"Kita putus, Saara." Sasuke berkata tegas pada gadis berambut panjang tersebut. Sang kekasih menatapnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana bisa lelaki yang sudah menjalin kasih dengannya selama 2 tahun ini tega mengucapkan kata putus? Padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Mereka jarang bertengkar. Tapi ….
"Kenapa, Sasuke? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?" tanyanya bergetar menahan tangis. Tangannya menyentuh tangan Sasuke. Lelaki itu mengarahkan tatapannya pada tangan yang disentuh oleh gadis itu. Ekspresinya berubah sedih. Rasa bersalah menyeruak di dadanya.
"Ini salah, Saara," jawabnya yang perlahan menyingkirkan tangan gadis itu dari tangannya. Saara tersentak. Dirinya semakin tak mengerti dengan sikap dan ucapan Sasuke. Namun dengan tegas, Sasuke tetap menatapnya. Ia harus memberikan gadis itu pengertian. Bahwa semua yang mereka jalani selama ini adalah sebuah kesalahan.
Keduanya terdiam beberapa saat setelah itu. Saara menundukkan wajahnya dan airmata jatuh menetes secara perlahan. Sasuke semakin merasa bersalah karenanya.
"Saara, maafkan aku," sesal Sasuke. Saara terdiam. "Aku tidak bisa," jeda sejenak Sasuke menarik napasnya. "… aku tidak bisa terus-menerus membiarkanmu jatuh ke dalam dosa karena hubungan kita. Aku benar-benar minta maaf."
Saara mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke tajam. Emosi terlihat jelas di wajahnya.
"Dosa? Hubungan kita ini berdosa? Haha. Yang benar saja, Sasuke! Kau bahkan tidak pernah menciumku! Kita tidak pernah melakukan zina, Sasuke! Lalu kenapa kau bilang ini salah? Aku mencintaimu. Dan kau mencintaiku. Apa yang salah dari itu, hah!?" Saara berkata dengan nada tinggi. Wajahnya memerah karena marah. Sasuke menatapnya sendu. Rasa bersalah semakin menyerangnya.
Ya Allah, aku benar-benar berdosa karena telah membuat seseorang berdosa karenaku. Maafkan aku, Ya Allah. Aku benar-benar memohon ampunan-Mu.
"Kenapa kau diam saja, Sasuke? Apa karena semua ucapanku benar?" sinis Saara. Nadanya sudah jauh lebih rendah dibandingkan tadi. Sasuke tak menjawab. Namun terlihat berpikir. Bagaimana cara menyampaikan yang baik pada gadis itu agar tak menyakitinya? Meski faktanya ia sudah menyakiti hati gadis itu.
"Saara, aku memang tidak pernah menciummu. Kita tidak pernah melakukan hubungan suami-istri," jawab Sasuke dengan nada halus. Saara mendengarkan dengan jantung yang berdebar kencang. Rasa takut akan jawaban Sasuke membuatnya nyaris kesulitan untuk bernapas. Rasanya menyesakkan.
"Tapi, kita berpacaran. Kita melakukan kencan. Berdua." Sampai tahap ini, Sasuke masih menjelaskan dengan halus. Berusaha sebaik mungkin memberi pengertian pada Saara. Gadis itu menatapnya dengan tatapan yang tak terartikan. "Agama kita melarangnya, Saara," tegas Sasuke.
Airmata Saara kembali menetes setelah sebelumnya sempat berhenti.
"Kau. Dan aku …." Ada jeda kembali dari ucapan Sasuke. Lelaki itu menarik napasnya pelan. "Kita berdua, laki-laki dan perempuan, dilarang untuk berduaan. Dan kita berpacaran, Saara. Kita melakukan banyak hal berdua." Sasuke menghentikan ucapannya lagi. Saara terlihat terpukul. Namun gadis itu tetap menatap Sasuke.
"Kita berdua melanggar aturan," lanjut Sasuke. Saara terisak pelan. Wajahnya tertunduk. "Aku yang mengajakmu untuk memulai semua ini. Aku yang menyeretmu. Aku … tak bisa membimbingmu. Dan sekarang aku sangat menyesal." Raut wajah penyesalan semakin terlihat jelas di wajah tampan Sasuke.
"Hentikan … Aku mohon jangan lanjutkan lagi, Sasuke." pinta Saara lirih.
"Maafkan aku," mohon Sasuke penuh sesal. Saara tak menjawab. Hingga akhirnya Sasuke mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum benar-benar pergi.
"Allah akan memberikan yang terbaik untukmu, Saara."
.
.
.
.
.
unpredictable
naruto©masashi kishimoto
SasuSaku - AU - Non Baku - Islamic Content
.
.
.
.
.
"Di mana kau shalat Subuh pagi tadi?" tanya Kizashi tegas. Sasuke meneguk ludahnya. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ia ingin mengusapnya. Namun rasa gugup yang menyerangnya membuatnya tak bisa melakukan itu. Terlebih lagi tatapan Kizashi yang seakan membunuhnya. Dan ia bersumpah, ia tak pernah berpikir bahwa melamar seorang gadis akan sesulit ini.
"Di rumah, Pak." Sasuke menjawab jujur. Karena pagi tadi ia bangun kesiangan. Namun ucapan Kizashi selanjutnya langsung membuatnya bungkam.
"Maaf. Saya tidak bisa menikahkan anak saya dengan orang yang tidak sempurna kelaki-lakiannya."
Sasuke melebarkan bola mata hitamnya. Tak percaya dengan segala yang ia dengar.
Dirinya ditolak hanya karena tidak shalat Subuh di masjid? Ya Allah. Dalam hati ia beristighfar. Menyadari bahwa ada sesuatu yang penting dari segala penolakan Kizashi. Membuatnya menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia yang masih jauh dari kata sempurna. Menyadari bahwa ia masih belum pantas untuk menjadi seorang imam bagi istrinya nanti.
Kata-kata Kizashi menohoknya jauh hingga ke dasar hatinya. Ia kehilangan kata-kata untuk sekadar menjawab ucapan Kizashi. Dalam hati ia menyerah. Tak menyalahkan jika Kizashi menolaknya. Karena jika ia berada dalam posisi Kizashi, mungkin ia akan mengatakan hal yang sama. Ia tak akan merelakan anaknya untuk menikah dengan laki-laki yang belum sempurna kelaki-lakiannya.
"Aku menghargai keberanianmu, Nak. Aku sangat menghargai itu," ucap Kizashi sambil tersenyum. Sasuke pun memaksakan diri untuk tersenyum.
"Terima kasih banyak," balas Sasuke.
"Tapi aku benar-benar minta maaf tidak bisa menerimamu. Ya, setidaknya untuk saat ini," lanjut Kizashi. Sasuke menatapnya tak mengerti. Maksudnya 'setidaknya untuk saat ini'?
"Assalamu'alaikum." Ucapan salam terdengar dari seorang gadis yang masuk ke rumah mereka.
"Wa'alaikumussalam," jawab ketiganya nyaris serempak. Sasuke mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang nyatanya adalah gadis yang ia incar. Gadis berjilbab syar'i itu menatapnya sekilas dan langsung menundukkan pandangannya. Sasuke pun melakukan hal yang sama ketika menyadari kesalahannya, yaitu terlalu terpesona pada gadis itu.
"Kau masuklah ke kamar, Sakura!" perintah Kizashi. Sakura mengangguk. "Bu, temani Sakura," lanjut Kizashi memerintahkan istrinya. Sakura ditemani ibunya langsung menuju ke dalam kamar. Sementara Sasuke belum beranjak dari tempatnya.
Kizashi kembali menatapnya.
"Kau pulanglah, Nak. Ini sudah hampir malam." Sasuke tersenyum singkat mendengarkan ucapan Kizashi. Ia bangkit dari duduknya diikuti oleh Kizashi.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Ya. Perbaiki dulu. Nanti kau bisa datang lagi ke sini," balas Kizashi yang langsung membuat hati Sasuke menghangat. Masih ada kesempatan kedua kah?
"Ya. Terima kasih."
Kizashi pun mengantarkan Sasuke sampai depan rumahnya. Sasuke langsung pamit dan ayah satu anak itu kembali masuk ke dalam rumahnya.
…
Duduk di dalam bus kota yang akan membawanya kembali pulang, Sasuke termenung. Teringat akan ucapan ayah gadis itu. Dan hal itu tak ayal membuatnya sedikit merasa sakit. Bukan karena penolakannya. Tapi karena ia sadar, bahwa mungkin ia masih jauh dari Allah. Bahwa ia masih harus banyak belajar.
Adzan Maghrib yang terdengar di sela perjalanannya menuju rumahnya yang kira-kira memakan waktu satu jam lagi membuatnya tersadar. Ia melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 18.05. Jalanan macet parah. Hatinya gelisah tak karuan.
Jika begini, ia tak akan sempat shalat Maghrib di rumah. Kemungkinan sampai di rumahnya ketika sudah memasuki waktu Isya. Hatinya pun semakin gelisah ketika waktu terus berjalan. Hingga akhirnya ia berdiri dari tempat duduknya dan meminta sopir bus untuk berhenti.
Sasuke turun dari bus tersebut dan mencari masjid terdekat. Ia berjalan di pinggir jalan raya sambil mengamati sekitarnya. Barangkali ada masjid di sana. Namun nihil. Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul 18.25.
Pemuda itu pun menyebrang jalan raya dan masuk ke kawasan komplek warga sekitar daerah tersebut. Dirinya kembali mencari masjid. Namun lagi-lagi nihil. Tak ada satupun masjid di daerah tersebut. Dalam hati pun beristighfar. Hatinya sedih. Sungguh ia ingin menangis saat itu juga. Namun airmatanya tak sampai keluar.
Sasuke hanya terus berjalan sambil memandangi jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.40. Waktu shalat Maghrib pun hampir habis. Batinnya benar-benar menangis sekarang. Dan ia sedikit menyesal telah turun dari bus tersebut. Padahal shalat di kendaraan pun bisa. Tapi kemudian ia kembali memohon ampun karena menyesali apa yang terjadi.
"Ada yang bisa dibantu, Dek?" Seorang kakek tua datang menghampiri Sasuke yang terlihat pasrah. Sasuke menatapnya datar. Kemudian ia sedikit melebarkan matanya. Ia tersenyum sambil mengucapkan Alhamdulillah.
"Saya mencari masjid, Kek." Sasuke menjawab sopan.
"Shalat saja di rumah kakek. Di sini gak ada masjid." Sasuke terkejut mendengar jawaban tersebut. Namun ia tak mengatakan apapun dan hanya mengikuti kakek tersebut menuju rumahnya. Ia menyelesaikan shalat Maghribnya di waktu yang tersisa. Sekaligus shalat Isya.
Kakek tua itu menyajikan air putih untuk Sasuke. Lelaki itu pun meminumnya. Ia sangat berterimakasih pada kakek tersebut. Berkat pengalamannya hari ini, ia mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa shalat janganlah ditunda-tunda. Seperti apapun situasi dan kondisinya, shalat tetaplah wajib bagi setiap Muslim. Meski apa yang ia alami membuat hatinya sedih. Di mana orang-orang seakan tak peduli dengan agamanya. Keadaan di mana beribadah menjadi sesuatu yang sulit. Lingkungan-lingkungan yang tak mendukung, ia meringis dalam hati.
…
"Ra, muka kamu kenapa kusut gitu?" Pertanyaan Ino membuat Sakura menoleh padanya. Gadis itu menatapnya dalam hingga Ino salah tingkah. "Apaan, sih Ra? Jangan natap aku kayak gitu. Disangka gak normal kita," protes Ino.
"Aku cuma lagi mikir, suatu saat nanti kita pasti akan berpisah," jawab Sakura sambil tersenyum tipis. Ino mengerjabkan matanya. Kemudian tertawa pelan. Matanya menatap lurus mobil yang berlalu-lalang. Ya, mereka berdua baru saja pulang kerja dan duduk di salah satu bangku di gang yang mereka lewati. Depan gang tersebut adalah jalan raya. Sakura menunggui Ino dijemput oleh kakaknya.
"Aku juga mikir gitu. Apa kita masih bisa kayak gini nanti, ya? Kalau kita berdua udah sama-sama nikah," sahut Ino. Ada nada kesedihan di sana. Sakura terkekeh pelan.
"Yang jelas, semua akan berbeda. Kalau udah nikah nanti kan, mau pergi kemana-mana harus ijin suami. Suami ngijinin ya, kita bisa pergi. Gak ngijinin, ya sudah. Kita harus nurut," jawab Sakura.
"Iya, sih. Tapi aku berharap, nanti kita bisa tetap kayak gini," sahut Ino sambil tersenyum. Ia menatap Sakura. Senyumannya nampak manis. Sakura balas tersenyum hingga akhirnya ia berkata, "Ino … kita bisa disangka pasangan lesbi kalau kayak gini."
Ino langsung memalingkan wajahnya dengan tatapan sok jijik pada Sakura. Sakura pun melakukan hal yang sama.
"Amit-amit deh, Ra!"
Keduanya sama-sama terdiam setelahnya. Ino sibuk dengan ponselnya, demikian pun dengan Sakura. Keduanya seolah tenggelam dalam dunia masing-masing sampai akhirnya Sakura membuka suaranya kembali. Membuat Ino mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya itu.
"Ino, lihat deh!" Sakura menujukkan akun facebook di ponselnya pada Ino. Di sana ada seorang kawan Sakura yang memposting sebuah pict bertuliskan kata-kata yang cukup menohok.
Banyak yang mengatakan, mereka ingin berhijab setelah menikah karena tidak ingin suaminya menanggung dosanya karena tidak menutup aurat.
Tetapi sadarkah kamu, nak, bahwa ayah yang menanggung dosa itu sebelum kamu menikah?
Apakah kamu tidak ingin melindungiku juga?
- Ayah -
"Kamu paham pikiran aku gak, No?" tanya Sakura sambil menatap Sakura. Tatapan Sakura yang memberikan arti tersendiri bagi Ino.
"Iya, aku paham maksud kamu," jawab Ino. Dirinya kembali memandangi ponselnya. Sakura pun begitu.
"Kasihan, ya ayah kita," ucap Sakura.
"Ya emang kebanyakan begitu, sih, Ra," sahut Ino. "Aku pake kerudung karena abis baca yang kayak gitu. Katanya 'selangkah anak perempuan keluar dari rumahnya tanpa nutup aurat, selangkah juga ia akan membawa ayahnya ke neraka'. Aku gak mau orangtuaku masuk neraka, Ra," lanjut Ino. Ia menghentikan kegiatan mengutak-atik ponselnya dan terdiam.
"Iya. Karena sebelum menikah, seorang anak itu masih tanggung jawab orangtuanya. Jadi emang benar kalau seorang anak harus berbakti sama orangtuanya, sebagaimana nanti ia harus berbakti pada suaminya kalau menikah nanti. Untuk yang perempuan maksud aku," timpal Sakura panjang lebar.
"Iya, aku paham kok, Ra," sahut Ino. "Jadi, kenapa wajah kamu tadi kusut gitu?":tanya Ino lagi. Sakura terdiam beberapa saat.
"Kemarin ada datang melamar aku," jawab Sakura dengan tampang datar.
"HAH?! Seriusan? Aku gak salah denger kan?!" Sakura menggeleng pelan mendengar pertanyaan Ino. "Alhamdulillah. Akhirnya … Kamu bakal nikah juga. Aku senang banget," ucap Ino penuh semangat. Wajahnya terlihat sangat ceria. Senyum terlukis di wajah ayunya. Namun Sakura tak berespresi seperti Ino. Raut wajahnya muram. Dan hal itu mengundang tanya di benak Ino.
"Dia ditolak ayah aku," jawab Sakura. Ino sontak tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"HAH?! Ditolak?!" Sakura mengangguk pelan. Ino terdiam lalu menepuk pundak Sakura. Ia tersenyum. "Belum jodoh, Ra. Nanti pasti dapat yang lebih baik," hibur Ino. Sakura tersenyum tipis.
"Bukan itu yang aku pikirin sebenarnya," ujar Sakura yang kembali mengundang tanya.
"Maksudnya?"
"Laki-laki yang melamar aku itu, dia laki-laki yang waktu itu melamar aku di jalan. Kamu inget, kan?" jawab Sakura. Ino terlihat berpikir. Kemudian ekspresinya kembali terkejut.
"Dia? Seriusan dia? Kok bisa?" Ino bertanya. Sakura mengangkat kedua bahunya.
"Entah, No," jawab Sakura datar. Ino terdiam dan kembali memandangi mobil yang berlalu-lalang. Namun ia terlihat berpikir. "Aku cuma berpikir, hidup itu penuh dengan misteri. Dan emang benar. Ucapan itu doa," lanjut Sakura. Ino mengangguk sambil berpikir.
"Lucu, ya?" Ino tersenyum penuh arti pada Sakura. Gadis itu kemudian tertawa.
"Ya. Aku gak masalah sebenarnya. Cuma ya itu. Aku berpikir, Allah selalu punya cara untuk mendidik hamba-Nya, memberi hamba-Nya pelajaran. Dan Allah itu ada. Dia dekat dengan kita. Sangat dekat," jawab Sakura. Ino menyetujui ucapan Sakura. "Dan aku kembali berpikir. Bahwa kita harus selalu memperbaiki diri. Setiap detik, menit, jam, hari, dan seterusnya. Karena ya itu. Kita gak akan tau apa yang akan terjadi nanti. Kita gak akan pernah tau," lanjut Sakura.
"Aku masih banyak dosa," timpal Ino.
"Aku juga banyak dosa. Tapi, setidaknya kita harus berusaha agar tidak berbuat dosa," sahut Sakura. Ino terdiam.
"Aku berharap nanti bisa mendapatkan suami yang sholeh. Yang bisa membimbing aku, Ra," ujar Ino tulus. Sakura mengangguk paham.
"Ya, karena itu kita harus belajar untuk memantaskan diri agar bisa mendapatkan laki-laki yang seperti itu."
Ino tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Hatinya menghangat. Dirinya sangat bersyukur mendapatkan sahabat seperti Sakura. Hal yang sama pun dirasakan oleh Sakura.
"Terima kasih banyak ya, Ra. Aku senang bisa kenal sama kamu."
"Ish. Apaan, sih kamu? Jadi terharu nih." Sakura tertawa. Disusul oleh Ino. Keduanya terlihat bahagia.
"Aku harap kamu mendapatkan yang terbaik, Ra."
.
end - 2,191 words
.
Bismillah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang pertama, saya mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semua yang sudah membaca dan meriview, memfave, memfollow, dan semuanya, termasuk ailent readernya juga. Terima kasih banyak :)
Yang kedua, saya gak tau ini tamatnya kapan. Tapi ini tiap chapter sengaja saya kasih tanda end aja. Karena sebenernya bisa dibaca terpisah tiap chapternya. Rumit ya bahasa saya?/plak. Hehehe
Yang ketiga, saya nulis ini sekali lagi saya bilang, ini terinspirasi dari obrolan saya sama temen saya. Dan harapan saya nulis ini, agar semua yang baca paham apa yang saya tulis bahwa ini bukan semata-mata masalah pairing. Jadi ya mohon maaf kalo berharap SasuSaku bersatu tapi ternyata nggak dan yang lainnya. Untuk ending yang sebenarnya, bakalan bersatu atau tidak, saya gak tau juga. Cuma sekali lagi, saya nulis bukan semata-mata untuk itu. Saya ingin menyampaikan apa yang saya tau, apa yang saya pelajari. Ya, meskipun ilmu saya gak seberapa.
Mohon maaf juga. Saya gak bermaksud menggurui atau apa. Tapi jika ada saran atau kritik, saya akan terima. Tapi sekali lagi, gunakan bahasa yang baik. :)
Nah sekarang ngejawab beberapa pertanyaan yang masuk :D
1. Sakura belum bercadar. Dia cuma pakai hijab syar'i. Insya Allah.
2. Saya tinggal di Jakarta.
Untuk My Evanthe, seriusan saya hampir mewek baca review kamu. :'(
Dan untuk semuanya juga, saya beneran terharu baca reviewnya... :'( saya sedih. Maaf kalau banyak kekurangan di sana-sini. Kita sama-sama belajar ya... :)
Pokoknya terima kasih banyak. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya pada kita semua. Dan mudah-mudahan kita senantiasa dilindungi, dijaga oleh Allah dari segala macam marabahaya, penyakit hati, dan segala macamnya. Aamiin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
