Fake Affection (Chapter 4) © by YoonMingi
.
Rate : T++
Categori :
KyuMin. Yaoi/BoysLove. M-Preg. Hurt/comfort, lil angst. Innocent!Min
Cast :
Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Zhoumi
Pairing: KyuMin ofc!
.
DON'T BE SILENT READER
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Kyuhyun tak bisa berhenti mengulum senyum. Sekali-kali matanya melirik pada sosok Sungmin yang tertidur pulas di sampingnya. Namun Kyuhyun tak bisa memandangi wajah itu terus-terusan karena harus fokus pada jalanan.
Ia masih berada di mobil, baru saja pulang dari rumah sakit. Dengan Sungmin yang telah melakukan berbagai test kesehatan.
Kalian tahu mengapa Kyuhyun tak bisa berhenti tersenyum? Haha! Kalian pasti sudah tahu!
Tentu saja karena Sungmin!
Sungmin, pria dengan tampang kelewat manis itu tengah hamil sekarang. Mengandung anak Kyuhyun. Sekali lagi, MENGANDUNG ANAK KYUHYUN!
Kandungannya berusia lima minggu. Yang berarti memang Kyuhyun sudah berhasil membuat Sungmin hamil dari awal. Hanya gejalanya saja yang baru muncul seminggu terakhir ini.
Mengetahui bahwa semua kerja keras yang ia lakukan tidak sia-sia sangat membuat Kyuhyun bahagia. Kerja keras yang dimaksud disini benar-benar kerja keras, bukan maksud lain seperti yang kalian bayangkan. Kyuhyun memang sudah susah payah menguras otak jeniusnya, mengerahkan tenaga serta mengeluarkan biaya.
Dan apa yang ia dapat sebanding dengan yang ia keluarkan. Proyek yang dikerjakan oleh mereka bertiga hampir menuju sukses! Tinggal sedikit lagi sampai menunggu anak itu lahir.
Hm, Kyuhyun memang senang karena rencananya hampir sukses.
Tidak ada kesenangan lain selain kesuskesan yang sebentar lagi ia raih.
Hal lain yang membuatnya tak bisa berhenti mengulum senyum adalah sifat Sungmin kelewat polos. Sekali lagi Kyuhyun beruntung mendapatkan sosok seperti Sungmin yang sangat mudah ditipu. Sungmin percaya dengan acting 'pura-pura menyesal, bersalah, sedih, sendu, dan lain lain' yang Kyuhyun praktekan di rumah sakit tadi.
Kyuhyun berkata seakan ia tak tahu Sungmin memiliki organ spesial dalam tubuh prianya. Sehingga Kyuhyun pikir dengan memasukan cairan sperma di dalam tubuh Sungmin tidak akan bereaksi apapun. Tapi yang terjadi adalah Sungmin hamil dan Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana…
Kalimat Kyuhyun berhasil membuat keadaan malah berbalik. Sungmin berpikir bahwa ia yang bersalah, ia merasa amnesia yang ia alami membuatnya tak ingat apapun termasuk keberadaan organ spesial di dalam tubuhnya. Sungmin berpikir itu semua bukan salah Kyuhyun, itu juga salahnya karena tidak melarang Kyuhyun melakukan percobaan seperti itu.
Kyuhyun menyeringai setan, ia tertawa pelan mengingat kembali kejadian di rumah sakit tadi.
Skenario yang bagus. Sangat spontan dan cerdas!
Kyuhyun sempat berpikir bahwa mendaftar menjadi actor tidak buruk juga. Actingnya lumayan bagus, buktinya Sungmin percaya. Haha!
.
=oO Fake Affection Oo=
.
Sesampainya di parkiran apartemen, Kyuhyun melirik Sungmin di kursi sampingnya lagi. Wajah pria manis itu tampak sembab dengan sisa air mata di pipi, matanya tertutup rapat, nafasnya teratur dan tenang. Sungmin pasti kelelahan menangis, sehingga ia terlelap dengan mudahnya.
Kyuhyun menghela nafas, ingin membangunkan pun mana tega. Wajah Sungmin terlalu indah untuk diusik ketenangannya.
Kyuhyun segera turun dari mobil.
Direngkuhnya tubuh Sungmin, membawa ke dalam gendongannya.
Menggendong Sungmin mungkin memang bukan hal yang bagus, tapi tak apa, Kyuhyun makin merasa bersalah jika Sungmin terpaksa di bangunkan, tersadar pada kenyataan hidup yang begitu buruk.
Setelah menaiki lift dan berjalan sedikit menuju apartemennya. Kyuhyun langsung masuk sesudah memasukan password hingga pintu terbuka otomatis, tak lupa ia tutup kembali takut-takut ada orang asing masuk. Tanpa menunggu ia baringkan Sungmin di kasur perlahan. Sangat hati-hati seakan Sungmin adalah benda yang paling rapuh.
Kening Sungmin mengerut samar ketika Kyuhyun perlahan menjauhkan tubuhnya. Tubuhnya menggeliat, seakan mencari sesuatu yang sangat ia butuhkan masih dengan keadaan tertidur. Nafasnya menderu semakin cepat.
Kyuhyun mendesis menenangkan, ia bergerak mengusap kepala Sungmin lembut. Menenangkan Sungmin yang menurutnya terganggu karena Kyuhyun menggendongnya tanpa sepengetahuan pria manis itu.
Ketika kerutan di kening Sungmin menghilang bersamaan dengan nafasnya yang teratur, Kyuhyun menghela nafas lega. Tubuh Sungmin mulai tenang ketika Kyuhyun merebahkan diri di sisi Sungmin. Didekapnya Sungmin erat. Tangannya mulai turun mengusap punggung Sungmin memberi rasa nyaman yang sebesar-besarnya.
Seakan mengerti apa yang terjadi, Sungmin makin merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Kyuhyun. Kepalanya menelusup masuk ke dada itu hingga nafas hangatnya sangat jelas Kyuhyun rasakan di sekitar sana.
Kyuhyun terkekeh. Rasanya seperti memiliki bayi. Yah, meski bayi yang sebenarnya belum lahir.
Sepertinya Kyuhyun harus sering meluangkan waktu untuk mengurus Sungmin. Bagaimanapun Sungmin adalah salah satu kunci keberhasilan mereka, jika tidak ada Sungmin mereka harus minta tolong siapa lagi? Mencari orang baru?
Mendapatkan Sungmin saja mereka harus bekerja keras. Belum lagi operasi penanaman rahim di tubuh Sungmin sangat sulit. Salah sedikit nyawa bisa melayang. Uang yang mereka keluarkan-pun tidak main jumlahnya.
Kyuhyun menarik nafas dalam. Matanya terpejam. Lalu dihembuskannya nafas itu perlahan.
"Sesuatu yang dipaksakan pasti akan menuai dampak buruk."
Kyuhyun tersentak. Matanya terbuka lebar saat kalimat Donghae di rumah sakit tadi terngiang lagi di benaknya. Rasanya kalimat itu begitu hebat hingga terus melekat di otaknya. Sepanjang perjalanan hingga sampai di apartemen. Kyuhyun selalu teringat ucapan Donghae itu.
Kyuhyun tahu ini memaksa. Proyek mereka sangat beresiko. Menentang kodrat manusia terutama pria yang seharusnya tidak mungkin mengandung. Tapi mereka tetap memaksakan semua ini agar berjalan dan berhasil.
Tidak ada yang tidak mungkin. Kalimat itulah yang selalu menjadi penyemangat mereka untuk optimis dalam menjalankan pekerjaan ini.
Walau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Tapi jika memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi itu terdengar sangat buruk. Kyuhyun yakin perjalanan mereka menyelesaikan semuanya akan mengalami hambatan. Itu pasti.
Percakapan dengan Donghae di rumah sakit kembali terbayang. Saat Donghae menceritakan kemungkinan terburuk jika percobaan mereka gagal.
"Sesuatu yang dipaksakan pasti akan menuai dampak buruk."
"Aku tahu, tapi tak ada salahnya mencoba, kan?"
"Kau sudah baca e-mail-ku?" Donghae balik tanya.
Kyuhyun mengangguk. "Sudah."
"Lalu? Kenapa kau bisa sesantai ini?" Donghae menatap Kyuhyun bingung. Kyuhyun terlihat sangat santai seakan percobaan mereka hanyalah sekedar mengobati pasien sakit demam.
"Aku yakin tidak akan terjadi apapun." Jawab Kyuhyun optimis.
Donghae mendengus. "Biar kujelaskan. Rahim itu bukan rahim alami. Tidak sehebat dan sesempurna rahim yang dimiliki wanita, kau harus tahu semua buatan manusia tak ada apa-apanya dibanding ciptaan tuhan."
"Lalu?"
Donghae mulai gemas. Kyuhyun tampak begitu bodoh sekarang hingga Donghae ingin melayangkan sebuah pukulan untuk dokter kelewat muda itu. "Rahim itu lemah. Tidak kuat jika harus menampung janin hingga sembilan bulan lamanya. Jika dipaksakan selama itu, kurasa akan membahayakan tubuh sang ibu. Kita bisa saja menyelamatkan janin itu , lalu membiarkan ibunya kehilangan nyawa. Tapi…" Donghae menggantung kalimatnya menunggu respon Kyuhyun.
Namun Kyuhyun diam tanpa ekspresi. Seakan masalah itu bukanlah hal yang penting. Tangannya terlipat di depan dada. Menunggu kelanjutan kalimat Donghae.
"T—tapi ini sama saja pembunuhan. Dan—hei! Kenapa kau tidak membantuku sama sekali?" amarah Donghae hampir meledak.
"Ck. Hanya karena masalah ini kau begitu pusing? Kalau begitu prematur saja. Tinggal operasi keluarkan bayinya. Selesai, kan?" Kyuhyun mendesah bosan. Bingung dengan jalan pikiran hyung-nya yang begitu lamban.
"Tak semudah itu! Kita harus menghindari operasi sekecil apapun. Proses kelahiran bayi itu harus dilakukan secara normal. Yang kutakutkan adalah tubuh Sungmin yang lemah, aku takut dia tidak kuat hingga—kau tahu maksudku, Kyuhyun-ah…" jemari Donghae memijit pelipisnya pelan. Kepalanya begitu pening memikirkan jalan terbaik untuk keluar dari masalah ini.
"Kau jangan berbicara seakan tahu segalanya. Sungmin orang yang kuat. Aku tidak mungkin salah memilih. Aku yakin Sungmin bisa bertahan hingga bayinya lahir. Aku pastikan keduanya selamat."
"Tapi—"
"—Hyung, ini sudah malam. Sungmin menunggu di luar. Aku harus segera pulang. Masalah ini kita bicarakan nanti bersama Zhoumi hyung." Sela Kyuhyun cepat.
"Kyuhyun! Kau tidak bisa bertindak seenaknya!"
"Aku tidak seenaknya. Aku yakin Sungmin mampu, ia sangat kuat. Kita hanya perlu membantunya. Kau percaya denganku, kan?"
Donghae tak bisa mengatakan apapun lagi. Kyuhyun memandangnya tajam, sorot matanya penuh keyakinan hingga Donghae tak dapat berkutik untuk membantah. Kyuhyun berhasil membuatnya percaya dengan semua kata-kata itu.
Donghae menunduk sejenak. Lalu mendongak balas menatap Kyuhyun. "Aku percaya."
Kyuhyun menghembuskan nafas lega. Bibirnya tertarik membentuk senyuman. Untuk sejenak mereka saling bertukar senyum, walau hanya senyum tipis yang sangat samar.
"Kalau begitu. Biar kuberitahukan apa saja yang harus kau perhatikan selama Sungmin mengandung. Kau tidak boleh membuatnya kelelahan dan stress. Sebisa mungkin jangan pernah membuatnya sedih. Karena jika sampai dia banyak pikiran, lalu pendarahan, kau sendiri yang tanggung akibatnya. Aku dan Zhoumi tidak mau lagi melakukan operasi sekecil apapun lagi di tubuh Sungmin…"
"Baik, hyung."
"Kau harus ingat rahimnya tidak sekuat rahim wanita. Jangan lagi melakukan hubungan sex lewat anal."
Kyuhyun mendelik tak percaya. "Tidak boleh lagi? Sedikitpun?"
"Tentu. Mungkin jika hanya pemanasan biasa masih diperbolehkan. Namun kau ingat kan Sungmin tidak boleh kelelahan sama sekali?"
Kyuhyun mendesis tak suka, walau mau tak mau ia harus menerima. Ia mengibaskan tangan mengisyaratkan Donghae meneruskan kalimatnya. "Lanjutkan cepat!"
"Mungkin untuk saat ini hanya itu. Kau dokter, pasti tahu hal hal apa saja yang tidak boleh Sungmin lakukan dan makanan apa saja yang tidak boleh ia konsumsi."
"Tidak diberitahu juga aku memang tahu." Ujar Kyuhyun percaya diri.
Donghae mendengus menghadapi sifat sombong Kyuhyun yang mulai keluar. "Satu lagi, kumohon padamu untuk memberikan perhatian lebih untuk Sungmin. Buat agar dia senyaman mungkin semasa kehamilannya."
"Itu pasti. Ada lagi yang ingin kau katakan?" Kyuhyun melirik jam tangannya. Khawatir dengan Sungmin yang menunggu lama di luar. Sungmin masih amnesia, ia tak suka dengan tempat asing. Meski dulu Sungmin pernah di rawat di rumah sakit ini, tapi tetap saja Sungmin pasti merasa asing.
"Hm, mungkin tidak, untuk sekarang cukup."
"Kalau begitu aku pamit pulang. Sungmin sudah menunggu terlalu lama." Setelah itu Kyuhyun mengundurkan diri. Tak lupa ia ucapkan terimakasih pada Donghae dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
Hampir saja Kyuhyun menarik gagang pintu, namun kalimat Donghae menahannya. "Ingat Kyuhyun-ah, jangan sampai Sungmin mengalami pendarahan. Itu akan menyebabkan nyawanya terancam—" Donghae menggantung kalimatnya.
"—dan itu sama saja mengantar Sungmin dan calon anak kalian ke gerbang kematian."
Kyuhyun menggenggam erat gagang pintu. Kepalanya tertunduk mencerna kalimat Donghae baik-baik. Sedetik kemudian ia melirik Donghae di belakang, wajahnya tidak menyiratkan ekspresi apapun.
"Aku bersumpah, bagaimanapun caranya aku akan membuat keduanya tetap hidup tanpa cacat sedikitpun. Kau harus ingat sumpahku, hyung." Ucap Kyuhyun mantap dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Kyuhyun tersadar dari lamunannya.
Sumpah yang ia ucapkan di depan Donghae terdengar penuh kepercayaan juga tekad untuk membuat semuanya menjadi lancar. Walau Kyuhyun sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Rasanya Kyuhyun begitu tega hingga membiarkan Sungmin masuk ke dalam rencana busuk ini.
Yang menjadi taruhan bukan hanya pekerjaan mereka, Kyuhyun bahkan tak peduli dengan pekerjaannya. Ia sudah cukup kaya. Uang di tabungannya bahkan cukup untuk membuat usaha lain atau pekerjaan yang lebih baik jika dibandingkan pekerjaannya kali ini.
Mungkin jika pekerjaan Kyuhyun saja tak masalah, tapi pekerjaan Donghae dan Zhoumi juga ikut menjadi taruhan. Ia tak tega melihat kedua sahabatnya ini di pecat padahal mereka sudah menyanggupi untuk melaksanakan percobaan ini.
Terutama Sungmin…
Entah setan apa yang berada di tubuh Kyuhyun hingga memutuskan untuk memilih Sungmin sebagai alat percobaannya. Membiarkan sosok manis yang sangat polos itu berada di sisi jurang kematian. Ini sama saja memainkan nyawa seseorang.
'Sungmin pasti kuat.' Batin Kyuhyun yakin. Lagi-lagi sifat keras kepala Kyuhyun muncul. Ia begitu yakin Sungmin bisa melalui semua ini.
Di dekapnya Sungmin makin erat. Seakan melindungi Sungmin dari siapapun dan apapun yang akan membuatnya terluka.
Kyuhyun sudah bersumpah akan melakukan apapun agar Sungmin dan calon anaknya kelak dapat hidup dengan selamat.
Dan Kyuhyun tidak akan melanggar sumpah itu.
Dikecupnya pucuk kepala Sungmin lama. "Selamat tidur, Min…"
.
=oO Fake Affection Oo=
.
"Ungh…" Sungmin melenguh pelan saat siluet cahaya matahari mengganggu tidurnya. Ia menggeliat kecil merasakan hangat perlahan merambat ke sekujur tubuh.
"Hm, sudah pagi." Gumam Sungmin dengan mata tertutup. Rasanya untuk bangun dia masih enggan. ia masih ingin tertidur tapi…
"Eh? Sudah pagi?!" Sungmin terlonjak. Ia langsung terduduk di kasur dengan bola mata melirik ke sana kemari mencari jam. Matanya melebar mendapati jarum jam sudah menunjukan angka sembilan. Yang berarti jam berangkat kerja Kyuhyun sudah lewat, dan ia tak sempat membuatkan sarapan.
Sungmin meremas surai hitamnya panik. Dilihatnya sekeliling. Benar saja. Tidak ada Kyuhyun di kamar ini. Pasti dia sudah pergi bekerja, batin Sungmin.
"Pasti Kyuhyun marah padaku. Aish! Kenapa bisa terlambaaat?!" rutuknya pada diri sendiri.
CKLEK
"Sudah bangun?"
Sungmin tersentak. Suara pintu yang terbuka diikuti suara bass yang sangat Sungmin kenal membuatnya menoleh ke asal suara. Kyuhyun berada di sana dengan pakaian santai, tanpa baju yang biasa ia kenakan ketika bekerja.
"K—Kyuhyun-ah? Maaf a—aku terlambat bangun." Kepala Sungmin tertunduk dalam.
Kyuhyun tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Tadinya aku ingin membangunkanmu saking lamanya tertidur. Tapi kau sudah bangun duluan," ia melangkah menghampiri Sungmin dan mendudukan diri di kasur. "Ayo sarapan." Tangannya bergerak merangkul bahu Sungmin erat, membantu pria manis itu beranjak dari kasur.
"Tapi aku belum membuatkan sarapan, Kyuhyun-ah…" ujarnya penuh penyesalan. Sungmin pasrah saat lengan Kyuhyun membimbingnya berjalan keluar kamar. Ia berjalan canggung, jarak mereka terlampau dekat.
"Untuk kali ini aku yang membuatkan sarapan."
"Kenapa kau yang membuat sarapan?"
"Kau tampak sangat lelah. Kau tahu aku tidak mungkin sekejam itu, hingga membiarkanmu menyiapkan sarapan dengan keadaan seperti orang sakit." Jelas Kyuhyun.
"Kau tidak bekerja?"
"Aku bekerja nanti siang."
Sungmin mengangguk. Lalu duduk di kursi yang sudah di siapkan Kyuhyun. Sungmin mengerjap, matanya meneliti keadaan dapur, terpukau dengan keadaan dapur yang sudah bersih. Di meja sudah tersedia segelas susu dan piring dengan sandwich di atasnya.
"Kau tahu aku tidak pandai memasak. Hanya itu yang bisa kubuat. Tapi kau tenang saja, aku sudah menyertakan sayur di sana, itu sehat untukmu." Kyuhyun yang menyadari tatapan bingung Sungmin langsung menjelaskan.
Entah berapa ratus kali Sungmin tersanjung dengan sikap Kyuhyun, semburat merah muncul di kedua pipinya. Tak menyangka Kyuhyun akan berbuat seperti ini. Kyuhyun mati-matian menyiapkan semuanya. Walau baru dua bulan bersama Kyuhyun, Sungmin tahu dokter itu tak mungkin melakukan pekerjaan kecil seperti ini. Perhatian itu membuatnya kembali sesak oleh rasa bahagia.
Ia tak tahu bagaimana menjelaskan apa yang ia rasa. Kyuhyun seakan melakukan semua ini hanya untuknya…
Sungmin beralih pada segelas susu di hadapannya. Lalu menatap Kyuhyun penuh tanda tanya. Tidak biasanya ada susu dalam sarapan mereka, apa itu milik Kyuhyun?
Kyuhyun berdeham pelan. Membalas tatapan Sungmin. "Itu susu untuk ibu hamil."
Sungmin tersedak. Matanya melotot horror melirik gelas itu dan Kyuhyun berulang kali. Bibirnya terbuka untuk bertanya namun Kyuhyun menggerakan tangan memberi isyarat agar Sungmin tak bicara dulu.
"Aku tidak mungkin menyiapkan susu untuk pria hamil. Itu tidak ada di supermarket, Min."
Sungmin menggeleng. Bukan itu yang ingin ditanyakan.
Kejadian semalam di rumah sakit kembali teringat. Saat ia menangis hebat menerima hasil test kesehatan yang menyatakan dirinya tengah hamil usia lima minggu.
Surat lain menuliskan bahwa Sungmin memiliki organ spesial di dalam tubuhnya yaitu sebuah rahim hingga apa yang mustahil terjadi dalam hidupnya menjadi mungkin. Sungmin, seorang pria yang tengah mengandung.
"J—jadi yang semalam itu bukan mimpi?" tanya Sungmin lirih. Matanya memanas. Semua yang diharapkan sebuah mimpi ternyata memang nyata.
Takdir begitu kejam.
Kenapa hidupnya begitu menyedihkan? Kenapa tubuhnya begitu menjijikan hingga ia yang jelas seorang pria bisa mengalami sesuatu yang seharusnya dialami wanita? Ia tak pernah meminta pada Tuhan untuk diberi organ itu!
Tak cukup-kah kecelakaan serta amnesia yang ia alami hingga berada pada situasi yang sangat asing? Situasi yang sangat Sungmin benci. Kenapa juga harus ditambah dengan kabar memalukan itu?
"Min, kumohon jangan menangis lagi."
Dibawanya tubuh itu ke dalam pelukan Kyuhyun. Meredam isak tangis Sungmin yang mulai menjadi.
Air mata Sungmin mengalir begitu deras membasahi pakaian Kyuhyun. Disertai kalimat penghinaan pada dirinya sendiri, terdengar pilu dan menyayat hati.
"Jika kau marah. Kau bisa melampiaskannya padaku, Min. Jangan hina dirimu sendiri. Kau juga jangan salahkan anak itu. Dia tidak salah, dia tak tahu apapun…" Kyuhyun mengusap punggung Sungmin, berharap dapat meredakan isakan itu. Sungmin menangis, itu karenanya.
Tapi ia harus bagaimana?
Semua sudah terjadi.
"Apa kau membenci anak itu?" tanya Kyuhyun samar. Tubuh Sungmin melemah di pelukannya membuat Kyuhyun mulai ketakutan.
Meski lebih mirip bisikan. Tapi Sungmin menangkap jelas ucapan Kyuhyun. Ia ingin menjawab bahwa ia membenci keberadaan organ itu. Sangat membenci hingga Sungmin ingin melenyapkan organ itu dari tubuhnya! Ia rela melakukan apapun asal organ itu dibuang jauh-jauh!
Tapi ia tak pernah bisa membenci anak itu. Sama sekali tidak! Ia hanya bingung dengan keberadaan calon manusia baru di tubuhnya. Yang akan berkembang hingga terlahir menjadi sesosok bayi mungil. Anaknya sendiri.
Sungmin menggeleng lemah, jemarinya meremas baju Kyuhyun kuat sembari menggigit bibir bawahnya. Ingin mengeluarkan suara, namun takut hanya isakan yang ada. Sungmin merasa sangat buruk dan hina.
Kyuhyun membawa Sungmin ke pangkuannya. Dengan posisi ini lebih mudah untuk merengkuh tubuh itu erat.
"Rasanya sangat buruk. Seorang pria yang mengandung. Hal yang paling memalukan yang pernah terjadi." Adu Sungmin ditengah isakannya, susah payah ia merangkai kalimat dengan nafas tersengal-sengal.
"Jadi, kau tidak menginginkan anak itu?" tanya Kyuhyun lagi. Sedikit sesak mendengar Sungmin yang terkesan menolak kehadiran calon anak mereka.
"Aku tidak pernah menolak. Aku hanya tidak percaya ini terjadi padaku, Kyuhyun-ah." Suara Sungmin serak, ia terbatuk-batuk masih dengan isakan yang tersisa.
Kyuhyun membelai kepala Sungmin. Halus helaian surai hitam itu menyapa indra perabanya. "Kalau begitu cobalah untuk percaya. Anggaplah ini hadiah dari Tuhan untukmu. Tidak semua orang bisa mendapat kesempatan itu bukan?" ucap Kyuhyun berusaha bijak. Walau hatinya sendiri ikut ngilu melihat keadaan Sungmin yang sangat menyedihkan.
Sungmin tak menjawab. Ia menggeser tubuhnya makin menelusup ke dada Kyuhyun. Menyembunyikan wajah yang sembab dan merah penuh air mata.
"Setidaknya, kumohon jangan pernah membenci anak itu, Min…" bisik Kyuhyun.
Perkataan Kyuhyun samar, namun masih terdengar karena jarak mereka yang begitu dekat. "A—aku akan berusaha menerimanya. Tapi mungkin butuh waktu." Balas Sungmin lemah. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.
Kyuhyun tersenyum tipis. Diposisikannya tubuh Sungmin duduk menyamping di pangkuannya. Sebelah lengannya melingkar di pinggang Sungmin. Menjaga agar jarak mereka tetap dekat. Tangan yang bebas menangkup wajah Sungmin, memperhatikan wajah itu. Jemarinya mengusap air mata yang tertinggal disana penuh kelembutan.
"Karena kau memutuskan untuk menerima secara perlahan, maka kau harus mencobanya dari sekarang. Makanlah sarapanmu. Kau belum makan sejak semalam. Apa kau tidak kasihan dengan mahluk kecil di perutmu?" bujuk Kyuhyun.
Mendengar bujukan itu membuat Sungmin mendongakan kepala menatap Kyuhyun.
CUP
Sebuah kecupan singkat diberikan Kyuhyun di keningnya.
CUP…
Sebuah kecupan lagi berdurasi lebih lama diberikan di bibirnya.
Sungmin membatu. Wajahnya kembali memanas. Yang ini bukan karena ingin menangis. Namun disertai debaran jantungnya yang meningkat. Matanya mengerjap menyamarkan kegugupan yang tiba-tiba menyerang.
"T—tapi aku merasa mual, Kyuhyun-ah. Aku tidak ingin makan." Kilah Sungmin menghindar dari sarapan yang bisa saja membuatnya keluar masuk kamar mandi karena morning sickness. Sungmin sangat tersiksa jika sudah seperti itu.
"Kalau begitu aku suapi. Mau?" bujuk Kyuhyun lagi. Ia bersumpah tidak akan berhenti sebelum Sungmin menghabiskan sarapannya.
Sebuah gelengan ingin Sungmin beri namun ia tak bisa. Kyuhyun menatapnya dalam, sorot mata itu memancarkan permohonan begitu besar. Sungmin bungkam, menolak sepertinya adalah hal buruk karena Kyuhyun mungkin tidak akan menyerah.
Lagipula ini Kyuhyun.
Sungmin tak bisa menolak jika itu Kyuhyun…
Senyum Kyuhyun tercetak bersamaan anggukan lemah persetujuan dari Sungmin. Dengan cepat ditariknya piring serta segelas susu milik Sungmin mendekat. Hatinya bahagia melihat Sungmin perlahan melahap sarapannya walau hanya segigit-dua gigit dengan tangan Kyuhyun membantu. Jemarinya mengusap remah makanan di sekitar mulut Sungmin penuh kelembutan.
Walau kadang Sungmin menyerngit menghindari suapan Kyuhyun. Tapi di akhir Sungmin hanya bisa menerima ketika makanan itu masuk dan berakhir melewati kerongkongannya. Kyuhyun selalu bisa membujuk hingga Sungmin terpaksa menurut. Belaian serta sentuhan Kyuhyun ditubuhnya membuat Sungmin tak lagi menyuarakan protes.
"Terimakasih, Min."
.
=oO Fake Affection Oo=
.
"Min, kau ingat pesanku, kan?" Kyuhyun tengah sibuk merapikan rambutnya. Tampilannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa jam yang lalu. Dengan jas putih khas dokter dan kemeja berlengan panjang membalut tubuh tinggi itu.
Dahi Sungmin mengerut. "Eh? Pesan apa?"
Kyuhyun berdecak dan mencubit pipi Sungmin gemas. "Jangan terlalu lelah. Untuk urusan kebersihan apartemen ini biar kupanggilkan pembantu."
"T—tapi bukankah itu tugasku? Lalu bagaimana caraku membalas kebaikanmu?"
"Aku tak memintamu untuk membalas, kau yang memaksa. Kau hanya perlu diam sekarang, karena hutangmu sudah kuanggap lunas." Diacak-acaknya rambut hitam Sungmin sembari terkekeh. Bahkan sampai sekarang Sungmin masih merasa berhutang budi padahal Kyuhyun tak pernah meminta untuk dibalas. Yah, mungkin Kyuhyun hanya minta tolong soal penelitian yang melibatkan tubuh manusia—padahal jelas-jelas itu bukan hanya penelitian, hingga Sungmin terpaksa dibuatnya tertipu.
Sungmin mengerucutkan bibir ketika rambutnya dibuat berantakan. Sedetik setelahnya mata foxy itu berbinar senang. "Benarkah?"
Kyuhyun mengangguk. "Tentu. Kau juga sudah menolongku terlalu banyak, Min. Kuanggap kita impas."
"Ne~ gomawo…" ucap Sungmin senang, disambut gelengan dari Kyuhyun.
"Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih."
Kyuhyun meraih wajah Sungmin. Dimainkan jemarinya di permukaan kulit putih susu itu. Cantik… Ditambah lagi raut polos serta senyum innocent menambah kadar keimutan yang dimiliki pria manis itu.
Kyuhyun tak bisa menahan diri lagi. Dorongan untuk mendekat hingga dapat menikmati keindahan yang tuhan ciptakan di hadapannya begitu besar. Hanya menatap saja tidak cukup. Ia ingin lebih.
Sungmin mengerjap bingung saat nafas Kyuhyun mulai terasa di sekitar wajahnya. Jarak mereka sangat dekat hingga Sungmin tak bisa menolak untuk bertatap langsung dengan dokter itu. Ditambah jemari Kyuhyun menahan wajahnya untuk tidak menjauh.
CUP
Bibir mereka bersentuhan. Terasa lembut tanpa memaksa.
Sungmin terkesiap. Tiba-tiba Kyuhyun menciumnya tanpa alasan. Setidaknya Sungmin tidak sedang menangis saat ini, karena Kyuhyun biasa memberi ciuman hanya sebagai obat penenang untuknya, dan itu selalu ampuh.
Kyuhyun tersenyum dalam ciuman. Dilumatnya bibir itu perlahan, sesekali mengulum tanpa gerakan menuntut. Menunggu respon yang akan Sungmin beri.
Sungmin memejamkan mata. Tak berani membalas, namun ia juga tak berani menolak. Kalau boleh jujur, Sungmin mungkin… hm—mulai menikmati bagaimana lihainya Kyuhyun memainkan kedua belah bibirnya. Bahkan tanpa sadar bibirnya terbuka memancing lidah Kyuhyun menelusup masuk.
Tak hanya Kyuhyun yang bergerak, tapi Sungmin sudah membalas permainan lidah Kyuhyun. Benda tak bertulang itu bertautan menimbulkan suara kecipak khas orang berciuman. Kyuhyun menahan tengkuk Sungmin, mendorongnya agar ciuman mereka semakin dalam.
Sungmin yang selama ini mulai terlatih, perlahan mengalungkan kedua lengannya di leher Kyuhyun, menarik tubuh itu mencumbunya lebih. Jemarinya bahkan sudah berani meremas helaian surai coklat Kyuhyun liar bersamaan dengan panasnya ciuman itu.
"Mmph~!" Sungmin melenguh. Ingin memberontak saat persediaan oksigen di paru-parunya menipis. Tapi Sungmin tak berani melepas tautan bibir mereka. Ia takut Kyuhyun marah.
Kyuhyun yang menyadari raut tersiksa itu segera mengakhiri ciuman itu. Ia terkekeh pelan. Wajah Sungmin memerah dengan bibir yang bengkak, matanya terpejam, ditambah lelehan saliva di sekitar dagu membuat kesan seksi.
Sekuat tenaga Kyuhyun meredam hasrat untuk tidak menerkam pria manis itu. Karena Sungmin sedang mengandung, keadaan yang sangat rentan dan tidak memungkinkan untuk melakukan hal lebih. Begini saja cukup.
CUP
Sebuah kecupan di keningnya sukses membuat Sungmin membuka mata. Mendapati Kyuhyun tengah tersenyum manis padanya.
Kyuhyun lalu menundukan tubuhnya.
CUP
Sebuah kecupan lagi dilayangkan di permukaan perut Sungmin yang masih rata.
"K—Kyuhyun-ah…"
"Kalian berdua, hati-hatilah. Aku usahakan untuk pulang cepat. Dan khusus untukmu—" Kyuhyun mengusap perut rata Sungmin. "Bantu aku jaga ibumu, jangan buat dia menangis lagi. Mengerti?" ucapnya seakan berinteraksi langsung dengan anaknya yang bahkan masih berupa segumpal darah.
Hati Sungmin tergetar.
Kyuhyun tampak sangat menyayangi calon anaknya. Bahkan ia rela mengusahakan pulang lebih cepat, ditambah kejadian tadi pagi ketika Kyuhyun membantunya sarapan. Sungmin tak pernah menyangka Kyuhyun akan bersikap semanis dan seperhatian ini. Walau Sungmin tahu alasan Kyuhyun semata-mata hanya karena keberadaan calon manusia di tubuhnya.
Tapi tetap saja ini membuat Sungmin ingin menangis. Menangis karena bahagia.
Kyuhyun terlihat begitu bertanggung jawab saat ini.
Tangan Sungmin bergerak mengusap perut ratanya perlahan. Merasakan sisa hangat sentuhan Kyuhyun yang masih menempel di sana.
Detik itu juga ia menyadari bahwa ada denyut kehidupan lain di dalam tubuhnya yang harus ikut ia pertanggung jawabkan. Senyumnya terlukis samar tanpa ada yang menyadari termasuk Kyuhyun.
'Mungkin keputusan menerima semua ini tidak salah…'
.
=oO Fake Affection Oo=
.
.
.
TBC
Hai '-' mian telat update, kalian tahu sendiri saya paling gabisa kalo disuruh update cepet :"" tadinya mau lanjutin yang look at me dulu. Tapi malah nge-stuck dan malah ga dilanjut sama sekali. Ini ga dilanjut look at me juga gadilajut -,_- *bunuhdiri* mianhae :""" otak saya lagi error emang. Bawaannya ngantuk terus liat laptop, padahal biasanya ngejreng =.=a
Okey, ini masih ada juga yang belum ngerti nih? Apa perlu saya jelasin lagi? Ya Tuhan. Apa kalimat saya terlalu lebay, alay, bertele-tele? T.T sehingga masih ada yang belum ngerti? Duh saya emang gabakat, tulisannya masih ambigu, mianhae T.T
Yang nanya sampe chapter berapa, ugh tadinya cuma mau bikin threeshoot, tapi kalo gini jadinya saya bikin panjang saja =.=v hehehe dengan begitu bertambah banyaklah hutang saya -,_-
Thanks to:
Mrshaelicious, Indah Isma N, Guest, anonim, rachmayanti88, Phia89, SPREAD JOY137, Guest, Miyoori 29, asdfghjkyu, Iam E. L. F and JOYer, Choi Yuan, ayashi casey, kimteechul, evilminnie14, ChanMoody, yeminmine, MinnieGalz, thiafumings, Jihyun8695, Jo-Sitta Kim, Princess Pumkins E.L.F, babyryou, hamburger, neganugu, KyuMin Child Clouds, Cho Yooae, BlueberryCake-LSora, kyunnieminnie, ISungyi, kireimozaku, Cho Kyuri Mappanyukki, vey900128, kyuminalways89, park ji hyun, winecouple, QQ KyuminShipper, Lhia KyuMin Elf, buttming, han jii rim, Mrs. LeeHyukjae, Sparkyu, sary nayola, punyuk monkey, lee sunri hyun, sissy, Mingre, Lhia KyuMin Elf, coffeewie137, MyLovelySibum, bebek, ayyu. Annisa. 1, gorjazsimba, ButterflyJOY137, Kim Yong Neul, dming, Guest, kyuminbutts, Dessykyumin, DianyElf11, JustELF, Kim. yuisa, KyoKMS26, hapsarikyuku, kyuhyun kece, Guest, minnievie, Ardilla KyuMin, Miruki, kyuminsaranghae, mariels25, Adekyumin joyer, Lee Azizah Cho, Yhana Emng Gokill, evilbunny, Guest, Ria, ZaAra eviLKyu, upin ipin, ChoMingLin, Chikyumin, sitapumpkinelf, mayasiwonest. everlastingfriends, rinrinnii. mingiclouds, Maximumelf, cloudsofyesung, Lee Sanghyun, cho hyo woon, hideyatsutinielf, Cul Ah, Kyurin Minnie, BoPeepBoPeep137, pumpkinsparkyumin, reaRelf, chokyumin137, Song Hye Hoon, Lkireii0521, efa. shippernyayewook, najika bunny, LikaaJoy, Ri Yong Kim, sitara1083, Cho Na Na, HeeYeon, tripler lee, paprikapumpkin, Yujacha, KYUMINTS, riesty137, JOYersELFeu, Vie Joyers3424, minnie kyumin, ChoKyunnie, chikakyumin, leefairy, nova137, kyuminjoy, potterfans2010, Qhia503, Latitude1420EXOtic, abilhikmah. Dan kepada silent reader ^^
Thanks udah mau baca fic abal kaya giniiii~ ^^ kkk saya kira ga ada yang mau baca :") jeongmal gomawoo~ *bow*
Kalau ada typo kasih tau ya~ ^^ nanti saya perbaiki
Sign,
=Yuki(YoonMingi)=
