Yosha! Ruru nyangkut lagi di sini, cuma buat bawain chapie 4

Thank's buat yang udah menyempatkan diri buat baca n review fic ini yang masukin di kotak review atau yang review via facebook, arigatou gozaimasu, buat silent reader juga saya ucapkan terima kasih I love you all ^,^

Enjoy!

Chapter lalu:

Ino dan Sasuke telah menempati apartemen baru mereka di Konoha, di sana mereka bertemu dengan Kakashi yang sempat membuntuti Ino saat berbelanja kebutuhan mereka, di lain hari Ino bertemu kembali dengan Kakashi yang ternyata tetangga sebelah apartemennya, dan Kakashi menawarkan pekerjaan kepada Ino yang bahkan bisa memberinya fasilitas sekolah gratis di Konoha International (Sekolah terkenal bertaraf internasional di Konoha) pekerjaan apakah yang ditawarkan oleh Kakashi pada ino? Cek it out!

Disclaimer: Ngelirik Om Masashi Kishimoto (Well...udah pada tahu kan?)

Chapter 4

=Kyuubi no Kitsune=

Ino menatap Kakashi yang berdiri di depannya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Pekerjaan apa yang kalian tawarkan padaku sehingga kalian mau repot-repot menyekolahkan kami dengan cuma-cuma?" Ino mulai membuka suara, Kakashi hanya melebarkan matanya, tak dia sangka Ino akan menerima tawarannya secepat ini, tapi kemudian dia kembali bersikap biasa.

"Ehm, yaah...aku yakin sekali ini pekerjaan yang cocok untukmu." Kakashi tak langsung menjawab pertanyaan Ino, dia sengaja membuat gadis itu penasaran.

"Ketahuilah, aku ini bukan tipe orang yang bisa bersabar menghadapi orang sepertimu!" Ino menatap tajam pria berambut perak di depannya, tapi yang bersangkutan malah terkekeh melihat reaksi Ino.

"Apa yang kau tertawakan? Aku tidak sedang bercanda!" Ino mulai tidak sabar.

"Alright...alright, sepertinya kau memang bukan tipe orang yang sabar." Ino memicingkan matanya, menatap pria berambut perak yang telah merusak paginya itu, sedangkan objeknya hanya mengerling sekilas ke arah Ino.

"Fine, akan ku katakan, kami membutuhkan kemampuan bertarungmu untuk suatu misi," Ino melebarkan matanya mendengar penuturan Kakashi.

"Ino-chan, aku sudah selesai!" Seru Sasuke dari dalam hingga mengalihkan perhatian Ino dan Kakashi.

"Sebaiknya kau bicara langsung saja dengan Tsunade-sama, aku akan mengantarmu menemuinya." Ino hanya melirik Kakashi sekilas, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Sasuke.

"Terserah kau saja!" Kata Ino yang ditujukan pada Kakashi.

"Kau sarapan dulu saja Sasu! Di meja ada roti dan selai, aku akan mandi dulu setelah itu kita berangkat!"

"Baik!" Sahut Sasuke dari dalam.

Ino kembali melirik Kakashi yang masih berdiri di depan pintu.

"Kenapa kau masih berdiri di situ? Kau bilang akan mengantarku menemui atasanmu kan?" Tanya Ino ketus, sedangkan Kakashi hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Ino kesal dengan sikap Kakashi yang cuek itu.

"Keluar dan bersiaplah, atau aku akan berubah pikiran!" Ino menendang Kakashi keluar apartemennya.

"Hei hei! Bersikaplah lembut sedikit! Kau inikan peremp...!"

BLAM!

Ucapan Kakashi terpotong saat pintu apartemen Ino tertutup di depan hidungnya, lelaki itu menghela nafas panjang melihat sikap calon partnernya itu.

"Haaaaa...h sepertinya ini akan sulit..." Kakashi melangkahkan kakinya menuju kamar apartemennya di sebelah apartemen Ino, tapi langkahnya terhenti saat melihat dua kantong sampah di depan kamarnya, kantong sampah yang sempat dilemparkan Ino ke wajahnya pagi ini.

"Hm...jadi aku juga yang harus membuang ini?" Kakashi berjongkok di depan dua kantong sampah besar itu, mengamatinya sambil meletakkan ibu jari dan telunjuknya di dagunya.

"Haaaa...h baiklah, anggap saja ini sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang spesial hari ini." Gumam Kakashi sambil menjinjing dua kantong sampah itu untuk dibuang.

*Promise*

Ruang Kepala Sekolah Konoha International

"Hooooo...jadi ini orang yang bisa menarik perhatianmu Kakashi? Seleramu bagus juga." Goda wanita berambut pirang yang duduk di balik meja besar bertuliskan nama Tsunade kepada Kakashi yang duduk di depan mejanya, Kakashi sendiri hanya menggaruk belakang kepalanya, sedangkan Ino melirik pria itu dengan deathglare terbaiknya.

"Ehm, langsung saja Tsunade-sama, tolong jelaskan maksud anda membutuhkan saya!" Ino mengalihkan perhatiannya pada wanita bernama Tsunade yang sepertinya masih ingin menggoda Kakashi.

"Hohoho...kau tidak sabaran sekali ya nona Yamanaka Ino?" Tsunade mengerling ke arah Ino, sedangkan Ino tetap menatap Tsunade dengan wajah serius.

"Ah, kalau boleh kusarankan Tsunade-sama, sebaiknya anda tak perlu berbelit-belit, karena nona Yamanaka ini orang yang mudah naik pintam." Kata Kakashi dengan santainya, dan Ino pun kembali melancarkan deathglarenya ke arah pria di sebelahnya itu.

"Anda bisa lihat sendiri kan?" Tanya Kakashi kemudian.

"Hahaha, baiklah baiklah, nona Yamanaka Ino, saya membutuhkan kemampuan bertarungmu untuk suatu misi."

"Orang ini sudah mengatakannya tadi, saya hanya perlu detailnya kenapa anda membutuhkan kemampuan saya, dan...sebenarnya pekerjaan macam apa yang anda tawarkan kepada saya?" Tanya Ino tegas.

"Um...mungkin sebaiknya kau kuberitahu dulu sesuatu yang penting," Tsunade mengerling kearah Kakashi sekilas lalu kembali menatap Ino.

"Sekolah ini kudirikan untuk mencari orang-orang yang memiliki kemampuan khusus," Ino menyimak kata-kata Tsunade dengan serius.

"Meskipun hanya segelintir orang yang berhasil ditemukan, kami selalu mengetes setiap anak yang masuk ke sekolah ini untuk mengetahui kemampuan mereka, kemudian kami masukkan ke kelas khusus dimana kami akan melatih orang-orang itu untuk kami jadikan agen."

"Agen?" Tanya Ino tak mengerti, Tsunade tersenyum tipis.

"Ya, agen untuk organisasi yang kudirikan untuk memberantas teroris dan para perusuh di negara ini, aku menamakan organisasi ini Kyuubi no Kitsune." Ino melebarkan matanya.

"Ja...jadi...aku akan menjadi salah satu agen organisasi anti teroris?"

"Benar sekali nona Yamanaka, kami membutuhkanmu untuk itu." Tsunade kembali tersenyum ke arah Ino.

"Apakah kalian juga mengincar para yakuza?" Ino memicingkan matanya, Tsunade terkesiap sekilas, kemudian kembali bersikap biasa.

"Yaah, kalau mereka berbuat onar, tentunya akan kami basmi, tapi bukankah para yakuza itulah para pembuat onar?" Ino mengepalkan tangannya saat mendengar penuturan Tsunade.

"Tak semua yakuza seperti itu, ada sekelompok yakuza yang sebenarnya hanya menginginkan perdamaian antar kelompok, dan ternyata niat mereka ditentang oleh kelompok lain dan akhirnya kelompok itu dibasmi, bahkan markas besar aliansi kelompok itu juga diserang." Ino menggigit bibir bawahnya setelah menceritakan hal yang sebenarnya pernah dia alami itu, kepalanya dia tundukkan dalam-dalam, sambil menahan bulir bening yang akan jatuh dari mata aquamarinenya.

Tsunade dan Kakashi menatap Ino penuh tanda tanya.

"Kurasa kau punya hubungan dengan kelompok yang kauceritakan barusan ya?" Ino mengangkat wajahnya saat mendengar pertanyaan Tsunade barusan, wanita itu tersenyum lembut ke arah Ino.

"Tapi kurasa kau orang yang baik, biar kuberitahu kelompok yang kami incar saat ini," Ino menatap Tsunade penuh dengan rasa penasaran.

"Kelompok yang paling kami incar adalah...Kurohebi yang dipimpin oleh Orochimaru," Ino melebarkan matanya saat mendengar kata Kurohebi (Kelompok itu adalah kelompok yang telah membantai keluarganya, juga kelompok yang telah menghancurkan mansion utama Uchiha)

"Ku...Kurohebi?" Ulang Ino dengan suara yang sedikit bergetar, kedua tangannya terkepal semakin kuat.

"Benar, dan mereka memiliki suatu kelompok khusus yang terdiri dari beberapa orang terkuat yang mereka miliki, dan mereka menyebutnya tim Akatsuki." Ino menatap nanar ke arah meja besar di depannya, pikirannya sedikit terpecah, tangannya masih terkepal dengan kuat, bibirnya juga terkatub rapat.

"Akatsuki adalah tim yang sangat kuat, sudah ada beberapa agen kami yang terbunuh saat berhadapan dengan mereka, jadi saat ini kami kekurangan tenaga untuk melawan mereka, lalu kami berusaha mencari orang-orang yang memiliki kemampuan khusus dan kuat untuk direkruit menjadi agen kami." Tsunade mengakhiri penjelasannya, dan seketika ruangan besar itu menjadi hening.

"Aku..." Ino mulai membuka suara setelah keheningan yang cukup lama, Tsunade dan Kakashi memasang telinga mereka baik-baik, rasa penasaran mulai menguasai keduanya.

"Aku punya urusan yang belum selesai dengan Kurohebi, jadi...tak ada alasan bagiku untuk menolak tawaran anda Tunade-sama, kita bisa bekerja sama untuk yang satu itu." Ino mengutarakan pendapatnya dengan mantab, seulas senyum tipis tersungging di bibir Ino, Tsunade dan Kakashi pun bernafas lega setelah mendengar persetujuan Ino barusan.

"Baguslah kalau begitu, mulai besok kau bisa masuk kekelas khusus, dan...kau tenang saja, kau tak perlu memikirkan biaya sekolahmu dan adikmu, karena aku sudah membebaskan semua biaya untuk kalian berdua." Kata Tsunade dengan senyum bahagia.

"Saya mengerti Tsunade-sama." Ino pun tak kalah bahagia, bagaimana tidak? Selain dapat sekolah gratis, dia juga dapat aliansi untuk membasmi Kurohebi, ini benar-benar diluar dugaannya, bahkan saking senangnya dia tak menyadari bahwa dibalik kebahagiaannya itu akan ada satu kesialan yang menantinya.

*Promise*

"Nama saya Yamanaka Ino, dan saya berasal dari Tokyo." Ino memperkenalkan diri di depan kelas yang disebut sebagai kelas khusus, kelas itu hanya dihuni oleh 8 siswa, 9 termasuk dirinya sekarang.

"Ano!" Seorang pemuda berambut porang jabrik mengangkat tangannya, dan membuat semua mata tertuju padanya.

"Boleh panggil Ino saja kan? Repot sekali kalau harus memanggil Yamanaka." Keluh pemuda itu dengan polosnya dan detik berikutnya pemuda jabrik itu telah mendapatkan benjolan besar di kepalanya, karena jitakan seorang gadis berambut pink yang duduk di sebelah mejanya.

"Jangan bersikap tidak sopan Naruto!" Seru gadis itu.

"Aku kan hanya mengungkapkan pendapatku saja Sakura-chan." Protes pemuda bernama Naruto itu sambil mengelus benjolan di kepalanya.

"Tak apa kok, kalian boleh memanggilku Ino, aku juga tidak terlalu suka jika dipanggil Yamanaka, kesannya terlalu formal dan kaku." Kata Ino kemudian.

"Nah Ino, kau bisa memilih bangku mana yang akan kau pakai, sebentar lagi guru pengajar akan datang kesini, kau bisa berkenalan sebentar dengan teman-teman barumu sebelum beliau datang." Kata wanita berambut pendek yang mengantar Ino kekelas pagi ini.

"Iya, terima kasih Shizune-san." Kata Ino dengan senyum ramah, wanita bernama Shizune itu pun meninggalkan kelas setelah membungkuk sekilas ke arah Ino.

"Yaaay akhirnya ada anak baru!" Seru pemuda berambut kuning jabrik yang bernama Naruto tadi.

"Waw kau baru masuk langsung dibawa kekelas khusus ya? Siapa yang merekomendasikanmu?" Kali ini seorang gadis berambut pink yang tadi menjitak Naruto

"Oi anak baru! Tunjukkan semangat masa mudamu! Uwoooo!" Yang ini pemuda berkostum er...well...menurrut Ino dia mirip kecebong, atau kappa dan sejenisnya.

"Pakai seragammu Lee!" Seru seorang gadis bercepol dua, sepertinya dia meneriaki sang kappa.

"Ino-chan, kalau boleh tahu, kau punya kemampuan seperti apa hingga kau dipilih untuk masuk ke kelas ini?" Tanya seorang gadis berambut pirang diikat empat, gadis itu memposisikan diri tepat di depan Ino, Ino menatap gadis di depannya dengan alis terangkat.

"Nanas empat?" Batin Ino spontan saat melihat model rambut gadis itu, tapi kemudian dia mengenyahkan pikiran konyolnya itu, tidak baik mengatai teman sendiri, apa lagi dia masih baru.

"Iya Ino-chan, kau pasti punya kemampuan yang hebat kan? Makannya kau bisa masuk kesini." Kelima orang yang mengerumuni Ino di depan kelas itu pun maju selangkah, mendesak Ino ke tembok di belakangnya.

"A...ano...yang kalian maksud kemampuan itu yang seperti apa?" Tanya Ino tak mengerti, dan orang-orang di depan Ino hanya saling pandang, menerka pertanyaan Ino, dan kesimpulan mereka adalah, Ino tidak tahu atau jangan-jangan tidak punya kemampuan khusus yang mereka maksudkan, mereka pun mundur selangkah dari hadapan Ino.

"Kau tidak tahu?" Tanya gadis berkucir empat lagi, Ino hanya menggeleng pelan, alisnya pun berkerut pertanda dia benar-benar tak mengerti.

"Hm...baiklah, supaya kau mengerti, biar kami memperkenalkan diri dan menunjukkan kemampuan kami."

Dan entah sejak kapan kelas itu telah berubah menjadi seperti panggung teater, dengan meja yang ditata berjajar di depan kelas, sedangkan penghuninya duduk di kursi yang ditata di depan meja yang sudah seperti panggung itu, dengan Ino berada di kursi paling depan.

"Nah, siapa yang maju lebih dulu?" Tanya gadis berkucir empat tadi.

"Tentu saja aku!" Seru pemuda berambut kuning jabrik.

"Uwooooo...semangatmu benar-benar hebat Narutoooo!" Seru pemuda yang yeah berkostum hijau seperti kappa.

"Sudah kubilang pakai seragammu Lee!" Seru gadis bercepol dua di samping pemuda itu.

Kini pemuda berambut kuning jabrik itu berdiri di atas panggung, sambil membungkuk-bungkukkan badannya seolah sedang menghormat ke arah para penonton.

"Halo, namaku Uzumaki Naruto, umurku 17 tahun, tanggal ulang tahun 10 oktober, golongan darah B dan..."

"Naruto!" Potong gadis berambut pink di samping Ino.

"Ada apa Sakura-chan?" Tanya pemuda bernama Naruto itu dengan mata berbinar-binar.

"Jangan menyebutkan hal-hal yang tidak penting! Cukup sebutkan nama dan kemampuanmu saja!" Gadis bernama Sakura itu melemparkan deathglarenya ke arah Naruto di depan sana.

"Uuuugh nggak asik!" Gerutu Naruto.

"Cepatlah Naruto, jangan buang-buang waktu dengan ocehanmu!" Kata Sakura ketus.

"Baiklah, kemampuanku adalah...aku bisa mengkloning diri seperti ini!" Naruto memperbanyak dirinya hingga memenuhi kelas, Ino tercengang melihat hal itu.

"Hebat!" Pikirnya

"Wow..." Dan seluruh penghuni kelas minus dua orang, bertepuk tangan seolah habis melihat pertunjukan yang spektakuler.

"Terima kasih, terima kasih!" Naruto pun menghilangkan kloningannya, dan membungkuk-bungkukkan badannya di panggung, seperti seorang entertainer yang baru saja mendapat pujian.

Setelah Naruto turun, kini seorang pria berkostum hijau tadi yang menggantikannya.

"Halo, namaku Rock Lee, aku adalah orang yang memiliki semangat masa muda paling berkilau disini hahahaha..., dan kemampuanku adalah...aku bisa menguasai jurus maut dari China ya itu jurus dewa mabuk, dan lagi tubuhku ini sangat lentur..." Kata pemuda bernama Rock Lee itu dambil meliuk-liukkan tubuhnya seperti cacing.

Krik. Krik. Krik.

Entah dari mana suara jangkrik itu berasal, yang pasti ruangan itu menjadi hening seketika

sampai di sini Ino sweatdrop melihat tingkah pria hijau di depan sana.

"Ternyata nggak cuma kecebong dan kappa, tapi cacing juga." Pikir Ino

"Lee..." Muncul aura hitam dari balik punggung Ino yang ternyata berasal dari gadis bercepol dua yang duduk di belakang Ino.

"Iya sayang?" Sahut Lee dengan berbinar-binar.

"Turun!" Aura hitam itu pun semakin pekat.

"Baik..." Dan Lee turun dari panggung dengan lesu, seperti anak anjing yang baru saja dimarahi majikannya.

"Lupakan yang tadi Ino-chan!" Kata gadis bercepol itu dengan senyum manisnya, seolah dia tak pernah mengeluarkan aura hitam seperti tadi, dan Ino hanya mengangguk saja, gadis itu kemudian maju menggantikan si pria kappa.

"Sebenarnya hubungan mereka itu seperti apa?" Bisik Ino pada Sakura yang duduk di sebelahnya.

"Oh, mereka itu pacaran." Kata Sakura dengan senyum sumringah.

CTAR!

Ino bagaikan tersambar petir saat mendengar jawaban Sakura, lalu mata aquamarinenya beralih ke arah gadis bercepol yang kini telah berdiri di atas panggung, Ino menatap gadis itu dengan tatapan iba entah apa yang dia pikirkan saat ini.

"Namaku Tenten, kemampuanku adalah mengeluarkan pisau dari tubuhku." Tenten menunjukkan telapak tangannya, bagian tengah telapak tangan itu sedikit terbelah, kemudian membesar dan muncullah sebuah pisau dari robekan itu, Ino tak berkedip saat melihat hal itu.

ZAP!

TEP!

Tiba-tiba Tenten melemparkan pisaunya ke arah Ino, tapi dapat ditangkap dengan mudah oleh Ino menggunakan jari tengah dan telunjuknya untuk mengapit pisau itu.

"Wah reflekmu bagus juga Ino-chan, aku salut padamu." Kata Tenten dengan senyum mengembang di bibirnya.

"Hanya kebetulan saja." Jawab Ino merendah.

Tenten turun saat dirasa sudah cukup memperlihatkan kemampuannya, lalu duduk di belakang Ino kembali.

"Yang tadi itu...apa tidak sakit?" Tanya Ino dengan polosnya.

"Hahaha...yah...awalnya sih sakit, tapi lama-lama tidak juga, soalnya sudah terbiasa sih." Kata Tenten, Ino hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke panggung.

Sakura telah menggantikan posisi Tenten berdiri di atas panggung.

"Namaku Sakura Haruno, kemampuanku adalah..."

BRAK!

Ino terkesiap saat tiba-tiba Sakura menghancurkan sebuah meja yang berjajar di depan.

"Yaah, inilah kemampuanku Ino, kurasa kau sudah mengerti dengan melihatnya." Kata Sakura sambil tersenyum ke arah Ino.

"Ah ya, kurasa juga begitu." Jawab Ino sekenanya.

Selanjutnya dipercepat.

Gadis berkucir empat tadi memperkenalkan diri sebagai Sabaku no Temari, dan memiliki kemampuan mengendalikan arus angin dengan kipas besarnya.

Lalu yang ke enam adalah Sabaku no Kankuro, yang merupakan adik dari Temari, kemampuannya adalah mengendalikan seseorang agar bergerak sesuai perintahnya seperti mengendalikan boneka.

Orang ke tujuh meskipun enggan, dia memperkanalkan diri sebagai Hyuga Neji.

"Kemampuanku adalah penglihatan tembus pandang, aku tahu isi drawing padmu itu, di dalamnya ada sepasang pedang kembar." Kata Neji, kemudian langsung turun dari atas panggung, sedangkan Ino tertegun mendengar penuturan Neji barusan.

Inner Ino

"Drawing pad ada di belakangku, dia bilang bisa tembus pandang? Jagan-jangan..." Ino bergindik sambil mendekap dirinya sendiri dengan wajah memerah.

"Shit!"

Inner Ino mulai mengutuk pemuda bernama Hyuga Neji tadi.

Dan orang terakhir, seorang pemuda bermodel rambut yang...yaeh, mirip nanas lagi, tapi kali ini cuma satu pucuk, tampangnya seperti orang malas hidup, dan dia memperkenalkan diri dengan nama Nara Shikamaru.

"Kemampuanku adalah bisa membaca pikiran orang lain, aku juga seorang sniper, aku tahu kau baru saja mengataiku nanas,"

Deg!

Ino terkesiap saat pikirannya barusan telah terbaca oleh yang punya rambut nanas di depan sana.

"Tapi itu sudah biasa sih, ah kau tadi juga sempat mengatai Tema...hmp...?" Ucapan Shikamaru terhenti saat dengan tiba-tiba Ino membekap mulut pemuda itu.

"Se...sejak kapan dia di sini?" Batin Shikamaru.

"Sebagai laki-laki kau itu tenyata banyak bicara ya?" Bisik Ino tepat di telinga Shikamaru, tak ada satupun yang melihat seringai tipis gadis itu, karena posisinya membelakangi teman-temannya, dan Shikamaru sendiri tak dapat melihat ekspresi Ino, sedangkan ke tujuh orang lain di ruangan itu tercengang saat dengan tiba-tiba Ino sudah berada di depan Shikamaru, pikiran mereka rata-rata sama, 'Sejak kapan Ino berada di sana?'

Ino melepaskan tangannya dari mulut Shikamaru, lalu turun dari panggung dan berdiri menyandarkan punggungnya di salah satu meja.

"Kurasa aku sudah tahu maksud kemampuan yang kalian sebutkan tadi," Ino meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya, Aquamarinenya menatap satu persatu penghuni kelas khusus yang kini telah berada di depannya termasuk Shikamaru.

"Ini adalah kemampuan terbaikku." Ino menunjukkan kedua tangannya kembali, teman-temannya terbelalak saat melihat apa yang dibawa Ino di kedua tangannya, dan serentak mereka merogoh kantong masing-masing, kemudian kembali menatap Ino di depan, bahkan Neji yang biasanya bersikap tenang kini memperlihatkan ekspresi terkejutnya.

"Dompetku?" Gumam mereka bersamaan, tak terkecuali, Ino berseringai tipis.

"Jadi kau ini copet?" Kali ini mereka menuding Ino, dan lagi-lagi serentak.

"BUKAAAN!"

Sangkal Ino, membuat nyali ke delapan orang di depannya menciut.

"Lalu apa? Dan sejak kapan kau mengambil itu dari kami?" Tanya Neji yang telah menguasai keterkejutannya.

"Fyuh, aku kan hanya menunjukkan kemamuanku seperti yang kalian lakukan, dan well, kemampuanku adalah kecepatan." Kata Ino sambil mengibaskan tangannya dan dalam sekejap kedelapan dompet yang dia bawa tadi lenyap.

Dan kedelapan pemilik dompet itu kembali merogoh kantong masing-masing, dan hasilnya, dompet mereka telah kembali di tempatnya.

"Kami tidak melihatmu beranjak dari situ." Temari mulai bicara.

"Um...yaah sudah ku bilang kan? Kemampuanku adalah kecepatan, aku mampu berpindah tempat dengan kecepatan tinggi, jadi gerakanku tak dapat disadari oleh lawan, aku juga bisa membunuh orang tanpa menyiksa orang itu, dalam artian, mereka akan mati seketika tanpa sempat merasakan apapun, bagaimana? Aku ini baik sekali kan? Mereka bisa mati tanpa merasakan apapun, itu adalah suatu kehormatan." Ino mulai berseringai, sedangkan kedelapan orang di depannya mulai bergindik ngeri.

"Syukurlah dia ada di pihak kami." Batin kedelapan orang itu.

"Nah, apakah sudah selesai?" Tanya Ino kemudian, yang lain hanya mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Ino.

"Um...Sensei belum datang ya?" Tanya Ino, kali ini ekspresinya sudah kembali normal.

"Iya, Kakashi sensei memang sering terlambat, biasanya sih lewat setengah jam atau bahkan satu jam pelajaran dia baru datang." Jawab Sakura yang kini sudah bisa mengontrol emosinya.

"Tu...tunggu dulu! Kau bilang tadi...Kakashi sensei?" Tanya Ino lagi, sepertinya dia tidak yakin akan pendengarannya.

"Iya, Kakashi sensei, kenapa?" Tanya Sakura bingung dengan sikap Ino.

"A...apa? Jadi dia itu guru? Mustahil!" Jerit Inner Ino.

"Ino, kau kenapa?" Sakura mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ino yang sepertinya tak sadarkan diri.

"Aku harus kabur!" Pikir Ino yang langsung berlari menuju pintu kelas, tak dihiraukannya panggilan Sakura.

Sreeek!

Pintu geser kelas itu telah terbuka sebelum Ino mencapainya, dan muncullah seseorang yang paling tidak ingin Ino lihat saat ini.

Ya, dia adalah Kakashi Hatake.

"Shit!" Umpat Ino kesal.

"Hm, kau mau kemana nona Ino Yamanaka?" Tanya pria berambut perak itu dengan santainya.

"Tsk, kemana saja asal tidak bertemu denganmu!" Jawab Ino sekenanya.

"Sayang sekali, mulai hari ini kemanapun kau pergi akan selalu ada aku khufufu..." Kakashi berseringai di balik maskernya.

"Apa maksudmu?" Ino melirik Kakashi tajam.

"Ah ya, Tsunade-sama tadi belum sempat mengatakannya padamu ya?"

"Tentang apa?" Ino mulai curiga.

"Tentang kau yang mulai hari ini jadi partnerku khufufu..."

"UAPAH?"

Seru seluruh penghuni kelas secara serempak.

"Ti...tidak mungkin!" Sangkal Ino.

Demi Dewa Jashin di atas sana, jangankan berpartner, bertemu saja Ino tak mau, lebih baik berpartner dengan kappa dari pada dengan makhluk abstrak di depannya ini (Tunggu! Sejak kapan Ino jadi pengikut aliran Jashin?) What ever!

Yang paling penting bagi Ino saat ini adalah memastikan kebenaran atas ucapan Kakashi barusan, dan tanpa pikir panjang, Ino langsung melesat meninggalkan kelasnya menuju ruang kepala sekolah.

"Wah wah...pagi-pagi begini anak baru itu sudah bersemangat ya?" Kata Kakashi dengan santainya sambil melihat kepergian Ino.

"Se...sensei, tumben anda tidak terlambat?" Sakura memecah perhatian Kakashi, lelaki itu menoleh pada Sakura.

"Hn? Aku hanya sedang memastikan sesuatu saja, nah, kalian belajar sendiri dulu ya! Aku ada urusan sebentar." Kata Kakashi yang kemudian menutup pintu kelas, dan seluruh penghuni kelas khusus itu hanya saling pandang tak mengerti.

=oooooo=

BRAK!

"KENAPA BEGINI? ANDA TIDAK BILANG PADAKU KALAU HARUS BERPARTNER DENGAN MAKHLUK ABSTRAK ITU, AKU TIDAK MAU!" Seru Ino di depan meja Tsunade.

"Lho, bukannya Kakashi sudah mengatakannya padamu sebelumnya?" Tanya Tsunade balik.

Ino Terkesiap.

"Dia baru memberitahuku hari ini!"

"Oh ya? Ternyata begitu?" Tsunade menyerigai begitu mendengar penuturan Ino.

"Ada apa?" Ino mulai gusar.

"Hm...ya mau tak mau kau harus menjadi partnernya, karena kau sudah menandatangani kontrak."

"A...apa? Memangnya tidak bisa dirubah? Anda kan bisa memasangkanku dengan orang lain!" Protes Ino.

"Tidak bisa, yang lain sudah punya partner masing-masing, satu-satunya yang tidak memiliki partner hanya Kakashi, selama ini dia sama sekali tidak mau jika harus berpartner, dan baru kali ini dia tertarik pada seseorang untuk menjadi pasangannya." Tsunade tetap tak mau kalah, Ino terdiam medengar alasan Tsunade barusan.

"Po...pokoknya aku tidak mau! Kenapa tidak mencari orang lain saja?"

"Ingat kontrakmu Ino Yamanaka, kalau kau menolak, kau akan mengganti rugi sebanyak ini." Tsunade menunjukkan surat kontrak yang tertera tanda tangan Ino di bawahnya, Ino terbelalak saat melihat angka yang tertera di sana.

"A...apa-apaan ini? Kenapa nol-nya banyak sekali? Tadi kan tidak ada berkas yang seperti itu?" Ino mulai kalap.

"Khufufu...tentu saja ini ada di bawah berkas yang kau tanda tangani tadi, dan sudah ku lapisi dengan kertas karbon di bawahnya, dengan ini kau tidak bisa mengelak lagi nona Yamanaka." Tsunade berseringai lebar, sedangkan Ino terduduk lemas ala gembel kehabisan uang.

"Kalau ganti rugi sebanyak itu, tabunganku akan langsung lenyap, dan aku akan jadi gembel bersama Sasuke." Batin Ino miris, dalam pikirannya dia sudah menjadi gembel di pinggir jalan bersama Sasuke, dengan pakaian alakadarnya, sambil meminta sedekah pada orang yang lewat.

"TIDAAAAAAK!" Seru inner Ino.

"Ini pemerasaaaaaan..." Lirih Ino memelas, sedangkan Tsunade dan Kakashi yang berada di balik pintu hanya berseringai tipis.

=oooooo=

Ino berjalan gontai menyusuri koridor yang sepi, tentu saja karena selain masih jam pelajaran, gedung itu juga merupakan gedung yang berdiri sendiri, tempat kelas khusus berada, gedung itu berisi fasilitas-fasilitas untuk latihan para siswa kelas khusus, sehingga siswa sekolah reguler tak ada yang boleh menjamah gedung itu apapun alasannya, namun siswa kelas khusus boleh-boleh saja berkeliaran di kelas reguler, karena mereka termasuk siswa spesial, dan para siswa reguler biasa menyebut mereka kalangan elit, padahal kenyataannya tidak begitu juga.

Ino melirik jam tangannya.

"Sebentar lagi jam istirahat, kalau aku pergi ke gedung sekolah reguler, mungkin akan sampai tepat saat jam istirahat." Gumam Ino yang kemudian mempercepat langkahnya menuju ke gedung sekolah reguler.

Dan benar saja, saat Ino sampai di gedung reguler, bel istirahat berbunyi, Ino mengembangkan senyumnya, langkahnya kini lebih teratur.

Keberadaannya langsung menyita banyak perhatian siswa kelas reguler, tentu saja, karena seragam untuk siswa reguler dan khusus itu dibedakan, seragam kelas khusus didominasi warna merah, sedangkan kelas khusus didominasi warna biru, sehingga siapapun akan mengenali Ino sebagai siswa kelas khusus.

Ino tak menghiraukan bisikan-bisikan atau tatapan kagum dari orang-orang di sekelilingnya, tujuannya saat ini adalah, gedung SD dimana Sasuke berada.

Setelah melewati gedung SMA dan SMP, sampailah Ino di gedung SD, disana Ino langsung mencari kelas 1-1 kelasnya Sasuke.

Ino berhenti saat menemukan kelas yang dia cari, di sana dia melihat anak-anak seumuran Sasuke sedang berlarian di koridor, ada juga yang bermain di taman, tapi dia tidak melihat Sasuke di antara mereka, mungkin dia masih di kelas.

"Ano...dik, apa Sasuke masih di kelas? Bisa tolong panggilkan?" Ino menundukkan badannya saat bertanya dengan seorang anak kecil yang berbadan gemuk yang kebetulan lewat di depannya.

"Iya nyem...nyem..." Jawab anak itu sambil makan keripik yang dia bawa.

"Sasukeeee...nyem...nyem...ada kakak cantik yang mencarimu! Nyem...nyem...nyem..." Anak itu memanggil Sasuke yang masih berada di dalam kelas.

Selagi menunggu Sasuke datang, Ino berdiri bersandar di dinding dekat pintu kelas, tiba-tiba dia merasakan ada yang menarik roknya, Ino menoleh ke bawah dan mendapati seorang anak kecil seumuran Sasuke tengah menggenggam ujung rok seragamnya, Ino bembungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan anak berambut merah bata itu.

"Ada apa dik?" Tanya Ino lembut sambil memamerkan senyumnya, anak itu melambaikan tangan mungilnya sebagai isyarat agar Ino lebih mendekat ke arahnya, Ino pun mendekatkan dirinya tanpa curiga sedikitpun, dan tanpa terpikir oleh Ino, anak itu meraih tengkuk Ino dan kemudian memangut bibir Ino, gadis itu membelalakkan matanya.

"Ino ada ap...akh?" Sasuke membatu seketika saat melihat Ino dicium oleh teman sekelasnya.

"GAARA APA YANG KAU LAKUKAN?"

Sebuah teriakan menghentikan kegiatan anak berambut merah itu.

TBC

Nah lho nah lho Gaara kecil kissu Ino? Waduh jadi apa nanti nih fic? Ya sutrah lah dipikir entar di next chapter.

Oh ya, soal Lee x Tenten, aku ingat di anime naruto yang entah episode berapa, pokoknya pas ujian chunin, itu ada adegan dimana Tenten blushing pas liat Lee latihan, so Ruru ngikut aja sama Om Kishimoto hehehe...

Nah minna-san silakan review ^_^

*Salam Cute*