.

.

.

Warning:

Yaoi, OOC, Typo's, Gaje, Alur kecepetan, dll

.

.

.


Sinar mentari pagi mengintip dengan malu-malu melewati jendela kaca yang tertutupi gorden disalah satu kamar asrama. Terlihat dua orang pemuda tengah tertidur berbalut selimut putih dikedua tubuhnya yang polos, tidak terganggu dengan sinar matahari pagi yang menyinarinya, tapi tunggu sepertinya hanya seorang pemuda saja yang tengah tidur karena pemuda yang satunya sudah membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris coklatnya yang tajam.

Sehun pemuda itu tengah memperhatikan wajah pemuda lain yang tengah tidur nyaman dalam pelukannya dengan berbantalkan sebelah tangannya, meskipun terasa pegal namun Sehun tidak berniat untuk menyingkirkan kepala kekasihnya itu. ia menyingkirkan helaian poni yang menutupi wajah manis Kai, kekasihnya. Seulas senyum tulus mengiasi wajah tampannya, jarang-jarang dia memperlihatkan senyumnya yang mempesona kalau bukan dengan hadirnya Kai.

Tidak lama kemudian kelopak mata tan itu mulai bergerak, perlahan hingga akhirnya terbuka sepenuhnya menampilkan onyx-nya yang begitu menawan.

"Morning~" sapa sehun.

Kedip.

Kedip.

Kedip.

Perlu tiga kali kedipan hingga ia tersadar sepenuhnya, memandang lurus pada wajah tampan yang ada dihadapannya. Seulas senyum manis ia berikan untuk Sehun.

"Hm, morning," bukannya bangun Kai malah menyembunyikan wajahnya didada bidang Sehun, dengan wajah yang bersemu, membuat Sehun tersenyum geli.

"Tidurmu nyenyak?" tanya Sehun perhatian, tidak lupa tangannya membelai rambut kekasihnya yang terasa begitu lembut. Kai hanya menjawab dengan gumaman pelan.


Love is

HunKai

Chapter 4


Bel masuk sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu semua siswa sudah memasuki kelas masing-masing, mengikuti kegiatan pembelajaran.

Seorang siswa berjalan dilorong koridor bersama seorang seonsaengnim, sesekali ia mengangguk ketika mendengar penjelasan dari seonsaengnim tersebut, meskipun ia tidak ada minat sama sekali wajahnya terlihat bosan. Kalau bukan karena pekerjaannya mana mau dia kembali lagi ke SMA, tapi demi atasannya yang sudah berbaik hati membantunya apapun akan ia lakukan.

"Ini kelas barumu, kau tunggu disini." Langkahnya terhenti ketika mendengar seonsaengnim kembali berbicara, ia mengguk singkat. Seonsaengnim tersebut masuk kedalam kelas. Tidak lama kemudian ia keluar lagi mempersilahkannya masuk.

Srek

Pintu dibukanya dengan pelan, semua siswa mengarahkan pandangannya kearahnya, melihat siapa gerangan yang membuka pintu. Matanya menyapu seluruh kelas. Ia berjalan dengan santai tidak peduli dengan tatapan para siswa yang terarah padanya.

"Kita kedatangan murid baru." Kata seonsaengnim, "Silahkan perkenalkan dirimu."

Murid baru tersebut mengangguk singkat, "Zang Yixing. Kalian boleh memanggil ku Lay." Katanya singkat.

Semua siswa masih memandangnya dengan rasa penasaran, masalahnya anak baru itu memperkenalkan diri singkat banget. Seonsaengnim yang mengerti segera berbicara lagi. "Tidak ada yang lain?" tanyanya.

"Itu saja. Saya rasa cukup."

"Baiklah Yixing, kebetulan kursi yang tersedia tinggal yang paling belakang, silahkan duduk." Tunjuknya pada kursi yang paling belakang. "Kita lanjutkan pelajaran. Buka buku kalian halaman 95." Katanya tegas.

Lay segera menuju kursi yang ditunjuk seonsaengnim. Mendudukan tubuhnya dikursi tersebut dan mulai membuka bukunya yang sudah ia siapkan dari rumah.

Luhan memperhatikan murid baru itu, dari awal pandangannya tidak pernah lepas dari murid baru tersebut.

Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana?

Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Aku yakin aku pernah melihatnya.

Merasa ada yang memperhatikan Lay segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk memperhatikan buku didepannya. Ia mendapati orang yang duduk didepannya tengah melihat kearahnya. Luhan yang kedapatan tengah memperhatikan Lay segera menggaruk tengkuknya—salah tingkah.

"Hai, aku Luhan." Katanya seraya mengulurkan tangannya.

Lay memandangnya aneh, ia memperhatikan Luhan dan tangannya yang terulur padanya. "Lay. Senang berkenalan denganmu Luhan." Katanya.

"Senang berkenalan denganmu juga."


Suho menatap jengah sosok yang masih saja tersenyum-senyum aneh di kursinya, entah sudah berapa lama dan ia masih tersenyum bahkan tertawa pelan tanpa sebab yang jelas.

"Dia mulai gila," komentar Suho membuat Chanyeol yang duduk paling dekat dengannya hanya bisa mendengus geli saat matanya menangkap tawa pelan nan aneh yang dikeluarkan dari mulut Kris. Chanyol dan Kris sudah berbaikkan jadi keduanya dekat lagi. Suho dan Luhan tidak heran dengan kedatangan Chanyeol diantara mereka karena mereka sudah tahu kalau dulu Kris dan Chanyol memang dekat.

"Biar saja, dia sedang seang." Ucap Chanyeol sambil tanpa menglihkan perhatiannya dari buku yang tengah ia baca.

"Kau tahu?" ujar Luhan tiba-tiba. sejak tadi ia hanya diam memilih diam dan focus dengan ponselnya.

"Apa?" tanya mereka coor kecuali Kris.

"Kau ingat dengan Lay, anak baru dikelas kita itu?" tanyanya dengan tampang serius.

Chanyeol dan Suho mengangguk. "Ya, tentu saja, Kenapa?" tanya Suho heran kenapa tiba-tiba Luhan bertanya tentang anak baru itu.

"Aku heran, kenapa akhir-akhir ini ada banyak murid baru disekolah kita."

"Memang kenapa, ada yang salah dengan itu?" tanya Suho.

"Tidakkah ini aneh,"

"Tidak juga, mungkin mereka kena masalah disekolah lamanya dan memilih pindah sekolah. Atau mungkin dia bosan atau apa." Chanyeol menimpali, dia sudah menutup bukunya.

"Bisa jadi." Komentar Suho singkat.

"Kalian kenal Sehun?" tanya Kris tiba-tiba membuat semua mata matapnya, setelah selesai dengan kegiatan anehnya barusan.

"Tentu saja kami satu kelas dengannya." Coor ketiganya.

"Kenapa?" tanya Luhan mulai tertarik jarang-jarang Kris menanyakan seseorang pada mereka, biasanya dia selalu mencari tahu sendiri.

"Dia siapanya Kai?" tanyanya setelah ingat kalau Sehun orang dekat dengan Kai—orang yang mendapat tempat di otaknya saat ini.

"Kenapa? Kau tertarik dengannya?" tanya Suho yang sama antusiasnya seperti Luhan.

"Jangan bercanda, aku lebih tertarik dengan pria manis." Katanya.

"Setahuku dia sahabatnya Kai." Jawab Luhan enteng. "Tumben bertanya pada kami."

"Oh," katanya singkat.

"Jangan bilang kau tertarik dengan Kai," tebak Chanyeol tiba-tiba, dia masih ingat pembicaraanya dengan Kris sewaktu diperpustakaan.

"Eh," kaget Luhan dan Suho. Aduh sainganku tambah nih kalau benar Kris tertarik dengan si imut Kai, batik Luhan dan Suho.

"Kalian kenapa? Jangan bilang kalian menyukai Kai, aku tahu dia cukup manis meskipun masih manisan Baekhyun." Komentar Chanyeol.

Luhan dan Suho mengangguk, "Tentu saja," jawab keduanya kompak.

"Hn." Gumam Kris tidak jelas.

"Sudah kuduga, tapi bukannya Suho menyukai guru matematika itu ya?" goda Chaneyol yang diangguki antusias oleh Luhan.

"Aku memang suka dengan Kyungsoo seonsaengnim, tapi kalian tahu sendiri dia selalu cuek ketika aku mendekatinya." Katanya dengan lirih diakhir kalimatnya. Ya, selama ini memang Suho sudah berkerja keras untuk mendapatkan Seonsaengnim manis itu tapi Kyungsoo tidak terlalu menanggapinya.


Sebuah mobil BMW X4 berhenti tepat didepan pintu masuk perusahan Choi Corp. seorang petugas segera membukakan pintu mobil tersebut. Cho Kyuhyhun segera keluar dan memberikan kunci mobil pada petugas parkir.

Ia melangkah memasuki kantor utama Choi Corporation. Kantor ini hanya sebuah gedung kecil berlantai tiga dengan gaya futuristic dimana berbentuk seperti kubah dengan rangka baja yang menjadi kerangkanya. Dan kau dapat melihat pantulan dirimu sendiri disetiap dinding kaca. Berbeda sekali dengan kantornya yang terlihat kotak-kotak.

Resepsionis menyambutnya dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanyanya.

"Apa Direktur Choi ada?"

"Apa anda sudah memiliki janji dengan Direktur?"

"Katakan Cho Kyuhyun ingin bertemu dengannya."

Tak lama…

"Choi-Sajangnim," ucapnya pada sang pimpinan yang ada di ujung sambungan telepon itu, "Direktur Cho… ingin bertemu dengan anda."

Setelah diam sejenak mendengarkan kata-kata sang atasan, resepsionis itu pun membalas, "Baik."

Telpon ditutup.

"Direktur sudah menunggu anda. Silahkan naik ke lantai tiga, pintu Direktur ada di sebelah kanan lift," jelas resepsionis itu ramah. Menunjuk kearah lift yang berada tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.

"Terima kasih," katanya ramah sambil berlalu.

Ia segera melangkahkan kakinya ke tempat yang dimaksud. Benar saja setelah berada dilantai tiga, dua pintu kaca berlapis tirai warna putih di bagian dalamnya menyambut Kyuhyun, lelaki dengan kulit putih pucat itu pun mendorong salah satu pintu kaca dan masuk ke ruangan Direktur—setelah sebelumnya mengetuk pintu. Hanya selangkah setelahnya, pandangan keduanya bertemu.

"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan anda, Choi-sajangnim." Ucap Kyuhyun sambil mengambil beberapa langkah lagi.

"Silahkan duduk," balas Siwon.

Dan keduanya langsung membahas tentang kerja sama kedua perusahaan besar tersebut.

Beberapa lama kemudian…

"Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar," ujar Siwon. Keduanya berjabat tangan dengan senyum dimasing-masing bibir mereka.


Sementara itu Kai tengah berkumpul dengan teman-temannya tentu saja dengan Sehun juga, dimana ada Kai pasti ada Sehun disana. Apalagi keduanya sudah memiliki hubungan yang lebih dari sahabat, tapi keduanya bersikap seperti biasanya. Ingat dari awal keduanya sudah seperti sepasang kekasih meskipun sekarang keduanya memang sepasang kekasih. Jadi teman-temannya tidak heran lagi meskipun mereka berdua berlaku mesra seperti saat ini. Dimana Kai tengah menyuapi Sehun.

"Semakin hari kalian semakin mesra saja," ujar Chen ketika melihat kedua orang temannya—Kai tengah menyuapi Sehun cheese cake.

"Benarkah?" tanya Kai antusias. Yang dibalas anggukan Chen dan Tao, Sementara Sehun memilih diam.

"Ya, kalian seperti pasangan suami istri saja." Celetuk Tao yang membuat Kai tersedak air minum yang tengah diteguknya. Sehun dengan sigap menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata 'kalau minum pelan-pelan'

"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Tao heran.

"Tidak, tidak aku hanya kaget saja." Kai mengibas-kibaskan tanganya setelah selesai dari acara tersedaknya.

Sementara itu tidak jauh dari mereka seseorang tengah memperhatikan mereka tanpa diketahui oleh siapapun.

"Sepertinya mereka baik, apa yang dikhawatirkan Choi-sajangnim sebenarnya?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil memakan makananya dengan tenang.

"Ish! Menyebalkan kenapa tidak ada bangku yang kosong sih?" gerutuan seseorang membuatnya mendongak. "Boleh aku duduk disini, tidak ada lagi kursi yang kosong." Kata orang tersebut. ia hanya mengangguk saja.

Baekhyun setelah mendapati izin dari orang tersebut segera mendudukan dirinya dan meletakkan makanannya dimeja. Memperhatikan orang didepannya yang terlihat asing dimatanya ia pun bersuara.

"Aku baru melihatmu, kau siswa baru?"

"Ya,"

"Oh. Aku Baekhyun kelas 2 B," katanya memperkenalkan diri, mengulurkan tangan putihnya yang disambut oleh orang didepannya.

"Lay, kelas 2 A." katanya singkat.

Baekhyun mengangguk mengerti, dingin sekali anak ini, irit bicara pula. Batinnya. Tapi dia tidak mempermasalahkannya. Dan keduanya memilih diam menikmati makanan mereka.


"Bagaimana pertemuannya Sajangnim?" Minseok membuka suaranya setelah sekian lama mereka diam.

"Semuanya berjalan lancar. Seperti yang aku inginkan," katanya senang. Ah siapa yang tidak senang jika kau menjalin kerja sama dengan perusahaan besar dan semuanya berjalan dengan lancar. Semua pengusaha pun menginginkan hal yang sama bukan? Apalagi bekerja sama dengan Perusahaan besar Choi Corporation, perusahaan yang jarang sekali menerima kerja sama dari perusahaan lainnya. Dan entah kenapa perusahaan itu maju dengan begitu pesatnya.

"Ah tadi Nona Sohee menghubungi dan ia meminta untuk bertemu di restoran biasa."

.

Sohee menggigit bibirnya gugup. Tanganya tidak berhenti mengosok-gosok pada pahanya sedangkan matanya sedikitpun tidak beralih pada pintu masuk restoran yang ia kunjungi. Sohee gugup lantaran namja yang ia tunggu-tunggu belum juga terlihat batang hidungnya sejak satu jam yang lalu. Ia kembali meminum orange juice miliknya dan melihat jam.

"Sohee!" panggil seorang namja sambil melambaikan tangan.

Sohee langsung mengalihkan perhatiannya menuju namja yang berpakaian formal khusus orang kantoran yang baru saja memasuki restoran. Ia tersenyum menyambut namja itu. cinta pertamanya dua puluh tahun yang lalu. Namja yang merupakan sahabat dari kakaknya—Kim Kibum. Sohee menatap kagum pada namja itu. Dengan balutan kemeja biru langit di padukan dengan jas hitam dan celana jenas hitam yang menjadi perpaudannya, namja itu masih terlihat tampan.

"Maaf aku terlambat, tadi ada meeting mendadak." Komentar namja itu sambil menduduki kursi di depan Sohee.

"Maaf, sudah mengganggu waktumu, oppa" Ujar Sohee sungkan.

"Ah, tidah apa-apa." Kyuhyun tertawa. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya lagi.

"A-aku baik-baik saja." Jawab Sohee. "Ingin pesan apa?"

"Capuccino saja."

Sohee langsung memanggil pelayan dan memesan cappuccino untuk Kyuhyun.

"Ada apa?" tanya Kyuhyun. Sohee langsung terlihat gugup.

"Aku ingin membicarakan tentang Jongin," Sohee langsung ke inti permasalahannya ia tahu pria di depannya itu tidak suka basa basi. Dia juga sadar kalau Kyuhyun itu orang yang sibuk dan susah untuk ditemui.

Sesaat perhatian mereka teralihkan oleh pelayan yang mentarkan pesanan mereka.

"Jongin?" Kyuhyun memastikan, Sohee mengangguk. "Kau tahu sesuatu atau kau sudah menemukannya?" tanya Kyuhyun menggebu.

"Ya. Tapi aku tidak yakin itu benar Jongin atau bukan. Maka dari itu aku meminta bantuanmu."

"Ah, tidak usah sungkan. Kau tahu sendiri aku sudah menganggap kalian seperti keluarga sendiri jadi aku akan melakukan apapun demi menemukan Jongin."

"Apa kau memiliki fhoto Jongin ketika masih bayi, Oppa? Baru-baru ini aku melihat di internet, ada suatu program dimana kita dapat mencocokkan wajah seseorang dimasa sekarang. Bagaimana jika kita mencoba untuk menemukannya dengan cara seperti itu? kau bilang ada kemungkinan kalau dia masih hidup."

Kyuhyun nampak berpikir sejenak, benarkah harus melalui cara itu saja karena selama ini ia telah mencari dengan segala cara namun tidak ada hasil apapun.

"Bagaimana?"

"Baiklah kita lalukan cara itu. rekanku juga di As menemukan orang tuanya seperti itu."

"Benarkah?"

Kyuhyun mengangguk. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehnya, ah dia jadi meragukan kecerdasannya sendiri dalam hati. "Aku akan meminta temanku memeriksanya. Dan kemungkinan hasilnya 99 akurat."


"Akh!"

Rintihan terdengar dari salah saru bilik restroom, bunyi debuman bahkan tamparan terdengar bersahutan seolah memperjelas rintihan sosok yang disinyalir berjenis kelamin namja itu. Bukannya ia tidak bisa melawan, andai saja tangannya tidak ditahan oleh kedua orang yang kini tengah menahan kedua tangannya mungkin dari tadi dia sudah membalasnya.

"Mati kau!"

"Rasakan ini!"

"Kau pikir kau siapa eoh!"

"Apa salahku?" tanya lirih, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi, sakit rasanya ketika mendapatkan tamparan di wajahmu. Bahkan kau tidak tahu apa salahmu samapi-sampai diperlakukan seperti ini.

"Kau bilang apa salahmu?" katanya mencemooh korban penganiayaan, "Kau tidak ingat kejadian tempo hari ketika jam olah raga!"

Oh sekarang Kai tahu apa penyebabnya, tapi kenapa ia diperlakukan seperti ini bahkan waktu itu ia yang terluka. Ingat kakinya sampai terkilir gara-gara orang yang ada dihadapannya kini. Entah siapa namanya Kai tidak ingat, meskipun dia teman sekelasnya.

"Kau bukan siapa-siapa disini." tunjuknya tepat dimuka Kai, "Bahkan kau tidak memiliki seorang ibu."

Deg

kenapa?

apa salahnya bila aku tidak memiliki seorang ibu, kalian pikir itu mauku. aku juga ingin memiliki ibu merasakan kasih sayangnya sama seperti kalian.

Kai tidak membalas, ia menundukkan kepalanya.

"Kenapa? Yang aku katakan benar bukan?" kata salah seorang dari mereka.

Ya kau benar...

"Kenapa tidak menjawab."

"Jawab bodoh, bos kami bertanya padamu." kata salah seorang lagi sambil menjambak rambut Kai kuat hingga Kai kembali merintih sakit, tapi dia memilih diam tidak mejawab.

"Sudahlah kita keluar sekarang." kata orang yang tadi dipanggil bos.

Pintu terbuka seiring dengan keluarnya empat namja dengan kondisi tubuh berbeda. Tiga diantaranya terlihat menepuk dua tangan mereka dengan bahasa tubuh seolah mengatakan kalau mereka berhasil membasmi hama di ladang. Sedangkan satu naja lainnya—Kai terlihat menundukkan kepalanya dengan kondisi tubuh mengenaskan, baju kusut dan basah—tadi diantara mereka ada yang menyiram tubuhnya dengan air.

Rambutnya acak-acakan dengan sudut bibir yang masih mengeluarkan darah segar, disebelah pipinya terlihat memerah bahkan sedikit kebiruan.

Hampir seluruh siswa berkumpul di koridor sekitar restroom, mengamati bagaimana namja dengan kondisi yang tidak wajah tersebut yang masih menundukkan kepalanya.

"Pergi kau! Orang sepertimu tidak pantas berada disini! Dasar menjijikan!"

Kai—namja itu—melangkah pelan sambil memegangi pergelangan tanganya, ketiga orang tadi memelintir tangannya terlalu kuat hingga bisa ia rasakan persendiaannya masih berdenyut sakit. Tulang punggungnya benar-benar seolah mati rasa, masih jelas diingatannya bagaimana dua ketiga orang tersebut mendorong punggungnya berkali-kali kepinggiran wastafel.

Apa salahnya, hanya karena ia tidak memiliki ibu bahkan ia mendapat perlakuan seperti ini. Memang ini bukan untuk yang pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh teman-teman disekolahnya. Teman? Apakah itu masih bisa dibilang teman? Tapi semenjak Sehun selalu bersamanya perlakuan seperti ini tidak pernah ia dapatkan lagi. Namun sekarang kejadian seperti ini terulang lagi. Tadi ketika selesai isritahat pertama ketika ia hendak pergi ke kelasnya tiba-tiba saja ia sudah dihadang oleh tiga orang namja yang ia tahu teman sekelasnya. Dan berakhirlah dia di sini.

Air matanya sudah tidak mengalir lagi, beberapa orang menertawakan kondisinya. Dan kali ini dia benar-benar sudah tidak dapat menahan amarahnya. Kai menghentikan langkahnya dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

"Diam!" teriakan Kai menggema di sepanjang koridor itu. bunyi gaduh terdengar. Kai memandang penuh benci kepada mereka semua.

"Kalian pikir kalian siapa, sialan!?" Kai mengusap kasar darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan jarinya. Mukanya memerah karena marah. Ia berjalan menuju tiga orang namja yang memulai ini semua. "Dengar siapapun kau kesabaranku sudah habis, ya aku memang tidak punya ibu, ada yang salah dengan itu, heh! Brengsek!" makinya sambil memegang erat kerah siswa didepannya itu sehingga ia kesulitan bernafas. mata mereka saling beradu kebencian.

"Sebelum kau menghina keluargaku lebih jauh…" ucapnya menggantung, "…Akan kupastikan keluargamu menderita seumur hidup." Ancam Kai, kemudian mendorong orang tersebut ke lantai dengan keras. Entah ia mendapat kekuatan dari mana setelah kita tahu kondisi Kai saat ini. Semua hanya diam.

Sehun, Luhan dan Suho yang baru datang tadi begitu ia diberi kabar oleh teman sekelasnya yang mengatkan akalau Kai tengah bertengkar, ketiganya langsung melesat kesini tempat dimana Kai berada kini. ketiganya diam mematung terlalu terkejut dengan semua ini. Kai-nya yang manis berubah 180 derajat. Dia tidak menyangka kalau Kai melakukan semua ini. Dia tidak pernah melihat Kai yang seperti ini sebelumnya.

Kai memandang seluruh siswa satu persatu dengan pandangan menusuk. Aura yang ia keluarkan benar-benar kelam. Setelahnya Kai pastikan, esok hari mereka akan menerima akibatnya dan mengemis mencium kakinya.


Kai mengurung dirinya dikamar. Ia langsung meninggalkan sekolah dan pulang ke apartement setelah insiden siang tadi. Bahkan ia tidak mengatakan apapun pada Sehun, dia tadi sempat melihat Sehun dan tidak memperdulikannya ketika Sehun mengejarnya. Sepertinya Siwon masih sibuk dikantornya dan belum mendapatkan kabar apapun dari pihak sekolah.

"Tuan Muda, buka pintunya!" terdengar suara dari luar sepertinya Victoria orang kepercayaan Siwon dan dia sudah menganggap Kai seperti adiknya sendiri. Dialah orang yang ditugasi Siwon kalau terjadi sesuatu pada putra kesayangannya itu. "Tuan Muda, buka pintunya! Obati dulu luka anda."

"Pergi!"

"Setidaknya biarkan saya masuk," pintanya masih setia mengetuk pintu meskipun sudah disuruh pergi.

"TIdak mau. Pasti noona akan melaporkannya pada Daddy!"

Victoria mengela nafas, Tuan Mudanya itu memang keras kepala berbeda sekali dengan Siwon. "Tidak, saya tidak akan memberitahu Tuan Besar kalau anda mau membuka pintunya."

Kai yang merasa jengah membuka pintu kamarnya, menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Janji?" katanya, sifat kekanak-kanakkannya muncul lagi.

"Ya." Kai membuka pintu lebih lebar membiarkan Victoria masuk kedalam kamarnya. "Tapi saya tidak yakin kalau Tuan Besar tidak mengetahui ini." Ia meletakkan kotak P3K ditempat tidur dan duduk disebelah Kai.

"Tapi kalau noona tidak memberitahunya Daddy tidak akan tahu." Katanya yakin. Victoria mulai membersihkan darah disudut bibir Kai dengan kapas yang sudah diolesi alcohol. "Aww, pelan-pelan ini sakit noona." Protesnya.

"Yakin sekali. Ini sudah pelan, jangan banyak protes." Setelah selesai ia pun menempelkan plester di sudut bibir Kai. "Kenapa anda tidak memukul mereka sampai babak belur?! Malah pulang seperti pengecut Tuan!" protes Victoria mengatai Tuan Mudanya yang tidak-tidak.

"Berkelahi tidaklah benar." Ujarnya lesu.

"Yah! saya tahu tetapi bisakah anda realistis sekali saja?! Mereka adalah remaja tidak berotak yang hanya bisa diajari dengan ini!" ujar Victoria sambil mengepalkan tanganya ke udara. Berusaha menunjukan pada Kai.

Kai hanya menunduk sementara Victoria memijit keningnya, stress. "Fine. So, what happen?" tanyanya pada akhirnya.

"Pastikan Daddy tidak mengetahui ini." Ujar Kai sambil merajuk. "Aku takut Daddy mengamuk di sekolah besok!" ia takut insiden di LA saat berada di tingkat delapan terulang kembali.

"Oh jadi karena masalah itu lagi." Victoria tertawa, terdengar sangat mengerikan ditelinga Kai.

"Ish! Sudahlah. Awalnya memang kesal tetapi sekarang aku sudah tidak apa-apa." ujarnya meyakinkan.

"Baiklah. Tapi saya tidak yakin orang suruhan Tuan Besar tidak memberitahukannya."

"EHH?" kagetnya, memandang Victoria horror.

"Anda tidak tahu kalau Tuan Besar selalu mengawasimu dari jauh." Jelasnya. "Sudahlah lebih baik Tuan Muda istirahat sekarang, biar saya yang urus semuanya. Lagian besok anda harus sekolah" Lanjutnya.

"Tapi noona,"

"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang istirahat."

"Ish!" Kai mendesis tidak suka diperlakukan seperti anak kecil oleh Victoria, namun Victoria mana peduli setelah ia membereskan obat-obatan yang tadi digunkan untuk mengobati luka Tuan Mudanya ia segera keluar dari kamar tersebut.


Bel istirahat berbunyi, Kyungsoo sensaengnim selaku guru matematika langsung mengakhiri kelasnya. Kai tergesa-gesa mengeluarkan bekal makan siangnya yang berisikan tiga potong onigiri dengan irisan daging dan kimchi. Dia sengaja tidak ke kantin belum siap untuk bertemu Sehun. Lagian perutnya sudah terasa lapar sejak tadi.

"Umm, enak." Bisik Kai sambil tersenyum. onigiri buatan Victoria memang selalu lezat. Dia bahkan tidak menyadari Tao dan Chen yang terus memperhatikannya dari tadi pagi.

"Kai kau baik-baik saja?" tanya Chen khawatir melihat luka di wajah temannya itu.

"Eh!" serunya kaget, dia baru sadar kalau kedua temannya itu masih ada didalam kelas sedang memperhatikannya. "Aku baik-baik saja."

"Ini pasti sakit," kata Tao sambil memegang luka di pipi Kai.

Plak

Seseorang menepis tangan Tao yang ada dipipi Kai.

"Jangan pegang-pengang." Suara dingin nan menusuk, Kai mendongak mendapati Sehun tangah memandang Tao tajam. Membuat Tao menciut seketika.

"Sehunie~"

"Apa masih sakit?" tanya Sehun lembut.

"Sudah lebih baik." Kai tersenyum simpul tidak menyadari suasana kelasnya yang terasa muram. Semua teman sekelas Kai menatapnya dengan pandangan kesal—kecuali Chen, Tao, dan Sehun—tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Seorang siswa teman sekelas Kai nekad berjalan mendekati Kai walaupun teman sebangkunya sudah menahannya untuk tidak pergi. "Kenapa kau tega sekali…" katanya serak, mengalihkan ke-empatnya keasal suara. "kenapa kau menghancurkan bisnis keluargaku!" protesnya. Kai yang tidak tahu apapun hanya kebingungan sambil melihat sekelilingnya. Pemuda itu bingung dan merasa waspada takut jika ini acting mereka untuk membully-nya lagi. Namun sayangnya yang ia lihat adalah semua teman sekelasnya terlihat murung.

"Apa yang kulakukan?" tanyanya tidak mengerti.

"Jangan pura-pura tidak tahu. Semua investor menarik kembali investasi mereka di perusahaan keluargaku." Katanya.

"Kenapa dia? Semua bisa saja kebetulan kan." Ujarnya Sehun yang juga tidak mengerti kenapa kekasihnya disalahkan. Tentu saja dia tidak terima.

"Semua karena orang yang bermarga Choi. Dan satu-satunya yang bermarga Choi dikelas ini hanya kau…" kata sambil menunjuk kearah Kai dengan tidak sopan."…gara-gara kejadian kemarin, bahkan Minwoo tidak masuk hari ini." Ujarnya.

Sehun diam tidak menjawab, begitu juga dengan Tao dan Chen. Tidak tahu harus berkata apa, karena memang benar orang yang bermarga Choi setahu mereka hanya Kai.

"Oh…" lirihnya namun masih terdengar jelas. "Jadi apa mau mu?" tanyanya dingin tanpa nada tanya. Sehun mengalilihkan tatapannya pada kekasihnya itu.

Apa yang kau pikirkan Kai?

Jelas sudah Choi ahjussi sudah mengetahui semuanya. Kalau sudah begini siapa lagi yang bisa melakukan ini semua kalau bukan Choi ahjussi.

.

.

.

To be Continue…