That girl!
Main cast : Luhan, Oh Sehun
Other cast : You'll find it.
Warning : cerita ini merupakan genderswitch yang murni berasal dari khayalan tingkat tinggi ku sendiri :v. jika ada kesamaan cerita dan alur, sungguh itu tidak disengajai. aku membuat ini murni atas kemandatan mengerjakan novel hingga memilih menulis ff berdasar cinta pada Luhan.
Selamat membaca!
Luhan dibuat terheran-heran dengan ketiga orang pria tampan yang beberapa hari lalu baru ia kenal. Oh Sehun, Park Chanyeol, dan Kim Jongdae. Ketiga pria yang terpaut tiga tahun dari dirinya itu seakan bergilir memenuhi harinya. Dan hari ini ketiga namja tersebut muncul bersamaan di depan pintu perpustakaan nasional saat Luhan baru saja selesai menghabiskan waktunya menelusuri koleksi buku untuk bahan proposalnya. Keadaan semakin rumit tatkala Jongin hadir setelah sebelumnya izin ke toilet. Memang selain mencari bahan untuk proposalnya, Luhan hari ini juga membantu Jongin mengerjakan skripsinya. Pasalnya Jongin mengalami kebuntuan dalam menulis skripsinya sehingga ia perlu mengulang satu semester lagi untuk dapat lulus.
"Err oppa-deul, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Luhan pada ketiga pria tersebut.
Sehun, Chanyeol, dan Jongdae saling tatap dan merutuki kemunculan bersama mereka dalam hati. "Aku berniat menjemputmu." Kalimat tersebut terlontar bersamaan dari mulut Chanyeol dan Jongdae. Sehun memilih bungkam karena memang niatnya bukan hanya menjemput Luhan tapi ia memang ingin bertemu Luhan.
Luhan menggumamkan pengertiannya mendengar jawaban tersebut. "Geunde.. aku tidak merasa meminta dijemput oleh oppa saat menjawab pesan oppa yang bertanya aku sedang dimana?" Luhan sengaja membuat kalimatnya menjadi bentuk tanya karena merasa tidak enak. Sungguh, seingatnya ia hanya membalas dirinya sedang di perpustakaan nasional saat ketiga pria tersebut mengiriminya pesan bertanya mengenai keberadaan dirinya.
Chanyeol tertawa canggung sementara Jongdae menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ciri tanda salah tingkah keduanya. Jongin yang berdiri di sebelah Luhan menatap mengejek pada para hyung di depannya. Kecuali Sehun tentunya karena ekspresinya tetap tak berubah sedatar dinding, ia hanya terus menatap Luhan dengan mata elangnya.
"Sehun-oppa, kenapa menatapku?" Luhan yang jengah juga dengan keterdiaman Sehun akhirnya bertanya pada pria itu.
Sehun mengendikkan bahunya sebelum menjawab, "Ingin saja. Kau manis."
Perlu di catat, Sehun bukan tipe orang yang biasa mengumbar pujian. Ia juga bukan tipe pria yang bisa berkata-kata gombal. Definitely, not! Namun dua kalimat yang meluncur dari bibirnya barusan adalah kalimat jujur yang tidak bisa ia saring sebelum lontarkan. Seperti sebelumnya, anggota badannya selalu punya kehendak sendiri jika sudah berhadapan dengan gadis bermata rusa bernama Luhan.
Sejujurnya Sehun merutuki dirinya sendiri setelah berucap tersebut, akan tetapi respon Luhan di depannya membuatnya tidak jadi menyesal. Mata bening itu melebar dan pipinya dihiasi rona merah muda. Ugh, Sehun ingin sekali mencubit pipi gembul itu saat ini juga.
"Ish, Lulu tidak manis!" omelnya sambil menggembungkan pipinya dan menundukkan kepala malu.
Keempat pria yang berdiri di sekitarnya berteriak protes dalam hati masing-masing dan harus menahan diri mereka agar tidak mengantongi Luhan detik ini.
"Ah sudahlah, aku mau pulang. Annyeong Chanyeol dan Jongdae-oppa. Ayo, Jongin!" Luhan sengaja tidak menyapa Sehun karena masih kesal pada pria albino itu yang membuat dirinya malu. Ia berniat meraih lengan Jongin dengan kepala tertunduk dan segera berlalu dengan langkah cepat dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang.
Tapi apa daya, keterburu-buruannya membuat ia salah meraih lengan. Bukannya kulit kecokelatan milik Jongin yang kini di genggamnya melainkan kulit pucat. Luhan terlambat menyadari kesalahannya dan kini justru tangannya yang digenggam erat oleh Sehun. Dalam hitungan detik, Sehun menariknya dan memasukkannya pada mobil miliknya lalu menyuruh supirnya untuk tancap gas.
"Yah, Oh Sehun!" pekik Luhan kesal dan menatap ketiga pria lainnya yang kian jauh dari kaca belakang mobil.
Sehun terkikik geli melihat muka sebal Luhan yang membuatnya tidak tahan untuk tidak mencubit pangkal hidung Luhan. "Ish, sakit oppa!" rutuk Luhan menepis tangan Sehun. "Sudah menculik ku, sekarang aku dianiaya. Akan kulaporkan pada polisi, hmph!"
Luhan mengerucutkan bibirnya membuat jantung Sehun berhenti berdetak beberapa detik. Sehun mati-matian mengontrol dirinya, bagaimanapun juga ia lelaki dewasa normal dan gadis di depannya ini begitu menggoyahkan imannya.
Sehun berdeham menetralkan pikirannya. "Aku tidak menculikmu, kan kau yang meraih tanganku." Goda Sehun yang kembali sukses membuat rona alami di pipi Luhan.
Sudah diputuskan, membuat Luhan merona adalah kegiatan favorit nomor satu bagi Sehun mulai sekarang.
"A-aku tidak sengaja. Niatku kan mau meraih tangan Jongin. Lagipula kenapa kalian memakai warna baju yang sama?!"
Memang benar, hari ini baik Sehun maupun Jongin mengenakan kemeja polos berwarna hitam. Bedanya adalah kemeja Sehun dipadukan dengan celana bahan sedangkan milik Jongin dengan jins. Karena terburu-buru Luhan hanya langsung meraih tanpa memperhatikan detail.
"Well, aku bersyukur memilih kemeja ini tadi pagi." Ucapan Sehun membuat Luhan mendongakkan kepalanya menatap Sehun.
Sial beribu sial, Luhan tidak tahu ini sudah keberapa kalinya ia merona. Wajah Sehun dihadapannya saat ini adalah salah satu penyebabnya. Pria itu tersenyum lebar hingga menunjukkan eye smilenya, berbeda sekali dengan wajah datar yang biasa Luhan lihat. Bibir Luhan sampai membentuk huruf o kecil saking terpesonanya.
Cup!
Sehun tidak lagi bisa mengontrol dirinya melihat ekspresi Luhan yang begitu menggemaskan. Maka dengan cepat ia mencium pucuk hidung Luhan dan mengalihkan pandangannya ke jendela luar. Jika diteliti, ada rona merah muda tipis di pipi Sehun. Detak jantungnya bertalu begitu keras hingga kupingnya terasa berdengung. Pita suaranya gatal ingin berteriak girang. Namun seorang Oh Sehun tetaplah Oh Sehun, ia pandai sekali menyembunyikannya.
Bagaimana dengan Luhan? Gadis manis kita ini hanya bisa mematung tak bergerak. Otaknya berhenti bekerja dan keadaannya tetap seperti itu hingga Sehun mengusak kepalanya.
"Hei kita sudah sampai."
Kalimat itu membangunkan Luhan dari disorientasinya dan ia memandang sekitar. Oh itu rumahnya, berarti ia sudah harus turun.
"Gomawo, oppa." Ucapnya tanpa berani melihat kearah Sehun.
Tangan Sehun yang masih berada di rambut Luhan kembali mengusak perlahan mengalirkan kegemasannya. "Eum. Masuklah."
Luhan menganggukkan kepalanya lalu berbalik untuk membuka pintu mobil. Ia berjalan cepat memasuki rumah tanpa berani menengok ke belakang. Deru suara mobil menjauh membuatnya menghela napas lega. Ternyata sejak tadi tanpa sadar ia menahan napasnya.
"Eh, Lulu sudah pulang?" eomma Luhan yang berjalan menuju pintu rumah dibuat heran karena kemunculan putrinya. Ia semakin heran saat melihat kondisi putrinya. "Lulu? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kamu demam, hm?"
Bukan jawaban yang Ny. Xi dapatkan, melainkan rengekan si buah hati yang tiba-tiba menghambur kearahnya. "Eomma! Huee.."
Security dan resepsionis kantor Sehun dibuat ternganga pagi ini. Mengapa? Karena sosok yang lewat dihadapan mereka tengah memasang senyuman di wajahnya. Seumur-umur baru kali ini mereka melihat sang direktur dingin itu tersenyum.
Chanyeol yang berpapasan dengan Sehun di lift direksi hanya memutar bola matanya malas melihat ekspresi sahabatnya. "Dasar curang!" sindirnya membuat Sehun justru mengubah senyumnya menjadi seringaian.
Sebelum pintu lift tertutup, batang hidung Jongdae muncul membuat lift kembali terbuka. Jongdae mengumpat pelan menyadari isi lift. Sehun dengan sifat jahilnya justru menyapa Jongdae riang, "Pagi, Dae."
Jongdae mendengus mendengarnya namun tetap membalas, "Ne, pagi."
"Hari ini cerah ya." Nada ceria Sehun membuat Jongdae dan Chanyeol rasanya mau muntah. Sesenang itukah si datar ini sampai melontarkan kalimat tak penting seperti itu?
"Kau hanya beruntung kemarin." Ketus Jongdae yang membuat senyum tengil kembali menghiasi wajah tampan Sehun.
"Eum, sangat beruntung!" gumam Sehun membenarkan. Lalu seringaian liciknya tidak bisa lagi terpendam ketika ia mengatakan, "Saking beruntungnya aku bahkan menciumnya~"
Chanyeol dan Jongdae tersedak ludah mereka sendiri dan menatap horror pada Sehun.
Ting!
Bunyi membukanya pintu lift di lantai 25 di detik itu juga membuat Sehun berlalu cepat dengan kekehan setan miliknya meninggalkan Jongdae dan Chanyeol yang masih terkejut di belakangnya.
"Yah Oh Sehun! Kau mencium bagian mana?!"
"Bukan bibirnya kan?! Katakan bukan!"
"Yah Sehun sialan! Jangan kabur!"
"Jelaskan ucapanmu, setan! Oh mimpi apa aku semalam.."
Umpatan dan pertanyaan beruntun dari Chanyeol dan Jongdae membuat Sehun semakin terbahak sedangkan sekretaris ketiganya hanya bisa melongok melihat bos-bos mereka melakukan sumpah serapah di pagi hari.
"Luu~ kau tak apa, kan? Si datar itu tidak mengapa-apakan mu, kan?" Jongin terus saja merengek di samping Luhan membuat Luhan memutar bola matanya.
"Kim Jongin, sekali lagi kau bertanya aku akan memplester bibir tebalmu itu!" ancam Luhan.
Bukannya takut, Jongin justru menganyun-ayunkan lengan kanan Luhan yang di genggamnya. "Ayolah, Lu aku kan hanya memastikan~"
Luhan menghela napas panjang dan melepas genggaman Jongin. Risih juga saat orang lain menggerak-gerakkan anggota tubuhmu seperti itu. "Dengarkan aku ne Jonginie, Lulu tak apa. Sehun-oppa tidak melalukan apapun pada Lulu. Jadi berhenti bertanya, eo? Jebal, Lulu bosan mendengarnya."
Jongin menatap Luhan lekat sebelum mengangguk. Ia bisa melihat pancaran sesuatu di mata Luhan kala gadis itu meyakinkannya. Namun karena Luhan telah mengatakan bahwa tidak terjadi apapun, ia memutuskan untuk percaya. Toh selama ini Luhan tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Atau mungkin sekarang iya? Hmm author tak mau jawab~
Sejujurnya setelah menangis meraung-raung dan menceritakan pada sang eomma, Luhan memutuskan untuk melupakan kejadian memalukan yang dialaminya dengan Sehun. Eommanya justru tertawa terbahak mendengar cerita Luhan membuat gadis itu merajuk luar biasa. Apalagi tadi pagi sang eomma tidak berhenti menggodanya dengan bertanya, 'Apakah kau akan bertemu dengannya lagi hari ini? Oh, eomma harap iya!'
Semenjak itu Luhan bertekad untuk tidak pernah mengungkitnya pada orang lain. Rahasiakan, lupakan, dan kubur jauh-jauh adalah keputusan Luhan. Daripada ia menyesal lagi, bukan?
"Kau ada kelas kan lima belas menit lagi?" tanya Luhan pada Jongin setelah melirik jam tangan di pergelangannya.
"Eo! Kau tak apa aku tinggal? Dimana sepupumu yang bawel itu? Kenapa belum muncul juga?" Jongin melirik ke kanan dan kiri mencari sosok familiar yang dikenalnya.
Luhan terkekeh mendengar ucapan Jongin. "Ia telat bangun, aku sudah mengiriminya pesan tadi."
"Ck, selain berisik ternyata juga tukang tidur." Cibir Jongin membuat Luhan memukul lengan Jongin pelan.
"Yah, dia itu sepupuku tahu! Lagipula aku juga tukang tidur, Jonginie."
Jongin yang gemas dengan muka cemberut Luhan memutuskan untuk mengacak rambutnya saja. "Ne ne ne, kalau begitu aku ke kelas dulu ya. Kabari aku jika sudah selesai."
Luhan mengangguk dan mengucapkan kalimat penyemangat sebelum berpisah. "Fighting!"
"Xi Luhan!"
Panggilan bersuara keras itu menggema di lorong kampus membuat Luhan berhenti melangkahkan kakinya. Gadis itu berbalik dan melihat seorang tengah berlari kearahnya dengan tergesa-gesa.
"Ya Tuhan, Baekkie tidak perlu berteriak sekencang itu." tegur Luhan padanya.
Baekkie atau lengkapnya Byun Baekhyun yang merupakan sepupu Luhan ini mengibaskan tangannya tak peduli dan memilih menunjuk Luhan tepat di wajah. "Kau! Kenapa kau begitu susah ditemui, sih?"
Luhan mengangkat alisnya tak mengerti. "Aku berada di ruangan Prof. Lee. Bukankah sudah kubilang tadi pagi melalui pesan?"
Baekhyun menepuk keningnya mendengar pernyataan Luhan. "Astaga aku lupa! Hehehe," cengiran lebar kini menghiasi wajah imutnya. "Ah, tapi itu tidak penting! Ada sesuatu yang perlu kutunjukkan padamu sekarang. Ayo!" tanpa aba-aba, Baekhyun menarik lengan Luhan dan berjalan menuju kantin Universitas Seoul.
Suasana kantin secara ajaib dipenuhi oleh mahasiswa padahal ini masih merupakan waktu liburan karena tahun ajaran baru dimulai sekitar empat bulan lagi. Namun semester pendek memang diselenggarakan di waktu ini, terutama untuk mahasiswa-mahasiswa seperti Jongin dan Baekhyun yang berada di tingkat akhir.
Luhan yang notabene baru menamatkan pendidikan sarjananya berniat melanjutkan studi masternya disini. Itulah mengapa ia menghabskan seharian di ruangan professor guna mendekati secara personal pembimbing masa depannya.
Baekhyun menggeret Luhan menuju meja di pinggir ruangan. Ia lalu merunduk dan berbisik semangat pada Luhan.
"Psst, kau lihat kerumunan di arah jam dua?"
Luhan menggerakkan kepalanya menuju arah yang dimaksud Baekhyun. Disana memang terdapat kerumunan mahasiswi yang entah melihati apa. Luhan mengangguk mengiyakan.
Kini gadis itu menghentakkan kakinya ditempat dan memekik bahagia membuat Luhan semakin bingung akan tingkah sepupunya tersebut. "Baekkie~ neo gwaenchana?"
Baekhyun mendelik melihat Luhan lalu kembali berbisik, "Ish kau ini. memangnya kau tidak lihat objek menyilaukan disana?"
Luhan menolehkan kembali kepalanya mencari sesuatu yang berkilau namun nihil. "Tidak ada yang berkilau. Kau bicara apa sih, Baek?"
Baekhyun yang kesal dengan kelambatan sepupu rusanya ini mendecak tak sabar dan menengokkan kepalanya kearah kerumunan tersebut.
"Itu Luhan ituu! Ya ampun aku tidak habis pikir bagaiman bisa kau tidak melihat orang setampan itu!" Kebahagiaan Baekhyun melihat sosok itu membuatnya lupa untuk berbisik dan malah semangat berteriak dengan suara melengkingnya.
Pekikan Baekhyun tertangkap telinga seseorang yang tengah duduk memainkan ponselnya di tangan kiri dan meminum bubble tea cokelat dengan tangan kanan. Satu buah bubble tea rasa taro bertengger manis di meja depannya.
'Luhan?' seketika saja orang tersebut mengangkat kepalanya dari layar ponsel dan menengok ke kanan dan kiri.
Sehun menemukan objek yang dicarinya selama satu jam ini saat mata elangnya menemukan binaran cemerlang mata rusa itu. Luhan terlihat terkejut begitu menyadari matanya beradu dengan milik Sehun dan semburat pink mulai menghiasi pipinya. Sehun mengulum senyum menyadari itu dan Luhan segera menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasang wajah biasa kembali.
'Hmm, menarik.' Batin Sehun.
Dengan langkah pasti ia bergerak menuju Luhan tanpa sekalipun melepas tatapannya dari rusa mungilnya tersebut.
"Sudah selesai?" tanyanya begitu sampai di depan Luhan.
Sosok yang ditanya malah mengerjapkan mata beningnya berulang kali. "Eh, oppa disini menemuiku?"
Sehun mengangguk, "Aku sudah bilang akan menjemputmu bukan?"
Luhan terkesiap mendengarnya dan dengan segera melirik kearah jam tangannya. "Aku pikir kau bercanda dan lagipula tadi pagi aku bilang akan pulang pukul 4, sekarang bahkan sudah pukul 5 lewat, oppa!"
Memang sebelum Luhan masuk keruangan Profesor Lee, ponselnya bergetar menampilkan nama Sehun disana. Awalnya Luhan tidak ingin mengangkatnya karena masih malu. Namun lari dari masalah bukanlah gaya Luhan sehingga ia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
Sehun hanya tersenyum dan mengacak rambut Luhan. "Mengapa tidak menghubungiku?"
"Aku sudah menelponmu tapi tidak kau angkat. Dan aku sudah mengirimkan pesan." Jawab Sehun sambil lalu.
Luhan menepuk tangannya sendiri dan segera meraih ponselnya yang berada di ransel. Belasan panggilan tak terjawab dari Baekhyun, Jongin, dan satu dari Sehun. Tiga buah pesan dari Sehun juga terlihat disana.
1. Aku akan menjemputmu pukul 4. Tunggu aku.
2. Han, aku sudah sampai kutunggu di kantin. Oh, apa kau suka bubble tea?
3. Jika sudah selesai kabari aku.
Dengan perlahan Luhan mendongak dan menyengir pada Sehun. "Mian oppa, aku men-silent ponselku selama bertemu professor. Kau pasti menunggu lama."
Selama 25 tahun hidupnya, Sehun tidak pernah menunggu untuk orang lain. Ia tidak pernah mau repot-repot mengorbankan waktunya. Hei, waktu itu berharga. Tapi hari ini ia bahkan pulang lebih awal dari kantor dan segera menuju kampus tempat Luhan berada. Ia bahkan rela berdiam diri memainkan ponsel selama satu jam lamanya dikelilingi puluhan mahasiswi yang menatapnya tak berkedip.
'Setelah dipikir-pikir kenapa aku mau melakukan ini ya?' monolog Sehun.
"Tak apa. Siap pulang sekarang?" Sehun mengulurkan tangannya pada Luhan yang disambut oleh si gadis dengan tundukan kepala untuk menyembunyikan rona wajahnya. Sehun mengaitkan jari jemarinya pada Luhan. Rasanya sangat pas, membuat Sehun tanpa sadar tersenyum. Ugh, ingin sekali Sehun memeluk Luhan detik ini juga.
"Err, Luhan?" suara seseorang membuat momen dunia milik berdua itu terinterupsi. Sehun menoleh kearah samping dimana seorang gadis dengan eye liner menatap ke arahnya malu-malu.
"Ah, oppa. Ini sepupuku." Luhan melepaskan tautan tangannya dengan Sehun dan beranjak merangkul sang sepupu membuat Sehun merengut kecewa namun segera kembali memasang wajah datarnya.
Sehun menatap si sepupu pengganggu itu membuat yang ditatap salah tingkah. "Baekkie ini Sehun-oppa. Teman dari Suho-oppa, kakaknya Jongin."
"Oh Sehun." Ucap Sehun cepat ingin segera menyudahi acara berkenalan ini dan kembali menggenggam tangan Luhan.
"Byun Baekhyun-imnida." Ucap si gadis dengan wajah merah.
"Nah sekarang kita pulang?" Sehun kembali merentangkan tangannya kearah Luhan yang untungnya menerima sehingga Sehun bisa menariknya mendekat kembali padanya. Hal ini Sehun lakukan karena saat ini ia sudah melihat penampakan bocah pengganggu lainnya.
Detik berikutnya ia ingin sekali melempar bubble tea vanilla untuk Luhan kearah bocah itu untuk menyumpal mulutnya. "Lu!"
Panggilan itu membuat Luhan menoleh dan melambai kearah si pemanggil. "Jongin!"
Kim Jongin dengan segera berlari menuju tempat Luhan dan menatap tak suka pada tangan Sehun yang menggenggam jari-jari Luhan. "Kau tidak menghubungiku kalau sudah selesai." Ucapnya pada Luhan.
"Hehe, aku lupa. Ponselku aku silent."
"Lalu untuk apa hyung disini? Dan kenapa menggenggam tangan Luhan?" Jongin bertanya pada Sehun dan nada kesal jelas terdengar.
Sehun menunjukkan seringaiannya pada si bocah berkulit cokelat di depannya. Meskipun mereka terpaut tiga tahun tapi tinggi mereka setara. "Aku menjemput Luhan, wae?"
Jongin berdecih mendengarnya. "Cih, kan tidak perlu sampai menggenggamnya seperti itu. Memangnya Luhan akan lari apa?"
"Kenapa memangnya, kau cemburu?"
"Ne!"
Jawaban Jongin membuat Baekhyun memekik sementara Luhan yang menjadi topic utama hanya memandang bingung kearah dua namja di sampingnya.
Sehun kembali menyeringai setan saat mendengar jawaban Jongin. 'Bocah memang mudah sekali diperalat,' batinnya.
"Oh benarkah? Memangnya apa statusmu dengan Luhan sehingga kau bisa melarangku?"
Jongin mati kutu mendengar ucapan Sehun. Meskipun ia telah menyukai Luhan sejak pertama kali berkenalan dengan gadis itu yang berarti sudah tujuh tahun lamanya, ia tidak pernah mengungkapkannya pada Luhan. Ia takut mengalami penolakan sehingga memilih memendam rasanya dan setia menjadi sahabat Luhan.
Ingin sekali Sehun tertawa melihat ekspresi pias di wajah Jongin. Namun kesenangan itu lenyap karena Luhan bersuara di sampingnya.
"Jongin sudah bersamaku selama tujuh tahun, oppa. Dia bahkan lebih tahu aku dibanding diriku sendiri. Aku rasa ia punya hak untuk melarang." Ucap gadis bermata rusa itu dengan wajah polosnya. Kini giliran Jongin yang menyeringai membuat Sehun geram bukan kepalang.
kyaa chap baru~ haha aku niat sekali buat ini makanya updatenya kelewat cepat
terimakasih pada BeibiEXOl yang sudah memberikan review! ^^ semoga chap ini sama menariknya yaa
sekali lagi aku ucapkan, mohon reviewnya kakak2~
sampai ketemu lagi di chap berikutnya!
