria cantik di depannya dengan datar.
"Aku tidak menemukan orang yang kau sebutkan ciri-cirinya,Baekhyun. Bermata bulat, bibir tebal dan kau bilang apa-imut?" Chanyeol menaikkan satu alisnya saat menyebut kata imut karena menurutnya hanya pria di depannya-lah yang pantas mendapat gelar tersebut.
Baekhyun mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menghela nafasnya. Ia bangkit dari ranjang dengan menarik selimut untuk menutupi dadanya yang terbuka. Merasa masih tidak nyaman jjika bersama dengan Chanyeol di dalam kamar.
Dengan cepat sebuah tangan besar menarik selimut itu yang membuat Baekhyun kembali terduduk, tetapi kali ini bukan duduk di ranjang, tapi duduk di atas pangkuan seseorang yang membuat bokongnya merasakan sesuatu yang keras yang terus menggosok-gosokkannya.
Pipi Baekhyun langsung memerah seperti terbakar yang membuat Chanyeol tersenyum puas melihat reaksi dari manusia kesayangannya. Pria kecil itu mencoba pergi dari pangkuan Chanyeol yang memeluknya dari belakang dengan erat, namun justru mendapatkan desahan dari sang pemilik.
"Aah.. Kau membuat aku kembali mengeras Baekhyun."
"Lepaskan, Chanyeol."
"Hmm."
"Aah.. You're so fuckable." Chanyeol mengabaikan rintihan Baekhyun saat dirinya masih terus menggosokan miliknya pada bokong Baekhyun. Memiliki bokong besar yang menggegam erat juniornya benar-benar membuatnya seperti ia baru saja memasuki surga yang bahkan mustahil membiarkan iblis masuk ke dalamnya.
Baekhyun terus menahan suara laknat yang akan keluar dari mulutnya karena Ia tidak mau memberikan kepuasaan pada makhluk yang mengurungnya. Tapi tanpa diduga olehnya, Chanyeol mengigit leher putih Baekhyun dengan keras yang membuat Baekhyun berteriak kencang karena rasa sakit yang menyiksanya dan menyiksa lehernya.
"Aku sudah pernah mengatakan. Jangan pernah menahan suaramu. Aku membencinya."
"A-Aku tidak peduli. Temukan dulu dia."
Chanyeol menatap Baekhyun dengan sinis dari sudut matanya. Ia mulai membenci dia yang selalu Baekhyun bicarakan. Se-istimewa apa manusia itu sampai Baekhyun terus mencemaskannya? Memikirkannya saja membuat amarah Chanyeol menjadi meluap.
Baekhyun tercekat saat merasakan tangan besar mengusap kejantanannya dengan menggoda. Tanpa bisa di tahan lagi, desahan mulai keluar dari mulutnya saat tangan itu menggengamnya dengan kuat dan membuat tubuh Baekhyun membusung ke depan. Merasakan kenikmatan yang tidak tertahankan yang terus mengalir.
"O-Oh Chanye-."
"Ohh yes. Fuck. A-ah lebih cepat." Tanpa sadar Baekhyun menggerakan pinggulnya, mengikuti gerakan tangan Chanyeol yang terus mengocok kejantanannya dengan cepat.
"Chan-Chanyeol i'm gonna-"
Sedetik kemudian cairan berwarna putih keluar dari lubang kejantanan Baekhyun. Sang pemilik hanya menutup matanya dan desahan terus keluar dari mulutnya. Merasakan orgasme yang keluar dari tubuhnya. Nikmat. Itulah kata yang tepat untuknya sekarang.
Nafasnya kini memburu dengan cepat, keringat kembali terjatuh dari pelipisnya. Baekhyun melihat tangan yang tadi memberikan kenikmatan padanya kini telah diwarnai oleh cairan putih miliknya. Pipi Baekhyun kembali memerah, ia merasa harga dirinya sebagai manusia kembali dilecehkan.
"Kau selalu manis."
Baekhyun melihat Chanyeol yang kini tengah menjilat cairan-cairan yang ada di tangannya dengan tatapan mesum yang ditunjukkan padanya justru membuat Baekhyun menjadi jijik. Namun, dengan cepat ia membuang pikiran yang menjijikan itu darinya, Baekhyun langsung berdiri dan bertatap muka dengan Chanyeol yang sekarang mendongak kearahnya.
"Sudah puas? Sekarang cari dia."
Chanyeol masih terdiam, kembali menatap Baekhyun dengan tatapan datar. Tidak berniat untuk mengikuti perintah dari pria di depannya. Memang siapa dirinya yang berani menyuruh Chanyeol melakukan sesuatu.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan putus asa, ia mengacak rambutnya frustasi ketika tidak mendapat jawaban dari pemilik dirinya. Persetan dengan harga diri, ia ingin sahabatnya ditemukan sekarang juga.
Tanpa diduga Chanyeol, Tubuh kecil Baekhyun berlutut di kaki panjangnya dan menunduk sangat dalam, meminta Chanyeol untuk menemukan sahabatnya. Chanyeol sendiri terkejut, karena ia tidak pernah menyangka manusia keras kepala seperti Baekhyun akan melakukan hal seperti ini.
Dan itu membuat dirinya semakin membenci dia.
"Kumohon..Kumohon cari Kyungsoo."
"Aku akan melakukan apapun."
Di dalam goa, Kyungsoo terus bergerak di dalam tidurnya, keringat terus bercucuran dari wajah kecilnya dan kerutan dahi terlihat sangat jelas, Tangan kecilnya juga terus meremas bajunya dengan kuat, bibirnya ikut mengeluarkan kata serapah dan kata memohon, ia seperti sedang bermimpi buruk bahkan yang lebih dari kata buruk.
"Aku menemukanmu, Kyungsoo."
"Tidak!"
Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu seperti orang yang habis berlari. Keringat membasahi seluruh badannya meskipun udara masih terasa sangat dingin. Ia menelan salivanya dengan susah. Air mata tiba-tiba ikut turun menghiasi wajahnya.
"Oh tuhan."
Kyungsoo menghapus keringat di wajahnya dengan punggung tangannya. Ia masih bisa merasakan tangannya yang bergetar, kakinya pun seperti kehilangan tenaga untuk bergerak. Ia mengacak rambutnya frustasi yang kini telah basah akibat keringat miliknya.
Kyungsoo memeluk tubuhnya dengan erat, menggeser tubuhnya mendekati dinding goa untuk bersandar. Tubuhnya tidak berhenti bergetar. Hatinya pun merasa tidak nyaman, seperti ketakutan dalam dirinya akan meledak sekarang juga.
Mata bulatnya menatap pintu goa dengan takut. Mata yang seakan-akan menantikan kehadiran seseorang. Mata yang kini menjadi waspada. Kyungsoo menyembunyikan dirinya lebih dalam agar ia ditutupi oleh kegelapan malam.
"Jadi, dimana kesayanganku?"
Jantung Kyungsoo kini berdetak sangat kencang saat ia melihat apa yang seharusnya ia tidak lihat di depan pintu goa. Ia kembali memeluk tubuhnya sekecil mungkin agar tidak terlihat dan menutup matanya, berdoa agar ia masih diberikan keselamatan.
Ketika Kyungsoo membuka matanya, nafasnya seperti tertahan ketika mata merah menatap tepat kearah manik matanya dengan seringaian yang menyeramkan. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya.
Kyungsoo takut, jujur ia sangat takut. Siapa yang tidak takut ketika melihat mata yang seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup? Apalagi jika pemilik mata itu adalah iblis.
"Merindukanku?"
"AH!" Kyungsoo berteriak saat iblis itu dengan cepat berada di depan wajahnya. Jantungnya seperti akan meledak di dalam tubuhnya.
Kyungsoo mundur dengan takut, namun sebuah tangan memegang dagunya dengan kuat dan memaksanya untuk mendongak. Mata bulatnya kini bertemu lagi dengan mata merah menyala. Mata merah yang menatapnya dengan tatapan marah.
"Jangan berteriak di depan wajahku!"
Makhluk di depannya kini berteriak, Kyungsoo menutup matanya dengan takut. Ia dapat merasakan aura yang tidak menyenangkan darinya.
Kai menatap pria kecil di depannya dengan amarah yang meluap-luap. Ia sangat tidak suka ketika ada yang berteriak tepat di wajahnya. Beruntung pria kecil tersebut adalah buruan yang penting, jadi ia tidak akan membunuhnya sekarang juga.
Kyungsoo menunduk sangat dalam yang membuat Kai tersenyum puas. Ia tidak suka seseorang berteriak, tetapi ia suka saat Kyungsoo meminta maaf dengan sangat submissive.
Kai menjilat bibirnya dengan seduktif dengan tatapan yang masih mengarah pada manusia di depannya yang masih menunduk. Tangan besarnya kembali mengangkat dagu Kyungsoo dengan kuat, mata besar yang dulu menantang kini menjadi mata besar yang dipenuhi rasa takut.
Mata merah Kai terus melihat tepat di bibir tebal yang berwarna merah cherry, seperti menggoda Kai untuk segera memakannya sekarangnya juga. Sedetik kemudian, Kyungsoo merasakan bibirnya menyentuh permukaan yang lembut dan basah.
Sadar bahwa Kai tengah menciumnya, Kyungsoo secepat mungkin mendorong tubuh Kai menjauh darinya. Sayangnya, Kyungsoo tidak dapat mendorongnya karena perbedaan kekuataan pada keduanya.
Tidak puas hanya dengan ciuman tanpa menjelajah bibir Kyungsoo membuat Kai kesal. Ia menggigit bibir bawah Kyungsoo yang membuat empunya membuka bibirnya dengan refleks. Kesempatan itupun Kai gunakan untuk menjelajah ke dalam.
Dengan sangat ahli Kai memainkan lidahnya di dalam sana, menghisap dan menggigit lidah Kyungsoo dengan pelan. Walaupun tidak dibalas oleh pria yang diciumnya, Kai tetap menikmati setiap rasa Kyungsoo yang menjalar ke seluruh tubuhnya termasuk bibirnya.
Kyungsoo sendiri memukul dada Kai dengan kuat, meminta untuk diberikan udara. Pria incubus itu menjauhkan wajahnya dan membentuk sebuah benang saliva. Entahlah itu saliva miliknya ataukah rusa kecil di depannya.
Kai melihat Kyungsoo dengan sangat puas. Bagaimana tidak? Kyungsoo benar-benar sangat menggoda. Wajahnya yang pucat dengan nafas yang memburu dengan dihiasi keringat serta mulut yang terbuka yang juga dihiasi oleh liur miliknya.
Ah benar-benar seperti seseornag yang habis melakukan hubungan ranjang bukan?
"Hmm..Lihatlah bibir itu, menjadi sangat merah dan bengkak."
Kai mengelus bibir Kyungsoo dengan pelan dan mengelap air liur di sudut bibirnya lalu memasukkannya kembali ke dalam mulut Kyungsoo.
"Ah..benar-benar menggoda."
"Aku jadi ingin menggantikan air liur itu dengan cairanku di dalam mulutmu, benar-benar ekspresi yang bagus." Ucap Kai seraya menepuk pipi Kyungsoo dengan seringaian di bibirnya.
Pria mungil itu sendiri masih mengatur nafasnya, energi dalam tubuhnya seperti tersedot begitu saja oleh makhluk yang menciumnya. Ia menatap Kai dengan tatapan yang tajam, seandainya tatapan dapat membunuh, mungkin Kai akan mati dengan cepat.
"Aku suka tatapan itu, tatapan yang membuat diriku terangsang."
"Sudahlah, aku lebih suka bermain di ranjang daripada disini, lebih baik kita pergi dari sini dan bersenang-senang di tempatku."
Kai mengangkat tubuh kecil Kyungsoo dengan mudah dan terlihat sangat ringan. Dalam hitungan detik pun dirinya sudah sampai di sebuah kamar yang asing dan dijatuhkan begitu saja di atas ranjang.
Dirinya mulai panik ketika Kai membuka bajunya dan memperlihatkan dada bidang dengan abs yang sangat sempurna. Jujur, Kai benar-benar terlihat sangat tampan dan ya sangat sempurna. Semua orang yang melihatnya pasti akan langsung bertekuk lutut padanya tanpa peduli siapa dirinya. Namun tidak untuk Kyungsoo, ia sangat tidak menyukai Kai dan ia sangat membencinya.
"Ingin memulainya sekarang, sayang?"
"Menjauh dariku! Kau menjijikan!"
Kyungsoo menendang Kai dengan brutal yang bahkan tidak sedikit-pun mengenai makhluk tersebut. Dengan mudahnya Kai menangkap kaki kecil yang terus memberontak dan menahannya dengan satu tangan.
"Apa aku lupa memberitahu namaku? Namaku adalah Kai. Kim Kai. Jangan lupa untuk berteriak saat kita melakukannya."
Bagaikan tertimpa batu yang besar. Jantungnya terasa berhenti sesaat dan jiwanya meninggalkan tubuhnya ketika mendengar nama yang sangat ia ingin hindari. Jika ia bertemu dengan Park atau Oh ia masih mempunyai harapan untuk pergi tapi jika ia bertemu dengan Kim. Itu adalah musibah. Karena Kim tidak pernah mengembalikan anak yang dipilihnya, dan tidak ada yang pernah tau kemana mereka semua menghilang.
Melihat reaksi Kyungsoo membuat Kai tersenyum puas dan seringaian terbentuk di wajah sempurnanya.
Disisi Lain, di kediaman Do.
"Bagaimana ini? Aku memberikannya pada mahluk itu. Apa yang harus kulakukan?"
Nyonya Do sedari tadi berjalan dengan gelisah di dalam rumahnya, Setelah insiden suaminya, ia benar-benar membawa Kai ke tempat anaknya dan melepaskan mantra agar Kai dapat masuk ke dalam goa tersebut.
Tuan Do sendiri sudah di sembuhkan oleh sahabat Nyonya Do, yang bernama Lay. Ia bukanlah penyihir seperti Nyonya Do namun ia juga mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan seseorang.
Ya, Dunia ini sudah berbeda, atau justru dunia ini memang sudah berbeda sejak dulu. Hanya manusia sendiri yang terlalu buta atau tidak peduli untuk mengatahuinya. Mereka hanya terus berlomba untuk menciptakan benda seperti tembaga yang bergerak ataupun terbang. Berlomba-lomba untuk menjadi negara maju hingga melupakan fakta bahwa mereka tidaklah sendiri. Ada beberapa orang-orang yang berbeda dari mereka yang bersembunyi di tempat terpencil.
Namun semua itu tidak berlangsung lama, sampai para incubus berhasil menguasai bumi. Kehidupan yang dahulu tentram untuk para mereka yang berbeda, kini sudah musnah ketika makhluk itu membunuh semua temannya dan keluarganya. Menciptakan rasa benci yang tertanam menjadi tumbuh dengan kuat.
Pria dengan lesung pipinya itu bangkit dari sofa dan mengelus punggung perempuan paruh baya itu dengan pelan, berusaha untuk menenangkannya. "Semua akan baik-baik saja, Nyonya Do. Kita akan melepaskan Kyungsoo dari makhluk itu."
Nyonya Do mengatur nafasnya untuk menenangkan perasaannya. Ia sangat membenci ini, membenci ketika harus memilih suaminya daripada anaknya. Keduanya sangat penting untuknya.
"Aku benar-benar ibu yang buruk ya?" Ucapnya dengan lirih, ia hanya tersenyum miris mengingat begitu mudahnya ia memberikan Kyungsoo pada Kai.
Lay menggeleng pelan dan memeluk Nyonya Do, "Tidak. Itu pilihan yang tepat, aku tahu mungkin Kyungsoo akan tersiksa disana, tapi aku juga tau Kai tidak akan berani menyakitinya. Jika kau memilih Kyungsoo, pasti suamimu sudah mati sekarang dan Kai akan tetap berhasil mendapatkan Kyungsoo."
"Mungkin aku akan berbohong jika berkata bahwa Kyungsoo akan baik-baik saja, tapi yang aku tau, Kyungsoo adalah anak yang kuat dan aku tau ia bisa bertahan disana. Kita hanya tinggal mencari bantuan." Lanjutnya.
Nyonya Do menjauhkan dirinya dari Lay dan menatapnya masih dengan tatapan khawatir dan gelisah.
"Apa ramalan itu benar?"
Lay hanya mengangkatnya bahunya, "Aku tidak tau, jika itu bisa menyelamatkan umat manusia dan kembali memberikan kedamaian pada bumi, kenapa tidak? Maafkan aku Nyonya Do, tapi kau tau kan? Tugas kita adalah memberikan kedamaian lagi di muka bumi ini jadi aku sangat menyesal karena itu semua pasti sangat berat untukmu."
Wanita paruh baya itu kembali tersenyum miris dan menangis dalam diam, "Aku benar-benar ibu yang sangat buruk."
Tbc
Hai! Maaf karena lama update dan maaf kalo ternyata chapter 3 tidak sesuai harapan. Aku masih berterima kasih buat yang review dan menyempatkan waktu untuk baca cerita yang ga masuk akal ini. Saranghae.
Aku juga baru nulis cerita baru, tentang mafia sih dan yang pasti itu masih Kaisoo. Judulnya "OWNED" coba di cek yukk, makasih yaa.
