Beautiful Prince(ss)
.
Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka
Park Chanyeol as Mafia Phoenix
.
SUMMARY
Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.
.
WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!
Don't bash! Don't plagiat!
.
Chapter 4
Gelap.
Yang bisa Baekhyun lihat ketika ia terbangun adalah gelap. Ia hanya melihat bias cahaya yang samar dibalik dinding kaca yang tertutup tirai, mungkin itu berasal dari cahaya lampu taman di bawah sana.
Ia sendirian di sini, tak menemukan Chanyeol dimanapun sejauh mata memandang. Mengerjapkan matanya, ia lalu mencoba duduk meski harus meringis akibat perih yang di rasakannya pada area bawahnya.
Baekhyun menggosok kedua matanya dengan bibir melengkung kebawah. Mencoba mencari pakaiannya yang tadi dilempar Chanyeol. Kemudian ia seketika teringat bahwa Chanyeol tadi merobek bajunya karena ia berusaha menolak meski pada akhirnya ia lah yang mendesah liar dibawah kuasa sang Phoenix yang luar biasa tampan nan gagah. Memikirkan itu sungguh membuat wajahnya terasa terbakar, betapa jalangnya ia tadi, memalukan.
Baekhyun menggeleng untuk menghilangkan pikiran itu. Matanya menangkap keberadaan celana jeans serta celana dalamnya di lantai dekat ranjang. Lantas, ia pun beranjak mengambilnya tanpa mempedulikan rasa perih yang semakin menjadi di bokongnya.
Setelah memakai celana dalam serta jeans nya, ia menggapai selimut di atas ranjang, menggunakan selimut itu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang.
Ia berjalan keluar kamar, menengok ke kanan dan ke kiri, dan ia hanya menemukan lorong-lorong yang entah berujung kemana. Lalu pandangan matanya menangkap keberadaan seseorang yang baru keluar dari salah satu pintu di bagian lorong sebelah kanan.
"Permisi" panggil Baekhyun ragu-ragu. Orang itu menoleh padanya lalu samar-samar ia dapat melihat sebuah senyum yang terpatri di wajah orang itu.
Pria itu bukan Joonmyeon, jelas dari perawakkannya juga dia berbeda. Jika Joonmyeon terlihat kecil dan kurus maka pria yang tengah berjalan ke arahnya itu memiliki tubuh yang bisa dibilang berisi.
"Selamat tengah malam, Baekhyun" sapa pria itu ketika sudah berada di hadapannya. Baekhyun terkesiap saat pria itu mengetahui namanya dan memanggilnya seolah mereka sudah mengenal sejak lama. Sebetulnya ia merasa aneh saat orang-orang memanggilnya begitu, tak pernah ada orang asing yang memanggilnya tanpa embel-embel pangeran selama ini. Dan apa katanya? Tengah malam?
"Tengah malam?" Tanya Baekhyun yang tak dapat menahan dirinya untuk tak bertanya. Ia tak melihat jam berapa saat di kamar, lagipula ia tidak yakin apakah didalam sana ada jam atau tidak.
"Yap. Ini pukul 1 malam jika kau ingin tahu" ujar pria itu setelah melihat jam tangannya. Pria itu terlihat santai dengan t-shirt coklat yang dipadukan dengan training hitamnya. "Dan kau mau kemana?" Giliran pria itu yang bertanya. Ia mengamati Baekhyun dari ujung ke ujung dan terkekeh saat mendapati banyak tanda merah di perpotongan leher bocah delapan belas itu.
"Mm.. bisakah.. bisakah aku menemui Chanyeol?" Tanya Baekhyun ragu. Sebelumnya ia tak pernah berbicara secara terbata-bata seperti ini. Tak pernah ada yang mengajarkannya demikian. Tapi sekali lagi persetan dengan aturan istana yang bahkan mungkin tak akan pernah ia tinggali lagi. Hisahito no miya hanyalah masa lalunya, dan kini ia adalah Byun Baekhyun yang tinggal di tempat asing bersama orang-orang asing yang mengaku bagian dari Phoenix juga sang Bos besar yang ada di dalamnya.
"Tentu saja. Mari ikut denganku. Aku juga berniat menemuinya tadi" Baekhyun hanya mengangguk saat pria berpipi gembil itu berjalan di depannya untuk menunjukkan jalan. Tak henti-hentinya ia mengamati pemandangan di jalan menuju ruangan dimana tempat Chanyeol bernaung saat ini. Jika dilihat-lihat, rumah ini sangat mewah dan luas. Selaras dengan mengingat betapa angkuhnya Phoenix itu.
"Aku Minseok omong-omong" ujar pria yang mengaku bernama Minseok itu tanpa menoleh sedikitpun pada Baekhyun yang masih setia mengekor di belakangnya.
"Ya, dan bagaimana kau tahu namaku Minseok hyung?" Seharusnya Baekhyun tahu betul apa yang akan menjadi jawaban pria itu. Ia dibawa kesini karena sebuah bisnis kotor Bos besar Phoenix bersama pamannya yang licik. Jadi sudah sepatutnya seluruh anggota Phoenix mengetahui siapa dia disini, dan dia harus kembali menegaskan pada dirinya yang mulai berpikiran aneh bahwa sekali lagi dirinya hanyalah tawanan disini. Anggap saja dia adalah tangkapan yang bagus bagi Phoenix. Sandera yang akan dibuang atau mungkin disingkirkan saat Phoenix sudah bosan padanya.
"Tahu saja" Minseok bergedik santai disela lamunan Baekhyun. Bahkan anak itu mungkin saja tidak mendengar apa yang dikatakan Minseok barusan.
Memikirkan itu membuat sisi melankolis Baekhyun muncul begitu saja. Sudah kubilang bahwa Baekhyun itu campuran antara melankolis dan plegmatis.
Tahu-tahu Minseok sudah mengetuk pintu berdaun ganda yang terpampang angkuh di hadapan mereka, "ayo masuk" Minseok menoleh padanya yang masih berada di belakang pria itu lalu tersenyum saat menemukan wajah terkejut Baekhyun. Jadi dapat ia simpulkan bahwa sejak tadi anak itu melamun.
Baekhyun hanya mengangguk saat Minseok membuka pintu dan menyuruhnya masuk lebih dulu. Tak ada rasa ragu disana, entah kenapa ia sangat yakin bahwa didalam sana Chanyeol benar-benar ada.
Suara pintu yang tertutup kembali menyadarkan Baekhyun. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Minseok berjalan dengan santai ke arahnya, atau mungkin ke arah depan sana dimana Chanyeol duduk di kursi kerjanya yang sudah seperti singgasana baginya. Jadi ini adalah ruang kerja Chanyeol, pikirnya. Lagi-lagi hawanya terasa gelap dan mencekam, sama dengan pemiliknya.
"Aku tidak akan lama, hanya ingin mengatakan bahwa Wang hampir saja masuk kedalam jebakan si licik itu. Sehun juga baru saja mengabari bahwa ia sudah membersihkan beberapa mata yang menangkap keberadaannya." Minseok berbicara langsung pada intinya dan ekspresi Chanyeol tak pernah berubah, tetap tenang tanpa emosi. Sedangkan Baekhyun yang berdiri di dekat pintu hanya bisa diam, memikirkan tentang perkataan Minseok dengan otak jeniusnya. Dan lagi-lagi Wang yang disebut-sebut. Sebenarnya siapa Wang itu? Lalu apa hubungannya dengan Phoenix? Apa mereka bekerja sama? Tapi ia ragu saat melihat bagaimana ekspresi Minseok saat mengatakannya, terlihat seperti ia yang merasa muak mendarah daging pada Wang itu. Seolah ia dapat mencekik Wang sampai mati dengan lidah terjulur keluar jikalau orang itu ada di hadapannya.
"Kau boleh pergi" suara Chanyeol menggema didalam ruangan, terdengar sangat tenang dan tak dapat dibantah. Baekhyun benar-benar memuji ketenangan yang dimiliki pria itu, sangat menakjubkan dan terkendali. Ia bahkan terkadang bisa bersikap gugup di beberapa situasi yang mendesak padahal ia sudah melewati delapan belas tahun hidupnya dengan terus berlatih dan berlatih.
Setelah mendapat instruksi dari sang Bos besar, maka Minseok pun segera meninggalkan ruangan Chanyeol. Meninggalkan dirinya untuk berdua bersama Chanyeol dalam ruangan yang sama. Lagi-lagi seperti itu.
Violet Chanyeol menelisik Baekhyun dengan tatapan yang seperti biasanya, tajam dan mengintimidasi. Memperhatikan setiap gerakan sekecil apapun yang Baekhyun hasilkan. Ia lalu berhenti pada selimut tebal yang melilit tubuh si mungil. Nyaris mengerutkan keningnya sebelum ia ingat bahwa ia sendiri lah yang merobek kaos anak itu tadi.
"Ada apa?" Bersamaan dengan itu, Chanyeol menempelkan ujung gelas wine merah di bibirnya lalu menyesap alkohol manis itu dengan mata yang masih memperhatikan Baekhyun.
Baekhyun dilanda perasaan aneh, kedua tangannya semakin erat menggenggam selimut yang melingkupi tubuhnya, aura Chanyeol benar-benar membuatnya tertekan, seperti seorang alpha yang menaklukan kawanannya. Cuaca dingin juga memperparah keadaan dimana kakinya tak beralaskan apapun.
"Katakan, Baekhyun" ucapan itu terdengar seperti sebuah perintah yang tak dapat dibantah. Baekhyun menggigit bibirnya resah, tak tahu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada pria itu atau justru hanya diam dan membuat amarah Chanyeol meledak karenanya. Ia tak tahu kenapa ia mulai menggigil ketakutan hanya karena ditatap oleh sepasang violet indah itu. Padahal jelas-jelas di awal pertemuan ia merasa biasa-biasa saja. Apa ini karena permainan ranjang mereka? Wajah Baekhyun langsung memerah saat kembali memikirkan itu. Bagaimana ia mendesah seperti jalang dibawah kuasa Park Chanyeol membuatnya malu seketika. Dimana ia meletakan harga dirinya sebagai seorang pangeran? Bisakah ia menemukan harga dirinya itu kembali setelah tak mengingat dimana ia terakhir meletakannya.
Maka dengan segenap keberanian yang tersisa dalam dirinya, ia mendongak pada Chanyeol, menatap tepat kedalam sepasang violet mengagumkan milik sang Phoenix. Lalu ia berujar sedikit ragu, "aku hanya merasa sedikit takut berada di tempat asing yang gelap sendirian" cicitnya.
Mata Chanyeol tak henti-hentinya menatap Baekhyun yang secantik boneka porselen, bahkan seorang hacker Phoenix yang dielu-elukan cantik oleh semua orang itu kalah dengan kecantikan Baekhyun di matanya. Entah ia yang mulai gila atau dunia yang tengah mempermainkannya, yang pasti saat ia menyuruh Baekhyun mendekat padanya, semuanya terasa begitu menyenangkan.
"Kemarilah"
Baekhyun sebenarnya ragu, namun sepasang telapak kakinya yang telanjang terus menapaki lantai marmer ruang kerja Chanyeol semakin jauh hingga ia berdiri di sebelah pria erotis itu. Ia tak terbiasa mendengar perintah orang lain kecuali sang rajaㅡkakeknya yang sudah tiada, dan mungkin orang tuanya yang sampai saat ini tak dapat Baekhyun ingat.
Tanpa mengatakan banyak omong kosong, Chanyeol menarik Baekhyun untuk duduk dalam pangkuannya dan Baekhyun tak bisa menolak saat merasakan aura mendominasi yang lagi-lagi dikeluarkan Chanyeol.
Entah sejak kapan Chanyeol melepas coat yang dipakainya tadi serta ikut melepas selimut yang menutupi tubuh top less Baekhyun. Tahu-tahu pria itu sudah menyampirkan coat coklat nya itu di bahu sempit Baekhyun lalu menariknya serapat mungkin ke tubuh Baekhyun agar anak itu tak kedinginan. Setelahnya kedua tangan Chanyeol langsung memeluk Baekhyun erat, membawa tubuh si mungil untuk bersandar padanya.
Alhasil, Baekhyun pun ikut menyenderkan kepalanya di bahu kokoh sang dominan, dengan kedua tangan saling terkepal erat hingga buku bukunya memutih samar. Dada Chanyeol sangat keras dan bahunya sangat lebar, benar-benar seorang pejantan.
Coat itu kini meninggalkan selembar kemeja tipis berwarna hitam yang melekat di tubuh Chanyeol. Baekhyun jadi khawatir jika pria itu akan merasa kedinginan.
"Kau begitu manis dan.." Chanyeol menghirup aroma rambut Baekhyun dengan dalam, membiarkan wangi strawberry manis itu masuk ke paru-parunya seperti asap rokok yang membuatnya kecanduan, "menggairahkan" lanjutnya. Satu tangannya yang tidak berada di pinggang Baekhyun kini membelai rahang hingga pipi anak itu membuat Baekhyun terlena dan memejamkan matanya yang memang terasa berat karena kantuk. Ini jam 1 dini hari jika kau lupa.
Tubuh Chanyeol memang keras, sangat berotot dan luar biasa. Tapi entah kenapa tubuh itu terasa sangat nyaman untuk di jadikan sandarannya. Baekhyun bahkan tanpa sadar mulai terlelap disana, meski tangannya yang berada pada dada Chanyeol dapat merasakan dengan jelas degupan jantung pria itu yang sangat teratur, berbeda dengan degupan jantungnya yang sudah menggila.
Baekhyun terkesiap saat tangan Chanyeol yang tadi memeluk pinggangnya kini beralih kebawah dan dengan kurang ajarnya meremas bokongnya dengan erotis.
"C-Chanlie" pegangan Baekhyun pada dada Chanyeol mengerat seiring dengan tangan besar pria itu yang terus melecehkan bongkahan pantatnya hingga bahkan ia tak sadar dengan sesuatu yang baru saja terucap dari bibirnya. Ia meremas kemeja hitam Chanyeol hingga meninggalkan bekas kusut. Bibirnya ia kulum dengan wajah yang semakin bersembunyi di ceruk leher Chanyeol.
"Kau memanggilku apa?" Suara Chanyeol terdengar mengerikan, sangat mengintimidasi dan kelam. Membuat Baekhyun tak sanggup untuk mengangkat kepalanya. Remasan Chanyeol pada bokongnya sudah berhenti, tangannya yang tadi kembali melingkar di pinggang ramping Baekhyun lalu tangannya yang lain mengangkat dagu Baekhyun, memaksa bocah itu untuk menatapnya.
Pandangan mata Baekhyun bergerilya kesana kemari, asalkan jangan ke sepasang violet yang sangat dingin itu. Tatapan tajam Chanyeol membuatnya menciut seketika, ia merutuki mulutnya yang bicara asal.
"Sesungguhnya lidahku terpeleset tadi. Aku tak sengaja menyingkat namamu, kau tahuㅡ itu terjadi begitu saja" mereka saling bertatapan cukup lama dan Baekhyun berkedip-kedip tanpa dosa pada Chanyeol.
Sehebat apapun Chanyeol, dia tetaplah rakyat biasa di mata Baekhyun, warga sipil maksudnya. Tidak seharusnya ia berbicara dalam derajat yang seolah sama dengan seorang warga sipil. Tapi, sudah lama adat lama yang menyinggung soal derajat itu terhapuskan. Mereka kini sama, namun Chanyeol tidak terlihat sama sekali menghargai dirinya sebagai seorang keluarga kerajaan. Baiklah, jangan di ungkit lagi karena sekali lagi ia berada disini karena pamannya yang jahat.
"Aku suka itu"
"Maaf?"
"Tidurlah" Chanyeol berbisik samar, membuat keingin tahuan Baekhyun hilang tanpa jejak. Bahkan ia lupa dengan apa yang dikatakan Chanyeol sebelumnya. Suara Chanyeol yang berat terdengar sangat manis saat berbisik, terdengar seperti lullaby baginya untuk menjemput mimpi dalam tidur.
e)(o
"Agh! Kenapa harus aku lagi!" Do Kyungsoo mengerang panjang dengan penuh rasa frustasi saat melihat penampilannya sendiri.
Lagi-lagi ini terjadi lagi, dimana ia diterjunkan langsung ke lapangan dan menjadi umpan, ya sebut saja begitu.
"Karena kau Do Kyungsoo si bunglon" Kai menyahut diikuti dengan asap rokok yang membumbung ke udara hingga sampai pada penciuman si cantik Luhan yang tengah bergelantungan di dahan pohon dengan mengenakan kedua kaki kuatnya. Dialah hacker cantik Phoenix yang tadi sempat di singgung-singgung.
"Dasar bajingan! Sudah kubilang jangan merokok disekitarku bodoh! Kalau aku mati bagaimana? Phoenix akan kehilangan hacker hebat sepertiku dan Big Boss akan membunuhmu, detik itu juga!" Luhan mengumpat, melayangkan sumpah serapahnya yang tak pantas keluar dari bibir manisnya yang mirip seperti perempuan. Ia lalu mengangkat tubuhnya sendiri ke atas batang pohon tempat kakinya bergelantungan kemudian menapakkan kakinya ke tanah dalam satu detik setelah meloncat dengan pendaratan sempurna, tanpa cacat.
"Big Boss tak akan membunuh dokter bedah hebat sepertiku, bedebah!" Kai menoyor kepala Luhan seperti bocah kecil, berhasil memancing geraman amarah dari lelaki cantik itu.
"Errrhh! Phoenix dapat merekrut 10 dokter bedah yang jauh lebih hebat darimu, hitam!"
"Waktu kita tinggal 15 menit lagi. Taeyong melapor bahwa ia berhasil menyelundupkan pena nya" Sehun menengahi sambil melirik arloji nya yang berlapis emas dengan penyadap. Perdebatan Kai dan Luhan sungguh sangat tak membantu menurutnya
"Ah, jangan lupakan anti thermal vision nya. Gedung itu berjarak 2 km dari pangkalan angkatan darat, kemungkinan besar mereka memasang thermal vision di beberapa titik." Yixing mengingatkan, ia sedang sibuk memasang sarung tangan untuk menghilangkan jejaknya nanti.
Kening Luhan berkerut dalam saat mendengar peringatan Yixing, "kau tak mengeceknya? Serius?"
"Tidak sempat," lalu Yixing membalas tatapan Luhan dengan datar, "lagipula aku adalah sniper, bukan pencari informasi, seharusnya hacker yang melakukannya"
Dan, check mate.
"Sialan kalian! Ayo cepat pergi" Kyungsoo mendesis kesal, mau tidak mau ia harus melaksanakan tugasnya jika tidak mau sang Phoenix menjadikan kepalanya pajangan didepan pintu ruang kerjanya.
Hanya butuh tiga menit empat belas detik untuk sampai di tempat operasi sesuai propesi. Kyungsoo dengan mobil pribadi milik target yang ia bajak setelah sebelumnya menyingkirkan supir pribadinya, dan keempat lainnya yang mengintai dari atas gedung hotel yang berjarak 800 meter dari tempat Kyungsoo.
Dua menit adalah waktu yang diperlukan Sehun maupun Yixing untuk mengeluarkan alat mereka. Kali ini Yixing yang mengambil alih untuk eksekusi, sedangkan Sehun berperan sebagai spotter. Yixing memilih Artic Warfare Super Magnun (AWSM) untuk menjadi rekannya kali ini.
Beruntung bagi mereka karena target kali ini bukan berasal dari kalangan berbahaya yang hampir setingkat Phoenix sehingga mereka tak memerlukan kegiatan pengintaian mendalam di hari-hari sebelumnya. Juga, mereka tak perlu mengkhawatirkan soal sniper lawan, peluncur roket, rudal atau lainnya, persetan dengan itu karena sekali lagi target mereka ini bukanlah berasal dari dunia kriminal yang sama berbahanya seperti Phoenix
Disisi dua sniper, Luhan juga sudah siap dengan laptop serta headphone di telinganya. Sementara Kai hanya duduk bersantai di pinggiran atap bersama Luhan, dia berjulukan dokter bedah kematian dari Phoenix, jadi keberadaan dirinya disini hanya untuk memastikan keadaan fisik target.
"Situasi aman terkendali, target meluncur ke arah Bunglon. Bunglon sambung" suara Taeyong terdengar di masing-masing communicator yang berada di telinga mereka.
Lalu di susul suara Kyungsoo, "Bunglon siap"
Julukannya memang itu, Bunglon. Bunglon dari Phoenix lebih tepatnya.
Karena Do Kyungsoo adalah seorang penyamar yang sangat handal, seperti seekor bunglon sungguhan dalam prakteknya.
"Tunggu, aku menemukan keberadaan chip nya di..."
Mereka menahan nafas saat Luhan angkat bicara dengan mata yang terfokus pada layar laptopnya.
Hasil pemindaian pena yang diselundupkan Taeyong benar-benar membuatnya tercekat. Pena itu selain berfungsi untuk perekam dan pemancar sinyal, juga berfungsi sebagaimana alat rontgen bekerja, lebih canggih daripada alat rontgen tentunya.
"...Kai, apa ini? Aku tak bisa menjelaskannya secara detail"
Suasana tegang berubah menjadi kikuk saat mendengar suara Luhan yang terdengar kekanakan.
Lantas Kai pun menengok pada laptop Luhan.
"Gambarnya terlihat rumit Luhan, demi Tuhan! Alat rontgen jauh lebih sederhana dari ini" Kai mengeluh, "tapi sepertinya aku tahu dimana itu, letaknya di prosesus xifoid, bajingan itu meletakkan chip nya di tulang taju pedangnya, itu berada di bagian ujung tulang dada."
"Jadi?" Sehun dan Yixing bersamaan menyahut.
"Jadi kalian harus menembaknya di paru-paru kanan atau kiri agar pekerjaan Monggu tidak terlihat aneh" Sehun dan Yixing mengangguk mengerti. Monggu adalah serigala peliharaan Kai yang bertugas membuat target terlihat mati dengan alami dengan mencabiknya di bagian yang selesai Kai bedah atau yang terkena koyakan peluru sniper. Kai dan Monggu adalah tim yang mengerikan.
"Target mendekat padaku, roger" suara Kyungsoo kembali terdengar dan dibalik teleskopnya Sehun dapat melihat bahwa target sudah masuk kedalam mobil yang Kyungsoo bajak, setelah itu mobil itu melaju dengan kecepatan 40 km/jam menuju ke arah barat.
"Kemana supir Hong? Dan siapa kau?" Suara target terdengar di seberang sana lewat communicator yang dipakai Kyungsoo juga lewat pena perekam yang terselip di jasnya.
"Supir Hong adalah pamanku, dan beliau sedang berhalangan tuan. Jadi aku yang menggantikannya" jawab Kyungsoo lancar, tanpa ada nada gugup sama sekali. Ia adalah seorang profesional yang sudah sering menjadi umpan, tak akan sulit untuk melakukan hal seperti ini baginya.
"Oh baiklah"
"Tunggu sebentar," Sehun berbisik sambil menjilat bibirnya, itu adalah kode yang ia berikan pada Yixing, ia tengah memperhitungkan kecepatan angin, kelembaban suhu serta gerak alami bumi yang dapat mempengaruhi pergerakan peluru nanti didalam kepalanya, perlu diketahui bahwa Sehun adalah orang kedua setelah Luhan yang terhitung sangat jenius di kalangan bawahan Phoenix, "5 detik dari sekarang, barat daya sudut 28 derajat, bilik kiri" Sehun berkata cepat namun Yixing dapat mendengarnya dengan jelas.
Maka, mata tajam Yixing dibalik teleskop PM II 10x42/Military Mk II 10x42 dengan pembesaran optik 10 kali yang melengkapi senapannya semakin menyipit dan dalam detik ke lima, peluru .388 Lapua Magnum itu melesat cepat ke arah sasaran tanpa menimbulkan suara, efek peredam. Peluru itu melesat melewati angin tanpa hambatan, memecah jendela mobil yang dikendarai Kyungsoo hingga berkeping-keping dan melewati bilik kiri milik target, lalu bersarang di kursi penumpang setelah berhasil membuat luka menganga yang besar di tubuh target. Peluru yang sampai bahkan sebelum waktu 1 detik itu telah mengoyak dada kiri target, menghancurkan tulang rusuk yang melindungi bilik kiri paru-parunya dan memberikan gelombang kejut yang besar terhadap jantung target. Tak hanya itu, pelurunya juga mengoyak jaringan kulit dada kiri target hingga menimbulkan luka menganga yang besar.
"Ayay! Kerja bagus. Kita berhasil" Sehun dan Yixing berhigh-five dengan sebuah senyum lebar. Lalu dengan gesit mereka kembali membereskan alat-alat mereka, bersiap untuk segera pergi sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka.
Sementara itu dibawah sana suasana sudah agak panik karena mendengar pecahan kaca mobil serta darah yang menciprat ke kaca mobil di sisi lain jendela mobil yang masih utuh. Kyungsoo mengendarai mobilnya secepat kilat agar menjauh dari keramaian untuk membawa mayat target ke markas si dokter bedah kematian dari Phoenix, Kai.
"Luhan, urus CCTV di traffic light dan di beberapa pertokoan yang mobil lewati, di area apartemen target juga" suara Kyungsoo kembali terdengar.
"Roger!" Jawab Luhan sambil menutup laptopnya dan beranjak dari sana bersama dengan ketiga orang lainnya. Mereka pergi ke titik penjemputan 2 blok dari lokasi dan segera pergi ke markas seperti rencana awal.
"Kerja bagus anak-anak. Ku traktir makan malam" suara lain terdengar dari seberang, itu Joonmyeon, salah satu tangan kanan sang Phoenix.
"Jangan lupa vodka nya kapten!"
e)(o
Lagi-lagi Baekhyun terbangun dengan tak menemukan Chanyeol berada di ranjangnya. Bedanya kali ini ia disuguhkan dengan cahaya matahari yang sudah masuk melewati dinding kaca kamar Chanyeol. Entah kapan dan siapa yang memindahkannya ke kamar ini lagi, yang terakhir ia ingat adalah ia masih duduk dan bersandar di pangkuan sang Bos.
"Pasti sudah siang" gumam Baekhyun seraya menguap lebar, ia menyingkap selimutnya kemudian turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Inginnya dia mandi, tapi baju apa yang akan ia kenakan jika ia selesai mandi nanti? Ini saja ia hanya mengenakan celana jeans tanpa atasan. Lupakan soal eksistensi coat Chanyeol, itu bukan miliknya, okay?
Aneh juga rasanya ketika tak mendapati selusin pelayan istana yang biasanya selalu siap sedia saat ia membuka matanya di pagi hari. Terkadang ia terganggu dengan eksistensi mereka, tapi sekarang ia merindukan mereka hingga ke tulang-tulang.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia menemukan Joonmyeon tengah berdiri membelakanginya, menghadap pada dinding kaca.
"Ah, selamat pagi Baekhyun" Joonmyeon berbalik lalu memberikan senyuman seperti sebelumnya. Keningnya agak berkerut ketika melihat Baekhyun yang topless, jangan lupakan tanda-tanda yang Chanyeol tinggalkan di dadanya. Itu sangat... entahlah. Tapi yang pasti Joonmyeon harus menjaga dirinya agar tidak berhasrat pada anak itu jika tidak ingin kepalanya meledak berkeping-keping dibawah rudal Chanyeol.
"Kukira ini sudah siang" mata Baekhyun berlarian, ia malu bertemu dengan Joonmyeon dalam keadaan tidak memakai atasan seperti ini.
"Kurasa jam 9 masih bisa dibilang pagi" Joonmyeon terkekeh setelah melirik sejenak jam tangannya, ia cukup mengerti dengan rasa risih Baekhyun dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, "itu baju untukmu. Yang lainnya akan segera di kirim"
Baekhyun mengikuti arah pandang Joonmyeon dan melihat sebuah pakaian terlipat rapi yang sebelumnya tidak ada di atas ranjang.
"Yang lain?"
"Kau akan melihatnya nanti, setelah selesai turunlah kebawah dan bergabung di meja makan" langkah Joonmyeon mendekat pada Baekhyun lalu tangannya menepuk bahu telanjang Baekhyun sekilas, "tangganya ada di sebelah kiri, tidak jauh dari sini"
Baekhyun tidak paham maksud Joonmyeon menyuruhnya bergabung di meja makan, namun ia hanya mengangguk.
Bergabung?
Sebuah kata jamak yang cukup membuatnya bingung. Jika itu bergabung, berarti ada beberapa orang disana bukan? Siapa?
"Mungkin Chanyeol, Joonmyeon dan Minseok?" Ia bergumam dengan jari-jari tangan yang melipat untuk menghitung.
Cepat-cepat Baekhyun menggeleng. Kemudian bergegas masuk kembali kedalam kamar mandi.
e)(o
Perlu waktu 1 jam bagi Baekhyun untuk mandi, berpakaian, menyisir rambut dan berkaca.
Tadinya ia ingin sekali berendam lebih lama dengan air hangat yang ada didalam bak besar di kamar mandi namun ia cukup punya otak untuk tidak melakukan hal itu di tempat asing. Bagaimana kalau tiba-tiba sebuah roket otomatis meledakkan tempat ini? Tentunya tidak lucu jika ia terbunuh saat sedang berendam air hangat.
"Selamat pagi" Baekhyun menyapa beberapa maid yang tengah membersihkan beberapa lukisan dari debu di lorong menuju ruang makan.
Mereka tersenyum saat melihat senyum cerah tuan muda baru mereka, lalu membalas sapaan sang tuan muda, "selamat pagi tuan muda"
Baekhyun tak menghiraukan panggilan mereka yang memanggilnya dengan "tuan muda", ia berpikir mungkin karena ia dibawa oleh Chanyeol kesini.
Mengikuti petunjuk Joonmyeon dengan baik membawanya ke meja makan dengan sekitar 8 orang yang duduk disana, tanpa Chanyeol. Entah dimana sang Bos besar itu, yang pasti tidak ada di meja makan. Ia tidak tahu jika suasana makan disini bisa seperti ini, ia kira akan sangat kaku dan canggung mengingat ini adalah kediaman dari pimpinan Phoenix itu sendiri.
Keadaan di meja makan sangat berisik saat ia datang kesana, dan langsung senyap ketika mereka menyadari keberadaannya.
"Wow" Kyungsoo membuka mulutnya.
"Pangeran Jepang eh?" Luhan ikut berkomentar.
"Duduklah disini" Minseok melambai dan Baekhyun mengikuti ajakan Minseok untuk duduk di sebelah pria berpipi bulat itu.
"Properti Bos?" Sebenarnya pertanyaan itu sangat menohok hati Baekhyun, namun ia hanya bisa tersenyum. Berbeda dengan Luhan yang terlihat biasa seolah pertanyaannya barusan seperti tengah menanyakan cuaca. Entah ia tidak peka, atau terlalu blak-blakan. Baekhyun cukup sabar untuk menghalau ucapan menyakitkan itu. Ia mencoba berpikir positif, mungkin lelaki itu tak bermaksud menyakitimu Baekhyun, jangan berlebihan.
"Mulutmu itu" sebiji anggur melayang ke kepala Luhan dengan sempurna, pelakunya Oh Sehun, musuh abadi Xi Luhan.
Lantas Luhan melotot, "kurang ajar!" Dan balas melempar Sehun lebih kejam dengan menggunakan sendok, sendok bekas liurnya, dan tepat mengenai kening Sehun.
"AH! SIALAN ITU MENJIJIKAN!" Sehun berteriak seperti seorang gadis. Berhasil mengundang tawa geli dari Baekhyun.
"Jangan berisik, kalian bisa membuat Bos marah" tegur Kyungsoo yang dengan tenang tetap melanjutkan acara makannya yang tertunda.
Sementara itu Minseok sudah memindahkan beberapa makanan ke piring Baekhyun, "Baekhyun bukan properti Bos, jaga mulutmu Luhan"
"Tapi kan itu realita, Seok-ah. Semua orang juga tahu" Luhan mendengus, bersamaan dengan garpunya yang tertancap secara kasar pada potongan steak di piringnya.
Suara ketukan sepatu tiba-tiba terdengar menggema disana. Mereka, kecuali Baekhyun, sangat tahu betul siapa pemilik ketukan sepatu yang terdengar dalam dan mengerikan itu.
Lantas mereka pun berdiri dari kursi untuk menyambut sang Phoenix yang agung, sedangkan Baekhyun yang tidak mengerti apa-apa hanya duduk.
Minseok sudah memberi Baekhyun isyarat untuk ikut berdiri namun Baekhyun yang tidak mengerti kode dari Minseok tetap duduk hingga Chanyeol sudah berdiri di depan tempatnya, di kepala meja makan.
Mereka membungkuk dalam pada Chanyeol. Dan Chanyeol menatap Baekhyun tajam seperti biasanya tanpa peduli bahwa wajah Baekhyun sudah kembali merona, mungkin karena mengingat kegiatan panas mereka tadi malam. Lagi lagi itu.
Dan lagi pula, ia tak akan membungkuk pada Chanyeol dengan semudah itu. Tak akan mau dan tak akan pernah. Memangnya siapa Chanyeol hingga ia harus ikut menghormatinya? Tidak, terimakasih. Seorang darah biru tak akan membungkuk dengan cuma-cuma pada orang lain selain pada orang yang dia hormati.
Hingga Chanyeol duduk, barulah mereka menegakkan kepala dan ikut duduk di meja makan. Suara ribut-ribut tadi pun hilang entah kemana, suasananya sangat senyap dan mencekam setelah Chanyeol bergabung di meja makan. Bahkan suara dentingan alat makan pun sangat minim terdengar seolah itu adalah sebuah dosa besar jika sang Phoenix mendengarnya.
Baekhyun juga ikut fokus pada makanannya, sangat canggung berada ditengah-tengah suasana seperti ini. Lebih menegangkan dari acara makan besar di istana bersama kedutaan luar negeri, sungguh.
Sesekali ia melirik pada Chanyeol yang makan dengan tenang dan terlihat elegan. Seperti seorang pangeran. Pangeran kegelapan lebih tepatnya.
"Chip nya Kim Kai" suara Chanyeol terdengar rendah dan menyeramkan, membuat Kai nyaris tersedak ludahnya sendiri, untungnya itu tak terjadi karena cubitan Kyungsoo di pahanya lebih menarik sarafnya ketimbang dengan acara nyaris tersedaknya.
Kai berdeham, "Aku sudah menyerahkannya pada Jaehyun untuk diperiksa tentang sekecil apapun kerusakannya. Cairan darah hampir membuatnya berkarat jika disimpan lebih lama lagi, dan chip nya tidak terbuat dari bahan anti karat" jelas Kai setelah mengatasi rasa kaget serta rasa sakit di pahanya.
Chanyeol tidak menjawab, ia cukup memahami ucapan Kai tanpa harus berkata lebih lanjut. Jaehyun pasti akan mengirim chip nya besok pada dirinya.
Keadaan kembali hening. Aura Chanyeol sangat mendominasi di ruangan ini. Dan tak ada yang berani menyangkal seberapa mengerikannya aura dominan sejati itu. Seperti aura sang alpha dari sekelompok naga pembunuh.
"Apa yang ingin kau katakan, Joonmyeon?" Chanyeol bertanya dengan menatap Joonmyeon tajam. Ia sudah menangkap Joonmyeon yang sudah beberapa kali menoleh padanya dengan ragu.
"Aku tak bisa mengatakannya disini. Aku akan datang ke ruanganmu nanti Bos"
Semuanya menatap Joonmyeon dengan penasaran, kecuali Chanyeol.
e)(o
Segala ucapan, sesederhana apapun, tak boleh ada yang disembunyikan dari sang Phoenix.
Maka, disinilah Joonmyeon berdiri, menghadap Phoenix yang agung dengan ide gila yang ada di pikirannya.
"Jadi apa?" Tanya Chanyeol sambil menyesap vodka di singgasananya. Joonmyeon yang berdiri dengan radius 2 meter dari Chanyeol pun berdeham, kebiasannya. "Aku pikir kau harus memeriksakan Baekhyun pada dokter" ujar Joonmyeon, memulai untuk menyampaikan opini nya. Disana Chanyeol bergeming, ekspresinya terlihat tidak habis pikir. "Maksudku begini... Chanyeol" jika ia memanggil Chanyeol dengan namanya, itu artinya ini adalah sebuah obrolan antar teman, dan Joonmyeon jarang seperti ini. "Banyak beredar gosip bahwa pangeran Jepang itu," Joonmyeon menelan ludahnya, merasa aneh, "adalah seorang carrier, bukan dominan seperti yang seharusnya."
Itu adalah sebuah rahasia besar, rahasia yang amat dijaga oleh pihak Jepang. Karena dari segi sudut pandang mana pun, seorang pangeran calon pemimpin haruslah seorang dominan, bukan carrier yang lemah lembut dan cantik.
Tanggapan Chanyeol adalah kebalikan dari apa yang Joonmyeon pikirkan dalam kepalanya. Ia mengira Phoenix akan terkejut dan menampilkan ekspresi tercengangnya untuk pertama kali, sebut saja wajah aib. Tapi ternyata Phoenix malah dengan tenang tertawa rendah dan itu terdengar jahat. Jadi mungkin Chanyeol sudah lebih dulu tahu tentang gosip itu.
"Itu bagus, artinya sebentar lagi Phoenix kecil akan muncul ditengah-tengah kita"
Dan Joonmyeon betul-betul tersedak di hadapan sang Phoenix.
e)(o
Setelah mengikuti sarapan yang aneh bersama Phoenix dan sebagian antek-anteknya yang juga sangat aneh, Baekhyun tidak lagi kembali ke kamarnya. Ia memilih untuk berjalan-jalan didalam mansion dan menemukan sebuah taman bunga yang baru ia sadari adalah taman yang biasa ia lihat dari kamar Chanyeol.
"Selamat siang" Sapa Baekhyun dengan suara melengkingnya membuat para pengurus kebun mengalihkan perhatian mereka dari bunga-bunga cantik ke arah seorang pemuda yang juga tak kalah cantiknya dari bunga-bunga disana.
"Tuan muda ya? Sedang apa disini?" Seorang wanita tua bertanya padanya sedangkan yang lainnya kembali mengurus kebun.
"Tidak, aku bukan tuan muda" Baekhyun tersipu, "aku Baekhyun Byun"
"Tidak tidak tidak, kau adalah tuan muda baru disini. Semuanya juga tahu" wanita itu berjalan ke arahnya lalu tertawa ala wanita tua, dan membawa Baekhyun untuk berjalan-jalan kedalam taman.
"Aku kan hanya sementara disini" cicit Baekhyun, suaranya terdengar menyedihkan. Namun wanita itu malah tersenyum tanpa menjawab perkataan Baekhyun.
"Ini tanaman kesukaan tuan besar" wanita tua itu bergerak menyentuh bunga tulip merah yang kelihatannya baru mekar, kelopaknya terlihat sangat rapuh saat jari keriput wanita itu menyentuhnya dengan sangat hati-hati seakan satu kelopak bunga tulip merah itu serharga jutaan dolar.
"Kenapa Chanyeol menyukai tulip merah?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Baekhyun yang tak pernah tahan untuk tak menanyakan apa yang ada dalam kepalanya. Matanya dapat melihat tatapan sayu serta sebuah senyum penuh kerinduan yang wanita tua itu ukir saat mendengar pertanyaan Baekhyun.
"Karena tulip merah mengingatkan beliau pada tuan muda" kening Baekhyun berkerut dalam. Kepalanya sibuk memproses ucapan wanita tua itu. Tuan muda? Jika semua orang di istana ini memanggilnya demikian, maka mungkin saja 'tuan muda' yang itu adalah seseorang yang juga Chanyeol bawa ke istana emasnya ini, apakah itu kekasihnya? Lalu kemana sosok 'tuan muda' itu sekarang?
"Tuan muda adalah adik tuan besar, namanya Park Jisung. Tuan muda bukanlah adik kandung tuan besar, namun beliau sangat menyayanginya"
Baekhyun termenung, jadi itu adiknya ya? Kedengarannya Chanyeol sangat menyayangi Park Jisung itu sehingga ia menyukai bunga yang dapat mengingatkannya pada adiknya itu. Tak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa Chanyeol yang dingin dan angkuh dapat menyayangi seseorang.
"Tuan muda Jisung adalah seseorang dengan perangai yang menyenangkan, dia seorang periang dan setiap pagi selalu menyapa para pelayan dengan senyum lebarnya. Dia terlihat seperti bunga yang tumbuh ditengah padang es, seperti matahari yang menyinari gelapnya dunia milik tuan besar"
Wanita tua itu memunggunginya, berjalan perlahan meraih botol semprot lalu mulai menyemproti beberapa bunga di pot yang kelihatan sudah tua. Sesekali wanita itu mengambil daun atau tangkai bunga yang mati di tanah lalu membuangnya. Dan dibelakangnya Baekhyun masih terus mengikutinya dengan langkah perlahan. Dia mengerti bahwa ungkapan wanita itu bermaksud bahwa Park Jisung itu memiliki watak yang berbanding terbalik dengan Chanyeol.
"Dan dia begitu menyukai bunga tulip merah."
Baekhyun terdiam beberapa saat, "jadi sebenarnya Jisung yang menyukai tulip merah bukan Chanyeol? Apa aku benar?"
"Ya begitulah" wanita tua itu tertawa ringkih. Baekhyun bahkan berpikir kenapa wanita tua renta seperti itu masih bekerja disini? Apakah Chanyeol tidak memiliki belas kasihan hingga menutup matanya dan pura-pura tidak tahu? Seharusnya wanita tua seusianya sudah harus berada di rumah, duduk di depan perapian sambil merajut di kursi goyang membuat sweater untuk cucunya. Ya setidaknya begitu yang ia pikirkan, karena ia tak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang nenek.
"Dan dimana dia sekarang? Aku tak pernah melihat seseorang yang suka menyapa di rumah ini. Semuanya menyeramkan dan mereka berbicara barbar dengan kata-kata yang tidak seharusnya didengar. Terkadang aku juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan" Baekhyun tanpa sadar mengoceh sendiri, mengutarakan pikirannya tentang beberapa anggota Phoenix yang sudah ia temui. Dan didepannya, wanita tua itu tersenyum hangat tanpa Baekhyun dapat melihatnya.
"Tapi mereka orang-orang baik"
"Ya, tentu saja. Setidaknya mereka mungkin bukan orang-orang munafik yang berusaha mendapat kedudukan di istana" wajah Baekhyun berubah keruh. Tak ada tempat untuknya kembali, semuanya sudah hilang. Kabar hilangnya dia pasti sudah tersebar di Jepang, dan paman sialannya itu pasti akan berpura-pura mengerahkan segala cara untuk menemukannya. Sungguh busuk. Dan lalu ia tiba-tiba terpikirkan oleh apa yang akan Chanyeol lakukan padanya, sampai saat ini pun pria itu tak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan hal aneh padanya. Lupakan tentang malam panas mereka, itu mungkin sebuah hal yang diluar rencana. "Kau belum menjawab pertanyaanku, dimana Park Jisung itu sekarang?"
Langkah wanita tua itu terhenti, Baekhyun dapat melihat jika bahunya turun dan ia merasa kalimat yang akan keluar bukanlah suatu hal yang baik, dan benar saja ternyata. "Tuan muda Jisung meninggal tepat di hari ulang tahun tuan besar, 27 November. Tahun 2014 lebih tepatnya. Jika dia masih ada, mungkin usianya sekitar 15 tahun"
Jantung Baekhyun rasanya berhenti berdetak untuk beberapa saat saking kagetnya dia. Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa orang yang tengah mereka bicarakan ternyata sudah meninggal 3 tahun lalu.
"Dan... kenapa?" Namun ia tak dapat menahan dirinya untuk tak bertanya lebih lanjut.
"Tuan muda Jisung meninggal di tangan musuh tuan Park. Seseorang yang juga berada di dunia yang sama dengan beliau. Kejadiannya begitu pilu. Sebelum meninggal, tuan Jisung diculik selama 3 hari, dia di siksa di kandang mereka sebelum akhirnya dibunuh dengan keji." Wanita tua itu menitikkan air mata, namun cepat-cepat ia menghapusnya selagi Baekhyun tak melihatnya. Sementara itu Baekhyun masih terdiam, ia terkejut. Jadi semakin ingin tahu seperti apa itu Phoenix.
"Kenapa kau menceritakan ini padaku?" Suaranya nyaris hilang, seperti berbisik ditengah hembusan angin.
Barulah wanita itu berbalik, menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia tidak mengerti apa maksud tatapan dalam wanita itu. "Karena kurasa kau harus tahu. Aku tahu duniamu dengan dunia tuan Park begitu berbeda, kalian seperti sisi gelap dan sisi terang. Tapi kau harus mulai terbiasa dengan itu" wanita itu lalu mengelus lengannya dengan lembut, sebelum matanya menangkap keberadaan sosok tuannya di belakang Baekhyun dengan angkuh, maka ia pun undur diri, meninggalkan sang tuan dengan Baekhyun yang masih belum menyadari eksistensinya.
"Sebenarnya dia itu siapa? Phoenix itu apa? Sindikat obat-obatan terlarang? Gembong narkoba? Lalu kenapa aku harus terdampar disini. Kenapa mereka tidak membunuhku saja, itu terdengar lebih baik" Baekhyun menggerutu, tak menyadari sosok Chanyeol yang berada 1 meter di belakangnya.
Saat angin berhembus menerbangkan wangi khas Chanyeol, barulah Baekhyun menyadarinya. Maka ia pun berbalik dengan kaku seperti robot yang perlu diberi pelumas untuk memperhalus gerakannya.
"Kau yakin dengan kata-katamu?" Langkah Chanyeol semakin mendekat, dan Baekhyun refleks mundur dengan kaku, bola mata violet Chanyeol yang menatapnya tajam selalu berhasil menciutkan nyalinya sebagai seorang lelaki. Chanyeol berhasil berdiri didepannya, merengkuh pinggang rampingnya lalu berbisik ditelinganya seperti seorang maniak, "kudengar... meregang nyawa itu adalah hal yang sangat menyakitkan"
"Kenapa tidak kau buktikan sendiri saja" Baekhyun mendorong dada Chanyeol menjauh dan Chanyeol tidak menolak saat si mungil melepaskan diri darinya. "A-aku mau masuk kedalam. Aku haus" alasan yang bagus. Baekhyun berusaha melewati Chanyeol namun Chanyeol menahan tangannya dengan kuat agar tetap berdiri disana. Baekhyun tidak mengerti, bagaimana bisa pria itu memiliki tenaga yang sangat kuat. Apakah Park Chanyeol mengkonsumsi besi untuk menjadi dessert nya?
"Chanyeol lepaskan" Baekhyun kesakitan saat Chanyeol terlalu kuat mencengkeram pergelangannya, "astaga Chanlie ini sakit"
Chanyeol menoleh padanya, menatap Baekhyun dengan sepasang mata indahnya, dan Baekhyun mengatupkan mulutnya rapat-rapat, lagi-lagi ia memanggil Chanyeol dengan panggilan anehnya. Pria itu pasti akan murka dan tak ada yang bisa menyelamatkannya jika itu terjadi.
"Diam disini" cengkeraman Chanyeol mengendur, beralih menjadi sebuah genggaman lembut yang posesif di antara jemari lentik Baekhyun. Tak di duganya bahwa Chanyeol tak marah dengan panggilannya.
"Kau tidak marah?" Cicit Baekhyun seperti tikus yang terjepit.
"Aku akan melakukannya jika kau bertanya seperti itu" jawab Chanyeol tanpa sedikitpun menatap Baekhyun, tatapannya tetap terarah kedepan menatap hamparan bunga yang berbeda-beda di taman.
Baekhyun memajukan bibirnya, itu kebiasaan yang sulit di hilangkan saat ia merasa jengkel dan di abaikan. Ia lalu sedikit menunduk dan memainkan tangan Chanyeol yang bertautan dengan tangannya. Rona merah menjalar di pipinya ketika melihat itu, tangan Chanyeol sangat besar dan hangat, seolah diciptakan memang untuk menggenggam tangannya.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi" sebenarnya Baekhyun merajuk, ia berusaha menyembunyikan nada merajuknya itu saat bicara, namun itu sangat sulit dan tetap saja ia bicara dengan nada seperti itu. Chanyeol pasti akan berpikir jika aku sangat kekanakan, pikirnya.
Setelah itu keadaan menjadi hening, beberapa menit mereka lewati dengan hanya suara yang berasal dari pengurus kebun. Matahari sudah sepenuhnya naik ke atas dan Baekhyun mulai merasa kepanasan. Ia sungguh memuji bagaimana orang-orang itu tetap bekerja mengurus kebun ditengah teriknya matahari.
Lalu tanpa berkata apapun, Chanyeol menarik Baekhyun untuk melangkah kedalam istana nya, ketukan sepatu yang mengiringi setiap langkahnya tetap sama, terdengar mendominasi dan mengancam.
"Chanyeol, boleh aku minta sesuatu?" Baekhyun bertanya dengan ragu saat langkah Chanyeol terus menyeretnya semakin dalam kerumah.
"Apa?" Chanyeol menjawab lagi-lagi tanpa menatap Baekhyun.
"Aku ingin ice cream strawberry. Cuacanya sangat terik jadi kurasa..." Baekhyun tak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah tanpa ekspresi milik Chanyeol. Ia berpikir Chanyeol mungkin tak akan mendengarnya. Percuma meminta padanya, sekecil apapun pria itu tak akan mendengarnya, lagipula siapa dia disini? Dia bukanlah permaisurinya disini yang akan mendapat perlakuan khusus dari sang tuan besar yang memegang kendali di istana ini. Tapi tautan tangan mereka sungguh membuatnya merona, Chanyeol seakan memberinya sebuah harapan, harapan yang tak pasti.
Hingga Chanyeol membawanya ke ruang kerja pria itu. Ia berpikir apakah Chanyeol menghabiskan hari-harinya dengan terkurung di ruang kerjanya? Ia masih ingat jika pertama kali ia bertemu dengan Chanyeol adalah saat pria itu merenggut ciuman pertamanya dengan begitu kurang ajar di lorong toilet hotel Feon, dan pria itu mengatakan hotel Feon adalah miliknya. Jadi kenapa dia tidak pergi untuk bekerja?
Pikiran itu enyah ketika Chanyeol melepas tautan tangan mereka, seperti ada yang hilang. Namun ia segera menggelengkan kepalanya. Beralih untuk menduduki sofa empuk di ruang kerja Chanyeol sementara pria itu duduk di singgasananya.
Tatapan Baekhyun tak pernah lepas pada setiap gerakan Chanyeol yang membuka dokumen, melakukan sesuatu pada dokumennya dengan pena atau membolak-balik kertasnya seperti tengah memastikan sesuatu. Matanya beberapa kali menyipit seolah mempertajam penglihatannya lalu ia bergerak membuka laci mejanya, mengambil kacamatanya disana dan matanya tak lagi menyipit sejak mengenakan kacamata itu. Kacamata itu bahkan tak dapat mengurangi kadar ketampanan seorang pimpinan Phoenix.
"Apa kau mempunyai minus di matamu?" Baekhyun bertanya dengan penuh keingintahuan sedangkan Chanyeol hanya melirik sebentar padanya membuat Baekhyun kehilangan minat untuk kembali bertanya, "aku lupa bahwa sebelumnya aku bilang tidak akan bertanya lagi" suaranya memelan di akhir kalimat.
"Aku mempunyai astigmatisma" akhirnya Chanyeol menjawab, dan membuat semangat keingintahuan Baekhyun kembali menggebu-gebu.
"Silindris ya..." gumamnya, "Yuta dulu memiliki silindris juga, sudah parah, bahkan dia pernah salah mengenaliku dari jauh saat dia tak memakai kacamatanya, dia bilang aku terlihat seperti beberapa orang yang berjalan tanpa jarak. Tapi saat usianya 17 lebih 2 bulan dia menjalani operasi lasik, dia sembuh dalam kurun waktu 10 minggu" Baekhyun mulai kembali mengoceh, matanya terlihat berkilauan saat menceritakan temannya di Jepang dan Chanyeol sempat melihat betapa antusiasnya bocah delapan belas itu. Seolah ini adalah pertama kalinya dia bercerita pada orang lain. Atau mungkin, memang benar begitu.
"Siapa Yuta?" Baekhyun terkesiap saat Chanyeol bertanya. Hanya tak menyangka saja bahwa pria dingin itu akan bertanya atas apa yang baru saja di katakannya. Itu artinya Chanyeol mendengar ocehannya, bukan? Bolehkan ia tersenyum sekarang?
"Yuta adalah putranya perdana menteri Kisame-sama. Dia teman dekatku, dia sangat lucu dan berisik, selera humornya benar-benar aneh, bahkan jika ada hal yang tak cukup lucu ia selalu tertawa lebar seolah hal itu sangatlah lucu, dia sukaㅡ"
Ucapannya terhenti saat telinganya mendengar suara ponsel Chanyeol yang berbunyi nyaring di atas meja. Ia menatap Chanyeol dan Chanyeol menatap layar ponselnya dengan ekspresi tidak suka, keningnya berkerut hingga beberapa lipatan dan matanya menajam. Namun Chanyeol tetap mengambil ponselnya, mengangkat telepon, dan bicara lewat telepon tanpa Baekhyun tahu siapa yang menelepon.
"Ada apa?" Bukan sapaan yang Chanyeol lantunkan saat mengangkat telepon, suaranya ia buat seramah mungkin, namun itu justru terdengar seperti kepura-puraan yang sangat kentara.
"Oh.. Phoenix, bagaimana dengan anak itu?"
Chanyeol menggulirkan bola matanya hingga ia menatap Baekhyun yang juga menatapnya tanpa berkedip. Lantas ia mengalihkan kembali pandangannya jauh dari Baekhyun dan berkata, "Aku sudah mengurusnya"
"Bagaimana aku bisa tahu? Mungkin kau bisa mengirimkan fotonya yang berlumuran darah" suara di seberang sana terdengar sangat licik dan menyebalkan. Membuat iblis dalam diri Chanyeol tersenyum mengejek pada pria bermuka dua yang tengah meneleponnya ini. Betapa hausnya pria ini akan darah keponakannya sendiri, ironis.
"Akan kukirim mayatnya besok, kau akan menemukannya terbakar habis didalam mobil taxi, itu yang akan kulakukan."
"Oh, Bekyon ku yang malang" nada suaranya terdengar jelas pura-pura sedih, kemudian dia tertawa seperti orang yang kehilangan kewarasannya, "akan ku urus semua yang ku janjikan padamu"
"Jangan lakukan visum jika kau tidak ingin seluruh dunia mengetahui bagaimana cara aku menghabisinya"
"Ah tentu tenㅡ"
Chanyeol memutus sambungannya. Bahkan sebelum orang di seberang sana menyelesaikan ucapannya. Ia tak suka berbasa-basi.
Lantas ia kembali menyimpan ponselnya di atas meja kerjanya, membiarkannya tergeletak disana seolah itu hanyalah seonggok benda tak berarti.
"Apakah itu pamanku?" Tanya Baekhyun hati-hati. Matanya menatap Chanyeol sendu. Mulut berisiknya yang tadi hilang entah kemana. Kini yang tersisa hanyalah suara senyap yang mencekam menggantung di tengah udara. Chanyeol sempat menatapnya beberapa detik sebelum kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Dan Baekhyun terlihat murung, ia artikan tatapan Chanyeol itu sebagai 'ya' dan pria yang tengah berada di balik meja kerjanya itu tadi mengatakan bahwa ia akan mengirim mayatnya besok.
Suara pintu diketuk terdengar menggema didalam ruangan, tak terlalu keras tapi juga tak bisa di sebut pelan. Suara itu berhenti ketika Chanyeol menyerukan "masuk" pada orang diluar sana.
Pintu terbuka bahkan sebelum Baekhyun sempat menerka siapa yang berdiri dibalik daun pintu ganda tersebut. Dan ternyata itu Joonmyeon.
Sumpah, Baekhyun meminta pengampunan dalam hatinya pada pria berwajah lembut itu kala inner nya mengatakan bahwa penampilan Joonmyeon terlihat seperti seorang barista di club malam. Tapi itu tetap terlihat keren untuknya.
"Hai Baekhyun" Joonmyeon menyapa saat langkahnya melewati Baekhyun dan ia hanya tersenyum kikuk. Pria itu berdiri di depan meja kerja Chanyeol, membungkuk singkat saat Bos nya itu, mendongak dan mulai berbicara saat melihat isyarat mata Bos nya, "pabrik kita yang ada di San Diego diledakkan oleh Zhou. Ada sekitar 170 dari kita yang tewas dan 300 sisanya luka-luka."
Baekhyun yang mendengar ucapan Joonmyeon nyaris memekik. Itu terdengar seperti pemusnahan masal. Oh! Sekejam itukah mereka? Dan yang membuatnya semakin bingung adalah ekspresi Chanyeol yang terlihat tenang seperti biasanya.
"Aku sudah tahu" suara per bolpoin terdengar nyaring mengisi keheningan yang ada disana. Bahkan suara helaan nafas Joonmyeon bisa terdengar dengan jelas di telinga Baekhyun yang duduk beberapa meter dari tempat Joonmyeon berdiri. Dibalik meja, Chanyeol terdiam dengan mata yang menatap tajam bendera Phoenix yang terpajang dengan panuh keangkuhan di dinding ruang kerjanya.
"Kau sudah tahu dan kau diam saja?" Joonmyeon melayangkan protesnya. Hampir saja ia meledak jika dihadapannya bukanlah Chanyeol.
"Tidak semudah itu, Joonmyeon. Membalaskan kematian ratusan orang-orangku tidak akan sesederhana yang kau pikirkan. Semuanya perlu rencana yang matang. Jangan lupakan bahwa itu adalah Zhou" mata Chanyeol beralih menatap mata Joonmyeon dengan penuh intimidasi.
"Aku tak akan pernah lupa jika Zhou yang hampir berhasil merenggut nyawa 2 sniper kita" urat-urat di kepala Joonmyeon tercetak jelas, ia lalu berjalan satu langkah ke belakang, membungkuk pada sang Bos besar kemudian berbalik pergi. Tetapi sebelum ia dapat menggapai pintu, suara Baekhyun lebih dulu menyapanya.
"Boleh aku ikut hyung?" Maupun Joonmyeon ataupun Chanyeol sama-sama menatap pada Baekhyun, hanya saja dengan tatapan yang berbeda. Joonmyeon dengan tatapan kaget serta heran, sedangkan Chanyeol dengan tatapan tajamnya.
"Aku tak akan pergi kemana pun, Baekhyun." Joonmyeon sedikit tertawa untuk memecah kecanggungan.
"Aku hanya ingin mencari udara segar" Baekhyun berdiri dan bersiap pergi sebelum suara Chanyeol menginterupsi langkahnya.
"Kemari Baekhyun" suara rendah yang berat itu lagi-lagi tak bisa di abaikan begitu saja. Jadi Baekhyun melangkah ragu-ragu ke arah Chanyeol hingga ia berada di sebelahnya, Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar lebih dekat dan menempelkan bibirnya dengan bibir Baekhyun hingga terjadi beberapa lumatan manis disana. Joonmyeon yang masih ada di ambang pintu pun menjadi canggung, ia nyaris pergi namun suara Chanyeol kembali terdengar dan tak bisa dibantah, "bicara padanya jika kau menginginkan sesuatu"
Baekhyun hanya mengangguk kaku seperti robot, seiring dengan kakinya yang melangkah membawanya menjauh dari Chanyeol dan mengikuti Joonmyeon dengan muka yang bersemu merah serta detakan jantung yang sudah tak dapat terkontrol lagi.
"Bos sangat..." Joonmyeon menoleh padanya lalu mengangkat bahunya sambil tertawa ringan, "entahlah." Dan mereka berdua tertawa dengan cara yang berbeda.
"Boleh aku berkata jujur?" Tanya Baekhyun setelah atmosfer humor diantara mereka lenyap.
"Kau memang harus berkata jujur, apalagi pada Chanyeol" Joonmyeon menjawab tanpa rasa curiga dan Baekhyun tersenyum aneh.
"Selera humormu sangat aneh" Joonmyeon berhenti tertawa, Baekhyun menghilangkan senyumannya dan bersamaan dengan itu mereka sampai di halaman belakang kediaman Phoenix.
Joonmyeon menatap padanya, dengan mata berkedip beberapa kali yang artinya dia sedang mencerna ucapan Baekhyun barusan. Dan ia tertawa hambar, "kejujuran memang selalu menyakitkan" ucapnya, tidak terlalu kencang namun Baekhyun masih dapat mendengarnya. "Duduklah disini" Joonmyeon menepuk sofa di depannya sementara dia sendiri duduk di sofa yang lain.
"Aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Baekhyun, ia menatap Joonmyeon penuh harap dan Joonmyeon berpikir beberapa kali sebelum akhirnya memberikan anggukan persetujuan pada Baekhyun.
"Kau tidak suka basa-basi ya?"
"Tidak"
"Kau mirip dengan Chanyeol" Joonmyeon tersenyum, mengeluarkan papan catur dari bawah meja kemudian membukanya di atas meja. "Catur?"
"Mm.. ya, tentu" Baekhyun ragu, namun ia tetap melanjutkan. Lagipula tidak buruk bermain catur sambil berbincang, seperti yang orang-orang sering lakukan.
Joonmyeon menata pion-pion caturnya, begitupun dengan Baekhyun. Joonmyeon mengambil alih pion hitam sementara Baekhyun pion putih.
"Apa itu Phoenix?" Pion terdepan Baekhyun maju dua langkah sekaligus dan Joonmyeon tertawa ringan.
"Kau cukup berani" godanya.
Lalu seseorang berbisik di sebelah telinga Baekhyun dari arah belakang, "Phoenix adalah sesuatu yang..." orang itu memainkan jari telunjuknya di sekitar tengkuk Baekhyun lalu meniup belakang telinga Baekhyun membuat empunya menggeliat kecil, tidak nyaman, "menggigit"
Orang itu menjauhkan kepalanya dari Baekhyun lalu meloncat ke sofa dan duduk di sebelah Baekhyun, dia mengambil kotak biskuit di atas meja dan memakan isinya.
"Berhenti mengganggunya, Luhan"
Orang menyebalkan itu memang Luhan. Dan pria mungil dengan paras ayu itu bergedik tak peduli dan kembali memakan biskuitnya.
"Tapi Phoenix itu nama burung yang terlahir dari mitologi Mesir. Dan Phoenix tidak menggigit, Phoenix itu burung dan burung mematuk, tidak menggigit" jawaban polos Baekhyun berhasil membuat Luhan tertawa. Ia bahkan sampai mengusap air mata di sudut matanya saking senangnya ia tertawa.
"Tapi Phoenix yang ini punya gigi" Luhan kembali menggodanya dan Baekhyun mengerutkan keningnya tidak setuju.
"Tak ada burung yang punya gigi. Burung bergigi ada pada jaman dulu, lebih dari 100 juta tahun yang lalu."
"Hh, kau membosankan" Luhan merotasikan matanya, mengejek.
"Jangan dengarkan dia, Baekhyun. Luhan memang usil dan sedikit menyebalkan" Luhan yang tengah membuka mulutnya untuk berbicara langsung kembali mengatupkan rahangnya ketika Joonmyeon berkata demikian.
"Bukan sedikit Joon, sangat menyebalkan" pion kuda milik Baekhyun maju di tangan Sehun yang baru datang bersama Kai. Tak lupa ia menekankan kata 'sangat' pada ucapannya. Dan Baekhyun merengut tidak suka dengan perbuatan Sehun yang memajukan pion caturnya dengan seenaknya.
"Punya masalah apa kau denganku tuan Oh?" Melipat kedua tangannya di depan dada, lalu Luhan menatap sengit Sehun. Mengibarkan bendera perang.
"Banyak, sangat banyak nona Lu."
"Katakan sekali lagi kau memanggilku apa tuan Oh?"
"No-na-Lu!"
"Mati saja kau busung lapar!"
Luhan dan Sehun menghilang di balik dinding, entah pergi kemana. Yang pasti, Luhan pergi untuk memburu nyawa Sehun dan Sehun berlari untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Begitulah kira-kira.
"Mereka selalu begitu, abaikan saja" kaki Kai saling bersilang di sebelah Joonmyeon, memperhatikan permainan catur antara Baekhyun dan Joonmyeon yang kembali berlanjut. Tangan Baekhyun berhenti di pion perdana menteri tanpa menggerakannya kemanapun.
"Aku tadi bertanya, apa itu Phoenix?"
"Dia belum tahu?" Lengan Kai menyenggol lengan Joonmyeon. Melihat keterdiaman Joonmyeon, maka Kai mendapat jawabannya dengan mudah. "Phoenix itu nama sebuah organisasi."
Pandangan skeptis dari Baekhyun ia dapatkan, "organisasi apa?"
Ini menarik, dan Kai tertarik untuk bermain kata dengan putra mahkota Jepang di hadapannya. Atau mungkin, mantan putra mahkota. "Akuㅡ ah, maksudku kami adalah mafioso. Jadi tebak siapa kita?"
Pertanyaan bodoh, terdengar seperti bertanya pada bocah ingusan dan Baekhyun mendengus dengan itu, "mafioso adalah sebutan bagi anggota mafia. Kau kira aku tidak tahu"
"Nah kalau sudah tahu untuk apa bertanya?" Kai menaik turunkan alisnya dan berhasil membuat Baekhyun jengkel. Anak delapan belas itu mendengus keras-keras.
"Kau bilang Phoenix itu julukan Chanyeol" Baekhyun menuding Joonmyeon dengan pion rajanya. Ia terdengar tidak senang dengan ini.
"Itu memang benar, Phoenix dari Phoenix" Joonmyeon membela dirinya sendiri, dengan tangan yang memajukan pion caturnya. Baekhyun memicing curiga pada Joonmyeon kemudian meletakkan kembali pion rajanya pada tempatnya, beralih untuk menggerakan pion lain dan ia berseru, "check mate!"
"Wow! Tak pernah ada yang berhasil mengalahkan Joonmyeon secepat itu." Kai tertawa puas, ia bertepuk tangan, mengabaikan tatapan tajam Baekhyun yang berusaha menguliti kedua pria berbeda tinggi badan itu hidup-hidup.
"Kenapa dia dijuluki Phoenix?" Sekali lagi Baekhyun mengabaikan Kai. Rasa penasarannya dapat mengalahkan apapun saat ini.
"Karena Phoenix adalah lambang keabadian. Dan begitupun Bos kami. Tak pernah ada yang bisa membunuhnya, karena jika itu terjadi maka dia akan kembali hidup, dari jasadnya sendiri. Seperti Phoenix yang lahir kembali dari sisa apinya"
"Itu hanya perumpamaan, kau tahu? Jadi jangan berpikiran bahwa Chanyeol benar-benar makhluk abadi seperti vampire atau semacamnya, karena beberapa orang berpikiran begitu" Kai tertawa, lalu ia berhenti saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Kyungsoo berdiri di belakangnya dengan kemeja garis-garis hitam putih dipadukan dengan celana kain hitam dan sepatu pantofel mengkilap. Dia terlihat sangat rapi kali ini, bersiap untuk pergi.
"Waktunya pergi. Yang lain sudah ada di mobil" setelah berkata demikian ia pergi, tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk berpamitan. Pun hanya terdengar suara ketukan langkah kakinya yang sedikit cepat, terburu-buru.
Lantas Kai berdiri, menepuk bagian jas nya beberapa kali seolah ada debu yang tertinggal disana, "aku pergi dulu. Jaga dirimu Baekhyun" Kai melayangkan satu kedipan mata genitnya pada Baekhyun lalu melangkah pergi dengan sedikit berlari.
"Dia aneh"
"Kau bisa mengatakan semua orang di rumah ini aneh" suara lain menyahut, berasal dari arah selatan dimana Minseok berjalan ke arah mereka dengan membawa satu wadah yang sudah sangat Baekhyun hafal, itu ice cream strawberry. Minseok terkekeh saat menyadari tatapan predator Baekhyun terhadap wadah tak bersalah yang di bawanya, ia menyerahkannya pada si mungil ketika dia sudah sampai disana, "Chanyeol mengatakan bahwa kau menginginkannya"
Udara sedikit memanas, itulah yang di rasakan Baekhyun saat ini setelah mendengar ucapan Minseok yang terdengar seperti menggodanya. Pipinya terasa terbakar hingga ke telinga dan ia cepat-cepat mengalihkannya pada ice cream yang sudah ada dalam pangkuannya.
"Kudengar Bos akan berangkat ke Qingdao besok" Minseok memecah keheningan, ia tentu mengajak bicara pada Joonmyeon, bukan pada Baekhyun yang tak tahu apa-apa dan sedang sibuk dengan ice creamnya.
"Aku juga akan kesana besok." Joonmyeon mengeluarkan satu batang rokok serta pemantiknya, mengapit batang rokok itu di belahan bibirnya lalu menyalakannya hingga asap membumbung tinggi ketika ia menghembuskan nafasnya. Minseok terlihat risih dengan asap rokok itu namun ia tidak melayangkan protes apapun.
"Apa ini ada hubungannya dengan operasi anak-anak di Hawai?" Asap rokok itu sedikit mengenai wajah Minseok dan pria berpipi bulat itu langsung mengibaskan tangannya seraya terbatuk kecil, "jika aku kena kanker paru-paru akibat menjadi perokok pasif, kau yang akan pertama aku bunuh, Kim!" Minseok menuding Joonmyeon dengan jari telunjuknya dan Joonmyeon malah tertawa seolah ancaman itu hanyalah omong kosong.
"Ya terserah kau saja" Joonmyeon menghisap kembali rokoknya, lalu membulatkan mulutnya sambil mengeluarkan asap rokok itu hingga asap rokok yang keluar berbentuk seperti cincin.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Zhou?" Kali ini Joonmyeon menggedik tidak tahu.
"Bos bilang pembalasannya tidak sesederhana yang ku pikirkan"
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Aku berpikir kita bisa langsung menyerbu ke markas utama Triad selama para tim menyebar ke belahan bumi lain untuk menghancurkan tempat yang berhubungan dengan Triad lalu dor! Zhou terbunuh oleh hand gun milik Bos" jelas Joonmyeon ditambah dengan beberapa gerakan dramatis yang membuat Minseok maupun Baekhyun mengernyit sangsi.
"Pantas saja Bos berkata seperti itu padamu" cela Minseok dengan cibiran halusnya. Tak lupa matanya juga ikut bergulir untuk mengejek Joonmyeon.
"Padahal aku belum mengatakannya padanya, tapi dia tahu lebih dulu"
Minseok mencibirㅡ lagi, "seperti tidak tahu Bos saja"
"Oho!" Mereka menoleh saat sapaan aneh itu keluar dari seorang pria tinggi bermata sayu yang baru saja datang dengan senapan angin di punggungnya. Pria itu tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya seperti daun kelapa yang melambai-lambai tertiup angin.
"Berburu lagi?" Tanya Joonmyeon. Ia membuang batang rokoknya yang masih tersisa setengah ke asbak lalu kembali bersandar pada bantalan sofa saat pria tinggi kurus itu ikut duduk di sebelah Joonmyeon.
"Tidak, ini senapan pemberian salah seorang teman berburu ku, tuan Noh. Dia bilang dia akan pensiun dari hobi nya itu karena usianya sudah tua dan dia memberikan senapannya padaku. Padahal aku punya banyak yang seperti ini" senapan angin itu beralih tempat dari punggungnya menjadi di atas pangkuannya. Mengelus laras panjang senapan itu lalu mengamati badan senapan yang terlihat sangat apik terawat.
"Kukira kau pergi ke Hawai bersama tim eksekusi" kali ini si pria tinggi mendongak dan menggeleng, terlihat kekanakkan hingga Baekhyun tak dapat berhenti menatapnya penasaran. "Ini Taozi Huang, salah satu penembak jitu utama Phoenix" ujar Minseok saat menangkap tatapan penasaran Baekhyun yang sangat menggemaskan seperti Vivi ketika masih kecilㅡ Vivi adalah anjing milik Sehun, jantan.
"Aku Huang Zitao, Minseok memang suka membalik namaku" Zitao tersenyum. Baekhyun baru menyadari bahwa Zitao memiliki 3 anting di telinga kanannya, serta tattoo Phoenix kecil yang berada di bawah telinganya. Jangan-jangan Minseok dan Joonmyeon juga punya tattoo Phoenix di tubuh mereka.
"Minseok hyung, aku mendengar pembicaraan Chanyeol di telepon dengan pamanku. Dia bilang akan mengirim mayatku besok. Apakah kalian akan membunuhku malam ini?"
Ketiga mafioso dari Phoenix itu terdiam sesaat, saling memandang sebelum terbahak bersama-sama membuat rengutan tidak suka tampak jelas di wajah si kecil Baekhyun.
"Itu tidak akan terjadi, sayangku. Mana mungkin tawanan yang akan di bunuh di ijinkan tidur nyaman di kamar Bos besar, bersama Bos itu sendiri pula" Joonmyeon tak henti-hentinya tertawa seraya mengusap air mata kebahagiaan yang muncul di sudut matanya. Baekhyun sungguh lucu dan membuat perutnya sakit akibat tertawa.
"Kau terlalu paranoid. Aku bahkan sudah mengirim mayatmu ke Tokyo, sekarang mayatnya sedang berada di perjalanan"
Seketika suasana humor itu berubah menjadi horor. Baekhyun nyaris menjatuhkan ice creamnya sedangkan Joonmyeon dan Minseok tak hentinya menatap Zitao tanpa berkedip.
"Apa?"
.
Bersambung
.
Yo!
Gue update akhirnyaaa~ maapkeun atas keterlambatannya ya. Gue janji bakal nuntasin ff ini sampe kelar. Janji pokok'e hehe. Sekarang gue baru nyimpen file nya sampe ch 11. Jadi gue itu janji sama diri gue sendiri kalo gue kelar nulis ch 11 gue bakal update ch 4, begitupun seterusnya kalo gue kelar nulis ch 12 maka gue bakal update ch 5. Alasannya? Ya biar gak berenti di tengah jalan aja gitu. Pengalaman dari yang sebelum-sebelumnya, kalo gue nulis chapternya kejar update itu susah tapi kalo file nya udah di simpen jauh jauh hari itu efektif menurut gue.
Tapi bisa aja sih gue berentiin update nya di tengah-tengah. Alasannya? Ya bisa aja kalian udah gak minat, atau ada masalah lainnya.
Oya kemaren ada yang bilang ff gue ini mirip sama ff punya orang. Haha. Okesiap gue gak marah kok, adanya kesamaan itu wajar dong ya? Manusiawi kok. Gue udah nulis ff ini sejak dulu, cuman ya kalian juga pasti tahu kan gimana acak-acakannya penulisan gue pada ff ini di akun meiyouchanbaek. Makanya gue perbaiki ini, gue ngerasa gue gagal nge gambarin sikap Chanyeol sebagai seorang mafioso, makanya gue republish di akun ini.
Oke segitu aja kali ya. Jan lupa review guys. Gue butuh pendapat kalian. Gue pengen tau dimana kekurangan gue pada penulisan ff ini. Plis kasih gue masukan oke? Gue sayang kalian.. :))
