Disclaimer: Masashi Kishimoto(Naruto)

Ichie Ishibumi(DxD)

Genre: Adventure, Supranatural, a bit of Romance

Pair: Naruto x ...

Warning: Gaje, jelek, non-EYD, dan banyak lageh...

o

*Kuoh Highschool*

o

"Hoy! Naruto!." Pagi yang begitu cerah dan tenang hari itu terpecah akibat teriakan cempreng dari seorang siswa yang berambut coklat. Orang yang merasa namanya terpanggil langsung menoleh dan melambaikan tangannya.

"Ada apa sobat? Kau tampak bersemangat hari ini." Keduanya pun melakukan toss. Remaja berambut coklat tampak tengah mencoba mengambil sesuatu dari kantongnya.

"Hey lihatlah!." Sebuah Handphone berwarna hitam pun muncul. Naruto mencoba memandangi benda yang temannya tunjukan itu dengan serius.

"Ya, itu milikmu, lalu ada apa Issei? Kau mau memamerkannya padaku?." Issei tepuk jidat mendapati temannya itu tak memahami maksudnya itu. Ah, ternyata dirinyalah yang salah. Layar Handphone itu masih dalam kondisi mati rupanya.

"Hehehe, nah sekarang lihatlah!." Issei dengan bangganya menunjukan foto gadis cantik yang dia jadikan wallpaper. Rambutnya berwarna hitam, cukup panjang dan lurus. Wajah putihnya dihiasi oleh bibir pink dan sepasang manik ungu yang cukup senada dengan warna rambutnya. Naruto tengah menggosok dagunya seraya berfikir.

"Apa itu aktor JAV kesukaanmu?." Tanya Naruto sambil mengarahkan jempolnya pada benda digenggaman Issei.

"Wush! Sembarangan. Tentu bukan bodoh! Dia itu pacarku yang baru. Amano Yuuma, cantik bukan. Dadanya besar lagi." Serunya bangga sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri dengan jempol tangan kanannya.

"Woow! Selamat sobat! Kukira kau akan mati dalam kondisi melajang. Ada juga ternyata yang mau dengan laki-laki mesum sepertimu." Seru Naruto sambil menjabat tangan Issei.

"Cih, kau hanya iri Naru-baka!." Naruto malah cengo mendengar tudingan dari temannya itu. Iri? Untuk apa iri.

"Iri? Hey! Aku memiliki seorang gadis cantik yang selalu membuatkanku bekal dan banyak hal lain. Buat apa aku mengirikan gadis yang mungkin memiliki selera yang aneh atau gangguan pengelihatan." Jawab Naruto dengan wajah meremehkan.

"Tunggu dulu, yang kau maksud itu kakakmu 'kan? Kau penyuka incest? Dan lagipula, aku ini cukup tampan kok. Jadi jangan heran ada gadis yang mau denganku." Ucap Issei sambil menunjukan senyum percaya dirinya, oh jangan lupakan jempol dan telunjuknya yang tengah membentuk pola 'v' dibawah dagunya. Isi perut Naruto seakan ingin meloncat mendengar kalimat yang sarat akan Narsisme itu.

"Incest? Enak saja. Aku tidak memiliki hubungan darah dengannya! Mana mungkin Incest masih berlaku Hentai-gakki!." Kini Naruto menyerukan ucapannya dengan suara cemprengnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Issei.

"Hentai-gakki? Ngaca dulu kau Unko-tama!." Sembur Issei tak kalah sengit. Percikan listrik pun seakan muncul dari dua pasang mata yang tengah adu melotot.

"Hentai-gakki!"

"Unko-tama!"

"Hentai-ga- adududuh! Sakit! Sakit!." Naruto malah berteriak kesakitan ditengah debatnya itu. Penyebabnya, seorang gadis merah bernama Rias yang tengah menarik telingannya sambil berkacak pinggang.

"Ne, Naruto-kun, bisa berhenti tidak?." Ucap gadis itu dengan suara yang dibuat-buat manis. Tapi, Naruto yakin, terlalu banyak makan manis akan membuatmu segera mati(?).

"Ba-baik Rias-chan." Ucap Naruto dengan suara yang terdengar ketakutan. Mengeherankan memang, berjibaku dengan hantu dia bisa lakukan tampa takut, tapi bila sudah dengan wanita, keberaniannya malah menguap entah kemana.

"Ge-Gremory-san? Woy Naruto, kesini sebentar!." Issei dengan tampa berperasaan menarik kerah baju Naruto menjauh dari Rias lalu mulai berbisik.

"Kau ada hubungan apa dengan Gremory-san?." Tanya Issei sambil berbisik.

"Teman, kurasa." Rias memandang penasaran kedua lelaki yang tengah jongkok berdekatan.

"Cih, kau beruntung aku sudah punya pacar. Kalau tidak, aku, Matsuda dan Motohama akan membuat dua telurmu itu keram untuk beberapa jam." Naruto Sweatdrop mendengar ancaman konyol temannya itu. Memangnya kau siapanya Rias sih? Pikir Naruto gerah. Kaduanya pun bangkit dan melangkah mendekati Rias yang tengah memandangi mereka dengan bingung.

"Kalian membicarakan apa?." Tanya Rias pada dua pemuda itu. Kedunya sejenak saling pandang dan mengangguk kecil.

"Ini tentang Issei, dia punya pacar sekarang." Jawab Naruto. Raut terkejut muncul diwajah Rias sebelum dehaman kecil kembali mengembalikan ekspresi tenangnya.

"Wah, selamat ya Hyoudo-san." Ujar Rias. Issei saat ini tengah tersipu malu akibatnya.

"Hehe sama-sama Gremory-san." Jawabnya sembari menggaruk-garuk belakang rambutnya yang sama sekali tak terasa gatal. Dalam hatinya dia bersorak-sorai mengingat Rias mengetahui namanya. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, sebab tak seorang pun disekolah ini yang tak mengetahui tentang 'Trio Mesum dari Kuoh'.

"Huft,." Naruto memutar matanya bosan melihat interaksi keduanya. "Gadis itu..." Tepat didepannya, seorang gadis berjalan pelan melewatinya dengan kepala yang menunduk. Aroma tubuh gadis itu tercium oleh hidung Naruto. Dia merasa familiar dengan aroma ini.

"Tunggu!." Tubuh gadis itu menegang seketika saat Naruto memanggil namanya. Dengan gerakan patah-patah, gadis itu berbalik dan behadapan dengan Naruto. Rambut indigo panjang berponi, mata beriris lavender serta bibir plum yang menawan. Naruto ingat sosok ini, hantu gadungan tukang ngintip orang mandi!. Seringai misterius muncul dibibir pemuda pirang itu, sontak saja gadis yang kebetulan melihatnya langsung bergidik ngeri.

"Ka-kau memanggilku?." Ujar gadis itu dengan nada gugup yang coba dia sembunyikan. Dengan kedua matanya, Naruto meneliti tubuh gadis didepannya sebelum mulai mendekati tubuh gadis itu.

"Are? Siapa ini? Oh ya! Sadako-chan rupanya." Bisik Naruto didekat telinga gadis itu. Naruto memandangi label yang tertera di dada sebelah kiri siswi berambut panjang yang kini tengah menunduk didepannya.

"Hinata Hyuuga. Hmm, pulang sekolah nanti datanglah keatap. Ada beberapa yang harus kita 'selesaikan'." Ujar Naruto misterius. Anggukan cepat jadi jawaban atas perintah yang Naruto berikan pada gadis malang itu. Dengan itu, Naruto kembali mendekati kedua temannya yang kini tengah memandanginya dengan raut penasaran.

"Dia siapa Naruto-kun?." Tanya Rias.

"Dia? Dia cuman kenalanku." Jawaban singkat Naruto seakan tidak membuat sang penanya puas. Itu ditandai dengan mata Biru-kehijauan Rias memandangnya dengan curiga. Sontak saja, Naruto dibuat salah tingkah olehnya.

"Sudahlah Rias-chan, kita kekelas sekarang." Ujar Naruto mengalihkan pembicaraan. Dia malas untuk membincangkan hal merepotkan itu pada Rias.

"Baiklah, aku kekelas dulu, Jaa Naruto-kun, Hyoudo-san." Ketiganya pun melangkah menuju kelasnya masing-masing. Kelas Naruto nampak sudah ramai, hal ini karna Naruto datang saat jam sudah agak siang.

"Naruto-san!." Seorang gadis berambut biru dengan sedikit warna hijau di poninya memanggil Naruto sambil mengangkat tangannya. Naruto pun segera menghampiri tempat duduk yang ada diseberang meja gadis itu.

"Ada apa Xenovia-san?." Tanya Naruto sambil menggerak-gerakan bagian bawahnya guna mencari posisi duduk yang paling nyaman.

"Jadi begini." Xenovia meletakan sesuatu diatas meja. Benda itu nampak seperti sebuah amplop. Amplop itu berwarna biru dengan hiasan pita kupu-kupu di tutupnya.

"Ada orang yang selalu mengirimi ku dengan surat-surat aneh itu." Ujar Xenovia. Sipemuda yang jadi lawan bicaranya mengerinyit bingung. Apa yang salah dengan surat itu? Mungkin saja itu dari penggemarmu bukan?.

"Mungkin itu dari seseorang yang mengagumimu." Gadis bersurai biru itu lekas menggeleng pelan mendengar ucapan Naruto.

"Bukalah, kau akan paham." Naruto pun membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas yang ada didalamnya. Seketika matanya mengerinyit heran saat mendapati isi yang tertulis di kertas itu.

"Apa ini?." Lelaki itu memandang terkejut tulisan di surat itu. Itu bukanlah surat cinta yang seperti Naruto kira, melainkan selembar kertas dengan tulisan 'Mati' yang memenuhi seleruh permukaan kertas.

'Mati!'

"Aku juga tak tahu. Ini sudah terjadi sekitar seminggu. Sampai saat ini, aku masih tak tahu siapa pelakunya. Aku juga pernah berkali-kali menunggunya diloker sambil bersembunyi. Tapi, aku tak pernah bertemu dengannya." Jelas Xenovia. Raut takut terlihat jelas diwajahnya. Tak dapat dipungkiri, ini sudah termasuk kategori bully-ing sang sudah parah.

"Apa kau sudah mencoba melaporkannya pada polisi?." Gadis itu menggeleng pelan.

"Aku tak mau orang lain mengetahuinya."

"Hmm, begitu. Baiklah, aku akan membantumu 'menangkap' pelakunya." Jujur, Naruto sebetulnya ingin menanyakan mengapa gadis itu membicarakan ini padanya. Tapi dia urungkan, mengingat Xenovia sudah mau terbuka dengannya, itu berarti dia sudah menaruh percaya pada Naruto.

"Aku sudah memikirkan rencananya. Bagaimana menurutmu Naruto-san? Kau mau membantuku?." Sepertinya gadis itu telah menyiapkan sebuah rencana untuk memecahkan kasus itu.

"Hmm, baiklah. Kita lanjutkan nanti, guru sebentar lagi akan datang." Anggukan Xenovia menandakan bahwa gadis itu telah mempersilahkan Naruto untuk kembali kebangku miliknya. Pelajaran pun dimulai seperti biasa saat sang guru telah memasuki kelas.

o

*On The Roof Top*

o

Suasana tenang sungguh terasa diatap sekolah. Udara segar bergerak dengan bebas akibat tak ada tembok yang menghalangi disetiap pinggiran bangunan, melainkan pagar besi yang dicat hitam. Tampak Naruto tengah bersandar disalah satu ruas pagar besi tersebut. Rambut pirangnya menari lembut akibat dimainkan oleh angin. Penglihatannya tengah terfokus pada jam tangan yang dia kenakan.

"Hah, sepertinya aku datang terlalu awal." Gumamnya oelan sembari mengunyah roti yang berada digenggaman tangan kanannya. Rupanya saat ini dia tengah menunggu seseorang, gadis bernama Hyuuga Hinata tepatnya.

*Klack.* Tak berapa lama kemudian, pintu itupun terbukan dan memunculkan sosok yang telah Naruto tunggu. Gadis itu kemudian menutup kembali pintu itu dan berjalan mendekati Naruto.

"Ma-maaf membuatmu menunggu." Ujar gadis itu sambil membungkukan badannya.

"Ah, santai saja. Aku juga baru sampai." Kata Naruto sambil melambaikan tangannya didepan dada.

"Jadi, aku ingin bertanya perihal 'Sadako' yang datang dikamar mandiku." Gadis itu nampak mengehembuskan nafasnya dengan agak kasar sembari memegang dadanya. Hal yang sedari tadi dia takutkan datang juga.

"Sebelumnya aku ingin minta maaf soal itu." Hinata saat ini tak punya pilihan lain selain mengakui tindakannya itu. Dia sadar saat ini tengah berhadapan bukan dengan orang biasa. Bahkan dari pertemuan pertama mereka, Hinata tak pernah menemukan tanda-tanda ketakutan dari bahasa tubuhnya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Hinata menghadapi situasi ini dengan serius.

"Nah, aku tak butuh ucapan maaf. Aku hanya ingin tau motifnya saja. Bukan hal lucu bukan, seorang 'Astral Projection' menggunakan kelebihannya untuk mengintip orang mandi." Ujar Naruto sambil melipat tangan didada dan mendekatkan dirinya pada gadis itu. Tampak mengintimidasi memang. Hinata tak menjawab pertanyaan Naruto, melainkan malah merogoh saku bajunya. Sepintas, Naruto dapat melihat sesuatu berenda di sela-sela seragam putih itu.

'Ungu.'

"Dia kakakmu bukan?." Naruto meraih selembar foto yang gadis itu berikan. Disana terdapat foto seorang gadis cantik bersurai putih, Grayfia Lucifuge tepatnya.

"Ya, lalu apa hubungannya dengan mengintip orang mandi?." Rona kesal terlihat begitu pekat diwajah Hinata, tidak lupa dengan kedua tangannya yang mengepal erat disamping jaritan roknya.

"Bu-bukan begitu! Karna Grayfia-nee, Neji-nii mengurung diri seharian gara-gara ditolak olehnya." Naruto pun mengangguk paham mendengar penjelasan gadis itu. Dari cara bicaranya, Naruto dapat mengambil kesimpulan bahwa gadis itu jarang berinteraksi dengan orang 'baru'.

"Aku mengerti garis besarnya, jadi kau berniat balas dendam pada kakaku dengan cara menyebarkan foto adiknya yang sedang telanjang. Hmmm, kau mengerikan Hyuuga-san." Ujar Naruto yakin dengan mata terpejam dan tangan kanannya mengelus-elus dagusnya.

"Bu-bukan! Bukan be-begitu!." Gadis itu memekik dengan frustasi. Wajahnya sudah berwarna merah sempurna akibat rasa malu yang dia rasakan. Selain itu, saat itu dia tidak membawa Handphone-nya waktu itu, mana bisa dia mengambil foto bugil Naruto.

"Lalu?."

"Be-begini, sebenarnya Grayfia-nee-lah sasaranku, ta-tapi aku, a-aku..." Sepertinya Hinata sudah tak mampu untuk melanjutkan penjelasannya.

"Baiklah, lupakan masalah itu. Tapi, sekali lagi kau melakukannya lagi..." Hinata menahan nafas sambil terpejam saat Naruto menggantung kalimatnya sambil mengapitnya dengan kedua tangan pada pagar pembatas."Lemaskan tubuhmu..." Hinata mengertinyit bingung mendengar bisikan singkat Naruto, tapi matanya membulat saat menyadari sesuatu...

*Brugh!*

*Bragghkk!*

Tubuh kedua siswa itu mungkin akan memiliki lubang yang besar kalau saja telat sedikit menghindari sesuatu yang melesat dengan cepat dan menghancurkan pagar pembatas. Kini, keduanya tengah tergeletak dilantai dengan posisi Hinata dibawah, dan Naruto yang melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

"Lari!." Tampa babibu lagi Naruto segera bangun dan mengandeng tangan Hinata untuk segera pergi dari tempat itu. Pandangannya sejenak melihat benda mirip gunting yang menancap di pohon sebelah bangunan yang menjadi jalur lesatannya.

Derap langkah kaki yang terdengar terburu-buru itu menghiasi koridor sekolah yang nampak begitu sepi. Atap sekolah merupakan tempat yang jarang didatangi siswa, ini dikarenakan lokasinya yang jauh dari kelas manapun. Ruangan yang ada dilantai tiga hanyalah gudang penyimpanan alat peraga dan laboratorium biologi serta beberapa kelas yang tak terpakai.

Menyadari akan hal tersebut, maka Naruto harus secepat mungkin keluar dari kawasan itu dan menuju lorong utama dilantai dua. Namun, firasat Naruto seakan bertolak belakang dengan rencananya. Instingnya seakan memerintahkannya untuk segera mencari tempat bersembunyi, bersembunyi dari sosok yang langkah kakinya terasa menggema disetiap sudut lantai tiga.

"Ikuti aku." Ucap Naruto sembari membuka pintu laboratorium biologi dengan pelan. Keduanya pun masuk kedalamnya dan segera mencari lokasi untuk bersembunyi dari sesuatu yang seakan terus menigkis jaraknya dari kedua murid itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk menjadikan lemari sebagai pilihannya. Kondisi mereka yang saling berdesakan, membuat Hinata dapat mencium aroma maskulin lelaki didekatnya itu.

'Ya tuhan, kuatkan aku.' Batin sang gadis.

Kondisi sempit, gelap dan pengap mereka rasakan saat memasuki lemari itu. Daro celah pintu lemari itu, Naruto depat menyaksikan pemilik dari langkah kaki yang entah mengapa terdengar begitu, berbahaya. Rambut hitam yang panjang, pakaian yang nampak seperti jas laboratorium. Selain itu, dia tak dapat mengamatinya dengan jelas akibat dari kecilnya ruang untuk melihat.

"Itu sensei bukan?." Ujar Hinata sebelum hendak keluar dari lemari itu. Tapi, dengan segera dihentikan oleh Naruto dengan tangannya. Gelengan pelan Naruto seakan memerintahkannya untuk diam. Akibat rasa penasaran, Hinata pun memutuskan untuk mengntip.

*Deg!*

Jantungnya seakan melompat saat dia bertemu tatap sejenak dengan sosok yang dia kira adalah seorang guru itu. Wajah dengan seringai lebar hingga telinga dan rongga mata yang kosong. Hinata tau dirinya adalah indigo, dan bertemu hantu bukanlah hal yang baru baginya. Tapi, dia sungguh yakin, ini bukan hantu yang dia sering temui.

"Sepertinya itu Youkai." Seakan paham dengan gestur Hinata, Naruto membisikan kata yang sekaligus memberi penjelasan tentang mahkluk mengerikan itu. Youkai? Bukankah itu hanya mahkluk mitos dari cerita rakyat?.

"Keluarlah! Aku tau kalian bersembunyi. " Suara serak keluar dari bibir sosok itu. Keduanya pun serentak menahan nafas bersamaan.

*Pyar!*

Alat-alat peraga dari kaca hancur berhamburan tatkala sebuah gunting besar terayun dengan buasnya. Tubuh sang gadis makin bergetar hebat, bersamaan dengan sosok itu yang kian mendekati lemari persembunyian mereka. Namun...

"Aku melindungimu." Bisikan pelan yang terdengar begitu meyakinkan terucap dari mulut Naruto. Tatapan lembut yang menenangkan, serta sentuhan dibahu, membuat gadis itu melupakan sedikit rasa takutnya. Memang terdengar kekanakan dan konyol memang, hanya saja itu cukup manjur.

Namun...

*Srak!*

Darah terciprat pada wajah Hinata. Pandangan terkejut dia layangkan pada lengan Naruto yang tergores cukup dalam akibat bersentuhan langsung dengan ujung sebuah benda tajam, gunting besar yang sudah terbuka dan siap membelah lengan yang terapit padanya. Darah yang mulai mengalir dari luka tersebut mewarnai sepatu yang mereka kenakan.

'Diam.' Walau dengan ekspresi yang menunjukan rasa nyeri, Naruto tetap memperingatkan gadis itu tetap tenang walau hanya dengan gerakan bibir tampa suara. Walaupun saat ini, dia bahkan tak mengehembuskan nafas sedikitpun akibat menahan rasa sakit dan tegang. Naruto bisa sedikit bernafas lega, sepertinya sosok yang menusukan gunting itu tak mampu untuk mengatupkan senjatanya akibat dihalangi oleh kerasnya lemari.

"Shhh!" Namun, tetap saja desisan pelan tak mampu untuk Naruto tahan, dimana rasa perih akibat pemilik senjata tajam itu mulai menarik benda miliknya dari lemari itu. Namun, Naruto segera menyadari bahwa benda tajam itu telah diwarnai sedikit darah.

"Shimatta!'

" Ara? Darah siapa ini?. "

*Bragh!*

*Sleeb!*

"Kyaaaaaa!..."

o

*Naruto's Class*

o

*Rias POV*

"Motohama-san, apa kau tau kemana Naruto-kun pergi?." Sejujurnya aku cukup malas untuk berhadapan dengan pemuda ini. Bukan karna reputasi atau anggapan buruk tentang pemuda ini yang jadi masalah. Melainkan pandangan menjijikannya yang selalu dia arahkan pada payudaraku-lah yang membuatku ingin segera pergi dari sini.

"Hmmmm, aku tak tau. Lagipula, kenapa kau menanyakannya? Sedangkan ada Motohama-sama disini." Jawabnya sambil memalingkan mukanya. Aku memutar mataku malas mendengar celotehannya itu.

"Haaahh, baiklah. Aku permisi dulu Motohama-san." Aku pun melangkah meninggalkannya tampa sedikit pun menoleh meski aku mendengar dia memanggil-manggil ku dengan 'Gremory-san!' terus menerus. Sebenarnya aku bingung, kenapa hari ini dia tampak sendiri. Biasanya dia dan kedua temannya selalu bersama.

Aku bernafas sedikit agak lega saat tak lagi berhadapan dengan wajah mesum siswa itu. Aku sedikit melirik jam tangan di pergelangan kiriku.

"Mungkin dia di atap." Gumamku tak sadar. Akupun memutuskan untuk menuju tempat itu, tempat pertama kali aku bertemu dengannya beberapa hari lalu.

*Tap, Tap, Tap, *

Seperti biasanya, lantai tiga sekolahku terlihat sepi seperti biasanya. Bebas dari riuh dan hilir-mudik para warga sekolah. Yah tidak heran 'sih, saat ini sekolah sudah mulai sepi akibat jam pulang.

"Kyaaaaaa!."

Aku tekaget saat mendengar teriakan melengking itu. Segera Kulangkahkan kedua kakiku mendekati sumber suara teriakan yang terdengar penuh 'ketakutan'. Rasa penasaran akan kejadian itu seakan menuntunku untuk segera mendobrak pintu Laboratorium Biologi yang ada dihadapanku.

*Bragh!*

"Naruto-kun! Ughh!." Rasa mual disertai keterkejutan yang hebat mengguncangku. Bagaimana tidak, dengan jelas aku melihat Naruto-kun tengah berlumuran darah, darah sosok yang kepalanya memiliki lubang, lubang seperti dihancurkan dengan benda tumpul. Dan sialnya benda tumpul itu adalah kepalan tangan Naruto-kun yang bahkan masih 'tertanam' disana.

Tak jauh darinya, didalam lemari yang terbuka, aku mendapati gadis berambut hitam kebiruan tengah meringkuk lemas sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya juga tampak beberapa noda, noda darah yang terciprat dari adegan 'gore' yang ada diruangan itu.

"Rias! Pergi dari sini!" Naruto yang segera menyadari keberadaanku langsung meneriakiku untuk segera pergi dari sini.

"A-apa!?" Otaku seakan berhenti berfungsi sejenak akibat panik yang kurasa.

"Ughhhh! Le-lepaskan! Aghhk!." Kepanikan ini semakin menjadi saat melihat Naruto-kun dicekik oleh sosok mengerikan itu hingga tubuhnya terangkat. Seketika itu pula, aku meraih kursi lipat yang berada tak jauh dariku.

*Draghh!*

Dengan sekuat tenaga kuhantamkan benda itu tepat dipundak monster itu. Cengkaraman pada leher Naruto-kun segera terlepas, diiringi tumbangnya monster itu kelantai. Itu mengakibatkan Naruto-kun jatuh terduduk sambil terus terbatuk-batuk.

"Uhuk! Uhuk!."

"Kau tak apa?." Aku segera berlari dan menghampiri Naruto-kun dan membantunya untuk berdiri. Dia masih tampak begitu kesakitan. Beberapa bagian tubuhnya nampak mengucurkan darah oleh luka. Dia sejenak menganggukan kepalannya, mryakinkan aku bahwa kondisinya baik-baik saja.

"Bawa Hyuuga-san, cepat pergi dari sini! Aku akan menahannya!." Apa? Kau gila?.

"Ta-tapi."

"Cepat!." Bentaknya, aku seakan tak mampu untuk melawan perintahnya itu. Maaf Naruto-kun. Aku akan segera kembali. Kumohon bertahanlah.

"Ayo Hyuuga-san!." Dapat kurasakan tubuh yang tengah bergetar hebat itu dalam rangkulanku. Kamipun segera bergegas meninggalkan ruang itu. Tujuanku saat ini hanya satu, ruang guru terdekat.

"Ja-jangan hiraukan aku! Ce-cepat tolong Uzumaki-kun." Gadis yang masih terlihat lunglai ini membuka suara sesudah terdiam lumayan lama.

"Tenang saja, Naruto-kun pasti baik-baik saja." Ujaraku sembari berjalan tergopoh-gopoh. Saat itu juga, aku merasakan bahwa dia mulai menangis terisak-isak. Tuhan, lindungi kami.

* Rias POV End*

"Nah, Naruto. Selamat, kau sudah mengambil hidangan utamanya." Ujara Naruto sinis pada dirinya sendiri. Kini, ditangannya sudah ada sebuah linggis yang dia temukam tak jauh dari lemari itu.

"Hiiii..." Naruto bergidik ngeri saat menyaksikan tubuh mahkluk itu beregenerasi dengan sangat cepat, hal itu menyajikan pemandangan yang sungguh menjijikan bagi remaja itu.

"Gwahhh!." Mahkluk itu berteriak berbahaya. Cairan kental berwarna gelap menyenbur dari mulut yang tengah menganga sangat lebar itu. Tampa ragu-ragu lagi, Naruto segera menerjang mahkluk itu dengan senjata ditangannya.

*Tap!*

"A-apa!?" Teriak Naruto dengan panik. Bagaimana tidak, dengan begitu santainya, mahkluk itu menghentikan hantaman linggis itu dengan tangan kanannya.

*Kriet!*

"Kau mau melawanku dengan mainan ini?." Kembali, Naruto tak mampu lagi untuk menahan kepanikannya, saat linggis itu dibengkokan dengan amat mudahnya, bahkan dengan tangan kanannya saja.

"Uarghh! Ahkk!." Dengn mudahnya, sosok itu kembali mencengkram leher Naruto hingga sang korban menggelepar menahan sakit dan sesak nafas. Rasa pusing hebat Naruto rasakan, kakinya sudah tak lagi menyentuh lantai.

Gerakan Naruto makin kama kian melemah, menandakan bahwa dirinya tak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan.

"Jangan mati dulu, aku masih ingin bersenang-senang."

*Daghh!*

"Ohok! Ohok!" Naruto kembali harus terbatuk-batuk lagi saat punggungnya mehantam dinding dengan amat keras. Rasa sakit yang hebat menandakan ada beberapa tulang yang retak.

"Are? Sudah lemas? Kau yang membunuh Teke-Teke-ku ternyata begitu lemah." Naruto mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan itu. Jadi, dialah biang dibalik kejadian yang nyaris membuatnya mati itu.

"Ohok! Ohok!. Siapa kau? Kenapa kau lakukan-Ohok!-ini pada kami?." Tanya Naruto yang terdengar kesakitan dan terbatuk.

"Yah, semacam balas dendam. Pada keturunan orang yang selalu menganggu kami dengan segel-segel menjijikan itu." Ujar sosok itu sembari memainkan gunting besar itu.

"Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan, tapi..." Naruto menggantung kalimatnya.Naruto perlahan-lahan mulai bangkit dari posisinya, memandang nyalang sosok itu yang makin mendekat sembari menyeret senjatanya. Rasa takut Naruto telah sirna, digantikan oleh perasaan marah, marah pada sosok yang menyerangnya tampa alasan yang logis, marah pada sosok yang menyeret teman-temannya kedalam bahaya.

"Apa-apaan itu? Jadi kau penyebab semua kesialanku! Kau yang berani melukai temanku! Sialan kau!." Seru Naruto sambil terus berjalan mendekat mahkluk itu. Entah mengapa, siasana ruangan itu kian lama makin memanas.

"Ara? Sudah bangkit rupanya. Yah, waktuku sudah habis. Kita akan bertemu bila sudah waktunya." Mahkluk itupun tenggelam dalam lantai ruangan itu.

"Tu-tunggu! Kurang ajar!. Aghkkk!." Naruto seketika jatuh terduduk sembari memgegang lengannya yang terus mengucurkan darah. Rasa pening hebat mulai menelan kesadaran Naruto, membuatnya jatuh terkulai lemas dilantai yang dingin.

"Naruto-kun! Bertahanlah!." Sayup-sayup dia mendengar suara gadis yang memanggil-manggil namanya.

"Sen-se-i..." Gumamnya pelan sebelum tak sadarkan diri.

*TBC*