JEON GINGERSNAP PRESENT :

VAGUENESS

Cast :

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Soeul

All member of BTS

YAOI

NO BASH

MIAN KALAU DITEMUKAN BEBERAPA KATA-KATA RANCU DAN TYPO, HARAP MAKLUM.

ENJOY AND HAPPY READING GUYS! :*

*BACK SONG : HOLD ME TIGHT - BTS


BUSAN, 20.20 KST

"Apa kau tulus dengan permintaan maafmu?"

"Ne." jawabnya mantap.

"Kemarikan telapak tanganmu hyung.

Ia terlihat heran mendengar permintaanku, tapi lalu ia ulurkan lengannya ke arahku.

Telapak tanganku menggamit telapak tangannya tadi, lalu menariknya mendekat. Tubuhnya terlonjak kaget.

Mata kami saling bertemu. Beberapa detik kami saling menatap. Lalu aku memeluknya.

Bisa kurasakan tubuhnya menegang.

Aku melakukannya karena jantungku tak bisa terkontrol lagi ketika mata kami saling menatap tadi.

Hanya tidak ingin terlihat salah tingkah di depannya.

Mungkin dia bisa merasakan detak jantungku yang super dahsyat ini.

Aku mengeratkan pelukanku dan menyandarkan daguku pada bahunya manja.

Aku pun tak tahu, aku hanya benar-benar ingin melakukannya.

Cukup lama kami tak bersua dengan posisi yang masih sama. Sampai suaraku memecah keheningan di antara kami.

"Gomawoyo untuk semuanya hyung."

Bisa kurasakan beberapa kali usapan di punggungku.

Aku tersenyum. Lagi-lagi aku tak tahu alasanku bahagia karena hal kecil itu.

.

21.30 KST

Aku langsung membaringkan tubuhku di atas king bed kamar hotel ketika sampai.

Lumayan lelah berkeliling Busan seharian. Tapi aku senang bisa mendapatkan hari libur walau masih kurasakan beberapa nyeri di bagian tubuhku.

Tapi itu tidak mengurangi antusiasku berkeliling di daerah yang telah membesarkanku.

Apalagi ditemani oleh Taehyung hyung. Kehadirannya seolah menambah semangatku.

Aku berguling ke kanan dan ke kiri.

Kebosanan mulai menyeruak dari diriku.

Memang lebih baik aku istirahat, tapi aku tidak mengantuk sama sekali.

Apa lebih baik aku ke kamarnya saja. Pikirku.

.

TOK..TOK..TOK..

"Hyung."

Tapi tak ada jawaban darinya.

TOK..TOK..TOK..

"Hyung!"

Lebih keras aku memanggilnya.

Tapi tetap tak ada jawaban darinya. Mungkin dia sudah tertidur pulas karena kelelahan menemaniku.

Aku hendak berbalik dan kembali menuju kamarku yang tepat berada di depan kamarnya.

Seketika itu pula, suara kenop pintu terbuka.

"Ne.. Jungkook-ssi."

Aku berbalik.

Mataku terhipnotis olehnya.

Tubuhku seketika kaku. Tatapanku seakan terfokus hanya pada satu titik. Dan bisa ku pastikan mulutku sedikit menganga.

"DAEBAAAKK!" Pekikku keras dalam hati.

Penampilannya begitu berbeda dari biasanya.

Ia terbalut dalam bathrobe putih, yang talinya di ikat asal. Dadanya malu-malu tampak dari sana. Tetes-tetes air masih bisa terlihat dari ujung-ujung helai rambutnya. Sedangkan jemari-jemarinya meremas handuk yang bertengger di kepalanya sekedar untuk mengeringkan.

Dan dari tubuhnya menguar wangi yang begitu meggoda indra penciumanku.

"Ah… ne."

Berusaha aku normalkan kembali kesadaranku.

Ku kedipkan mataku beberapa kali mencoba bersikap biasa padanya.

Tapi hatiku lagi-lagi tak bisa dibohongi, kali ini diriku benar-benar terjerumus dalam pesonanya.

Dan kuputuskan untuk menikmatinya. Ketika diriku harus bertekukuk lutut karenanya. Tertarik ke dalam pusaran keadaan yang membuatku bodoh.

Apa ini yang disebut jatuh cinta?

Kata-kata itu terus menghantuiku, seakan mencari kebenaran tentang perasaanku sesungguhnya.

Tapi aku tidak ingin menyimpulkan semuanya dengan begitu cepat.

Aku hanya tidak ingin salah dalam menafsirkan perasaanku sendiri.

"Ada apa Jungkook-ssi?"

Aku melempar senyum canggung padanya.

"Chaaaan…" ucapku sambil mengangkat sebuah paper bag di tanganku.

Dia hanya menatap heran.

"Aku lapar, dan aku tidak ingin makan sendirian."

Lalu kulangkahkan kakiku masuk menuju kamarnya. Badannya reflek menyamping seraya mempersilahkanku masuk.

Aku langsung mendudukkan diriku asal di salah satu kursi.

"Kau juga pasti belum makan kan hyung?"

"Ne, changkeuman."

Tak lama setelahnya, ia datang lengkap dengan kaos lengan pendek dan celana panjangnya.

"Kau terlihat berbeda dari biasanya dengan setelan rumah seperti itu."

Ia hanya tersenyum mendengar pernyataanku. Lalu duduk di hadapanku.

"Makanlah." Sambil menyodorkan sushi yang masih terbungkus dalam aluminium foil.

"Apa kau sangat menyukai sushi Jungkook-ssi?"

"Ne, jeongmal joha." Jawabku antusias.

Ia lalu melahap potongan-potongan sushi itu. Begitupun aku, bahkan 3 bungkus aku habiskan sendiri.

Entah apa yang akan terjadi jika Hoseok hyung mengetahuinya. Pasti sikap naluriah managernya akan keluar, dengan berbagai macam omelan yang terlontar begitu saja padaku.

Tapi, untuk sekarang cukup aku nikmati saja semua yang bisa aku lakukan selama masa liburku ini.

.

Usai makan, kami membereskannya.

Tanpa sengaja aku melihat lengan Taehyung hyung yang tak tertutupi kaos. Terdapat beberapa bercak merah. Yang aku yakini tidak ada bercak merah itu sebelumnya.

Aku menghentikan aktivitasku.

"Kenapa dengan lenganmu hyung?"

"Oh!"

Ia seakan terkejut dan menutupi bercak merah tadi dengan lengan satunya.

"Wae?"

"Aku…ke kamar mandi.. dulu." ucapnya sedikit terbata.

Aku hanya menatap heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah seperti itu.

.

Sekitar 15 menit aku menunggunya.

Tapi tak kunjung juga ia keluar dari kamar mandi.

Kekhawatiranku mulai menyeruak. Bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.

TOK..TOK..TOK..

"Hyung!"

Tidak ada jawaban darinya.

TOK..TOK..TOK..

"Hyung!"

Lagi-lagi ia tak menjawab. Kekhawatiranku semakin memuncak.

DUK..DUK..DUK..

"Hyung! Gwenchanayo?"

"Neeee…. Gwencahana. Kau bisa kembali ke kamarmu Jungkook-ssi." Dengan suara yang sedikit serak.

"Shiro!"

"Waeyo?"

"Aku tidak akan pergi sebelum kau keluar dari sana!"

5 menit berlalu.

Aku terduduk di depan pintu kamar mandi, menunggunya keluar.

Mataku mulai mengantuk. Dan kepalaku terkulai lemah karena kantukku.

Tapi kesadaranku menjadi seratus persen kembali setelah aku mendengar kenop pintu kamar mandi terbuka.

Reflek tubuhku berdiri dan menghadap ke arah pintu.

Aku melihatnya dengan kepala yang sedikit tertunduk di hadapanku.

Lalu mataku melebar setelah melihat kedua lengannya yang di penuhi dengan bercak merah.

Telapak tanganku langsung memegang pundaknya, berharap ia menegakkan kepalanya.

Bercak merah itu juga tampak di bagian lehernya dan beberapa di bagian wajahnya.

"Hyung? Ada apa denganmu?" tanyaku dengan tidak sabaran sekaligus khawatir.

Tampak keraguan pada dirinya setelah mendengar pertanyaanku.

Tapi kekhawatiranku tak bisa aku acuhkan begitu saja.

"Hem..hem…"

Suaranya terdengar serak ketika ia berdehem.

"Gwenchanayo, aku hanya sedikit alergi."

Tapi keadaannya tidak menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Bisa kurasakan tubuhnya demam, dan suaranya berubah menjadi serak.

"Kau harus ke rumah sakit hyung." sambil menarik pergelangan tangannya pelan memaksa.

Tapi ia tak bergeming dari tempatnya. Ia hanya menggelengkan kepala singkat, dan memberikan ekspresi seakan-akan ia berkata aku akan baik-baik saja.

Kutatap dua bola matanya mencari makna lain yang tersirat dari sana. Begitu meyakinkan tatapannya padaku pula.

Aku tak bisa memaksanya jika itu memang keputusannya.

Yang pasti aku lakukan sekarang adalah membuatku tetap berada di kamarnya. Merawatnya jika memang harus. Aku tidak akan keberatan akan itu.

Tapi tunggu.

"Kau alergi apa hyung?"

Ia menunjuk ragu pada bekas aluminium foil yang masih berserakan di meja dengan dagunya.

"Sushi?"

Ia lalu menggeleng.

"Tuna?"

Ia lalu mengangguk pelan.

"ehm.. sebenernya aku tidak bisa memakan seafood." Jelasnya dengan serak yang sama.

Aku memukul pelan pada bahunya. Dan ia sedikit terkejut dengan sikapku.

"Lalu kenapa kau memakannya?" tanyaku heran.

Tapi ia hanya tersenyum samar.

Dan aku yakin, ia melakukannya karena tidak ingin melihatku kecewa. Dengan berpura-pura menikmati sushi yang aku bawakan, padahal ia tahu tentang alerginya. Dan itu membuatku semakin bersalah padanya.

Pasti ini juga penyebab ia menolak memakan sushi dan takoyaki yang aku berikan padanya ketika di Osaka.

Wah. Aku semakin tertarik padanya. Aku merasa di dewakan olehnya, walaupun sikapnya cukup bodoh menurutku.

.

24.00 KST

Tidurnya begitu tenang. Hembusan nafasnya teramat sangat teratur. Aku terpana pada kenyamanan yang ia ciptakan ketika terlelap.

Ia terlihat tersenyum dalam nyenyaknya. Walaupun guratan-guratan lelah masih bisa terlihat di sana. Di parasnya yang membuatku tersihir begitu saja.

Aku menopangkan daguku pada telapak tanganku.

Tidak rela sama sekali mengalihkan pandanganku darinya. Apa yang harus kuperbuat?

Apa benar ini cinta?

Aku tidak pernah merasakan detakan secepat ini pada jantungku sendiri semenjak itu. Memimpikan seseorang yang bisa mencintaiku dan aku cintai dengan sekedarnya.

Apakah ini bisa aku ciptakan. Apakah mungkin dia merasakan hal yang sama.

Aku bahagia bisa menatapnya seperti ini. Tapi mungkinkah ini akan berlanjut dalam waktu yang abadi.

Tersayat kembali hatiku bila mengulas balik semua. Tak pernah benar-benar ada orang yang mampu bertahan di sisiku dalam waktu yang lama.

Mengingat beberapa jam sebelumnya. Membuatku sadar akan kenyataan.

Dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Aku hanya berusaha menahan tangisku. Jikalau ia terlambat beberapa detik saja membuka pintu itu. Mungkin manik mataku akan kembali menjadi air terjun yang tak tahu kapan akan keringnya.

Cukup untuk sekarang aku bisa dekat dengannya.

Berada di sampingnya dan membuatnya menjadi lebih tenang dengan adanya kehadiranku.

Biarkan waktu dan hatiku yang akan menjawabnya nanti. Yang terutama dia bernafas dan mungkin melukis mimpi indahnya dalam lelap.

Tidak mudah membuatku bisa berada di ruangan ini bersamanya.

Beribu bahkan berjuta alasan aku jadikan tameng untuk menutupi kekhawatiranku. Supaya setidaknya untuk malam ini aku bisa terus bersamanya.

Walaupun aku tahu, dia pasti merasa tidak nyaman.

Tapi reaksi obat alergi itu pada tubuhnya lebih ampuh dari pertahanan dirinya yang kuat sekalipun.

"Aku ingin kau terus disisiku… hyung."

Tanpa sadar hati dan pikiranku bersinkronasi dengan bibirku untuk mengucapkannya.

.

KEESOKAN PAGINYA

Mataku terbuka perlahan. Mengerjap beberapa kali, menormalkan penglihatan setelah bangun.

Parasnya pertama kali yang kulihat.

Mungkin ini hanya halusinasiku sesaat.

Tapi ini tampak nyata. Begitu nyata sekaligus tak percaya pada penglihatanku sendiri.

Kusentuhkan telunjukku pada pipinya.

Aku tersentak. Kujauhkan reflek telunjukku dari sana.

Kutatap lekat-lekat dan kudekatkan wajahku pada sosok yang berbaring tepat di hadapanku saat ini.

Posisi yang menyamping membuatku semakin jelas melihatnya.

Kutelususpkan kedua telapak tanganku di pipi sebelahku yang menindih.

Kuhirup dalam-dalam oksigen, dan kuhempaskan puas mengudara.

Ingin kuhentikan waktu. Membuat keadaan ini menjadi lebih lama dari seharusnya.

Senyumku terus terukir.

Aku baru teringat dengan kejadian tadi malam. Tapi bagaimana bisa tanpa sadar aku tertidur di ranjang yang sama dengannya.

Mungkinkah perasaanku yang membuatku menjadi bodoh dan bertindak tanpa kesadaranku lagi.

Bagaimana aku sendiri tidak bisa mengontrolnya.

SRAK…SRAK…

Tersentak karena pergerakannya.

"Ottokae?" tanyaku dalam hati.

Reflek aku pejamkan mataku. Berakting senatural yang aku bisa.

Tak ada pergerakan lagi setelah itu. Mungkin ia hanya bergerak singkat dalam tidurnya.

Tapi masih kupertahankan kepura-puraanku.

Ingin kubuka mata ini, tapi ragu.

SRAK…SRAK…

Kurasakan bed cover menutupi tubuhku hingga bahu.

Untung saja aku tidak jadi membuka mataku. Kalau itu kulakukan pasti kecanggungan akan terjadi lagi diantara kami.

Dan selanjutnya bisa kurasakan ia bangun dari ranjang.

Tak lama setelahnya terdengar air dari shower kamar mandi.

"Hah….hampir saja." lenguhku puas.

"Memangnya kenapa Jungkook-ssi?"

Aku terduduk setelah mendengarnya. Terheran dan bingung apa yang harus aku katakan.

"Kkkau? Bu..bukannya kau ke kamar mandi hyung?"

Ia menahan tawanya melihatku.

Betapa malunya aku. Harga diriku seperti ternodai olehnya.

"Aiisshh."

"Wajahmu memerah Jungkook-ssi." ucapnya seperti mengolokku.

Aku berdiri dari ranjang. Dan bergegas untuk kembali ke kamarku.

Bisa-bisa aku lebih salah tingkah lagi di hadapannya.

"Aku akan kembali ke kamarku, lagi pula kau tampaknya sudah lebih baik hyung."

Lenganku di tahan ketika aku berusaha melewatinya begitu saja.

Aku menolehkan wajahku padanya.

"Waeyo?"

"Gomaptaguyo."

Aku tersipu malu karena ucapan terima kasihnya yang terlihat begitu tulus. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk kecil.

Setelahnya ia melepaskan genggamannya. Dan membiarkanku kembali ke kamarku.

.

Baru 5 hari di Busan tapi aku harus kembali ke Seoul.

Bukan karena urusanku sebenarnya. Tapi ini masalah Taehyung hyung.

Ia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa keadaan Soeul, gadis kecil itu kembali kritis.

Aku tak bisa membiarkannya khawatir seorang diri.

Walaupun pembawaannya tenang, tapi kecemasannya masih bisa terlihat.


RUMAH SAKIT

Aku mengusap punggungnya, berusaha menenangkan.

Gadis kecil itu sedang berjuang di dalam ruang operasi yang cukup mengerikan itu.

Karena aku pernah berada di tempat yang sama dengannya beberapa tahun yang lalu.

Reka kecelakaan tersimpan jelas di memoriku. Membuatku berpura-pura menguburnya. Walaupun sebesar apapun usahaku, kejadian itu tidak akan pernah terhapus begitu saja.

.

Kedua telapak tangannya ia genggam. Ia sandarkan pada dahinya menunduk.

Mulai bergetar tubuhnya.

Aku mengenggam kedua telapaknya erat. Menundukkan tubuhku di hadapannya.

Menurunkan kedua telapak tangannya. Lalu menatapnya dalam seraya menguatkan.

Kantung matanya terlihat bergetar. Bulir air matanya terjatuh begitu saja dari sana.

Bulir mataku terbentuk begitu saja di pelupuk mataku. Berusaha ku tahan. Lalu kugelengkan kepalaku.

Meyakinkannya, tidak perlu bersedih karena semua akan baik-baik saja.

"Jaebalyo." bibirku berkata padanya tanpa suara.

Ia hapus air matanya dengan punggung tangannya kasar. Dan berusaha tersenyum padaku, lalu mengangguk.

Walaupun aku belum tahu sepenuhnya siapa gadis kecil itu. Yang aku tahu ia begitu menyayanginya dan sangat berharap akan kesembuhannya.

.

6 JAM KEMUDIAN

Pintu ruang operasi terbuka.

Kami reflkek berdiri.

"Bagaimana operasi Soeul dok?"

"Syukurlah, operasinya berjalan lancar Taehyung-ssi."

"Haah… Gamsahamnida. Gamsahamnida."

"Ne."

Taehyung hyung menoleh ke arahku lalu memelukku erat.

Aku sempat tersentak, lalu aku membalas pelukannya sambil mengusap punggungnya.

"Gomawoyo." Bisiknya padaku.

.

Pasca operasi, keadaan Soeul semakin membaik. Walaupun sempat kembali koma selama satu minggu. Tapi masa kritisnya bisa ia lewati dengan baik.

Hampir setiap hari aku berkunjung. Melihat senyuman Taehyung hyung yang berbeda. Kebahagiaan yang teramat sangat dari senyumannya.

Ketampanannya seakan bertambah setiap harinya. Cahaya menjadi penghias tawanya. Dan aku tidak rela bila semua itu hilang begitu saja.

.

"Annyeong."

Taehyung membalasnya dengan senyuman. Tapi tidak begitu dengan Soeul. Ia terlihat heran seolah bertanya siapa orang ini.

Ia terus menatapku.

"Appa, nuguya?"

Aku tersentak. Apa aku tidak salah dengar dengan apa yang baru saja Soeul ucapkan.

"Soeul-ya, ini Jungkook ajushi. Ia adalah seorang idola yang appa jaga setiap hari." Jelasnya sambil melempar senyum.

Oh demi apapun. Aku tidak salah mendengarnya, bahkan Taehyung menyebut dirinya sendiri appa.

Dadaku terasa tertohok.

Begitu menyakitkan mengetahui kenyataaan ini.

BRAK

Bingkisan buah yang aku bawa terjatuh begitu saja dari genggamanku.

"Jungkook-ssi?"

"Jungkook-ssi?" sambil menepuk pundakku pelan.

"Ah..ye." ucapku setelah sadar dari keterkagetanku.

"Gwenchanayo?"

"Oh."

Drtttt…drtttt….

Ku ambil ponselku setelah merasakan getar dari kantongku.

Aku memberikan syarat keluar ruangan untuk mengangkat telponku. Yang dibalas dengan anggukan olehnya.

.

Telepon tadi dari Hoseok hyung. Memberitahuku untuk segera menuju kantor agency, karena beberapa hal yang harus dibicarakan sesuai schedule yang telah ia susun.

Karena mulai besok masa liburku telah berakhir. Aku harus kembali dengan rutinitasku seperti biasa. Ditambah dengan latihan untuk konser pertamaku.

Mungkin ini adalah yang terbaik untukku saat ini. Disamping kenyataan patah hati yang baru saja aku alami.

Aku langsung pamit setelah menutup teleponku.

Dan bersikap setegar mungkin ketika menatapnya sebelum kulangkahkan kakiku menuju parkiran.

Kubuka pintu dan duduk di kursi kemudi mobilku sendiri.

Kutolehkan kepalaku ke sebelah kanan. Melihat sebuah paper bag yang berisi albumku sendiri plus sebuah tanda tangan yang aku bubuhkan di covernya.

Awalnya aku berniat untuk memberikannya pada Taehyung hyung. Tapi kuurungkan niatku setelah mengetahui kenyataan yang baru saja aku ketahui.

Aku tertunduk kelu sesaat, lalu menjalankan mobilku.

Terlalu miris, ketika aku mulai menyukai seseorang tapi terlalu sulit untukku merengkuhnya.


KEESOKANNYA

JG ENTERTAINMENT

21.00 KST

Aku berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai.

Cukup lelah karena latihan ekstra untuk persiapan konserku 3 bulan lagi.

Tapi latihan seperti itu sudah biasa kulakukan, mungkin yang sangat lelah adalah hati dan perasaanku.

TIN..TIN..TIN..

Aku terlonjak kaget setelah mendengar bunyi klakson itu.

Aku membalikkan tubuhku, mataku menyipit karna sinar lampu dari mobil itu. Mencoba menerobos cahaya, mencari tahu siapa dibalik kemudinya.

"Nugusaeyo?"

BLAM

Dan pintu mobil tertutup.

Mataku membelakak setelah menelisir siapa dia.

Kuperhatikan secara seksama dari ujung kaki hingga mataku bertemu dengan matanya.

Matanya yang tajam menatapku.

"Dangsin!"

Dan smirknya terbentuk setelah aku menyadari siapa dirinya.

Dan tak ubahnya diriku menjadi kaku setelah melihatnya.

.

Sedangkan Taehyung sudah menunggu di mobil Jungkook untuk mengantarnya pulang.

Sebuah keputusan yang harus Jungkook sepakati dengan Hoseok managernya. Kemanapun dan dimanapun harus tetap bersama Taehyung.

Walaupun Jungkook berusaha seprofesional mungkin dan berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya.

Dan tanpa sengaja Taehyung menjatuhkan paper bag yang awalnya akan diberikan padanya.

Memungut isinya yang jatuh di lantai mobil dan melihatnya.

Sebuah album Jungkook yang ditandatangi dan bertuliskan TO TAEHYUNG HYUNG, MY SPECIAL BODY GUARD.

Membacanya lekat-lekat dan tersenyum setelahnya.

Lalu memasukkannya kembali ke dalam paper bag tadi.

Drttt..

Taehyung merogoh ponsel dan membaca pesan yang masuk.

FROM : JUNGKOOK-SSI

Aku masih ada urusan, kau bisa pulang duluan hyung.

Aku janji akan segera pulang, setelah urusanku selesai.

TBC

Chapter ini bener-bener super telat updatenya. Mianhaeyo..

Terima kasih juga buat review kalian, jangan lupa buat review-review kalian yang lain yah reader.

Moga kalian nggak bosen dan ngikutin story ini sampai ending :)