WARNING: GS (GenderSwitch) PanWink

If this story is not your cup of tea, GET OFF!

.

.

.

Kuanlin terbangun dari tidurnya ketika orang dalam dekapannya bergerak semakin menempel padanya. Tangannya yang melingkar di pinggang istrinya digenggam semakin erat dan punggung yang menempel di dadanya itu bergerak seolah mencari kehangatan lebih dalam dekapannya. Matanya terbuka perlahan dan melihat bahwa selimut yang menyelimuti tubuh istrinya tersingkap hingga pinggang, pantas saja dia merasa dingin. Diraihnya selimut itu dengan hati-hati dan menyelimuti tubuh istrinya lagi. Dipeluknya lagi pinggul istrinya dan tangannya terulur untuk mengusap perut sang istri yang membesar.

Ya, Lai Kuanlin dan Park Jihoon adalah sepasang suami istri yang sudah menikah selama satu tahun dan kini tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka. Usia kandungan Jihoon adalah 36 minggu tinggal menghitung hari anak pertama mereka akan lahir. Dan Kuanlin telah mencutikan diri sejak usia kandungan istrinya itu masuk 34 minggu. Oleh karena itu, pagi ini mereka tidak grasak grusuk bangun dan bisa lebih lama menikmati empuknya kasur mereka. Terlebih Jihoon mengalami susah tidur akhir-akhir ini, dia mengeluh panas dan gerah padahal suhu AC sudah di setel dititik terendah, juga kadang dia merasa gatal dan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Kuanlin tentu tidak mau mengganggu waktu tidur istrinya, jadi sekarang dia hanya diam sambil mendekap istrinya.

Dalam keheningan kamar mereka, Kuanlin tenggelam pada kenangan selama Jihoon mengandung. Teringat bagaimana perjuangan Jihoon membawa calon anak mereka dalam tubuhnya. Bagaimana sabarnya istri manisnya itu melalui hari-hari penuh cobaan.

Trimester pertama. Jihoon sama sekali tidak mengalami morning sickness, sesuatu yang amat disyukuri Kuanlin. Bahkan karena hal itu pula mereka telat mengetahui kehamilan ini. Suatu malam setelah percintaan mereka.

"By, kok kayaknya kita jadi sering banget ya ngelakuin ini?" tanya Kuanlin. Soalnya mereka memang punya jadwal bercinta, biasanya sih saat weekend atau kadang juga mereka diluar jadwal pas Kuanlin lagi pengen. Mereka sendiri tidak mencanangkan harus bercinta saat masa subur Jihoon karena mereka tidak diburu target untuk segera punya anak, sedikasihnya Tuhan aja mereka nerima.

"Salah siapa dari kemarin minta terus" jawab Jihoon lemas yang bersandar dileher Kuanlin.

"Abis kamu bikin nagih sih" ucap Kuanlin tepat ditelinga Jihoon.

"Ishh mesum" ucap Jihoon kesal tapi tubuhnya malah semakin nempel ke suaminya.

Kuanlin terkekeh dan mengusap pundak telanjang Jihoon yang tidak tertutup selimut, "tapi serius by, kayaknya tiap weekend kita selalu ngelakuin ini deh"

"Masa?" Jihoon yang sudah separuh sadar merespon seadanya.

"Kamu terakhir menstruasi tanggal berapa, by?"

"Tanggal 28"

"Sekarang tanggal 20"

"Yaudah sih. Belum waktunya kan, love"

"Tapi By itu kayaknya bulan lalu kamu nggak menstruasi deh"

Hening

"APAA?" Jihoon bangun tiba-tiba dan merangkak mengambil kalender diatas nakas. Dia membolak-balik kalender itu dan mengamatinya dengan muka serius, Kuanlin hanya memperhatikan gelagat istrinya itu.

Beberapa saat kemudian Jihoon mengembalikan kalender itu ke tempat semula lalu menarik napas gugup, "kayaknya aku telat deh"

Kuanlin bergerak lembut kearah istrinya dan meraih tangan Jihoon lalu mengusapnya lembut, "mau beli pregnancy test kit ke apotek?"

Akhirnya tengah malam itu mereka pergi ke apotek 24 jam dan mendapati bahwa lima alat tes kehamilan menunjukkan hasil yang sama, positif. Keesokan harinya mereka pergi ke rumah sakit demi mendapat kepastian yang absolut dan akhirnya mereka bisa membagi kabar bahagia itu pada keluarga besar mereka.

Trimester pertama, tidak ada perubahan yang berarti hanya porsi makan Jihoon bertambah dua kali lipat serta lebih sering merasa lapar. Jihoon juga jadi lebih suka sayur-sayuran, sebelum hamil dia juga sudah doyan sayur tapi sejak hamil dia minta harus ada sayur di tiap menu makannya, yang tentu saja disanggupi Kuanlin dengan mudah. Jihoon juga masih bekerja sebagai ketua editor di sebuah perusahaan penerbitan. Kuanlin memang tidak melarang Jihoon berkarir setelah menikah dan melihat bahwa kehamilan Jihoon kuat, dia juga tidak membantah ketika Jihoon bilang masih sanggup bekerja dan belum ingin cuti. Pria itu hanya menjadi lebih sering mengecek keadaan istrinya dan rutin mengirim cemilan sehat dari rumah dua kali dan selalu mengajaknya makan siang bersama. Karena nafsu makannya yang besar, berat badan Jihoon sudah naik 10kg diusia kandungannya yang ke 16 minggu. Membuat istri arsitek muda itu uring-uringan karena banyak bajunya yang sudah tidak muat lagi. Ngidamnya juga nggak aneh-aneh, cuma sering minta dianterin cari makan ke penjuru kota Seoul.

Trimester kedua, gejolak hormon dan mood Jihoon semakin nggak karuan. Tak jarang suatu ketika mereka sedang bergumul panas lalu setelah itu Kuanlin ditendang keluar kamar dengan alasan Jihoon tidak suka bau badan Kuanlin setelah bercinta. Alasan yang membuat Kuanlin termangu sepanjang malam karena shock berat. Perubahan mood yang ekstrim juga membuat Jihoon yang sedetik tertawa bahagia lalu detik berikutnya menangis pilu seolah dirinya adalah manusia paling merana sedunia dan membuat Kuanlin merasa menjadi suami paling tak berguna sedunia.

Suatu pagi, Jihoon tengah menjalani aktivitas rutinnya yaitu menyiapkan pakaian kerja Kuanlin. Wanita yang tengah hamil 25 minggu itu bersenandung lirih sambil memilah-milah kemeja suaminya didalam walk in closet mereka. Lalu sedetik kemudian dia terduduk di lantai dengan air mata yang bercucuran dari sepasang mata indahnya.

Kuanlin yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar isak tangis istrinya langsung panik dan menerobos masuk ke dalam closet dan mendapati istrinya itu terduduk di lantai.

"Astaga sayang! Kau kenapa? Mana yang sakit? Sayang!" teriak Kuanlin histeris takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.

Dia segera membopong istrinya dengan susah payah lalu menurunkannya perlahan di atas ranjang. Dia tergesa-gesa ingin segera mengambil ponselnya namun istrinya justru menariknya duduk di ranjang lalu merangkak naik ke pangkuannya, masih sambil menangis.

"Sayang, aku akan menelpon dokter dulu. Kamu harus segera diperiksa" bujuk Kuanlin sambil mengelus punggung Jihoon yang bergetar parah karena tangisnya yang kencang. Kuanlin benar-benar kalut dan panik mendapati istrinya menangis tersedu-sedu seperti ini.

Jihoon menggeleng dalam tangisnya, dia mencengkeram bathrobe yang masih dikenakan Kuanlin. Wajahnya ditelusupkan di leher Kuanlin sambil masih menangis pilu membuat Kuanlin yang mendengarnya ikut sedih.

"Sayang? Kenapa hmm? Ada yang sakit?" tanya Kuanlin lembut pada akhirnya.

Jihoon menggeleng heboh menyebabkan Kuanlin sedikit geli karena rambut Jihoon menggesek kulit lehernya. Tapi tangis istrinya juga masih belum mereda. Wanita itu masih memeluknya seerat mungkin meski tidak bisa menempel sempurna karena terhalang buntalan cinta mereka di perut Jihoon.

"Lalu kenapa? Apa yang membuatmu sedih, hmm?" tanya Kuanlin sambil mengecup puncak kepala Jihoon. Lengannya juga terus mengelus punggung istrinya dengan sayang. Tak dipedulikannya waktu yang terus berjalan dan kemungkinan dia terlambat. Prioritasnya adalah Jihoon. Lagipula siapa yang akan menegurnya di perusahaan miliknya sendiri.

Jihoon masih belum menjawab tapi tangisnya sudah mereda hanya terdengar tarikan napas yang tersendat-sendat akibat betapa parah tangisnya tadi.

"A..aku hiikks" ucap Jihoon dengan napas tersendat-sendat dan suara bindeng karena hidungnya tersumbat. Diraihnya bathrobe bagian depan Kuanlin lalu diarahkannya kehidungnya lalu digunakannya untuk mengusap hidungnya yang berlendir.

"Buang ingus sekalian sini" ucap Kuanlin sambil menangkup hidung Jihoon dengan tangannya dan dipatuhi Jihoon, "yang keras, sayang" ucap Kuanlin lagi.

Akhirnya Jihoon buang ingus di tangan Kuanlin dan pria itu mengusapkan tangannya yang penuh ingus istrinya ke bathrobe nya juga. Sekalian kotor kan, pikir Kuanlin.

"Aku semalem hiks mimpi nyiapin kamu baju hiks buat ke kantor"

"Hmmm" sahut Kuanlin pertanda dia mendengarkan ucapan Jihoon.

"Bajunya bagus banget perpaduan hiks kemeja, dasi dan jasnya hiks. Ta...tapi hiks tadi a..aku lupa perpaduannya gimana pas mau nyiapan pakaian kamu huuuaaaaaa" Jihoon kembali menangis.

"Aduh aduh, Yang. Kok nangis lagi sih, duh? Cup cup cup" Kuanlin panik lagi melihat Jihoon kembali menangis.

"Sayang, udah dong nangisnya?" ucap Kuanlin sambil menangkup kedua sisi wajah Jihoon, mengusap wajahnya yang basah, "Tatap aku coba"

Jihoon menatap Kuanlin dengan pandangan sedih, bulu matanya masih basah oleh air mata, kedua kelopak matanya sedikit bengkak karena menangis, dan kedua bola matanya digenangi air mata yang siap tumpah kapan saja. Hati Kuanlin sedikit teriris melihat pemandangan didepannya, meski dia paham betul bahwa ini pengaruh hormon kehamilan tapi dia tidak pernah suka melihat wajah favoritnya memasang ekspresi sedih. Tidak pernah suka apapun alasannya.

"Sayang, pernah nggak aku komplain sama pakaian kerja pilihan kamu? Senorak apapun warna pilihan kamu?" tanya Kuanlin serius masih dengan menatap Jihoon sayang.

Bibir Jihoon mengerucut otomatis mendengar Kuanlin menyebut norak pilihan warnanya. Ya, dia memang pernah menyuruh Kuanlin memakai kemeja warna oranye ngejreng dan shocking pink yang bener-bener shocking untuk ke kantor.

Jihoon menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih mengerucut.

"Pernah nggak aku nolak memakai pakaian pilihan kamu?"

Jihoon menggeleng lagi.

"Kamu tahu nggak alasannya?"

Lagi-lagi gelengan kepala menjadi jawaban Jihoon.

"Karena aku yakin pasti kamu udah meluangkan waktu untuk berpikir memilihkan pakaian untuk suamimu ini. Pasti ada alasan tersendiri kenapa kamu tega nyuruh suamimu yang tampan ini make kemeja dengan warna ngejreng seperti dulu itu" Kuanlin berkata dengan tersenyum mengingat kenangan itu.

"Jadi kamu nggak perlu sesedih ini karena lupa mimpi kamu semalem. Suamimu ini bakal pake apapun yang kamu siapin kok sayang. Aku nggak suka mata indah kamu harus bengkak karena ngeluarin air mata sia-sia" ucap Kuanlin lalu mengecup kedua kelopak mata Jihoon.

Jihoon tersenyum tipis mendapat perlakuan manis dari suaminya.

"Sebenernya aku cemburu sama sekretarismu yang seksi itu. Makanya aku suruh kamu pake kemeja norak itu supaya kamu kelihatan jelek dan dia nggak naksir kamu. Eh, tetep aja kamu kelihatan ganteng"

"HAHAHAHAHA" tawa Kuanlin pecah mendengar pengakuan istrinya. Dan akhirnya pagi itu Kuanlin benar-benar terlambat pergi ke kantor.

Trimester ketiga. Di usia kandungan 30 Minggu, Jihoon mulai mengambil cuti. Dia sudah mulai tidak bisa begerak selincah biasanya. Dia menjadi mudah lelah dan lebih banyak tidur. Kakinya juga mulai membengkak efek dari perubahan tubuhnya, membuat Kuanlin sempat panik dan langsung menghubungi dokter kandungan yang bertanggung jawab pada kehamilan Jihoon. Kepanikan Kuanlin hanya dibalas dengan senyum menenangkan dari si dokter karena faktanya itu adalah hal yang lumrah dialami oleh semua ibu hamil, dokter itu hanya menyarankan supaya Jihoon memakai sepatu atau sandal yang lebih besar ukurannya dan juga merendam kakinya dengan air garam hangat tiap malam untuk mengurangi rasa pegal. Semenjak itu Kuanlin memiliki kegiatan wajib tiap malam yaitu merendam kaki Jihoon dengan air garam hangat serta memijatnya lembut, juga mengolesi perut Jihoon dengan moisturizer karena istrinya kerap merasa gatal pada area kulit perutnya yang meregang karena kehamilannya itu.

Lamunannya tentang lika liku kehamilan Jihoon pecah ketika dia merasakan sebuah gigitan di pundaknya, dia menunduk dan melihat wajah cemberut istrinya tengah menatapnya. Satu lagi, Jihoon jadi sering random menggigiti Kuanllin, yang namanya random ya benar-benar random entah alasan atau tempat yang digigit. Seringnya dia menggigit Kuanlin karena merasa lapar dan dia menggigit dimanapun sejauh mulutnya bisa mendarat di bagian tubuh Kuanlin.

"Morning, love" sapa Kuanlin disertai kecupan lembut di kening Jihoon yang mulus. Dia sedikit kaget ketika Jihoon telah berhadapan dengannya, dia tidak merasakan proses Jihoon berbalik, apakah dia terlalu dalam melamun?

"Hngg" dengung Jihoon semakin ndusel ke dada Kuanlin, meskipun tubuhnya tidak bisa menempel sempurna.

"Mau sarapan apa hari ini?" tanya Kuanlin sambil mengusap-usap kelopak mata Jihoon yang kembali tertutup. Kelopak mata yang dia kagumi bentuknya karena kecantikannya.

"cuddles~" rengek Jihoon manja.

Kuanlin yang paham bahwa si istri sedang ingin dimanja menelusupkan kedua lengannya ke belakang leher Jihoon dan menariknya semakin dekat ke tubuhnya. Dagunya dia tumpukan diatas kepala Jihoon dan sesekali didaratkannya kecupan sayang di atas mahkota Jihoon yang berwarna kecoklatan itu.

"Nooo~ I want more~ i want you closer" rengekan Jihoon semakin menjadi, dari suaranya Kuanlin bisa mendengar bahwa Jihoon sudah hampir menangis.

"aduh sayang, ya nggak bisa dong. Ada baby didalem" bujuk Kuanlin sambil mengelus perut Jihoon dan dibalas dengan tendangan pelan dari anaknya.

"I love the fact that i'm bearing your child. So fascinated that she's growing inside me. But, she's getting between us" lirih Jihoon manja.

Kuanlin terkekeh pelan, sepertinya hari ini Jihoon benar-benar dalam mode manja. Perlahan dilepaskannya pelukan Jihoon. Jihoon merengek karena Kuanlin beranjak dari posisi berbaringnya, tapi dia segera diam ketika Kuanlin melompati tubuhnya dan sekarang berbaring di belakang tubuhnya.

"I can always spooning you. Warm both of you with my hug and love" bisik Kuanlin sambil merengkuh tubuh istrinya dari belakang.

By this position, even their unborn daughter can feel the love of her parents for each other. And even for her.

FIN

A/N: hi, this is another story of the writing OTP Challenge. kindly give me some feedback, and please check my another work and give some loves as well. Thank you..