*Drumroll*
Hasil polling kemaren udah saya liat, hasilnya merata banget. Mulai dari Neji, Gaara, Shikamaru, bahkan Sai! Untung gak ada yang saranin Kakashi-sensei! Saya gak bisa buat student-teacher realtionship soalnya haha
Maka dari itu, saya bakal buat event dengan tiga cowok di atas (Sai kalau sempet ya) buat saingannya Sasuke di masing-masing chapter. HAH! MAMPUS LU PANTAT AYAM, TAU RASA LU BIKIN NARUTO-CHAN GUE SENGSARA MULU! MUAHAHAHAHA (#tawa maniak)
Dan soal ending, rata-rata gak mau sad ending, tapi ada yang saranin terserah saya….. hm gimana yahhh. Liat aja deh nanti hehehe
Btw, saya udah bales reviewnya, meskipun gak semua sih….maklum keterbatasan kuota dan waktu hehehe Honto ni Gomenasai!
Oke capcus…..
LONG KISS GOODBYE
AUTHOR: AUSTINE SOPHIE
DISCLAIMER: NARUTO AND ALL OF ITS CHARACTERS ARE THE PROPERTY OF MASASHI KISHIMOTO
WARNING: FEM!NARUTO, BEFORE NARUTO: SHIPPUDEN!, OOC(MAYBE), TYPO(S), SCREWED UP PLOT AND TIMELINE, ETC.
(A/N: Well… HAPPY READING, MINNA!)
Uzumaki Naruto bagi seorang Haruno Sakura hanyalah sesosok perempuan pembuat onar yang sangat menjengkelkan.
Gadis penyuka ramen itu sangat berisik, berbuat hal-hal yang bodoh, dan terkadang mengganggu acara yang dibuat oleh dirinya dengan Sasuke-kun. Ya, benar. Kau tidak salah membacanya. Gadis itu benar-benar pengganggu.
Entah bagaimana caranya, si bodoh yang berisik itu selalu saja bisa mendapatkan perhatian si pemuda raven. Cemburu? Tentu, sangat!
Memang apa yang kurang dari dirinya? Dia, kan, cantik, pintar, kunoichi terpandai dan nomor satu. Apa kurangnya? Kenapa Sasuke-kun lebih perhatian pada Naruto dibanding dirinya?
Apa yang membedakan Naruto dengan seorang Haruno Sakura?
Dan pertanyaannya pun terjawab waktu ujian Chuunin.
Sasuke-kun dan Naruto, berjuang habis-habisan, berhasil lolos ke babak berikutnya, menunjukkan kekuatan mereka sebagai seorang shinobi. Sedangkan, dia?
Tak berguna, tidak ada gunanya.
Gelar kunoichi nomor satu itu hanya pajangan. Ilusi yang bukan merupakan kenyataan. Terbukti dari ketidak-bergunanya ia waktu itu. Dan Sakura akhirnya sadar... bahwa inilah yang membedakan dirinya dengan Naruto.
Naruto, gadis pirang itu...tidak pernah mengeluh, selalu riang, optimis...tidak pernah menyerah, berbeda sekali dengan dirinya. Dengan daya tariknya tersendiri, Naruto berhasil memikat orang-orang yang ada di sekitarnya, perlahan-lahan mengakui dirinya, termasuk Sakura.
Ya, Haruno Sakura pun akhirnya mulai mengakui keberadaan Uzumaki Naruto.
Perlahan-lahan, Sakura mengakui Naruto sebagai temannya. Meskipun, ya, ia masih cemburu pada Naruto.
Lalu...munculah hari itu, kejadian dimana Sasuke-kun meninggalkan mereka. Dan yang berhasil mencegah dan membuat si pemuda itu pulang lagi? Naruto, bukan Sakura.
Ada tiga perasaan yang ia rasakan waktu itu. Pertama, 'bahagia' karena Sasuke-kun pulang dan Naruto berhasil membujuknya. Kedua, 'cemburu' karena lagi-lagi Naruto yang melakukan itu, bukan dirinya. Terakhir, 'kesedihan.' Karena hal yang harus dibayar untuk kepulangan sang Uchiha, adalah kepergian Naruto.
Kenapa?
Di saat ia ingin mengubah sikapnya pada Naruto, menjadi seorang teman yang sesungguhnya untuk si gadis pirang. Kenapa dia pergi?
Pergi ke tempat yang jauh, dimana tak ada seorangpun yang dapat mengejarnya?
Kini yang tersisa, hanyalah hati yang hampa dan penuh penyesalan. Hampa karena sang sosok teman telah tiada, dan penyesalan karena tak memperlakukan si kawan lebih baik saat ia ada. Padahal, Naruto selalu menganggapnya teman, ia selalu baik pada dirinya. Tapi, yang dilakukan Sakura? Hanyalah berkata sinis dan menghiraukan keberadaan Naruto.
Lalu, mukjizat itu pun datang. Naruto telah hidup kembali. Tiba-tiba saja, sebuah aura layaknya chakra merah keluar dan meluap dari tubuh si pirang, membuat dadanya naik turun menghembuskan napas kembali. Melihat itu, semua orang yang hadir memanggil Tsunade-sama dan Shizune-san, yang segera membawanya ke ruang ICU.
Dan entah kapan kedua kakinya spontan berlari, segera mencari sosok yang ingin ditemuinya. Mengatakan pada pemuda itu bahwa kawan mereka masih hidup. Memberitakan kepadanya bahwa 'dia' telah kembali.
Sasuke-kun...
.
.
.
.
.
CHAPTER 4: GLOOM
I'm afraid to remember
Closing my eyes and heart
I tried many times to erase it,
but every time you flood my memories...
-Kimi no Kioku by Mao
.
.
.
.
.
Dua sosok hitam terlihat bergerak di bawah teriknya sinar matahari, menelusuri dengan cepat daerah hutan yang dipenuhi pepohonan yang rindang.
Sosok yang berkerudung hitam dengan ulasan cat di wajahnya sekali-sekali menoleh ke sosok yang lainnya, seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tidak berani mengatakannya.
Lewat beberapa menit sosok wanita yang ditilik, tidak tahan dengan perilaku saudara laki-lakinya yang aneh, akhirnya angkat suara dan mendesah, "Hentikan sikapmu, Kankurou! Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan sekarang juga!"
Si pemilik nama pun dengan tidak sadar menelan ludah.
Ya, ampun... Kakak perempuannya ini memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu saja galak, bahkan pada Adik sendiri.
"Naa...Temari. Apa tidak apa-apa membiarkan Gaara sendirian di Konoha?"
Mengangkat satu alisnya, Temari pun membalas, "Kau menghawatirkan Adik kita?"
Kankurou sedikit terperanjat, "Ah! Bukan begitu, Nee-san! Tapi...,kau tahu, kan? Hubungan desa kita dengan Konoha masih-"
"Kankurou!" Bentak Temari.
"Y-ya, Nee-san?"
Sang Kakak pun menghela napas sebelum berbicara kembali, "Apa kau tidak percaya dengan Gaara?"
"E-eh?" Pertanyaan macam apa itu? Batin Kankurou berbicara.
"Gaara... dia sudah berubah, dia sudah tidak seperti yang dulu lagi. Anak itu sudah bisa menjaga dan mengendalikan dirinya sendiri sekarang. Mengenai Konoha, mereka juga tidak mungkin akan menyerang Gaara. Mereka tidak bodoh, Kankurou. Bukankah mereka sendiri yang menawarkan perjanjian damai dengan kita?"
Temari menghentikan langkah kakinya, membuat Kankurou juga menghentikan larinya. Dia berbalik menghadap Kankurou.
"Lagipula, kau lihat, kan? Ini pertama kalinya Gaara memohon pada kita."
Sang Puppet Master menganggukkan kepalanya ringan, "Ah... Ya, kau benar. Aku tidak menyangka bahwa akan tiba saatnya Gaara akan melakukan hal seperti itu, bahkan mengkhawatirkan orang lain. Ini semua berkat bocah itu, eh?"
Temari tersenyum, "Ya...kau benar."
.
.
.
.
.
Langkah kaki itu bergema di sepanjang koridor rumah sakit. Mengabaikan seorang suster yang hendak menegur mereka untuk tak berlari, tiga sosok ninja itu dengan tergesa-gesa mendatangi ruang ICU.
Sesampainya, Sakura, sosok yang berambut pink tadi itu segera menghampiri Ino.
"Ada kabar dari Tsunade-sama?"
Si pirang menggeleng lesu, "...belum."
Sakura mendesah pelan, lalu duduk di sebelah Ino. Suasana di depan ruang ICU itu pun kembali hening, tidak ada suara yang dilontarkan oleh barang satu mulut pun. Sebagian merasa resah dan tak sabar. Sementara sisanya, diam tidak melakukan apa-apa...atau memandangi satu sosok di pojok ruangan dengan tanda tak suka.
Tanpa melihat pun, Sasuke tau bahwa kehadirannya itu tidak diperlukan.
"Kenapa 'dia' masih di sini?"
"Tidak tahu diri, masih berani menunjukkan wajahnya di sini."
"Dasar pembunuh!"
"Tidak tahu malu!"
"Kenapa si Uchiha brengsek itu tidak juga ditahan oleh para ANBU, sih?
Dan lain-lain.
Tidak perlu menjadi seorang mind reader untuk mengerti apa yang mereka pikirkan saat melihatnya. Apalagi, si Inuzuka yang menolak untuk kembali ke kamarnya walaupun sudah dibujuk paksa oleh sensei-nya. Dan meskipun Iruka tak melototinya, aura kebencian itu tersirat dari sorot matanya yang tenang. Bahkan, si pewaris Hyuuga yang biasanya bersikap malu, kini wajahnya berkerut melihatnya. Ditambah lagi, sosok berambut merah yang juga berada di pojok ruangan, dengan datarnya mengeluarkan aura membunuh pada dirinya.
Sabaku no Gaara? Kenapa ninja Suna itu masih berada di sini?
Rantai pikirannya terputus ketika lampu ruang ICU padam dan terlihat seseorang yang berbaring di atas kasur, didorong oleh para perawat.
Semua orang yang melihat langsung spontan berdiri dan bergerak mendekati, namun ditahan oleh Shizune yang berkata bahwa mereka dapat melihat kondisi Naruto setelah ia dibawa ke ruang rawat biasa.
Terlihat Tsunade memberikan pengarahan pada para perawat dan Shizune yang segera membawa pergi Naruto yang masih tertidur ke kamar perawatannya.
"Ano, Tsunade-sama! Jadi...bagaimana dengan kondisi Naruto?" Tanya Iruka-sensei cemas.
Mendengar itu, sang Hokage mengatup mulutnya sebentar sebelum menjawab, "Naruto...dia sudah melewati masa kritisnya dan kemungkinan akan sadar dalam beberapa hari-" dan disambut teriakan meriah dari semua orang yang berada di ruangan itu.
Urat-urat kekesalan muncul di dahi Tsunade yang belum selesai bicara dan perkataannya dipotong. Sedikit bedehem mebuat perhatian satu ruangan kembali tertuju padanya, ia berkata dengan suara tegas, "Kalau kalian ingin menjenguk Naruto, lakukan itu dengan tidak berisik! Naruto saat ini masih tertidur, biarkan dia istirahat dulu! Kalau aku mendengar salah satu dari kalian membuat bocah itu bangun," Sorot matanya berubah tajam, "KUHAJAR KALIAN!"
Efektif membuat satu ruangan menjadi sunyi, si pewaris Senju itu menyeringai dalam hati. Namun itu hanya bertahan sebentar setelah ia melihat dari sudut matanya, si gadis Haruno tengah menarik pemuda berambut hitam ke arah kamar sang Uzumaki.
"Berhenti di situ, Uchiha!"
Yang dipanggil memberhentikan langkahnya dan gadis yang ada di sebelahnya menoleh kepada sang Hokage.
"ANBU! Bawa bocah itu ke ruanganku! Aku masih punya pehitungan dengannya!" Dua ANBU muncul di belakang Sasuke. Tentu yang ingin ditangkap tidak membiarkan dirinya ditahan tanpa perlawanan.
Sasuke memberontak, bahkan menendang salah satu tungkai kaki sang ANBU di sebelahnya.
Setelah beberapa saat, momentum untuk menaklukan sang pewaris klan ternama datang, dan mereka melakukan shunshin mengikuti sang Hokage, meninggalkan Sakura yang menatap cemas dan sang guru yang memandang sisa-sisa keberadaan mereka.
.
.
.
.
.
Brakkk!
Dua ANBU itu mendorong Sasuke, membuat pemuda itu tersungkur di depan meja Hokage. Si pemuda raven menggertakkan giginya, sorot matanya memandang kedua ANBU dan Tsunade dengan tatapan tak suka.
Sang Hokage perlahan mendekati bocah yang ada di hadapannya, menekuk kakinya dan berjongkok di depan wajah si Uchiha. Tangan kanannya mengepal keras, bersiap melayangkan tinju di salah satu pipi Sasuke.
Heh! Batin Sasuke tersenyum miris dalam hati. Jadi hukumannya adalah langsung dari tangan sang Hokage sendiri, hah? Dia pun mengatupkan kedua matanya, menyiapkan dirinya atas serangan yang akan diterimanya.
Tapi dia tak merasakan apa-apa.
Merasa aneh, ia mulai membuka matanya. Kepalan tangan sang Hokage tepat berada di depannya, hanya sekitar 3 cm lagi sebelum mengenai wajahnya. Pada akhirnya, tinjuan sang Senju itu mendarat di lantai, membuat retakan hebat di ruangan kerja Hokage.
Masih dengan kepalan yang mencium lantai, Tsunade berkata pelan, "Sungguh aku ingin menghajarmu sekarang juga, meremukkan tulangmu, dan menghancurkan tubuhmu menjadi seonggok sampah yang tak berbentuk. Tapi..."
Tangan kanan Tsunade menarik kerah sang Uchiha kasar ke arahnya, "Para tetua itu...tidak! Dua orang tua bau tanah itu menahanku untuk tidak menghukumu lebih dari itu! Kau senang, kan, Uchiha? Kau senang, hah? Mereka berkata bahwa kau, adalah aset desa yang sangat berharga! Kehilangan kau adalah suatu hal yang harus dihindari! Mereka memaksaku untuk membuat hukumanmu menjadi lebih ringan. Sementara, Naruto!?"
Sorot kedua mata mereka bertemu. Hazel clashes Onyx, "Mereka tidak peduli! Hanya menganggap anak itu adalah hal yang patut dikorbankan demi kepulangan kau! Harta desa mereka yang paling berharga! Naruto...anak itu..."
Tsunade menunduk, "Anak itu...Aku menganggapnya...sebagai adik perempuanku sendiri." Senyum pahit pun terulas, "Dan jika aku membunuhmu atau menghajarmu habis-habisan, itu hanya akan membuat usaha bocah itu hanya sia-sia dan bahkan, dia pasti tidak akan berhenti memarahiku kalau dia sudah sadar nanti."
Sasuke mengalihkan pandangan matanya. Rambutnya menutupi ekspresi wajahnya. Dia berkata dalam hati, 'Dobe...semua orang ini benar-benar peduli padamu, huh?'
Memang bukan salahnya, kan, para tetua itu memihak ia yang seorang Uchiha? Klan Uchiha sangat terhormat, mereka disanjung oleh seluruh penduduk desa. Bukan salahnya, ia yang lahir mengemban marga klan ternama. Bukan salahnya juga, semua orang memihak kepadanya.
Tapi, melihat lingkaran orang-orang yang mengelilingi Naruto...Mereka yang menangis saat mendengar Naruto telah tiada. Mereka yang benci dan kesal pada dirinya yang telah melukai Naruto, bahkan membunuh gadis itu. Orang-orang itu yang tertawa dan bersorak bahagia mendengar Naruto telah hidup kembali...Itu membuat suatu gejolak iri bangkit dalam dirinya lagi.
Namun gejolak rasa itu segera tertimbun setelah sadar bahwa dialah yang harus bertanggung jawab. Dia yang membuat gadis itu terluka, dialah yang harus menanggung resikonya. Tsunade benar, bahwa dia harus menerima hukuman yang lebih berat ketimbang yang diizinkan oleh tetua. Ditambah lagi, dia juga telah sadar bahwa Naruto...tidak, si Dobe itu...orang yang berharga di matanya.
Tsunade membangkitkan dirinya dan berkata, "Genin, Uchiha Sasuke."
Dua bola mata onyx itu menoleh.
"Kau berusaha melarikan diri keluar dari desa, melakukan kontak dengan nuke-nin Orochimaru, melukai salah satu rekan tim-mu, dan melakukan usaha pembunuhan pada salah satu rekan tim-mu juga. Dengan ini, sebagai Hokage, kau harus menerima hukumanmu."
"ANBU! Aku perintahkan bahwa Uchiha Sasuke akan ditahan di dalam rumahnya selama tiga minggu, terisolasi dan tak melakukan kontak dengan dunia luar selama itu, dan hanya akan melakukan misi D-rank setelah masa karantinanya selesai selama enam bulan! Laksanakan tugasmu, ANBU!"
"Hai! Hokage-sama!" Dua ANBU bertopeng itu kembali mencengkram erat Sasuke di masing-masing lengannya, dan perlakuan itu hanya diterima sang Uchiha tanpa perlawanan sebelum mendengar tambahan dari sang Hokage kelima.
"Ah, aku melupakan bagian yang terpenting. Aku tidak akan memperkenankan kau untuk menjenguk Naruto di rumah sakit, bahkan setelah ia keluar pun aku melarangmu untuk melakukan kontak dengannya. Kau akan dikeluarkan dari anggota team 7 dan seseorang akan menggantikan posisimu."
Mendengar itu, kedua mata onyx itu melebar. Ekspresi matanya tak percaya. Tubuhnya mematung, seakan tersambar petir. Suara Sasuke pun terdengar parau, "Kau..."
Kedua mata onyx itu sekilas bersinar merah. Tidak diragukan bahwa sang Hokage telah membuat amarah Sasuke meluap. "KAU TAK DAPAT MELAKUKAN ITU!"
"Jangan menjawab balik Hokage-sama dengan nada seperti itu, kau Uchiha!" Salah satu ANBU memperkeras cengkramannya, membuat Sasuke meringis diam.
Wajah sang Hokage tertekuk, pandangan kedua matanya mendingin. "Aku bisa, karena aku seorang Hokage! Kau seharusnya berterima kasih karena hukumanmu tak seberapa! Aku bisa saja melemparmu pada Ibiki untuk menyiksamu, atau melemparkanmu pada penjara bawah tanah untuk membiarkanmu menjadi busuk! Enyah dari hadapanku, bawa bocah kurang ajar ini keluar sekarang!"
Sang Uchiha memberontak kasar, tapi kedua ANBU itu berhasil membawanya keluar untuk melaksanakan hukuman dari sang Hokage.
Tsunade mendesah, mengeluarkan napas yang sejak tadi ditahannya dan duduk di sofa dengan bersandar.
Wanita yang sebenarnya berusia paruh baya itu memandang langit di luar jendela, sembari berkata pelan, "Uchiha Sasuke...keberadaanmu hanya akan membawa kesedihan yang tak berarti bagi Naruto. Seberapa besar keinginanku untuk menghapus bayanganmu dari benak bocah itu, hanya sejauh ini yang bisa kulakukan."
Dia pun memandang langit tanpa henti, yang membuatnya kembali teringat pada warna kedua bola mata sang bocah Uzumaki.
.
.
.
.
.
Hari menjadi malam, sebuah sosok pirang terbangun akan sinar rembulan yang menembus jendela di sebelah kasurnya. Sosok gadis itu terduduk di atas ranjang yang di dudukinya, kedua mata sapphire menelusuri sekeliling ruangan yang ditempatinya.
Ia berdiri, membawa kedua kakinya berjalan perlahan mendekati kaca yang berada di dalam kamar mandi. Memandangi sosok yang terpantul di depan wajahnya, ia memperhatikan apa yang berada di depan penglihatannya.
Sosok gadis yang memakai gaun biru rumah sakit. Berambut pirang dan bermata biru, seraya dilengkapi dengan tiga corak seperti kumis kucing di masing-masing pipinya. Kulit tan-nya menjadi pucat tersinari rembulan bulan.
Perlahan membawa kedua tangannya meraba bayangan yang terpantul di depan matanya, bisikkan pun terdengar.
"Siapa….aku?"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N: Minna-sama, Moshiwake arimasen! Tolong jangan rajam saya TTATT
Saya bener-bener sibuk (gak dibuat2, beneran). Tapi meskipun begitu, walaupun saya telat review ni fic sampai bertahun-tahun pun, saya gak mungkin discontinue atau abandon fic ini. Readers dan para reviewers udah muji dan nyemangatin saya, masa saya buang ini fic? Tapi harap maklum dengan Authoress satu ini yang lamaaaa banget update dan suka hiatus, tolong dimaklumi, all ^^
Btw, ada yang punya saran community Fem!NarutoxSasuke indo yang bagus? atau Fem!NarutoxAnyboys mungkin?
BIG SPOILER: khusus bust fans Fem!NarutoxGaara ada event khusus chap berikutnya….. untuk fans saingan yang lain tolong sabar saja, masih banyak kesempatan dan chapter yang akan datang untuk membuat si uchiha dodol itu menderita (#evil glint)
Thanks sebesar2nya bagi yang sejauh ini masih menyemangati saya, baik reviewers dan readers….. semoga fic ini tidak mengecewakan
At last, PLEASE REVIEW!
NO FLAME PLEASE, THANK YOU^^ AND SEE YOU AGAIN IN THE NEXT CHAPTER!
Sincerely,
Austine Sophie
Long Kiss Goodbye
