A Cup of Love: [Dragon Fruit]
Wu Yi Fan x Huang Zi Tao
With their baby's! Zhuyi, Sophia, Boxuan, Xuetao, and the little one inside Zizi's stomach! :3
Drama / Slice of Life / MPreg / Comedy
Rating: T
Beware with the typo(s)!
.
.
.
Merelakan waktu istirahatnya berkurang demi sebuah tayangan pertandingan basket terbesar yang di tayangkan secara langsung oleh saluran khusus olahraga yang berasal dari Amerika, Yifan sampai memasang alarm di smarrphone nya agar tidak tertinggal barang semenitpun. Ajaib memang jika sebenarnya lelaki bertampang dingin yang sangat doyan dengan tidur itu dapat bangun hanya dengan bunyi alarm yang biasanya terabaikan sekeras apapun benda berbentuk kotak itu berbunyi.
Karena motto seorang Wu Yi Fan sejak menikah dengan Zitao adalah: "Pangeran tidur tidak akan bangun jika bukan sang Putri yang menciumnya" atau bisa juga, "Ciuman Zitao adalah kebutuhan terpenting dari segala hal penting di Dunia ini".
Ya silahkan saja menganggap Yifan itu gila atau semacamnya, karena memang yang paling di sukainya adalah hal apapun yang di lakukan Zitao. Si pemilik hatinya yang telah memberikan 4 orang anak, yang dalam hitungan bulan akan memberikan anak kelima untuknya.
Manis sekali bukan?
Sebisa mungkin, ia turun dari tempat tidur sepelan mungkin tanpa menimbulkan gerakan pegas spring bed yang mereka tempati agar Tao tak terbangun. Persis sepertu pencuri yang sedang menjarah, ia begitu hati-hati agar tak menciptakan bunyi apapun ketika memakai slipper berwarna hitam miliknya yang ada di bawah tempat tidur. Tanpa repot-repot membenahi piyamanya yang kusut, ia segera berjalan memutar tanpa suara. Menghampiri Tao yang masih nyenyak terlelap, meyibakkan poninya keatas kemudian memberi kecupan hangat di dahinya.
Setelah membenahi letak selimut, ia pun segera keluar dari kamar dan tetap menjaga tetap langkahnya agar tidak menimbulkan suara yang membangunkan keempat anaknya. Menuju Ruang santai, Yifan menyambar cepat remote televisi yang tergeletak diatas meja lalu menekan tombol on pada barang elektronik berlayar datar tersebut. Ia pun berangsur duduk diatas sofa berwarna biru muda di ruangan tersebut, sambil mencari saluran yang menayangkan berbagai program hingga akhirnya ia mendapatkan tayangan yang di inginkan.
Pertandingan olahrga basket yang di kenal dengan nama NBL, pantas saja jika Yifan rela bangun di tengah malam dan merelakan waktu istirahatnya bersama Tao hanya demi untuk menonton pertandingan basket yang amat tersohor itu. Karena Yifan adalah seorang basketball freak, dan ia juga pernah menjabat sebagai Kapten Tim Basket ketika masa sekolah. Tak heran jika Yifan sangat menyukai basket, apalagi dengan tubuh proposionalnya yang memang sangat tinggi, dan layak di kategorikan sebagai seorang atlet basket.
Dan saat ini pria berusia 32 tahun itu tengah berusaha menahan seruan atau teriakannya agar tidak lolos dan membuat gaduh di rumahnya sendiri. Yifan memang sangat menyukai basket, tapi bukan berarti bukan masalah baginya jika sampai membangunkan seisi rumah. Itu bodoh namanya.
Selagi Yifan sibuk menonton pertandingan, maka Tao tampak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun dari tidur nyenyaknya. Pria manis yang tengah hamil 3 bulan itu menggeliat kecil, dan ketika tangan kanannya yang tak sengaja meraba sisi tempat tidur yang lain dan tak menemukan tubuh Yifan yang seharusnya berbaring disana, iapun membuka matanya yang masih terasa lengket sambil mengangkat kepalanya sedikit.
"Gege?" panggilnya serak. Nyaris tak terdengar karena suaranya belum pulih.
Membalikkan tubuhnya perlahan kemudian bangkit duduk, Tao mengucek kedua matanya yang masih terasa berat. Setelah kesadarannya telah terkumpul perlahan, ia menatap ke seisi kamar dan tak menemukan sosok pria yang sangat di cintainya itu. Maka iapun turun dari tempat tidur dengan tangan kanan memegangi perutnya yang sedikit buncit, memakai slipper putih dengan aksen kepala Panda di bagian depan, dan meninggalkan ranjang.
Berjalan perlahan sambil menguap beberapa kali, Tao menuruni tangga dengan hati-hati. Dan dirinya dapat mendengar suara yang cukup berisik yang berasal dari arah Ruang Santai, tampak kerutan di dahinya ketika berjalan mendekat, namun kebingungannya sirna setelah melihat sosok Yifan yang duduk di salah satu sofa tengah menonton televisi yang di iringi pekikan kecil dan komentar protes ataupun kalimat penyemangat yang cukup di dengar di ruangan itu.
"Gege sedang apa?" suara Tao yang jernih dan lembut menjadi satu-satunya hal yang dapat mengalihkan perhatian Yifan dari layar televisi.
"Peach?" Yifan bangkit berdiri cepat. "Apa kau terbangun karena aku?" ia mengulurkan tangannya, dan di raih oleh Tao. Dengan lembut ia menarik si manis itu kearahnya, dan mendudukkannya perlahan.
"Tidak" Tao menggelengkan kepalanya imut. Tanpa sadar. "Aku tidak melihat gege di kamar jadi aku turun"
"Tidurlah lagi, ini masih pukul 2 dini hari" ucapnya, kembali mengalihkan pandangannya ke depan menonton televisi.
Tao menggembungkan pipinya lucu, sambil mengusap pelan perut buncitnya ua berkata, "Aku ingin makan buah naga gege" pintanya merajuk.
"Apa?" mata Yifan masih tertuju pada layar televisi.
"Buah naga, aku ingin itu~"
"Oh, iya. Sebentar sayang"
"Aku ingin sekarang ge~" Tao menarik-narik piyama atas Yifan, berusaha agar lelaki itu menoleh dan menatapnya.
"Iya iya. Tapi ini masih seru peach, nanti gege belikan"
"Aku maunya sekarang! Gege!"
Yifan tak bergeming, malah sibuk mengomentari para atlet tim basket favoritnya yang baru saja melakukan kesalahan. Pria Wu itu tampaknya terlalu fokus menonton tayangan hingga tak menyadari perubahan mood dan wajah Tao yang kini dahinya mulai berkerut kesal. Hingga si manis yang sedang berbadan dua itu pun bangkit berdiri dan menghentakkan kakinya kesal, tetap saja tak ada respon dari Yifan.
Tao benci ini. Selalu saja begitu, saat Yifan mulai menonton pertandingan basket entah itu di televisi atau secara langsung, suaminya itu pasti akan mengabaikannya. Dan ia sangat amat kesal, padahal dirinya sedang ingin makan buah naga, tapi Yifan malah tak mendengarnya.
Pria manis yang dulunya bermarga Huang itu baru saja melintas di depan kamar putri keduanya saat mendengar suara isakan dari balik pintu. Tao mengurungkan langkahnya dan kembali, membuka pintu kamar anak keduanya yang di cat merah muda, lalu melongok ke dalam celah.
"Sophia kenapa menangis sayang?" tanyanya terheran, sembari membuka pintu lebih lebar. Ia berjalan mendekat ke tempat tidur dimana putrinya yang cantik sedang terisak.
"Mommy-hiks...Sophia ingin-hiks...anak anjing mom-hiks...mommy~" gadis cantik berambut panjang itu merajuk dengan wajah merah karena menangis. Tao naik keatas tempat tidur, menyibak lembut helai coklat gelap milik putrinya, lalu menyeka air mata yang memabasahi wajah cantik gadis berusia 6 tahun itu.
"Anak anjing?" Tao mengelus lembut puncak kepala gadis kecilnya ketika Sophia meringsek ke pelukannya. Memeluk lehernya erat, dan merasakan anggukan kecil di lehernya.
"Kenapa tiba-tiba Sophia ingin anak anjing hm?"
"Sophia bermimpi mom. Teman-teman Sophia semuanya memiliki anjing, sedangkan Sophia tidak, mereka mengejek Sophia mom~"
"Sshh...jangan menangis, itu hanya mimpi sayang"
"Tapi Sophia ingin anak anjing!" Sophia melepas pelukannya di leher Tao dan bersikeras mengatakannya. Jika seperti ini gadis kecilnya itu sangat mirip dengan Yifan jika keras kepala mulai melanda pria berkebangsaan Kanada itu.
"Begini saja, besok kita tanyakan pada daddy. Sophia boleh memelihara anak anjing atau tidak, oke? Sekarang Sophia harus tidur karena besok sekolah" bujuk Tao, mengusap kecil pipi ranum putrinya.
"Mommy janji?"
Kepalanya terangguk. "Janji. Jadi sekarangー"
"Loh? Sophia kenapa bangun sayang?" suara husky Yifan menginterupsi kalimat Tao. Membuat Sophia dan 'istri' tercintanya itu menoleh kompak kearah pintu.
Berbeda dengan Sophia yang sumringah melihat daddy nya datang, Tao bereaksi sebaliknya. Kembali menautkan kedua alisnya, merengut sebal, dan mengalihkan tatapannya kearah lain ketika Yifan meraih Sophia yang berada di pelukannya. Pria Wu itu dengan mudah menggendong Sophia, dan menciumi pipinya.
"Sophia ingin anak anjing daddy~" pinta gadis cantik itu, melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher sang Ayah. Yifan mengernyit samar.
"Kenapa tiba-tiba Sophia ingin anak anjing hm?"
"Sophia mimpi buruk tadi" sahut Tao jutek, sambil bangkit berditi. Yifan pun beralih menatap 'istri'nya itu.
"Kau mau kemana?" tanyanya. Bingung karenaTao berjalan kearah pintu kamar.
"Tidur"
"Eh? Bukankah tadi kau bilang ingin makan buah naga?"
"Tidak lagi"
"Kenapa!?" entah kenapa Yifan jadi agak histeris. Tao membalikkan tubuhnya, menatap Yifan datar.
"Tidurlah di sofa, aku ingin sendirian di kamar. Mengerti?"
"What?!" Yifan melotot kaget. "Kenapa peach? Apa salahku!?"
"Tanyakan saja pada dirimu sendiri ge" ucapnya kembali berbalik, dan berjalan meninggalkan Yifan. Tapi sebelum itu ia sempat berkata...
"Tidurlah di sofa setelah menidurkan Sophia"
"Tungguh peach! Kau ingin makan buah naga 'kan? Gege punya 2! Atau kau juga mau minum jus buah naga? Akan gege berikan sekarang sayang!"
"Simpan saja untukmu sendiri!"
"Mana mungkin gege memakan buah gege sendiri! Peach!"
Terdengar suara debaman pintu kemudian. Yifan mengerang frustasi, karena Tao sudah terlanjur ngambek dan naasnya 'buah naga' nya sudah siap untuk di makan di bawah sana kini tersia-sia.
Yifan memang mesum. Tao menginginkan buah naga yang berupa buah-buahan, bukan buah naga yang bagian dari pisang jumbo Kanada miliknya.
"Sophia mau daddy!" gadis kecil di gendongannya menyahut.
"Mau apa sayang?" Yifan menatap bingung.
"Buah naga, 'kan sayang kalau buahnya tidak di makan daddy"
Seketika Yifan merutuki kelalaian mulutnya dalam berbicara hal semenjerumus itu di depan putrinya. Ingatkan dirinya untuk menampar mulutnya sendiri setelah berhasil membuat Sophia tidur.
The End
Yay #lesu semoga menarik ya part ini, suer gw jadi males banget buat ngetik, ide2 yang muncul juga ga tau kenapa kok ga berasa ngefeel kaya biasanya. Mana Zizi ga ada kabar pas syuting film sama Om Jackie, kan berasa kuah sop ga pake garem ini mah #plak
Oke deh, langsung review ya gaes :3
©Skykar.K
