Be With You

CHENMIN Couple—Chen & Xiumin

Kim Jongdae || Kim Minseok

Romance


Jongdae melewati koridor yang biasanya sepi oleh mahasiswa, tapii hari itu dipenuhi oleh beberapa mahasiswa yang sedang memperhatikan papan informasi jurusan. Karena ikut penasaran ia pun melangkah mendekati melihat informasi terbaru dari fakultasnya dan juga fakultas lain menumpang poster saat melakukan kegiatan dan juga event lainnya.

FAIR?

Laki-laki bermata unta itu tersenyum karena event yang selama ini yang dia tunggu-tunggu akhirnya diadakan kembali oleh himpunannya dan bukan hal yang baru lagi baginya, karena setiap tahun Jongdae selalu mengikuti event itu bersama teman-temannya atau solo.

"Senyummu mengalihkan duniaku." Itu Chanyeol yang entah tiba-tiba datang dari arah gerbang utara kampus dan melihat Jongdae berjalan seorang diri dengan senyuman yang bisa dikatakan seperti orang kasmaran. Ya, memang seperti orang kasmaran dalam artian—Jongdae terlihat senang dan bersemangat dari hari biasanya karena event itu.

Tapi senyuman tadi menghilangkan bagaikan dibawa oleh angin ketika suara berat Chanyeol mengucapkan kalimat chessy yang membuat Jongdae mual seketika dan ingin melayangkan buku tebal di tangannya ke wajah tampan Chanyeol—sahabatnya ketika berada di Beijing.

"Aku ingin muntah." ucap Jongdae menghindari Chanyeol yang siap-siap ingin mengapit kepalanya dengan lengan kekarnya. Bukan hal baru lagi melihat Chanyeol berkeliaran di kampusnya—walaupun Chanyeol seorang mahasiswa fakultas ekonomi yang hanya bersebelahan dengan fakultas mereka, dan tentu saja—kecuali bukan hanya ingin merecoki Jongdae tapi Chanyeol juga ingin menemui kekasihnya yang juga satu jurusan dengan Jongdae. Siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun—teman duetnya Kim Jongdae.

"Apalagi aku yang ingin memotong lidahku sendiri setelah mengatakannya." Timpal Chanyeol.

Kedua laki-laki itu berjalan beriringan menuju laboratium jurusan untuk menemui teman-teman mereka, lebih tepatnya teman-teman Jongdae yang sudah menunggu tanpa mempedulikan tatapan-tatapan para junior yang mendambakan mereka tapi sayangnya mereka sudah ada yang punya. Kalau bisa baik Baekhyun maupun Haneul akan melabeli mereka dengan kepemilikan. Tapi tidak akan tahu bahwa hati seseorang bisa saja berubah seiring berjalannya waktu apalagi itu sudah menyangkut dengan—cinta pertama.

Jongdae membuka pintu laboratium jurusan sehingga membuat semua mata tertuju padanya. Laki-laki bermata unta itu tersenyum manis dan di ikuti tatapan kagum dari beberapa dari mahasiswi yang melihat Chanyeol yang berdiri di belakang Jongdae dengan senyuman idiotnya tanpa menyadari sebuah tatapan tajam yang ingin mengulitinya saat itu juga.

"Ehem … " Baekhyun berdehem sangat keras seolah memberi kode pada mahasiswi tadi agar tidak menatap kekasihnya itu seperti mangsa yang siap mereka terkam. Tatapan tajam Baekhyun membuat mahasiswi tadi menciut dan mengalihkan tatapan mereka ke buku bacaan yang mereka pinjam tadi di perpustakaan.

Merasa seperti ada ancaman berbahaya, Chanyeol hanya bisa tersengir sangat bodoh menurut Jongdae—sebentar lagi sahabatnya yang kelebihan kalsium itu akan di bantai habis-habisan oleh gadis bermata eyeliner itu dengan jurus bela dirinya.

"Selamat bertempur." Jongdae menepuk bahu Chanyeol yang memutar bola matanya malas—karena Jongdae menyeringai yang pergi meninggalkannya menuju ke dalam ruangan khusus mahasiswa ingin mengadakan diskusi kelas bersama dosen maupun bersama ahli lainnya.

Dari ekor matanya saja sebelum memasuki ruangan khusus—Jongdae sudah bisa melihat kalau Chanyeol berusaha membuat Baekhyun tidak menghajarnya saat itu juga dengan berusaha tersenyum tampan tapi itu bodoh dan diseret dengan tidak elitnya keluar dari laboratorium—membuat Jongdae tertawa tanpa menghiraukan tatapan beberapa mahasiswa yang merasa terganggu dengan suara tawa cemprengnya itu.


Be With You


Ruangan sekretariat siang itu terlihat lenggang, tidak seperti biasanya yang selalu ramai oleh pengurus dan juga mahasiswa yang ingin mencari tempat istirahat atau bolos kelas untuk bermain uno atau tidur di dalamnya.

Minseok duduk di atas tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua bangunan dengan earphone yang bertengger manis. Gadis itu sedaritadi tidak mempedulikan bebarapa junior yang menatapnya ketika melewati tangga itu menuju lantai dua untuk menikmati kegiatan bolos mereka.

Semua pengurus himpunan mahasiswa kampus sudah mengenal Minseok yang selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi sekretariat—walaupun hanya sekedar bersantai atau bahkan tidur sepuasnya di dalam sana. Tidak ada yang berani menganggu Minseok jika tidak ingin di lempar dari lantai dua olehnya—dan itu sudah ada korbannya. Ya, Bobby adalah korban keganasan Minseok. Untung saja Bobby hanya mengalami cidera bagian persendian kakinya karena menahan tubuhnya yang di lempar oleh Minseok ke lantai bawah. Untung saja pemuda itu tidak mengalami patah tulang dan geger otak atau lain-lainnya.

Terbuktikan, seberapa ganasnya Kim Minseok jika dia di ganggu. Maka dari itu tidak ada yang berani yang menganggunya kecuali Kim Jongdae. Ya, Kim Jongdae selalu membuat Minseok ingin mematahkan tulang-tulang Jongdae jika sudah memancing emosinya.

Bobby melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang sekretariat—namun terhenti ketika tatapan matanya bertatapan dengan Minseok yang menatapnya datar.

"Hey, Min…" sapa Bobby ragu-ragu sambil menaikkan satu tangannya dan tersenyum idiot, sebelah tangannya masih diperban karena terkilir menahan bobot badannya. Sepertinya Bobby harus melakukan diet total setelah kejadian itu jika terulang lagi.

Minseok mendengus lalu mengangguk. Dia pikir sudah saatnya dia minta maaf kali ini pada Bobby karena kejadian tempo hari yang hampir membuat pemuda itu hampir patah tulang.

"Kau sudah baikan?" tanya Minseok, sementara Bobby melongo lalu menatap kaki dan tangannya Minseok secara bergantian lalu tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"S—Sudah mendingan. Aku sudah tidak apa-apa." Jawab Bobby.

Bukan hal aneh lagi melihat Bobby yang selalu mencari perhatian Minseok dan berakhir menjadi korban keganasan gadis itu. Bobby selalu saja muncul di kala Minseok sedang emosi dan ingin mencari ketenangan jiwa—tapi entah Bobby nya tipikal laki-laki yang tidak gampang menyerah untuk mendekati Minseok yang sudah ia taksir sejak semester awal hingga sekarang walaupun ada Jennie yang selalu menempel padanya yang juga sahabat Minseok ketika SMA.

"Jauhi Minseok kalau kau tidak ingin tangan sebelah kananmu patah." Itu Jennie yang tiba-tiba saja muncul di ruang sekretariat memergoki Bobby yang sedang berusaha mendekati Minseok. Padahal Bobby hanya duduk diam saja walaupun sedikit mencari perhatian Minseok.

Bobby mendengus sebal lalu memberi jarak sedikit di antaranya dengan Minseok agar Jennie bisa menyempil di antara mereka berdua.

"Dimana Jisoo?" tanya Minseok karena sahabatnya itu yang sudah duduk disampingnya sambil mengunyah permen karet.

"Dia sakit." Sahutnya. "Padahal besok sudah FAIR." Timpalnya lagi sambil memijit kepalanya yang pusing. Minseok mengangguk paham karena Jennie dan Jisoo berada di dalam grup vokal yang sama bersama dua orang temannya yang lain dan mereka memberi nama BLACKPINK.

Lalu ketiga anak manusia berbeda gender itu larut dalam keheningan dan tiba-tiba saja helaan napas Jennie membuat daya tarik kedua temannya untuk menatapnya.

"Min…" panggil Jennie menatap Minseok seolah ingin menyampai sesuatu. Minseok pun menatapnya dengan tatapan penasaran.

"Ada apa?"

"Aku percaya kalau vokalmu bagus." Minseok sudah paham akan kemana arah pembicaraan Jennie. Sementara Bobby sudah menahan tawanya dengan membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri. Jangan sampai kedua wanita itu menghajarnya saat itu juga.

"Aku mau kau yang menggantikan Jisoo besok di FAIR." Lanjut Jennie dengan ekspresi penuh harap, "Mau ya, Min?"

"Tidak Jen." Sahut Minseok cepat, "Kenapa aku?" tanyanya dengan wajah memelas.

Jennie menghela napasnya lagi, "Ayolah Min, tidak ada ruginya mana tahu saja nanti disana ada produser dadakan dan menjadikanmu penyanyi kan."

Minseok menoyor kepala Jennie, "Lebih baik aku mengikuti debat daripada menjadi penyanyi. Aku masih sayang nyawaku dari tangan ibuku." Minseok ingin pergi dari situ karena dia yakin Jennie akan terus memaksanya—namun saja seorang gadis menghalangi jalannya di depan pintu dengan menatap Minseok dengan senyuman.

Minseok menatap datar sebelum suara Bobby memasuki pendengarannya.

"Hanuel-ah, kau ingin mendaftar?" tanya Bobby yang menghampiri gadis itu dengan ekspresi berbinar.

Ck, Bobby pantang melihat angsa berbulu cantik. Begitu lah Haneul.

Hanuel menggeleng, "Bukan, Jongdae oppa menitipkan ini padaku karena dia sedang ada urusan dengan dosen Yo." Jawabnya kemudian menyerahkan formulir tersebut pada Bobby.

Minseok berdecih dalam hati begitu nama Jongdae terucap begitu saja dari bibir gadis itu. tentu saja, dia pacarnya. Minseok mendengus sebal, kenapa bayang-bayang Jongdae menghantui hari-harinya, bahkan lebih parahnya mereka selalu saja bertemu. Tentu saja, mereka satu jurusan dan konsentrasi. Ah, sial sekali hidupmu Kim Minseok.

"Min…" Jennie menyenggol lengan Minseok yang ternyata melamun menatap ke arah Haneul yang menatapnya heran. Minseok mengalihkan pandangannya pada Jennie.

"Mau ya?"

Lagi, Minseok masih bingung kenapa Jennie memaksanya bergabung kali ini. Tapi, karena Jennie selalu membantunya—hal ini tidak bisa lagi Minseok tolak.

"Baiklah, aku ikut tapi dengan satu syarat." Ucap Minseok. Jennie menunggu sahabatnya itu untuk mengucapkan persyaratan yang akan dia ajukan.

"Lagunya jangan tentang cinta."

Jennie meringis dan siap-siap ingin menaiki tangga ke lantai dua, "Aku tak janji hahaha…" dan menghilang di sebalik pintu bersama Bobby tanpa mempedulikan gerutuan Minseok yang ingin meneriakinya saat itu juga tapi dia tahan karena Haneul masih di hadapan Minseok menatapnya seolah ingin menanyakan sesuatu.

"Ada apa?" tanya Minseok datar membuat Haneul menciut seketika dan menggeleng kepalanya lalu menggeserkan tubuhnya—memberi Minseok jalan untuk keluar dari sekretariat.

Setelah Minseok menjauh, Haneul menghela napasnya dan mengelus-elus dadanya dan bergumam.

"Kenapa Jongdae oppa bisa pacaran dengannya. Galak sekali." Ucapnya yang juga pergi meninggalkan ruangan itu.


Be With You


Suasana kafetaria tempat berlangsungnya FAIR sudah dipadati oleh mahasiswa yang menikmati makan siang mereka sambil mendengarkan musik akustik yang di bawakan oleh peserta.

Minseok duduk di meja paling sudut tanpa minat sama sekali melihat penampilan Jongdae dan Baekhyun yang sedang membawa lagu bernuansa romantis. Bagi yang mendengarnya pasti merasakan betapa berharganya pasangan kalian saat ini dan selalu ingin bersama pasangan kalian selamanya. Tapi bagi Minseok, mempunyai pasangan saat ini adalah hal mustahil apalagi sejak ia menginjakkan kakinya di kampus. Sahabat-sahabatnya selalu saja bergelayutan manja dengan kekasih mereka. Apalagi Luhan dan Baekhyun merasa menjadi perempuan yang paling bahagia sekarang—menurut Minseok.

Lagu yang dinyanyikan oleh Jongdae dan Baekhyun bagi Minseok sangat bagus dan sangat romantis sekali jika ia juga seperti Luhan dan Baekhyun. Tapi sayangnya saat ini bukan lagu yang bagus untuknya karena dia tidak memiliki orang yang special dalam hidupnya. Lambat laun Minseok terhanyut di dalam setiap kata lagu itu, tanpa sadari oleh Minseok bahwa tatapan seseorang terus saja tertuju padanya walaupun bibirnya terus saja bernyanyi dengan santainya tanpa menghiraukan tatapan cemburu dari pihak lain.

Setelah lagu berakhir, suara riuh tepuk tangan serta siulan diberikan untuk Jongdae dan Baekhyun yang mengucapkan terima kasih lalu kembali ke tempat duduk mereka yang telah mereka klaim sejak datang tadi. Jongdae berdiri di depan Minseok menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Minnie…" Minseok kembali dari bawah alam sadarnya ketika Luhan memanggilnya. Gadis berpipi chubby itu menatap sahabat mata rusanya tanpa sadar kalau Jongdae sudah duduk di hadapannya.

"Iya, Lu… Ada—"

"—Ada iler di wajahmu." Timpal Jongdae langsung membuat Minseok menoleh kaget ke arahnya. Sejak kapan laki-laki menyebalkan itu sudah duduk di hadapannya.

"Aku tidak bodoh seperti yang kau kira, Kim Jongdae." Ucap Minseok memukul bahu Jongdae dan pergi meninggalkan Jongdae yang mengaduh kesakitan dan Luhan serta Baekhyun yang melongo melihat tingkah Minseok yang aneh.

Setelah Minseok di atas panggung dan duduk di sebelah Rose. Semua mata sudah tertuju pada empat orang perempuan yang cukup fenomenal di kampus mereka itu.

"Sejak kapan Minseok mau menyanyi?" tanya Baekhyun heran melihat Minseok.

Luhan menggeleng, "Aku tidak tahu, bukankah dia paling anti diatas panggung." Sahutnya.

Sementara Jongdae menggeleng-gelengkan kepalanya dan tanpa sadar Haneul menghampiri mereka.

"Oppa…"

"Haneul-ah,"

Gadis itu tersenyum sopan pada Luhan dan Baekhyun yang juga membalasnya dengan sopan.

"Boleh aku gabung disini?" tanyanya.

"Tentu saja, duduklah." Jongdae menarik tangan kekasihnya untuk duduk di sampingnya dan hal itu tak luput dari pandangan Minseok yang memegang erat microphone di tangannya.

Suara dentingan senar gitar mengawali lagu yang akan di bawakan oleh Minseok dan teman-temannya. Sebenarnya sebagian orang tidak meragukan penampilan BLACKPINK karena mereka merupakan grup vokal perempuan yang selalu live akustik di setiap kafe-kafe terkenal. Namun, yang menjadi keraguan sebagian orang disana adalah sosok Minseok yang bergabung sana menggantikan Jisoo yang sedang sakit. Tapi bagi Jongdae dan sahabat Minseok itu bukan masalah sama sekali, karena mereka selalu yakin kalau Minseok bisa melakukannya dengan baik.

툭하면 거친 말들로

내 맘에 상처를 내놓고

미안하단 말 한마디 없이

또 나 혼자 위로하고

오늘 하루도 혹시

날 떠날까 늘 불안해 해

I just want you to stay

(Begitu mudah, dengan kata-kata kasar

Kau menempatkan bekas luka di hatiku

Tanpa bahkan mengatakan maaf

Sekali lagi, aku menghibur diriku

Selalu gugup

Jika kau akan meninggalkanku

Aku hanya ingin kau tinggal)

점점 무뎌져 가는

너의 그 무표정 속에

천천히 내려놓자며

거울에 속삭이곤 해

날 당연하게 생각하는 너지만

그게 너다워 그래도

Semuanya terpana tatkala Minseok memulai bagiannya dengan ekspresi menghayati seolah setiap kata-kata yang ia ucapkan seolah curahan hatinya yang saat ini menginginkan seseorang itu mendengarkan ungkapan isi hatinya. Dan Jongdae merasa menjadi laki-laki yang paling peka saat itu karena apa yang disampaikan oleh gadis itu sama hal dengannya saat ia menyanyikan setiap bait lagu yang ia tampilkan tadi. Dan Jongdae benci dengan dirinya sendiri karena ia selalu menjadi pecundang dan bahkan tanpa sadar ia menjadi orang paling jahat di dunia. Menyakiti dua hati sekaligus hanya karena gengsinya.

(Dalam wajah tanpa ekspresimu

Yang semakin kusam

Aku berbisik ke cermin,

Mari kita perlahan biarkan ini pergi

Kau bawa aku untuk diberikan

Tapi itu kau

Tapi tetap, tinggal tinggal tinggallah bersamaku)

널 닮은 듯한 슬픈 멜로디

이렇게 날 울리는데 eh eh

네 향기는 달콤한 felony

너무 밉지만 사랑해

(Melodi sedih ini mirip dengan kau

Itu membuat aku menangis eh eh

Aromamu adalah kejahatan manis

Aku sangat membencimu tapi aku mencintaimu)

어두운 밤이 날 가두기 전에

내 곁을 떠나지마

아직 날 사랑하니 내 맘과 같다면

오늘은 떠나지마

굳이 너여야만 하는 이유는 묻지마

그저 내 곁에 stay with me

(Sebelum gelapnya malam menjebakku

Jangan tinggalkan aku

Apakah kau masih mencintaiku? Jika kau merasakan hal yang sama

Jangan meninggalkanku hari ini

Jangan tanya mengapa itu harus kau

Hanya tinggallah bersamaku)

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

지금 당장 많은 걸 바라는 게 아냐

그저 내 곁에 stay with me

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

(Aku tak berharap banyak sekarang

Hanya tinggallah bersamaku)

사실은 난 더 바라는 게 없어 이제

심장은 뛰긴 하는 건지 무감각해 그래

사람들과의 억지스런 한마디보단

너와의 어색한 침묵이 차라리 좋아

So stay 그게 어디가 됐건 말이야

가끔 어둠이 올 때면 I'll be your fire

거짓 같은 세상 속 유일한 truth it's you

This a letter from me to you

(Tidak ada yang lebih kuinginkan sekarang

Aku bahkan tidak tahu apakah hatiku berdetak

Daripada percakapan tegas dengan orang lain

Aku lebih suka berada dalam keheningan canggung denganmu

Jadi tinggallah, di mana pun itu mungkin

Kadang, ketika kegelapan datang, aku akan menjadi api

Di dunia ini yang adalah kebohongan, satu-satunya kebenaran itulah kau

Ini surat dari aku untukmu)

널 닮은 듯한 슬픈 멜로디

이렇게 날 울리는데 eh eh

네 향기는 달콤한 felony

너무 밉지만 사랑해

(Melodi sedih ini mirip dengan kau

Itu membuat aku menangis eh eh

Aromamu adalah kejahatan manis

Aku sangat membencimu tapi aku mencintaimu)

어두운 밤이 날 가두기 전에

내 곁을 떠나지마

아직 날 사랑하니 내 맘과 같다면

오늘은 떠나지마

굳이 너여야만 하는 이유는 묻지마

그저 내 곁에 stay with me

(Sebelum gelapnya malam menjebakku

Jangan tinggalkan aku

Apakah kau masih mencintaiku? Jika kau merasakan hal yang sama

Jangan meninggalkanku hari ini

Jangan tanya mengapa itu harus kau

Hanya tinggallah bersamaku)

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

지금 당장 많은 걸 바라는 게 아냐

그저 내 곁에 stay with me

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

(Aku tak berharap banyak sekarang

Hanya tinggallah bersamaku)

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

지금 당장 많은 걸 바라는 게 아냐

그저 내 곁에 stay with me

(It goes a little something like)

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

Lalalalalala Lalalalalala Lalalalalala

(Aku tak berharap banyak sekarang

Hanya tinggallah bersamaku)

Setelah lagu itu berakhir. Semuanya berdiri memberikan tepuk tangan meriah melihat aksi penampilan tadi. Luhan dan Baekhyun bahkan berteriak hysteris karena kagum dengan penampilan BLACKPINK—tapi lebih tepatnya dengan penampilan Minseok yang sangat memukau. Mereka bahkan tidak menyangka kalau Minseok memiliki bakat di bidang tarik suara dan memiliki suara yang bagus—sehingga tanpa sadar air mata Minseok mengalir membasahi wajahnya. Tidak tahu apakah itu air mata kebahagiaan penuh haru karena mendapat respon yang atau air mata kesedihan karena hatinya terasa sakit dan juga lega karena Jennie memilih lagu yang sangat tepat untuknya—untuk mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.

Saat Luhan dan Baekhyun ingin menghampirinya. Minseok berlari meninggalkan kafetaria dengan air mata yang masih setia mengalir di wajahnya tanpa mempedulikan tatapan demi tatapan heran yang tertuju padanya. Bagi Minseok saat ini adalah ingin menyendiri untuk menangisi dirinya dan juga ingin menghindari Jongdae. Laki-laki yang membuat dunianya jungkir balik sejak pertama kali mereka bertemu hingga sekarang.


TBC

13 November 2016


Gue balik lagi dengan part selanjutnya. Maafkan kalau ceritanya masih abal tapi ini udah cepatin kok gimana perasaan CHENMIN sesungguhnya. Dan nggak tau kenapa belakangan ini gue seneng banget dengerin lagu-lagunya BLACKPINK dan ya sebenarnya udah dari hari minggu lalu gue mau nge-post part ini tapi apa daya lah gue kemarin pulang ke rumah dan laptop gue tinggalin di dorm beserta asetnya LOL XDD hahahahaha

Hayoooo pasti pada pengen CHENMIN balikan lagi ya? Ayo ngaku aja deh hahahaha gimana ya? balikan atau nggak ya? di tunggu aja ya XD semoga FF CHENMIN makin banyak ya. Gue juga bakal tetap mendukung author yang sedang gencarnya membuat FF CHENMIN dan event buat CHENMIN. Lalu gue juga mau mengucapkan terima kasih kepada readers yang udah setia mau baca serta komentar di kolom review. Kalian itu juga menjadi penyemangatku untuk menulis selain CHENMIN dan juga Oppadeul. SARANGHAE 3 3 3

So, don't forget your review and thank you so much :D


FAIR : Festival Acoustic International Relation. Biasanya event kampus buat menyambut alumni yang berkunjung dan menghibur mahasiswa di kampus.


Backsound :

BLACKPINK - STAY

Hey! Say! JUMP - SUPER DELICATE

LEE HI Feat EPIK HIGH - CAN YOU HEAR MY HEART

EXO - WHITE NOISE