"MY LOVE FOR YOU"

Author : Always_Yewook

Main Characters : Kim Yesung & Kim Ryeowook

Characters : Some Super Junior Members

Disclaimer : This Fanfict is Mine but the cast belong to God

Warning : B x B, Typos, No Plagiat

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

Sebelumnya

Foto itu buru-buru ia masukkan kembali ke bingkai ketika ia mendengar suara pintu terbuka, tidak ada orang lain yang mengetahui password apartemen ini kecuali dia dan Ryeowook. Tapi apa benar Ryeowook yang datang?, tanpa pikir panjang lagi Yesung keluar dari kamar dan mendapati Ryeowook yang sekarang berdiri dengan jarak dua meter darinya.

Ryeowook tampak terengah-engah di depannya. "Kau untuk apa kau kemari?," tunjuk Yesung dengan tangannya yang ternyata menggenggam bingkai foto. Melihat barang incarannya di pegang Yesung, Ryeowook mendekati Yesung dan merampas bingkai foto itu.

"Aku kesini untuk mengambil ini! Ini milikku!.. Kau tidak membuka bingkai foto ini kan? Kau tidak ada membaca sesuatu kan?," tanya Ryeowook tanpa jeda.

Chapter 4

"Ti- tidak!," Yesung akhirnya berbohong karna sepertinya Ryeowook tidak ingin Yesung mengetahuinya.

"Kenapa baru sekarang kau mengambil fotonya?," tambah Yesung.

"Aku baru ingat lagi pula aku hanya perlu bingkainya," Ryeowook juga berbohong. "Aku harus kembali sekarang. Kyuhyun pasti menungguku," Ryeowook berbalik dan akan melangkah tapi terhenti karna menyadari keadaan apartemennya dulu begitu berantakan.

"Apa yang kau lakukan pada apartemenku?!," Ryeowook kembali berbalik menatap Yesung tajam. Yang ditanya hanya menggaruk tengkuknya, "A-aku tidak melakukan apapun. Lagipula ini bukan apartemenmu lagi jadi terserah aku ingin bagaimana."

"Kalau kau memang sudah menganggap apartemen ini milikmu sebaiknya kau ganti passcode-nya." Setelahnya Ryeowook benar-benar pergi.

Apa yang baru saja Yesung alami rasanya bagaikan mimpi. Tiba-tiba Ryeowook datang untuk mengambil bingkai foto yang berisi pernyatan cinta kepadanya.

Yesung kembali masuk ke kamar dan terduduk di pinggir tempat tidur. "Jadi selama ini yang dia sukai itu aku? Bukan Kyuhyun ataupun yang lainnya, tapi aku, aku sendiri."

Yesung larut dalam pikirannya sendiri, selama ini berarti Ryeowook mati-matian memendam perasaannya pada Yesung karna ingin menjaga persahabatan mereka tapi Yesung dengan bodohnya menyakiti perasaan Ryeowook hanya karna sahabatnya itu mengaku kalau ia Gay. Yesung benar-benar menyesal sekarang, seharusnya ia tidak seperti itu pada Ryeowook.

"Kalau saja aku tidak egois mungkin kami masih tinggal bersama."

Yesung tersenyum saat kembali mengingat kalau Ryeowook menyukainya. "Astaga, kenapa aku tersenyum?. A-aku masih normalkan?. Aku pasti hanya lega karna ternyata Ryeowook tidak menyukai Kyuhyun, mereka tidak cocok sama sekali. Iya, pasti karna itu."

Yesung membuka balkon apartemennya, hari ini cerah seperti biasanya. Yesung mendekati jemuran baju dan mengambil salah satu kemeja yang sudah kering dan mendekatkan ke hidungnya. "Sudah berapa lama pakaian ini terjemur? Aroma pewanginya sudah tidak ada lagi," meskipun begitu Yesung memutuskan untuk memakai langsung baju itu untuk pergi ke kampus tanpa ia setrika terlebih dahulu ataupun sekedar memakai parfume.

Tentu saja Yesung yang sekarang adalah seorang pria yang tak terurus, dari dulu dia tidak pintar mengurus kebutuhan pribadinya. Padahal niat awalnya ia pindah ke Seoul adalah ia ingin belajar mengurus diri sendiri tapi ternyata takdir mempertemukannya dengan Ryeowook yang begitu pintar mengurus semuanya.

Mulai dari mencuci baju, membersihkan apartemen hingga memasak semua dilakukan oleh Ryeowook. Dia melakukan itu bukan serta merta karna menyukai Yesung hingga ia mau melakukan apa saja tapi lebih karna tidak ingin Yesung menghancurkan apartemennya. Pernah satu kejadian saat Yesung ingin memakai mesin cuci, dengan bodohnya Yesung langsung memasukkan air dengan gayung ke dalam tabung cuci. Ryeowook mendiamkannya seminggu penuh untuk kejadian itu.

Pagi ini di koridor kampus Yesung melihat Ryeowook tengah berbicara dengan teman sekelasnya, Yesung memutuskan untuk mendengar percakapan mereka dari jauh.

"Yeonseok-ah, kau satu kelompok denganku saja, yah?"

Bujuk Ryeowook pada Yeonseok yang merupakan mahasiswa yang terkenal malas mengerjakan tugas. "Duh.. Bagaimana yah. Kalau kita satu kelompok kau pasti akan banyak mengeluh nantinya, ku dengar kau itu cerewet."

'Siapa yang mengatakan itu?!,' kesal Ryeowook dalam hati. "Aku hanya perlu teman sekelompok saja. Kalau kau satu kelompok denganku kau tidak perlu mengerjakan apapun, serahkan saja semua padaku, ne?"

"Kau serius?," Yeonseok terlihat bersemangat sedangkan Ryeowook hanya mengangguk untuk meyakinkan Yeonseok lagi.

"Baiklah. Aku akan mengatakan pada Youngdoo kalau aku tidak jadi sekelompok dengannya."

"Maaf, Ryeowook satu kelompok denganku," tiba-tiba Yesung datang dan menarik tangan Ryeowook.

"Yak! Yak!. Lepaskan aku"

Yesung membawa Ryeowook ke lorong yang lumayan sepi, "Apa-apaan kau?," tanya Ryeowook ketus.

"Mianhae"

"Kenapa kau ingin satu kelompok denganku?," tanya Ryeowook penasaran karna selama ini Yesung menghindarinya dengan cukup baik. "Karna hanya kita saja yang belum mendapatkan kelompok, jadi cukup mempersulit tugas ini. Aku sudah membaca tugasnya di website Kim Ssaem, nanti siang aku akan mengirim pesan tempat kita harus bertemu." ucap Yesung final dan berlalu meninggalkan Ryeowook.

Ryeowook melihat kepergian Yesung dan bisa dilihatnya dengan jelas jika Yesung perpas-pasan dengan Victoria tapi pria itu tidak memperdulikannya dan hanya melewati begitu saja. "Heol. Apa aku tidak salah lihat? Dia mengabaikan Victoria? Victoria yang selama ini dia puja?." Ryeowook masih tidak percaya, sepertinya ia harus mencari tau.

Di hampirinya Victoria ketika mereka sudah berpas-pasan, "Hai, Vict!"

"Oh hai, Ryeowook. Ada apa?"

"Hmm~ Kalau aku boleh tau apa kau dengan Yesung sedang bertengkar?," tanya Ryeowook dengan ragu.

Yang ditanya mempoutkan bibirnya sedih,"Tidak. Dia tiba-tiba saja mendiamkanku, aku juga tidak tau kenapa. Ryeowook, tidak kah kau merasa Yesung sudah berubah. Dia berbeda sekali dengan yang ku kenal dulu. Dia seperti tidak bersemangat melakukan apapun. Jika aku perhatikan dia seperti itu semenjak kalian tidak bercakapan lagi."

Ryeowook mendelik, 'Bagaimana dia bisa tau kalau kami tidak bercakapan?'

"Semua yang mengenal kalian juga tau kalau kalian sedang tidak akur," jawab Victoria seolah membaca pikiran Ryeowook. "Aku harap kalian segera berbaikan."

Ryeowook sudah sampai di tempat yang Yesung janjikan, perpustakaan kampus. Tugas mereka adalah me-review novel sastra inggris bertema musik jadi tentu saja perpustakaan kampus adalah pilihan yang tepat, menurut Yesung.

"Aku sudah menemukan novel yang akan kita review," ucap Yesung sambil menggoyang-goyangkan novel yang ada di tangannya ketika ia melihat Ryeowook menghampirinya di sela-sela rak buku yang menjulang tinggi. "Apa hanya tersisa satu novel ini saja?," tanya Ryeowook yang mengabaikan sifat Yesung yang seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa dengan mereka.

Yesung mengangguk sebagai jawaban. "Aku sudah menonton versi film dari novel ini dan ceritanya lumayan, jadi kita tidak perlu lagi membaca buku berbahasa inggris ini."

"Tetap saja kita harus membacanya, bagaimana jika versi filmnya berbeda dengan versi novel."

Mereka berdua keluar dari perpurstakaan setelah meminjam novel yang sialnya hanya tersisa satu buku.

"Kau saja yang membawa buku ini, aku akan mencoba mencari bukunya di toko buku atau perpustakaan umum. Dan jangan lupa kau baca!" perintah Ryeowook.

"Aku ikut"

"Tidak! Lebih baik pergunakan waktumu untuk membaca novel itu. Aku tau kau akan memakan waktu lebih lama dibandingkan aku dalam hal membaca apalagi itu sastra inggris. Jadi pergunakan waktumu sebaik-baiknya." Setelah mengatakan itu Ryeowook langsung pergi.

Seperti yang diperintahkan Ryeowook, Yesung membaca novel -sialan- berbahasa inggris itu. "Sedikit pun aku tidak mengerti artinya," ucap Yesung sambil meneguk segelas kecil soju. Ya, saat ini sudah pukul sepuluh malam dan tentu saja Yesung berada di kedai untuk menikmati makan malamnya.

"Ini ramen-mu, Nak"

"Gomawo, Omonim" Yesung menatap lapar ramen-nya. Tangan kiri memegang novel sedangkan tangan kanan memegang sumpit untuk menikmati ramen-nya, Yesung tipe multitasking.

Kriiing

Sebuah pesan masuk ke ponsel Yesung.

From : Ryeowook

Kau dimana sekarang?

Yesung tersenyum senang, sudah sangat lama sekali Ryeowook tidak mengirimnya pesan seperti itu. Yesung berpikir sejenak sebelum membalas pesan Ryeowook, tidak mungkin ia mengatakan lokasi sebenarnya.

To : Ryeowook

Tentu saja di apartemen, aku sedang tiduran sambil membaca novel.

Segelas soju kembali diteguknya setelah membalas pesan Ryeowook. Jika ditanya kenapa Yesung mendadak berubah itu dikarenakan ia ingin kembali berbaikan dengan Ryeowook. Ia sekarang tidak takut lagi jika orang-orang mengira ia dan Ryeowook adalah pasangan gay, toh juga ia sudah menyerah dengan Victoria semenjak wanita itu mengaku mempunyai kekasih. Dan yang paling menjadi alasan utama Yesung untuk berbaikan dengan Ryeowook adalah karna sebenarnya Ryeowook tidak menyukai Kyuhyun, tetapi dirinya sendiri. Yesung kembali senyum-senyum sendiri mengingat hal itu, seperti orang gila. "Tidak! Tidak!," ucap Yesung sambil menampar-nampar pipinya. "Aku tidak menyukai Ryeowook. Mana mungkin! Sudah aku katakan kalau aku hanya lega Ryeowook tidak menyukai Kyuhyun! Itu saja! Kau harus mengerti perasaanmu sendiri, Kim Yesung!" tunjuk Yesung pada dirinya sendiri yang ternyata sudah mabuk. "Kau perlu minum yang banyak malam ini, Kim Yesung. Agar otakmu tidak berpikir yang macam-macam." Yesung meneguk habis soju langsung dari botolnya.

Dari kejauhan Ryeowook yang baru kembali dari toko buku yang dekat dengan kampusnya tidak sengaja melihat Yesung yang tertidur di salah satu kedai. "Ah! Jadi ini yang ia maksud tiduran sambil membaca novel. Sialan kau, Kim Yesung!."

"Ya, bangun" Ryeowook menepuk-nepuk bahu Yesung. "Omonim, apa dia sering datang kesini?," tanya Ryeowook pada pemilik kedai saat dirasanya Yesung tak kunjung sadar.

"Hampir setiap hari."

"Pantas saja tubuhnya semakin kurus. Yesung! Bangun!"

Yesung membuka mata sayunya perlahan, "Oh! Kau Ryeowook-ah? Kau men-jemput-ku?. Ayo kita pu-lang!"

"Kau bisa pulang sendiri?"

"Ti-tidak."

"Aku akan mengantarmu," Ryeowook menarik tangan kanan Yesung dan mengalungkan dilehernya untuk membantu Yesung berjalan, tidak lupa ia membawa novel yang dibawa Yesung.

"Sepertinya kau menikmati waktumu disaat kita tidak tinggal bersama lagi," ucap Ryeowook saat keduanya berjalan menuju apartemen. "Jika kita masih tinggal bersama, aku pasti akan memarahimu jika minum-minum diluar. Apa selama ini aku terlalu mengekangmu?."

Yesung tidak menjawab, pria itu sepertinya tertidur tapi untunglah kakinya masih 'sadar' untuk berjalan sampai ke apartemen. Ryeowook merebahkan Yesung di tempat tidur, melepas jaket dan sepatu pria itu. "Apartemen ini luar biasa berantakan. Seharusnya aku tak menyetujui ide Kyuhyun untuk pindah meski Yesung menyetujuinya. Benarkan, Yesung?" Ryeowook kembali menatap Yesung yang terlihat nyaman ditidurnya.

"Jangan bilang kalau kau mabuk setiap hari agar bisa tidur nyenyak karna kau tidak bisa tidur tanpaku?," Ryeowook duduk di pinggir tempat tidur, mengamati lekat-lekat wajah pria yang ia cintai itu. Padahal hanya sebulan, tapi wajah Yesung jauh lebih tirus, wajahnya kusam, bibirnya kering, kantung mata terlihat jelas.

"Kyuhyun pasti mengkhawatirkanku, ini sudah malam. Aku harus pulang," Ryeowook sudah akan berniat berdiri setelah memakaikan Yesung selimut tapi tiba-tiba tangannya ditarik dan sekarang Ryeowook jatuh kepelukan Yesung.

"Jangan pergi lagi," gumam Yesung yang masih terpejam. Lengan kanan Yesung menjadi bantal Ryeowook dan mendekap kepalanya, sedangkan lengan kirinya memeluk tubuh Ryeowook agar lebih dekat dengannya. "Kau disini saja, Ryeowook" ucap Yesung final.

Jantung Ryeowook berdegup kencang, ia sama sekali tidak bisa mengontrolnya. Tubuhnya kaku mendapati sentuhan hangat Yesung, "Yesung, aku benar-benar harus pulang."

Yesung hanya membalasnya dengan gumaman tidak suka dan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak ada jalan lain, Ryeowook berusaha mengambil ponselnya dari saku celana dan mengirimi Kyuhyun pesan bahwa ia menginap disini malam ini dan Ryeowook berani jamin ketika ia kembali bertemu dengan Kyuhyun pasti pria jangkung itu akan menggodanya habis-habisan.

Keesokan harinya Yesung terbangun dengan kepala pusing dan tenggorokan yang begitu kering, untung saja ketika ia melihat ke nakas ada segelas airputih disana, langsung saja Yesung mengambil dan meneguknya sampai habis. "Tunggu dulu. Seingatku aku tidak meletakkan air disini."

Yesung mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Pertama yang diingatnya adalah ia banyak meminum soju karna memikirkan kemungkinan ia menyukai Ryeowook, lalu seseorang datang dan membawanya kembali ke apartemen lalu…

"Ah! Ryeowook!," seru Yesung. Keyakinannya semakin bertambah ketika mendengar suara vacuum cleaner di luar kamar.

KLAK

Yesung membuka pintu kamar dan benar saja, dilihatnya Ryewook tengah membersihkan ruang tamu. "Ryeowook-ah!" panggil Yesung dengan wajah gembira.

"Kau sudah bangun?. Mandi dan cuci mulutmu sampai tidak ada bau alkohol lagi, setelah itu bantu aku membersihkan apartemen ini," perintah Ryeowook.

Bisakah kalian membayangkan betapa bahagianya Yesung sekarang. Jika ini mimpi, Yesung berharap ia tidak akan bangun dan terus memimpikanya, tapi Yesung masih cukup sadar untuk tau bahwa ini adalah kenyataan.

"NE!," seru Yesung langsung menuju kamar mandi, Ryeowook hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

Ini hari minggu, jadi Ryeowook memutuskan untuk 'membantu' Yesung membersihkan apartemen 'mereka'.

Pagi ini Ryeowook sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan untuk sarapan, setelah itu ia membersihkan apartemen, tidak mungkin ia memasak dengan kondisi tempat yang berantakan dimana-mana.

"Bagaimana mungkin dia bisa tinggal di tempat yang seperti sarang zombie ini?"

Ryeowook mengambil kursi dan berdiri di atasnya untuk membenarkan tirai jendela yang ntah bagaimana ceritanya bisa terlepas separuh.

GREP

Ryeowook terkejut mendapati Yesung tiba-tiba memeluk pinggangnya, "Yesung, apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya memegangimu agar kau tidak jatuh."

Secepat mungkin Ryeowook membenahi tirai agar Yesung melepas 'pegangannya'.

"Sudah. Lepaskan!"

Yesung pun melepas pelukannya dan Ryeowook turun dari kursi, "Apa yang harus aku kerjakan?," tanya Yesung yang ternyata sudah selesai mandi. "Aku sudah membereskan semuanya, tinggal kamar saja. Jadi segera kau bereskan kamar kit- maksudku kamarmu. Aku akan menyiapkan sarapan."

"Baiklah."

Satu jam kemudian semua sudah beres, apartemen sudah kembali dalam keadaan layak huni dan makanan pun sudah tersaji di meja depan tv. Maklum, tidak ada ruang makan.

Yesung dan Ryeowook duduk beralaskan bantal duduk. Ryeowook menyajikan omelet bersama tahu berbumbu kecap, nasi yang dicampur kacang merah, kimchi dan Ryeowook juga membuat kimbab.

"Sudah lama sekali aku tidak makan makanan rumah seperti ini. Gomawo, Ryeowook-ah" sahut Yesung.

"Tidak masalah, lagi pula ini hanya makanan sederhana."

"Tapi tetap saja"

"Sudahlah, kita makan saja sekarang."

Yesung mengangguk setuju. Ryeowook memperhatikan Yesung yang menyantap makanannya dengan lahap. Selalu begitu, Yesung memang selalu selahap itu jika yang dimakannya adalah masakan Ryeowook. "Sudah berapa kali aku pernah mengatakannya padamu, di apartemen ini hanya ada kita berdua, kau tidak perlu makan seperti ada orang yang akan merebutnya."

"Hehehe~. Sudah kebiasaan," jawab Yesung sambil terus menikmati sarapannya.

"Yesung, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Ryeowook serius.

"Tanya saja, aku akan menjawabnya"

"Kenapa kau tidak mendekati Victoria lagi?"

"Ah! Wanita itu. Dia sudah punya kekasih, jadi aku tidak berminat lagi padanya."

Ryeowook membuang nafasnya kasar. "Bukankah kau yang salah karna tak kunjung mengatakan perasaanmu padanya?. Kau pikir Victoria peramal yang bisa tau kalau kau menyukainya?"

"Setelah perhatian yang ku berikan padanya, bagaimana mungkin dia tidak tau kalau aku menyukainya?"

Sedetik kemudian keduanya terdiam. Ryeowook terdiam karna memaki Yesung dalam hati, 'BODOH! Apa selama ini aku kurang memperhatikanmu, brengsek!'

Sedangkan Yesung terdiam karna merasa sudah tertembak pistolnya sendiri. 'Benar juga. Selama ini aku juga menyalah artikan perhatian Ryeowook.'

"Sudahlah. Tidak usah membicarakannya. Tanyakan yang lain saja jika kau masih punya pertanyaan"

"Kenapa kau mau bicara lagi denganku. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling mengenal?," tanya Ryeowook lagi.

Yesung menelan makanan yang ada di mulutnya dengan susah payah. "I- itu karna aku menyesal. Aku sudah salah paham antara kau dan Kyuhyun. Aku ingin minta maaf jika aku sudah membuatmu tersakiti dengan perkataan dan perbuatanku."

"Kau tidak masalah kalau aku ini Gay?. Bagaimana jika ada yang tau dan mereka mengira kita memiliki hubungan?"

"Aku tidak peduli," jawab Yesung yakin. "Oleh karna itu, kau mau kan kembali tinggal disini?. Sambung Yesung.

Ryeowook tersenyum, "Tentu saja karna Kyuhyun tidak mengijinkanku tinggal di sana lagi jika kau dan aku sudah berbaikan."

"Hahaha. Hari ini juga aku akan membantumu mengemasi barang-barangmu di apartemen Kyuhyun."

"Ya. Kau memang harus membantuku."

Seperti yang sudah mereka rencanakan tadi, setelah selesai sarapan keduanya memutuskan untuk mengambil barang Ryeowook di apartemen Kyuhyun.

"Hai, Kyu! Lama tidak jumpa!," sapa Yesung begitu masuk ke apartemen sahabatnya itu padahal mereka baru bertemu lusa kemarin di loker.

"Ya, lama sekali. Dan wajahmu banyak berubah sekarang. Apa itu dibawah matamu? Itu kantung mata atau kantung kangguru untuk menggendong anaknya!," goda Kyuhyun.

"Mati saja kau!."

Ryeowook mengabaikan kedua sahabat bodohnya itu dan langsung masuk ke kamarnya.

"Mau apa kau kesini?," tanya Kyuhyun.

Kyuhyun sebenarnya sudah mengetahui tujuan mereka datang, tapi ia ingin mendengar langsung dari Yesung. "Aku dan Ryeowook sudah berbaikan dan sekarang saatnya ia kembali ke tempat tinggal aslinya."

"Apa jaminan kalau kau tidak akan melukai perasaan Ryeowook lagi?," tantang Kyuhyun.

"Kau boleh menghajarku sampai koma, tidak sampai mati."

"Baik. Aku setuju"

Keduanya bersalaman sebagai tanda sepakat.

"YESUNG! KAU BERNIAT MEMBANTUKU ATAU TIDAK?," teriak Ryeowook dari dalam kamar.

"Iya, Nyonya." Yesung cekikikan ketika mendengar kembali omelan Ryeowook karna sudah lancang memanggilnya Nyonya.

"Ryeowook, segera hubungi aku jika pria bodoh ini kembali menyakitimu," ucap Kyuhyun yang berdiri di ambang pintu. "Tentu saja. Kau juga boleh menghajarnya untukku."

"Itu sudah pasti. Donghae dan Eunhyuk pasti terkejut saat besok melihat kalian berbaikan."

"Hahaha~ Aku akan menertawakan ekspresi mereka besok," seru Yesung.

.

.

.

Setelah selesai menyusun barang, Yesung dan Ryeowook kembali ke apartemen mereka. Ryeowook menggeret satu koper di masing-masing tangannya sedangkan Yesung membopong satu kardus berukuran besar yang berisi buku-buku kuliah dan perlengkapan Ryeowook lainnya.

"Sepertinya kita akan punya tetangga baru Yesung" ucap Ryeowook ketika mereka melewati apartemen yang tepat bersebelahan dengan milik mereka. "Kau benar."

Keduanya melihat kesibukan yang terjadi di depan apartemen itu, para pekerja sibuk mengangkat box-box besar untuk dibawa masuk ke dalam. "Tapi dimana pemiliknya?" tanya Ryeowook mencoba mengintip ke dalam apartemen.

"Ryeowook, tidak bisakah nanti saja itu kau pikirkan?. Cepat buka pintu, ini berat!," keluh Yesung.

"Ah! Iya" Ryeowook buru-buru menekan passcode apartemen dan menyilahkan Yesung masuk lebih dulu.

Sekarang tidak ada yang lebih membahagian dibandingkan keberadaan Ryeowook di sampingnya. Bukan karna Yesung menyukai Ryeowook tapi karna Yesung tidak perlu sendirian lagi, begitu lah kira-kira isi pikiran Yesung saat ini.

Saat ini kedua penghuni apartemen itu sedang menikmati waktu santai mereka dengan duduk di sofa sambil menonton tv setelah selesai makan malam. Harusnya mereka mengerjakan tugas Kim Ssaem yang harus di kirim ke email dosen itu lusa nanti, tapi hari ini keduanya cukup lelah hingga mengabaikan tugas itu.

"Ryeowook, sebenarnya ada sesuatu yang ingin sekali aku tanyakan padamu."

"Apa?," Ryeowook masih fokus pada televisi.

"Bolehkah aku tau siapa orang yang sedang kau sukai saat ini?," tanya Yesung dengan hati-hati. Ia melihat keterkejutan Ryeowook.

"Kenapa kau tiba-tiba membahas itu?"

Yesung tidak langsung menjawab. Tidak mungkin ia mengatakan kalau sebenarnya Yesung sudah tau jika Ryeowook menyukainya. Tapi sungguh, Yesung ingin mendengarnya langsung dari mulut Ryeowook.

"Aku hanya ingin tahu saja. Memangnya tidak boleh? Kita kan sahabat," Yesung merutuki kata sahabat yang ia gunakan, itu bisa menyakiti perasaan Ryeowook.

Tapi jika dipikir-pikir, kalau saja Ryeowook mengaku, apa yang harus Yesung lakukan?. Menerima cinta Ryeowook? Tidak mungkin, dia normal. Menolak perasaan Ryeowook? Tapi dia sudah berjanji untuk tidak menyakiti perasaan Ryeowook lagi. Mungkin pilihan Ryeowook untuk memendam perasaannya adalah pilihan yang bagus untuk hubungan persahabatan mereka, begitu lah pikir Yesung.

Bel apartemen tiba-tiba saja berbunyi, membuyarkan lamunan keduanya. "Aku saja yang buka," ucap Ryeowook segera beranjak ke pintu. Dalam hati Ryeowook sangat berterima kasih dengan suara bel itu karna sudah membebaskannya dari pertanyaan Yesung yang paling dihindarinya.

"Annyeonghaseyo" sapa seseorang dari arah luar saat Ryeowook membuka pintu. "Annyeonghaseyo," balas Ryeowook yang sudah terpesona dengan pria tinggi yang berdiri di hadapannya.

"Maaf mengganggu, aku pemilik apartemen di sebelahmu, aku baru saja pindah. Zhoumi imnida," pria jangkung itu mengulurkan tangannya dan Ryeowook pun menjabatnya.

"Ah! Jadi kau tetangga baruku. Namaku Kim Ryeowook. Sepertinya kau lebih tua dariku, apa boleh aku memanggilmu Hyung?," tanya Ryeowook mencoba agar lebih akrab.

"Tentu saja. Kau masih kuliah yah?," tanya Zhoumi.

Ryeowook mengangguk mantap. "Oh iya, ini untukmu sebagai tanda perkenalan. Aku memberi ini karna aku berasal dari China" Zhoumi menyerahkan sekotak kue mochi.

"Huwa... Terima kasih, Hyung. Seharusnya aku memanggilmu Gege saja. Bahasa Korea mu lumayan juga"

"Hahaha," Zhoumi yang gemas dengan tingkah Ryeowook reflek mengacak rambut Ryeowook.

Yesung yang masih berada di dalam merasa curiga dengan tamu yang datang, karna penasaran Yesung pun menyusul. Di lihatnya orang setinggi tiang listrik dengan hidung kelewat mancung tengah mengacak rambut Ryeowook. 'Siapa pria kurang ajar ini?' tanya Yesung dalam hati.

"Siapa yang datang, Ryeowook?" tanya Yesung dengan mata menatap tajam ke Zhoumi.

"Ah! Ini tetangga baru kita, yang pindahan tadi siang itu" jawab Ryeowook.

Yesung mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya merangkul bahu Ryeowook. "Benarkah?. Kenalkan, Aku Kim Yesung. Aku roomate Ryeowook", ucap Yesung menekankan pada kata rommate.

"Aku Zhoumi. Senang berkenalan denganmu."

"Astaga, Ge. Aku tidak mempersilahkanmu masuk. Masuklah… kita bisa mengobrol lebih banyak," pinta Ryeowook dengan ramah.

"Terima kasih, Ryeowook. Tapi aku harus kembali, ada barang yang belum aku susun. Mungkin lain kali saja. Aku permisi"

Yesung melambai-lambaikan tangannya senang ketika Zhoumi sudah berbalik untuk pergi.

"Bukankah Zhoumi gege luar biasa?," tanya Ryeowook ketika mereka sudah duduk di sofa lagi. "Apanya yang luar biasa?"

"Dia tinggi, tampan, baik dan sepertinya dia bukan orang sembarangan."

Yesung mendengus sebal, "Kau benar. Dia itu bukan orang sembarangan, jadi kau harus berhati-hati dengannya. Bisa saja dia physco gila yang suka membunuh tetangganya."

"Kau yang gila!," sembur Ryeowook. "Seenaknya saja mengatai Gege seperti itu."

"Baru kenal saja kau sudah membelanya seperti ini. Ckck… Dia pasti memberikan mantra ke kue mochi yang sedang kau makan itu," Yesung tidak henti-hentinya menaruh curiga pada Zhoumi.

"Diamlah, Yesung. Bagaimana kalau Zhoumi Gege mendengar perkataanmu?"

"BIAR SAJA DIA DENGAR. AKU TIDAK TAKUT! DASAR TETANGGA ANEH!." teriak Yesung ke dinding yang membatasi apartemen mereka dengan Zhoumi.

Ini adalah pagi pertama Ryeowook dan Yesung pergi kuliah bersama setelah mereka berbaikan. Seperti yang mereka perkirakan, begitu Donghae dan Eunhyuk melihat mereka jalan berdampingan, sepasang kekasih itu melebarkan mulut mereka saking tidak percayanya.

"Apa-apaan ini? Aku tidak salah lihatkan?," Eunhyuk dan Donghae mendekati keduanya yang baru masuk ke gerbang kampus.

"Aku dan Ryeowook sudah berbaikan. Tapi kalau kalian berdua masih ingin lanjut untuk memusuhiku juga tidak apa, aku sama sekali tidak peduli," ejek Yesung.

PLAK

Donghae mendeplak belakang kepala Yesung. "Sekarang kau sadar betapa baiknya Ryeowook padamu setelah kau menyakiti perasaannya, eoh?"

PLAK

Kali ini giliran Eunhyuk tak mau ketinggalan, "Kalau aku jadi Ryeowook aku sudah akan menyumpahimu agar ukuran penismu mengecil," desis Eunhyuk.

"Sialan kau, Eunhyuk!"

Bukannya tersinggung, kini keempat sahabat itu justru tertawa geli membayangkan barang milik Yesung mengecil karna disumpahin.

"Ryeowook? Yesung?," sapa seseorang dan Ryeowook tersenyum lebar melihat Zhoumi berdiri tidak jauh darinya.

"Zhoumi Gege!. Sedang apa disini?"

Zhoumi mendekati ke empat orang itu dengan senyum khasnya. "Aku bekerja disini"

"Heh?," gumam Yesung.

"Aku Dosen baru disini, aku mengajar sastra mandarin"

"DAEBAK!," seru Ryeowook. Eunhyuk dan Donghae yang tidak tau apa-apa membungkuk sopan pada Zhoumi karna mendengar ia adalah seorang Dosen.

"Zhoumi Ge. Kenalkan ini sahabat-sahabatku, yang ini Eunhyuk dan yang ini Donghae."

Mereka pun berkenalan, Zhoumi tampak senang dapat mengenal mahasiswa di tempat ia bekerja walaupun itu bukan mahasiswa yang akan ia beri ilmu.

"Kalau kau tidak ingin terlambat dihari pertamamu bekerja, sebaiknya kau cepat pergi dari sini, Ssaem" ucap Yesung tidak sopan, tapi Zhoumi tidak begitu mempersalahkannya. Mungkin pembawaan Yesung memang seperti itu, pikir Zhoumi.

"Kau benar. Aku juga harus mencari ruanganku dulu. Semuanya, aku pamit dulu."

Yesung mengibas-ngibaskan tangannya, membuat gerakan agar Zhoumi pergi sejauh-jauhnya, dan tentu saja Yesung berani melakukan itu saat Zhoumi sudah tidak melihatnya. Pengecut sekali.

"Ya, Ryeowook. Bagaimana kau bisa mengenal Dosen muda itu?"

"Kau akan iri jika mendengarnya. Dia tetangga baru kami."

"Benarkah? Huwa~~ Kau beruntung sekali, setiap hari kau bisa mampir ke apartemennya dan melihat wajah tampannya," Eunhyuk memasang wajah seiri mungkin.

"Tentu saja. Aku akan mampir ke apartemennya dengan alasan minta diajarkan bahasa mandarin."

Kedua uke itu tampak bahagia bisa mengenal pria setampan Zhoumi. Sedangkan dua pria lainnya seolah ada awan gelap diatas kepala mereka. "Hyukie, kau tidak lupa kalau aku ini pacarmu, kan?. Aku bahkan jauh lebih tampan darinya."

"Bandingkan tinggi kalian, Mr. Lee Donghae. Kau tampak seperti bocah ketika bersebelahan dengannya," sindir Eunhyuk.

Ryeowook hanya cekikikan mendengar perdebatan sepasang kekasih itu tanpa menyadari ekspresi mematikan Yesung.

'Anak ini! Bukankah dia menyukaiku? Tapi kenapa tingkahnya seperti gadis puber ketika melihat si tiang listrik itu. Bagaimanapun aku akan mencari cara agar Ryeowook tidak dekat-dekat dengan tiang itu. Bukannya apa-apa, aku hanya punya firasat buruk akan terjadi sesuatu dan sebelum sesuatu itu terjadi aku harus menghentikannya.'

Yesung yang pada dasarnya bodoh dengan perasaannya sendiri tidak tau kalau 'sesuatu' itu justru terjadi karna dirinya sendiri.

TBC

.

.

.

Jika ngerasa alurnya kecepetan, jawabannya adalah memang sengaja. XD

Mungkin fanfict ini akan tamat chapter depan.

Dan setelah itu aku gak ada utang fanfict lagi. Hore!

Ada niat sih buat fanfict Yewook lagi.

Tapi yang bikin ilfeel, yang baca banyak yang review beberapa doang.

Hayati rapopo sebenernya, tapi hayati juga butuh semangat dalam bentuk review dari kalian wahai para readers tercintaku

.

.

Terima kasih buat para readers yang udah ninggalin jejak di kotak review di chapter yang lalu :

Guest, Classical Violin, .1, TanClouds, Muna Cloudsomnia, eryeoziie, Yulia Cloudsomni, babyYewook, hideyatsutinielf, ywkfjshi

Apa kalian tau kalau aku sangat mencintai kalian?