Naruto disclaimer Masashi Kishimoto
Date a Live disclaimer Tachibana Kōshi
Character: Naruto, Shido, Tohka, Kaguya & Yuzuru dll
Genre: Friendship, Action, Fantasy, Romance, Sci-fi, Hurt/Comfort
Warning : Ooc, Semi canon, Imajinasi author, tidak suka tidak usah di baca
Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lainnya atau kekurangan lain, karena yang namanya manusia tidak lepas dari kesalahan.
The Last Shinobi
Chapter 4: Munculnya petaka
Hari kedua study wisata telah dimulai.
Saat ini, nampak pantai telah ramai oleh siswa dan siswi SMA Raeizen yang sedang bersantai dan bermain-main disana dengan pakaian dan baju renang mereka. Tempat ini menjadi sangat terkenal sejak hotel di bangun delapan tahun yang lalu. banyak wisatawan lokal dan internasional datang ketempat ini. Buktinya saja, saat ini ada beberapa orang turis luar negeri yang tengah berfoto dengan para murid SMA Raizen.
Dari sekian banyak murid yang bersenang-senang, ada beberapa yang lebih memilih untuk berada ditempat lain yang jauh dari keramaian, ada pula yang sedang berlomba-lomba siapa yang paling lama menyelam didalam ari laut yang asin itu.
Saat ini, terlihat Naruto yang sedang menelusuri daerah sekitar dengan tatapan wajah datar. Dia nampak tengah mencari sesuatu atau seseorang. Dari belakang, datang seorang gadis berambut merah yang panjangnya sebahu, memakai pakaian lengan panjang dengan tudung dan tekstur kain yang tipis menutupi pakaian bikini yang ada didalamnya.
"Kau sedang mencari apa?"
Gadis tersebut bertanya.
"Aku sedang mencari Shido" Jawab Naruto dengan nada sedikti kesal.
Gadis tersebut menaikkan alisnya tanpa dia sengaja saat mendengar perkataan Naruto barusan.
"Hooo..."
Gadis itu mengeluarkan sebuah suara yang terdengar imut dengan mulut yang masih belepotan oleh sesuatu yang berwarna coklat.
"Benar juga, ini kan sudah waktunya janjian itu, kan?"
"Yeah, kau benar sekali, Kurama!"
Naruto berkata dengan nada sedikit kesal sambil membalikan badannya.
Pandangan matanya, terus menelusuri sekitar ketika dia memutar badannya sambil berpikir dia akan melihat orang kini sedang dia cari-cari.
Namun, pandangannya terhenti ketika dia melihat kearah Kurama yang sekarang ini tengah berdiri didepannya. Bukan karena pakaian yang dia pakai, ataupun wajahnya yang terlihat manis. Melainkan sesuatu berwarna coklat yang berada disekitar area mulutnya, ditambah lagi sebuah es krim rasa coklat yang kini berada di tangannya.
Naruto membuat wajah sewot dan berkata.
"Kau masih belum puas juga?"
Mendengar Naruto bertanya dengan nada yang seperti itu, Kurama mengerutkan alisnya.
"Memang kenapa? Kau tidak suka?" Ucap Kurama dengan nada ketus
Naruto menepuk jidatnya, entah rasa macam apa yang ingin dia katakan tapi.
"Bukan begitu..."
Dia lalu mengambil sesuatu dari saku celana belakangnya.
"Kau sudah menghabiskan dua mangkok es krim ... dompetku juga sekarat gara-gara itu, dan kau masih belum puas juga?"
Tanpa dia sadari dia mengungkapkan kekessalannya dalam perkataan tersebut sambil membuka kembali dompetnya yang sudah hampir kosong tanpa uang sedikitpun. Dan bahkan bisa dilihat seekor lalat yang keluar dari dalamnya.
Nafsu makan Kurama benar-benar gila, hal ini mengingatkan Naruto pada salah satu teman sekelasnya yaitu Tohka. Gadis berambut ungu kehitaman tersebut dikenal dengan nafsu makannya yang seperti monster. Namun meski begitu, dia tetap saja bisa berpenampilan cantik dan dengan body yang woww.
Namun meski begitu, Kurama berkata dengan sambil membusungkan dadanya.
"Huft, yang seperti itu mana mungkin membuatku puas, aku masih ingin satu mangkok es krim lagi!"
Kali ini giliran Narutolah yang mengerutkan dahinya,
Dia terus menatap Kurama dengan ekspresi wajah sewot.
Namun Kurama sendiri malah asyik memakan es krim yang berada ditangannya. Dia nampak tidak memperdulikan keadaan dompet Naruto yang sudah sekarat.
Sementara Naruto hanya bisa menghela nafas panjang. Sekrang dia mengerti perasan Shido ketika dia menghadapi Tohka yang memiliki nafsu makan yang seperti monster itu. Bisa di katakan kalau ini mungkin sebanding dengan itu.
Sambil melihat isi dompetnya yang kini mungkin hanya menyisakan sedikit uang.
Naruto kembali membuat ekspresi wajah sewot.
'Sial, kalau terus begini ... seluruh uang ku bisa habis sebelum study wisata ini selesai'
Dirumah dia juga memiliki uang simpanan, namun tidak terlalu banyak.
Naruto kemudian menyimpan kembali dompetnya kedalam saku celana pendeknya yang berwarna jingga itu.
Dengan ekspresi wajah yang kesal, Naruto berjalan dia menatap sebentar kearah Kurama yang kini sudah menghabiskan es krim coklatnya. Dia kelihatan begitu senang setelah menghabiskan seluruh es krimnya. Dia seolah mengatakan 'aku ingin lagi' yang terlihat dari ekspresi wajahnya.
Alis Naruto berkedut saat itu juga.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Kurama seolah tidak ada rasa berssalah sama sekali.
"Tidak apa-apa" Ucap Naruto dengan nada sewot.
Kurama menatap ekspres Naruto dengan wajah datar.
Beberapa murid perempuan terlihat berjalan melewati mereka, mereka terlihat mengarahkan pandangan kearah Naruto dan Kurama. Hal tersebut bukan tanpa alasan, Kurama yang kini terlihat seperti seorang remaja perempuan yang memiliki wajah cantik dan juga kulit mulus, bersama dengan Uzumaki Naruto, si murid paling jahil di SMA Raizen.
Mereka terus diperhatikan dari jarak jauh.
Namun meski begitu, Naruto yang memiliki kemampuan cakra dan Kurama yang merupakan Kyuubi no Yoko bisa dengan mudahnya menyadari bahwa mereka sedang di perhatikan.
Naruto membuat ekspresi wajah datar dan melirik kearah orang-orang yang tengah berada disisi lain.
"Hey, Naruto sebaiknya sekarang kita pergi cari si Shido itu!" Ujar Kurama
"Ya"
Naruto menjawab dengan jawaban singkat.
Mereka pun melenggang pergi namun-
"Tunggu sebentar-"
Ketika hendak melenggang pergi, Naruto tiba-tiba menarik tangan Kurama hingga membuatnya berhenti melangkah. Kurama pun tidak mengerti dengan maksud Naruto menghentikan langkahnya. Seditik sebelum dia bertanya, Naruto mendekatkan tangannya kearah wajah Kurama.
"Aa...!?"
Kurama pun langsung panik melihat kelakuan Naruto itu.
Namun dia sama sekali tidak ada maksud jahat apapun, dia menyadari apa yang tidak di sadari Kurama. Naruto menempelkan ujung jari jempolnya di pipi bagian kiri Kurama dan membersihkan sisa es krim yang masih menempel di wajah manis milik Kurama itu.
Hal tersebut pun sontak membuat rona merah tipis di wajah Kurama.
Dirinya hanya bisa mematung saat Naruto melakukan hal itu padanya.
"Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana dengan wajah yang belepotan begitu"
Naruto berkata dengan nada yang ramah dan sambil tersenyum kecil.
Oarng lain yang melihatnya pun hanya berisul-siul tidak jelas, sementara bagi para gadis yang lewat dsisi mereka hanya membuat ekspresi dengan rona merah sedikit di pipi mereka.
'Lihat, si Uzumaki ternyata romantis juga'
'Iya kau benar'
'Lihat saja caranya merayu gadis itu'
Dan begitulah setidaknya hal-hal yang ucapkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Bagi Naruto yang sudah jelas merupakan murid paling jahil disekolah, hal itu jelas jarang sekali mereka lihat.
Meski mengetahui apa yang dia dengar Naruto tampak tidak terlalu memperdulikannya.
"Baiklah, kembali ketopik awal..."
Naruto mngucapkannya sambil bertopang dagu dengan satu tangan.
"Ehh..." Sementara itu, Kurama yang sempat melamun akhirnya tersadar juga
"Shido atau Reine-san berjanji akan menjemputku setelah jam delapan, namun sekarang sudah pukul delapan lebih lima belas menit, dan salah satu dari mereka belum juga datang ketempatku, ... menurutmu bagaimana, Kurama?"
"Ehh ... etto ... bagaimana kalau kita coba untuk mencari mereka disekitar?"
"Kurasa itu percuma, karena aku sudah melakukannya saat kau menghabiskan semangkuk es krim tadi!"
"Me-memangnya kenapa, apa kau menyalahkanku?"
Wajah Kurama memerah dalam artian emosi karena Naruto terlihat seperti menyalahkannya barusan. Namun dengan segera dia membantah.
"Aku tidak menyalahkanmu, tapi memang kenyataannya begitu, kan ... yah sudahlah, lupakan saja. pertanyaannya sekarang, dimana kita harus mencari Shido dan Reine-san?"
"Hft ... kalau kurasa sih, mungkin saja mereka pergi ketempat yang sepi dan jarang pengunjung"
Mendengar ucapan Kurama, Naruto tidak sengaja menaikkan sebelah alisnya.
Sedetik kemudian, dia menyadari apa yang dimaksud oleh Kurama.
"Oh benar juga, untuk melakukan proses pendekatan terhadap dua gadis spirit yang super merepotkan itu, mereka pasti memilihkan tempat yang sepi pengunjung..."
Namun, sedetik kemudian, Naruto langsung membuat wajah sewot saat dia menyadari sesuatu.
"Ad apa denganmu?" Tanya Kurama sat dia melihat ekspresi wajah Naruto.
"Eh, tidak apa-apa, hanya saja aku mulai menyadari kalau ini mungkin bukanlah ide yang bagus"
"Apa maksudmu?"
"... yah, kau tahu sendiri kan, mereka berdua itu sering melakukan hal-hal yang nekat padaku saat tidak ada orang lain ... aku berpikir apakah kali ini mereka juga akan kembali melakukannya"
"Maksudmu seperti saat di pemandian air panas dan ketika mereka menyusup masuk kekamarmu kemarin?"
"Yah, begitulah"
Mendengar ucapan Naruto barusan, kini Kurama malah memperlihatkan senyuman dalam artian penuh rasa kagum.
"Hm ... aku kagum, mereka berani melakukan hal yang seperti itu kepadamu"
"Harusnya kau tidak kagum seperti itu, Kurama! Kalau aku tidak menegur mereka, aku juga yang nantinya kena masalah!"
"Hee, apa ini ... aku tidak percaya Uzumaki Naruto yang terkenal jahil bisa berkata seperti itu"
Alis Naruto berkedut
"Ck, kau ini, apa maksud ucapanmu itu?"
"Tidak ada, kok!"
Kurama kemudian menghela nafas pendek dan bertanya
"Nah, sekarang, kembali ketopik awal ... Tohka, Shido, Reine dan juga Kaguya serta Yuzuru hilang sejak tadi pagi entah kemana ditambah lagi kau tidak bisa menghubungi salah satu dari mereka, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Hn ... aku akan coba melacak mereka dengan mode sennin" Jawab Naruto datar
"Mode Sennin? Hn ... kurasa itu ide yang bagus!"
"Baiklah, sekarang hanya tinggal mencari tempat yang sepi"
Naruto mengedarkan pandangannya kearea sekitar sambil mencari tempat yang cocok. Namun tempat ini terlalu ramai, yah namanya juga pantai, pastilah akan banyak orang ditempat ini.
"Ayo, ikut aku!"
"Heh!"
Tanpa pikir panjang lagi, Naruto kemudian menarik tangan Kurama dan tidak lama kemudian tibalah mereka disuatu tempat.
Tepatnya di bawah sebuah pohon yang rindang, dimana hawa yang sejuk berada. Sinar matahari terpancar melalui sela-sela dedaunan. Disini tempat yang cukup sepi dan nampaknya jarang ada yang datang kesini.
"Disini?"
Kurama bertanya sambil melihat area sekitar yang hanya ada pepohonan dan juga jalan setapak di ujung sana.
Sementara itu, Naruto langsung duduk bersila dan memejamkan matanya untuk mendapatkan energi alam.
Kurama yang kini berdiri disebelah kanan Naruto sempat melirik kearahnya yang sedang duduk bersila disana. Dia memandang surai kuning milik Naruto yang nampak mengkilau dan juga lembut. Rasanya ingin sekali dia menyentuh surai pirang pemuda itu.
Namun Kurama menahannya perasaan itu, dan perlahan rona merah muda mulai terlihat lagi dikedua sisi pipinya.
Namun-
"Heh...!"
Bahu Kurama tersentak dan segera mengalihkan pandangannya saat Naruto selesai mengumpulkan energi alam.
Dengan cepat Naruto pun membuka matanya, dan pupil matanya berubah menjadi warna kuning dengan tanda seperti tanda (-) dan juga tato berwarna merah kecoklatan mulai terbentuk disekitar matanya.
Dengan menggunakan mode sennin, kekuatan fisik dan mental pengguna akan meningkat drastis. Dan dengan mode ini pula, Naruto mampu meningkatkan kemampuan sensoriknya hingga dua kali lipat.
"Itu mereka!"
Naruto bergumam selagi dia berhasil merasakan hawa keberadaan orang yang kini tengah dia cari.
"Kau menemukan mereka?"
"Ya"
"Dimana tempatnya?"
"Tempatnya cukup jauh jika ditempuh dari sini, mereka ada di ujung utara pulau Arubi"
"Ujung Utara, ya ... kalau begitu sebaiknya kita cepat pergi kesana sebelum mode sennin-mu itu habis" Saran Kurama
"Ya, kau benar juga, ayo!"
SYUUT
Setelah itu, mereka berdua kemudian menghilang dari tempat mereka berada
DITEMPAT SHIDO
Shidou saat ini berad di pantai Akaru yang terletak di ujung utara Pulau Arubi.
Pantai ini yang telah dibatalkan karena gempa darat di pulau ini 30 tahun yang lalu, itu tampak seperti busur lembut dari pemandangan dari atas, dan nampaknya itu disebut nama keren seperti pantai bulan sabit. dari panduan.
''...''
Tapi, tidak ada tanda-tanda bayangan seperti turis di sana.
Namun itu hanya normal. Shidou dipanggil dan dihentikan oleh Reine saat hendak pergi ke ruang ganti bersama orang lain, dan dengan menggunakan mobil sewaan yang disiapkan, dia dibawa ke pantai pribadi yang terletak di tepi pantai Akaru.
Sepertinya dia sengaja menyiapkannya kemarin, karena ada kemungkinan tinggi bahwa penangkapan Shidou mungkin terganggu oleh teman sekelas lainnya saat sedang berlangsung.
''Haa ... ini luar biasa'' Langit sudah bersih. Sinar matahari yang intens tercermin pada air transparan yang tinggi, dan membuat Shidou menyipitkan matanya. Namun, sebaliknya, dibandingkan dengan anak laki-laki muda energik normal yang bermain di kolam renang, bergumam dengan nada yang mirip dengan pria tua, dia kemudian dengan lembut membelai luka goresan yang dibuat di dadanya dan pipinya.
Shidou mendesah. Seakan untuk menyesuaikan dengan itu, sebuah suara mengantuk bergema dari Incam yang dilengkapi di telinga kanannya.
"... Shin, sepertinya Kaguya dan Yuzuru sudah selesai berganti baju. Dimana Naru?'' Mendengar kata-kata Reine, Shido menepuk jidatnya
"Shimatta, aku lupa menjemput anak itu!"
Dari Incam yang dia pasang ditelinga kanannya, nampaknya Reine menghela nafas panjang.
"Haah ... Shin, kau harus belajar mengatasi ingatanmu yang buruk itu"
"Ehehehe ... maaf, aku akan coba untuk menghubunginya sekarang!"
Namun pada saat itu, Reine tiba-tiba memutus komunikasi mereka.
Dan pada saat bersamaan, dia mendengar suara 2 orang dari belakang.
''Kuku ... Jadi kamu bersembunyi di tempat seperti ini ya. ''
''Temukan. Menemukanmu, Shidou. ''
Mereka adalah nada yang khas. Tidak perlu konfirmasi. Shidou perlahan berbalik.
Kaguya dan Yuzuru berdiri di sana seperti yang dia duga. Kaguya mengenakan bikini hitam dengan hiasan renda putih dan berlawanan dengan itu; Yuzuru mengenakan bikini dengan latar belakang putih yang dihiasi dengan tali hitam.
Ke kedua sisi, sangat cocok untuk mereka sehingga menyebalkan. Jika gadis-gadis ini berjalan berdampingan di pantai, mungkin tidak akan berakhir dengan satu atau dua orang mendekati mereka secara spontan.
''O, ou, kalian berdua. Ini sangat cocok untuk kalian berdua. Ini sangat indah''
Namun tiba-tiba, Kaguya melipat kedua lengannya.
''Ku, kukuku ... bukankah itu sudah pasti? Pakaian ini dibuat hanya untuk menebar pesonaku''
''Penghargaan. Arigatou Shido, meski Yuzuru ingin mendengarnya dari orang lain''
Selanjutnya, Yuzuru membuat busur patuh.
"Oh iya, Ngomong-ngomong ... dimana Naruto?"
"Bertanya, Shido, Naruto berada dimana sekarang?"
"Hey, Yuzuru, jangan mengulang pertanyaanku!"
"Membantah, Yuzuru tidak mengulang perkataan Kaguya, Yuzuru mengucapkannya dengan pelafalan yang berbeda"
"Apa itu! jangan memakai bahasa yang rumit!"
"Penolakan, Yuzuru tidak memakai bahasa yang rumit, otak Kaguya saja yang dangkal"
"Apa katamu!"
Kaguya berkata dengan nada geram terhadap Yuzuru.
Sementara itu, Shido hanya tersenyum kikuk melihat interaksi dari dua spirit yang kini berada di hadapannya.
Disaat itulah, Shido kembali mendengar suara yang memanggilnya dari belakang.
"SHIDO!
Disana ada Tohka dan Origami yang sedang berlari menuju Shido.
Kebetulan, pakaian mereka adalah pakaian renang yang dibeli Shido untuk mereka bulan lalu. Tohka berwarna gelap sementara Origami adalah bikini putih. Keduanya patut dicoba, sangat cocok dengan mereka.
''Shido, kamu berada di tempat seperti ini! Aku mencarimu! ''
''Shido. Kenapa kamu bersama dengan Yamai bersaudara? ''
Dan, Tohka mengatakan bahwa ceria sementara Origami mengatakannya dengan curiga. Shidou membuat senyuman yang senyap seakan menipu mereka dengan ambigu dan mundur selangkah.
''Itu, anu ... ahaha, sebenarnya, aku tersesat ... ''
Dan pada saat itu, entah bagaimana berhasil memperbaiki pernapasan mereka, Kaguya dan Yuzuru, yang mengenakan baju renang mereka tetap terjaga, mengeluarkan suara mereka.
''Kuku ... begitulah, kau datang disaat yang tepat. Bagaimana kalau kau bergabung denganku, pengawal Tohka"
"Mengejutkan, aku tidak menyangka Mastah Origami akan berada disini''
"Pengawal? Mastah? Sebenarnya ada apa ini?"
Shido bertanya dengan nada bingung
Omong-omong, ada pembicaraan tentang Kaguya dan Yuzuru yang menjadi beban di kamar Tohka dan Origami masing-masing. Tidak mengherankan jika keduanya mengingat wajah mereka. ... yah, entah itu tuan atau pemilik, dia sedikit penasaran dengan mengapa jenis judul yang tidak terdengar seperti apa yang teman harus menggunakan sedang digunakan.
"Emek ... aku melihat beberapa potensi dalam dirinya. Aku pun memberinya hubungan kegelapan dan mengikatnya dengan perjanjian pengawal"
"Informasi, Yuzuru terpesona oleh keterampilan Mastah. Dia pun menjadikanku muridnya"
"Begitu, toh ..."
"Jadi, apa yang kalian bertiga lakukan disini?"
"Etto ... sebenarnya kami..."
Dan, di tengah kata-kata Shido, suara mengantuk terdengar terdengar dari belakang. Melihat ke belakang, di sanalah Reine, mengenakan parka di atas baju renangnya. Mungkin karena sinar matahari terlalu kuat, dia menyipitkan matanya sambil membuat keteduhan dengan tangannya dan kepalanya bergoyang-goyang. Dia tampak seperti pasien anemia yang hampir jatuh setiap saat tapi ... yah, Shidou tahu bahwa inilah Reine yang biasa. kondisi.
''Reine-san ...?'' Shido mengangkat alis dengan ragu. Saat ini, Reine mengira memberikan nasehat kepada Kaguya dan Yuzuru melalui Incam. Kaguya dan Yuzuru mungkin memiliki keraguan yang sama, mereka menatap Reine dengan aneh dan menyentuh Incam yang dilengkapi telinganya dengan tangan mereka.
'' ... Karena jumlah orang meningkat. Bagaimana kalau kita bermain voli pantai? ''
Mengatakan itu, dia menunjuk ke ujung pantai.
Pada awalnya, Kaguya dan Yuzuru tidak bahagia tapi setelah beberapa saat, mereka sepertinya segera mengerti bahwa tujuannya telah diubah.
''Fuun, baiklah. Tidak peduli apa yang kita lakukan, tetap saja aku yang akan berdiri di atas''
''persetujuan, Yuzuru tidak keberatan. Yuzuru adalah orang yang akan menang''
Ketika mata mereka bertemu setelah mengatakan bahwa, meski bukan lomba, keduanya mulai berlari pada waktu yang bersamaan.
''Oou!''
Dengan demikian, Tohka mulai berlari seolah-olah dia terinspirasi oleh mereka. Origami mengalihkan pandangannya ke arah Shidou dan Reine seolah dia tidak cukup yakin, tapi mungkin dia menduga tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan berjalan menuju pantai.
Dan seolah mengikutinya, Reine dan Shidou juga mulai berjalan.
''... jadi, Reine-san. Kenapa kamu tiba-tiba keluar? ''
''... aah Itu karena Tohka dan Origami yang muncul tanpa di prediksi. Jadi, aku memilih untuk rencana B''
''Rencanakan B, katamu''
''... aah, Selagi menunggu Naru datang, aku berpikir untuk embuatmu menjadi lebih dekat dengan Kaguya dan Yuzuru''
''Apa kau yakin kalau Naruto akan datang?''
"Entahlah, tapi setidaknya ini patut untuk dicoba"
"Iya juga sih, Tapi ... aku tidak yakin kalau mereka bisa bekerja sama"
''... yah, kalau soal itu serahkan saja padaku''
Setelah percakapan seperti itu, Shido dan yang lainnya mencapai lapangan voli pantai yang indah yang dibangun di pantai. Setelah itu, Reine menyandarkan tubuhnya ke atas dan mengambil benda seperti tabung yang bersandar di tiang.
''... sekarang, mari kita putuskan pemisahan tim. 3 orang dalam satu tim Tolong tarik banyak. ''
''Mu? ''
Berawal dari Tohka, pintu masuk tabung mengarah ke arahnya dan dia menarik sebuah batang yang ada di dalamnya. Shidou memukul tangannya seolah-olah dia mengerti. Tidak ada kesalahan bahwa kemungkinan besar kemungkinan besar dibuat sehingga Kaguya, Yuzuru dan Shidou berada di tim yang sama.
''... Shin , kau juga''
''Ah, ya'' Setelah diberitahu, dia mengeluarkan satu dari dua sisanya. Dan kemudian, dia membawa matanya ke ujung tempat parkir dan Shidou, [heh?] terlihat bodoh.
Itu karena, di atasnya bukan simbol atau angka, tapi gambar dari orang yang terlalu dibesar-besarkan.
''... Baiklah, orang-orang yang mengeluarkan Gregor, Jackson, dan Spenser datang ke sini, sementara mereka yang menarik Alexander, Abraham dan Anthony, pergilah ke sisi lain pengadilan''
''Reine-san, mereka itu siapa?''
''Ini? '' Tohka dan Origami menunjukkan jumlah mereka kepada Reine seolah-olah mereka bermasalah.
''... aah, yang satu ini Gregor. Yang itu Spenser ''
Selanjutnya Kaguya dan Yuzuru melakukan hal yang sama dan menunjukkannya kepada Reine sama seperti sebelumnya.
''... kalian berdua adalah Alexander dan Abraham. Silakan pergi ke sisi lain''
''...''
Dia menatap pria yang berlebihan itu (paling mungkin Anthony) sekali lagi dengan setengah matanya terpejam. ... dia tidak tahu bedanya dengan Tohka dan yang lainnya.
Tim A ... Kaguya, Yuzuru dan Shidou.
Tim B ... Tohka, Origami dan Reine.
Kaguya, Yuzuru, Tohka dan Origami. 4 orang dari 6 orang tidak puas dengan teSaya awalnya adalah organisasi, tapi hanya dengan satu kata [Aku akan memberitahu tim pemenang sebuah rahasia tentang Shido dan Naruto yang tidak akan pernah bisa ditemukan oleh orang lain] dari Reine, pertandingan dimulai.
"YOSH, AYO KITA LAKUKAAN!''
Tohka mengangkat teriakan ceria, dan melepaskan tembakan dari tepi lapangan seberang.
Tapi
''Wha!? ''
Bohyuuuuuu! Bola dengan mudah menembus jaring bersamaan dengan suara itu, dan berkembang seperti peluru. Shidou segera memindahkan tubuhnya ke samping.
Setelah bola menembus ke tempat di mana Shidou sekarang, GyaGyaGyaGyaGyaGyaa! Ia menari-nari di pantai seperti koma sebelum akhirnya berhenti.
''Reine-san! Berapa poinnya?''
''... 0 poin''
''Muu, poin keterampilan teknis tidak ditambahkan ya ...''
''... kemungkinan besar, tapi saya pikir Anda salah dengan ini dengan olahraga lain''
Mungkin setelah melihat serangan Tohka, Kaguya tertawa terbahak-bahak.
''Kuku ... tidak buruk Sepertinya saya harus serius juga''
''Tidak, Kurasa kau tidak perlu melakukannya!''
Jika itu akan menjadi pertukaran dari jenis bola itu, bahkan jika dia memiliki banyak nyawa, itu tidak akan cukup. Shidou menggelengkan kepalanya.
''Fuun, membosankan Nah apapun, selanjutnya kan layanan kita kan? ''
Dengan kata itu, Kaguya mengulurkan tangannya ke arah bola yang digali ke tanah.
Dan dengan bentuk yang tak terduga indah, dia menembak bola ke arah pengadilan lawan.
''Oou, itu datang! ''
''Jangan ganggu''
Menghentikan gerakan Tohka dengan suaranya, Origami menerima bola.
Reine yang berdiri di belakangnya saat itu terjadi, membuat lemparan yang indah. Pada kesempatan itu, payudara Reine yang bangga dengan massa mereka yang luar biasa, melambung naik turun dan mata Shidou tidak sengaja disematkan ke atasnya.
''Peringatan Ini berbahaya''
''Haa ...!''
Karena diberitahu oleh Yuzuru, dia segera membuka matanya lebar-lebar. Pada saat dia menyadarinya, di depannya adalah Tohka yang telah membuat lompatan energik cukup tinggi untuk menyeberangi jaring.
''HAA!''
Bersama dengan teriakan keras yang penuh dengan energi, Tohka memukul bola dengan telapak tangannya. Shido Berdiri di sana dengan hampa.
''Kuh, Shidou, menyingkirlah!''
''Setuju. Kau menghalangi''
Suara Kaguya dan Yuzuru bergema dari belakang. Sepertinya, mereka membuat slide untuk mendapatkan bola.
Namun, karena mereka sampai pada tempat yang sama pada saat yang sama, keduanya * Bam saling mengetuk dan jatuh di tempat. Selama waktu itu, bola melambung di dalam pengadilan dan * roll ** roll ** roll * digulung di atas pasir.
''Kuhaa! Apa, apa yang kau lakukan Yuzuru! ''
"Keberatan. Kaguya menggangguku, ini daerahku''
Kaguya dan Yuzuru menekan dahi mereka sambil saling melotot.
DI TEMPAT NARUTO
Didalam hutan, Naruto kini tengah melompat-lompat di atas dahan pohon sambil menuju ketempat Shido dan yang lainnya. Diikuti oleh Kurama dibelakangnya, gadis berambut merah panjang sebahu yang merupakan jelmaan wujud dari Kyuubi no Yoko.
Mereka berdua berlompatan dari satu pohon kepohon lain seperti layaknya seorang ninja.
Diam-diam, mata violet milik Kurama melirik kearah Naruto yang posisinya sedikit berada didepannya saat ini. Pemuda berambut pirang yang kini tengah memakai kaos lengan pendek berwarna putih dengan celena pendek berwarna jingga dan tidak lupa sebuah sandal japit yang digunakan sebagai alas kaki.
Namun, dia kini telah berkembang pesat tidak seperti Naruto yang dulu. Setelah latihan keras yang dia jalani bersama Kurama waktu itu. Naruto yang sekarang terlihat lebih gagah dan juga bijaksana, meski terkadang sifat konyol dan menyebalkannya masih menempel dalam dirinya.
Naruto kini masih dalam mode sennin, dengan mode ini dia bisa melacak hawa keberadaan Shido. Dan pastinya dia juga tahu kalau Kurama kini sedang melihat kearahnya.
"Kenapa kau melihat kearahku?"
"Eh! Tidak, kok! Siapa juga yang melihat kearahmu"
Tanya Naruto dengan nada datar tanpa menoleh sedikitpun. Bahu Kurama langsung tersentak dan langsung berusaha mengelak dengan berkata sepeti itu.
Namun Naruto hanya diam, dan tidak terlalu memperdulikannya.
Kurama kemudian menarik nafas pendek untuk menenangkan detak jantungnya yang menjadi sedikit lebih kencang dibanding sebelumnya.
"Huft, Naruto!"
"Ha?"
Ucapan Kurama ketika memanggil diri hanya dibalas oleh sebuah 'Ha' dengan datar oleh Naruto
"Apa jaraknya masih jauh?"
"Tidak, kurasa sudah dekat"
Disaat yang bersamaan, Naruto tidak sengaja menaikkan kedua alisnya.
Setelah satu lompatan lagi kesautu dahan pohon yang ada didepannya, Naruto kemudian berhenti disana.
Dibelakangnya, Kurama yang sempat bingung saat Naruto tiba-tiba saja berhenti akhirnya juga ikut berhenti di atas dahan pohon yang sama disebelah kanan Naruto.
"Kenapa berhenti?"
"Eee ... sebenarnya aku merasakan ada sesuatu yang ganjil"
"Memangnya ada apa?"
"Kau tahu ... sejak dari tadi, entah mengapa aku merasa ada yang mengawasi kita"
"Hee, begitu ya"
Kurama menjawab dengan nada datar, wajahnya hampir sama sekali tidak bergeming sedikitpun, kecuali ketika Naruto terlihat menaikkan kedua alisnya dan menoleh kearah dirinya.
"Melihat reaksimu ... jangan-jagnan kau juga merasakannya ya, Kurama!?"
"Ya begitulah, sebenarnya aku memang merasakan ada yang aneh semenjak kita berangkat tadi ... aku juga merasakan seperti ada yang mengawasi kita, tapi..."
"Tapi? Tapi apa?"
Kurama terdiam sejenak, namun kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat Kurama menggeleng-gelengkan kepalanya, Naruto sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya, disaat yang sama tato berwarna merah kecoklatan di sekitar matanya mulai menghilang, iris matanya pun kembali normal lagi.
"Tidak, lupakan saja ... sekarang apa yang akan kita lakukan, aku lihat Mode Sennin-mu juga sudah habis?"
"A, aah, yah, untuk saat ini biarkan saja dulu, selama sesuatu itu tidak melakukan hal yang berbahaya"
"Begitu!" Kurama menyahutnya dengan jawaban yang singkat
"Dan, satu lagi ... kurasa sebaiknya untuk saat ini kau kembali saja kedalam tubuhku!" Ujar Naruto
"Heh!? Kenapa harus begitu?"
"Yah, kau tahu ... mungkin akan jadi masalah jika aku membawa seorang gadis tak dikenal yang tidak tahu pula asal-usulnya bersamaku"
Kurama seketika menggembungkan pipnya, wajahnya pun memerah dalam artian marah.
"Hoi, bagian akhir kata-katamu sedikit tidak enak didengar telingaku!"
"Ehh!"
"Lupakan saja, lagi pula apa yang kau katakan ada benarnya juga sih"
Naruto kemudian menarik nafas lega dan tersenyum kecut.
"Maa, terima kasih karena kau mau mengerti ... tapi, aku juga minta maaf atas ucapanku yang tadi"
"Tidak apa apa aku tidak terlalu memikirkannya, kok! ... baiklah, aku pergi dulu!"
Setelah itu, tubuh Kurama pun perlahan mulai berubah menjadi aura cakra berwarna merah. Aura cakra merah tersebut kemudian perlahan masuk kedalam tubuh Naruto.
Naruto awalnya sedikit terkejut saat aura cakra berwarna merah tersebut perlahan masuk kedalam tubuhnya, sebelum kemudian menghilang seutuhnya.
'Huft, jujur saja, aku tidak menyangka dia bisa melakukan hal seperti itu' Naruto berkacak pinggan sambil membatin.
Setelah itu, Naruto kemudian turun dari dahan pohon yang kini sedang dia pijaki. TAP*, dia melompat dari atas dahan pohon tersebut yang sekiranya cukup tinggi, namun nyatanya dia langsung melompat dari sana dan mendarat dengan mulus di tanah.
Setelah itu, pandangan matanya pun melihat kearah cahaya yang datang dari arah depan.
Nampaknya tepat didepan sana adalah pantai, hal itu bisa dari suara ombak kecil yang menerpa lautan, ditempat yang dia pijaki pun juga sudah nampak tanah yang tertutup oleh pasir.
Naruto kemudian berjalan kedepan sambil menyusuri jalan kecil yang tercipta karena pasir menutupi tanah dan akar pohon dibawahnya.
Disana dia bisa meraskan udaranya yang sangat segar, lebih segar dibanding di tempat tadi. Matahari bersinar terang di langit tanpa ada awan sedikitpun, air lautnya yang berwarna biru, dan hamburan ombak yang mulai menggulung disekitar tebing disana.
"Fuun..." Naruto membuat ekspresi wajah yang relaks saat pandangannya melihat suasana ditempat ini rasanya mirip seperti berada dipantai pribadi. Naruto perlahan mulai menikmati suasana disini.
"Haaa, rasanya seperti berada dipantai pribadi"
Naruto bergumam selagi dririnya mulai merasakn energi alam yang berada disekitarnya. Benar-benar, disausana semacam ini hal paling ingin dia lakukan adalah tidur.
Namun-
GUOOAAAAAAHH
Sebuah benda asing bergerak dengan kecepatan tinggi kearah wajahnya, namun untungnya benda tersebut hanya melewati batang hidungnya. Dan pada akhirnya, benda itu sempat berputar-putar di pasir sebelum akhirnya berhenti.
Setelah merasa sudah aman, Naruto kemudian melirikkan matanya kearah benda tersebut. Disana nampak sebuah bola voli yang kini membuat bekas hantaman dipasir itu. Itu, bola voli? Tapi bagaimana mungkin bola voli memiliki kekuatan hantaman yang sehebat itu sampai-sampai membuat suara yang cukup keras saat menghantam.
"...?"
Setelah itu, Naruto kemudian menolehkan wajahnya kearah datangnya bola voli itu.
Disana, dia melihat beberapa orang yang tengah bermain voli, dan nampaknya bola voli ini adalah milik mereka. tempat ini nampak seperti pantai pribadi, namun tunggu sebentar. Naruto langsung membuat ekspresi wajah sewot saat melihat kearah orang-orang itu.
Mereka yang disana itu adalah, Kaguya, Yuzuru, Tohka, Reine-san, Origami, dan satu lagi pemuda berambut biru bernama Shido yang kini tengah terkapar di pasir pantai karena suatu alasan.
Dari kejauhan, Kaguya dan Yuzuru nampak melambai-lambaikan tangan mereka. Sepertinya mereka menyadari akan kehadiran Naruto disana.
Setelah itu, Naruto kemudian berjalan menghampiri mereka bersamaan dengan membawa bola namun dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi wajah sewot.
Mereka semua yang ada disana menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda saat bertemu dengan Naruto disana.
Tohka kini berkacak pinggang dan dengan wajahnya yang ceria menatap kearah Naruto, Kaguya dan Yuzuru pun nampak senang Naruto bisa berada disana bersama mereka wala ekspresi wajah keduanya berbeda. Lalu, entah apa yang dia pikirkan namun ekspresi wajahnya tetap saja datar. Sedang Shido dan Reine-san, tidak usah ditanya lagi. Reine membawa Shido yang sedang pingsan ketempat yang teduh.
"Si Shido itu kenapa?"
"Menjawab, Shido pingsan saat kita sedang bermain voli pantai"
"Kuku, baru setengah permainan di mulai, dia malah pingsan, dasar manusia yang lemah!"
"Memangnya apa saja yang terjadi?"
"Kuku ... Shido dengan tubuhnya yang lemah berkali-kali memblokir serangan dari Tohka yang penuh energi, jadinya malah seeprti itu deh!"
Naruto sweatdrop di tempat sembari membayangkan kejiadannya. Sweatdrop kembali mendarat di kepalanya saat dirinya terbayang tentang apa yang terjadi pada Shido sebelumnya. Dia juga menghubungkan hal itu dengan kejadian yang tadi saat bola voli yang hampir mengenai dirinya membekas ditanah.
'Kalau pukulannya seperti itu, tidak heran jika Shido pingsan'
Selagi Naruto sweatdrop, sebuah ide muncul di kepala Kaguya tersebut.
"Oh iya, berhubung sekarang kau sudah ada disini, bagaimana kalau kau menggantikan Shido yang sudah tepar?"
"Setuju, Naruto, mohon untuk ikut dalam permainan voli pantai ini"
Saat di tawari untuk ikut bermain, Naruto menunjuukan keringat turun dari pelipis kanannya.
"Eee ... ku-kurasa, aku tidak ikut saja ..."
"Hee, kenapa ...?" Tohka bertanya
"Jangan bilang kalau kau takut dengan yang namanya tantangan, Naruto"
"Kh!"
Origami mengucapkannya dengan nada datar namun benar-benar tajam dan pedas ucapannya. Kini dapat terlihat perempatan di dahi Naruto setelah mendengar ucapan Origami barusan. Tidak terima dengan ucapan gadis berabut silver tersebut, Naruto terpaksa menerima tantangan tersebut.
"Baiklah, baiklah, aku akan ikut bermain!"
Naruto kemudian mengambil posisi di belakang Kaguya serta Yuzuru yang berdiri dengan percaya diri didepannya.
Disaat yang sama, Naruto kini melihat Reine yang sedang berjalan dengan santainya menuju kearah mereka. disudut sana, tepatnya dibawah sebuah pohonyang tidak jauh dari tempatnya berada. Dirinya melihat Shido yang sedang tiduran di pasir karena pingsan.
"Yosh, kalian sudah siap?"
Reine bertanya dengan menunjukkan ekspresi yang mengantuk.
"Yeah!"
"Tentu saja"
Kaguya, Yuzuru, Tohka menganggukan kepalanya dan menjawab dengan penuh semangat, Origami hanya menganggukan kepalanya. Namun Naruto, dirinya hanya menjawab dengan sebuah 'Hm' sambil menunjukkan ekspresi wajah datar.
"YOSHA!
Dengan penuh energi, Tohka melakukan tembakan pertama.
DASH!
Tembakan tersebut mengarah kepada Naruto dengan kecepatan yang seperti rudal. Naruto menyipitkan matanya saat melihat arah datangnya bola tepat menuju kearahnya. Akan tetapi-
"Heh?"
Dua sosok gadis muda yang berdiri didepannya tiba-tiba saja melompat dan berusaha menggapai bola tersebut. Bam* Kaguya dan Yuzuru saling berbenturan di atas, bola gagal di tahan oleh mereka dan melesat dengan cepat.
DUAAK!
Bola tersebut dengan cepat bergerak dan menghantam wajah Naruto yang konsentrasinya terpecah gara-gara ulah dua gadis tadi.
"Guwaah!"
Bola voli itu pun mendarat tidak jauh dari posisi Naruto yang terjatuh saat ini.
"Kuh, kau menggangguku, Yuzuru!"
"Membantah, Kaguya lah yang mengganggu Yuzuru"
Kaguya dan Yuzuru bertukar ejekan selagi mereka saling melotot, sementara itu Naruto mengelus-elus bagian wajahnya yang terkena hantaman bola yang tadi.
'Mereka ini! Apa sih yang mereka lakukan?'
Naruto membatin sambil memandang kearah Kaguya dan Yuzuru dengan tatapan sewot.
Naruto kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Membuat seluruh perhatian tertuju padanya.
"Naruto, kenapa kau mengangkat tanganmu?" Tohka bertanya dengan polosnya
"Aku minta untuk diulang!"
"Hah!?"
Saat itu pula, mereka semua memekikannya dengan cukup keras sampai menggema kedalam hutan.
Namun tanpa ada komplein dari kedua belah pihak, mereka pun memulai pertandingan dari awal lagi. Berniat untuk menannyakan apa alasannya, Naruto tidak menjawab sama sekali dan hanya memberikan sebuah tatapan tajam yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
Mereka pun kembali ke posisi semula, namun kali ini Reine yang berada pada posisi Origami.
Sementara Naruto serta Kaguya dan Yuzuru yang berada di tim lawan berisap untuk menghadapinya.
Reine mengambil bola dan kemudian menembakkannya ke lawan.
DASH!
Dia menembak dengan cukup keras namun tidak sekeras Tohka yang menembak dengan penuh energi tadi. Naruto sudah bersiap untuk menghadang arah datangnya bola. Berharap bahwa Kaguya serta Yuzuru dapat bekerja sama namun-
"Akan kuhadang bola it~"
Namun tiba-tiba ketika dia hampir saja bergerak, sesuatu dengan kecepatan angin bergerak dengan cepat dan menghantam bola itu. Kaguya membuat sebuah pukulan yang sangat keras dan emmbuat bola itu melambung tinggi.
Itu tidak bisa disebut sebuah blocking namun juga tidak bisa disebut pukulan smash. Mungkin itulah yang namanya pukulan super keras tanpa arah dari Kaguya.
Bola tersebut melambung jauh kesana, sebelum kemudian mereka melihat bola itu mendarat didalam hutan.
"Bolanya, mendarat di dalam hutan!" Gumam Tohka
"Bertanya, sekarang kita harus bagaimana?"
"Kalau tidak ada bola, kita semua tidak dapat untuk melanjutkan permianan voli pantai ini!"
Dikala Yuzuru bertanya, Reine menjawab dengan tatapan datar, sementara Tohka hanya manggut-manggut saja.
"Tidak mungkin juga kalau kita yang mengambil bolanya, kan?" Ucap Origami.
Sedetik kemudian, mereka menyadari akan sesuatu yang terlewat. Ini merupakan saatnya seorang laki-laki untuk beraksi. Sedetik kemudian, mereka semua langsung mengarahkan pandangan mereka kearah Naruto.
Disaat yang sama, bulu kuduk Naruto langsung berdiri saat mendapat tatapan dari para gadis itu. meresa mengerti dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan, Naruto pun mengucapkan-
"Baik, baik, aku akan mengambil bolanya, puas?" Ucap Naruto dengan nada sedikit jengkel.
"Kuku ... sebagai tuanmu, aku mengatakan kalau ini adalah saat yang tepat bagimu yang merupakan seorang pelayan untuk unjuk gigi!"
TWITCH!
Mendengar perkataan Kaguya yang nampaknya ditujukan padanya, kini muncul perempatan urat nadi di keningnya.
Namun Naruto langsung melenggang pergi dari tempat itu untuk mencari bola volinya.
SKIP TIME
Saat ini Naruto tengah berada didalam hutan sambil mencari bola voli yang di terbangkan oleh Kaguya tadi. Dia berjalan pada sebuah jalan setapak sambil menoleh kan wajahnya kekanan dan kekiri untuk mencari bola itu.
"Ya ampun, kenapa aku harus mengalami nasib sial seperti ini"
Naruto mengeluh sambil tetap mencari bola voli tersebut, namun tiba-tiba saja suara Kurama terngiang didalam pikirannya.
"Kau baru saja sampai, tapi langsung disuruh untuk mencari bola voli yang hilang didalam hutan, kasihan sekali, sepertinya hari ini nasib sial sedang menimpamu, Naruto"
"Kurama, bisakah kau diam sebentar, dasar berisik!"
Naruto berucap dengan nada kesal, namun kekesalannya malah dia tumpahkan pada Kurama.
"Tunggu sebentar, kau yang kena sial kenapa malah aku yang disalahkan, kalau kau memang kesal lebih baik marahi saja si Kaguya itu, jangan padaku!"
"..."
Namun Naruto yang hanya dia saja entah mengapa malah membuat Kurama yang kini berbalik kesal terhadap dirinya.
"Hey, kau itu dengar atau tidak, sih!?"
"..."
"HEY, KAU DENGAR TIDAK!
"Iya, iya, aku dengar kok!"
Ucapan Naruto yang berkata dengan nada acuh tak acuh itu pun sukses membuat wajah Kurama memerah dengan artian penuh kekesalan terhadap dirinya.
"KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN, LEBIH MENYEBALKAN DARI DUGAANKU!" Teriak Kurama dengan penuh kekesalan
"Huh, aku tidak tahu seperti apa masa kecilmu, tapi aku yakin kalau kau pastinya sampah masyarakat!
"...!"
Tiba-tiba saja, Naruto langsung terdiam. Sementara Kurama masih mengumpat kepadanya.
Namun sedetik kemudian, Kurama tibat-tiba tersadar bahwa apa yang baru saja dia katakan itu sangat tidak pantas untuk ukuran seekor bijuu. Kurama kemudian berniat untuk segera meminta maaf, namun kegengsiannya telah membuatnya menahan semuanya.
DEG!
Akan tetapi disaat yang sama, Naruto kembali merasakan gejolak aneh didalam dirinya. Perasaan ini, sama persis dengan yang sebelumnya.
'Ini ...'
Disaat Naruto tengah merasakan gejolak aneh didalam tubuhnya, tiba-tiba tepat dihadapannya muncul sebuah pusaran hitam disertai dengan kelopak mawar hitam yang berputar disekitarnya. Naruto menajamkan pandangannya saat perlahan pusaran tersebut mulai menghilang.
Dari sana, muncul sosok seorang gadis dengan pakaian berwarna hitam yang terlihat seperti pakaian seorang biarawati. Dia memiliki rambut berwarna hitam namun berwarna uban pada sisi bawahnya. Wajahnya menunjukkan sebuah senyuman manis pada Naruto namun tidak dengan aura yang dia pancarkan.
"Siapa kau?"
Naruto bertanya dengan sedikit waspada terhadap gadis remaja yang kini berada dihadapannya.
*Ufu* gadis tersebut mengeluarkan sebuah tawa kecil saat dia tersenyum. Sementara itu dari dalam Minscape, Kurama masih tersu mengawasi keadaannya.
"Namaku adalah Marina Arusu, salam kenal, Uzumaki Naruto!"
Naruto sedikit tersentak kaget saat gadis yang diketahui bernama Marina tersebut mengetahui namanya, terlebih lagi nama lengkapnya. Padahal dia sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis itu.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Kalau soal itu, bukanlah hal yang sulit bagiku untuk mengetahuinya, apa lagi setelah kejadian waktu itu"
"Kejadian waktu itu? apa maksudmu?"
"Apa kau tidak ingat?"
Naruto benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan Marina. Marina kemudian menghela nafas pendek sebelum kemudian dia menyilangkan kedua tangannya.
"Ya sudahlah, tidak apa-apa kalau kau tidak ingat, lagi pula kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu"
Marina berkata seolah dirinya sudah mengenal Naruto sejak masih kecil, namun sedetik kemudian wajahnnya kembali membuat senyuman, senyuman yang dapat membuat bulu kuduk seseorang berdiri.
Naruto hanya memberikan tatapan tajam pada gadis tersebut.
"Lalu, apa tujuanmu sekarang?"
"Yah, kau tahu ... gadis-gadis yang ada bersamamu itu, merekalah tujuanku!"
Naruto terdiam sebentar sambil otaknya berusaha mengolah maksud dari perkataan Marina.
"Maksudmu ... Kaguya dan Yuzuru!?"
"Benar, atau lebih tepatnya Yamai dan Princess"
"Princess?"
"Gadis yang kau panggil dengan nama Yatogami Tohka!"
Marina menjelaskan bahwa Yamai bersaudara dan Yatogami Tohka adalah tujuannya. Dia tetap membuat ekspresi wajah serius meski sebenarnya dia sedikit terkejut sebelumnya.
"Apa yang kau inginkan dari mereka?"
"Kalau soal apa yang kuinginkan dari mereka, kau tidak perlu tahu, tapi jika kau mau membantuku untuk memenuhi tujuanku, aku akan melepaskanmu"
Marina menawarkan hal semacam itu pada Naruto. Namun meski begitu, ekspresi wajah Naruto sama sekali tidak bergeming sedikitpun.
"Kalau begitu, aku menolak!"
Saat itu pula, senyuman di wajah Marina langsung menghilang. Kini ekspresi wajahnya terlihat nampak tidak puas dengan jawaban Naruto barusan.
"Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang tidak jelas arah tujuannya kemana, namun meski kau mengatakan tujuanmu kurasa aku tetap akan menolaknya"
Marina pun kembali menghela nafas pendek.
"Huft, apa boleh buat jika itu memang jawabanmu, tapi..."
CTAK!
Marina kemudian mengangkat tangan dan menjentikakn jari, saat itu pula tiba-tiba muncul luapan energi negative yang sangat besar disekitarnya. Perlahan aura hitam pekat berputar seperti sebuah angin puting beliung, sementara tubuh Marina mulai terangkat kebagian atas.
"Jika memang begitu, maka aku akan menyingkirkanmu!" Ucap Marina yang kini melayang diatas
Naruto terus memperhatikan pusaran itu sebelum pandangannya terkunci pada sesuatu yang bergerak pada bagian dalamnya, Naruto menyipitkan matanya, itu sesuatu yang berukuran sekitar tiga meter..., tunggu ia berdiri?, Naruto membulatkan matanya ketika melihat jika sesuatu itu melihat dua kepala disana, kepala singa dan kepala seekor kambing gunung, dibelakang makhluk itu terlihat ekor yang bergerak kesana kemari namun tak lama ekor itu menjadi kaku dan menatap kearahnya, itu..., kepala ular!?..., tidak salah lagi, Makhluk itu pasti...,
"Itu kan ..."
Yang benar saja, itu adalah salah satu makhluk pernah dia lihat dalam buku mitologi. Makhluk legendaris yang sudah menjadi bagian dari mitologi yunani.
"Chimera!
Naruto menarik nafas sembari menenangkan detak jantungnya.
"Naruto, makhluk itu memiliki energi negative dan tekanan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dua monster yang kau lawan sebelumnya, sebaiknya kau berhati-hati"
Mendengar saran dari suara Kurama yang terdengar didalam pikirannya, Naruto hanya membuat senyuman kecut.
Mengetahui Naruto pasti tidak akan lari, Marina kembali membuat senyuman kecil.
"Aku sudah menduga kalau kau tidak akan lari, dengan begitu aku bisa menyingkirkanmu disini!" Gertak Marina
Naruto kemudian melebarkan sedikit posisi kedua kakinya, dan bersiap untuk menghadapi pertarungan yang terbilang nekat.
"Coba saja kalau kau bisa!"
Merasa tertantang oleh ucapan Naruto, mata dari ketiga kepala Chimera tersebut mengeluarkan sinar merah menyala yang mengerikan dan kemudian meraung dengan sangat keras.
GROAAAAARRRRRRR!
BERSAMBUNG...
Maaf kalau banyak kekurangan di chap kali ini.
