YO SEMUANYAAAAAAAAAA. AUTHOR KEMBALI DENGAN CHAPTER BARU. HIHIHIHI *nyengirsetan*
saya ngerasa, I'd abandoned this fic! beneran deh ._. padahal saya bisa bikin fic baru, dan update fic multichapter saya tiap hari, tapi cuma fic ini yang ga progress2. bener2. maaf sebelumnya, tapi saya jrg update fic ini karena SAYA KEHABISAN IDE PAS SAYA NGELIATIN FIC INI DI DEPAN MS. WORD SAYA. oke boong, sebenarnya ide-ide banyak mengalir di otak saya. tapi pas uda mikirin adegan lemonnya? saya langsung blank wahahahah -_-
dan pas mau update fic ini, saya baru keingetan saya mesti ngeprint laporan saja. dan sebelum ngeprint mesti dipriksa juga typosnya. bener2 nyiksa. dan lebih parahnya lagi, di akhir2 saya ngeprint tintanya ABIS! gimana ga kesel? ngek bngt dah. *malah curhat*
oh ya untuk yg mengharapkan lemon di chapter ini jangan banyak berharap ya :p lemon bakal muncul di chapter selanjutnya. jadi harap bersabar.
okeh tanpa banyak omong lagi, enjoy minna~
taintedIris proudly presents
Alive Doll
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Me
gajeness, typos bermekaran ( ? ) rated M. OOC. AU.
don't like don't read. simple as that.
.
.
.
Suasana kafetaria Konoha High ramai seperti biasanya. Anak-anak yang kelaparan kini menyerbu meja makan di sana. Ada yang datang hanya untuk menikmati secangkir teh, kopi, atau segelas jus sambil bercengkrama. Namun ada juga yang datang untuk makan, seperti yang dilakukan oleh seorang anak bernama Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke. Si lelaki dengan rambut berwarna pirang dan iris sebiru langit musim panas itu kini tengan bergulat dengan mangkuk ramen porsi ekstra jumbo ketiga di depannya, sedangkan lelaki yang duduk di depannya kini sedang menatap sisi lain kafetaria dengan bosan. Sejak kemarin moodnya sangat jelek karena kekasihnya membatalkan janjinya untuk bertemu, dan terpaksa ia harus melampiaskan kekesalannya dengan wanita-wanita murahan yang bisa ia temui di klub malam langganannya. Meskipun gairahnya telah terpenuhi dengan bermain bersama 3 wanita sekaligus, tapi tetap saja pemuda dengan iris segelap malam itu merasa kesal. Pasalnya si kekasih yang ia tunggu tidak mengontaknya hingga sekarang! Jangankan menelepon, menemuinya saja wanita itu tak mau! Benar-benar wanita sialan! Ia, Uchiha Sasuke yang terkenal sebagai penakluk wanita, dimana setiap wanita selalu tunduk padanya dan memenuhi keinginan sang raja, masa telah dipermainkan oleh seorang wanita yang bahkan amatlah sangat tidak menarik? Dulunya tidak menarik, tentu saja.
"Kau kenapa teme? Moodmu sedang jelek?" tanya si rambut blonde disela-sela acara makannya. Sasuke mendengus melihat cara temannya makan yang seperti kanibal menurutnya.
"Hn." Jawab lelaki itu singkat. Si blonde pun tidak berniat lagi bertanya dan kembali melanjutkan makannya. Iris kebiruan lelaki itu melihat kesekelilingnya. Irisnya terbelalak lebar melihat sosok yang ia kenal memasuki kafetaria itu.
"Hey teme. Itu kan kekasihmu!" tunjuk Naruto. Sasuke melirik ke arah yang ditunjuk oleh temannya itu. Betapa terkejutnya Sasuke melihat pemandangan yang baru saja ia lihat. Kekasih barunya memang datang ke kafetaria itu, namun ia tidak sendirian, melainkan bersama lelaki berambut berwarna semerah darah yang amat ia kenal! Siapa lagi kalau bukan Akasuna Sasori, saingan sekaligus musuh besarnya selama kurang lebih 7 bulan ini. Dan lelaki itu dengan santai merangkul kekasihnya. KEKASIHNYA! Tangan Sasuke mengepal kuat, emosi membuncah di dadanya. Lelaki itu tanpa berpikir panjang langsung berjalan menuju 'pasangan' di depannya. Ia menarik tangan si wanita musim semi, menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"KAU! Bagaimana bisa kau mencampakkan kekasihmu sementara kau pergi dengan pria lain?!" bentak lelaki itu sambil memelototi kedua insan di depannya. Sakura menghentakkan tangannya kasar. Dan berkat suara keras Sasuke, hampir seluruh populasi Konoha High yang sedang sibuk melakukan kegiatannya masing-masing kini mengalihkan pandangannya ke arah sepasang kekasih baru yang tengah bertengkar itu. Bisik-bisik pun mulai terdengar.
"Hei lihat, Sasuke-kun bertengkar dengan Sakura-san."
"Rasakan! Siapa suruh wanita itu sok kecantikan dan berani menggoda Sasori-kun?"
"Hahaha, kuharap mereka segera putus saja!"
"Kasihan Sasuke-kun, pacarnya murahan!"
Desas desus itu bahkan terdengar hingga ke telinga Sakura, membuat batin wanita itu semakin panas. Namun karena ia tidak ingin merusak rencananya, maka ia memilih untuk meredam emosinya.
"Aku? Mencampakkanmu? Aku ini ada urusan pekerjaan dengan Sasori-kun, kenapa kau melarangku dekat-dekat dengannya?" tanya wanita itu dengan nada yang tenang. Tak terlihat sedikitpun kalau wanita ini sedang kesal. Sasuke jadi merasa aneh, kenapa wanita di depannya ini tak bertanya dimana ia semalam?
"Urusan pekerjaan? Atau urusan percintaan?" sindir Sasuke dengan nada mengejek. Seringai sekilas terlihat dari bibir wanita itu, namun secepat kilat seringai itu berubah menjadi air mata. Sasuke terkejut melihat air mata yang kini menggenangi pelupuk mata wanita di depannya.
"Kau menuduhku berselingkuh, begitu?" tanya wanita di depannya dengan parau. Buru-buru Sasori menyelanya.
"Kami hanya berhubungan karena urusan pekerjaan, tak lebih." Ujar lelaki itu sambil merangkul wanita di sampingnya, berusaha untuk menenangkan si wanita. Sasuke yang melihat pemandangan di depannya itu semakin kesal. Ia pun langsung menarik tangan wanita itu paksa.
"Ikut aku." Ujar Sasuke sambil menyeret tangan sang kekasih paksa, meninggalkan si 'biang masalah' dan kafetaria itu, menuju ruang kelas yang sepi. Sakura menundukkan kepalanya, seringai muncul dari bibirnya yang memerah itu. Sedangkan Sasori melihat sepasang kekasih yang meninggalkannya itu dengan seringai yang menghiasi wajahnya.
"Sasuke, sakit. Tolong lepaskan." Rintih si wanita yang tengah diseret oleh lelaki di depannya ini. Rintihan palsu, lebih tepatnya. Namun si lelaki tidak mengubris dan terus berjalan, membuat wanita yang berada di belakangnya merengut kesal.
'Kelihatannya aku telah membuat si Uchiha ini benar-benar marah.' Batin wanita itu dengan seringai licik menghiasi wajahnya yang cantik. Ia membiarkan saja lelaki di depannya ini terus menyeretnya. Hingga akhirnya mereka tiba di kelas Sasuke yang tidak berpenghuni. Sasuke langsung membuka pintunya dan memaksa Sakura masuk, lalu ia menutup pintu di depannya itu dengan kasar. Sasuke langsung menarik tangan kekasihnya dan merapatkan tubuh si wanita di tembok, sedangkan ia mengunci pergerakan kekasihnya itu.
"Jelaskan padaku, kenapa kau tidak mengangkat teleponku dan menelantarkanku hingga sekarang!" teriak Sasuke gusar. Sakura yang melihat kondisi lelaki di depannya mau tidak mau harus berusaha sedikit keras untuk menahan tawanya. Lelaki di depannya ini sebegitu marahnya kah ketika ditinggalkan oleh dirinya? Bahkan permainannya baru saja dimulai, batin Sakura.
"Aku sibuk. Kukira kau dapat mengerti Sasuke-kun." Ujar si wanita sambil melingkarkan tangannya di leher si lelaki. "Maaf kalau kemarin aku tidak menghubungimu. Kau tahu, aku sangat sibuk, bahkan aku baru saja pulang pukul 1 pagi. Saat aku bangun baterai handphoneku habis, makanya aku tidak sempat menjelaskannya padamu. Lalu saat tadi aku ingin menemuimu saat jam makan siang, Sasori-kun menghampiriku karena urusan pekerjaan." Terang wanita itu dengan nada manja, yang tentu saja adalah bohong besar. Sasuke mendengus.
"Lalu kenapa kau tidak mendatangiku tadi pagi?" wajah lelaki beriris onyx itu kini tidak setegang sebelumnya, menandakan amarah dalam dirinya telah mereda.
"Aku 'kan bangun kesiangan Sasu-kun. Aku saja masih amat lelah karena belum terbiasa dengan pekerjaan ini." Wanita di depan si lelaki Uchiha itu menatap si lelaki dengan mata yang sayu dan menggoda, membuat gairah Sasuke bergejolak.
"Ah jadi kau lelah? Apa kau mau aku memijitmu?" tanya si lelaki beriris onyx itu dengan nada menggoda. Sakura 'pun mengangguk, seringai muncul kembali menghiasi wajah si wanita bersurai merah muda itu. Perlahan Sasuke membalikkan tubuh wanita yang berada di depannya menghadap tembok, dengan tubuhnya yang menekan punggung si wanita. Tangannya kini menyusup dari balik punggung si wanita, membelai payudara di depannya yang masih tertutup oleh pakaian si wanita. Kini terdengar desahan tertahan dari mulut si wanita.
"Tak berniat untuk mengeluarkan desahanmu huh? Bagaimana kalau ini?" Sasuke langsung meremas payudara si wanita kencang, membuat si wanita memekik.
"Aaaakh … Sa..Sasukhe… Hyaaaa~"
Desahan wanita itu langsung terhenti ketika wanita itu merasakan jari si pria kini telah menyusup ke dalam celana dalamnya. Jari Sasuke langsung bergerilya, membelai lubang si wanita yang kini telah mulai basah dan berkedut. Nafas Sakura tercekat ketika merasakan tangan kotor lelaki di belakangnya mulai memasuki lubangnya sambil meremas payudaranya kuat, namun tidak ia lawan. Justru semakin lelaki ini tergila-gila akan tubuhnya maka permainan ini akan semakin menyenangkan.
"Annhh~ Sasuke-kun. Masukkan jarimu sayang~" desah wanita itu sambil mengarahkan tangan Sasuke untuk memasukkan jarinya lebih dalam. Tanpa menolak, si lelaki langsung memasukkan 2 jari dalam lubang itu, membuat si wanita mendongakkan kepalanya ke belakang menikmati sentuhan pada vaginanya.
"Aaaaah Sasuke-kun~ lebih cepat Aaaaakh ya se…seperti ...Hyaaaah!~ itu …" desah Sakura, membuat Sasuke semakin bergairah dan bernafsu. Kini lelaki itu memasukkan jari ketiganya, sementara kejantanannya terus ia gesekkan pada gundukan kenyal dan kencang yang berada di depannya. Entah sejak kapan celana dalam perempuan di depannya itu sudah diturunkan ke bawah, sedangkan roknya kini sudah terangkat hingga ke atas pinggulnya. Kini Sasuke membuka celananya, dilanjutkan oleh boxers dan celana dalamnya. Saat ia akan memasukkan kejantanannya dalam lubang wanita di depannya ini tiba-tiba..
BRAK!
Sejoli yang sedang dimabuk oleh nafsu dan gairah itu kini mengalihkan pandangannya. Di depan pintu terdapat 3 orang perempuan yang tercengang melihat pemandangan di depannya.
"Ma… Maafkan kami. Kami permisi!" ketiga perempuan malang itu langsung berlari menjauh dari lokasi kejadian, meninggalkan kedua orang yang masih berada di sana. Sakura langsung memakai celana dalamnya dan merapikan roknya, sedangkan Sasuke kini mengeram kesal. Gara-gara kejadian tak terduga itu, semuanya jadi kacau! Sasuke kini melihat Sakura yang telah memakai seragamnya dengan rapi lagi, membuat Sasuke semakin jengkel. 'Kenapa wanita di depannya ini tidak kembali mengajaknya melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda? Menyebalkan sekali!' batin lelaki itu kesal. Sebenarnya ia mau saja menarik wanita itu dalam pelukannya dan kembali melanjutkan kegiatan mereka tadi, namun gengsi seorang Uchiha itu terlalu tinggi! Tidak mungkin ia akan mengajak wanita di depannya untuk melakukannya, apalagi wanita ini baru saja merusak citra yang ia jaga selama ini dengan membuatnya cemburu dan menuduhnya berselingkuh. Ck, benar-benar memalukan.
Sakura yang sedari tadi mengamati keabsenan sang Uchiha dalam berbicara kembali menyeringai. Ia tahu, bahwa sang Uchiha pasti ingin ia memohon padanya untuk melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda, namun ia tidak akan melakukannya, toh dia tidak menginginkan hal ini. Apalagi ia baru saja mempermalukan Uchiha itu di depan kafetaria dengan membuat si lelaki menuduhnya, dan ia tepis tuduhan itu dengan alasan yang masuk akal; pekerjaannya. Seringai wanita bersurai merah muda itu semakin melebar. Rasakan itu Sasuke Uchiha!
"Hmm Sasu-kun, sebaiknya kita pergi ke kafetaria. Aku lapar sekali, aku 'kan tidak sempat makan malam dan sarapan pagi." Bujuk Sakura sambil merengek dilengan Sasuke Uchiha, namun segera ditepis oleh Sasuke.
"Kau makan saja sendiri, aku sedang tidak berselera!" ujar lelaki itu kasar. Namun bukannya wajah cemberut yang ditampilkan wanita disampingnya itu, seringailah yang kini menghiasi wajahnya. Tapi secepat kilat pula seringai itu tak terlihat.
"Oh kau mau aku makan sendiri?" tanya wanita bersurai merah muda itu. Sasuke tidak menjawab. Sakura pun mengendurkan pegangannya dilengan pemuda di sampingnya. "Baiklah, aku akan makan bersama Sasori-kun saja." Lanjut wanita itu, membuat Sasuke mendelik. Ia pun langsung bangkit dan menarik tangan wanita di depannya.
"Jangan berani-berani kau melakukannya. Aku temani!" Sasuke pun membawa wanita di sampingnya itu ke kafetaria, dengan seringai licik yang tak lepas dari wajah wanita itu disepanjang perjalanan kecil mereka.
.
.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran untuk hari ini telah berakhir. Seluruh murid bersorak-sorak dan segera membereskan buku-buku dan tas mereka. Sakura kini telah keluar dari kelas. Kakinya yang jenjang terus berjalan, mengarahkan sang pemilik menuju tempat parkiran mobil Akasuna Sasori yang ia yakini telah menunggunya. Namun saat Sakura tengah berjalan melewati ruang UKS yang sepi ia melihat sesosok lelaki yang amat ia kenali sedang berada di dalam sana. Senyum pun muncul disertai rona merah dikedua pipinya. Sakura membuka pintu itu perlahan, ia berjalan dengan sedikit berjinjit. Namun saat akan membuka gorden penutup ranjang ia dapat mendengar suara dibaliknya.
"Aaaah Sa… Sasori-sama~ lebih cepat~"
Sakura langsung membatu mendengar nama Sasori yang didesahkan wanita tak dikenal itu. Mendadak rasa sakit menjalar di dadanya diiringi oleh air mata yang mulai tercipta di matanya. Perlahan Sakura berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, meninggalkan pasangan yang sedang berada di dalam surga dunia itu berduaan. Sakura kini mengubah arah tujuannya, dari tempat parkiran mobil sang tuan menuju gerbang sekolah. Ia memutuskan hari ini ia akan naik bis untuk pergi ke tempat kerjanya.
.
.
"Heh Sakura-chan, kau sudah datang? Tumben tidak datang bersama Akasuna-san."
Kedatangan Sakura langsung disambut oleh seorang wanita yang berusia 3 tahun lebih tua darinya. Wanita itu merupakan make-up artist sekaligus sahabat baru Sakura, Ino Yamanaka. Sebenarnya kalau dilihat-lihat, make up artist-nya ini amat cantik. Rambut blonde pucat, iris bagaikan batu aquamarine yang indah, tubuh yang proporsional dan kaki yang jenjang. Namun entah kenapa wanita Yamanaka ini tidak mau menjadi model, dengan alasan karena ia lebih menyukai dunia make-up dari pada modeling. Ya, setiap orang memiliki hak untuk memutuskan apa yang ia ingin kerjakan bukan?
"Dia sedang sibuk," jawab Sakura dengan wajah lesu. Ino yang melihat sahabatnya ini sedang bersedih langsung merangkulnya.
"Ah, tidak perlu bersedih begitu, Sakura-chan. Hey tebak, majalah kita menerima fotografer baru! Dan kau tahu, fotografer itu tak kalah menawannya dari Akasuna-san. Aku jamin kau tidak akan merasa sedih lagi, justru merasa senang karena dapat mencuci mata, hihihi." Celoteh Ino yang diakhiri dengan cengiran khasnya. Mau tidak mau Sakura akhirnya tertawa juga. Benar juga, ia tidak boleh larut dalam kesedihannya. Toh sejak awal Sasori sudah menegaskan kepadanya bahwa hubungannya dengan lelaki itu hanyalah tuan dan bonekanya. Dan dengan wajah yang menawan dan kebaikan hatinya tentu lelaki beriris hazel itu memiliki banyak boneka untuk dimainkan, bukan?
Kesedihan kembali merayapi benaknya, namun segera ia tepis jauh-jauh. Ya, ia tidak boleh bersedih. Ia tidak ingin pekerjaannya kacau karena ia terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia pun kembali memasang senyum di wajahnya.
"Baiklaaaaaaah. Tapi kalau dia tidak sesuai dengan seleraku, kau harus mentraktirku makan ya Ino-chan!" ucap wanita itu bersemangat. Ino mendengus.
"Huh, boleh saja. Tapi kalau ia sesuai seleramu, kau yang harus mentraktirku makan!" tantangan Ino pun dibalas dengan anggukan mantap Sakura. Mereka tertawa dan setelah itu mereka segera berjalan menuju ruangan Sakura sambil mengobrol sepanjang perjalanan.
.
.
Sakura kini mengenakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya. Sepasang heels setinggi 10 cm menghiasi kedua kakinya yang jenjang. Rambut wanita itu dikuncir ke samping dengan kunciran yang sedikit naik. Rambutnya diikal dan pasangkan jepitan berbentuk bunga mawar berwarna hitam. Wajah Sakura hanya dipolesi dengan make up yang tipis, membuat kecantikan Sakura semakin terpancar. Sakura mengenakan aksesoris dari batu-batuan dan mutiara dilehernya. Dan gelang dari bebatuan dan mutiara yang melilit dari lengannya hingga pergelangan tangannya. Ino berjalan di samping wanita itu sambil membawa mantel bulu yang terlihat sangat lembut dan mahal. Mereka terus berjalan hingga mereka tiba dilokasi pemotretan. Sakura membuka pintu ruangan di depannya dan mendapati seorang pemuda dengan rambut hitam sedang mengatur kameranya. Ia pun mulai memperhatikan lelaki di depannya itu. Pemuda itu mengenakan kaos berwarna hitam dengan leher rendah dengan celana berwarna putih. Lelaki itu pun mengenakan sepatu converse berwarna hitam dan putih.
Lelaki yang sedang diamati itu pun membalikkan wajahnya dan mendapati model sekaligus make-up artist -nya telah tiba di lokasi. Lelaki itu pun menyunggingkan senyum tipis yang berhasil membuat Ino meleleh di tempat dan memunculkan semburat kemerahan tipis di pipi Sakura.
"Hai. Sakura Haruno, benar?"
Lelaki itu kini berjalan menuju modelnya, meninggalkan kameranya yang sepertinya belum selesai diatur. Sakura menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah pemuda yang kini ada di depannya, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ya, dan kau?" tanya Sakura sambil membalas jabatan tangan lelaki di depannya.
"Sai Shimura. Senang berkenalan denganmu. Ah dan kau, wanita berambut blonde, siapa namamu?" Sai pun melepaskan jabatan tangannya dari Sakura, beralih kepada wanita berambut blonde di sampingnya. Wanita itu dengan malu-malu membalas uluran tangan yang kini ada di depannya.
"Ino Yamanaka. Senang bertemu denganmu." Jawab wanita itu. Sai pun mengangguk lalu melepaskan tangannya dari tangan wanita yang berada di depannya.
"Aku masih harus mengatur kameraku. Jadi, apa kalian tidak keberatan untuk menunggu sebentar? Tanya lelaki itu. Sakura dan Ino pun mengangguk.
"Tidak masalah, iya 'kan Sakura-chan?" tanya Ino.
"Ya tentu saja. Atur saja kameramu Shimura-san." Jawab Sakura sambil tersenyum. Sai yang melihat senyuman itu langsung merasa gugup.
"Baiklah. Dan tolong, panggil aku Sai saja," ujarnya.
"Tentu, Sai." Balas Sakura. Sai mengangguk sambil tersenyum dan segera kembali ke posisinya semula, mengatur kamera yang ada di depannya. Ino langsung menyikut Sakura yang ada di sampingnya.
"Bagaimana, dia tampan bukan?" tanya Ino dengan nada menggoda. Sakura tertawa kecil.
"Baiklah, kau menang Ino sayang. Jadi kita akan makan dimana nanti malam?" tanya Sakura sambil tersenyum. Ino langsung bersorak riang, dengan suara yang pelan tentu saja.
"Hmm, baiklah, enaknya kemana ya?"
"Hei Sakura, kita bisa memulai pemotretannya." Teriak Sai dari tempatnya berdiri. Sakura langsung bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh Ino yang masih memikirkan makanan yang ingin ia makan nanti malam. Sakura mulai melepaskan jubah mandi yang melekat ditubuhnya, menampilkan kepada pemuda di depannya tubuhnya yang terbalut lingerie tipis berwarna hitam yang amat seksi, membuat Sai harus menelan ludah melihat pemandangan indah di depannya. Ino segera mengambil jubah mandi Sakura, sambil memberikan kepada Sakura mantel bulu ditangannya. Sakura memposisikan dirinya sendiri. Ia duduk di atas kursi yang memang sudah tersedia di sana.
"Kenapa Sai? Gugup?" tanya wanita itu sambil menyeringai. Sai pun mengangguk perlahan.
"Yeah. Ini adalah yang pertama kalinya untukku." Katanya perlahan.
"Jangan malu Sai. Aku awalnya juga merasa sangat malu saat pertama kali melakukan pekerjaan ini, tanya saja Ino." Sai melirik ke arah Ino dan langsung dibalas dengan anggukan oleh si wanita berambut blonde pucat itu. "Namun setelah terbiasa pekerjaan ini terasa amat menyenangkan. Jadi rileks saja oke?" lanjutnya sambil tersenyum, berusaha memberikan semangat dan meredakan rasa gugup lelaki di depannya. Perlahan lelaki itu, Sai, mengambil nafas dan mengangguk. Sakura tersenyum kembali.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Dan sesi pemotretan pun dimulai.
Jam kini telah menunjukkan pukul 7 malam, dan sesi pemotretan Sakura telah berakhir. Kini Sakura telah mengenakan kembali jubah mandinya. Ia duduk berhadapan dengan Ino dan Sai di sebuah meja dalam studio sambil bercengkrama. Sesekali Sakura melirik ke arah handphonenya lalu menghela nafas. Sai yang melihat gerak-gerik Sakura langsung bertanya.
"Ada apa? Kau menunggu seseorang, eh?"
Sakura hanya membalasnya dengan anggukan. Sementara Ino langsung mengalihkan arah pembicaraan.
"Hei, sekarang kan sudah jam 7, sudah lewat jam makan malam! Bagaimana kalau kita makan sekarang? Sakura yang traktir." Ucap Ino.
"Oh ya? Aku tak sadar sudah jam 7. Ternyata bekerja denganmu dapat membuatku lupa waktu Sakura." Ujar Sai sambil menatap lawan bicaranya. Sakura mau tak mau merasa malu mendengar ucapan pria di depannya.
"Eehmm, terima kasih Sai." Balas Sakura. Ino langsung berdeham.
"Jadi, kita akan makan dimana?" tanya perempuan itu sambil melirik ke arah orang-orang di depannya. Sakura langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Kau diskusikan bersama Sai saja Ino. Aku akan ke ruanganku dulu untuk berganti baju." Kata Sakura. Ia langsung berjalan keluar, meninggalkan sepasang anak manusia yang ia kenal berduaan di studio pemotretan. Ia bergegas menuju ruangan riasnya. Setelah sampai, ia melepas lingerie yang melekat ditubuhnya, memakai pakaian dalam dan pakaiannya kembali, melepaskan aksesoris-aksesoris yang masih terpasang di tangan dan lehernya. Sakura kini memakai sepatu sekolah dan mengambil tasnya, setelah itu ia keluar dari ruangannya. Namun baru saja ia membuka pintu ruangannya, ia langsung melihat sesosok lelaki dan sesosok perempuan di depannya. Tak perlu ia tebak, karena ia mengenali sosok-sosok tersebut.
"Jadi, kalian sudah tentukan dimana?" tanya Sakura. Kedua sosok di depannya itu mengangguk.
"Aku tak menyangka kau itu masih murid SMA, Sakura." Ungkap Sai. Sakura tertawa kecil.
"Pada awalnya semua orang juga tidak menyangka kalau aku ini masih SMA." Ucap Sakura sambil tersenyum, dan dibalas oleh anggukan tanda mengerti Sai. Mereka pun berjalan bersama menuju mobil si pemuda sambil bercakap-cakap. Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan kepergian mereka. Dan orang itu nampaknya amat tidak senang.
.
.
Kini ketiga anak manusia itu telah tiba disebuah restoran sederhana yang menyajikan masakan tradisional jepang. Ketika mereka masuk, kedatangan mereka langsung disambut oleh seorang lelaki tua.
"Ah Sai, lama tidak datang. Membawa teman, eh?" tanya si lelaki tua setelah melirik ke arah dua orang perempuan yang sibuk memperhatikan restoran yang baru mereka masuki ini. Sai mengangguk.
"Ya paman. Tolong, menu yang seperti biasa ya." Kata Sai kepada si lelaki tua. Lelaki itu mengangguk.
"Tentu saja. Untukmu akan aku buatkan yang spesial. Sekarang kalian duduk dulu saja dan menunggu hidangannya. Tanpa perlu diantarkan, Sai membawa Sakura dan Ino ke tempat duduk yang biasa ia tempati ketika ia makan di restoran ini. Setelah duduk Ino langsung berbicara.
"Hei Sai, ini restoran langgananmu? Aku tidak tahu ada restoran masakan tradisional Jepang yang sebagus ini di daerah sini." Ujarnya.
"Yeaaah. Restoran ini milik teman ayahku. Tidak ramai memang, tapi makanan di sini enak sekali." Terang Sai. Kini pandangannya teralih pada Sakura yang sedari tadi melihat handphonenya dengan wajah sedih. "Bagaimana menurutmu Sakura?" Sakura langsung terlonjak mendengar namanya dipanggil. Ia dengan membentuk senyum gugup dari bibirnya.
"Hmm … Bagus kok, aku suka. Simple dan nyaman." Jawabnya. Sai menatap dalam wanita di depannya.
"Ada apa Sakura?" tanya Sai. Sakura hanya menggeleng lemah sambil tersenyum. Sai melirik ke arah Ino dan dibalas oleh Ino yang hanya mengangkat bahunya.
"Hei Sai, sebelumnya kau bekerja di mana sebelum bekerja di majalah kami?"
Sai pun mulai menjawab pertanyaan Ino, berusaha untuk membuat Sakura lupa dengan apa yang membuat Sakura bersedih. Dan sepertinya itu berhasil. Makan malam mereka pun dihiasi dengan makanan yang lezat dan Sai yang sesekali mengeluarkan lawakan dan dibalas dengan tawa dari kedua wanita di depannya.
Kini mereka telah selesai menikmati makan malam mereka dan tagihannya pun diantarkan. Saat Sakura akan membayar makanan mereka Sai langsung menghalangi Sakura. Ia mengeluarkan kartu kreditnya lalu menyerahkan kepada pelayan restoran tersebut dan langsung disambut oleh omelan Sakura.
"Kan sudah Ino bilang aku yang traktir, kok kamu yang bayar Sai?" dengus wanita dengan surai merah muda itu kesal.
"Tidak apa Sakura. Anggap saja ini sebagai rasa syukurku karena kita dapat bekerja sama dalam pemotretan." Ucap Sai, sukses membuat wajah Sakura kembali memerah karena melihat senyum lembut Sai.
"Baiklah …" ucap Sakura setelah beberapa saat dia terdiam. "Tapi lain kali biarkan Ino mentraktirmu." Ucap Sakura spontan, membuat yang namanya dipanggil kaget.
"Eeeeeh kok aku? Hmm baiklah, karena aku adalah orang yang baik hati," ucap si wanita berambut blonde itu bangga. Sakura mendengus.
"Huh, baik sekali untuk selalu meminta traktiran dariku," sindir Sakura. Ino langsung membekap mulut wanita di sampingnya.
"Apa sih Sakura-chan? Sai, jangan dengarkan ucapannya. Dia ini memang suka sekali membual," bela Ino. Sai hanya bisa tertawa melihat tingkah sepasang perempuan di depannya ini.
"Sekarang sudah malam, sebaiknya aku antar kalian berdua saja. Oh ya jangan menolak, karena aku tidak akan membiarkan seorang perempuan pulang tanpa kawalan laki-laki malam-malam begini." Ucap Sai sambil menyeret kedua teman barunya itu. Sakura dan Ino langsung tersenyum karena perlakuan teman barunya itu. Kini Sakura beranggapan bahwa tidak semua lelaki adalah seorang yang brengsek.
.
.
Sai kini menghentikan mobil sport berwarna peraknya di depan rumah Sakura- ah lebih tepatnya rumah Sasori. Sebelumnya Sai telah mengantarkan Ino terlebih dahulu, karena apartemen si wanita beriris aquamarine itu memiliki jarak tempuh lebih dekat dari rumah kawannya ini. Sakura pun langsung membuka pintu mobil berwarna perak itu. namun sebelum ia masuk ke dalam rumah yang terkenal angker itu, Sakura berbalik dan memegang pundak Sai.
"Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih untuk makan malam dan antarannya, Sai. Sampai jumpa lain waktu." Sebelum Sakura sempat membalikkan tubuhnya, ia merasakan tangan si pemuda memegangi tangannya. Pemuda itu hanya mencengkramnya biasa, tidak kasar seperti yang selalu dilakukan Sasori dan Sasuke. Sakura pun merasakan sensasi aneh di dadanya melihat wajah Sai yang tersenyum. Jantungnya kini berpacu lebih cepat dari pada biasanya.
"Boleh aku meminta nomor handphonemu? Hmm yah untuk jaga-jaga kau tahu … Ah tapi aku tidak memaksamu Sakura, sungguh." Kata lelaki berambut hitam itu terbata-bata. Sakura langsung mengambil pena dari tasnya kemudian menarik tangan Sai. Ia mencatat nomor handphonenya di atas kulit telapak tangan pria di depannya.
"Jangan kau sebarkan ya?" ucap si wanita bersurai merah muda itu malu-malu. Sai pun mengangguk dengan semburat merah yang terlihat samar di pipinya yang pucat.
"Ah ya, terima kasih Sakura." Lelaki itu kembali menyalakan mesin mobilnya dengan Sakura yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. Lelaki itu kini melajukan mobilnya menjauh dari wanita yang baru saja ia kenal. Senyum terpatri di wajahnya yang tampan.
'Sepertinya aku jatuh cinta kepada wanita itu.'
Sakura yang sudah tidak melihat tanda-tanda mobil sport Sai kini masuk ke dalam rumah yang ia tempati. Hal yang pertama ia lihat adalah mobil Porsche merah Sasori yang terparkir di sudut halaman rumah.
'Sepertinya Sasori sudah pulang dari 'acara'nya,' batin Sakura. Kemudian Sakura masuk ke dalam rumah itu. Sunyi, itulah yang pertama kali Sakura rasakan saat menginjakkan kakinya di ruangan utama rumah itu. Sakura yang telah terbiasa dengan kesunyian itu pun segera naik ke lantai tertinggi rumah itu, menuju kamar yang ia tempati bersama Sasori. Setelah sampai, ia pun membuka kamarnya. Betapa terkejutnya Sakura saat mendapati kamar yang ia tempati itu masih gelap, seperti belum dikunjungi oleh pemiliknya.
'Apa Sasori pergi lagi? Ah tidak mungkin, mobilnya bahkan masih terparkir di halaman. Lalu dimana lelaki itu?' batin Sakura. Sakura menutup pintu dan langsung menekan sakelar lampu yang berada di sampingnya. Sakura langsung terlonjak ketika melihat sesosok lelaki dengan rambut sewarna merah darah duduk di ujung tempat tidur mereka dengan ikat pinggang di tangannya. Lelaki itu menyeringai lebar, membuat Sakura bergidik ngeri.
"Bagaimana acaramu hari ini Sakura-chan? Menyenangkan?"
.
.
.
To Be Continued
Dan akhirnya saya memunculkan karakter Sai di chapter ini. gara2 ada seseorang yang nanya soal pihak ketiga gitu deh ( makasi ya sarannya sayang, hihi :3 ) gimana2? hihi. jujur saya suka sama Sai. karena walaupun dia emng kadang rese tp tetep aja manis, *peluk Sai* *maunya*
yak saatnya bls review ~
Meychan: ini sudah update :3 yeeeey.
Kiki RyuEunTeuk: ini uda lanjut ki ^^ hehe makasi ya.
Sky pea-chan: ini uda update pea-chan :3
Namikaze GigglesBarlow: hehe mirip apanya giggles-san? makasi ya, tapi saya ga jago kok, masih harus belajar banyak. makasi untuk review dan favnya :D
zetta hikaru: hihi iya :p uda di update zetta-san. ini kilat ga? wahahahah *senyum miris*
jung hana cassie: hehe makasi. aku ini VIP, biasku GD oppa :D dan aku juga elf. salam kenal juga hana unnie ^o^
Kogayama Hanasaki: aku lagi ga bete, ga pake lemon soalnya aku bisa konslet beneran bikin lemon disetiap chapternya *boong besar* sebenernya ga bikin lemon terus karena kalo lemon terus ntr alurnya ga maju2 Kogayama-san. makasi untuk semangatnya :DDD
Shikuarichido: kamu ngerasa adegan itu so sweet? yeeeey ternyata ada yg sependapat sama saya *pelukciummesra* emng, tp kan ceritanya di sini Sasuke jg badboy, jadi anggaplah karma ( bukannya aku mau bashing Sasuke, tp ini demi alur cerita aku ) uda update nih, hehe :D
Sakusasu 4ever: hehe maaf ya saku-chan, tapi ini ud lebih panjang dari chapter kemarin kok. makasi ya ud suka sm fic ini *pelukerat *cipokmesra *ditabok. ini uda update :D gimana? kilat ga?
Mikyo: ini uda update say. hihi makasi untuk semangatnya ^o^)/
Unyu: wah kalo mereka jd pasutri beneran aku patah hati dong? hiks :'( ini uda update, gimana? kilat ga? *ketawa miris* anyway makasi yaaa :D
KYUMINRA: iyaa, aku uda sedikit observasi via mbah google. masih grogi sama BDSM itu. semoga ga ancur deh wahahahah. soal Sasori suka sama Sakura itu gimana ya? hmm. ra-ha-si-a :p diikutin aja critanya :D salam hangat elf :3
kimichi-kun: ah, ga serajin itu nek, aku update juga gara2 kebetulan ud kebelet ngetik, kalo engga ya engga. pfft *ketauan malesnya* soal itu tenang aja, bisa diatur *ketawasetan* ini uda lanjut nek. makasi untuk semangatnyaaaa :D
kuru little girl: ini ud update kuru-chan, hihi. semoga chapter ini ga bikin kamu bosen ya :'D
Mewchan: ini ud update, dan lebih panjang dr chapter 3. semoga terhibur mew-chan :3~
Reine: hehe uda keliatan kan siapa yang muncul? ini sebenarnya orang ketiga apa keempat ya? kan sasori, abis itu sasuke. eke jd bingung sendiri :o vote buat apa say? reviewmu kurang jelas, hmm.
Moku-Chan: wkakakak klo lemon terus ntr kpala author jadi lemon beneran *ngaco* soal itu ... ditunggu di chapter selanjutnya ya :p
Rieki Kikkawa: hihi saya juga pnasaran *digebuk pake printer* tentu saja harus happy ending dong, abis saya kebanyakan bikin cerita pke sad ending mulu :3 *ga ada yg nanya* ini uda update Rieki-chan, ini hitungannya kilat ga? :p dan makasi untuk favenya~
terimakasih buat semuanya yg berbaik hati mereview cerita ini. hihi saya jadi ktawa sndiri pas bacanya. dan makasi untuk semua orang yang telah memfave, alert dan membaca fic saya :D apalagi silent readersnya, wuuuu banyak banget :p
oh ya berhubung saya sudah kembali menjalankan aktivitas sekolah saya seperti biasa, saya ga janji bakal bisa update secepet ini. so, harap sabar ya, saya usahakan untuk tetap update disetiap minggunya.
oke itu aja, see you on the next chapter :D
