Cerita sebelumnya ...
"OI TETSUYA!"
Sinar matahari pagi menerpanya, hangat sekali. Namun kontras dengan keadaan rumah yang dia temui saat ini. Rumah Tetsuya sepi, halaman yang menghadap teluk terlihat kacau seperti saat Taiga pertama mengunjunginya. Lapangan basket mini telah dilahap rumput liar, kursi berkarat teronggok di pojok sana. Taiga heran setengah mati.
Buru-buru dia menuju pintu masuk, dilihatnya keadaan di dalam rumah. Bagian dalam pun sepi, perabot terlihat ditutupi kain putih dan sarang laba-laba merajalela.
"B ... Bang Niji! Tetsuya ada?" Pun tidak ada jawaban dari Nijimura.
"Tetsuya! Aku datang main!" Tidak ada jawaban dari Tetsuya. Rumah itu membisu.
...
...*...*...
...
When Kuroko Was There
Part 4 : Raijin-sama musim panas
Proud to you by:
emirya sherman
Disclaimer:
Kuroko no Basuke owned by Fujimaki Tadatoshi.
When Marnie Was There, Based on Joan G. Robinson' s novel and the movie version by Studio Ghibli.
~ I gain no profit by publishing the story ~
Warnings:
Parodical!AU. Update makin ngaret.
…
Happy reading :)
…..
...*...*...
…..
"Nijimura? Siapa lagi itu?"
"Bibi Alex tidak tahu?"
Bibi Alex menandaskan sisa kopi di cangkirnya, tatapannya masih menyelidik.
"Kamu itu dari tadi tanya aneh-aneh. Selama aku tinggal di sini, aku tidak pernah tahu ada orang bernama Kuroko Tetsuya atau Nijimura Shuuzou. Tapi, kalau dulu sih, saudagar kaya yang pernah tinggal di desa ini nama marganya Kuroko atau Kuroto, ya?"
"Memang kamu benar-benar bertemu orang-orang itu? Yakin bukan jelmaan lelembut?" Tatsuya melirik dari sofa, pandangannya jelas meremehkan setiap kata yang dilontarkan Taiga.
"Iyalah! Tetsuya itu wajahnya datar, anaknya anteng kayak samsak tinju. Bang Niji itu mukanya sengak, manyun terus. Kok kalian tidak percaya sih!"
Bibi Alex menghampiri Taiga yang duduk di anak tangga, lalu menepuki puncak kepala Taiga.
"Kami percaya kok. Cuma ceritamu itu kurang meyakinkan."
Taiga merengut, "Kalo Bang Tats?"
"Kagak."
"Tuh!" Taiga menunjuk garang.
"Tatsuma, kooperatif dikit kek."
Tatsuya pura-pura tidur.
"Ya sudah. Makan dulu sana. Ada mie spesial tuh. Mau tante suapin?"
"Tidak, terima kasih. Omong-omong, itu iklannya sudah jadul kali."
Satu hal yang pasti, tidak ada yang percaya pada Taiga. Entah kenapa Tetsuya yang biasanya muncul dan hilang seperti asap kebakaran benar-benar tidak muncul. Padahal Taiga telah memanggil si bocah pemilik rumah sampai suaranya parau.
Taiga sempat mengira Tetsuya sedang molor di suatu ruangan, sehingga tidak mendengar suaranya. Barangkali telinga Tetsuya jarang dibersihkan sehingga kotoran di telinganya telah mengerak. Taiga jengkel, setiap suara yang dilontarkan seperti memantul lagi ke arah jidatnya.
Awalnya ia heran karena rumah dekil Tetsuya menjadi kinclong saat ia mengunjunginya setelah melihat dedemit kuil kemarin. Barangkali keluarga Tetsuya memang konglomerat betulan, sehingga bisa menyewa tenaga tukang yang jumlahnya sama dengan warga sebuah desa untuk mempermak rumah kurang dari 24 jam. Namun, agak kurang masuk akal juga, renovasi rumah besar tidak mungkin selesai kurang dari satu hari.
Kemudian sehari berikutnya rumah itu kembali seperti tak terawat. Jika Tetsuya adalah penghipnotis macam Hyuuga Kuya, maka Taiga telah merasa ditipu mentah-mentah.
Pagi itu Taiga memilih kembali ke rumah Bibi Alex setelah merasa usahanya tidak mendapatkan hasil. Daripada dikira sakit gila karena meneriaki bangunan kosong.
Air laut sedang surut, tetapi Taiga memilih berjalan dengan menceburkan kakinya ke laut, sepatunya ditenteng pada masing –masing tangan.
Mbah Shigehiro yang kebetulan sudah mangkal di tengah laut menghampirinya dengan kapalnya. Jadilah Taiga ikut memancing, masih penasaran alasan Tetsuya tidak menampakkan batang hidungnya, masih tidak sengaja melemparkan kail sekaligus pancingnya, dan masih juga tak kunjung mendapat ikan.
Kedua matanya disiagakan untuk melihat sedikit gerakan di area rumah itu. Namun, ditunggu berjam-jam pun tidak ada perubahan. Tidak ada Tetsuya yang melambaikan tangan. Bahkan, sampai jaring milik Mbah Shigehiro penuh dengan ikan, Taiga tidak mendapatkan apa-apa, entah itu ikan atau petunjuk dari rumah itu. Pun ia juga menunggu hingga senja. Namun, hasilnya tetap nihil, rumah itu masih kosong. Tetsuya tidak kunjung datang menghampirinya.
Kuroko Tetsuya lenyap ditelan Bumi, pun dengan kewarasan Taiga.
...***...
...***...
Malamnya, cuaca memburuk. Angin bertiup sangat kencang, awan gelap sudah mengungkung sepanjang horizon sejak sore hari. Tinggal tunggu hitungan hingga hujan deras turun di tengah musim panas. Taiga duduk di beranda kamarnya setelah makan malam. Bibi Alex dan Tatsuya masih di lantai bawah sedang menonton berita petang.
Taiga menulis dua surat, satu untuk ibunya, satu lagi untuk mengabari dua komplotannya yang lain—Ryouta dan Daiki. Ia juga melampirkan dengan foto yang memiliki latar foto teluk yang Taiga biasa lihat setiap hari. Rencananya Taiga akan mengirimkannya besok. Apa boleh buat, cuaca yang memburuk membuat koneksi internet sedikit bermasalah, padahal kemarin Taiga dengan mudahnya dapat mengirim surel untuk ibunya.
Surat untuk ibunya kembali hanya berisi kabar Taiga di perantauan dan asmanya yang tidak kambuh—ibunya bisa bernapas lega untuk itu. Tak lupa mengabarkan bahwa Bibi Alex masih betah menjomblo di usia hampir memasuki kepala tiga, dan Tatsuya yang ternyata berkunjung di musim panas. Taiga ingin menceritakan pengalamannya ikut festival, tetapi malas menceritakan saat ia bertemu sosok besar di pojok kuil. Taiga bergidik.
"Kapan ibu akan mengunjungiku?" Taiga menulis kalimat itu di akhir kartu posnya. Ia hampir saja mencoretnya dengan pensil alis milik Bibi Alex, tetapi ia urungkan—tentu saja.
Surat untuk Ryouta dan Daiki berbeda lagi. Taiga memilih mengirimkan surat itu ke alamat Daiki, mengingat Daiki itu jadwalnya kosong melompong. Daur hidup Daiki itu meliputi; Pagi, sengaja bangun kesiangan, sekalipun sudah bangun tapi sok-sokan ditidur-diturkan, sarapan pukul 10 pagi, lalu main basket mini dengan abang-abang karang taruna. Siang, bobok ganteng dulu sebelum main lagi atau kadang cari kumbang untuk gaya-gayaan mengikuti tren pecinta kumbang dadakan. Malam, kecapaian dan hanya malas-malasan, opsional dicurhati Satsuki via telepon.
Berbeda dengan Ryouta yang sibuk—sesibuk calon anggota dewan—mencari nafkah sebagai bintang iklan. Kebetulan Ryouta baru teken kontrak dengan produsen vitamin anak-anak. Katanya personaliti Ryouta itu cocok untuk memerankan anak aktif, apalagi dari segi wajah yang menjual, dan basis fangirl dari bocah ingusan sampai ibu-ibu muda yang banyak mengidolakannya. Baru saja iklannya tayang di tivi swasta. Taiga tidak sesumbar kalau punya teman artis, takut Bibi Alex akan kalap merong-rongnya untuk minta dikenalkan pada Ryouta.
Di surat itu ia mengabari keadaannya—ia baik-baik saja.
"Kalian tidak perlu mengorbankan darah perawan untuk ritual pemujaan sesat guna meminta berkah agar bengekku sembuh. Tidak perlu, sungguh. Selesaikan saja tugas mengarang musim panas kalian, dan mampirlah ke sini kalau kalian sempat."
Tidak lupa sumpah serapah khusus untuk Ryouta, "Hoi gembel, jangan menerorku, jangan memaksa nge-like foto infragram punyamu. Di sini seret sinyal tahu. Kau mau aku buang ke laut?"
Mungkin Ryouta akan histeris jika membaca pesan ini.
...***...
...***...
Keesokan harinya kabut tepal menghiasi daerah teluk, putih sepanjang mata memandang. Dingin sekali. Taiga jarang merasakan pagi yang seperti itu di Tokyo. Tidak pernah malah.
Ia berdiri di beranda lantai 2, sementara Tatsuya masih belum bangun, apalagi Bibi Alex. Sekarang masih jam 6 pagi, dan Taiga ingin matahari segera naik. Dinginnya sampai menusuk ke tulang.
"Huh, katanya musim panas. Musim panas kok ada badai segala."
Tatsuya mengayunkan sendok sayur di pucuk kepala Taiga, "Jangan mengeluh terus kamu, Bocah. Sudah untung rumah kita tidak tersapu badai."
Hari itu mendung menaungi hampir seluruh daratan wilayah Akita. Sinar matahari tidak mampu menembus barikade awan abu-abu. Sehingga kabut tidak mau menguap, cenderung masih menyelimuti. Sesekali matahari terlihat, tetapi matahari hanya terlihat seperti bola lampu neon yang redup, seperti planet asing saja. Selanjutnya mendung, mendung, dan mendung lagi.
Taiga hampir mengurungkan niatnya untuk mampir ke kantor pos. Pohon besar di jalan utama desa, dan beberapa pohon tua lain kabarnya roboh ditiup angin kencang semalam. Namun, karena ia penasaran dengan cuaca berkabut macam ini, ia memilih untuk tetap keluar.
"Jangan lupa suratnya dibawa ya, Taiga. Nanti sampai kantor pos lupa yang mau dikirim lagi."
"Bang Tats berisik, ah."
Taiga memasukkan botol minum berisi air perasan jeruk lemon ke dalam tas ranselnya, salim dan cium tangan kepada Tatsuya dan menyiapkan sepeda milik Bibi Alex. Ia kemudian meluncur menggunakan sepeda, sementara Tatsuya kembali ke dalam rumah.
Jalan turunan itu dilewatinya dengan asal, sepedanya meluncur dengan cepat. Taiga masih merasa sensasi dingin menerpa kulitnya, ia pun menghirup bau kabut sedalam-dalamnya. Kapan lagi ia bisa naik sepeda dengan bebas seperti ini di Tokyo? Kalau saja ada Daiki dan Ryouta mungkin ia akan menantang mereka balapan. Namun, skenario imajinasinya berakhir dengan Taiga dan Daiki saja yang balapan sepeda, sementara Ryouta merengek minta diboncengkan karena ia tak bisa mengendarai sepeda.
Taiga hampir mencapai akhir turunan, jika tidak ada kabut maka seharusnya pemandangan teluk sudah terlihat. Taiga tak mengurangi kecepatannya. Ia hanyut dalam euforia.
Matanya memicing tajam, di ujung sana ada sekelabat sosok tinggi dalam selimut kabut. Sepedanya hampir mencapai pertigaan jalan yang merupakan akhir dari jalan yang menurun itu. Taiga berusaha melambatkan laju sepedanya. Bayangan itu juga seolah bergerak ke arahnya, makin dekat makin terlihat kalau itu manusia.
Taiga hendak mengerem sepedanya, tetapi ternyata tak membuat perbedaan yang berarti.
"ALAMAK!"
Sudah hampir mendekati sosok manusia itu. Gawat.
"TOLONG MINGGIR! REMNYA BLONG!"
Orang itu menghindar ke arah kiri, sementara Taiga membelokkan sepedanya ke arah kanan. Laju sepedanya tidak karuan. Ia bersama si sepeda soak meluncur ke arah teluk. Taiga tidak melihat di depannya ada dahan pohon yang patah, sepedanya menabrak dahan berdaun rimbun. Ia terjungkal hingga jatuh ke pematang teluk. Hampir saja ia mencium tahi burung camar kalau ia mendarat 10 sentimeter ke depan.
Teriakan orang di belakangnya terdengar, "OI, KAMU TIDAK APA-APA?"
...***...
...***...
"Tidak, aku tidak tidak apa-apa," jawab Taiga.
Orang itu mengulurkan tangan kanan untuk membantu Taiga berdiri.
Orang itu menyahut, "Berarti ada apa-apa dong. Botol kamu." Kemudian menjulurkan tangan lagi ke arah muka Taiga.
"Apan sih! Jangan cabut-cabut alis orang dong!"
"Botol, bodoh dan tolol." Orang itu mengamati helai merah kehitaman di antara apitan ibu jari jari telunjuknya, "Alisnya cabang asli, ya?"
"Tentu saja asli! Mana ada anak laki-laki SMP yang udah mainan pakai pensil alis!"
Dahi Taiga berkerut jengkel, baru pertama kali ini ia bertemu orang yang menghujatnya saat pertama kali bertemu.
"Nih, sepedamu." Orang itu mengulurkan sepeda yang sebelumnya ia ditenteng di bahu.
"Ah iya, terima kasih."
Orang itu mengangguk sedikit, "Jadi, kamu ingat siapa namamu? Tinggal di mana, dan ini di mana?"
"Tahulah, Kagami Taiga, aku tinggal di Tokyo, dan ini di di daerah pesisir Akita!"
Orang itu menoyor jidat Taiga, "Berarti tidak apa-apa."
"Oi! Itu penganiayaan tahu!"
Mereka sama-sama berdiri, orang itu lebih tinggi dari Taiga, berambut ungu, dan terlihat mengulum lollipop.
"Ah, kebetulan aku sedang mencarimu. Kamu yang kemarin itu, 'kan?"
Taiga masih jengkel, "Yang kemarin itu yang kapan? Bicara yang jelas kenapa!"
"Yang di kuil itu. Yang pakai kostum dugong itu kamu, 'kan?" Suara itu terdengar malas, mendengarnya membuat Taiga makin jengkel.
Mengingat kebodohan itu membuat muka Taiga makin ditekuk, malunya minta ampun.
"Iya, memang ada apa?"
Orang itu mengambil sesuatu dari tasnya, "Nih, kostum punyamu ketinggalan."
Taiga menyadari satu hal laten.
"Oh, hehe ... hehehe, kamu yang kemarin itu, ya? Duh, aku kira kamu demit, makanya aku langsung lari." Taiga tertawa canggung. "Terima kasih sudah membawakannya."
"Ah, kamu juga yang kata Okamura-san hilang terus ditemukan di pinggir laut itu, 'kan? Memangnya kamu sedang apa? Ngepet?"
"BUKAN!"
...***...
...***...
Orang itu lebih tinggi dari Taiga, tetapi tidak mutupi fakta bahwa ia seumuran dengan Taiga. Murasakibara Atsushi, masih SMP kelas 1, tetapi perawakannya seperti anak SMA.
"Hah? Yang benar aku kira kamu seumuran abangku."
"Enak saja. Aku memang ikut latihan basket bersama anak-anak SMA. Tapi kukan berarti aku juga anak SMA."
"Woah, jadi kamu bisa latihan bersama anak-anak SMA setiap hari?"
"Iya."
"Bagaimana bisa. Kamu punya abang yang sekolah di sana?"
"Tidak punya tuh."
"Terus?"
"Dulu, setelah pertandingan antar SMP, kebetulan mereka menawarkan masuk sekolah mereka tanpa tes kalau aku mau gabung ke SMA mereka. dengan begitu aku tidak perlu masuk SMA tanpa tes, tanpa ujian, dan TANPA BELAJAR." Atsushi menutup kisahnya dengan tawa maniak, sungguh sangat menyimpang dari karakternya.
Taiga bergidik, sepertinya Bang Fukui pernah menawarinya iming-iming serupa. Fukui Kensuke memang tukang ciduk calon siswa baru. Tidak perlu heran.
"Kamu direkrut SMA Yosen?"
"Iya."
Taiga ingin muntah pelangi.
...***...
...***...
"Kamu tinggal di desa ini juga?"
"Iya, sebenarnya aku baru indah ke sini, tapi rumahku belum direnovasi, jadi ayahku menyewa tempat tinggal sementara di dekat kantor desa."
"Oh."
Mereka duduk-duduk di depan kantor pos, Atsushi memilih untuk ikut bersama Taiga. Di sepanjang jalan mereka bersama memapah si sepeda sekarat. Awan hitam di atas mereka kembali memuntahkan hujan, kali ini hanya gerimis ringan.
"Kamu tahu rumah yang di ujung teluk itu?" Atsushi bertanya dengan mulut penuh keripik pisang.
"Tahu, kenapa memangnya?"
"Aku dan keluargaku akan pindah ke sana loh." Jeda saat Atsushi menelan kuyahannya. "Kalau mau main boleh kok, kalau renovasinya sudah selesai."
Taiga menengok kaku, "Rumah di ujung teluk itu?"
Atsushi mengangguk malas.
"Ah, ya," Taiga tertawa kaku, "tentu saja."
Taiga menemukan benang merah tentang Tetsuya makin kusut. Masih banyak pertanyaan di kepalanya, rumah Eropa di ujung teluk itu, Tetsuya yang tidak menampakkan batang hidungnya, dan terutama siapa Tetsuya itu sebenarnya.
...***...
...***...
When Kuroko Was There, Part 4 : END
…..
...*...*...
…..
'Emir is typing' corner :
Raijin-sama : Dewa kilat, petir, dan badai.
Makasih udah mampir. Jaa nee .…
:D
