Disclaimer :
All Characters and Setting Belongs To JK. Rowling
Plot and OOC Story By : Petite Veela
(Timeline : Tahun ke 6. Dumbledore, Cedric, dll, masih hidup. Voldemort mati sajalah(?))
Chapter 4
"Setelah berbuih dan warnanya berubah menjadi putih susu, segera masukkan esens klorofil dan sari bunga….."
"…..ger."
"…..ne."
"Potong tiga puluh Point dari Gryffindor karena melamun dikelasku." Kata Snape datar.
Hermione baru tersadar guru ramuannya telah memotong tiga puluh poin darinya setelah matanya menangkap kibasan jubah Snape saat ia meninggalkan kelas.
"YANG BENAR SAJA! AKU SUDAH MEMBERI TAMBAHAN SEPULUH POIN HARI INI! JARANG-JARANG DIA MEMBIARKANKU MENJAWAB PERTANYAANNYA!" Teriak Ronald Weasley kepada gurunya yang tentu sudah pergi terlalu jauh untuk mendengar teriakannya.
"Watch your mouth, Weasel… atau potong lagi tiga puluh point dari Gryffindor?" Terdengar suara menyebalkan yang dipanjang-panjangkan.
Hermione yang sedari tadi tidak memperhatikan sekitar menoleh kearah suara, dan ya, seperti dugaanya, Draco Malfoy dengan wajah dan seringaian menyebalkannya itu menatap Ron dengan malas.
"Oho! Merasa berhak, Musang? Kau pikir jabatanmu lebih tinggi dibandingkan aku?" Ron menimpali.
Hermione memutar bola matanya, bosan dengan pertengkaran Gryffindor-Slytherin. Dia memilih diam, memasukkan alat tulisya kedalam tas, kemudian pergi meninggalkan kelas.
Harry sudah akan membuka mulutnya untuk membantu Ron melawan Draco, tapi sudut matanya menangkap kepergian Hermione. 'Ada yang salah dengannya hari ini,' Pikir Harry. Jadi ia pun menyambar tasnya dan menyeret Ron mengikuti Hermione.
"Hermione…" Panggil Harry, membetulkan letak tasnya yang melorot.
Ronald mengekor dibelakangnya, agak kesusahan dengan buku-buku ditangannya, yang belum sempat dimasukkan tasnya saat Harry menariknya keluar kelas.
Hermione menoleh sebentar, kemudian meneruskan langkahnya.
"Hermione…" Harry memanggil lagi.
"BLOODY HELL, HERMIONE! TAK BISAKAH KAU BERHENTI SEBENTAR AGAR AKU BISA MEMASUKKAN BUKU-BUKU SIALAN INI KEDALAM TASKU?" Umpat Ron.
Hermione menghela napas, memutuskan berbalik untuk menghampiri kedua sahabatnya yang sedari tadi mencoba menyusulnya. Ia merebut buku dari tangan Ron, kemudian memasukkanny ke dalam Tas sahabat berambut merahnya itu.
Hermione tahu bukan salah mereka kalau semua menjadi begini, bukan salah Harry dan Ron kalau mereka tidak tahu apa-apa dan menjadi pelampiasan kekesalannya sejak ia kembali ke Hogwarts. Bukan salah Harry dan Ron juga kalau Malfoy kurang ajar itu menciumnya seolah dia… Hermione menghela napas lagi, mencoba tersenyum kepada sahabat tersayangnya itu. Bagaimanapun juga, mereka masih ada disisinya walaupun tak tahu menahu tentang apa yang terjadi.
"Ayo kita pergi," ajak Hermione.
Mereka bertiga berjalan dalam diam, bersisian menyusuri dungeon yang sempit.
"Kau.. ada kelas lagi setelah ini?" Ron bertanya, mencoba mencairkan suasana.
Hermione menggeleng.
"Kau mau ke perpustakaan?" Kali ini Harry yang bertanya takut-takut.
Hermione menggeleng lagi, kemudian ia mendongak menatap lurus kedepan.
"Aku ingin kembali ke asrama." Katanya kemudian.
Harry dan Ron bertukar pandangan heran.
Mereka bertiga sampai didepan Lukisan Nyonya Gemuk beberapa menit kemudian.
"Billysquibynonwizardysotragedy" Tukas Ron cepat.
Lukisan mengayun ke atas dan mereka bertiga pun memanjat masuk.
Harry meletakkan tasnya sembarangan disalah satu sofa, kemudian menuju sofa lain yang terletak didepan perapian ruang rekreasi. Ron melakukan hal yang sama, sedang Hermione juga menuju sofa yang ditempati Harry, masi menyandang tasnya dan meletakkannya dengan baik disisinya.
Ruang Rekreasi sedang kosong, sepertinya murid lain sedang mengikuti kelas atau biasanya murid yang sudah hampir NEWT memilih menghabiskan waktu di perpustakaan mengerjakan tugas yang menggunung. Harry dan Ron tercenung ketika selesai kelas Snape, yang notabene memberikan mereka tugas essay tentang ramuan pengempis sepanjang 2meter dan harus dikumpulkan minggu depan, malah memilih kembali ke asrama hanya untuk melamun.
"Well.." Hermione menarik napas. "Aku sebenarnya punya satu masalah kecil."
Harry dan Ron menatap Hermione dengan pikiran yang sama persis : 'Pasti PMS!'. Jadi mereka memilih diam dan mendengarkan agar tidak terkena semprot oleh singa betina yang sedang menstruasi.
"Kalian tahu undang-undang sialan kementrian yang disahkan minggu lalu?" Tanya Hermione cepat.
Harry menggeleng.
Ron mengangguk.
Hermione memelototi Harry.
"What..?" Tanya Harry Polos.
Ron ikut-ikutan memelototi Harry.
"What?" Sekarang ia mulai gusar, Undang-undang seperti apakah yang mebuat Hermione dan Ron memelototinya seperti sekarang?
"Jangan bilang ini tentang…" belum selesai Harry berbicara, Hermione mengangguk sedih. Ron mengangguk antusias.
"WHAT? UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBATALAN PIALA DUNIA QUIDDITCH BEBERAPA BULAN LAGI?!"
Plaaaakkkkk!
Sebuah buku tebal melayang mengenai kepala Harry.
"AUUUUHHH! Hermione!"
"Kau sungguh keterlaluan, kau ini berdarah campuran tahu! paling tidak bacalah prophet untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia sihir!" seru Hermione sebal.
Harry cemberut, menoleh kepada Ron. "Siapa peduli tentang apa yang ditulis prophet?" Sungutnya. "Memangnya undang-undang tentang apa?"
Ron mengangkat bahunya sambil menoleh kearah Hermione pelan-pelan, yang di tatap sudah memerah wajahnya karena murka.
"Err… kupikir juga undang-undang tentang Quidditch.. hehe." Ron nyengir.
"Yang benar saja! Mana ada undang-undang konyol seperti itu." Jawab Hermione sinis.
"Bisa saja! Mereka menyebar gossip akan membatalkan pertandingannya jika masih belum ada konfirmasi dari tim lawan tentang jalannya pertandingan!" Sahut Ron.
"Itu namanya pengumuman pembatalan Ronald, bukan peraturan perundang-undangan."
"Bisa saja karena itu menjadi suatu hal yang teramat penting nantinya, maka akan dibuat undang-undang."
Plaaaakkkkk!
Satu buku tebal lagi, mengenai kepala Ron.
"BLOODY HELL! Hermione!"
Ron dan Harry tergagap kemudian, bukan karena kepala mereka yang sekarang sudah nyut-nyutan karena buku terbang tadi. Mereka tergagap karena gugup akan pemandangan yang ada didepan hidung mereka sekarang ini.
Hermione, mengelap matanya yang basah dengan ujung jubahnya. Gadis yang terkenal tegar itu menangis.
"Her.. Hermione," Panggil Harry lembut. "Katakan kepada kami apa yang terjadi? Jangan main tebak-tebakan lagi, tolong. Aku dan Ron sudah cukup menjadi super bodoh didepan Snape, kami tak perlu menjadi bodoh juga didepanmu kan?"
Hermione memandang kedua sahabatnya itu, Harry memang terkadang lemot berpikir, dan Ron selalu memakai okol ketimbang akal. Tapi mereka berdua selalu ada saat ia membutuhkannya.
Hermione memandang mereka berdua, kemudia menghela napas. "Undang-undang tentang pernikahan Pureblood dan Mudblood. Kalian tidak dengar?"
Ron dan Harry mengerjapkan mata, bengong. Kemudian sama-sama terbahak.
"HAHAHAHA.. yang benar saja, mate! Dia menghawatirkan siapa yang dinikahinya.. " Ron tertawa kencang.
"HAHAHAHA.. kukira dia akan lebih menghawatirkan nilai N.E.W.T nya yang baru diadakan tahun depan." Harry tertawa tak kalah kencangnya.
Hermione berdiri berkacak pinggang. "Kalau aku bisa berpikir seperti apa yang kau pikir, Harry Potter, aku tidak akan sesedih ini memikirkan nasibku!" bentaknya.
"Hermione! Memangnya kenapa kalau ada undang-undang seperti itu? Kau bisa saja memilih penyihir berdarah murni manapun yang kau suka." Kata Harry mencoba menahan tawa.
"Hei! Harry benar! Kenapa kau tak menikah denganku saja? Aku berdarah murni!" Kata Ron member solusi.
"Seandainya saja aku diberi pilihan, Ronald Weasley, Oh tapi tidak, Merlin lebih suka melihat aku menikahi Draco Malfoy!" Kata Hermione.
Gadis itu menyambar tas dan buku-buku yang sudah ia lemparkan tadi, kemudian cepat-cepat keluar Ruang Rekreasi menuju tempat dimana tak seorangpun akan mengganggunya.
"Dasar bodoh!" Omel Hermione sambil menahan tangisnya.
Sementara itu, Harry Potter dan Ronald Weasley yang mengira Hermione hanya bercanda, masih tetap menertawakan dan tak mencoba mengejarnya.
o
Beberapa hari berlalu setelah insiden 'Penghinaan terhadap ke-intelektual-an Hermione Granger oleh dua sahabatnya yang bodoh di Ruang Rekreasi Gryffindor. Hermione memutuskan tidak biara lagi dengan Harry dan Ron yang semakin bingung dengan tingkahnya. 'Apa PMS bisa berlangsung berhari-hari tanpa jeda sedikitpun?' Tanya mereka dalam hati.
Semua sedang berada di Aula Besar untuk makan malam ketika tiba-tiba Prof. Dumbledore berdiri dan bertepuk sekali, menyuruh seluruh siswa untuk diam dan memperhatikannya.
"Perhatian semuanya! Saya yakin semua akan bergembira mendengar pengumuman ini."
Anak-anak semakin antusias mendengar kelanjutan dari pidato Dumbledore.
"Akhir minggu ini, tepatnya pada hari Sabtu, kita semua kan diundang untuk menghadiri sebuah pesta yang akan diadakan oleh orang tua murid. Siapkan diri kalian, kita akan menghadiri pesta pertunangan Mr. Draco Malfoy dan Miss. Hermione Granger yang akan diadakan di Malfoy Manor."
Dumbledore duduk kembali. Diiringi suara berkelontangan dari keempat meja asrama. Semua shock mendengar berita ini.
Di meja Gryffindor tampak Ronald Weasley yang menyemburkan makanan yang ada dimulutnya, Harry Potter yang tersedak jus labu yang baru diminumnya, Ginny Weasley yang tak sengaja menusukkan garpu di tangan Seamus yang mengaduh dengan jeritan yang memekakkan telinga. Sementara Hermione Granger duduk membeku, ikut Shock atas pengumuman pesta pertunangannya sendiri yang belum dietujuinya.
Di meja Ravenclaw ada Cho Chang yang langsung berbisik-bisik dengan Lisa Turpin dan Padma Patil tentang kebenaran berita ini. Sementara disampingnya ada Luna Lovegood yang tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa.
Di meja Hufflepuff, Zacharias Smith yang menyebalkan sudah pamer kepada Herbert Fleet dengan siapa ia akan menikah dan pestanya tak akan kalah megah dari si Malfoy. Susan Bones dan Hannah Abbott saling mendekatkan kepala seolah mereka kembar siamt membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang sudah terjadi antara Granger dan Malfoy.
Sementara di meja Slytherin:
'PLAAAKKK!'
Sebuah tamparan keras menghantam pipi Draco Malfoy yang pucat sehingga meninggalkan bekas kemerahan. Ia tak berjengit sedikitpun, hanya menyeringai meskipun kilat marah terlintas dimatanya.
"Berani-beraninya kau…" Daphne Greengrass menggertakkan giginya, terlalu marah untuk bisa berteriak sementara energinya sudah ia habiskan sekali buang dengan menampar pria kurang ajar yang mempermainkan hati adiknya.
"Apa-apaan kau, Daphne!" Gregory Goyle sudah berdiri untuk membantu Draco tapi ia dihalangi oleh tangan Draco sendiri.
"Biarkan saja dia, Goyle." Draco melangkah maju mendekati Daphne, menyeringai.
"Kau pikir aku setuju dengan hal brengsek ini, hah? Kau pikir aku mau menikahi darah lumpur busuk seperti dia? Kau pikir aku rela dijadikan mainan oleh orang tuaku?" Draco semakin maju sementara Daphne semakin mengerut ditempatnya berdiri.
"Ta.. tapi kau menerimanya, malfoy! Kau keparat!" teriak Daphne.
"AKU HARUS MENERIMANYA, BRENGSEK! ORANG TUAKU TIDAK MENERIMA PENOLAKAN APAPUN MESKIPUN YANG MENOLAK ADALAH ANAK MEREKA SENDIRI!" Draco Malfoy balas berteriak lebih keras.
" Tapi kau kan bisa …."
"HENTIKAN KALIAN BERDUA!" Astoria Greengrass yang sedari tadi diam saja, muak mendengar ini semua. "Draco, aku ingin bicara denganmu diluar… berdua saja." Ia menambahkan ketika melihat Crabbe dan Goyle sudah akan berdiri hendak mengekor Draco.
Astoria melangkah keluar Aula Besar diikuti Draco dibelakangnya, sebelum mncapai pintu ganda Aula, ia menatap tajam Hermione Granger yang tak sengaja melihat mereka sekilas kemudian berlalu.
o
Ruang Rekreasi Slytherin
"Draco, katakan padaku.. apa yang sebenarnya terjadi?" Astoria menarik lengan Draco mebcoba lembut meskipun ia sudah bergetar menahan amarah.
"Kau sudah dengar sendiri tadi, peraturan bodoh orang-orang kementrian yang tak becus itu membuat orang tuaku akan menikahkanku dengan si Granger." Draco menjelaskan singkat.
"Tapi kau tak akan menerima ini semua kan, Draco?" Astoria menangkupkan telapak tangannya pada wajah Draco agar menghadap wajahnya, menatap matanya.
Draco menelan ludah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, setelah ini. Dia tidak ingin menikahi Darah Lumpur kotor itu. Tapi dia juga tahu, tak akan bisa menikahi Astoria karena mereka sama-sama berdarah murni.
Draco mengangguk. 'Sudahlah, apa salahnya mengikuti air yang mengalir, nikmati saja permainan si merlin brengsek itu' Pikirnya.
"I know you'll do it for me, Draco." Astoria tesenyum, berjinjit untuk mendekatkan kepalanya kearah Draco dan mencium bibir si lelaki pirang Slytherin itu.
o
RUANG REKREASI GRYFFINDOR
Hermione duduk di salah satu sofa, menunduk memegangi pelipisnya, wajahnya hampir tertutup rambutnya sendiri. Dia berkali-kali menghela napas sementara beberapa orang yang ada disekitarnya tak henti-hentinya bertanya padanya.
"Hermione, jangan diam saja, kupikir selama ini aku adalah sahabatmu…" Ginny Weasley mengoceh tiada henti.
"Bloody Hell Hermione! Jadi semua yang kau katakan itu benar?" Ron Weasley masih tidak percaya akan pernyataannya tempo hari.
"Merlin! Katakan padaku ini semua lelucon, Hemione, dan ini sama.. sekali.. tidak.. lucu" Harry Potter menuntut.
"Good Job Hermione, mendapatkan Malfoy ternyata tidak sesulit yang kami pikir." George dan Fred Weasley cekikikan bersama.
"Granger! Oh, astaga! Ini akan menjadi pesta terhebat tahun ini, katakan padaku apa tema pestanya. Oh, astaga kami tak sabar lagi menunggu hari Sabtu." Lavender Brown rebut sendiri.
Klik! Klik! Klik!
Sambaran lampu flash kamera muggle membuat silau mata Hermione, ia semakin pusing dengan suara yang ditimbuklan oleh kamera itu. Coolin Creevey mengambil gambarnya dari seluruh sudut.
"Errrr.. maaf.. tapi, kurasa Hermione harus segera beristirahat, lihat, wajahnya sudah semakin pucat."
Hermione mendongak untuk melihat siapa penyelamatnya, dan itulah dia, Neville Longbottom dengan sejuta kebaikan dirinya untuk tidak menanyakan hal apapun tentang pertunangannya yang tak diharapkan.
Akhirnya semua setuju untuk membiarkan Hermione masuk ke kamar tidur anak perempuan untuk tidur lebih awal.
o
Malfoy Manor
Draco Malfoy menatap tak berkedip kepada wanita bergaun merah panjang didepannya, ia mencoba mengalihkan pandangannya tapi tak bisa. Ia seolah tersihir dengan apa yang dilihatnya. Hermione Granger, Gadis super cantik yang sekarang membuang pandangannya darinya, dengan sinar sedih diwajahnya, terlihat seperti Ophelia. Draco mendengus, kenapa ia membandingkan Granger dengan Ophelia? Jelas Ophelia adalah wanita yang bersedih karena tidak diperbolehkan menikahi orang yang dicintainya, sementara Granger adalah kebalikannya, wanita yang bersedih karena dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
Draco menyeringai ketika si pembawa acara, yaitu Lucius Malfoy sendiri, mengikrarkan ikatan pertunangan mereka dengan acara pertukaran cincin. Draco mengelus punggung telapak tangan Hermione sebelum memasukkan cincin ke jari gadis yang sekarang menjadi tunangannya itu, sementara Hermione sekuat tenaga menahan amarahnya. Ia memasukkan cincin ke Jari Draco dengan teramat kasar, Draco membalas perlakuannya dengan menggenggam tangan Hermione erat-erat dan menariknya untuk mencium pipinya.
Terdengar applaus meriah dari para tamu undangan yang sebagian besar adalah teman-teman Hermione dan Draco, murid Hogwarts sendiri. Sebagian mata menatap iri, Sebagian menatap benci –baik kepada Draco atau Hermione sendiri, Sebagian lagi menatap penuh kebahagiaan –yang ini berasal dari keempat orang tua dan para guru yang sudah sepuh.
Draco bergabung dengan teman-temannya setelah pertukaran cincin selesai dilakukan, ada yang mengucapkan selamat, ada pula yang hanya menatap sinis. Ia dengan senang hati bersulang dengan kawan-kawannya. 'Kapan lagi bisa berpesta dengan izin orang tua seperti ini?' Pikirnya.
"Bersenang-senanglah, Little Cherry!" Bisik Draco, menyeringai kepada gadis yang sekarang sudah menjadi tunangannya. Kemudian berlalu meninggalkan gadis itu dengan segala dendam yang ada dihatinya.
Seorang gadis bergaun merah menoleh, menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diduga, kemudian mengikuti Draco.
o
Draco Malfoy, berada di kamarnya sendiri, mendorong gadis yang sedari tadi mengikutinya. Draco memang sudah mabuk berat, tapi dia tidak buta, dia sadar diikuti oleh gadis bergaun merah.
"Mau, bermain-main denganku, eh?" Geram Draco, melepas jasnya kemudian ikut naik ke atas tempat tidur, menindih si gadis.
Gadis berambut cokelat itu menyeringai, mengalungkan lengannya pada leher Draco, menariknya kemudian menjilat bibirnya lembut sebelum kemudian melumatnya. Draco mendesah, menarik gadis itu semakin merapat padanya, tangannya sudah bergerilya meraba seluruh tubuh gadis itu. Ia menyingkap rok si gadis hingga memperlihatkan pahanya yang mulus, Draco menyusuri paha gadis itu, perlahan menuju perutnya, hingga tiba di dadanya. Draco menggeram, menggigit dengan gemas bibir gadisnya. Meremas lembut dadanya. Draco menarik bibirnya, mencoba menatap wajah gadis yang sekarang ada dibawahnya, tapi suramnya cahaya menghalangi pandangannya untuk bisa fokus. 'Sial! Disaat begini!' Rutuknya.
Draco menenggelamkan wajahnya ke leher si Gadis, membuatnya melenguh, dan membuat tanda di leher jenjang gadis itu. Draco menyeringai senang. Sementara tangannya tetap meremas dada kenyal si gadis. Draco kehilangan kontrol. Ia membuka seluruh kemejanya dan menarik paksa resliting gaun si gadis, menyisakannya hanya dengan bra dan celana dalam saja. Draco menelan ludah melihat tubuh hampir telanjang didepannya.'Oh, semudah inikah aku mendapatkan Hermione Granger?' Soraknya dalam hati.
Ia sudah akan menyerang gadis itu lagi ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Cahaya menyeruak masuk bersama Ibu dan.. seorang gadis yang terlihat seperti…. Draco mendelik.
"DRACO MALFOY!" Teriak Narcissa.
"ASTORIA GREENGRASS!" Teriak Hermione.
Tbc
Kaget tidak? Saya harap kalian kaget. Hehehehehehe.. *Plaaakkk*
Maaf untuk alur yang tidak jelas dan Typos everywhere. Saya berusaha update cepat. Jangan lupa review ya. Merci :*
◦Petite Veela◦
