Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance&Friendship

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, OOC, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, EYD yang berantakan, DLL.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X

Seorang pemuda bersurai biru terlihat duduk termenung dipinggir jembatan sambil memandangi kelamnnya langit malam pikirannya terus melayang memikirkan tentang mimpi buruknya yang terjadi tadi siang. Entah mengapa mimpi buruk itu kembali lagi dan hadir dalam tidurnya membuatnya mengingat kembali tentang kenangan buruk sang ibu yang terjadi sepuluh tahun yang lalu.

"Sial mimpi itu lagi." Grimmjow meremas kaleng birnya dengan sekuat tenaga hingga menyebabkan kaleng itu penyok.

"Haaah~~" Grimmjow menghela nafasnya sejenak seraya memejamkan matanya mencoba menikmati semilir angin malam yang mendera wajahnya.

"Ibu. Apa kau bahagia disana!?" Grimmjow membuka matanya dan menatap kelamnya langit malam tanpa bintang.

Pandangan matanya lurus menatap langit dan tak lama setetes air mata jatuh membasahi pipinya tak kala mengingat wajah mendiang sang ibu.

Tes...

"Ibu..." ucapnya lirih.

Grimmjow memejamkan matanya kembali dan mencoba mengingat wajah dan senyuman sang ibu yang selalu bisa membuat hatinya tenang.

Tidak ada yang tahu banyak mengenai pemuda bersurai biru itu, teman-teman disekolah mengetahuinya hanya sebatas sebagai murid paling bermasalah dan nakal disekolah karena selalu membuat keributan juga masalah disekolah.

Grimmjow Jaegarjaques datang sebagai murid baru disemester dua dikelas satu dan murid pindahan dari Amerika yang misterius juga menarik karena wajahnya yang tampan dengan mata berwaran biru. Namun baru juga bersekolah satu minggu Grimmjow sudah membuat ulah dan langsung terkenal dikalangan semua Sensei dan murid.

Bukan karena prestasinya, melainkan karena menghajar tujuh orang anak kelas tiga hingga masuk rumah sakit selama beberapa minggu. Karena hal itu Grimmjow hampir dikeluarkan dari sekolah namun Gin juga Rangiku yang merupakan walinya disekolah sekaligus orang tua angkatnya tidak membiarkan hal itu terjadi.

"Kami mohon Yamamoto Sensei, berikan dia kesempatan lagi," Gin membungkukkan tubuhnya dihadapan kepala sekolah yang dulunya adalah Senseinya sewaktu disekolah ini.

"Angkat tubuhmu Gin," ucap kepala sekolah datar.

"Aku mohon Yamamoto Sensei." Gin masih terus memohon bahkan Rangiku ikut membungkukkan tubuhnya pada kepala sekolah.

Pria tua berjenggot panjang putih itu menghela nafasnya berat melihat sepasang suami istri itu memohon seperti demi Grimmjow agar tidak dikeluarkan dari sekolah melihat keteguhan dan kegigihan mereka berdua hatinya luluh dan memberikan kesempatan kedua untuk Grimmjow namun dengan satu syarat.

"Grimmjow harus selalu masuk peringkat tiga besar disetiap ujian jika nilainya menurun aku akan segera mengeluarkannya tanpa kompromi lagi dengan kalian berdua." Ucap Yamamoto Sensei dingin.

"Terima kasih Yamamoto Sensei, aku berjanji Grimmjow tidak akan mengecewakan anda." Gin menjabat tangan Yamamoto Sensei.

Setelah urusan dengan Yamamoto Sensei yang merupakan kepala sekolah disini, Gin dan Rangiku-pun pamit pulang dengan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kesempatan yang diberikan untuk Grimmjow.

Dan sesuai janji Gin dan Rangiku, pemuda bersurai biru itu selalu mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian mengalahkan Uryu Ishida yang selalu berada diperingkat satu dan kini posisinya tergeser oleh Grimmjow dengan perbedaan nilai yang cukup jauh. Hal itu dilakukannya demi menghargai usaha Gin dan Rangiku yang rela memohon pada pihak sekolah agar dirinya tidak dikeluarkan.

"Aku berjanji pada kalian berdua, aku akan lulus sekolah dengan baik bahkan mendapatkan nilai tertinggi dalam kelulusan. Itu janjiku pada kalian berdua." Ucap Grimmjow lantang.

Sepasang suami istri itu tersenyum senang mendengarnya dan berharap kalau pemuda bersurai biru itu akan menjadi orang yang sukses dan hebat dimasa depan.

*#*

Grimmjow meneguk lagi bir ditangannya. Entah ini sudah kaleng keberapa yang diteguk dan habiskan. Pikirannya Grimmjow saat ini benar-benar sedang kacau dan menurutnya dengan menegak bir dirinya merasa nyaman dan tenang.

Disaat tengah asik duduk sendirian dan menikmati pemandangan ditempat ini, tiba-tiba saja seorang pria berambut merah panjang dengan dikuncir meneriakki dirinya.

"Ooooiiii! Grimmjow..." teriak seorang pria berambut merah dari kejauhan.

Grimmjow mengerutkan dahinya dan mencoba mengingat siapa pria yang memanggilnya itu. Setelah mencoba berpikir cukup lama, akhirnya Grimmjow ingat siapa pria itu, "Renji!" serunya kaget.

Pria tampan bersurai merah itu adalah Renji Abarai teman lamanya. Sudah lebih dari satu tahun lebih mereka berdua tidak bertemu setelah kejadian kecelakaan balapan liar yang menimpanya waktu itu.

"Lama tak bertemu kawan! Bagaimana kabarmu?" tanya Renji sambil menepuk pundak Grimmjow dengan pelan lalu duduk disebelahnya dipinggir jembatan.

Renji merasa senang sekali bisa bertemu kembali dengan Grimmjow yang merupakan sahabatnya, tak menduga kalau akan bertemu dengan pemuda bersurai biru itu disini. Saat menoleh kesamping Grimmjow pria bersurai merah ini melihat beberapa kaleng yang didekat Grimmjow bahkan beberapa kaleng kosong tergeletak didepannya.

"Bir tak baik untukmu kawan!" Renji menasehatinya.

Grimmjow mendengus sebal mendengarnya dan meneguk kembali bir ditangannya hingga tersisa setengah. Renji hanya tersenyum kecil melihat pemuda bersurai biru itu yang tengah asik meneguk minuman keras itu karena ternyata kebiasaan Grimmjow dulu tidak berubah sama sekali. Pasti saat ini Grimmjow tengah ada masalah karena sudah kebiasaannya, jika tengah ada pikiran pemuda bersurai biru itu akan meneguk banyak bir yang menurutnya sangat menenangkan hati dan pikiran.

"Apa kau tahu, kalau kau itu masih dibawah umur jadi jangan banyak minum lagi." Ucap Renji.

"Ck! Kau seperti Gin saja," sindir Grimmjow sambil melemparkan sekaleng minuman pada Renji. Dengan cepat Renji menerimanya dan meminumnya. Seketika sekaleng bir itu habis oleh Renji dengan sekali minum.

Grimmjow menatap Renji heran dan takjub, karena temannya itu mampu menghabiskan sekaleng bir dengan sekali tenggak.

"Kau haus!?" tanya Grimmjow heran.

"Hehehe..." Renji hanya terkekeh kecil dengan pipi yang sedikit merona merah.

"Ngomong-ngomong. Kau dari mana!?" tanya Grimmjow sambil menyalakan rokoknya mencoba menghangatkan tubuhnya yang mulai terasa dingin.

"Bekerja," jawab Renji dengan singkat.

Grimmjow terkekeh kecil saat mendengar jawaban dari temannya itu karena tidak menyangka kalau seorang Renji Abarai, mantan ketua gangster yang terkenal seantero kota Tokyo akan bekerja dan diperintah oleh orang lain.

"Jadi Renji yang hebat itu. Kini bekerja?" ledek Grimmjow sambil melirik Renji yang duduk disebelahnya.

"Begitulah! Kurasa ini lebih baik dari pada aku terus berada didunia seperti itu," balas Renji dengan santai.

Pria tampan bersurai merah ini kembali teringat tentang masa lalunya dengan Grimmjow. Masa-masa dimana dirinya dan Grimmjow masih menjadi seorang gangster dan juga berada dunia yang menurutnya gelap. Waktu itu semuanya terasa sangat menyenangkan sekali bagi mereka berdua karena tiada hari tanpa berkelahi, berbuat onar juga balapan liar yang selalu dilakukan dengan mempertaruhkan banyak uang dan tak jarang nyawa sebagai taruhannya.

Namun semuanya berubah ketika Grimmjow mengalami kecelakaan saat balapan liar dan hampir saja mati karena mengalami luka yang parah, masih ingat jelas diingatannya bagaimana ia membawa tubuh Grimmjow yang bersimbah darah ke rumah sakit.

Tak lama setelah pemuda bersurai biru itu masuk kerumah sakit berjuang antar hidup dan mati diruang operasi, ia mendengar kalau ibunya wafat dan memutuskan untuk meninggalkan dunianya, begitu pula dengan Grimmjow yang tak ingin lagi melihat Gin dan Ranggiku menangis dan bersedih karena ulahnya.

"Hei Grimmjow," panggil Renji.

"Hn..." sahut Grimmjow pelan.

"Apa kau merindukan balapan?" tanya Renji tiba-tiba.

"Sedikit tapi aku sudah berjanji tidak akan melakukan balapan lagi. Aku sudah tak mau melihat Rangiku dan Gin yang menangis sedih karena ulahku," Grimmjow menghisap rokoknya hingga habis lalu membuanganya sembarangan.

"Ternyata kau sudah berubah ya, tak kusangka kau sudah besar," Renji tersenyum kecil mendengarnya.

"Kau juga sudah banyak berubah dan menjadi tua," celetuk Grimmjow.

DUK...

Renji memukul kepala Grimmjow dan pemdua bersurai biru itu terlihat sangat kesal dibuatnya.

"Mengapa kau memukulku? Kau ingin mengajak berkelahi ya!"

"Hahahaha..." Renji tertawa kencang memandangi Grimmjow dan hal ini malah membuat pemuda bersurai biru itu kesal dibuatnya.

Malam itu keduanya berbincang-bincang dan bernostalgia kembali tentang masa lalu mereka dulu. Renji merasa bersyukur karena kini Grimmjow terlihat baik-baik saja dan kini telah bersekolah kembali.

X0X0X0X0X0X0X0X

Hari ini sekolah libur namun bukan berarti Orihime tidak memiliki pekerjaan apapun dirumahnya. Saat ini gadis bersurai orange kecokelatan itu tengah berkutat didapur tengah menyiapkan makan siang untuk dirinya.

TOK...TOK...TOK

"Sebentar," teriak Orihime dari arah dapur seraya berjalan cepat menuju pintu depan untuk membukakan pintu.

Saat Orihime membuka pintu apartemennya, seorang gadis cantik bersurai hitam tengah berdiri didepan pintu apartemenya dengan memperlihatkan senyuman manisnya.

"Rukia-chan!" serunya kaget.

"Hai, Orihime!" sapa Rukia dengan ramah diiringi oleh senyuman darinya.

"Mengapa kau tak menghubungiku kalau ingin berkunjung kemari. Masuklah," Orihime mempersilahkan gadis bersurai hitam pendek itu untuk masuk kedalam apartemen kecilnya.

Kedatangan Rukia kerumahnya yang tiba-tiba menurutnya tidak biasa ini. Karena Orihime tahu Rukia adalah orang yang sibuk, mengingat siapa gadis cantik bersurai hitam itu yang merupakan seorang Nona bangsawan dari keluarga Kuchiki, juga putri dari seorang pemain sekaligus master Kabuki yang sangat terkenal di Jepang, Byakuya Kuchiki.

"Ada apa, Rukia-chan datang kemari!?" tanya Orihime sambil memberikan secangkir teh hijau padanya.

Rukia langsung meminum teh buatan Orihime secara perlahan lalu menaruhnya kembali didepan meja yang ada didepannya.

"Orihime, maukah kau menemaniku ke Disney Land!?" tanya Rukia sambil memperlihatkan dua buah tiket ditangannya pada Orihime.

Wajah Orihime terlihat berbinar bahagia melihat dua tiket masuk ke Disney Land yang berada diatangan Rukia, karena sudah lama sekali ia tidak pergi ketempat itu terakhir ia pergi dengan mendiang sang kakak beberapa tahun yang lalu.

"Bagaimana Orihime, apa kau mau menemaniku kesana?" tanya Rukia kembali.

Orihime menganggukkan kepalanya dengan semangat menanggapinya, dengan senang hati ia menerima ajakan dari Rukia.

"Ya aku mau Rukia-chan, kalau begitu tunggu aku ya berganti pakaian." Orihime langsung pergi kekamar untuk mengganti pakaian.

Setelah mengganti pakaiannya yang cocok untuk Disney Land Orihime dan Rukia pergi dengan menaiki kereta api.

*#*

"HEI, RENJI! APA MAKSUD MU DENGAN INI!?" protes Grimmjow dengan keras pada temanya.

Karena saat ini dirinya tengah dipaksa memakai kostum Mickey Mouse. Yang menurut Grimmjow sangat konyol sekali. Jika saja ia tahu kalau pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh Renji seperti ini tentu saja Grimmjow pasti akan langsung menolaknya mentah-mentah saat diminta tolong oleh pria bersurai merah itu.

"Sudahlah Grimmjow! Cepat pakai kostummu dan jangan banyak protes!" ujar Renji dengan dingin sambil memakai kostumnya yaitu Donal Bebek.

Akhirnya dengan terpaksa Grimmjow, memakai kostumnya dengan perasaan yang sangat kesal, dongkol pada Renji. Tak hanya itu, pemuda bersurai biru itu juga harus memegangi balon untuk dibagikan pada para pengunjung terutama pada anak-anak.

"Awas kau Renji. Kau harus membayar mahal ini semua!" dengus Grimmjow.

Baru juga Grimmjow berjalan beberapa langkah menuju area taman bermain di Disney Land ia sudah langsung dikelilingi oleh beberapa anak-anak kecil yang meminta balon padanya.

Sebisa mungkin Grimmjow bersikap ramah pada anak-anak kecil itu, yang menurutnya sangat menyebalkan sekali dan berisik. Namun bagaimana lagi saat ini dirinya tengah bekerja dan tak bisa protes atau-pun marah dan hanya bisa diam pasrah saja menjalani tugasnya.

Setelah menaiki kereta api hampir tiga puluh menit Orihime dan Rukia sampai di Disney Land dan Orihime terlihat berlari senang masuk kedalam, Rukia hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Orihime yang seperti anak kecil itu.

"Rukia-chan, lihat ada balon!" seru Orihime.

Saat baru masuk kedalam Orihime melihat orang yang tengah memakai kostum Mickey Mouse sedang membagikan balon pada anak kecil. Orihime sangat suka sekali dengan balon karena dulu, saat pergi ke taman hiburan sang kakak Sora Inoue akan selalu membelikan balon berwarna merah padanya.

Gadis bersurai orange kecokelatan itu langsung berlari menghampiri orang yang memakai kostum Mickey Mouse itu dan ikut meminta balon tanpa mengetahui kalau yang berada dalam kostum itu adalah Grimmjow sang kekasih.

"Orihime! Apa yang dilakukannya disini!?" Batin Grimmjow kaget.

Pemuda bersurai biru ini terlihat panik saat melihat Orihime yang datang menghampirinya.

"Tuan Mickey Mouse, aku boleh meminta balonya satu," pinta Orihime ramah.

Dengan tangan gemetaran Grimmjow memberikan balon berwarna biru pada Orihime. Setelah itu Grimmjow langsung berlari pergi meninggalkan Orihime yang terlihat bingung dengan sikapnya itu.

"Rukia-chan, lihat aku dapat balon!" Orihime memamerkan balon berwarna biru miliknya pada Rukia.

"Dasar kau ini! Seperti anak kecil saja." Rukia menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Orihime.

Namun gadis cantik bermata abu-abu itu hanya tersenyum lebar menanggapinya dan menggenggam erat balon berwarna biru ditangan kanannya tanpa perduli pandangan aneh dari orang-orang disekitanya.

Hari ini mereka berdua pergi menikmati liburan bersama, semua wahana Orihime dan Rukia coba naikki satu persatu. Orang yang paling terlihat senang dan menikmati wahana permainan adalah Orihime.

Tak henti-hentinya gadis bersurai orange kecokelatan itu tertawa senang menaiki semua wahana yang ada tanpa ada rasa lelah atau-pun takut sedikit-pun dan tanpa mereka berdua sadari, kalau dari tadi Grimmjow terus mengikuti kemana-pun mereka pergi dengan kostum Mickey Mousenya yang membuat orang-orang merasa aneh melihat sikap Grimmjow.

Setelah puas bermain perut Orihime lapar dan saat ini kedua gadis cantik itu tengah asik menikmati makan siangnya disebuah cafe didalam Disney Land.

"Hmhm! Enaknya." Orihime menyendok besar ice cream dihadapanya dan memakanya dengan lahap sekali. Sedangkan Rukia ia hanya memesan segelas orange jus dan sepotong kue cokelat.

"Rukia-chan. Benar kau tak mau memesan ice cream yang sama denganku!?" tanya Orihime sambil terus memakan ice creamnya.

"Tidak Orihme," tolaknya dengan halus.

Rukia benar-benar merasa takut dan ngeri melihat porsi ice cream yang dimakan oleh Orihime. Gadis cantik bersurai hitam ini sangat heran dengan nafsu makan Orihime yang sangat besar namun tubuh gadis bermata abu-abu itu tetap saja terlihat tetap langsing dan ideal entah kemana semua lemak makanan yang dimakan oleh Orihime selama ini.

Sambil menikmati minumannya Rukia melihat-lihat sekitar cafe dan tanpa sengaja ia melihat Ichigo tengah bergandengan mesra dengan seorang gadis cantik bersurai hitam panjang. Hal ini membuatnya penasaran dengan reflek Rukia langsung berlari mengejar Ichigo, dan meninggalkan Orihime sendirian di cafe.

"Rukia-chan tunggu!" teriak Orihme yang mencoba mengejarnya. Namun sayangnya Rukia sudah pergi jauh dan tidak bisa dikejar sama sekali.

Entah apa yang terjadi dengan Rukia, tiba-tiba saja ia lari meninggalkan Orihime begitu saja. Orihime kembali cafe untuk mengambil tasnya dan mencari Rukia disekitar Disney Land.

PLAK...

Rukia menampar keras pipi Ichigo, ketika berhasil mengejarnya setelah berlari sekuat tenaga. Wanita yang berada disamping Ichigo merasa marah dan tidak terima dengan perlakuan Rukia pada Ichigo.

"Apa yang kau lakukan Nona?" tanya gadis cantik berambut hitam panjang tersebut dengan emosi.

Namun Rukia hanya diam saja dan tak menggubrisnya sama sekali karena pikiranya saat ini hanya tertuju dan terpusat pada Ichigo, kekasihnya yang belakangan ini bersikap aneh padanya.

"Siapa dia? Ichigo!" tanya Rukia yang menuntut penjelasan dari Ichigo.

Namun yang ditanya hanya diam membisu dan terlihat sangat bingung untuk menjawab pertanyan dari Rukia.

Melihat sikap Ichigo yang seperti itu membuat Rukia marah dan kesal karena saat ini dirinya butuh penjelasan dari Ichigo bukan sikap diam darinya.

Merasa ada hal aneh dengan sikap Ichigo gadis cantik yang bersama Ichigo itu akhirnya buka suara dan menjawab pertanyaan dari Rukia.

"Aku adalah tunangannya. Apa ada masalah Nona?" wanita cantik itu menatap tajam Rukia.

"A-apa!" ujar Rukia dengan kaget, matanya juga terlihat berkaca-kaca. Hatinya langsung hancur berkeping-keping saat mendengarnya.

"Apa maksud semua ini Ichigo?" tanya Rukia sekali lagi mencoba mencari penjelasan dari Ichigo. Berharap yang ia dengar barusan adalaah sebuah candaan bukan hal serius.

"Maafkan aku Rukia. Mulai sekarang lupakanlah aku," jawab Ichigo dengan dingin dan tak berperasaan. Setelah mengucapkannya Ichigo pergi meninggalkan Rukia yang perasaanya sudah hancur karena kejadian ini.

Entah apa salahnya, hingga Ichigo pria yang sangat dicintainya itu tega dan bisa berbuat hal sekejam ini padanya.

"Hiks..hks...hiks...kau pembohong Ichigo..." Rukia sudah duduk menangis dipinggir jalan tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang sekitar yang melihatnya.

*#*

"Rukia-chan," Orihime terus memanggil dan mencari Rukia.

Sudah hampir satu jam Orihime mencari sahabatnya itu. Ia juga sudah mencarinya kemana-kemana, namun Orihime tidak menemukanya sama sekali. Bahkan ponselnya pun tidak aktif sama sekali. Membuatnya semakin cemas dan khawatir sekali pada sahabatnya itu. Orihime berharap tidak terjadi apa-apa juga kejadian yang buruk yang menimpa Rukia.

"Kau dimana Rukia-chan!?" tanya Orihime dalam hatinya.

Orihime benar-benar merasa cemas dan khawatir pada temannya itu bahkan hari sudah menjelang sore dan gadis bermata abu-abu ini sudah benar-benar sudah lelah mencari Rukia. Saat Orihme tengah duduk beristirahat disebuah taman tiba-tiba tiga orang pria tidak dikenal mendatanginya dan mulai menggodanya.

"Hei, Nona manis. Apa kau sendirian? Mau menemani kami?" tanya seorang pria bertindik di bibirnya dan mulai menghalangi langkahnya ketika Orihime mencoba berjalan pergi meninggalkan taman.

"Aku sedang mencari temanku. Jadi bisakah kalian membiarkanku pergi" Ujar Orihime yang mulai risih dengan sikap mereka dan pandangan mata mereka yang sangat menjijikan menurutnya. Bukannya memberikan jalan mereka bertiga mulai bersikap kurang ajar pada Orihime dan membuatnya mulai takut.

"Mau keman Nona? Disini saja menemani kami," goda pemuda bertindik itu sambil memegangi wajah Orihime seakan-akan ia akan dicium oleh pria itu.

Orihime benar-benar sangat takut sekali dan juga jijik dengan pemuda bertindik itu yang dinilainy sangat tidak sopan dan kurang ajar.

Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri merek yang tak lain adalah Grimmjow, kekasih dari Orihime.

"Hei! Lepaskan tangan kotor kalian darinya," teriak seorang pria berkostum Mickey Mouse.

Para berandalan itu tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Telebih melihat Grimmjow yang tengah memakai kostum Mickey Mouse yang terlihat sangat konyol sekali menurut mereka bertiga.

"Pergilah! Sebelum kuhajar." ancam pemuda bertindik itu dengan sombongnya sambil terus mencengkram erat tangan Orihime agar tidak lari darinya.

Grimmjow melepaskan kostumnya, yang dirasa sangat gerah juga berat. Pemuda bersurai biru itu menyeringai kejam menatap mereka semua, "jadi kalian memang memilih mati."

Dengan cepat dan tanpa ampun Grimmjow langsung menghajar mereka semua hingga babak belur. Pemuda bersurai biru tanpa ampun menghajar mereka semua karena berani menggoda, bahkan menyentuh Orihime kekasihnya dengan tangan kotor mereka.

Baginya Orihime adalah gadis yang paling berharga dalam hidupnya pemuda bersurai biru itu tidak akan segan-segan menghajar bahkan membunuh orang yang berani menyentuh dan menyakiti Orihime walaupun hanya seujung jari saja.

"Dasar lemah dan tak berguna!"

Setelah menghajar mereka bertiga hingga babak belur dan tak bisa bangkit lagi Grimmjow langsung menghampiri Orihime yang tengah duduk ketakutan didekat bangku taman.

"Apa kau tak apa-apa Hime?" tanya Grimmjow dengan cemas.

GREP...

Orihime langsung memeluknya dengan sangat erat, "Grimmjow..." isaknya.

"Sudahlah, Hime jangan takut. Semuanya baik-baik saja," ujar Grimmjow dengan lembut seraya mengelus pelan punggung Orihime.

Gadis cantik bermata abu-abu ini masih menangis dalam pelukkan sang kekasih, dirinya merasa sangat beruntung karena Grimmjow datang menolongnya. Entah apa yang akan terjadi dengannya jika Grimmjow tidak ada dan tadi dirinya benar-benar sangat takut sekali jika ketiga pemuda berandalan itu melakukan sesuatu padanya.

"Terima kasih, Grimmjow," gumam Orihime dengan pelan.

"Sama-sama Hime. Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang kerumah." Grimmjow membantu Orihime untuk bangun.

Setelah pekerjaannya selelsai pemuda bersurai biru itu mengantarkan Orihime pulang arena tidak mungkin ia membiarkannya pulang sendirian, terlebih setelah kejadian yang menimpa gadis cantik bersurai orange kecokelatan itu.

.

.

.

"Ini minumlah," Renji memberikan secangkir susu hangat pada Rukia.

"Terima kasih," ucap Rukia pelan.

Renji menatap penuh arti gadis cantik bersurai hitam yang ada didepannay saat ini, pria bersurai merah ini menemukan Rukia tengah duduk menangis di pinggir jalan di Disney Land dan menjadi pusat perhatian semua orang-orang yang melintas.

Saat ditanya dimana rumahnya, Rukia masih saja menangis membuatany bingung dan mau tidak mau Renji membawanya pulang keapartemennya.

Renji duduk disebelah Rukia, "siapa namamu Nona?" tanya Renji sambil menyalakan rokoknya.

"Rukia Kuchiki," jawab Rukia sambil terus memegangi cangkir ditanganya.

Bisa Renji lihat kalau tubuh Rukia sedikit gemetaran, entah apa yang tengah terjadi dengan Rukia saat ini.

"Nama yang indah," puji Renji.

"Ngomong-ngomong dimana rumahmu? Ini sudah malam sebaiknya aku mengantarkanmu pulang!" ujar Renji saat melihat jam didinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, yang mengharuskan dirinya mengantarkan Rukia pulang kerumah karena ia tidak mau dituduh menculik dan melarikan anak orang.

"Aku tidak ingin pulang kerumah, tak bisakah aku menginap disini?" tanya Rukia sendu.

"Tidak bisa Rukia, kau harus pulang. Pasti saat ini kedua orang tuamu cemas dan mengkhawatirkan dirimu,"

Rukia tersenyum miris mendengarnya, "ayahku tak mungkin mencariku dan ibuku sudah tiada,"

Renji terdiam dan tak bisa berkata apa-apa namun dirinya harus tetap mengantarkan Rukia pulang kerumahnya dan tak bisa membiarkannya untuk menginap ditempatnya mengingat dirinya yang merupakan laki-laki normal.

Setelah dipaksa dan dinasetai olehnya akhirnya Rukia memberitahukan alamatnya dan Renji mengantarkannya pulang dengan motor lamanya yang disimpannya didalam gudang apartemen.

BRUMMMM...

Renji menyalakan motornya dan memanaskan mesinnya. Ternyata mesin motornya masih bagus dan bisa digunakan olehnya, walapun tidak pernah digunakan.

"Pakailah! Udara diluar dingin, nanti kau bisa sakit," Renji memberikan jaket miliknya pada Rukia.

Akan tetapi Rukia hanya diam menatap Renji, jaket yang diberikan oleh Renji masih dipegangnya dan belum dikenakan sama sekali.

"Kenapa diam saja? Cepat naiklah," ujar Renji ketika sudah berada diatas motornya.

Dengan ragu akhirnya Rukia naik keatas motor dan mencoba berpegangan pada pundak Renji.

"Pegangan yang kuat Rukia. Soalnya aku akan mengebut," Renji langsung memacu motornya dengan cepat dan entah mengapa Rukia terlihat amat sangat menikmatinya.

Tak ada persaaan takut dihatinya seperti Orihime yang selalu ketakutan saat dibonceng oleh Grimmjow. Setelah hampir satu jam menaiki motor akhirnya Renji sampai juga dirumah Rukia. Pemuda bersurai merah ini tidak menyangka kalau Rukia tinggal disebuah mansion yang sangat mewah sekali dan ternyata gadis bersurai hitam itu adalah anak orang kaya.

"Terima kasih. Karena sudah mengantarkanku," ucap Rukia ramah.

"Sama-sama. Kuharap jika kita bertemu lagi, kau sedang tersenyum bahagia. Bukan duduk menangis seperti tadi." Renji tersenyum menatap Rukia lalu menyalakan motornya kembali dan dengan cepat, meninggalkan Rukia yang masih berdiri diam terpaku melihat kepergian Renji. Saat Rukia masuk kedalam rumah dirinya sudah disambut hangat oleh beberapa pelayan didepan pintu.

"Selamat datang Nona Rukia." sapa para pelayan dengan ramah sambil membungkuk badan mereka, memberi hormat pada Rukia.

Namun Rukia hanya diam saja dan tak menanggapinya gadis cantik bersurai hitam ini buru-buru pergi kekamarnya dan menuju kamar mandi untuk berendam di bak mandi yang penuh dengan bunga.

Rukia mencoba menenangkan pikirannya sejenak dan melupakan sesaat kejadian yang dialami tadi siang, setelah berendam cukup lama gadis cantik bersurai hitam ini memutuskan untuk keluar dari bak mandi dan beristirhat. Namun sebelum tidur, tak lupa Rukia mengecek kalender untuk melihat jadwal pertunjukkan sang ayah karena setiap sang ayah tampil dirinya akan melihatnya.

Namun saat melihat tanggalan dikalender, wajah Rukia nampak pucat pasi. Gadis cantik bersurai hitam ini langsung jatuh terduduk dipinggir kasur king size miliknya tubuhnya terlihat sedikit gemetaran.

"Tidak mungkin ini terjadi," gumam Rukia dengan takut seraya menggengam erat kalender ditanganya.

Dikalender menunjukkan kalau hari ini adalah tanggal dua puluh enam yang berarti Rukia sudah telat dua minggu dari masa datang bulannya. Yang berarti kemungkinan besar dirinya hamil mengingat kejadian satu bulan yang mereka lakukan saat berada dirumah Ichigo.

"Akan harus memastikannya besok pagi." Gumam Rukia seraya menaruh kalender.

Gadis cantik bersurai hitam ini membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya seraya berdoa juga berharap kalau tidak akan terjadi apa-apa dengannya dan hal yang ditakutkan tidak terjadi padanya.

TBC