Chapter 4 : Pink?
"Sam, menurutmu mungkin tidak soulmate Jihoon itu Jinyoung?" Daehwi bersuara, saat ini dia dan Samuel sudah berada di parkiran apartemen Samuel, Daehwi memang selalu menginap di tempat Samuel saat akhir pekan, ia ingin menghabiskan waktu senggangnya berdua saja dengan Samuel.
"Mungkin saja, emang kenapa?" Daehwi mengangkat bahunya, mengambil tasnya yang ia letakkan di kursi belakang mobil Samuel. Masih kepikiran kenapa Jinyoung bisa tahu tentang tanda milik Jihoon.
"tadi, yang menyuruhku mengecek tanda milik Jihoon-hyung itu Baejin, terus dia bilang penting banget gitu, gak jelas"
"chat saja, spam kalau perlu, dia itu memang sering sok misterius." Samuel memutar bola matanya, sudah hafal kebiasaan Jinyoung yang sering buat penasaran. Ia mendorong Daehwi agar berjalan lebih cepat menuju lift, ia malas membicarakan Jinyoung sekarang, dia hanya ingin memeluk Daehwi nya sekarang.
"daripada mikirin itu, lebih baik kamu mikirin nasibmu besok, aku belum dikasih apa-apa sejak sebulan lalu." Saemuel mengerling iseng pada Daehwi yang masih sibuk memikirkan Jihoon dan Jinyoung,
"jangan coba-coba Kim Samuel, atau kutendang teman kecilmu itu." Daehwi mendelik kesal, ia masih ingat sebulan lalu ia bangun tidak bisa berjalan karena Samuel. Samuel hanya tertawa namun kemudian mengecup bibir Daehwi sekilas sebelum melenggang keluar dari lift.
"aku hanya bercanda sayang, aku tahu kau lelah, makanya berhentilah memikirkan Jinyoung dan Jihoon, it's better to stop thinking about them and cuddle with me until you fall asleep"
Daehwi tersenyum, menggelayutkan tangannya pada lengan Samuel kemudian berbisik,
"Tidur yang nyenyak malam ini karena besok aku ingin kau menghabisiku "
"YAK LEE DAEHWI JANGAN MENGGODAKU"
.
.
.
.
Baejinyoung : Hyung sudah makan malam?
Baejinyoung : kau sudah mandi
Baejinyoung : sudah tidur ya?
Parkjihoon : aku sudah makan dan mandi, mungkin sebentar lagi tidur
Parkjihoon : Kau sudah sampai?
Baejinyoung : ah! Kau belum tidur!
Parkjihoon : sedang apa?
Baejinyoung : aku baru sampai dan sedang membalas chat mu
Parkjihoon : Sudah makan?
Baejinyoung : belum, aku baru sampai, ini masih di garasi
Jihoon tertawa membaca balasan Jinyoung tersebut, dengan cepat ia membalas pria berkepala kecil tersebut, semburat merah dipipinya juga masih belum hilang. Ia sangat senang bisa bertemu Soulmatenya hari ini. Dan jangan ingatkan bahwa sekarang sudah jam setengah sebelas malam, Jihoon masih belum mau tidur.
Jihoon baru hendak tidur setelah saling mengucapkan selamat tidur, namun handphonenya kembali bergetar.
Baejinyoung : Hyung soal ajakanmu tadi, besok temani aku membeli sepatu dan makan malam bersamaku mau tidak?
Jihoon mungkin lebih baik memikirkan baju apa yang harus ia kenakan besok ketimbang tidur malam ini.
.
.
.
.
"Ibu, aku bertemu soulmateku kemarin" ibu Jinyoung menatap sedikit terkejut karena Jinyoung tiba-tiba membicarakan hal ini saat sarapan.
" kau sudah bicara dengannya?" Ibu Jinyoung kurang tertarik karena Jinyoung sudah sering membicarakan 'Park Jihoon ini' dan 'Park Jihoon itu' setiap hari dan tanpa malu mengakui kalau ia stalkernya Jihoon, ibu Jinyoung sudah menyuruhnya berkali-kali untuk mulai bicara dengan soulmatenya daripada melakukan kebiasaan tidak sehat seperti mengstalk seseorang dan….. kau tahulah kebiasaan anak laki-laki yang sehat dan hormonnya tinggi, namun anaknya ini agak sedikit melankolis, dia bilang waktu, tempat dan bla bla bla harus tepat.
"sudah, aku mengantarnya kemarin malam." Ibu Jinyoung tersenyum, bibi Han yang sedang menyiapkan teh untuk mereka berdua juga ikut tersenyum, senang akhirnya Jinyoung akan berhenti membicarakan Jihoon saat makan malam atau saat ibunya sedang menonton drama favoritnya.
"kau sudah mengikatnya Jinyoung?" Tanya ibu Jinyoung lagi, Jinyoung memiringkan kepalanya bingung.
"Maksud ibu?" ibunya mendengus, mestinya ia mengajari Jinyoung mengenai hal ini lebih cepat.
"Jinyoungi, kau harus mengikat soulmate mu dengan mencium bibirnya, kalau tidak tanda ditangan kalian berdua bisa memudar dan pasangan kalian bisa saja berganti jika mengulurnya terlalu lama, kau sudah mengulur waktu hampir dua tahun lho"
"nanti dulu bu, kan aku baru kenalan dengannya kemarin, lagian Jihoon juga mana mungkin bisa tertarik sama orang lain, secara aku mahasiswa paling ganteng di kampus" ibu Jinyoung mendengus, kenapa anaknya ini narsis sekali.
Jinyoung bingung, ia tidak tahu harus makan apa dengan Jihoon malam ini, dia juga bingung harus pakai baju seperti apa, dia tidak mau kencan pertamanya dengan Jihoon jadi kacau nantinya.
Mungkin lebih baik Tanya Daehwi
"Halo" Jinyoung tersenyum puas, akhirnya setelah hampir 30 menit mencoba menghubungi Daehwi telfonnya diangkat.
"Kau lagi apa sih?! Aku capek menelfonmu dari tadi—"
"AH! Sam!" Jinyoung menganga, belum selesai ia mengomel ia sudah dipotong oleh lengkingan Daehwi.
WHAT THE HECK
"YAK LEE DAEHWI, KIM SAMUEL KALIAN MENJIJIKKAN" Jerit Jinyoung yang kemudian dibalas dengan bunyi beberapa benda terjatuh dan suara Samuel yang mengaduh kesakitan diseberang sana.
"kau mau apa?" Daehwi sedikit malas karena Jinyoung mengganggunya dengan Samuel.
"oke, jadi, begini, anu-"
"ngomong yang cepet."
"oke, jadijihoonhyungitusoulmatekudanhariiniakumengajaknyamakanmalamdan—"
"Pelan sedikit Bae Jinyoung"
"ok. Jadi Jihoon hyung itu soulmate ku"
"HAH. KENAPA BARU BILANG."
"Ini juga lagi bilang. Nah jadi kemarin aku sudah mengucapkan kalimat pertamaku dan aku mengajaknya makan malam hari ini, jadi Lee Daehwi yang paling pintar, tolong bantu aku memilih baju dan tempat untuk makan malam karena aku tidak tahu apa makanan kesukaannya dan apa yang dapat menyenangkan hatinya."
"dasar payah, aku akan kerumahmu sebentar lagi, nanti akan kubuat Jihoon tidak bisa berhenti memikirkanmu oke?"
"kau yang terbaik Lee"
Sekarang Jinyoung hanya perlu santai dan menyerahkan semuanya pada Daehwi, dia hanya perlu mengikuti kata-kata Daehwi nanti dan buat Jihoon terpesona dengannya. Cukup lama Jinyoung menunggu Daehwi, dia tidak berhenti chatting dengan Jihoon, terkadang ia senyum-senyum sendiri sampai-sampai dia tidak sadar kalau Daehwi dan ibunya masuk kekamarnya.
"Halo yang jatuh cinta, kau sadar tidak aku ada disini" Daehwi bersuara karena Jinyoung tidak menyadari keberadaannya, ibu Jinyoung hanya cekikikan, meletakkan teh dan beberapa makanan ringan untuk keduanya kemudian keluar.
"ah! Maaf aku sedikit sibuk hehe" Daehwi memutar bola matanya, dia merebut handphone Jinyoung yang sedang lengah dan membaca pesan dari Jihoon dengan suara keras.
"selamat pagi manis, jangan lupa sarapan dan balas pesanku. Hoek, mau muntah, Jihoon itu hanya manis diluar, dia itu monster keji yang hobi menendang orang, untung saja kakinya pendek" Jinyoung menatap Daehwi bingung, kalau dimatanya Jihoon itu manis dan lemah lembut, mana mungkin dia berlaku kasar seperti itu.
"nanti juga kau tahu sendiri, cih. Jadi kau mau kemana?"
"entahlah, aku kemarin asal saja bilang mau beli sepatu dan makan malam, aku tidak mau jalan-jalan ke wahana bermain atau tempat-tempat seperti itu, panas dan melelahkan, enakan belanja terus makan malam, kan kalau malam lebih leluasa—" Daehwi memukul kepala Jinyoung, dasar temannya ini sudah tidak romantis, pemalas, mesum lagi.
"Asal kau tahu ya, Jihoon itu suka sekali naik bianglala, dia hobi baca webtoons yang cute cute gitu, jadi dia pengen banget date ke taman bermain!"
"aku juga baca webtoons tapi tidak ada tuh yang seperti itu."
"kau baca apa emang?"
"Bastard"
Daehwi kembali memukul kepala Jinyoung, dia kasihan dengan Jihoon yang dapat soulmate seperti ini. Ah, tapi tidak apa-apa, ini pembalasan karena Jihoon sering mengatainya dan menendangnya, tuhan memang adil.
"heh, jadi Jihoon suka makan apa?"
"tidak tahu, dia suka makanan murah." Jinyoung mendecak kesal karena Daehwi yang menganggapnya tidak serius.
"serius Daehwi!"
"iya serius! Jihoon itu hemat banget, yang aku tahu ya dia itu sering banget makan ramyeon instan! Bahkan waktu itu kita ke minimarket buat makan ramyeon dia gak mau pakai telur padahal cuma nambah 800 won saja." Jinyoung sedikit shock mendengarnya, sepertinya dia dan Jihoon sedikit bertolak belakang kalau begini.
"beda kan dengan tuan muda Bae yang super kaya, punya banyak uang dan tiap hari berangkat kuliah naik ferrari merahnya kemudian menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk main game online"
Jinyoung cengengesan mendengar ocehan Daehwi, tapi benar sih omongan Daehwi, Jinyoung itu anak tunggal, Ayahnya merupakan pemilik salah satu perusahaan besar yang membuat orangtuanya kadang sangat sibuk, jadi dia memang benar-benar dimanja, terutama oleh ayahnya makanya kemarin Ayahnya yang biasanya pakai supir meminta anak kesayangannya mengantarkannya.
"tapi serius deh, kira-kira aku ajak makan dimana? Restoran Italia? Prancis? Atau masakkan Korea biasa saja?"
"Kau ajak saja kerumahmu dia pasti langsung senang"
"iih tidak mau, ibuku kan suka kepo."
"ah begini saja, Jihoon itu ya suka sok malu-malu tapi malu-maluin, nah nanti nih dia pasti pake baju yang gak jelas gitu, dia hobi pake baju kegedean, nah kamu ajak beli baju aja, dia pasti ntar sok nolak tapi akhirnya mau, yang penting dia gak keluar duit lah, Jihoon pelit banget emang. Nah baru kamu ajak makan, makan apa aja mau dia kalo dibayarin, kalo bisa tempat yang bisa makan banyak, dia hobi makan makanya gendut gitu."
"enak saja, Jihoon gak gendut, dia Cuma sedikit berisi aja, lucu malah."
"tau deh yang jatuh cinta"
"terus dia suka warna apa ya? Enaknya aku pake baju apa?"
"kemeja lengan pendek yang warna hitam, jeans hitam, slip on yang biru-hitam."
"masa hitam semua"
"duh Jihoon suka tau, waktu itu Minhyun-sunbae pakai setelan hitam-hitam dan Jihoon itu ya ampun matanya jelalatan ngeliati Minhyun-sunbae." Jinyoung mengangguk dan mencari baju-baju yang disarankan oleh Daehwi, kemudian berpose didepan cerminnya.
"wah gantengnya temanku" Daehwi hanya melihatnya tidak tertarik dan memujinya dengan tidak ikhlas.
Jinyoung mengambil kacamata bundarnya, memasang senyum yang kalau Daehwi sering bilang itu senyum sok ganteng. Dalam hati Jinyoung memuji dirinya sendiri, dia mengambil handphonenya dan membuka aplikasi kameranya, berpose didepan cermin dan mengambil memfoto bayangannya yang terdapat pada cerminnya tersebut.
Setelah mengambil beberapa foto ia membuka instagramnya, mengetikkan caption yang tepat dan sedikit terkikik karena ada bayangan Daehwi yang juga ikut terfoto, wajah Daehwi benar-benar lucu, tatapannya seperti 'ih-jijik-banget'. Dia sengaja men-tag Daehwi.
Daehwi yang sedang bermain handphonenya membuka instagramnya karena mendapat notifikasi.
'Damn Bae, you look so ready.
Look at that ugly thing behind me though'
Daehwi melempar Jinyoung dengan sandal rumahnya karena seenaknya, mana Jinyoung itu eksis lagi, pasti banyak yang lihat, malu-maluin. Jinyoung yang baru mendapat notifikasi like dari Jihoon tetap saja senyum-senyum sampai dia membuka notifikasi kakaotalknya.
Hah….
Apa….
"AAAAH TIDAK, MANA BOLEH BEGITU" Daehwi baru mau berkomentar karena Jinyoung seenaknya mengupload foto jelek itu namun Jinyoung tiba-tiba berteriak, dia menatap Jinyoung malas.
"apaan sih Baejin, jerit-jerit mulu"
Jinyoung melemparkan handphonenya ke tempat tidurnya kemudian menenggelamkan wajahnya ke bantal sambil terus-terusan merengek seperti anak kecil. Daehwi yang jengah dengan temannya ini mengambil handphone Jinyoung, menempelkan jarinya ke satu-satunya tombol pada smartphone tersebut untuk membukanya (Jinyoung sengaja memperbolehkan Daehwi memasukkan sidik jarinya pada handphonenya) dan tertawa terbahak-bahak setelah melihat balasan terbaru dari Jihoon.
Parkjihoon : Jinyoung, sepertinya hari ini tidak jadi saja ya L
Parkjihoon : terjadi kesalahan di tempat laundry dan bajuku pas sekali sedang habis, aku hanya memiliki sesetel baju untuk dirumah, besok saja ya?
.
.
.
.
.
Jihoon terbangun jam 9 pagi hari ini, dia sudah menyusun jadwalnya dengan baik, ia akan menelfon ibunya pagi ini, kemudian sarapan, chat dengan Jinyoung, mandi, chat lagi, mengambil laundry dan memilih baju untuk jalan dengan Jinyoung malam ini.
"iya buu tenang saja aku akan baik-baik saja, Jinyoung itu orang baik-baik, dia juga bukan orang sembarangan, semalam dia mengantarku naik mobilnya, dan wah, itu ferrari bu. Aku terkejut, sepertinya dia kaya sekali"
"Iya iyaaaa, ibu cerewett, okee aku juga sayang ibuu"
Jihoon tersenyum, dia baru saja memamerkan soulmatenya pada ibunya, sengaja menceritakan kalau Jinyoung mengantarnya pulang dengan Ferrari merahnya agar ibu dan adik-adiknya iri. Senyumnya tambah lebar melihat balasan dari Jinyoung, soulmatenya itu terus-terusan memanggilnya 'manis' dia jadi malu sendiri karenanya.
Sesudah ia mandi dan cukup segar ia memutuskan mengambil pakaiannya di binatu langganannya, dia yakin pasti akan berat karena Jihoon sering sekali menunda-nunda ke binatu sampai hampir semua pakaiannya habis terpakai seperti sekarang, ia hanya memiliki satu setel baju, sweater pink dan celana training pink kesayangannya yang lusuh, untung saja letak binatu itu di lantai bawah jadi dia santai saja kesana hanya dengan menggunakan setelan tersebut.
"Daniel-hyunggg aku ingin mengambil pakaiankuuu" Jihoon menyerahkan nota miliknya pada Daniel, pekerja paruh di binatu tersebut sekaligus kakak tingkatnya. Daniel tersenyum walaupun wajahnya terlihat lelah sekali.
"Ah, Jihoonie, maaf ya, hari ini tidak bisa ambil bajunya, pekerja kami lagi banyak yang libur jadi mungkin besok baru selesai, besok Youngmin akan mengantarkannya ke tempatmu oke?"
Hah, mana bisa begitu.
Oh tidak, dia tidak akan mengeluh biasanya tapi hari ini ia perlu bajunya kembali, dia akan kencan, garis bawah, kencan pertama. Mana mungkin dia pergi ke mall dan makan malam dengan Bae Jinyoung yang tampan dan mengendarai Ferrari sedangkan dia hanya mengenakan baju dan celana pink begini.
Jihoon hanya mengangguk lemas, menekan tombol lift kemudian membuka handphonenya, dia akan minta Jinyoung untuk membatalkan kencannya dan pergi dengan Jinyoung besok, dia tidak mau tampil memalukan begini.
Bae Jinyoung (baejin00) post a new photo
Jihoon mengecek instagramnya dan sedikit terpesona melihat update instagram Jinyoung. 'Tampan sekali sih kamu' ia sedikit mempoutkan bibirnya, kenapa si Daehwi jelek itu ada di kamar Jinyoung? Tapi lihat deh, Jinyoung keren banget, dia pakai kemeja hitam yang digulung sampai siku, dua kancing teratas dibiarkan terbuka dan celana jeans hitam yang terlihat sempurna menutupi kakinya yang cukup panjang, ditambah lagi kacamata yang bertengger di wajahnya, wah Jihoon bisa mati muda kalau dia melihat Jinyoung secara langsung sekarang. Ia bahkan tanpa sadar menekan tombol like pada post tersebut.
Ah tapi kan tidak bisa pergi ya, sayang sekali, padahal aduuh tampan sekali, aku pasti tidak berhenti menatapnya kalau bertemu dia seperti ini
Jihoon mempoutkan bibirnya, sangat kecewa karena ia harus membatalkan kencannya malam ini, ia membuka chat roomnya dengan Jinyoung dan mulai mengetikkan pesan dengan wajah tidak rela.
Parkjihoon : Jinyoung, sepertinya hari ini tidak jadi saja ya L
Parkjihoon : terjadi kesalahan di tempat laundry dan bajuku pas sekali sedang habis, aku hanya memiliki sesetel baju untuk dirumah, besok saja ya?
Jihoon rasanya mau menangis karena sejak sejam yang lalu Jinyoung tidak membalasnya, dia hanya membacanya saja terlihat dari tulisan read di samping pesannya tersebut. Dia pasti kesal, hah, tapi kan ini bukan salahku kann.
Jihoon tergeletak lemas di sofanya, bagaimana dia akan membujuk Jinyoung sekarang? Bagaimana kalau Jinyoung jadi tidak mau jadi pasangannya? Bagaimana kalau tanda soulmatenya hilang seperti yang dialami Sanha? Aduh apa yang harus Jihoon lakukan sekarang?
Saat Jihoon sedang 'galau' tiba-tiba bell apartemennya berbunyi, dan yang menekannya gila mungkin, orang itu terus-terusan memencet belnya, Jihoon yang moodnya sedang buruk berjalan dengan kesal menuju pintunya dan hendak memarahi siapapun yang asal pencet belnya namun dia membeku saat membuka pintu.
"Kita akan pergi, aku tidak peduli kau pakai baju atau tidak kita harus pergi hari ini—"
"….Park Jihoon, kenapa kau pink dari atas sampai bawah?"
Pipi Jihoon memerah karena, ya tuhan, Bae Jinyoung, dengan setelan Hitam-hitam berdiri dihadapannya dan dia hanya mengenakan sweater merah muda dengan celana training yang sama warnanya, ini memalukan.
Aduh, memalukan sekali.
To be continued.
Author's note :
Hehe, sedikit SamHwi di awal sesuai permintaan, maaf kalau gaje dan membosankan, fic ini bukan fic yang banyak konfliknya hehe, ini Cuma fic yang aku buat untuk ngeluarin ide yang mendep di kepala aku aja jadi alurnya mungkin santai-santai ajaa
