Retaliate

Cast: EXO Baekhyun | Sehun | Luhan | Kai | Kris |Taehyung BTS

Pair: HunBaek, KaiLu, HunHan, KrisHan

Rated: T

Genre: Romance, Hurt / Comfort, Drama

Length: Chaptered

Warning: OOC, AU, BL, boyxboy, dan sejenisnya. Don't like don't read. Sorry for typo.

Disclaimer: Cerita ini pure ide Author. Plagiator not allowed! Cast disini semua adalah milik Tuhan. Jangan lupa untuk mengisi sedikitnya 2 kata di kotak review / RCL. Hm hm hm :) Please enjoy it!

.

.

Air mata Luhan menggantikan rasa sesak yang menghimpit dada. Menyaksikan seseorang yang masih sangat dicintai mencumbu orang lain dengan bebasnya. Bahkan ciuman seperti itu tak pernah ia dapatkan dari Sehun. Sengaja atau tidak, hatinya tetaplah sakit. Seakan kenangan manisnya dengan Sehun dulu bukanlah apa-apa dimata Sehun. Apakah Sehun benar-benar sudah melupakan dirinya? Apakah Baekhyun memiliki sesuatu yang diinginkan Sehun yang tak ia punya? Dan sampai sekarang dadanya masih terasa sesak walaupun sudah banyak air mata yang ia keluarkan.

Luhanpun sesegukan sambil terus menghantam dadanya yang tak kunjung membaik. Tiba-tiba ada sesuatu yang menahan tangannya yang sedang menggebuk dadanya sendiri. Menarik paksa meninggalkan tempat yang membuat matanya panas. Tanpa melihatpun ia sudah tau siapa orangnya. Seseorang itu terus menarik tubuhnya menjauhi tempat tadi dan menuntunnya menuju lorong sempit belakang sekolah. Ia menghentikan langkahnya dan menyandarkan tubuh Luhan di tembok lorong. Meremas kedua bahu Luhan sehingga ia terpaksa menatap wajah pria itu walau dengan wajah menyedihkan penuh air mata.

"Menangislah sepuasmu disini. Aku akan menungguimu sampai kau merasa baikan.." Ucapnya sambil menghapus air mata yang sudah mulai lengket di pipi Luhan. Luhan makin tak bisa menghentikan kristal bening yang terus jatuh di pelupuk matanya. Hidupnya saat ini benar-benar menyedihkan. Kehilangan seorang sahabat yang sudah dianggapnya keluarga dan kekasihnya yang sangat ia cintai. Kalau dulu ia berfikir dia adalah manusia paling berutung di dunia, sekarang semua tinggal harapan.

Kenangan? Bahkan Luhan tak ingin mengenangnya. Mengingat masa lalunya membuatnya sakit. Seindah apapun dulu yang pernah ia jalani bersama, kenyataannya sekarang malah berbalik 180 derajat. Bahkan ia merasa saat ini ia sudah tak punya tujuan hidup.

Seketika Kai spontan menarik kepala Luhan untuk bersandar di bahunya dan memeluk tubuhnya. Ia benar-benar tak sanggup melihat Luhan terluka seperti ini. Kalau bukan karena pertunangan bodoh itu, mungkin sekarang Kai masih bisa melihat senyuman manis yang merekah indah dari bibir Luhan . Walaupun terkadang ia merasakan sakit di dadanya ketika menyaksikan kemesraannya dengan Sehun tepat di depan mata. Tapi semua itu bukanlah apa-apa dibanding melihat Luhan yang terluka.

"Kai.."

"Hmmm.."

"Aku akan menerima pertunangan itu.." Lirihnya. Ucapan Luhan membuat Kai melebarkan matanya dan melepaskan tubuh Luhan dari dekapannya. Dengan tangan yang menggenggam kedua lengan Luhan, Kai menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"Bukankah semua itu sudah berlalu? Kau sudah membatalkannya bukan?" Tanya Kai dengan nafas yang memburu. Tapi Luhan menatap sayu kearahnya sambil menggelengkan kepalanya lemas.

Flashback

"Aku minta padamu untuk segera membatalkan perjodohan ini.."

"A-apa maksudmu?" Kris mengerenyitkan dahinya bingung. Yang ia tahu beberapa waktu yang lalu, ia masih bisa melihat ekspresi Luhan tidak menunjukkan penolakan. Tapi saat ini, ia melihat Luhan dengan wajah penuh amarah.

"Kenapa aku harus menerima perjodohan ini?"

"Tentu, itu karena aku menyukaimu. Dan bukankah kedua orang tua kita sudah setuju? Lalu kenapa kau ingin membatalkannya?"

"Kau belum tahu jawabanku bukan? Apakah aku setuju atau tidak?"

"L-Luhan kumohon…" Kris mulai frustasi. Sungguh demi apapun ia tak ingin mendengarkan jawaban yang tak ia harapkan. Tapi pandangan Luhan seakan bertolak belakang dengan keinginannya.

"Karenamu, aku meninggalkan orang yang benar-benar kucintai. Karenamu, aku membuat orang yang kucintai membenciku. Bukankah itu merupakan alasan kenapa aku menolak pertunangan bodoh ini?" Lirih Luhan. Kris tercekat mendengarnya. Ia memijit pelipis kanannya yang mulai terasa pening. Sedangkan Luhan hanya tertunduk lemah sembari menahan air matanya. Kris manatap sendu kearah Luhan dan mulai menarik tangan Luhan dan menggenggamnya.

"Maafkan aku.. Kalau itu maumu baiklah. Aku akan melepaskanmu..." tukasnya sambil tersenyum. Memaksa tersenyum dan membiarkan Luhan pergi dari hidupnya adalah pilihan tersulit bagi Kris. Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya tak mau melihat Luhan tersiksa bersamanya. Mungkin memberikan Luhan sedikit ruang adalah jalan satu-satunya. Walaupun kemungkinan Luhan tidak akan pernah kembali padanya.

"B-benarkah?"

Kris mengangguk dan membuat Luhan membinarkan matanya.

"Maafkan aku jika semua masalah yang kau hadapi bersumber padaku. Aku hanya ingin bersamamu. Tapi aku tahu, mencintai seseorang tak berarti kita harus memilikinya.." Ucapnya getir. Membuat Luhan memaksakan senyumnya.

"Kris-"

"Tidak apa-apa, kau jangan pedulikan aku. Tapi jika kau berubah fikiran, dengan senang hati aku menerimamu.." Ucapan Kris membuat Luhan tersenyum simpul. Luhan balas menggenggam tangan Kris yang masih betah menggenggam tangannya. Ia menatap Kris intens.

"Aku yakin kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku Kris. Maafkan aku.."

"Ya tentu saja. Tidak perlu lebih baik darimu, seseorang yang sepertimu saja sudah cukup bagiku, Luhan.."

-Retaliate-

Kai mematikan mesin motornya ketika sampai depan rumahnya. Melepaskan helm dan merapikan rambutnya yang sempat berantakan. Ia menghela nafas panjang. Keputusan Luhan tadi membuatnya resah dan tentu membuat hatinya sakit. Kenapa Luhan harus memilih Kris jika Kai juga bisa menjaga dan mencintai Luhan sepenuh hati. Apakah kenangan dan kebersamaannya selama ini hanya dianggap angin lalu bagi Luhan? Apakah Luhan tidak bisa merasakan perhatian Kai selama ini yang ia tunjukkan, kalau selama ini dirinya memberikan perhatian lebih dari seorang sahabat.

Dengan langkah gontai Kai membuka pintu rumahnya, tanpa tahu kalau seorang wanita sedari tadi tengah berdiri di depan pintu saat Kai di depan pintu.

"Kau pulang malam lagi." Ucap wanita itu dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kai mendengus kesal dan berniat melewati wanita itu dan tidak menghiraukannya, tapi sebuah tangan sukses mencengkeram lengannya hingga mau tak mau Kai menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam wanita itu sambil menepis cengkeraman di tangannya dengan kasar.

"Seharusnya kau mendengarkan apa yang aku ucapkan. Sungguh tidak sopan kau bersikap seperti itu!"

"Kau bukan ibuku. Jadi berhenti mencampuri kehidupanku, wanita penggoda." Ucap Kai sinis diikuti dengan seringaiannya. Wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi. Tapi itu yang Kai suka. Semakin emosi, semakin puas batinnya. Ia sungguh tak akan membiarkan siapapun wanita menggantikan posisi ibunya dan juga tidak untuk wanita di depannya ini.

Wanita itu melayangkan tamparan kearah Kai, tapi dengan sigap Kai menahannya dengan balik mencengkeram pergelangan tangan wanita itu. Kai tersenyum sinis saat tahu wanita itu meringis kesakitan.

"Dengar, kau tak akan pernah bisa menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Dan jangan pernah bermimpi kau bisa menjadi bagian dari anggota keluarga kami. Selamanya kau hanya akan menjadi orang lain yang mencoba menghancurkan keluargaku. Ingat itu." Kai menatap tajam wanita muda itu, tapi yang ia lihat adalah senyuman tipis yang menunjukkan warna merah menyalanya. Kai merasa kalau wanita itu tidak akan menyerah begitu saja dengan ancamannya.

"Aku sudah sampai sejauh ini, tak akan aku biarkan kau menghancurkan semua. Perlu kau ingat juga Kai-ssi, tidak ada yang berpihak padamu. Bahkan ayah kamu sendiri." Seringai wanita itu sambil berbisik. Kai semakin geram hingga ia meremas pergelangan tangan wanita itu dengan sangat keras.

"Awww! Apa yang kau lakukan! Sakit Kai aaaargh!"

"Dasar wanita jalang!"

"KIM JONG IN!" Suara berat itu membuat Kai dan wanita itu spontan menoleh ke sumber suara. Wanita itu tersenyum sekilas lalu mulai merintih lagi.

"Ah..appo.."

"LEPASKAN KIM JONG IN!"

"Sampai kapan Abbeoji akan lebih membela wanita miskin ini daripada anak kandungmu sendiri! Aku sudah tidak tahan dengan dia! Wanita jalang ini hanya ingin menikahi abbeoji karena harta, bukan cinta! Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya masuk dalam keluarga kita! Dia hanya wanita miskin yang terobsesi dengan harta. Abbeoji harus-"

PLAKK!

Tamparan keras cukup membuat Kai menghentikan ucapannya. Ia terdiam dan merasakan anyir di bibirnya. Matanya beralih menatap abbeojinya yang sedang murka. Ini bukan pertama kali. Kejadian ini sudah pernah ia alami, dulu saat abbeojinya membawa wanita ini ke dalam rumahnya. Saat eommanya sedang berjuang melawan penyakit kanker serviks yang mungkin saja bisa membunuhnya. Dan sampai sekarang rasa sakit di hatinya masih belum sembuh.

"Minta maaf pada eommamu sekarang juga!" Ucap Abboejinya tajam. Kai mendecih dan tersenyum menghina.

"Eomma? Eommaku sudah meninggal dan itu gara-gara abboeji dan wanita ini!"

Kai bisa melihat rahang abbeojinya mengeras, dengan ancang-ancang tangan yang akan menampar Kai lagi, Kai lebih memilih menutup matanya. Ia sudah tidak peduli lagi jika wajahnya babak belur karena kemurkaan abbeojinya.

"Berani kau.."

"Yeobo sudahlah hentikan.." Wanita itu menghentikan gerakan tangan suaminya agar berhenti. Dengan nafas memburu, abbeoji Kai mulai melunak. Kai membuka matanya dan melihat pemandangan yang membuat dirinya muak. Sikap sok baik dan perhatian yang ditunjukkan ibu tirinya itu membuatnya ingin berteriak. Matanya memanas. Bagaimana jika ibunya yang melihat kejadian seperti ini, ia dan abbeojinya bertengkar. Hubungan ayah dan anak mulai merenggang. Kai sebenarnya sudah tidak tahan tinggal serumah dengan wanita itu. Tapi kalau bukan permintaan dari mendiang ibunya, mungkin Kai sudah meninggalkan rumah ini sejak lama.

"Yeobo sudahlah. Kau jangan membuat Kai makin membencimu. Biarlah dia hanya membenciku, tapi jangan sampai dia juga melakukannya padamu. Aku akan menjadi semakin bersalah. Hikks.. aku tidak apa-apa sungguh. Kau jangan memaksa Kai untuk menerimaku, pasti dia butuh waktu juga setelah kepergian mendiang istrimu.." Ucap wanita itu sambil sesegukan. Kai mengepalkan tangannya kuat-kuat. Benar. Kai sudah benar-benar tidak tahan.

"Maafkan aku yeobo, tapi Jong In harus diperi pelajaran agar tidak terus berlaku kurang ajar padamu-.."

"Teruskanlah sandiwaramu wanita jalang, keputusanku tidak akan berubah!" Teriaknya. Kai benar-benar muak melihat air mata palsu yang keluar dari mata waita itu.

"Kai! Abboeji sudah bersabar menghadapi tingkahmu! Sekarang cepat masuk ke kamar dan renungilah kesalahanmu!"

"Aku tidak akan tidur disini abboeji. Aku muak! Mungkin kau senang sekarang nyonya Kim, tapi aku tidak akan menyerah untuk memaksamu atau bahkan menyeretmu keluar dari rumah ini! Ingat itu!" Ancam Kai yang langsung melesat keluar sambil menaiki motornya. Dan ia masih bisa mendengar abboejinya berteriak marah padanya.

"KIM JONG IN! KALAU SEKALI KAU MENGANGKAT KAKI DARI RUMAH INI, JANGAN HARAP KAU BISA KEMBALI KESINI!"

Seketika Kai tersenyum miris. Hanya karena wanita itu, hubungannya dengan abbeojinya berantakan. Dan untuk sementara ini mungkin ia tak akan menemui abbeojinya. Perang dingin selama ini tidak ada gunanya agar abboejinya merubah pendiriannya. Mungkin kabur dari rumah adalah jalan satu-satunya.

Kai mulai menyalakan mesin motornya dan dengan kecepatan tinggi ia meninggalkan rumahnya. Rumah penuh kenangan indah yang dulu sempat ia rasakan bersama kedua orang tua yang dicintainya.

-Retaliate-

Perasaan apa ini? Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang menggelitiki perutnya. Rasanya seperti sengatan panas matahari mengenai kedua pipinya. Rasanya seperti ada yang menggebuk drum di dadanya. Rasanya seperti… Jatuh Cinta?

Sehun terus membolak-balikkan tubuhnya diatas ranjang empuknya. Mencoba menidurkan tubuh dan pikirannya dengan memaksakan menutup kedua matanya. Tapi entah kenapa fikirannya terus tertuju pada sosok Baekhyun. Setelah ciuman yang mereka lakukan tadi siang, Sehun tak berhenti memikirkannya. Dan itulah sebabnya ia tak bisa tidur dengan nyenyak.

"Apa yang aku katakan tadi siang padanya? Jangan tinggalkan aku? Aaaaarrgghh Oh Sehun! Kau tolol sekali!" Teriaknya frustasi sambil memukul mukul kepalanya sendiri.

Ia kemudian bangun dari tidurnya dengan rambut acak-acakan. Duduk melamun diatas ranjang sambil tersenyum-senyum sendiri memegang bibirnya. Entah sampai sekarang Sehun merasa masih bisa merasakan lembut dan manisnya bibir Baekhyun.

"Yah! aku bisa gila memikirkan semua ini! Baekhyun! Benar! Kau harus tanggung jawab!" Ucapnya sesaat tersadar dari lamunannya. Ia kemudian menyambar ponsel yang ada di sampingnya. Mencari nomor Baekhyun di kontak namanya dan mulai memencet tombol hijau.

"Haruskah aku menghubunginya?"

-Retaliate-

Taehyung merasakan ada yang aneh dengan sikap hyungnya. Baekhyun sering tidak fokus, sering melamun, bahkan sering senyum-senyum sendiri. Hal itu terjadi saat Baekhyun pulang sekolah dan segera ke rumah sakit menemui Taehyung.

Dan sekarangpun Taehyung bisa melihat hyungnya mengemas pakaiannya yang ia pakai selama menginap di rumah sakit sambil melamun. Taehyung melipat kedua tangannya di depan dada sambil cemberut.

"Hyung kau kenapa? Aneh sekali.."

Baekhyun tersadar dari lamunannya sambil menatap wajah kesal adiknya. Sesaat ia hanya meringis dan mencubit pelan pipi adiknya.

"Aniya… Hyung hanya senang memikirkan kau akan kembali ke rumah"

"Benarkah? Taehyung juga senang! Oh iya, apa hyung sudah memberitahu Sehun hyung kalau besok pagi Taehyung sudah keluar dari rumah sakit?"

"K-kenapa hyung harus memberitahunya?" Ucap Baekhyun gugup. Mendengar kata 'Sehun' saja sudah membuat jantungnya berdebar tak karuan, apalagi bertemu dan bicara padanya.

"Tentu hyung harus memberitahunya! Sehun hyung sudah banyak membantu kita, hyung lupa?" Baekhyun hanya bisa memaksakan senyumnya. Ia menggaruk kepalanya karena merasa bingung harus berbuat apa.

"Cepat hyung telpon!"

"A-apa? A-aah kau saja yang telepon!" Saat Baekhyun akan memberikan ponselnya pada Taehyung, sebuah panggilan masuk membuat Baekhyun terkaget. Ia membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat siapa yang menelponnya.

"Siapa hyung?"

"S-Sehun.." Tangan Baekhyun bergetar melihat ada nama Sehun tertera di ponselnya. Ia lalu menatap kearah Taehyung yang balik menatapnya dengan polos.

"Cepat hyung angkat!" Baekhyun mengigit bibir bawahnya dengan keras. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang. Ia hanya tak ingin terlihat gugup berbicara dengan Sehun, atau Sehun akan meledeknya karena kejadian tadi siang. Kejadian yang membuat Baekhyun malu luar biasa atas tindakan agresifnya.

"Hyung kelamaan!" Taehyung menyambar ponsel yang ada di genggaman Baekhyun dan segera mengangkat telpon dari Sehun. Baekhyun hanya mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya.

"Halo.. Sehun hyung!"

Di seberang sana, Sehun merasa aneh dengan suara barusan. Ia melihat lagi nama yang tertera di ponselnya. Ia benar-benar menghubungi Baekhyun, tapi suara yang ia dengarkan jelas-jelas bukan suara Baekhyun. Dan dengan segera ia ingat bahwa yang ditelponnya adalah Taehyung.

"ini kau Taehyung?"

"Iya hyung! Baru saja hyung akan menelponmu, tapi Sehun hyung menelpon duluan hihihi.."

Sehun melongo dengan rahang terbuka. Baekhyun mau menghubunginya? Sejenak ia merasa sangat menyesal menelpon duluan, karena entah kenapa ia juga bingung apa yang ingin dia bicarakan kalau yang mengangkat tadi benar-benar Baekhyun.

"Hehehe, hyungmu kalah cepat denganku. Hmm.. tapi kenapa kau yang mengangkat telponnya? Bukan hyungmu?" Bodoh. Kenapa kau harus berkata seperti itu! Kau cari mati hah?! Sehun mengutuki dirinya sendiri.

"Baekhyun hyung dari tadi bersikap aneh!" Demi apapun itu, Baekhyun ingin sekali membekap mulut Taehyung yang terlalu polos. Tapi yang dilakukan Baekhyun hanya mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.

"Benarkah? Ehmm.." Sehun menggigit bibir bawahnya cemas. Ia yakin pasti Baekhyun bersikap aneh karena kejadian tadi. Kejadian saat mereka berciuman di halaman belakang sekolah. Seketika wajah Sehun memerah mengingat kejadian itu.

"Tapi hyungmu tidak apa-apa kan?"

"Entahlah. Kurasa baik-baik saja." Kini Taehyung melirik Baekhyun. Seketika tubuh Baekhyun menegang dengan ekspresi yang tak dapat diartikan. Ia mencoba bersikap biasa agar Taehyung tak memberitahu Sehun lagi. Tapi entah kenapa Baekhyun merasa ia bersikap aneh lagi, untung saja Taehyung tidak menyadarinya.

"Oh syukurlah kalau begitu, hehe.."

"Hyung, besok Taehyung sudah boleh keluar dari rumah sakit! Taehyung akan kembali ke rumah!" Ucapnya dengan nada ceria. Baekhyun tersenyum sambil memeluk adiknya.

"B-benarkah? Wah Taehyungie kau sembuh dengan cepat!" Sehun tak kalah bahagia. Ia sampai berdiri dari duduknya. Ia yakin pasti Baekhyun akan sangat bahagia mengetahui Taehyung bisa beraktivitas seperti biasa lagi seperti dulu. Dari dulu Sehun yakin, Taehyung anak yang kuat dan punya semangat yang tinggi. Tak heran jika Baekhyun akan melakukan segalanya demi adik tercintanya. Karena hanya Taehyunglah yang Baekhyun punya sekarang.

"Hyung, mau kan besok datang ke rumah? Karena selama ini hyung sudah banyak membantu Taehyung dan Baekhyun hyung, Sehun hyung jadi orang pertama yang Taehyung beritahu, hihihi. Jadi bagaimana?"

Sehun tersenyum. Entah kenapa ia menjadi sangat special. Ia merasa ia sudah menjadi bagian dari mereka. Kebaikan dan kepolosan Taehyung telah merubahnya. Ketegaran Baekhyun telah menyadarkannya.

Jika selama ini ia menjadi orang yang egois dan pendendam, perlahan Sehun bisa menerima kenyataan. Anak sekecil Taehyung saja bisa menghadapi dunia dengan senyuman lugunya seperti seorang anak yang bahagia tanpa derita. Tanpa mengetahui jika ia kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan. Saat semua orang acuh terhadap keadaan mereka, bahkan sanak saudara mereka sendiri, Taehyung dan Baekhyun tak pernah sesekali merasakan dendam di hatinya. Ia merasa jika selama ia bisa menghidupi adiknya sendiri tanpa bantuan saudaranya, ia tidak akan meminta. Karena Baekhyun menyadari kalau kedua orang tua mereka menikah tanpa persetujuan kedua keluarga.

Dan sekali lagi Baekhyun tak pernah menyalahkan kedua orang tuanya. Karena tanpa kedua orang tuanya lah mungkin Taehyung dan Baekhyun tak pernah terlahir di dunia dan tak merasakan bahagia bersama keluarga kecil mereka.

"Menurutmu apa arti bahagia itu?"

"Hmmm bahagia itu… Saat orang yang kau sayang selalu berada disampingmu bagaimanapun keadaannya. Saat kau merasa dunia ini tidak adil, orang yang kau sayang menggenggam erat tanganmu dan berkata 'aku ada disini, kau tidak akan sendirian'. Dan aku bahagia sekarang, Sehun-ah. Setidaknya walau duniapun sekalinya membenci diriku, tapi aku masih punya orang yang aku sayang. Aku masih punya setidaknya satu orang saja yang menyayangiku. Dan saat itulah aku bisa merasakan bahagia dengan orang yang kucintai."

"Kau tidak marah padaku karena aku sudah membuat kebahagianmu hancur?"

"Pernah sesekali aku berfikir seperti itu. Aku merasa buruk, mengorbankan kebahagiaanku bersama seseorang yang aku sayang demi orang yang aku cintai. Luhan dan Taehyung, keduanya penting aku yakin suatu saat kebahagiaan akan datang padaku, walaupun aku sudah banyak melihat realita di depan mataku yang terkadang membuatku merasa aku orang paling tidak diinginkan. Tapi, karena itulah aku dapat melihat hal-hal kecil yang membuatku tersenyum. Karena masih ada orang yang memberikan kasih sayang dan perhatian padaku walaupun hanya sedikit saja. Dan saat itulah aku merasakan jika bahagia itu sangat besar artinya untukku.."

Sehun teringat apa yang pernah Baekhyun ceritakan padanya. Saat itulah hatinya tergugah. Ia merasa selama ini ia tidak bahagia, padahal banyak hal-hal kecil yang ia lupakan kalau itu pernah membuatnya bahagia, pernah membuatnya tersenyum, dan pernah merasakan artinya dicintai. Seketika ia tersadar dan tersenyum kembali. Ia punya suatu rencana yang membuat Baekhyun dan Taehyung akan merasakan bahagia kembali.

"Tentu saja, tapi hyung tidak bisa ke rumah sakit besok untuk mengantarmu, tidak apa-apa kan?"

"Iya hyung tak perlu khawatir, kan ada Baekhyun hyung.."

"Baiklah kalau begitu. Kau tidur sekarang, sudah malam.. Ingat besok kau akan keluar dari rumah sakit, jadi kau harus tampil fresh besok"

"Ah baiklah hyung! Taehyung juga sudah mengantuk. Hyung kalau masih mau telpon, bicara saja dengan Baekhyun hyung ya.." Taehyung memberikan ponselnya pada Baekhyun dan segera merebahkan dirinya diatas ranjang dan mulai memejamkan mata. Sedangkan Baekhyun dengan tubuh kaku memegang ponselnya. Apa yang harus kulakukan? Pekiknya dalam hati.

"Ehmm halooo.." ucap Sehun di seberang sana yang tak kalah gugup. Entah kenapa ia begitu merindukan suara lembut Baekhyun. Dan Baekhyun bisa mendengar suara Sehun. Ia lalu menempelkan ponselnya di telinganya tanpa berkata sedikitpun.

"Kau masih disana Baekhyun-ah?"

"A-aaah i-iya.."

"Aku senang bisa mendengar suaramu.. A-ah apa yang kukatakan? M-maksudku.."

"Aku juga, Sehun-ah.." Ucap Baekhyun sambil tersenyum mendengar suara gugup Sehun, sama seperti dirinya tadi. Dan Sehun menahan senyumnya saat mendengar jawaban Baekhyun. Entah kenapa sikap Baekhyun terdengar manis sekali, atau ini hanya perasaan Sehun saja? Ah entahlah.

"Kau tidak apa-apa kan? Aku khawatir saat Taehyung bilang kau bersikap aneh, aku-"

"Aku tidak apa-apa! Kau jangan dengarkan Taehyung, dia hanya iseng saja! He-he" Ucapnya langsung memotong Sehun. Ia hanya tak mau Sehun berfikiran macam-macam mengenai hal itu. Dan untuk saat ini ia tidak ingin membahas soal kejadian tadi siang.

"Hmm begitu ya.. Syukurlah."

"Tapi omong-omong, kenapa kau menelponku?" Sehun merasakan jantungnya berdetak tak normal lagi. Pertanyaan Baekhyun memaksanya untuk mencari alasan agar Baekhyun tak mengetahui tentang apa yang ia rasakan. Ia masih belum siap dan belum yakin tentang perasaannya untuk saat ini.

"Eh anu..itu aku…mau..tau keadaan Taehyung! Ya ya keadaan Taehyung! Tapi kurasa aku sudah mendapatkan jawabannya."

"Oh begitu ya, hmm Sehun-"

"Aku ada keperluan sebentar. Maaf kututup dulu. Selamat malam!" Ucapnya sambil memutus sambungan telponnya tiba-tiba. Sehun merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya sambil memejamkan mata. Nafasnya terasa amat memburu, padahal hanya bicara dengan Baekhyun lewat telepon. Bagaimana kalau ia bertemu dengannya besok?

"Sial! Kenapa aku bisa bersikap konyol seperti itu? Sadarlah Oh Sehun sadarlah.." Ucapnya sambil memejamkan mata.

"Baiklah, rencana untuk besok aku harus persiapkan dengan baik! Sekarang istirahatkan tubuhmu, dan jangan memikirkan dia! Tidur..tidur..tidur.." Ucapnya pada diri sendiri. Perlahan Sehun dapat merilekskan tubuh dan fikirannya dan terbang ke alam mimpinya.

Sementara itu Baekhyun heran dengan sikap Sehun yang tiba-tiba menutup teleponnya. Padahal ia ingin berterima kasih atas bantuan Sehun selama ini padanya. Ia juga ingin meminta maaf atas kejadian tadi siang saat Baekhyun membentak Sehun. Baekhyun benar-benar merasa tidak tahu diri dan terima kasih atas sikapnya yang keterlaluan. Tapi sepertinya menemuinya langsung dan membicarakannya secara empat mata akan lebih baik. Tapi entah kenapa Baekhyun enggan menemui Sehun karena ia akan sangat malu pada dirinya sendiri.

"Kenapa denganku? Apa aku benar-benar menyukainya?"

-Retaliate-

Luhan duduk termenung di depan layar TV. Memikirkan akan meninggalkan Sehun selamanya membuatnya meneteskan air matanya lagi. Ia menghapusnya dengan kasar, memeluk lututnya lagi dan menenggelamkan wajahnya. Ia ingin bertemu Sehun, ia ingin berbicara dengannya setidaknya untuk yang terakhir kalinya.

Luhan mengangkat kepalanya ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Dengan langkah gontai, ia berjalan kearah pintu dan membukanya.

"Kai? Kenapa kau kesini? Ini sudah larut malam" Ucap Luhan dengan pandangan heran.

Kai mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Ia berjalan mendekati Luhan dan memeluknya erat. Luhan mengangkat kedua alisnya tak mengerti.

"Kau..kenapa?"

"Biarkan aku tidur disini malam ini…" Luhan mengerutkan keningnya bingung. Mungkin Kai tidak sedang baik-baik saja. Perlahan ia melepaskan pelukan Kai dan beralih menatap wajah lusuh Kai yang masih mengenakan seragam.

"Apa yang terjadi?" Tanya Luhan sambil menangkupkan wajah Kai. Kai terlihat tersenyum tidak jelas sambil menutup matanya. Luhan membulatkan matanya ketika tahu Kai sedang tidak dalam kesadaran yang penuh.

"Ya ampun Kai! Kau mabuk?" Ucap Luhan sesaat Kai terhuyung ke depan jatuh bersandar di tubuh Luhan. Dengan segera Luhan membopong Kai menuju kamarnya. Menidurkan Kai di ranjangnya dan melepas sepatu yang Kai kenakan.

"Apa yang terjadi padamu?" Lirih Luhan sembari melihat bekas darah yang mengering di sudut bibir Kai. Dengan segera ia megambil kotak P3K dan membersihkan lukanya.

Luhan menatap sendu wajah Kai. Perlahan ia mengusap lembut rambut Kai. Ia tak pernah melihat Kai sebegitu menyedihkan seperti ini. Bahkan Kai sama sekali belum pernah menyentuh minuman keras. Tapi yang ia lihat sekarang adalah bukan Kai selama ini yang ia kenal.

"Kenapa kau seperti ini? Kalau kau begini terus, siapa yang akan menemanimu jika aku tidak ada." Lirihnya lagi. Luhan beranjak dari duduknya dan dengan cepat Kai menarik pergelangan tangan Luhan hingga Luhan tepat jatuh diatas tubuh Kai.

"K-Kai.." Ucapnya gugup saat matanya beradu dengan tatapan Kai.

"Jangan tinggalkan aku Luhan.. Aku mencintaimu, jangan pergi…" Pernyataan Kai membuat mata Luhan membulat sempurna. Ia merasakan tangan Kai menarik lembut wajahnya mendekati Kai. Ia merasakan sentuhan lembut di bibirnya dan merasakan aroma alcohol dari bibir Kai yang menyeruak di hidungnya. Perlahan sentuhan di pipinya merenggang dan melihat Kai tidak sadarkan diri sepenuhnya. Luhan menjauhkan wajahnya dan menyentuh bibirnya. Apa yang baru saja Kai katakan membuatnya makin bersalah. Dan sekarang ia baru tahu tentang perasaan Kai selama ini padanya. Perasaan seseorang yang sangat Luhan sayang, dan itu adalah tidak lain sahabat kecilnya, Kai. Kim Jong In.

"Seharusnya kau jangan pernah katakan itu. Kau membuat keadaanku semakin sulit Kai. Kenapa kau lakukan ini padaku?" Luhan menggigir bibir bawahnya dengan keras, menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia menatap lagi wajah Kai yang tengah tidur pulas. Ia membelai surai hitam Kai dan mencium dahinya.

"Maafkan aku, Kai…"

-Retaliate-

Kai menutup wajahnya dengan lengannya saat mengetahui seberkas cahaya menyilaukannya. Ia belum sadar sepenuhnya. Ia hanya dapat merasakan kepalanya terasa sangat pusing. Luhan yang membuka tirai jendelanya, perlahan mendekati Kai dan membangunkannya.

"Kai, bangunlah.." Luhan menarik lengan Kai yang menutupi wajahnya. Kai membuka kelopak matanya walaupun masih terasa berat. Melihat seseorang yang ia cintai tengah memandangnya, ia tersenyum. Perlahan ia mendudukkan tubuhnya walaupun kepalanya masih terasa berat.

"Ahhh kepalaku sakit sekali.." Lirihnya sambil meremas kepalanya sambil menunduk. Dengan segera Luhan mengambil semangkok sup yang ia buat untuk menghilangkan rasa mabuk yang Kai alami.

"Makanlah sup ini, kau akan merasa baikan.."

Kai memandang apa yang Luhan buatkan untuknya. Ia tersenyum lagi.

"Terima kasih.." Luhan mulai menyuapi Kai. Ia tersenyum perih. Apa karenanya Kai menjadi seperti ini? Bagaimana jika Luhan benar-benar meninggalkan Kai? Apa Kai lebih menyedihkan dari ini?

"Maafkan aku Luhan-ah.. Aku kesini dalam keadaan kacau. Pasti kau akan membenciku karena aku seperti ini.. " Sesal Kai sambil menatap sendu Luhan. Luhan menggelengkan kepalanya dan menaruh mangkuk supnya di meja nakas. Tangannya beralih menggenggam tangan Kai dan mengusap punggung tangan Kai dengan lembut.

"Aku tidak akan pernah membencimu.. Kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki.. Hanya saja aku ingin tahu kenapa kau sampai bertindak seperti ini.. Kalau ini semua karena aku-"

"Bukan karenamu, tapi karena abboeji.." Potong Kai dengan nada lemas. Ia menundukkan kepalanya dan menggenggam erat tangan Luhan.

"Aku kabur dari rumah. Aku tidak akan kembali ke rumah sampai abboeji mengusir wanita itu.." Ucapnya dengan suara bergetar. Luhan mendelik tak percaya. Ia melepaskan genggamannya dan beralih menangkupkan wajah Kai. Hatinya tertegun saat melihat Kai menangis.

"Kai…"

"Aku sudah cukup bersabar tinggal serumah dengan wanita itu selama hampir dua tahun. Aku sudah mencoba meyakinkan abboeji agar menceraikan wanita itu. Tapi abboeji lebih memilih dia daripada aku, anak kandungnya. Dan aku tahu sekarang, abboeji sudah tidak menyayangiku lagi, bahkan berani mengusirku dari rumah demi wanita itu, Aku-"

"Berhentilah Kai.." Ucap Luhan dengan mata berkaca-kaca. Ia terus mengusap air mata Kai. Ia tak tahu jika Kai selama ini menderita. Betapa jahatnya dirinya saat ia selalu menceritakan kesedihannya tanpa tahu Kai juga merasa sakit. Luhan merasa ia semakin egois jika meninggalkan Kai. Mungkin saat ini hanya dirinya yang Kai punya dan Kai percaya.

Luhan membawa tubuh Kai ke pelukannya. Ia memeluk erat tubuh Kai sembari mencengkeram kemeja yang Kai kenakan.

"Lain kali jangan pernah mencoba memendam masalahmu sendiri Kai.. Ada aku.. Apa gunanya diriku jika aku tidak bisa membuatmu merasa tenang. Kenapa hanya diriku yang membuat kau terbebani dengan masalahku. Aku juga ingin kau berbagi kesedihan denganku.. Aku akan menerimanya, aku akan selalu di sampingmu kapanpun kau membutuhkanku.. Maafkan aku selama ini jika aku hanya bisa menyusahkanmu-"

"A-aaniyaa.. Kenapa kau berkata seperti itu" Kai melepaskan pelukan Luhan dan menatapnya tajam. Luhan balas menatap Kai sendu.

"Aku merasa jadi orang egois-"

"Aku senang hanya dengan melihat wajahmu.. aku merasa semua bebanku terasa ringan saat melihatmu tersenyum. Jadi aku akan terus membuatmu tersenyum hingga aku bisa melupakan masalahku.." Kai mengusap rambut Luhan sambil tersenyum. Luhan memaksakan senyumnya. Ia tahu, apa yang Kai lakukan barusan hanya untuk menenangkannya. Sejenak ia berfikir ia akan melakukan sesuatu yang membuat Kai melupakan masalahnya, walaupun untuk sementara.

"Baiklah. Aku akan membuatmu tersenyum hari ini. Kau bersiap-siap, kita akan jalan-jalan!" Serunya sambil menepuk-nepuk bahu Kai. Kai mengerutkan keningnya bingung.

"Kita tidak berangkat sekolah?"

"Kita akan bolos sehari saja. Kita butuh bersenang-senang!"

"T-tapi-"

"Ayolah! Cepat mandi dan kau pakai bajuku saja!" Luhan menarik Kai berdiri dan mendorongnya ke kamar mandi sementara Kai pasrah dengan tindakan Luhan.

"Hmm.. kita kemana yah? Bagaimana kalau ke taman hiburan? Atau namsan tower? Atau- ah kau mau kemana Kai?"

"Kemanapun, asal bersamamu, aku akan senang.." Seketika Luhan berhenti mendorong tubuh Kai. Ia tersenyum. Ia sangat bersyukur mengetahui jika ia masih punya seseorang yang menyayangi dan mencintainya. Perlahan ia memeluk tubuh Kai dari belakang, membuat Kai tiba-tiba merasakan debaran kencang di dadanya.

"Terima kasih Kai.. Selama ini kau selalu berada di sampingku. Aku janji akan membuatmu selalu tersenyum dan-"

Dengan tiba-tiba Kai membalikkan badannya dan menarik tengkuk Luhan mendekati wajahnya. Membuat kedua bibir itu bertemu. Luhan membulatkan matanya mengetahui tindakan Kai yang tiba-tiba. Kai mendekap erat tubuh Luhan, memaksa Luhan untuk mencengkeram bahu Kai. Entah apa yang harus dilakukan Luhan saat Kai melumat dan mengulum bibir cherrynya. Luhan lebih memilih memejamkan matanya dan membiarkan Kai menguasainya. Ia akan melakukan apapun demi Kai, karena ia tahu, mungkin ia tak akan bisa membalas perasaan Kai. Karena selamanya hatinya hanya terbuka untuk Oh Sehun.

-Retaliate-

Taehyung terlihat menarik-narik tangan Baekhyun dengan semangat. Pagi ini Taehyung keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah. Baekhyun tahu betapa Taehyung sangat merindukan rumahnya dan semangatnya utuk kembali bersekolah sudah tidak dapat dibendung. Sepanjang perjalanan Taehyung tak henti-hentinya bercerita dan mengekspresikan kegembiraannya. Baekhyun tak kalah gembira. Ia bersyukur karena sampai sekarang ia masih bisa bersama dengan Taehyung. Karena Taehyung adalah satu-satunya alasan dia bertahan hidup di hidup yang keras ini.

"Tada! Kita sudah kembali ke rumah!"

Taehyung meloncat-loncat kegirangan. Ia terus bergelayut di lengan sang kakak. Baekhyun tertawa dan memeluk Taehyung.

"Hyung cepat buka, aku sudah tidak sabar!"

"Dasar anak kecil.." Baekhyun merogoh sakunya dan menemukan kunci rumahnya. Ia mulai membuka kenop pintu dan memasuki rumah yang sudah jarang ia ia tinggali karena harus menemani Taehyung di rumah sakit.

"SURPRISE! WELCOME HOME TAEHYUNGIE!" Ucap seseorang dari dalam, membuat Baekhyun dan Taehyung melonjak kaget. Semua dekorasi ucapan selamat datang dan berbagai pita dan balon warna-warni tersebar di seluruh ruang tamu membuat Baekhyun takjub. Bagaimana bisa pria itu menyiapkan semua ini dan tentu saja, darimana ia bisa masuk ke dalam rumahnya.

"Sehun hyung! Woaaa! Ini kereeeenn!" Teriak Taehyung senang sambil bermain-main dengan balon yang tersebar di lantai. Sehun tersenyum dan ikut bermain balon layaknya anak kecil.

"Kau suka?"

"Tentu saja! Ini acara penyambutan yang paling indah di seluruh dunia!" Ucap Taehyung polos. Membuat Sehun dan Baekhyun menahan tawanya.

"Aigooo~" Sehun mengusap kepala Taehyung yang memakai beanie. Pandangannya langsung beralih pada Baekhyun. Sekilas ia tersenyum melihat Baekhyun juga tersenyum tapi kearah Taehyung.

Sehun menghampiri Baekhyun. Membuat Baekhyun gugup setengah mati.

"Kenapa kau masih berdiri di depan pintu? Masuklah, ini kan rumahmu. Aku sudah menyiapkan semua ini untuk Taehyung.." Sehun menarik pergelangan tangan Baekhyun dan mendudukkan Baekhyun di sofa bersama dengan Taehyung. Di meja sudah tersedia sebuah kue tart coklat dengan strawberry diatasnya sebagai hiasan. Taehyung tak henti-hentinya bertepuk tangan dan tertawa. Baekhyun sudah lama tak melihat Taehyung sebahagia ini.

Perlahan Sehun merasakan Baekhyun menggenggam tangannya, membuat Sehun menoleh kearah Baekhyun. Sebuah senyuman manis terukir di bibir tipis Baekhyun. Membuat Sehun harus susah payah menelan ludah.

"Gomawo~ Kau sudah melakukan semua ini untukku dan Taehyung. Kau sudah banyak membantuku, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikanmu Sehun-ah.."

"Aku ingin kau bahagia, itu saja.." Ucapnya balas menggenggam tangan Baekhyun. Tindakan Sehun membuat perasaan Baekhyun menghangat. Kalaupun memang benar Baekhyun menyukai Sehun, ia tidak apa-apa. Karena ia telah menyukai seseorang yang baik dan terus memberikan kebahagiaan untuknya.

-Retaliate-

Baekhyun menggelengkan kepalanya pasrah. Adiknya dan Sehun benar-benar klop. Bagaimana mereka terus bermain game ps terbaru yang Sehun belikan untuk Taehyung mulai siang tadi sampai bertemu malam. Dan sekarangpun mereka berdua sama-sama tertidur di ruang tamu dengan TV menyala.

Baekhyun mematikan TV dan membereskan kekacauan yang dua bocah lakukan. Ia menghampiri Taehyung dan menggendongnya menuju kamar tidur dan merebahkan tubuh kecil itu diatas ranjang. Baekhyun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Taehyung dan mencium dahinya.

"Hyung akan lakukan apapun untuk kebahagiaanmu.. Jadi tetaplah bersama hyung hingga akhir.. hyung mencintaimu.." Baekhyun tersenyum sembari menyelimuti tubuh kecil itu. Mematikan lampu dan mulai menutup pintu perlahan.

"Jaljayoo~" bisiknya saat menutup pintu kamar Taehyung.

Dan sekarang Baekhyun bingung apa yang harus ia lakukan pada Sehun. Ini sudah sangat larut malam, seharusnya Sehun pulang ke rumah. Tapi ia masih merasa tidak enak padanya. Baekhyun tahu Sehun pasti sangat lelah karena sedari tadi menemani Taehyung bermain. Ia memutuskan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Sehun.

"Sebenarnya kau ini apa hah? Apa kau malaikat?" Ucapnya sambil tertawa kecil memandang wajah polos Sehun yang sedang tertidur. Ia lalu menyelimuti tubuh Sehun yang tengah tidur sambil terduduk di sofa.

Greb

Sehun menarik tangan Baekhyun hingga tubuh Baekhyun berhasil jatuh diatas tubuhnya. Sehun membuka matanya yang sedikit sayu dan menemukan wajah Baekhyun berada tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Mereka terdiam beberapa saat sambil mengatur detak jantungnya yang berdebar melebihi batas normal.

Baekhyun menelusuri wajah Sehun. Entah dilihat dari manapun Sehun sangatlah tampan. Dan Baekhyun sempat menyunggingkan senyum tipisnya saat melihat bibir Sehun. Bibir yang pernah menjamah dirinya yang membuat Baekhyun sampai saat ini tak bisa melupakan begitu saja. Perlahan Baekhyun memejamkan mata saat merasakan wajah Sehun mulai mendekati wajahnya.

Sehun mendekati wajah Baekhyun dan menempelkan bibirnya di telinga Baekhyun. Membuat Baekhyun menggigit bibir bawahnya karena hembusan nafas Sehun.

"Aku lapar, Baekhyun-ah.."

Seketika Baekhyun membuka matanya dan menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Wajahnya memerah karena ia sudah membayangkan yang bukan-bukan.

"A-apa?"

"Aku lapar sekali. Kau ada makanan? Atau masakkan untukku.." Ucapnya sambil tersenyum menampakkan wajah innocentnya. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh ia teramat malu. Untung saja Sehun tak menanyakan kenapa dirinya memejamkan mata seperti itu.

"B-baiklah. Aku buatkan."

-Retaliate-

Sehun menatap makanan yang dibuatkan Baekhyun untuknya tanpa berkedip. Baekhyun tersenyum kikuk. Ia baru ingat jika persediaan bahan makanan di kulkasnya habis. Jadi ia hanya bisa memasakkan mie ramen untuk Sehun.

"Maafkan aku, hanya itu yang tersedia. Aku lupa belanja hari ini karena kau ada disini.." Sesal Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya. Sehun tidak mendengarkan Baekhyun dan mulai mengambil sumpit dan menyantap mie ramen yang masih mengepulkan uap panasnya. Baekhyun duduk di hadapan Sehun dan melihat Sehun yang sedang makan.

Sehun tertawa pelan lalu menatap wajah Baekhyun sendu.

"K-kenapa Sehun-ah? Tidak enak atau kau tak suka makan ramen?" Tanya Baekhyun sedikit khawatir jika Sehun tak menyukainya. Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Seharusnya selagi Sehun disini, setidaknya ia menyiapkan makanan enak untuk Sehun.

Sehun menghentikan makanya dan meletakkan lagi sumpitnya.

"Bukan itu. Hanya saja ramen mengingatkanku pada Luhan." Sehun menunduk dan Baekhyun entah kenapa merasakan sakit di dadanya.

"Ceritakanlah.." Sahut baekhyun memaksakan senyumnya. Ia melihat Sehun mulai menatap wajahnya dan masih berekspresi sedih.

"Kau tahu, Luhan tidak bisa memasak, bahkan ramen yang menurut semua orang adalah memasak yang paling mudah. Tapi tidak bagi Luhan." Sehun terlihat menghembuskan nafasnya pelan, sambil tersenyum.

"Dia bahkan sangat bodoh. Ramen buatannya sungguh tidak enak" Sehun tertawa pelan dengan mata menerawang. Baekhyun menunduk dan mencengkeram celananya kuat-kuat. Harusnya ia tak seperti ini. Kenapa juga ia harus merasakan cemburu. Bahkan ia sendiri juga tahu apa yang Sehun lakukan sampai saat ini adalah hanya untuk Luhan. Baekhyun terlalu menjadi orang yang melankolis dan terhanyut dengan sikap manis yang tentu saja hanya sebuah kepalsuan.

"Tapi aku tetap menghabiskannya walaupun ia berisikeras membuangnya. Tentu saja aku tak ingin membuat usahanya sia-sia. Waktu itu aku sangat bahagia, bahkan ramen itu terasa enak hanya dengan menatap wajah dan senyumnya. Jatuh cinta memang membuat semua menjadi terasa indah Baekhyun-ah.." Baekhyun mengangkat kepalanya saat Sehun menyebutkan namanya. Ia memaksakan senyumnya saat melihat Sehun dengan raut wajah senang.

"Kau masih mencintainya?" spontan Baekhyun bertanya, membuat Sehun menurunkan pandangannya.

"Entahlah, aku hanya mengingat saja. Aku tidak tahu apa aku masih mencintainya atau tidak."

"Kurasa, Luhan masih mencintaimu.." Baekhyun menggigit bibir bawahya. Entah kenapa ia mengatakan ini, tapi mendengar cerita Sehun sepertinya tak mungkin Luhan mempermainkan Sehun. Terlebih ia ingat saat Luhan merengek padanya untuk minta diajari memasak. Ia bilang ia ingin memasakkan sesuatu yang enak untuk Sehun. Dan dari situ Baekhyun yakin jika Luhan benar-benar masih mencintai Sehun. Entah mungkin sampai sekarang.

Sehun menatap datar Baekhyun dan kemudian membuang pandangannya

"Itu tidak mungkin." Jawabnya dingin. Baekhyun menurunkan alisnya kecewa. Selama ini yang ia lihat dari Luhan bukan seperti itu. Ia yakin kalau Luhan masih sangat mencintai Sehun. Ia bisa melihat tatapan matanya yang terus menatap sedih kearah Sehun.

"Kau tidak tahu betapa terlukanya dia melihat kedekatanmu denganku, Sehun-ah"

"Itu bukan karena ia masih mencintaiku. Tapi karena ia tidak habis fikir jika kau yang menjadi milikku sekarang." Sehun sedikit meninggikan suaranya. Membahas Luhan hanya membuatnya emosi terlebih saat ia mengingat betapa luhan tak punya hati memutuskan hubungan mereka. Baekhyun masih menatap Sehun dengan pandangan sendu.

"Bukan seperti itu.."

"Lalu apa? Apa dia benar-benar masih mencintaiku? Apa kau mendengarnya langsung dari mulutnya?"

"Tidak.." Ucap Baekhyun lemas. Sehun terlihat keras kepala.

"Lalu apa?" Sehun semakin menatap tajam Baekhyun. Entah apa yang difikirkan Baekhyun selama ini hingga ia membuat kesimpulan yang membuat Sehun bertambah gundah.

"Ah lupakan.. habiskan makananmu setelah itu kau bisa pulang Sehun-ah." Baekhyun terlihat membuang pandangannya dari Sehun dan berbicara tanpa menatap Sehun. Untuk saat ini ia hanya tak ingin membahas masalah Luhan dengannya. Karena ia juga masih belum tentu tahu kebenarannya, terlebih soal perasaan Luhan. Baekhyun hanya menggunakan feelingnya.

"Aku tidak bisa pulang. Kau tahu ini sudah larut malam?" Sehun mendengus pelan dan bersandar di kursi makan. Baekhyun menoleh kearah Sehun dengan tatapan kaget.

"A-ah lalu?"

"Bisakah aku menginap semalam disini?"

Baekhyun menegakkan tubuhnya gugup. Sehun akan menginap? Lalu haruskah ia tidur dengannya?

"T-tentu boleh. K-kau mau tidur dimana? Di kamarku? Biar aku tidur dengan Taehyung" Ucap baekhyun tergagap. Tak mungkin juga ia tidur dengan Sehun. Yanga ada Baekhyun tak bisa tidur karena terus-terusan mencoba menetralkan detak jantungnya. Dan Sehun sepertinya tidak yakin dengan ide Baekhyun.

"Ah tidak biar aku tidur disana saja" ucapnya sambil menunjuk kearah sofa, tempat ia tadi terlelap bersama Taehyung. Baekhyun membulatkan matanya mendengar ucapan Sehun.

"mana mungkin aku membiarkanmu tidur disana Sehun-ah. Kau tamuku.."

"Tapi bukankah ranjang Taehyung terlalu kecil untuk dua orang?"

Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Tentu saja tidak muat. Kenapa ia bisa sebodoh itu?

"emmhh itu, biar aku saja yang tidur di sofa! Ah benar..benar.." Ucapnya sambil tersenyum kikuk. Sehun mengerutkan keningnya.

"Kau melarangku tidur di sofa, tapi kau sendiri tidur disana. Baiklah kenapa kita tidak tidur berdua saja? Aku janji tidak akan menyentuhmu.." Protes Sehun. Tidur berdua? Sungguh Sehun tak menyangka akan melakukan ini.

"E-eh bukan itu maksudku Sehun-ah" Baekhyun mulai merasakan kegugupannya berada di puncak. Apa maksud Sehun dengan tidak akan menyentuhnya?

"Baiklah. Aku habiskan makananku lalu kita pergi tidur" Sehun mulai menyantap ramennya lagi sambil tersenyum,. Entah kenapa sikap Baekhyun terlihat lucu di matanya. Segitu gugupkah Baekhyun untuk sekedar tidur dengannya dalam satu ranjang?

.

.

TBC

Kenapa TBC? Kenapa gak tamat aja? Wkwkwk. Author seneng bisa merampungkan chapter ini karena entah kenapa author kena write block. Maleess banget padahal yang review udah banyak T^T karena belakangan ini author ada masalah intern, jadi inspirasi hilanga aja entah kenapaaaa *sobs* dan juga lappy author kena masalah, mau gak mau ngetik FF ini di tempat kerja. So, mianhae jeongmal mianhae T^T

Author seneng banget dengan tanggapan kalian dengan Retaliate. Tapi author jadi buntu nentuin selanjutnya kayak gimana, banyak versi yang ada di kepala author dan author butuh pencerahan sebaiknya ceritanya alur ke depannya seperti apa. Hehehe, tapi tenang saja author uda ada gambaran kok.

Sebenernya mau bales review satu-satu tapi karena author pake modem super lemot, jadi koneksinya rada kampret. Maafkan :'(

Well apapun itu tetep support author ya, ini juga author update untuk kalian semua gamsahaeyooo yeorobuun.. annyeong! Pyong!