Genre: Action (Real) dan Humor (Main), Sport (Car Racing & Tuning), Drama (Tidak yakin)

Rating: M (bahkan bisa saja MA)

Warning: Typo, OOC, Not canon, Non KBBI


Disclaimer:

Shutokou Battle dan Kaido Battle Series © Genki

Drift Spirits © Bandai Namco

High School DxD © Ichiei Ishibumi (Visual) & Miyama-Zero (Ilustrasi)

Initial D © Shuichi Shigeno

Wangan Midnight © Michiharu Kusunoki


"Drift": Talking / Bicara

'Drift': Thinking / Berpikir / Mental Communication / Telepati

Drift: Pesan / SMS

"Drift": Telepon

*Drift*: Efek Suara

{Drift}: Talking / Bicara (Monster / Sejenisnya)

{Drift}: Thinking / Berpikir (Monster / Sejenisnya)

[Drift]: Legenda / Keterangan khusus

(Drift): Comment para pembaca / author / breaking the 4th wall comment


Mohon maaf sebelumnya bila gua agak telat update cerita ini, karena baru saja mendapatkan kabar buruk. Kelihatannya DRSP akan mematikan server Internationalnya pada pertengahan Maret. Oleh karena itu, gua memutuskan untuk bermain di versi Jepang.

Selain itu, kurangnya mood and inspirasi menyebabkan author agak blank. Mungkin saja ini akan diupdate dalam bahasa Inggris.

Anyway, here's the next story, silahkan dibaca


SHUTOKOU BATTLE: INTO FAITH

Arc 1: The Beginning of Legend (Awal Legenda)

Episode 2: New teacher?! Chaos?! Your nickname is Valletta too?! What The Heck With This Reunion?! (Guru baru?! Kacau?! Nama panggilanmu Valletta juga?! Apa-Apaan Reuni Ini?!)

Gedung Klub Mekanik, Kuoh Academy, Kuoh, Distrik Hiratsuka, Prefektur Kanagawa

02:00 pm

Normal POV

"Eh...Eeeh...EEEEEHHHHHHHHHHHHHHH?!"

Teriak Haruka kembali membahana saat Valletta memperkenalkan dirinya.

"Pa...panggilanmu Valletta?" tanya Haruka yang masih ga percaya dengan pernyataan yang diberikan oleh pemuda di depannya (alias Valletta).

"Iya, nama panggilanku Valletta, ada apa?" tanya Valletta dengan kepala dimiringkan ke kanan.

Kali ini Haruka berhasil pulih dari mode paniknya dan menghela nafasnya. "Aku tidak sadar kalau Valletta-san punya nama yang sama dengan julukan balap dari ketua klub," ujarnya.

"Julukan balap? Emang nama aslinya si Mirage Valletta siapa?"

"Namanya..."

*TOK...TOK...TOK!*

Terdengar bunyi suara pintu diketuk, sehingga Haruka yang tadinya mau memberitahukan nama asli dari Mirage Valletta alias Hakone Emperor harus menghentikan percakapannya dengan Valletta.

"Woi...Haruka, ini gua, buka pintunya," terdengar bunyi yang tak asing oleh Haruka dan dengan segera dia membukakan pintunya.

"Valletta...tunggu disini dan jangan keluar sampai aku suruh keluar, mengerti?" perintah Haruka yang hanya dibalas oleh anggukkan dan dua kata universal khas dari seorang ninja yang bermarga cukup besar di suatu daerah (Author: Dan jangan suruh gua nyebut marga atau beresiko dibunuh oleh anggota klan tersebut, mengerti?; Reader: (bergidik ngeri dan langsung menganggukan kepalanya); Author: Good).

"Hn."

Dan dengan segera Haruka keluar dari ruang santai dan menuju ke pintu masuk/keluar dan segera membukakan pintunya.

Dari dalam pintu, tampaklah dua orang perempuan yang masuk ke dalam ruangan bengkel. Perempuan yang paling depan adalah perempuan dengan berambut merah kecoklatan dipadu ikatan twin tail (khas Asuka Langley Soryu) dan mata berwarna merah coklat yang mengenakan seragam khas Kuoh Academy yang cukup pas dengan lekukan tubuhnya.

Adapun perempuan kedua adalah perempuan dengan rambut pendek warna biru dengan gaya menyerupai bob. Dia juga mengenakan pakaian yang sama dengan perempuan pertama, namun lebih pendek secara tinggi dan lebih berisi (Valletta: Atau lebih tepatnya...bohai; Author: Woi, walah ngerusuh narasi gua ini anak...tunggu dulu (menatap perempuan kedua dengan kekuatan absolut milik author kemudian menyeringai), mampuslah kau nak; Valletta: Mampus? Gua? Oh sial, jangan-jangan...)

"Akhirnya...bisa lolos juga dari si kutu kupret Shitori itu, sempat kaget gua pas dia ada dekat gedung," ujar perempuan pertama sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya untuk duduk di sofa.

"Er...Valletta, apa ini tidak apa-apa? Kalo sampai ketahuan sensei [1] bisa dihukum kita," balas perempuan kedua [tentu saja kepada perempuan pertama] dengan nada khawatir.

"Yaelah...gitu aja kok dimasalahkan, Namiko. Bosen gua denger celotehnya, keburu tua gua," balas perempuan pertama aka Valletta [dimana nama ini masih nama panggilan battle] dengan santai kepada perempuan kedua yang dikenal sebagai Namiko.

'Iya juga sih, agak bosen juga,' Namiko hanya menganggukkan kepalanya namun agak sedikit grogi. Di saat itulah Valletta keluar.

'Haus...minum ma...Fuck, Namiko?!' teriak Valletta dalam hati disertai chibi Valletta laki-laki yang gerak-gerak gaje [kita bedakan saja panggilannya dengan tambahan gender unutk sementara ini] saat melihat dua orang yang ternyata adalah Namiko [yang dia kenal saat pertama kali bertemu saat di Fukuoka] dan seorang perempuan lain dengan rambut merah coklat twintail (Author: Hehe...rasakan; Valletta: Sial, dua tahun dah lewat dan makin gede makin bohay; Author: Ah, alpha harem mas?; Valletta: (menatap the invinsible and absolute Author) Belum tau harem atau single...liat aja perkembangannya).

'Eh...dia lumayan cakep juga...apa dia penantang baru?' pikir perempuan pertama aka Valletta dan Namiko.

"Er...Haruka, dia siapa? Apa dia penantang baru?" Tanya Namiko yang bingung saat melihat Valletta yang perempuan hanya celingukan melihat orang yang menurutnya asing [baca: Valletta yang laki-laki] yang ternyata mengambil air minum.

'Kenapa kau malah keluar Valletta?' pikir Haruka yang didalam gambarnya ada chibi Haruka facepalm karena Valletta [yang laki] justru malah menampakkan dirinya.

'Haaah, baiklah Haruka...tenang,' Haruka menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya berbicara, "Bukan...bukan dia Namiko. Kau tahu kan ketika aku mengatakan Tsuchi-sensei akan segera pensiun dari dunia hashiriya [2]?"

"Iya, dan dia mengatakan akan membawa guru pembina baru untuk menemani Haruka. Tapi ada apa kaitannya dengan dia?" Tanya Namiko.

"Er...Namiko, sebenarnya dia ini adalah guru pembina baru di klub ini...sekaligus merangkap sebagai mekanik baru yang bekerja di bengkelku mulai besok," balas Haruka.

Dan kontan saja, Valletta yang perempuan [sebenarnya hanya nama panggilan, namun Valletta yang laki-laki belum sadar] dan Namiko sukses dibuat kaget.

"EEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!"

Adapun orang yang dibilang sebagai pembina baru mereka nyaris memuncratkan air yang dia minum sebelum berteriak menyatakan keberatan.

"Woi Haruka, paman Tsuchi belum bilang yang itu! Gua belum dikasih..."

*BRRTTTTT! BRRTTTTT! BRRTTTTT!*

Hp Valletta yang laki pun bergetar dalam kantongnya dan dengan segera dia mengambilnya. Dia sempat melihat caller ID di hpnya sebelum menerima telepon tersebut. "Sebentar...ini orangnya telpon gua," lanjutnya.

"Ada apa, Paman Tsuchi?"

"Ah Valletta, aku lupa bilang...kau sudah kudaftarkan menjadi pembina baru di klub mekanik. Jadi kemampuan gila tapi jeniusmu bisa kau ajarkan pada para murid akademi Kuoh. Suratnya sudah diterima dan disetujui oleh Kepsek. Nah sebelum kau protes mengenai urusan bayaran...kau jangan salah, bayarannya malah lebih gede dari gaji di bengkel dan waktu kerjamu hanya dua jam saja kok. Nah, sudah dulu ya, dah," terdengar bunyi Paman Tsuchi di hp Valletta sebelum terdengar.

*TUUUUUUUUUT!*

"Er...Valletta, ada apa?" Tanya Haruka kepada Valletta yang laki, adapun Valletta yang perempuan dan Namiko hanya melongo melihat ekspresi Valletta yang laki atas percakapan yang diputus sepihak oleh Paman Tsuchi [atau Tsuchi-sensei, menurut sudut pandang Namiko, Valletta yang perempuan, dan Haruka].

"WWUUUUUAANNNJRRRRIITTTTTTT!" Teriak Valletta dengan respon gaje. Namiko, Valletta yang perempuan, dan disusul oleh Haruka melongo melihatnya.

Sejurus kemudian Valletta menghela nafasnya sebelum akhirnya perempatan muncul di kepalanya, "Paman dodol garut, seenak jidat ente malah nyuruh gua jadi guru pembina. Belum pernah merasakan panci melayang ke kepala atau dibantai Bibi Miwa dia ternyata," ucapnya sambil mengungkapkan kekesalannya atas keputusan sepihak yang dibuat oleh Paman Tsuchi tanpa meminta persetujuannya. Hal ini sempat membuat Namiko, Haruka, dan Valletta yang perempuan menjadi sedikit bergidik ketakutan, namun dia langsung kembali menenangkan dirinya setelah dia berteriak.

"Maaf ya gua begini. Ternyata...dia belum bilang ke gua," ujar Valletta yang laki-laki. Pernyataan ini membuat ketiga orang selain dia langsung menghembuskan nafas lega.

'Pantas dia teriak gaje tadi. Ya, Tsuchi-sensei emang suka dadakan kalo kasih berita,' pikir Haruka tadi.

Sedangkan Valletta yang laki-laki menatap mereka bertiga, 'Ya sudahlah, gua terima aja. Lagipula anggota klub mekanik pada bohai semua,' pikirnyaa sambil tersenyum sedikit mesum dan membayangkan tubuh mereka bertiga tanpa sehelai benang pun [3].

"Tu...tunggu dulu," ucap Valletta yang perempuan kepada Valletta yang laki-laki, membuyarkan konsenterasi Valletta yang laki-laki yang kebetulan sedang berkhayal mengenai tubuh halus tanpa sehelai benang pun.

"Eh...iya?"

"Hubunganmu dengan Tsuchi-sensei apa?" tanya Valletta perempuan kepada Valletta laki-laki.

"Hubunganku ya?" Valletta yang laki-laki sempat berhenti sejenak untuk memikirkan respon untuk pertanyaan tersebut sebelum akhirnya dia tersenyum, "Aku kenal Paman Tsuchi atau yang biasa kalian sebut Tsuchi-sensei pertama kali di Fukuoka, dan aku adalah murid yang paling pertama diajari kemampuan mengemudi dan mekanik olehnya," balasnya.

Dan jawaban itu sukses membuat mata Valletta perempuan dan Haruka berbinar-binar.

'Anjrit...murid paling pertama...was kesempatan emas untuk mengembangkan skillku,' begitu pikir mereka berdua.

Adapun untuk Namiko, kata Fukuoka meningatkannya akan sesuatu.

"Tunggu, Fukuoka?" tanya Namiko keheranan. Valletta hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

'Tapi, kenapa wajahnya agak familiar akan seseorang yang akrab dengan kakakku?' Namiko yakin bahwa dia pernah bertemu dengannya di Fukuoka, sehingga membuat Namiko semakin ingin tahu sehingga dia memutuskan untuk bertanya kembali. 'Coba tanya dulu lah...'

"Er...kau siapa?"

*GUBRAK!*

"WAARRRGGGGHHHHH!"

Pertanyaan yang dilontarkan Namiko barusan sukses menjungkalkan Valletta yang laki-laki dan membuat Valletta perempuan dan Haruka sweatdrop berjamaah.

'Disitu kadang saya merasa bingung atas Namiko kadang-kadang agak error,' pikir Haruka sambil geleng-geleng kepala.

Adapun Valletta perempuan hanya melontarkan satu kata saja.

"Yasalam."

Beberapa saat kemudian Valletta yang laki terbangun dan langsung menghela nafasnya, "Shirokawa Namiko, gua teman kakakmu," ujarnya.

'Tu...tunggu, dia kenal kakaknya Namiko, Sho Shirokawa yang dulunya Hakone Emperor?' pikir Valletta perempuan dan Haruka yang terkejut atas ucapan Valletta yang laki-laki barusan.

Adapun Namiko sempat menatap Valletta laki-laki dengan tatapan datar sebelum akhirnya meledak dalam ekspresi kaget.

"A...APA?!" Teriak Namiko, "Ka...kau sepupunya Toshihiro dan Chinatsu yang dari Indonesia?"

"Ah, iya yang itu," respon Valletta laki-laki dengan senyum, 'Dia masih kenal Chinatsu dan Toshihiro ya? Harus kuakui, walaupun dia agak sedikit error, namun dia masih ingat nama orang dua tahun yang lalu,' pikirnya.

'Oh...dari sono ternyata...' pikir Valletta perempuan saat mengetahui alasan mengapa Valletta yang laki-laki (dia belum sadar akan nama panggilannya sama dengan nama panggilannya) mengetahui hubungannya dengan kakak Namiko.

"Er...maaf, tapi aku kurang ingat namamu, Aleta, Valta, atau Velta ya?" ucap Namiko dengan sejujur-jujurnya sambil mencoba untuk mengingat nama asli Valletta yang laki-laki.

"WAARRRGGGGHHHHH!"

*GUBRAK!*

Kali ini giliran Haruka dan Valletta yang perempuan yang terjungkal atas jawaban Namiko. Sedangkan Valletta laki-laki hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Pantas si Sho agak sedikit protektif terhadapmu, kau agak polos sih," ucap Valletta yang laki-laki yang membuat raut wajah Namiko sedikit memerah dicampur ekspresi kaget karena orang didepannya, yakni sepupu Toshihiro dan Chinatsu, ternyata mengenal kakaknya.

'Dan kadang-kadang kau masih agak telmi[4]...mungkin error,' pikir Valletta yang laki-laki sambil melihat dua orang yang terjungkal barusan. Dan beberapa saat kemudian, Haruka dan Valletta yang perempuan terbangun dari jatuhnya.

"Seriously Namiko, sumpah kau terlalu polos dan pelupa ketika tidak berbicara tentang balapan," ujar Valletta yang perempuan dengan blak-blakan.

"Mou...Valletta," balas Namiko dengan cemberut disertai pipi menggembung. Untungnya Haruka dan Valletta yang perempuan tidak melihat ekspresi wajah Namiko saat mendengar ucapan jujur dari Valletta yang laki-laki. Dan omongan ini memicu adu mulut antara Namiko dan Valletta yang perempuan.

"Dasar playgirl," ledek Namiko.

"Playgirl? Wah, cewek puitis..." ledek balik Valletta yang perempuan.

"Hey, setidaknya puitis itu lebih baik, daripada tukang goda."

"Mending tukang goda..."

"Baiklah, baiklah, time out...Namiko dan er...kau hentikan adu mulut kalian," lerai Valletta. Hal ini sukses menghentikan adu mulut antara Namiko dan Valletta yang perempuan.

"Hummph," Namiko menurutinya walaupun harus menggembungkan pipinya.

"Ke...kenapa...sensei, aku belum selesai menggodanya." Adapun Valletta yang perempuan merespon dengan nada cemberut. Dia tidak sadar bahwa ini akan segera memicu "ledakan" dari Valletta yang laki-laki.

"Nona..." ujar Valletta sambil menghela nafas, "KITA BEREMPAT BELUM MEMPERKENALKAN DIRI KITA SECARA RESMI DALAM KEGIATAN PERTAMA KITA KAMPRET!" teriak Valletta yang laki-laki, yang sukses membuat Haruka, Namiko, dan Valletta yang perempuan kembali bergidik ngeri.

'Me...mengerikan, persis seperti kakak pas marah besar,' pikir Namiko saat melihat Valletta yang laki-laki yang diliputi oleh rasa amarah persis seperti kakaknya.

Untungnya amarah itu hanya sejenak saja seperti sebelumnya, karena Valletta langsung menghela nafasnya untuk menenangkan diri.

'Er...harus kuakui dia bener juga sih,' pikir Valletta yang perempuan sambil manggut-manggut karena mereka belum berkenalan secara resmi.

"Oke...daripada di sini terjadi Perang Dunia III, aku sebagai pembina baru kalian akan..."

*DING DONG! DING DONG! DING DONG!*

Bunyi bel terdengar nyaring sehingga menghentikan Valletta yang laki-laki untuk memperkenalkan dirinya.

"Wahh...sudah jam 3...yeeaaaahhhh sekolah selesai dan si kutu Shitori tidak muncul untuk menghukumku, yeahhh. Rasakan itu, kutu kupret," ujar Valletta perempuan dengan senyum bahagia penuh kemenangan. Adapun Namiko, Haruka, dan Valletta yang laki-laki hanya tersenyum grogi disusul dengan sweatdrop berjamaah.

"Ada masalah apa dia dengan Shitori?" tanya Valletta yang laki-laki.

"Jangankan aku...Namiko saja sebagai teman baikknya tidak tahu akan permasalahan antara dia dengan Shitori," jawab Haruka.

"Tapi mungkin anggota 'tidak resmi kami' bisa menjelaskan alasannya," sanggah Namiko.

"Er...sensei bisa menunggu sebentar, aku akan menginformasikan anggota kita tentang pembina baru di klub ini," ujar Valletta yang perempuan setelah selesai dengan ekspresi kemenangannya [yang gaje di mata Valletta yang laki-laki, Namiko, dan Haruka] sebelum akhirnya dia pergi keluar.

"Itu yang tadi bel selesai?" tanya Valletta yang laki-laki dengan rasa heran.

"Iya sensei. Dan sekedar informasi, anggota klub mekanik kami berjumlah delapan orang. Lima orang, termasuk aku dan Valletta hanya fokus mengikuti klub ini, sedangkan dua orang ikut klub ini namun juga bergabung dengan klub lain karena kegiatan klub kami hanya berlangsung selama ada kegiatan balapan, baik resmi maupun non resmi," balas Namiko.

"Yang satu orang lagi?"

"Yang satu lagi, itu sebenarnya bukan anggota, tapi ketua memutuskan untuk menampung sebagai temporary member [5], karena...er, mereka berdua sama-sama bermaslah dengan Shitori-kaichou[6] walaupun permasalahannya berbeda," balas Namiko kembali.

Valletta yang laki-laki langsung menganggukkan kepalanya, "Oh, begitu," ucapnya, "Baiklah, aku akan menunggu, lagipula gua mau buat kopi," ucap Valletta yang laki-laki sebelum akhirnya mengambil sesuatu dari dalam tasnya, "Oh, kalian berdua bisa bersantai sejenak atau mungkin," Valletta yang laki-laki melihat sekelilingnya yang agak sedikit kotor, "melihat merapihkan tempat ini sampai er...Valletta kembali dengan anggota lain," ucapnya sambil membuka isi dari barang yang dia ambil, yang ternyata adalah sebuah kopi instan.

"Baiklah," balas Namiko dan Haruka bersamaan sebelum mereka berpikir sejenak.

"Kurasa sedikit bersih-bersih akan membantu," ucap Haruka sambil mulai membersihkan beberapa barang yang berserakan dalam ruangan. Namiko pun menyusul kemudian, meninggalkan Valletta yang mempersiapkan kopi instannya.

Valletta yang menyeduhkan kopinya melihat jam. Sudah lima belas menit setelah Valletta yang perempuan keluar untuk mencari anggota klub mekanik yang lain, sedangkan Haruka dan Namiko sudah menyelesaikan bersih-bersih mereka. Melihat mereka berdua, Valletta yang laki-laki tersenyum dan langsung mengambilkan dua gelas air putih dari dispenser.

"Nih, minumlah. Pasti kalian agak haus kan abis bersih-bersih?" ujar Valletta yang laki-laki sambil menaruh dua gelas air putih kepada Haruka dan Namiko.

Namiko dan Haruka kaget dengan apa yang barusan Valletta yang laki-laki katakan sehingga mereka berdua langsung berblushing ria, dan dengan segera meminum air putih yang disiapkan Valletta dengan cepat.

*BLAM!*

Tepat setelah Haruka dan Namiko menyelesaikan minumnya, terdengar bunyi pintu dibuka. Dan tepat saja, Valletta yang perempuan pun datang dengan membawa beberapa orang. Tepat sesuai perkataan Haruka, enam orang sisa pun telah tiba di ruangan ini, dua laki-laki dan empat perempuan dengan wajah ingin tahu, walaupun sebenarnya ada satu laki-laki yang tampaknya masih bergidik ketakutan saat dia menatap empat perempuan lain, yang langsung dibalas oleh tatapan mengerikan dari keempatnya. Adapun laki-laki yang satunya hanya menghela nafas.

Perempuan pertama memakai gaya rambut ikatan twin tail sama seperti Valletta yang perempuan namun warnanya lebih merah, selain itu iris matanya berwarna orange dan assetnya sedikit lebih besar bila dibandingkan dari Valletta yang perempuan. Dia mengenakan seragam standar Kuoh Academy.

Perempuan kedua yang berdiri disamping perempuan pertama berambut coklat muda dengan panjang sampai bahu dengan iris mata kuning kehijauan dan assetnya tidak kalah menggoda dari perempuan pertama. Sama dengan perempuan pertama, dia mengenakan seragam standar Kuoh Academy.

Perempuan ketiga memakai gaya rambut yang sama dengan Valletta yang perempuan dan perempuan pertama, namun warna rambutnya coklat dan diikat dengan dua pita merah, selain itu warna iris matanya juga agak kuning gelap dengan sedikit aksen keemasan. Berbeda dengan dua perempuan pertama, dia mengenakan pakaian kendo dan shinai yang digenggam oleh tangannya. Assetnya tidak sebesar dua perempuan pertama namun tidak kalah menggoda.

Perempuan keempat sangat berbeda dalam hal gaya rambut dengan ketiga perempuan tadi. Dengan gaya rambut menyerupai Ritsu Tainaka namun dengan warna pink yang dilengkapi dengan bando putih. Iris matanya berwarna merah dengan sedikit aksen pink dan assetnya merupakan yang paling terkecil namun jelas tidak kalah menggoda. Sama dengan perempuan ketiga, dia mengenakan pakaian kendo dan menggenggam shinai [7].

Laki-laki yang bergidik ketakutan karena takut dihajar oleh perempuan ketiga dan keempat, mengenakan seragam pria standar Kuoh Academy dengan kaos merah didalamnya. Laki-laki ini berambut coklat dan sedikit agak ada aksen spiky dengan iris coklat muda.

Adapun laki-laki yang terakhir berdiri diantara perempuan pertama dan kedua. Dia berambut coklat gelap dengan gaya rambut standar dan iris berwarna hijau olive. Dia pun mengenakan seragam pria khas Kuoh Academy dan hanya bisa menghela nafasnya melihat laki-laki yang bergidik ketakutan tadi.

"Issei..." geram keempat perempuan tersebut. Dan dengan segera, mereka berniat untuk menghajar pria yang bergidik alias Issei baik dengan pukulan maupun shinai mereka. Namun dengan segera Valletta yang perempuan langsung melindungi Issei.

"He...hey Misa, Harukachi, Murayama...Katase, kalian bisa kan tidak menghajar Issei. Dan setahuku, Murayama dan Katase, Issei tidak dapat mengintip kalian karena kehalangan oleh dua temannya itu, jadi secara tidak langsung dia tidak mengintip walaupun dia memang berniat mengintip," ujar Valletta yang perempuan sambil membela Issei.

"Tu...tunggu? Senpai [8], kau tahu dari mana?" tanya Issei yang kaget akan pernyataan Valletta yang perempuan karena pernyataan tersebut memang benar adanya.

"Aku melihatmu, Matsuda, dan Motohama. Mereka berdua agak serakah...kalau mau mengintip harusnya buat empat lubang kek. Biar adil jadinya, sekalian gua mau refreshing otak liat cewek-cewek bohai lagi ganti baju," balas Valletta yang perempuan tanpa ada rasa bersalah dan jujur. Jelas saja semuanya hanya bisa menganga membentuk huruf 'o', selain itu semua perempuan tersebut langsung berblushing ria mendengar pernyataan barusan.

'Se...senpai orang mesum juga?' pikir Issei yang tidak percaya akan pernyataan senpainya [baca: Valletta yang perempuan] barusan.

Hanya Valletta yang laki-laki yang tidak menganga melihat kejadian aneh tersebut, walaupun dia hanya tersenyum yang kesannya dipaksakan.

'Luar binasa, ketua klubnya ternyata agak mesum juga, menjurus aliran yuri lagi. Mending adegan ga jelas ini segera dihentikan, bisa-bisa gua ga dapat konfirmasi nama asli dari Mirage Valletta,' pikir Valletta yang laki-laki. Dengan segera dia menatap Valletta yang perempuan dan memberikan sinyal tangan digoyang mendatar di leher untuk mengisyaratkan berhenti. Valletta yang perempuan mengerti isyarat Valletta yang laki-laki tersebut langsung menganggukan kepalanya dan segera berdehem untuk meminta perhatian dari semua orang didepannya.

"Baiklah, untuk mencegah mulut kalian dimasuki oleh lalat," ujar Valletta yang perempuan, "aku akan menyatakan sesuatu yang sangat penting disini. Maksud dari aku untuk memanggil kalian mengenai perihal pengganti Tsuchi-sensei."

"Tunggu, sudah ada pengganti Tsuchi-sensei?" beo semuanya kaget.

"Iya, dan jangan bertanya lagi sampai aku menyelesaikan ucapanku. Pengganti dari Tsuchi-sensei adalah orang itu," ujar Valletta yang perempuan sambil menunjuk Valletta yang laki-laki yang sedang meminum kopinya. Semua orang yang berada di sana (minus Namiko, Valletta perempuan, dan Haruka) langsung melongo luar biasa, pasalnya orang yang ditunjuk [aka: Valletta yang laki-laki] tidak terlalu tua.

"Jangan salah, meskipun dia dua tahun lebih tua dariku, dia sebenarnya adalah murid pertama Tsuchi-sensei lho, jadi kemampuan mekaniknya jelas jauh melampaui kemampuanku," ujar Haruka menambahkan ucapan Valletta yang perempuan.

Valletta yang laki-laki mendengar ucapan Haruka langsung merendah, "Er...Haruka-san bohong. Kemampuannya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengajari kalian soal dunia mekanik, di sini saya hanya bersifat sebagai pengawas. Namun bila Haruka tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan kalian atau sesuatu mengenai klub ini, silahkan bertanya saja."

Valletta yang perempuan melihat jam di hpnya, sudah 30 menit berlalu. Dia perlu segera menghabisi pertemuan ini untuk segera melenggang bebas, atau dia yang dihabisi oleh Shitori-kaichou di sini karena ketahuan membolos.

"Baiklah, untuk pertemuan mendadak ini, aku rasa belum ada kegiatan karena aku sebagai ketua klub saja dinotifikasikan secara mendadak akan kedatangan guru pembina kita yang baru. Mungkin akan lebih baik bila langsung memperkenalkan diri kita masing-masing kepada guru pembina kita yang baru, er...Naoto, kau terlebih dahulu."

Pria yang disebut Naoto ternyata adalah pria yang berdiri di tengah-tengah perempuan pertama dan kedua, "Baiklah, namaku Shirokaze Naoto...kelas tiga, panggilanku Nao atau Naoto dan aku memiliki sebuah Toyota 86 model 2015, salam kenal."

Perempuan pertama kemudian melanjutkan perkenalannya, "Namaku Shirokaze Misae, kelas dua. Aku adiknya Naoto dan panggilanku Misa, Misae atau Misa-chan, sensei," ucapnya sambil menekankan kata sensei dengan menggoda, "Soal mobil, mobilku memang belum sampai ke sini karena mobilku masih dalam tahap penyelesaian akhir mengenai surat-surat mobil, katanya sih selesai dua bulan setelah pembelian," lanjutnya.

"Surat-surat mobil? Apa mobilmu bukan pabrikan Jepang?" tanya Valletta yang laki-laki, merasa tertarik ketika dibicarakan surat-surat mobil.

"Yap...surat RUF RK Coupe-nya belum sampai di tanganku." Sontak perkataan perempuan pertama alias Misae membuat semua orang di dalam klub langsung cetar membahana.

"Serius?!" teriak semua yang ada disana dengan kaget, termasuk kakaknya. Adapun Valletta yang laki-laki beserta Issei tidak mengucapkan sepatah kata pun, mereka justru jawdrop luar biasa.

'Fuck demi Gunung Taikan? Ini klub mekanik apa perkumpulan supercar sih?' pikir Valletta yang laki-laki yang masih jawdrop dengan kejadian barusan.

"Misa-chan?" Ujar Valletta yang perempuan sambil bergerak mendekati Misae.

Misae yang ketakutan melihat sang ketua hanya bisa berbicara, "Iya, ada apa?"

"Kau bilang surat-suratnya baru jadi dua bulan?" tanya Valletta yang perempuan dengan hawa gelap disekeliling tubuhnya.

Misae pun semakin berkeringat dingin melihat tatapan mata Valletta yang perempuan seakan menusuk tubuhnya, "I...I...I...Iyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiyaiya," ucapnya dengan sangat cepat sambil menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat.

Mendengar respon Misae, Valletta yang perempuan pun langsung facepalm, "Yasalam," dia sempat menghela nafas sebentar sebelum memegang kedua pundak Misae untuk menghentikannya dari anggukan cepat tersebut, "Misa-chan, dua bulan lu bilang? Kampret, lu dikibulin ama si Kizuha. Gua ngurus surat-surat mobil aja cuma tiga hari jadi," lanjutnya dengan tatapan kesal.

Spontan saja, semuanya sukses jawdrop kembali. Hanya Namiko dan Haruka [yang dengan embel-embel sensei] dan Valletta yang laki-laki yang tidak melakukanya. Walaupun begitu, perasaan dalam hati tiga orang ini berkata lain.

'Tiga hari? Setahuku dua bulan deh, kalo mengikuti prosedur, yang berarti sebenarnya Misae sudah benar soal pengurusan surat-surat mobil,' pikir Haruka-sensei bingung.

'Hmmm...dia cukup lihai juga, bisa kuandalkan.' Gumam Valletta yang laki-laki tersenyum dalam hati karena kagum akan kemampuan Valletta yang perempuan dalam mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mengurus surat-surat mobil.

'Iya sih, tapi dia ga bilang ke kalian kalo dia mendapatkan waktu pengurusan sesingkat itu setelah adu jotos,' ujar Namiko dalam hati disertai senyum grogi.

"Eh, ti...tiga hari?" Tanya Misae yang sudah pulih dari jawdropnya.

"Iyap...ntar bareng gua aja ke sana. Biar gua yang urus," balas Valletta yang perempuan sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya, "Next...Harukacchi."

Harukacchi yang disebut pun [yang ternyata adalah perempuan kedua] langung memperkenalkan dirinya, "Ah, Namaku Toshiyama Haruka, kelas dua, nama panggilanku sebenarnya sih Haruka namun di klub ini aku dipanggil Harukacchi oleh ketua untuk mencegah nama panggilan yang sama dengan Haruka-sensei. Aku ini lebih ke mekanik daripada pembalap, namun aku punya sebuah Subaru Alcyone SVX keluaran 1991. Salam kenal sensei."

"CXD?! WHAT THE FUCK?!" Teriak semua orang, adapun sang ketua alias Valletta perempuan beserta Valletta yang laki-laki langsung menginterupsi sebelum semua orang di dalam gedung klub mekanik menginterograsi Haruka Toshiyama lebih jauh.

"Silahkan lanjutkan perkenalannya."

Perempuan ketiga itu pun memperkenalkan dirinya, "Namaku Ueda Murayama, kelas dua...aku bergabung dengan klub ini dan klub kendo. Panggilanku Murayama dan...er, alasanku bergabung dengan klub ini karena aku mendengar rumor bahwa guru kendo kami adalah seorang hashiriya. Dan kami ingin bertemu mantan guru kendo kami suatu saat nanti. Er...mengenai mobil, aku mengemudikan Toyota Celica dan berniat untuk mencoba balapan suatu hari nanti."

"Alasan yang cukup mulia...walaupun gua kaget kalo ternyata guru kalian adalah hashiriya," ujar sang ketua alias Valletta perempuan.

"Iya sih. Tapi Celica adalah mobil sport dengan penggerak roda depan. Aku rasa buat balapan di pegunungan itu cukup..." ucapan Haruka-sensei terhenti karena interupsi dari perempuan keempat.

"Maaf, Haruka-sensei," ujar perempuan keempat dengan gugup, "Aku rasa aku perlu memberitahukan beberapa informasi mengenai hal tersebut dan kami perlu kembali ke latihan klub kendo secepatnya," lanjutnya.

"Baiklah, Katase, silahkan," ujar Haruka-sensei yang setuju atas pernyataan tersebut.

"Sebelumnya sensei, namaku Suzuki Katase, kelas dua dan panggilanku Katase. Sama dengan Murayama, aku bergabung di klub yang sama dengannya dan alasanku bergabung pun juga sama. Mengenai mobil...aku mengemudikan Hyundai Accent yang sudah dikonversikan menjadi versi WRC. Dan mengenai mobil Murayama...sebenarnya modelnya adalah model ST205."

Jelas saja, hampir semuanya bingung mendengar penjelasan Katase tersebut...sekali lagi hampir.

"ST205?" Beo Namiko bingung.

"Baru tahu model itu tuh, model tahun berapa?" tanya Misae yang bingung juga.

"Er...aku hanya pernah mendengar nama Celica GT-FOUR, yang merupakan model terbaik dari seri Celica." Bahkan Haruka-sensei yang sudah senior dalam bidang otomotif saja bingung dengan pertanyaan ini.

"Haruka-sensei, itu sama," ujar Valletta yang perempuan. Haruka-sensei terkejut mendengarnya.

"Eh...yang itu?!"

"Hehe...iya sensei," ujar Murayama malu-malu.

"Baiklah..." Valletta yang perempuan langsung meregangkan tangannya sambil mendorong pria yang dikenal sebagai Issei, "Nah...orang ini adalah anggota tidak resmi klub mekanik, namanya Issei Hyoudou...dia kelas dua dan belum punya mobil. Dia berniat punya harem lho," lanjutnya. Sontak saja, semua sweatdrop mendengarnya [karena kata itu diucapkan oleh sang ketua].

"Senpai, apa yang itu perlu diberitahukan?" Teriak Issei dengan malu karena cita-citanya dibocorkan oleh Valletta yang perempuan.

"Tentu saja...aku ini kan teman sealiranmu," semua langsung berbisik-bisik mengenai hubungan antara Valletta perempuan dengan Issei, bahkan Namiko dan Haruka-sensei ikutan berbisik ria, hanyaValletta yang laki-laki yang tidak ikutan.

"Eh?" Beo Issei yang bingung.

"Oke, satu pertanyaan. Issei, sebutkan masalah Valletta dengan Shitori-san?" tanya Valletta yang laki-laki.

"Er...dia rajin membolos dan pernah menjahili Shitori-san saat masa orientasi sekolah." Jawaban Issei membuat Valletta yang laki-laki menganggukkan kepalanya.

"Ah, giliranku," ujar Haruka-sensei, "Namaku adalah Miyazaki Haruka...Aku disini adalah mekanik di bengkelku sekaligus guru pembina. Kemampuanku lebih ke hal memodifikasi mobil, walaupun aku bisa membalap juga dengan Mazda Roadster tipe NCEC...namun kurasa kurang bagus bila dibandingkan ketua klub ini," lanjutnya sambil memperkenalkan dirinya.

"Nah...berikutnya adalah aku," ujar Valletta yang perempuan dengan semangat. "Berhubung kalian hanya pernah memanggilku dengan nama panggilan, aku akan memperkenalkan diri. Nama asliku adalah Miya Havialannen Kisazaki. Seharusnya sih aku kelas tiga, namun tidak naik kelas sekali...jadinya kelas dua. Orangtuaku memang ada garis keturunan Finlandia dan memang pada jago membalap semua. Mengenai kesukaanku...aku sangat menyukai mobil midship, terutama Honda NSX. Namun aku juga menyukai mobilku sekarang ini adalah Toyota 86 yang merupakan replika dari Falken Petronas OTG86. Mengenai nama panggilanku...aku memilih nama Valletta karena tokoh idolaku adalah seorang kesatria terakhir yang berhasil memenangkan Perang Suci terakhir, namun aku tidak keberatan jika dipanggil Havialannen. Sedangkan julukan balapku adalah Mirage Valletta atau Hakone Emperor...salam kenal sensei," lanjutnya sambil dengan detail menjelaskan asal usul namanya.

'Begitu ya,' pikir Valletta yang laki-laki. Cukup kaget juga kalo dia [Valletta yang perempuan alias Miya Havialannen] memilih alasan penamaan yang sama dengannya.

"Baiklah," ujar Miya Havialannen dengan semangat, "Semua sudah memperkenalkan dirinya. Kecuali Naviko yang kelas tiga namun seumuran denganku dan mengendarai mobil Nissan Fairlady S30Z klasik..."

"VALLETTA, NAMAKU SHIROKAWA NA-MI-KO!" Potong Namiko dengan kesal karena namanya diplesetkan oleh sang ketua. "Payah."

Sang ketua hanya senyum nyegir kuda setelahnya sedangkan Namiko hanya menggembungkan mukanya.

'Kawaaaaaiiiiiiii[9],' ujar Valletta yang laki-laki dengan Issei dalam hati yang langsung lumer ketika melihat muka Namiko yang menggembung aka ngambek. Seketika senyum mesum pun terpampang di muka Issei adapun Valletta hanya tersenyum biasa.

'Waduh...mulai lagi si Issei,' pikir semua orang yang ada di sana.

Namiko yang melihat tatapan aneh dari Valletta dan Issei hanya bisa memiringkan kepalanya, "Huh, ada apa dengan kalian berdua menatapku seperti itu?"

*GUBRAK!*

"WAARRRGGGGHHHHH!"

Semua orang yang ada disana [kecuali Miya Havialannen dan Valletta] terjungkal dengan tidak elit.

'Polosnya luar binasa. Dia ga tahu kalo dia ditatap dengan tatapan mesum seperti itu,' pikir Miya sambil menghela nafasnya.

"Mau gua cubit-cubit pipi tuh, sumpah gemesin," ujar Valletta.

Namiko yang tersadar akan ucapan pipi langsung tersengat dan segera menyadari siapa sang pembina baru tersebut. "Va...Valletta...itu benar-benar kau?!" Teriaknya kaget.

"Eh?" beo Miya Havialannen [aka Valletta perempuan) yang bingung karena nama panggilannya disebut.

"Akhirnya kenal juga," balas Valletta yang laki-laki dengan senang. Semua yang ada jelas bingung mendengar respons tersebut.

"Tu...tunggu, namamu juga Valletta?" tanya Miya Havialannen [aka Valletta perempuan].

"Itu adalah pertanyaan yang juga ditanyakan oleh Miyazaki Haruka beberapa menit barusan," ujar Valletta. "Dan Miya Havialannen atau Mirage Valletta, iya. Kuakui aku terkejut mengenai nama panggilanmu sama denganku. Nah sebagai supervisor klub ini, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku adalah Jean Grandia Armaline Yvalline y Valletta di Vucinic dan panggilanku adalah Valletta, salam kenal minna[10]," lanjutnya sambil memperkenalkan dirinya.

Jelas saja...semuanya kecuali Namiko langsung satu suara berteriak gaje.

"EEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!"

"Hehehehe..."

Dan disertai oleh cengiran konyol dari Namiko dan Valletta.


Keterangan/Translastion:

[1]: Guru

[2]: Nama lain pembalap jalanan (dalam bahasa Jepang)

[3]: Versi halus dari telanjang

[4]: Telat mikir

[5]: Anggota sementara

[6]: Ketua (ingat, yang diambil untuk ditranslate adalah kaichou)

[7]: Semacam pedang bambu

[8]: Kakak kelas

[9]: Imut

[10]: Kawan


Selesai juga. Tampaknya gua lupa dalam mengedit bagaimana cara mensubmit OC, jadi akan diulangi lagi cara mensubmit OC:

Nama: ...(bebas, tapi ga boleh ada nomor dan huruf besar kecil alias alay)
Usia: ... (bebas)
Gender: Laki/Perempuan
Penampilan: ... (Gambar boleh, tapi wajib ada deskripsi penampilan, baju kesukaan boleh dimasukkan bila dirasa perlu)
Mobil: ... (Harus mobil yang pernah diproduksi disertai dengan asal mobil (baik dari game maupun situs) dan gambar tampak samping depan dan samping belakang sangat diperlukan)
Parts: ... (Body part yang ada dalam game/situs secara lengkap (juga merangkup ukuran velg juga dan carbon fiber), bila ada Engine swap wajib dituliskan dengan engine swap mesin apa, AWD, FWD, atau RWD Conversion juga wajib ditulis)
Biodata singkat: ... (bebas, tapi harus merangkup hobi , hal yang disukai dan tidak disukai, sifat-sifat, dan three sizes (ukuran badan))
Team: ... (tidak ada (main solo)/team manapun, bebas)
Track favorit: ... (Asalkan di daerah Jepang, untuk yang satu ini, silahkan berkonsultasi dengan author)

Untuk mengenai mobil dan parts, silahkan merajuk ke sini:

Eg:

Koishi Komeiji: 1997 Mazda RX-7 RS-R FD3S (From The Fast and The Furious Tokyo Drift, The Game)

20B-REW Engine Swap

Parts (Visual): Rays Gram Lights 57S 18" (265 mm width (kalo beda lebar, tuliskan xxx mm front width, xxx mm rear width), Mazdaspeed A-Spec Touring GT Concept (Sideskirt, Rear Spoiler, Front & Rear Bumper), C-West DRFT Hood.

Dan jangan lupa, read and review