Title: I LOVE U For U

Genre: Romance/ Drama

Author: Micky_Milky

Rate: T

Disclaimer: DBSK milik tuhan, orangtua, dan Cassiopeia

Pairing: YunJae, YooSu, Min

Length: Chaptered

Inspiration : Azu-For U

Warning : Typo, eyd, Yaoi, Ooc, Oc, dll

.

.

Don't like, don't read, don't copas

.

.

Enjoy

kizutsuite mo namida korae gaman shiteta yo ne?
sonna kimi wo ichiban chikaku de mita kite kara
nani mo iwanakute mo wakatteru yo
donna toki mo ganbatteta koto

( Bila kau terluka, kau menahan air matamu dan memikulnya, Karena aku selalu dekat denganmu dan melihatnya, Meskipun kau tak mengatakan apapun, aku mengerti, Betapa kerasnya kau mencoba tak peduli kapanpun )

Chap 3

Yunho menghentikan langkahnya, membalik tubuhnya kearah JaeJoong. matanya melirik YooChun dan Junsu tak jauh darinya memandang heran akan perlakuan JaeJoong padanya.

"Alasan kenapa aku selalu menghidari diri pada kalian adalah dia. Mian, aku tak memberitahu kalian, tapi… aku menyukai Yunho, dan kami sudah resmi pacaran."

"MWO?"

.

.

YooChun dan Junsu hampir saja terkena serangan jantung mendadak akibat pernyataan JaeJoong beberapa menit yang lalu. Bukan hanya mereka, Yunho pun ikut terkejut, dia menyadari ada yang janggal akan pernyataan JaeJoong barusan.

"Jadi benar kalian pacaran? Ah~ selamat Hyung, kami sangat bahagia."

YooChun mengamit tangan JaeJoong memberikan sebuah jabatan tangan dan tersenyum senang, sedangkan JaeJoong merasa hatinya sakit, dia berharap YooChun sedikit cemburu atau apalah namanya, tapi pria itu malah memberikan selamat akan ucapannya barusan.

"Ne, gomawo."

Junsu pun tak mau kalah, pria imut itu memeluki JaeJoong erat, menepuk-nepuk punggung JaeJoong sambil berbisik 'Semoga dia bisa jadi yang terbaik bagimu hyung.".

.

.

Baik Yunho ataupun JaeJoong sama sekali tak berbicara saat ini, setelah pengakuan 'itu' mereka akhirnya pulang bersama, padahal YooSu sudah mengajak mereka untuk merayakan hari jadi mereka.

"Ku Kira kau tak menyukaiku?"

Wajah JaeJoong yang tadinya menunduk akhirnya menatap Yunho Juga, dia tersenyum kecut lalu kembali memandang ke jalan tanpa sedikitpun bersuara.

"Kau menyesal telah mengucapkannya?"

JaeJoong menggeleng, langkahnya berhenti tepat satu langkah di depan Yunho.

"Aku hanya merasa kau bisa ku andalkan saat ini, Yun."

Alis Yunho bertaut, dia tak mengerti akan perkataan JaeJoong, tapi pemuda tampan itu tak ambil pusing, dia menggenggam jemari JaeJoong dengan tangannya yang besar dan menarik pemuda cantik itu untuk meneruskan langkah mereka.

"Terserah kau saja, ayo aku antar."

.

.

Yunho dan JaeJoong sekarang berdiri di depan rumah bergaya minimalis, rumah yang terkesan asri dan indah itu terlihat sangat sepi dari luar.

"Sepi sekali, kau tinggal sendiri?"

Wajah JaeJoong berubah muram, pria cantik itu menunduk dalam dan meremas jemarinya kuat.

"Ne, ibu-ku meninggal, dan ayahku menikah lagi, aku di buang oleh keluarga baruku dan aku tinggal sendiri di sini."

Yunho terdiam sesaat, di pandangnya lekat pemuda cantik di depannya, terdengar sedikit isak tangis walau samar dari JaeJoong, dia tahu JaeJoong berusaha menyembunyikan air matanya, dia merasa JaeJoong tak ingin dianggap lemah sebagai seorang lelaki, dia tak menyangka JaeJoong yang dikenalnya memiliki banyak teman, dan sangat mudah bergaul serta sangat ceria di kampus itu memiliki masalah yang serumit itu, sekarang dia tahu kenapa JaeJoong selalu mengatakan kalau 'dia sendirian' saat di taman belakang kampus mereka.

SHET…

Entah bagaimana mulanya, JaeJoong merasakan Yunho menarik lengannya dan melingkarkan lengannya dipinggang pemuda cantik itu, membawa tubuh yang lebih kecil darinya itu mendekat, mata mereka bertemu pandang dan terakhir yang JaeJoong ingat Yunho mencium bibirnya membuatnya lupa akan segalanya, membuatnya lupa kalau dia masih berpijak di tanah bukan di awang-awang.

.

.

Setelah mengantar JaeJoong, Yunho berpamitan dan berjanji akan menjemput JaeJoong besoknya, sebenarnya JaeJoong tak butuh toh dia biasa pergi sendiri, tapi Yunho tetap memaksa mau tak mau JaeJoong akhirnya menuruti permintaan Yunho. Bayangan Yunho yang menciumnya tadi membuat JaeJoong tak bisa tidur semalaman, sentuhan Yunho dan lembut bibir Yunho masih terasa nyata sampai sekarang, membuatnya selalu merasa dibelai oleh Yunho saat ini.

"Oh tuhan, sekarang dia membuatku tak bisa tidur."

.

.

"Hyung…"

JaeJoong membalik tubuhnya melihat Junsu yang berlari mengejarnya, pria cantik itu menguap beberapa kali sampai akhirnya Junsu berhenti tepat didepannya.

"Kau sakit, Hyung? Kenapa dengan matamu?"

JaeJoong menggeleng, disekatnya sedikit air mata yang terlihat di ujung matanya lalu membawa Junsu kembali ikut berjalan di sampingnya.

"Ani, aku hanya mengantuk."

"Apa kau tak tidur tadi malam, lihat kantung matamu besar sekali."

JaeJoong terkekeh saat Junsu menunjuk-nunjuk kantung matanya yang terlihat jelas.

"Ne, tadi malam entah kenapa aku memang tak bisa tidur."

JaeJoong berusaha berbohong, wajah pria cantik itu memerah saat mengingat sebab kenapa dia tak bisa tidur semalaman. Tatapan JaeJoong terhenti saat melihat sosok Yunho yang berdiri tepat didepan mading. Dilihatnya Yunho membawa sebuah bingkisan di tangannya.

"Yunho…!"

Yunho mengedarkan pandangannya pada sosok Junsu yang melambai riang di samping JaeJoong, sedangkan JaeJoong sendiri terpaku melihat kehadiran Yunho tepat didepan matanya. Oh~ pagi tadi dia baru saja menghindari pria itu, dia sengaja pergi pagi-pagi sekali dan berusaha menghindari Yunho di kampusnya, dia tak ingin bertemu Yunho saat ini, sungguh, kehadiran Yunho membuat degup di jantungnya bertambah.

Yunho berjalan santai kearah JaeSu memandangi JaeJoong yang menunduk takut.

"Aigo, kenapa Hyung? Kau malu bertemu Yunho?"

Junsu menyikut lengan JaeJoong, lalu mendorong-dorong tubuh JaeJoong kearah Yunho.

"Pagi Jae…"

Dengan takut-takut JaeJoong menegakkan kepalanya dan menatap mata musang Yunho. Berbeda dari pikirannya dia mengira kalau Yunho akan marah karena menghindarinya seharian ini tapi ternyata pria itu malah tersenyum kearahnya.

"Pa-pagi."

"Mau sarapan bersama? Kebetulan aku membawa bekal dari rumah."
"Mwo?"

Junsu tersenyum simpul melihat keterkejutan JaeJoong, dengan sigap di dorongnya tubuh JaeJoong kearah Yunho membuat keseimbangan JaeJoong oleng dan jatuh dipelukan Yunho.

"Aku duluan, Yun Jaga JaeJoong Hyung ne."
Junsu melambai dengan semangatnya kearah pasangan YunJae, lalu berlari meninggalkan JaeJoong dalam posisi kaku dipelukan Yunho.

"Kau tak apa? Bagaimana? Apa mau sarapan bersama? Aku tahu kau belum sarapan karena ingin menghindariku, tapi kali ini kau tak bisa menghindar lagi."

JaeJoong tercengah, dia seperti disudutkan saat ini, dengan kikuk JaeJoong akhirnya mengangguk menyetujui ajakan Yunho untuk makan bersama.

.

.

Sudah lebih sebulan hubungan JaeJoong dan Yunho berjalan, walau awal mulanya JaeJoong sedikit risih dengan kehadiran Yunho, tapi sekarang pria cantik itu sudah dapat menerima Yunho yang selalu ada disisinya. Setidaknya dengan adanya Yunho, rasa menyebalan yang sering dirasakannya saat melihat YooSu berduaan bisa terobati. Apa lagi semenjak kehadiran Yunho dihidupnya dia bisa menghindar dari YooSu dengan berbagai alasan.

"Mian ne, Junsu-ah, aku akan pergi bersama Yunho nanti."

"Jadi tidak bisa lagi, Hyung? Oh ayolah Hyung sebentar saja."

"Mian, tapi aku sudah berjanji akan pergi kerumah Yunho hari ini, sekali lagi maafkan aku, aku benar-benar tak bisa menemanimu kali ini, pergilah bersama YooChun ne."

"Tapi YooChun yang memintaku mengajakmu, Hyung, dia sekarang sedang berada di parkiran menunggu kita."

"Katakan padanya kalau aku tak bisa membatalkan janjiku pada Yunho. Sudah dulu Junsu-ah, aku pergi… jaa."
dengan terburu-buru JaeJoong berlari menjauh dari Junsu, langkah-langkahnya terhenti tepat di pembelokan pertama koridor kampusnya, tubuhnya terjatuh ke lantai menahan air mata yang hendak keluar.

"Aku harus melupakan mu YooChun-ah, aku tak akan menyakiti Junsu dan menyakiti persahabatan kita."

.

.

"Lama sekali, kukira kau lupa dengan janji kita?"

JaeJoong tak membalas perkataan Yunho barusan, wajahnya menunduk dan berjalan mendahului Yunho mengacuhkan keberadaan Yunho disampingnya.

"Ada apa? Apa kau sakit?"
JaeJoong menggeleng, dia terus saja berjalan dengan Yunho yang setia mengikutinya dari samping dan memperhatikan tingkah lakunya sedari tadi.

"Kau kenapa Jae? Apa yang terjadi?"

JaeJoong tetap tak merespon, langkahnya terhenti ketika melewati parkiran, dilihatnya YooChun dan Junsu yang barus saja menaiki mobil YooChun, pria cantik itu malah sempat melihat YooChun mencium pipi Junsu sebelum menaikki mobil tadi. Yunho yang tahu kemana arah pandang JaeJoong berhenti hanya mengepal erat tak berbicara apapun sampai akhirnya JaeJoong yang mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.

.

Runaway mayotta nara
Try again nando datte
yarinaosu koto dekiru kara
I'm here soba ni iru wa
Believing osorenai de
shinji au koto
( LARI jika kau kalah, COBA LAGI biarpun berapa kali, Kau dapat melakukannya lagi, AKU DISINI aku disampingmu, PERCAYALAH Jangan takut percayalah pada dirimu dan orang lain)

.

.

Yunho mengetuk beberapa kali pintu kayu yang berada didepannya, di liriknya JaeJoong yang berdiri disampingnya dengan wajah yang sedikit gugup. Pintu kayu terbuka menampakkan sosok wanita setengah baya yang terlihat masih muda menatap YunJae berdiri didepan pintu itu.

"Ajhumma, aku pulang."
"Oh~ Yunho-ah, masuklah…! Kenapa kau lama sekali pulang hari ini?"

Wanita cantik itu membuka lebar pintu kayu itu mempersilahkan Yunho dan JaeJoong masuk.

"Aku ada kelas tambahan."

JaeJoong menunduk mendengar jawaban Yunho, dia tahu Yunho berbohong, pria tampan itu sebenarnya sudah pulang 3 jam yang lalu, tapi karena menunggu kelas JaeJoong bubar akhirnya Yunho menunggu JaeJoong sampai sesore ini.

"Oh~ kukira kau akan menginap di rumah temanmu, Merry selalu menanyai kapan Ajunshinya pulang."

Wanita itu tersenyum ketika mengingat bagaimana putri kecilnya merengek menanyakan keberadaan Yunho sampai gadis kecil itu akhirnya tertidur dan belum juga bangun sampai sesore ini.

"Mian, Ajhumma."

Yunho menunduk meminta maaf, wajah pria tampan itu terlihat datar dan angkuh, tak ada wajah lembut yang dilihat JaeJoong saat pria itu bersamanya.

"Siapa pemuda cantik ini? Temanmu ne?"

JaeJoong tersentak kaget saat wanita didepannya tersenyum kearahnya.

"Ah~ Kim JaeJoong imnida, ne aku teman Yunho, Ajhumma."

"Aku Lee Hyeri, bibi Yunho."

JaeJoong hanya membalas perkenalan itu dengan anggukkan dan sedikit bungkukan kecil sebagai rasa hormatnnya pada wanita yang lebih tua darinya itu. awalanya JaeJoong mengira kalau wanita cantik didepannya ini adalah ibu Yunho, tapi saat wanita itu mengenalkan dirinya sebagai bibi dari Jung Yunho, alis JaeJoong mengerut. 'Kenapa aku diajak kerumah bibinya? Bukankah dia bilang akan mengajakku kerumahnya?'

Batin JaeJoong mencolos kebohongan Yunho. Tapi JaeJoong tak ambil pusing, dia tetap bersikap seramah dan sesopan mungkin pada Yunho dan keluarganya.

"Jae, duduklah dulu, aku akan ganti baju."

"Ne…"

"Yunho-ah, nanti aku akan pergi sebentar kerumah tetangga baru kita, kau jagalah Merry, hmm~ tapi jika kau ingin berganti pakaian pergilah, aku akan menemani JaeJoong sampai kau selesai."

"Ne, Ajhumma."

Selepas kepergian Yunho, JaeJoong dibawa Hyeri untuk duduk di salah satu sofa di ruang tamu keluar itu. Hyeri memperhatikan JaeJoong dengan lekat tak lupa senyum manis yang selalu bertengger di bibir wanita itu. JaeJoong yang diperhatikan sedemikian rupa terlihat kikuk, dan hanya menunduk dalam menatap karpet merah yang membentang di bawah kakinya berpijak.

"Kau teman Yunho?"

"Ne, ajhumma."

"Kau tahu aku senang sekali akhirnya Yunho mengenalkan temannya padaku, selama Yunho tinggal disini, dia tak pernah membawa temannya main kemari. Hah~ kukira dia tak punya seorang temanpun."

JaeJoong berusaha tersenyum melihat wanita itu mulai mengorek banyak rahasia tentang Yunho yang kelihatannya belum dia ketahui.

"awalnya kukira kau perempuan, tapi saat melihat hmm.. dadamu, aku jadi tahu kalau kau laki-laki."

Wanita itu tertawa sendiri saat mengingat keterkejutannya didepan tadi saat melihat Yunho menggandeng JaeJoong, awalanya dia memang mengira Yunho membawa seorang gadis ke rumahnya, tapi ternyata dia salah, JaeJoong adalah laki-laki.

"Ah… banyak yang mengatakan aku seperti itu awalanya, sampai mereka akhirnya tahu kalau aku laki-laki."

"Ah… mian, aku tak bermaksud, JaeJoong-ah."

Ada getaran di hati JaeJoong saat mendengar Hyeri menyebutnya dengan embel-embel ah~, dia jadi teringat akan mendiang ibunya.

"tak apa, Ajhumma. Hmm, kalau boleh tahu di mana rumah Yunho sebenarnya?"
Hyeri mengerjab matanya bingung akan pertanyaan JaeJoong, dia memandang JaeJoong dengan menyelidik.

"Ini rumah Yunho, JaeJoong-ah, wae?"

"Ah… ani, aku kira Yunho membohongiku, dia mengatakan akan mengajakku kerumahnya, tapi aku malah diajak kerumah bibinya."

Wajah Hyeri yang tadinya gembira menjadi sedih. Dia menepuk-nepuk bahu JaeJoong, lalu menyekat air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya.

"Yunho tak pernah berbohong, ini memang rumahnya. Dulu aku bibinya, sekarang aku bibi sekaligus eommanya."

"Maksud ajhumma?"

"Kedua orang tua Yunho meninggal, ayahnya adalah kakak laki-laki ku, dia meninggal di udara saat menaiki pesawat untuk keperluan kantornya, sedangkan istrinya meninggal karena sakit akibat mengetahui kalau kakakku berselingkuh dan selingkuhannya mendatangi kami setelah kematian kakakku. Bagiku saat ini, Yunho adalah anak laki-lakiku."

JaeJoong tertegu, dia memandangi Hyeri dengan pandangan kosong. Di tempat lain, sosok Yunho hanya berdiri memandang pria cantik dan bibinya dari lantai dua, di tatapnya kedua orang yang disayanginya itu lekat dan mendengar percakapan mereka dari sana.

"Yunho berubah semenjak kematian ibunya. Jujur saja kau satu-satunya orang asing yang datang kemari sebagai bagian dari Yunho. Hahaha… kau pasti sangat dekat dengannya."

"I-itu, aku kan teman Yunho Ajhumma, hehehe…"

JaeJoong tertawa canggung, di elus-elusnya tengkuknya untuk mengurangi kegugupan yang dirasakannya saat ini.

"Begitukah? Kau pasti teman terbaik Yunho di Kampus."

"Kami hanya teman biasa."

"Ajhumma apa tak jadi pergi? Kenapa malah bergosip di situ?"

Hyeri langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Yunho dan mengambil dompet yang diletakannya di atas meja ruang tamu tadi.

"Aku pergi dulu, kalau kau lapar makanlah, aku sudah memasak, ajak JaeJoong juga."

"Gomawo ajhumma."

JaeJoong menunduk hormat dan berterima kasih atas kebaikan Hyeri padanya.

"Jangan kau dengar perkataan Ajhumma tadi."

Yunho berjalan melewati JaeJoong dan duduk di samping pemuda cantik itu.

"Yun, aku baru tahu kalau kehidupanmu lebih menyeramkan dari pada kehidupanku."

Yunho tersenyum miris, di genggamnya telapak tangan JaeJoong dan menyecupnya singkat.

"Sekarang kau tahu kan kenapa aku merasa selalu kecewa, jadi…" Jeda sejenak, Yunho membelai pipi JaeJoong dengan satu tangannya yang bebas tangan itu turun membelai bibir bawah JaeJoong.

"… Jangan buat aku kecewa, sama saat ayahku membuat ibuku kecewa, dan ibuku yang membuatku kecewa karena dia meninggalkanku."

Napas JaeJoong tercekak, perkataan Yunho barusan seolah menamparnya tepat di lubuk hatinya terdalam, membuatnya seolah bersalah pada pemuda tampan itu. jemari Yunho yang bermain di bibir JaeJoong kini berpindah ke tengkuknya menarik tengkuk pemuda cantik itu sehingga wajah mereka mendekat dan semakin mendekat napas JaeJoong membentur wajah Yunho begitu pula sebaliknya, debar di jantung JaeJoong menggila saat bibir hati Yunho mengecup bibirnya dalam, menciumnya dan melumatnya memberikan percikan-percikan getaran yang selalu membuat JaeJoong nyaman jika bersama Yunho.

"Ajunshi…"

JaeJoong langsung mendorong Yunho menjauh begitu dia mendengar suara bocah perempuan dari lantai dua, bocah itu berlari ke arah YunJae dan langsung memeluk Yunho erat.

"Merry-ah, kau sudah bangun?"

Bocah perempuan itu mengangguk, matanya memandang JaeJoong penuh selidik, tak lama wajahnya kembali berpaling kearah Yunho.

"Ajunshi dari mana? Kenapa baru pulang?"

"Ajunshi ada urusan, Merry-ah, kenalkan ini JaeJoong oppa, dia teman Ajhunsi."

"Annyeong Merry-ah, aku Kim JaeJoong."

Bocah itu kembali melihat JaeJoong dari ujung kaki sampai ujung kepala wajahnya merengut lucu.

"Lee Merry imnida, oppa cantik sekali, oppa pacar Yunho Ajunshi ne?"

"Mwo?"

Yunho terkekeh melihat JaeJoong dan Merry yang saling adu pandang, tangannya mengelus penuh sayang ke kepala Merry, lalu mengendong bocah perempuan itu.

"Ne, dia kekasih Ajunshi, apa kau suka?"

JaeJoong mendelik tak suka, dia menatap tajam kearah Yunho, tapi tak digubris sedikitpun oleh pria bermata bak musang itu.

"Dia sangat cantik, Ajunshi, oppa~"

Tangan Merry menggapai-gapai kearah JaeJoong, dengan cepat JaeJoong memindahkan Merry ke gendongannya.

"Aigo, kau berat sekali, nona Lee."

JaeJoong terkikih saat melihat Merry merengut di gendongannya. "Beritahu aku berapa umurmu?"

"8 tahun oppa, wae?"

"Aigo… ternyata sudah 8 tahun, pantas kau sangat berat."

Wajah datar Yunho kembali lembut saat melihat keakraban JaeJoong dan Merry. Pemuda tampan itu berjalan kea rah dapur, tak lama kemudian wajahnya menyembul dari balik dinding dapur.

"JaeJoong-ah, Merry-ah, ayo makan."

"Ne."

.

.

For you
kitto mo itsu no hi ka
kono sora wo toberu hazu dakara
nando kizutsuita toshite mo
For you
taisetsu na koto wa hitotsu
yume miru koto
hitomi dake wa osorasanai de ite

( UNTUKMU, Karena suatu hari nanti pasti, kau, sungguh-sungguh terbang ke langit, Tak peduli berapa kali kau tersandung, UNTUKMU, Apa yang penting itu satu hal, Miliki sebuah mimpi, Janganlah tutup hatimu)

.

.

"JaeJoong Hyung, hari ini aku dan Junsu bermaksud akan mengajakmu makan bersama, apa kau mau?"

"Aku ada janji dengan Yunho."

"Lagi? Huh~ semenjak ada Yunho kau mengacuhkan kami, Hyung."

"Mian, YooChun-ah, tapi aku memang berjanji untuk pergi menemani Yunho."

"Sebegitukah penting Yunho untuk Hyung? Kau tak pernah menolak ajakan ku selama ini, aku tahu kalian pacaran, tapi jangan sampai Hyung melupakan kami, ne… kami ini masih sahabatmu, Hyung. Ya sudah kalau begitu, aku pergi berdua dengan Junsu saja, Jaa… hyung."

JaeJoong membalas lambaian pria berpipi Chubby yang baru saja menjadi lawan bicaranya. Dia berfikir sejenak tentang perkataan YooChun, 'Kau tak pernah menolak ajakanku selama ini.'

Ya~ JaeJoong memang tak pernah menolak ajakan YooChun, jangankan menolak, untuk mengatakan 'Tidak' saja JaeJoong tak pernah, dia selalu menyempatkan dirinya untuk pergi bersama YooChun kemanapun pria itu pergi, tapi semenjak kehadiran Yunho mengingat YooSu saja tidak, Yunho benar-benar menjadi orang yang pertama saat ini di pikirannya. Oh~ apakan Yunho sudah menggeser kedudukan YooChun di hati JaeJoong.

"Kenapa tak pergi bersama mereka?"

JaeJoong terlonjak kaget, Yunho yang berdiri tiba-tiba di belakangnya membuat jantungnya berdetak cepat.

"Yak… kau mengagetkanku, hmm… bukankah kita akan pergi mencari sepatu untukmu?"

"Benarkah kau ingin menemaniku? Kurasa temanmu lebih penting dari pada aku."
JaeJoong tersenyum mendengar penuturan Yunho yang terdengar kekanak-kanakan, dia mengelus rambut pemuda yang lebih tinggi darinya itu lembut.

"Kurasa bersamamu membuatku betah, kau membuatku senang saat berada disisiku, Yun. Bukankah ini waktuku untuk bersama mu. Kurasa mereka bisa mengerti."

Yunho terteguh, tak menyangkah JaeJoong merasakan hal serupa sepertinya saat bersama pemuda cantik itu, JaeJoong memang selalu merasa nyaman bersama Yunho, dia tidak tahu kenapa, tapi lambat laun kehadiran Yunho menjadi satu hal pokok dalam hidupnya.

"Kajja… kita beli sepatu untukmu."

kimi ga egaku yuuki ga hora
kakegae no nai takaramono ni kawaru yo
ima ryoute hiroge Fly high
( Keberanianmu menggambarkan pujian, Untuk harta seperti tak lainnya, pembicaraan ini, Lebarkan kedua tanganmu sekarang, TERBANG TINGGI )

.

.

JaeJoong berguling-guling di atas kasurnya, sesekali dia menarik napas dan membuangnya kasar, lalu menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang masih terbuka lebar. Jam sudah menunjukkan jam 2 pagi, tapi pemuda cantik itu belum juga menemukan rasa kantuknya saat ini.

"Yunho…"

Bibirnya menyungging sebuah senyum yang lebar, dia kembali berguling lalu terlentang, menarik guling di sebelahnya dan menbekapnya dengan erat.

"Yunho pabbo, gomawo ne, karena kau aku bisa melupakan YooChun-ah. Aku akan memberitahu semua ini sebelum terlambat, kuharap Junsu tak marah padaku."

Mata indah itu tertutup berlahan membawa pemuda cantik itu mengarungi mimpi indahnya malam ini.

.

.

Junsu dan JaeJoong berdiri saling berhadapan, kedua pemuda manis itu tenggelam dalam kebisuan, beberapa menit yang lalu JaeJoong menghampiri Junsu dan mengatakan akan membicarakan sesuatu dan hanya mereka saja yang tahu, Junsu akhirnya mengikuti JaeJoong menaiki anak tangga, dan disinilah mereka, di koridor teratas kampus mereka tepat didepan ruang kelas kosong yang tak dipakai lagi untuk kegiatan kuliah. Tempat yang bagus untuk berbicara dengan keadaan seperti ini.

"Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi aku tak bisa."

Junsu tak sama sekali berbicara, dia hanya memandang JaeJoong dengan bingung, menunggu apa yang akan dibicarakan JaeJoong setelah ini.

"Junsu-ah, Mian ne… sebenarnya dari dulu aku menyukai YooChun-ah… Mian ne."

Mata Junsu membulat, dia tetap tak berbicara, dia tahu setelah ini JaeJoong pasti masih ingin membicarakan sesuatu yang lebih jauh. Di lain pihak di tempat yang sama, kedua pemuda yang sama-sama tampan terlihat berdiri tak jauh dari kedua pemuda manis yang sedang asik berbicara, si pemuda manly berdiri di sebelah kiri dengan tubuh yang menyender ke dinding yang membuat tubuhnya tak terlihat oleh kedua pemuda manis itu dan pemuda yang juga sama-sama dalam posisi yang sama berdiri di sebelah kanan dengan tubuh yang juga menyender ke dinding. Kedua pemuda itu sama-sama terkejut.

"Kurasa YooChun adalah orang yang baik, itulah yang kusukai darinya, dia juga orang pertama yang menjadi temanku sebelum mu… aku benar-benar menyukainya, sampai sekarangpun aku menyukainya."

Pemuda manly di sebelah kiri mengepal tangannya kuat, diusapnya wajahnya kesal lalu beranjak dari tempatnya berada, dia sudah tak sanggup mendengar ini semua, dia merasa di bohongi dan dikecewakan.

"… tapi perasaanku yang sekarang berbeda dari yang dulu. Aku menganggapnya sebagai teman saat ini, tidak lebih…"

"Hyung…"

Junsu berujar dari keterdiamannya, dia dapat melihat JaeJoong sesekali mengusap air matanya, jujur saja saat ini tak ada sedikitpun perasaan kesal di hati Junsu, justru dia merasa kasihan pada pemuda di depannya saat ini.

"Dulu aku memang menyukainya sebagai seorang pria, sampai Yunho datang, hah~ aku ingat saat dia mengira aku akan bunuh diri tepat di hari kalian jadian, dia sangat lucu, dia langsung mengatakan kalau dia menyukaiku."

"Mwo? Hyung apa maksud mu?"

Junsu membulatkan matanya, jantungnya berdebar saat mendengar kata'Bunuh diri' dari JaeJoong barusan.

"Junsu, kau salah paham dia juga begitu saat pertama kali bertemu denganku."

Junsu mengusap air matanya, dia tak tahu kapan dia mulai menangis, sungguh dia merasa sangat bersalah kepada pemuda didepan ini.

"Untuk menyelamatkan persahabatan kita, aku memendam semua, tapi… Yunho membuatku dapat melupakan YooChun, aku tak tahu, tapi sepertinya aku mulai menyukai Yunho ah~ buka menyukai, tapi mencintainya, aku sanggup untuk tidak bersama YooChun, tapi… aku tak sanggup jika tidak bersama Yunho. Aku berusaha untuk membohongi semuanya termasuk diriku sendiri, sampai aku tahu kalau kebohonganku mungkin bisa saja menyakiti kalian… orang-orang yang aku sayangi. Maafkan aku, Junsu-ah."

Junsu tersenyum lembut menatap JaeJoong yang menunduk dalam menatap lantai bermarmer di bawahnya, satu pelukan dirasakan JaeJoong dari pria manis didepannya, dia terkejut sampai dia mendengar Junsu terisak pelan dan menepuk-nepuk bahunya lembut.

"Hyung, seharusnya aku yang minta maaf, apa sekarang kita masih bisa bersahabat?"

JaeJoong melepaskan pelukan Junsu padanya, menatap mata Junsu lekat, dengan semangat JaeJoong mengangguk.

"Tentu saja."

.

.

kitto kimi wa itsu no hi ka
kono sora wo toberu hazu dakara
nando kizutsuita toshite mo
For you
taisetsu na koto wa hitotsu
yume miru koto
kokoro dake wa tozasanai de ite
( Karena suatu hari nanti pasti, kau, sungguh-sungguh terbang ke langit, Tak peduli berapa kali kau tersandung, UNTUKMU Apa yang penting itu satu hal, Miliki sebuah mimpi, Janganlah tutup hatimu )

.

.

JaeJoong tak tahu apa yang terjadi pada Yunho, beberapa hari ini Yunho seperti menghindarinya membuatnya merasa kesepian, walau terkadang Junsu dan YooChun bersamanya, tapi tanpa kehadiran Yunho serasa berbeda.

"Kau bertengkar dengan Yunho, Hyung?"

JaeJoong mengaduk-ngaduk jus-nya, saat ini mereka sedang berada di café kampus wajah JaeJoong terlihat cemberut, dia berusaha menemui Yunho di kelasnya tapi pemuda tanpan itu tak sama sekali terlihat di sana.

"Ani, aku hanya tak pernah lagi bertemu Yunho beberapa hari ini."

Aku JaeJoong jujur, demi Changmin yang paling keren di Korea(?) JaeJoong tak tahu apa kesalahanya sehingga Yunho bersikap seperti ini padanya.

"Kemarin aku sempat bertemu dengannya di perpustakaan…"

"Aku juga kemarin lusa…"

Junsu buru-buru memotong perkataan YooChun, dia masih ingat kemarin sempat bertegur sapa dengan Yunho, walau ujung-ujungnya Yunho hanya mendiaminya dan pergi begitu saja.

"Jinjjai? Aiz lebih baik aku cari dia di perpustakaan sekarang."

JaeJoong berdiri dari kursinya, mengambil tas ranselnya lalu berjalan dengan tergesa-gesah meninggalkan YooSu yang tercengah karena perbuatannya.

Pria cantik itu berkomat-kamit ria di koridor kampus berharap dia dapat menemukan Yunho di perpustakaan, kakinya melangkah membawanya ke bangku tersudut dan ter belakang di perpustkaan itu, usahanya tak sia-sia, dia dapat melihat Yunho membaca sebuah buku fiksi dengan telingat tersumpal earbud.

Sebuah senyum kemenangan bertengger di bibirnya, dengan hati-hati dia melangkah kearah belakang Yunho, lalu membuka earbud di telinga kiri Yunho.

"Yun…"
Yunho yang merasa kesal baru saja hendak menghajar orang yang sudah berbuat tidak sopan padanya, sampai akhirnya niatnya terhenti ketika melihat JaeJoong berdiri didepannya.

"Aku mencarimu, Yun… kau ke~ eh… yak… aku belum selesai bicara."

Dengan wajah datar Yunho meninggalkan JaeJoong yang berteriak-teriak tak jelas dan membuat seluruh pengunjung Perpustakaan menatap kesal pada JaeJoong.

JaeJoong menyusul Yunho dari belakang dia tetap berusaha untuk mengejar pria itu dan mencari tahu penyebab kemarahan Yunho.

"Yun… kau kenapa? Perasaanku terakhir kita bertemu sikapmu tak seperti ini padaku?"

Yunho berhenti berjalan, dia memandang JaeJoong nyala membuat pria cantik itu mundur selangkah.

"Kanapa mengejarku? Bukankah aku tak berarti untukmu?"

JaeJoong terdiam, dia berusaha mencerna perkataan Yunho.

"Maksudmu?"
"Jawab yang jujur, apa kedudukanku di hatimu. Kim JaeJoong?"
"Eh?"

JaeJoong terdiam, dia berusaha mencerna perkataan Yunho barusan.

"Kau bicara apa? Aku tak mengerti."

"Kukatakan sekali lagi Kim JaeJoong, apa posisi ku di hatimu? Apa hanya sebagai pengganti YooChun saja?"
JaeJoong tersentak kaget, jujur saja awalnya JaeJoong memang menganggap Yunho sebagai pengganti YooChun sementara, sampai disadarinya kalau Yunho sangat berarti sekarang, dia menginginkan Yunho untuk selalu bersamanya.

"Jadi benar bukan kalau aku hanya pengganti YooChun saja. Ok… kuharap kau tak berdiri lagi di sekitarku, Kim JaeJoong."

Yunho sudah hendak berjalan menjauhi JaeJoong, sampai pria cantik itu memeluknya dari belakang dan terisak di punggungnya.

"Bodoh…! Kenapa berbicara seperti itu? ku akui kalau niatku pertama kali memang begitu, kau memang tak salah Yunho-ah, apa yang kau bicarakan memang benar, aku melakukannya hanya untuk Melupakan YooChun, sampai kurasa kau berarti didalam hidupku, bukankah kau memintaku berjanji untuk tidak mengecewakanmu?"

Yunho terdiam perkataan JaeJoong membuatnya teringat akan keinginannya waktu itu.

"Sekarang? saat aku ingin menepati janjiku, kenapa malah kau yang mengingkari janjimu dan pergi dariku?"

Pria cantik itu menunggu Jawaban Yunho padanya. Tapi pria manly itu tak kunjung berbicara.

"Apa kau mendengar pembicaraanku dan Junsu?"

JaeJoong berusaha menerka penyebab kemarahan Yunho padanya, pikirannya mengarah pada pembicaraannya dan Junsu, dia berfikir kalau mungkin saja Yunho mendengar pembicaraan mereka berdua.

"Ne, dan aku tahu aku diperalat untuk menjadi pengganti YooChun."
Tubuh JaeJoong bergetar, dia takut kalau Yunho salah paham atas percakapannya dan Junsu dan malah meninggalkannya disaat dia membutuhkan Yunho, saat dia merasa Yunho segala-galanya untuknya, ya~ sekarang baginya hanya Yunho yang dia punya setelah YooChun dan Junsu tentunya.

"Kau salah Yunho-ah, ya~ awalnya memang begitu, tapi sekarang tidak, sungguh demi tuhan aku benar-benar menyukaimu, bahkan ku rasa aku… "

JaeJoong melepas pelukannya, dia menunduk malu dengan rona merah kentara di wajahnya, Yunho berbalik dan menatap JaeJoong dengan wajah datarnya. Wajah Yunho memang terlihat datar, tapi sebenarnya ada seulas senyum tak terlihat yang bertenggger di bibir hati miliknya.

"Aku apa…?"
JaeJoong menegakkan wajahnya menatap Yunho dengan wajah cemberut, bibirnya mengerucut imut membuat Yunho tak tahan ingin melahap bibir itu.

"Aku mencintaimu."

BLUSH…

Wajah JaeJoong kembali menunduk, dia merasa sangat malu mengatakan hal itu pada Yunho.

"Benarkah? Atau ini hanya salah satu permainanmu lagi."

"Yak… aku tak pernah main-main dengan perasaanku."

"Kau sempat membohongiku, jadi aku masih sangat tak percaya dengan ucapanmu, kalau memang kau menyukaiku, buktikan."

Yunho menunggu respon dari JaeJoong, dia melihat pria cantik itu mengepal erat, tapi tak lama sampai dia merasa JaeJoong mendorong tubuhnya ke dinding dan mengapit tubuh kekarnya dengan tubuh JaeJoong yang terlihat lebih kecil darinya itu, bibir Cherry itu menempel erat ke bibir hati Yunho mencium pemuda tampan itu dengan agresif. Hanya sesaat Yunho merasakan keterkejutan sampai akhirnya dia menikmati ciuman itu, jemarinya menyusuri helaian rambut JaeJoong dan menekan kepala belakang JaeJoong untuk membuat ciuman itu lebih terasa intim.

"Hmmptt…"

JaeJoong mendesah dalam ciumannya saat merasakan Yunho mengemut bibirnya dengan gemas bahkan terkadang menggigitnya kecil-kecil.

"Hmmptt Yun… hmmptt."

Lidah Yunho menerobos masuk ke dalam mulut JaeJoong menjelajahi rongga mulut pria cantik itu lalu membawa JaeJoong hanyut lebih dalam, dalam ciuman itu.

"JaeJoong Hyung? Yunho Hyung?"

JaeJoong dan Yunho langsung mendorong satu sama lain, mata musang Yunho memandang penuh amarah pada Changmin yang tersenyum sok polos.

"Oh~ Mian, aku tadi hanya numpang lewat."

Changmin mundur selangkah demi selangkah setelah merasa jaraknya sudah lumayan Jauh, pria berbadan tinggi itu berlari menjauh dari YunJae dia tak mau Yunho melemparnya dengan sepatu atau menonjoknya karena menganggu kesenangan pria manly itu.

"Yun, a-apa aku diterima?"

"Untuk?"

"I-itu… Jung Yunho, apa kau mau menjadi kekasihku?"

Ucap JaeJoong lancar walau di dadanya terasa berdetak kencang, tapi JaeJoong berusaha mengontrolnya.

"Ne."
Jawab Yunho dengan nada datar, JaeJoong kembali mengerucutkan bibirnya dia melempar Yunho dengan tas sandang yang dipakainya.

"Yak… Cuma itu responmu? Setidaknya romantislah sedikit, Menyebalkan."
Baru saja JaeJoong hendak melangkah menjauh, Yunho sudah menariknya dan memeluk pria itu mesra.

"Ku harap ini bukan mimpi, Kim JaeJoong aku menyukaimu."
JaeJoong tersenyum dalam hati, pria cantik itu membalas pelukan Yunho erat.

"Ne, aku juga."

.

.

END

Ffyuu~ akhirnya selesai Juga, makasih tuk teman-teman yang sudah mau merepyu, membaca, atau hanya numpang lewat di ff ini^^ dan semoga semua yang di pertanyakan ama teman" terjawab di chap ini^^…

Big thnks to:

Reader | YuyaLoveSungminNaraYuukiKimYcha Kyuudesi 2121Himawari Ezukiriska 0122ichigo songtrililililili | Shikawa | Aoi Ko Mamorualienacassdhian930715ELFVoldeMIN vs KYUtieKyuLateirengiovannyGuest | n semua reader FFN…^^

Micky_Milky ^A.K.T.F^