peblish
presents
a krisho fanfict
.
Another You
.
cast :
- suho
- kris
.
enjoy, happy reading, and dont forget to leave review! ^^
.
.
.
.
.
.
.
hopefully we can fall in love with each other
i'll never let go of your hands from my grasp
the light in your eyes gazing at me
hope there will only be joyful smiles
ㅡFor The First Time Lovers-Jung Yonghwa
"Makasih udah nganterin aku pulang, Kris." Ucap Suho tulus sambil tersenyum senang. Seusai menikmati es krim di kedai es krim 24 jam tersebut, mereka beranjak pulang dan Kris pun memutuskan untuk mengantar Suho pulangㅡdengan alasan jaga-jaga kalau Suho bertemu dan digoda orang gila lagi =_=
Ah, klise.
Mungkin Kris punya alasan lain untuk mengantar Suho pulang.
"Hm." Gumam Kris, kemudian ia mengangkat jam tangannya dan memandanginya. "Sudah larut. Aku pulang dulu, ya?"
"Ah... Iya." Ucap Suho. Sedikit kecewa, sih. Tadinya ia mau menawari Kris untuk masuk dan duduk sebentar di dalam, sekedar minum teh atau mengobrol sejenak, tapi ternyata Kris mau langsung pulang saja. "Hati-hati di jalan, ya, Kris." Suho mengakhiri wejangannya sambil tersenyum manis.
"Hmmm." Kris bergumam lagi. "Sampai besok."
.
.
.
Sejenak Kris terdiam setelah mengucapkan kata-katanya.
.
.
.
Tunggu, tunggu. 'Sampai besok'?
Seakan-akan ia sangat mengharapkan untuk bertemu lagi dengan Suho esok hari.
.
Ah, sudahlah.
.
.
.
"Iya. Sampai jumpa besok." Hhh, sepertinya Suho tidak keberatan kalau Kris berkata seperti itu. Maka akhirnya Kris pun menyunggingkan senyum tipisnya lalu ia berjalan pelan meninggalkan Suho kemudian menghilang di tikungan.
.
.
.
Sementara Suho masih betah berdiri di depan rumahnya seraya mengulum senyum senangnya.
.
.
.
Ah, apa ini? Rona merah di wajahnya enggan memudar.
Kris menghela nafas. Sudah sekitar dua jam yang lalu ia sampai di apartemennya, berganti piama dan berbaring di tempat tidurnya, tapi bahkan sampai detik ini ia belum juga tertidur. Suhu kamarnya sudah pas, tidak terlalu panas dan tidak cukup dingin. Kris menepuk-nepuk bantalnya, memastikan bantal putih itu masih tetap empuk dan lembut seperti biasanya. Lampu kamarnya sudah padam, satu-satunya cahaya yang ada di kamar itu hanyalah cahaya bulan yang masuk dari sela-sela tirai balkonnya.
Tapi kenapa sampai saat ini ia masih terjaga?
Seakan-akan ada sesuatu yang menahan kelopak matanya untuk menutup rapat.
Seakan-akan ada sesuatu di dalam otaknya yang tidak mengizinkan pikirannya berhenti berpikir.
Seakan-akan organ-organ di tubuhnya tidak memungkinkannya untuk beristirahat sejenak.
.
Kris membalikkan tubuhnya, memeluk bantalnya semakin erat dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gagal.
.
Semakin ia mencoba untuk tidur, semakin sulit pikirannya berhenti berkecamuk dan semakin sulit baginya untuk jatuh tidur.
.
.
.
Entah mengapa sejak tadi bayangan Suho terus-menerus melekat di pikirannya.
.
.
.
Astaga, apa tadi?
.
Suho?
.
Bukan Joonmyun?
.
.
.
"ARGHHH!" Kris menggeram kemudian ia bangkit dari tidurnya. "Ya Tuhan..." Kris mengusap-usap wajahnya dengan kasar.
Apa ini? Kenapa? Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya? Bahkan Kris sendiri tidak tahu apa yang sebetulnya sedang ia pikirkan. Kenapa seharian ini ia terus-menerus memikirkan Suho?
Karena Suho serupa seperti Joonmyun? Kris mengakui kalau Suho memang benar-benar seperti Joonmyun. Wajahnya, senyumnya, kedua matanya, tinggi badannya, tubuh mungilnya, kedua pipi gembilnya, keramahannya, kepolosannya, kesederhanaannya, apa lagi? Bahkan saking banyaknya Kris merasa tak mampu menyebutkan semuanya. Semua yang ada pada Joonmyun seakan dialihkan Tuhan pada raga Suho yang hadir secara tiba-tiba di saat Kris merasa ia telah merelakan Joonmyun pergi sepenuhnya.
Kris menghela nafas.
.
Drrrt... Drrrt...
.
Ponsel Kris yang ia set dalam keadaan vibrate bergetar pelan di atas nakas.
.
Kris melirik jam weker putih yang ada di sebelah ponselnya itu. Pukul 2 pagi. Orang bodoh mana yang menelponnya dini hari seperti ini? Kris menggapai ponselnya kemudian memandangi layar ponselnya yang berkedip-kedip itu.
.
.
.
Suho is calling
.
.
.
Kris mengerjapkan kedua matanya tak percaya.
.
Suho?
Menelponnya?
...Menelponnya jam 2 pagi?
.
"Apa yang sedang dipikirkan anak ini?" Gumam Kris tak habis pikir.
.
Tapi jemarinya menyentuh pad berwarna hijau di layar ponselnyaㅡmenjawab panggilan Suho.
.
.
.
"Ada apa?"
"..."
Hening.
Kris mengangkat alisnya saat ia tidak mendengar suara apapun. "Ho? Ada apa?"
"A-ah!" Suara Suho di seberang sana terdengar sedikit kaget. "K-Kris..? Kamu lagi tidur, ya..?"
Nggak, lagi manjat tebing. Batin Kris jengkel. Bagaimana mungkin Kris sedang tidur kalau Kris bisa mengangkat panggilannya? "Ya nggak, lah. Ada apa memangnya kamu telpon aku pagi-pagi gini?"
"Ah..." Suho tertawa kecil di seberang sana. Ia menggigit bibir bawahnya sejenak. "Em... I-iseng aja, sih. Tadinya aku pencet-pencet nomor telepon Chanyeol, Baekhyun dan teman-teman lain... Tapi... Nggak ada yang angkat, hehehe. Eh, pas aku coba pencet nomornya Kris... Ternyata diangkat. Hehehe."
Kris semakin mengangkat alisnya tidak mengerti. Oke, orang aneh macam apa lagi yang satu ini? Menelpon semua teman-temannya jam 2 pagi hanya karena sedang iseng? "Kau kurang kerjaan?" Tembak Kris frontal.
"A... A-aku lagi bosan, sih." Suho kembali tertawa garing. "Em, aku ganggu Kris, ya? Pasti Kris kebangun karena aku telepon... Hehehe, ma-maaf, ya, Kris. Aku tutup teleponnya, ya? Em, sa-sampai jumpa besok."
"AH!" Seru Kris. "Em, tu-tunggu. A-aku..." Kris membekap mulutnya sendiri, merasa bodoh telah mencegah Suho untuk menutup teleponnya.
"Eh... Kenapa..?" Tanya Suho pelan. Nada suara Kris barusan seakan mencegahnya mengakhiri panggilannya. Sepertinya ada yang mau Kris bicarakan.
"A-aku..." Wajah Kris memerah. Ia benar-benar blank, tidak tahu mau berkata apa.
.
Ia hanya tidak ingin Suho menutup teleponnya.
.
.
.
"Em... Kau masih punya pulsa..?"
.
Hening.
.
'Kau masih punya pulsa?'? Pertanyaan romantis macam mana itu? =_=
.
.
.
"Heh?" Suho melongo sejenak. "Em, ti-tinggal sedikit, sih. Ma-makanya mau aku tutup teleponnya." Jawab Suho terbata. "Memangnya kenapa..?"
.
"Kalau begitu, tutuplah teleponnya duluan. Tunggu sebentar, aku yang akan gantian menelponmu."
Sebenarnya Suho bingung karena kata-kata Kris di seberang sana. Tapi kemudian ia menganggukㅡmeskipun ia tahu kalau Kris tidak bisa melihat anggukannya. "Em... Ba-baiklah." Klik. Suho segera mengakhiri panggilannya.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi.
.
Kris is calling
.
Suho segera menyentuh pad hijau di layar ponselnya itu. "Yeo-yeoboseyo?"
.
Tanpa sadar Kris tersenyum kecil di seberang sana.
.
"Em..." Kris menggaruk-garuk kepalanya. "Hai?" Ucapnya akhirnya.
"Eh? Hehehe. Hai." Balas Suho sambil tertawa kecil. "Em, ada apa Kris?"
Kris merebahkan tubuhnya. "Em... Nggak papa. Aku cuma nggak bisa tidur." Jawab Kris. Jujur. Memangnya dia mau bilang apa lagi?
"Ah, nggak bisa tidur lagi, ya, gara-gara tadi aku telepon kamu?" Tanya Suho takut-takut. "Maaf, ya, Kris..."
"Enggak, bukan gara-gara kamu, Suho." Heh? Kenapa nada suara Kris jadi lembut begini? "Sebelum kamu telepon tadi, aku emang masih bangun."
"Eh... Beneran?" Suho menghela nafas lega. "Hm... Sama. Dari tadi aku juga nggak bisa tidur." Kata Suho sambil memainkan gantungan ponselnya.
"Hm..." Kris hanya bergumam. Kemudian ia mengerjapkan kedua matanya. Apa lagi? Apa lagi yang harus ia katakan agar pembicaraan ini tidak segera berakhir?
.
Berpikir, berpikir, berpikir...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Em, di... Di sana lagi jam berapa, Suho?"
.
WAIT. WAIT. PERTANYAAN MACAM APA ITU?!
.
Kris menepuk-nepuk jidatnya saking gemasnya pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya menanyakan hal tidak penting seperti itu. Memangnya Suho sedang berada di belahan dunia yang berbeda dengan tempat Kris berada sampai ia harus bertanya 'di sana sedang jam berapa'?! =_=
.
"Heh?" Suho melongo sejenak mendengar pertanyaan ajaib Kris. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian memandang indikator jam yang tertera di ponselnya. "Eh... Jam dua lebih lima belas menit... Eng... Memangnya kenapa, Kris..?" Suho sedikit tertawa geli.
"Ah... Gak papa." Kris tertawa tak bertenaga. "Cu-cuma tanya aja."
Hancur.
Hancur sudah.
.
Suho tertawa lagi di seberang sana. Kris sampai dapat mendengar suara tawanya yang begitu halus dan renyah itu.
"Em, hari ini kamu ada jadwal kuliah, Kris?"
"Nde?" Gumam Kris. "Kayaknya nggak ada, deh. Soalnya kemarin Dosen Jung udah ngisi jam mata kuliah buat hari ini."
"Oh..." Suho tersenyum. "Sama, dong."
.
.
.
Hening...
.
.
.
"Em, Krisㅡ"
"Suhoㅡ"
.
Keduanya berbicara dalam timing yang sama dan berhenti pada waktu yang sama pula.
.
"Em, kamu dulu aja deh." Ucap Suho.
"Enggak, kamu dulu aja, Ho." Sanggah Kris sambil mendudukkan tubuhnya kembali.
Suho tersenyum. "Kamu aja."
"Nggak, kamu."
"Kamu aja, Kris."
.
Kris diam. Kalau begini terus, bisa-bisa mereka ngobrol sampai ponsel mereka masing-masing meledak saking lamanya.
.
"Em..." Kris menggaruk-garuk kepalanya.
.
"Ka-kamu dulu aja, deh." Kris menutup wajahnya sendiri dengan satu tangan. "Aku lupa tadi mau ngomong apa." Lanjutnya dengan wajah memerah. Bukan karena bohong, tapi ia benar-benar lupa mau bicara apa.
"Hhh, ya udah deh." Suho tersenyum geli. "Boleh minta tolong, nggak, besok anterin aku?"
Kris membulatkan kedua matanya. "Anterin? Ke mana?"
"Eng..." Suho menggigit bibir bawahnya. "Ke jasa pengiriman paket."
"Ngapain?" Tanya Kris bego. Ya ngirim paket, lah, Kris. Masa mau tawuran sama pegawainya =_= "Boleh, sih. Mumpung besok aku ada waktu luang."
"Tiga hari lagi hari ulangtahun eommaku... Jadi... Aku mau kirim hadiah ke Incheon. Kalau kirimnya besok, paketnya bisa sampai pas di hari ulangtahun eomma." Suho tersenyum. "Sebetulnya aku mau ke sana sendiri, sih, tapi..."
"Ya udah. Besok aku anterin." Sela Kris. "Besok aku jemput di rumahmu, ya?"
"Ah... Iya." Lagi, Suho mengangguk senangㅡpadahal Kris tidak dapat melihat anggukkannya. "Makasih, Kris."
"Iya." Jawab Kris. Kemudian tanpa sadar ia menguap. "Huahm..."
"Kamu udah ngantuk, ya?" Suho tertawa lagi di seberang sana. "Ya udah, cepet tidur, sana."
"Heh?" Kris menutup mulutnya sendiri yang menguap tanpa permisi itu. Ah, sial. Padahal ia masih ingin mengobrol dengan Suho. Tapi sepertinya Suho sendiri sudah mengantuk juga. Maka akhirnya dengan berat hari Kris mengiyakan Suho. "Hmmm. Iya."
"Ya udah, kalau gitu aku tutup teleponnya, ya." Ujar Suho. "Sampai nanti, Kris."
Klik.
Kris memindahkan ponselnya dari telinganya, kemudian tersenyum tanpa sadar seraya memandangi ponselnya.
.
.
.
Ah, Kris rasa dia semakin tidak bisa tidur setelah ini.
.
.
.
.
.
.
Aku udah di depan.
.
Suho tersenyum seusai membaca sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya itu. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menyampirkan tas itu di salah satu lengannya. Sejenak Suho memandangi dirinya di depan cermin, lalu tersenyum sambil sedikit merapikan poninya. Setelah memastikan penampilannya rapi, Suho segera beranjak keluar dari rumahnya setelah mengunci pintu dengan rapat.
"Kris..." Gumam Suho menyambut Kris yang sudah ada di depan rumahnya. Suho sedkit menelan ludahnya mendapati Kris yang terlihat... Uhm, tampan. Kaus hitam yang dilapisi jaket kulit hitam, celana jeans hitam dan rambut pirangnya yang sedikit acak-acakan. Hari ini Kris bawa motor besarnya yang sudah ada di belakangnya itu.
"Kau punya helm?" Tanya Kris sambil mulai menaiki motornya.
"Eh..." Suho meringis. "Nggak punya."
"Nih." Kris menyodorkan helm yang sudah dibawanya dari rumah. "Untung aku bawa buat jaga-jaga."
"Hmm. Makasih, Kris." Suho tersenyum kemudian ia segera memakainya lalu menaiki motor Kris.
"Udah siap?" Tanya Kris sebelum ia melajukan motornya.
"He-eh." Jawab Suho sambil memegang ujung jaket Kris kuat-kuat. Biasanya motor besar seperti ini kalau melaju suka nggak nyanteㅡalias ngebut. Makanya Suho sedikit takut kalau misalnya ia terjungkal dari motor Kris di tengah jalan nanti kalau ia tidak berpegangan pada sesuatu.
Letak perusahaan pengiriman paket yang dimaksud Suho memang terletak cukup jauh dari rumah Suho. Kira-kira butuh waktu sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor. Tapi Kris bisa mencapainya dalam waktu sekitar 15 menit karena jalanan pagi itu tidak terlalu padat dan cukup lancar. Juga karena faktor motornya yang melaju cukup kencang itu.
"Nah, silahkan tanda tangan di sini." Seorang pegawai yang mengurus paket yang akan dikirimkan Suho ke Incheon menyerahkan sebuah kertas yang harus ditandatangani sang pengirim. Suho segera membubuhkan tandatangannya di kertas itu.
"Memangnya kamu kirim apa ke eommamu?" Tanya Kris sambil mengaduk-aduk green tea latte-nya. Saat ini ia dan Suho sedang ada di sebuah kafe yang terletak di sebelah perusahaan pengiriman paket yang tadi.
"Hm?" Suho meneguk chocolate blended-nya. "Satu set peralatan menjahit, dua pak kain flanel warna-warni dan buku-buku referensi untuk membuat aksesoris dari kain flanel." Jawab Suho sambil tersenyum bangga. "Di Incheon, eomma punya usaha kecil-kecilan membuat aksesoris dari kain flanel. Sebelum aku pergi ke Seoul, aku masih sering lihat eomma meminjam peralatan menjahit dari tetangga sebelah." Gumam Suho sambil menunduk sejenak. Tapi kemudian ia segera mengangkat wajahnya lagi, tak lupa memamerkan senyum lebarnya. "Tapi, mulai besok, eomma nggak perlu pinjam peralatan menjahit lagi karena aku sudah membelikan satu set lengkap untuknya. Pasti usahanya akan semakin laku dan banyak yang mau membelinya." Ucap Suho dengan kedua mata berbinar-binar.
Kris diam memandangi Suho.
"Sebetulnya... Aku nggak tega ninggalin eomma sendirian di Incheon." Ucap Suho pelan. Kali ini ia menghindar untuk menatap Kris. "Tapi eomma yang memaksaku agar aku mau menerima beasiswa berkuliah di Seoul. Eomma bilang, aku harus terus menempuh ilmu dan beasiswa ini adalah kesempatanku. Akhirnya dengan berat hati aku ninggalin eomma dan kuliah di Seoul..."
Suho menghela nafas. "Makanya, setiap kali aku merasa malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah atau malas untuk pergi kuliah, aku langsung ingat eomma. Ingat bahwa dia menungguku dengan penuh harap agar aku cepat pulang dalam keadaan sukses dan berhasil. Ingat semua jerih payahku waktu sekolah dulu hingga akhirnya aku bisa mendapatkan beasiswa itu..."
Suho tersenyum. Kali ini ia kembali menatap Kris. "Dan akhirnya aku bisa melawan rasa malasku itu."
.
Kris tidak bisa berkata apa-apa mendengar pernyataan Suho yang begitu lugu tetapi sukses menamparnya itu.
.
Sebegitu gigihnya perjuangan namja ini hanya untuk membahagiakan ibunya...
.
.
.
"Kau... Keren." Ucap Kris pelan. "Eommamu... Pasti sangat bangga denganmu.
Suho tersipu, kemudian ia mengangguk. "Hmm. Semoga saja."
.
.
.
Kris kembali diam menatap Suho yang sedang meneguk minumannya lagi itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apaan nih?" Kris tertawa-tawa geli sambil mengambil sebuah kertas origami yang... Tidak berbentuk itu =_= "Kamu bikin kucing garong?"
"Ihhh! Kris! Kembaliin, gak?!" Jerit Joonmyun kesal. Ia segera berdiri lalu menyambar kertas origaminya itu dari tangan Kris. "Kucing garong, kucing garong! Kamu tuh induk kucing garong." Gumam Joonmyun asal kemudian ia segera duduk kembali lalu berkutat dengan kertas origaminya yang lain.
"Kamu lagi bikin apa, sih?" Tanya Kris penasaran sambil ikut duduk di sebelah Joonmyun. Di depannya dan Joonmyun kira-kira sudah ada belasan kertas origami warna-warni yang dilipat-lipat seperti bentuk kucing garong itu =_=
"Ini burung bangau, tau." Sambar Joonmyun sambil mengerucutkan bibirnya. Tidak terima kalau hasil karyanya dikatai seperti kucing garong =_=
"Burung bangau?" Kris nyengir sambil mengambil salah satu burung bangau yang berwarna biru. "Buat apa? Buat nyemangatin aku, yaaaa? Minggu depan, kan, aku jadi kapten tim pas pertandingan basket sama tim sekolah sebelah."
"Dih. Pede amat." Ledek Joonmyun sambil menjulurkan lidahnya.
.
.
.
"Ini buat eomma dan appa-ku."
.
.
.
Kris diam.
.
.
.
"Eomma dan appa?" Tanya Kris heran. "Burung bangau kan buat nyemangatin seseorang, atau nggak buat mengabulkan permintaan seseorang."
"He-eh." Joonmyun mengangguk-angguk lucu sambil tetap konsentrasi melipat kertas origaminya. "Aku mau buat burung bangau ini biar Tuhan mengabulkan permintaanku..."
.
"...Biar eomma dan appa tenang di alam sana. Masuk surga. Ketemu Tuhan. Bahagia terus-menerus. Bisa lihat gimana aku tumbuh di dunia ini. Bangga karena aku bisa sukses dan berhasil di dalam hidupku, walaupun tanpa mereka. Juga bangga karena mereka punya anak yang hebat seperti aku."
.
Joonmyun tersenyum lirih.
.
.
.
Kemudian ia berpaling pada Kris.
"Kamu mau buat juga untuk orangtuamu, Kris?" Tanya Suho sambil menyodorkan kertas-kertas origami yang belum dilipat pada Kris.
.
.
.
Kris menggeleng.
.
"Nggak."
.
.
.
Joonmyun diam.
Ia tahu benar kalau Kris pasti akan menolaknya.
.
Tapi Joonmyun kembali tersenyum.
.
.
.
"Kalau gitu, kamu mau bantu aku bikin bangau kertas ini untuk orangtuaku?"
.
.
.
Kris tidak menjawab.
.
Ia hanya memainkan bangau kertas itu dengan tangannya.
.
Lalu meraih selembar kertas dan mulai melipatnya menjadi burung bangau.
.
.
.
Joonmyun tersenyum.
.
Kemudian ia mengusak lembut kepala Krisㅡseperti yang biasa Kris lakukan padanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Suho..."
.
"Hm?" Suho mengangkat wajahnya selagi ia sedang menyeruput chocolate blended-nya. "Kenapa, Kris?"
.
.
.
Kris diam menatap kedua mata Suho dalam-dalam.
.
Berjaga-jaga dan berharap bahwa ia tidak akan menemukan kebohongan dari kedua mata itu.
.
.
.
"Kamu..."
.
"Kenapa?" Tanya Suho lagi sambil mengerutkan keningnya.
.
.
.
.
.
"Kamu nggak pernah jadi orang lain sebelumnya, kan, Suho?"
to be continued...
