-skip time-
"Hah.." Naruto merebahkan dirinya dikasur king size itu. Malam itu ia memilih untuk tidak kembali kekediamannya mengingat kejadian dengen Hinata membuatnya enggan kembali kesana, mengingat Sasuke mengatakan kalau Hinata masih berada dikediamannya menunggunya pulang. Terlebih lagi dia butuh waktu sendiri. Memikirkan semuanya, iapun teringat akan buku bersampul coklat yang diberikan Shizune padanya. Disepanjang perjalanan ia sempat membaca beberapa lembar halaman jurnal itu. Tidak banyak hal penting. Hanya diary biasa. Naruto melanjutkan membaca jurnal tersebut hingga akhirnya dia mencapai tanggal kejadian dikampus.
"Ruangan itu gelap. Mereka mengikatku. Tanganku terikat ketas, kakiku tidak dapat menyentuh tanah. Aku ketakutan.. Aku berusaha melawan. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Tetapi kekuatanku menghilang, tubuhku lemas. Tiba-tiba saja sesuatu menghantam perutku dengan keras. Aku tidak dapat melihat pelakunya dengan jelas. Ruangan itu terlalu gelap. Sakit.. Mereka akhirnya berhenti. Aku pikir mereka sudah bosan hingga seseorang menarik kemejaku. Membuat semua kancingnya terlepas. Aku takut sekali. Mereka menyentuhku.. Tiap malam aku terus mengingatnya. Lidah mereka berusaha memasuki mulutku. Tangan-tangan kotor mereka menyentuh tubuhku. Bibir mereka menelusuri tubuhku meninggalkan jejak menjijikkan disana. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Aku pikir semuanya berakhir saat tiba-tiba aku mendengar suara perempuan. Ia memberi komando semuanya untuk berhenti. Aku mengira penderitaanku berakhir. Tapi aku salah. Perempuan itu meraih leherku. Mencengkramnya erat membuatku sulit bernafas. Ia tertawa puas melihatku kesulitan bernafas. Saat pandanganku mulai mengabur kembali perempuan itu memberi komando untuk segera pergi dari sana karena menyelesaikanku saat itu juga akan menjadi hal yang tidak menyenangkan. Ia masih ingin bermain. Hal terakhir yang dapat aku lihat sebelum semuanya gelap total.. Perempuan itu.. Perempuan yang ia sukai."
"Ugh.. Menjijikkan.." Naruto yang membaca catatan singkat Sakura itu merasa jijik atas apa yang dilakukan orang-orang dikampusnya. Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk segera menghubungi Itachi dan mengirimkan foto lembaran catatan itu.
-kantor polisi-
"Kakashi.. Naruto mengirimkan ini padaku. Lalu ini bukti CCTV kediaman Haruno yang kau minta."
"Oh.. Ya.. Jadi.. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan dalang kejadian dikampus itu perempuan."
"Ugh.. Mahasiswi zaman sekarang menyeramkan." Komentar Yamato sambil memutar rekaman CCTV yang diminta Kakashi. Memang malam itu tim Kakashi memilih melembur untuk dapat segera mengungkap kasus keluarga Haruno yang telah lama dibekukan itu.
"Ah.. Aku tidak begitu memperhatikannya sebelum ini.. Tapi coba lihat ini." Ucap Yamato tiba-tiba membuat penasaran yang lain.
"Mobil itu? Bukankah mobil itu ikut terbakar bersama rumah ini? Lagipula setelah kita melakukan pencarian lebih dalam tentang mobil itu, plat kendaraannya tidak terdaftar. Itu Plat palsu.." ucap Kurenai mengingatkan.
"Itu benar.. Tapi coba lihat lebih teliti lagi plat kendaraan ini." Ucap Yamato membuat ketiganya fokus menatap lat kendaraan yang diperbesar Yamato.
"Hmm? Ah.. Itukan.." Kurenai yang mulai dapat melihat dengan jelas apa yang dimaksud Yamato langsung menatap atasannya.
"Lambang itu.."
"Sekarang aku ingat tentang perselisihan tuan Haruno dengan bawahannya karena kasus penggelapan dana perusahaan. Memaksanya memecat sekretarisnya itu." Ucap Kurenai yang teringat dengan berita perselisihan antar bos dan tangan kanan perusahaan terbesar saat itu.
"Baiklah.. Aku rasa ini sudah cukup bukti. Hasil tes DNA pada rambut yang ditemukan digenggaman tangan Sasori juga sudah keluar. Memang ada yang berusaha menutupi kasus ini. Kalian tentu tau siapa orang dalam itu." Ucap Kakashi bersandar dikursinya.
"Pantas saja.." ucap Itachi tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dan timnya ungkap.
"Baiklah.. Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Sekarang bubarlah. Istirahatkan tubuh kalian. Besok jam 8 kita berkumpul disini dan lakukan penggerebekan." Ucap Kakashi membubarjan timnya itu.
-besoknya-
"Apa-apaan ini?" ucap Hiashi saat beberapa polisi memasuki rumahnya.
"Hiashi Hyuuga kau ditangkap atas kasus pembunuhan keluarga Haruno. Segala hal yang kau ucapkan saat ini dapat digunakan sebagai bukti dalam persidangan." Ucap Kakashi menatap Hiashi yang diborgol Yamato dan dibawa keluar dari kediamannya itu.
"Bukti apa yang kalian punya sampai kalian berani memasuki kediamanku?" ucap Hiashi tidak terima.
"Kau mau bukti? Kami punya banyak bukti. Salah satunya DNAmu yang berusaha ditutupi keponakanmu yang bekerja bersama kami dikantor polisi." Ucap Yamato membuat Hiashi kaget dan menatap Neji. Ia yakin betul telah mengingatkan Neji untuk memusnahkan semua bukti yang dapat mengarah padanya.
"Jangan menatapnya begitu. Dia sudah melakukan segalanya demi menutupi kasus ini selama 5 tahun. Bukankah itu cukup?" ucap Kakashi menangkap tatapan amarah Hiashi pada Neji.
"Apa yang kalian lakukan! Ayahku tidak mungkin melakukan hal itu!" teriak Hinata tidak terima.
"Jangan coba-coba kabur Neji.. Kau cukup hebat dapat mengelabui seisi kepolisian selama ini demi menutup rahasia keluargamu." Ucap Itachi memborgol tangan Neji.
"Mohon untuk tidak menghalangi kami."ucap Kurenai menghentikan Hinata.
"Itachi-san.. Kau kakaknya Sasuke kan? Lakukan sesuatu!" teriak Hinata menarik kerah baju Itachi.
"Hentikan.." ucap Itachi melepaskan genggangam Hinata.
"Cepat selesaikan semuanya. Wartawan mulai berdatangan." Ucap Kakashi menatap kerumunan wartawan yang berdatangan.
-Rumah sakit-
"Sakura-chan.."
"Kakashi-san.. Terima kasih banyak." Ucap Sakura bangkit dari kasurnya untuk membungkuk berterima kasih.
"Sakura-chan. Tidak perlu sampai begini." Ucap Kakashi segera menyentuh pundak Sakura memintanya untuk berhenti membungkuk.
"Terima kasih banyak sudah menyelesaikan ini semua.." ucap Sakura berderai air mata.
"Ini memang tugasku dan timku bukan. Sudahlah.. Kau harus banyak istirahat agar dapat segera sembuh bukan." Ucap Kakashi tersenyum.
"Ya." Ucap Sakura dengan senyumnya.
"Baiklah.. Aku harus segera kembali ke kantor." Ucap Kakashi pamit undur diri.
"Sekali lagi terima kasih banyak Kakashi-san." Ucap Sakura dengan senyumnya.
-1 tahun kemudian-
TOK TOK
"Masuk.."
"Naruto? Kau sibuk?" ucap gadis pink itu mengintip kedalam kamar pria kuning itu.
"Tidak. Ada apa?" tanya Naruto menatap gadis pink itu.
"Naruto.. Boleh kita berjalan-jalan ditaman?" pinta Sakura menatap Naruto yang hanya mengangguk pelan.
"Tidak terasa sudah 1 tahun semenjak kasus itu selesai ditangani." Ucap Naruto saat mereka tengah berjalan-jalan ditaman kota itu.
"Umm.. Ya.. Aku tidak menyangka akan seperti ini.. Aku merasa bersalah pada Hinata. Dia sekarang harus tinggal berdua dengan adiknya." Ucap Sakura menghirup udara ditamah rumah sakit itu.
"Hmm.. Dia masih punya Neji. Mereka bersaudara kan?" ucap Naruto sambil mendorong kursi roda yang diduduki Sakura.
"Neji.. Juga ditangkap karena ikut membantu kejadian itu." Ucap Sakura murung.
"Ah.. Maafkan aku.. Sepertinya aku melewatkan sedikit beritanya." Ucap Naruto merasa bersalah.
"Apa aku salah merasa bahagia atas selesainya kasus ini?" tanya Sakura menunduk.
"Hah? Itu hakmu. Lalu apa masalahnya. Kau pantas mendapatkannya." Ucap Naruto santai.
"Tapi.."
"Apa? Kau memikirkan masalah hukuman mati yang menanti mereka?" ucap Naruto menatap Sakura serius, menghentikan langkah kaki keduanya.
"Un.." Jawab Sakura singkat. Disatu sisi dia bahagia kasus ini selesai tetapi disisi lain dia merasa bersalah atas hukuman yang menanti Hiashi dan Neji.
"Kalau aku.. Nyawa memang seharusnya dibayar dengan nyawa. Kecuali kau ingin kasus ini dibatalkan. Kalau aku jadi kau aku tidak akan mau kasus ini dibatalkan. Kau sudah melalui banyak hal untuk bisa mengungkap ini semua." Ucap Naruto serius
"Aku tau.." ucap Sakura menunduk.
"Hah.. Kau mengajakku keluar untuk menghilangkan suntuk tetapi apa-apaa dengan mood ini."
"Ma.. Maafkan aku.."
"Sudahlah.. Biarkan saja hukum berjalan dan kebenaran terungkap. Ini bisa jadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang memiliki niat jelek diluar sana." Ucap Naruto mengusap kepala Sakura pelan.
"Naruto.. Boleh kita duduk disana?" tanya Sakura menunjuk pohon didekat danau.
"Hah.. Baiklah.."
"Maaf merepotkan." Ucap Sakura saat melihat tanggapan Naruto yang sepertinya tida begitu senang.
"Sudahlah.. Hentikan itu. Kau membuatku merasa sangat bersalah. Lagipula kau tidak perlu meminta maaf untuk segala hal yang kau ucapkan."
"Hmm.. Ya.. Ah.. Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Sakura sambil menatap danau itu. Memang semenjak selesainya kasus itu Sakura memilih untuk tinggal sendiri di apartement.
"Baik.. Semua baik.." ucap Naruto santai.
"Nee.. Naruto.. Kondisiku sudah membaik.. Temani aku ketaman bermain ya.." ucap Sakura tiba-tiba.
"Hah? Taman bermain?"
"Ya.. Aku sudah lama tidak kesana." Ucap Sakura tersenyum.
"Hmm.. Ya.. Akan aku pertimbangkan. Tapi.. bagaimana bisa semua penyakitmu sembuh begitu saja? Aku masih tidak mengerti." Ucap Naruto yang mendapatkan berita bahwa penyakit yang diidap Sakura menghilang begitu saja.
"Hmmm.. Magic?" ucap Sakura lagi.
"Magic itu tidak ada Sakura."
"Ada! Begitu juga dengan unicorn dan peri!" ucap Sakura tidak mau kalah.
"Hah? Kau ini umur berapa? Masih mempercayai hal seperti itu." Ucap Naruto tidak percaya.
"Biar saja." Ucap Sakura tidak peduli.
"Dasar anak kecil. Dan lagi aku tau apa tujuan utamamu pergi ketaman bermain." Ucap Naruto mengalah.
"Apa?"
"Gulali dan Roller coaster yang baru dibuka itukan." Ucap Naruto tepat sasaran.
"Ti.. Tidak juga."
"Hah.. Aku mengenalmu cukup baik tau.."
"Naruto.."
"Ap..." Naruto terhenti saat tiba-tiba gadis pink itu mencium bibirnya tiba-tiba.
"Ah.. Sudah saatnya kembali.. Sebentar lagi jam makan siang." Ucap Sakura segera berdiri.
"Hah? HAH?!"
"Na.. Naruto ada apa?"
"Ada apa? Ada apa katamu?!" ucap Naruto menahan tangan Sakura.
"I.. Itu bukan apa-apa.."
"Bukan apa-apa?"
"Maaf maksudnya.. Ah sudahlah.."
"Hei jangan kabur!"
"Akukan sudah bilang bukan apa-apa." Elak Sakura menghindari Naruto yang berhasil menangkapnya.
"Bukan apa-apa? Kau ini benar-benar senang mempermainkanku ya." Ucap Naruto kesal.
"Mempermainkan apanya?" ucap Sakura menatap Naruto bingung.
"Hah? Kau malah bertanya?" Ucap Naruto tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku memang tidak menge..." Sakura terdiam menatap pria kuning yang menciumnya itu.
"Masih mau bilang tidak paham? Tunangan macam apa yang tidak mengerti maksud calon suaminya. Dan lagi harusnya kau tidak perlu melakukannya takut-takut begitu mengingat 1 minggu lagi pernikahan kita." ucap Naruto membuat wajah Sakura semerah tomat busuk.
TBC
