ACT 4: The Truth

Kata mereka tentang ijab kabul:

"Sakral, indah, pengikat janji." –Penghulu

"Dipersatukannya dua insan yang mencinta." –Mempelai wanita

"Legalisasi tindakan-tindakan mesum." –Mempelai pria

SUMBER: Kawinan Massal RT Tetangga

"~"

"~"

"~"

Doraemon itu menjadi berkurang kadar ke-charmingan-nya begitu ia mulai mengemis-ngemis meminta diizinkan menginap di rumah Hinata.

Hinata tidak sampai hati jika harus mengusir tamunya, meski yang paling aneh seperti Doraemon sixpack sekalipun. Tapi Hinata juga punya beberapa pertimbangan. Ia tinggal sendiri, semua anggota keluarganya sibuk dengan urusan masing-masing. Artinya, Sasuke hanya akan tinggal berdua dengannya. Hinata tidak mau menyalahi norma-norma dalam masyarakat. Sejujurnya, dia suka dengan norma-norma itu karena Hinata merasa orang-orang zaman dulu pasti membuat norma-norma itu dengan memikirkan dirinya, karena rata-rata norma yang dibuat selalu menguntungkannya. Seperti pelarangan bagi manusia untuk bergentayangan di malam hari, makan tidak boleh dibarengi dengan bergosip, atau aturan yang mengharuskan laki-laki lah yang meminang. Hinata senang karena dia tidak terlalu suka pinang. Biar laki-laki saja yang meminang -?-

Maka, bertatapan dengan Sasuke, Hinata memilah-milah kata yang harus ia gunakan. Selain karena ia tamu, Hinata juga susah menolak karena dia Sasuke versi kubus tiga dimensi yang sangat Hinata, ehh… gemari.

"Aku sendiri sekarang…" Hinata mencoba strategi A: penolakan halus "Nggak baik kayaknya kalo cowok dan cewek berduaan di rumah."

Sasuke mengangguk takzim. Ia meraih ke dalam ranselnya lalu mengeluarkan makhluk yang meliuk-liuk. Hinata langsung melangkah mundur. Dia phobia ular. Sasuke yang yang menyadari gelagat Hinata memasukkan lagi ularnya ke dalam ransel "Dia baik." Katanya, merujuk pada ular yang baru ia perkenalkan "Namanya Manda. Dia nanti ikut, biar sama-sama. Jadi nggak apa-apa kan aku menginap? Kan ada Manda. Jadi bukan cowok-cewek berduaan lagi. Tapi bertigaan. Manda ular jantan."

Hinata takjub dengan logika Sasuke. Apapun yang keluar dari mulut Sasuke terdengar lebih mulia. Bahkan jika ia mengatakan bahwa satu tambah satu sama dengan seratus tujuh puluh sembilan, Hinata hanya akan beranggapan bahwa Sasuke sedang berfilosofi secara mendalam. Filosofi yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang dengan intelegensi tinggi atau telah berhasil memecahkan kasus-kasus sulit seperti misteri otak Masashi Kishiomoto saat membuat plot sang antagonis pengen jadi Kades Konoha. Dengan keadaan Kishimoto yang tidak stabil, maka bukan tidak mungkin Sinetron Mas Narto akan berakhir dengan pernikahan antara Mas Narto dan Gamabunta.

Atau lemon TontonxAkamaru.

Logika Sasuke sangat menakjubkan, sangat menarik, dan sangat… sesat. Hinata perlu mengkonsultasikan permasalahan ini kepada guru agamanya dulu. Logika Sasuke sangat menarik, tetapi juga terdengar tidak benar. Ini susahnya orang yang mengerti agama setengah-setengah.

"Tidak apa-apa kan?" Sasuke mendesak disela-sela usaha menghapus cat biru dari tubuhnya "Masuk sekarang saja. Lagi pula aku kedinginan di sini."

"Tapi Manda bukan manusia…" Hinata berargumen "Yang dimaksud muhrim mesti manusia."

Sasuke mengernyit "Manda juga punya perasaan. Dia mirip manusia."

Buktinya Manda tidak langsung menggigit orang yang ia temui. Manda begitu pengasih, suatu hal yang Sasuke yakini diwarisi dari dirinya. Manda adalah ular ramah dan penyayang. Ia suka bergulung di leher orang, meski orang itu belum lama ia temui, dengan hangat dan nyaman. Saking ramah dan antusiasnya Manda dalam melakukan kegiatan bergulung di sekeliling leher, kadang-kadang orang merasa seperti sedang dicekik. Wajah mereka membiru. Teriakan 'Tolong lepaskan!' meluncur dengan begitu mesra.

Sasuke bangga dengan ularnya yang baik. Manda memang sangat unik.

Dia juga selalu merespon setiap perubahan mood Sasuke. Saat Sasuke sedih, Manda meliuk-liuk; saat Sasuke marah, Manda meliuk-liuk; saat Sasuke cemas, Manda meliuk-luk; saat Sasuke gembira pun, Manda meliuk-liuk. Kalau Sasuke senang lalu tiba-tiba Manda break dance, itu pasti dunia Naruto, bukan dunia Mentos.

"Tapi ular memang b-biasanya meliuk." Hinata bilang "Hewan n-nggak bisa disamakan dengan manusia." Manusia mana yang mau disamakan dengan hewan? Selama bukan staff departeman masokis dan BDSM, pasti tidak ada orang yang mau direndahkan. Manusia adalah khalifah di muka bumi, Hinata percaya. Tidak bisa disederajatkan dengan hewan, apa lagi hewan yang menjadi tersangka kasus deportasi Kakek dan Nenek umat manusia dari surga.

"Bisa." Sasuke keras kepala "Pokoknya aku mau masuk sekarang."

Sasuke tidak ambil pusing. Ia meraih lengan Hinata dan menyeretnya bersama dengan tas ransel besar yang ia sampirkan di bahu. Hinata sepertinya malu-malu. Sasuke beranggpan bahwa itu cute, tapi dia tidak punya banyak waktu lagi sekarang. Targetnya, ia harus menikah dan mulai bereproduksi mulai tahun depan. Sikap malu-malu Hinata bisa ditunda untuk sementara ini.

Sasuke akan terus mengingat kejadian hari ini sampai berpuluh-puluh tahun nanti. Saat itu dia sedang menuntun punggung Hinata agar segera kembali ke dalam sarang mereka. Hinata sedikit memprotes, namun Sasuke dengan kesabaran yang teramat sangat, ditambah senyumnya yang begitu menenangkan, berusaha untuk memberikan pengertian kepada Hinata.

Ah, dia memang orang baik.

Hinata mengangguk pasrah. Sasuke menyeringai. Mulai kelihatan lagi otak bejatnya.

Dan tepat detik itu lah matapetaka itu terjadi.

"Jangan bergerak!" Suara gaib terdengar "Letakkan tangan Anda di belakang kepala! Menjauh dari korban sekarang juga!"

Semua berlalu begitu cepat. Adegan sekian detik yang sangat memilukan hati. Sasuke berteriak marah saat jeritan putus asa Hinata terdengar. Hinata ditarik secara paksa dari cengkeramannya. Siapa yang berani menentang kisah cinta mereka? Siapa yang merebut Hinata dari dirinya? Siapa?! Tidak bisakah seorang Uchiha Sasuke dicintai barang seumur hidup saja?! Tidak ada yang boleh memisahkannya dari Hinata. Hinata sudah menjadi miliknya sejak mereka berdua klepek-klepek berkelompok!

Sasuke bersiap menerjang. Tinjunya terkepal. Ia akan merebut kembali Hinatanya. Terkutuklah manusia-manusia yang menghalangi jalan mereka menuju pelaminan. Ia membiarkan ranselnya yang jatuh begitu saja. Dengan langkah-langkah keras Sasuke membawa dirinya bersama jutaan motif pembunuhan ke lokasi yang telah direncanakan. Di sana terlihat punggung orang itu yang sedang memeluk Hinata.

Memeluk Hinata.

Memeluk Hinata.

Lupa dibold: MEMELUK HINATA.

Sasuke merasakan kemarahannya mencapai ubun-ubun. Ia berlari dengan tangan taracung mengancam. Urat di dahinya turut eksis dalam memeriahkan kemarahan Sasuke. Tidak ada orang yang boleh menyentuh Hinata, tidak ada!

"*piiiiiiiiiiiiiiiiiiip*!" Sasuke berteriak. Tanpa segan apa lagi malu-malu, ia mendorong tersangka bertangan kotor itu menjauh. Si tersangka terjatuh dengan bunyi 'buk' "Tangan lo dijaga." Tambahnya, menarik Hinata untuk berpindah dan berdiri di belakangnya.

Untuk sekian detik grup empat orang itu diam. Sasuke marah-marah. Yang tiganya sepertinya baru mendengar berita paling absurd abad ini.

"…masalah lo apa?" Akhirnya mereka kembali bersuara "Kita cuman punya urusan dengan Hinata. Lo ada masalah?"

Dia berdiri tertatih. Matanya memandang sinis.

Tapi tidak akan ada yang dapat mengalahkan kesinisan Sasuke. Dia sudah melewati semua tahap pengkaderan untuk dapat menjadi anggota tetap Himpunan Sinis Indonesia. Sasuke mendengus. Dasar perusak rumah tangga orang. Sudah bersalah, masih banyak bicara. Seharusnya bukan hanya sex education yang diajarkan di sekolah-sekolah. Harus ada juga yang namanya commitment education. Salah satu bab harus mengajarkan mengenai betapa haramnya menganggu rumah tangga orang yang harmonis, bahagia, sakinah, mawadah, warahmah, seperti hubungan Sasuke dan Hinata.

"Masalahnya lo megang cewek gue." Sasuke angkuh "Kalau masih pengen tangan lo tetap utuh, jaga dia tetap di samping badan lo."

Sasuke menyeringai puas waktu mendapati pipi Hinata memerah. Wajahnya kembali datar saat berhadapan dengan dua sahabat yang rahangnya terbuka.

Mereka terdiam. Lagi.

Sampai akhirnya si mata biru berbalik ke sahabatnya lalu berbisik "Dia lebih aneh dari yang gue kira." Tanpa memperdulikan Sasuke, ia bertanya pada Hinata yang di seberangnya juga nampak bingung tapi tetap tersenyum malu-malu "Hinata, yakin dengan si aneh ini?"

Sasuke tercekat. Dia tidak suka dijelek-jelekan di depan calon istrinya. Dia harus kelihatan sebagai calon suami paling sempurna dengan kriteria yang pas sesuai dengan yang ditanamkan ibu PKK. "Hinata suka sama gue!" Sasuke defensif, langsung melanjutkan buku Marah-marah Chapter II: Pokoknya dia suka sama gue "Hinata cuman suka sama gue, lo nggak ada apa-apanya!"

Kedua orang itu membuka mulutnya lebih lebar. Nampak kesal sekaligus tak percaya. Mereka membuka lalu menutup mulut lagi. Putus asa dan tak tahu harus bicara apa. Setelah kebingungan cukup lama, salah satu di antara mereka bersuara, kekesalannya yang menumpuk tumpah ruah ke mana-mana "Lu memang freak, ya." Dia bilang. Giginya bergemeretuk. Dia menarik nafas panjang-panjang "Gue CEWEK! Lo gila ato gimana, sih?!"

Dia berteriak putus asa. Hinata yang khawatir bersiap untuk menenangkan ke sisinya, tapi Sasuke menahan.

"Udahlah, Sakura." Sahabatnya dengan rambut kuning menepuk punggung mungil itu "Memang gila ini orang."

Sasuke tersenyum mengejek. Teriakannya tak kalah keras "Yah! Siapa tahu lo nama paginya Sakura, malam berubah jadi Sakumo!"

Begitu saja.

Perang teriakan itu berlanjut. Hinata menatap putus asa. Sesekali menyentuh punggung Sasuke saat dirasa lelaki itu akan memukul dua wanita di depannya. Kemarahan Sasuke meluap-luap. Hinata tidak berpikir bahwa Sasuke adalah orang yang diskriminatif. Maka dari itu, rasanya meskipun yang membuat kesal dia adalah perempuan, mungkin Sasuke tidak akan pikir-pikir untuk melayangkan tinjunya.

"Lo balik ke gua sekarang!" Teriakan Sasuke masih terdengar.

"Lo balik ke alam lo sekarang!" Balasan balik pun masih ada.

Hinata menggerakkan kepalanya seperti menonton pertandingan tenis.

"Hinata gak suka sama lo!"

"Gue cewek, lu ngarti kagak?!"

"Hinata nggak bakal suka sama lo!"

"Gue cewek dan Hinata juga gak bakal suka sama lo!"

"Hinata suka sa—"

"Hinata pernah punya tunangan! Hinata masih suka sama dia!"

Sasuke tercekat.

Teriakannya terhenti. Apa ini? Hinata membiarkan dirinya mencinta sebelumnya? APA INI? Apakah ini semacam genjutsu? Hati Sasuke hancur berkeping-keping. Pelan-pelan suara Cakra Khan yang mensenandungkan 'Harus Terpisah' mulai terdengar. Hati Sasuke yang tinggal kepingan berubah menjadi debu di musim panas. Kuberduka, Kaubahagia. Teganya kau, Hinata. Fugaku benar, cinta itu pedih. Megi Z juga benar, lebih baik sakit gigi. Persetan dengan cinta.

Bagi cinta pertamanya dia bukan cinta pertama.

Sasuke kecewa.

"~"

"~"

"~"

Hukum internasionalnya, dukun itu berpakaian hitam-hitam, wangi kemenyan, markasnya gelap gulita. Kalau pun ditambah dengan service music, lagu yang diputar haruslah 'Mbah Dukun' yang pernah dipolulerkan Alam. Ini semacam kode etik nasional dukun, sebagaimana dokter harus berjas putih dan pemeran utama cewek film action harus berhigh-heels, meskipun tidak logis. Dukun ISO atau SNI haruslah mengikuti standar-standar tersebut secara saksama. Dukun semestinya terkesan mistis dan misterius.

Itu mengapa Kiba perlu mengecek lagi alamatnya begitu menyadari bahwa markas Mbah Gaara lebih mirip diskotik. Gelap, tapi ajeb-ajeb. Maskotnya entah mengapa teddy bear. Logonya symbol heart merah ngejreng.

Tapi bukan itu alasan utama mengapa Kiba sangsi.

Dia bertemu dengan Mbah Gaara yang ternyata belum mbah-mbah.

Kalau muda begini mah, sangat tidak etis dan tidak mengenakkan dipanggil 'Mbah'. Ini kayak manggil Jiraiya 'Bro'. Mungkin lebih akrab kalau dipanggil dengan nama saja. Masa' iya dipanggil 'Mbah'?

Kiba membentuk cengiran canggung. Ia terbatuk. Ternyata Gaara cukup baik karena langsung memberikan jeruk nipis dan kecap. Sangat tradisional dan efektif.

Meskipun setelah itu meminta bayaran lima puluh ribu.

Kiba terbatuk lagi. Ia menjadi lebih percaya diri dan beranggapan bahwa mereka benar-benar seumuran dan tidak perlu mbah-mbahan.

Cengiran canggung Kiba berubah menjadi cengirannya yang gembira.

"Gaara, begini,"

Mata Gaara menyipit.

Kiba merasa canggung lagi. Ia pura-pura tidak melihat ekspresi menakutkan itu lalu melajutkan dengan hati-hati, "Gaara, gue—"

"Tau sopan-santun?"

Kiba menelan ludah, memaksakan tawa yang lebih mirip rintihan "Gaara, jangan terlalu seri—"

"Mbah Gaara."

"…"

"…"

"Ehh.. Mbah Gaara, begini," Kiba memulai dengan kepercayaan yang perlahan meluntur "Saya punya teman yang suka sama cewek, tapi cewek ini nggak suka sama dia. Saya pengen minta bantuannya, Mbah."

Gaara diam. Kiba tiba-tiba merasa perlu membela diri "Bukan saya, Mbah. Beneran. Ini teman saya. Jomblo terus dia."

Padahal Kiba juga jomblo terus.

Gaara mengangguk takzim. Ia mengambil sejumput daun kering dari baki terdekat lalu membakarnya. Matanya menutup. Mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimat-kalimat yang setelah Kiba dengar secara saksama ternyata lirik lagu 'Baby' dari Justin Bieber.

Kiba meremas celananya kuat-kuat. Dia harus sabar, dia harus sabar! Laki-laki agak miring di depannya ini telah teruji kesaktiannya. Ia satu-satunya orang bisa menyelamatkan reputasi Kiba, setelah Naruto, yang kiba ketahui baru-baru ini, ternyata sengaja memilih kasus Danzo daripada Sasuke karena terlanjur putus asa. Dia hanya memilihkan teman kencan, lalu angkat tangan. Bangsat, Naruto.

Merasa Gaara sudah terlalu lama memuja Justin Bieber, Kiba mempertaruhkan nyawanya dengan mengajukan pertanyaan kritis. Dia masih sayang nyawa, tapi kalau masalah ini tidak selesai, hidupnya juga tidak akan tenang. Di masa tua nanti dia akan duduk di kursi goyang sambil teringat satu masa di mana dia gagal menangani kasus manusia batu. Kiba tidak mampu membayangkan hal yang demikian.

"Mbah Gaara, jadi bagaimana ini? Bagusnya pelet apa?"

Kiba langsung tembak. Pelet apa saja, yang penting Hinata dan Sasuke bisa bersama.

Mata Gaara yang tadinya tertutup, membuka perlahan. Kiba menelan ludah.

Gaara merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan handphone, lalu menunjukkan satu foto yang tak asing lagi bagi Kiba "Sasuke yang ini kan?" Dia bilang "Dan Hinata yang ini?" Katanya, menunjuk foto yang berbeda dengan seorang wanita muda sebagai modelnya.

Kiba tidak tahu harus merasa kagum atau bergidik. Kedua foto itu tepat sekali. Benar-benar foto Sasuke dan Hinata. Dunia perdukunan telah memasuki satu fase yang mengerikan. Semua orang tidak bisa lagi bersembunyi dari kedashatan ilmu kegelapan ini. Kiba merasa ia telah memilih dukun yang terlalu ekstrim. Dia jadi teringat kata-kata Naruto, ini dosa besar. Gaara terlalu dukun, sangat dukun. Kiba khawatir ia akan terkena azab atau sejenisnya jika bertransaksi dengan dukun semacam Gaara.

"B-ba-bagai—" Kiba mencengkeram dadanya, mencoba menenangkan diri "B-bagaimana Mbah Gaara bisa langsung menebak? Foto-foto itu, maksud saya—"

Kiba tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Baru sekarang kesadaran memukulnya. Bukannya semakin sakti dukun semakin banyak tumbalnya? Meskipun tempat ini asoy, tapi mungkin ini hanya taktik Gaara untuk menarik orang agar mau dipersembahkan kepada Jashin. Kiba ingin menangis. Dia jarang sholat, puasa kemarin pun bolong-bolong. Dia juga belum menjalankan perintah agama untuk menikah. Ditambah lagi dia tidak berbakti kepada orang tua.

"Oh. Foto ini?" Gaara tak acuh.

Kiba mengangguk kaku. Tangannya mulai berkeringat. Dia ingin membaca ayat kursi, tapi dia kembali mendapat gamparan kesadaran bahwa dia belum hafal ayat kursi.

"Saya lulusan Teknik Informatika."

Dan getaran di tangan Kiba berubah jadi kedutan.

"Lulusan apa?"

Gaara tak menjawab. Dia menunjuk foto Sasuke lagi "Kalau dia, saya tidak mau ikut campur."

Kiba menatap bingung. Tapi Gaara dukun internasional! "Tapi Anda dukun—"

"Masalahnya," Nada Gaara semakin datar "tanpa diberi sentuhan setan pun, dia sudah cukup 'setan'."

Maksudnya?

Kiba dengan suka rela mengorek kupingnya.

Dia tertawa miris. Setelah Naruto yang digadang-gadang sebagai agen biro jodoh terbaik angkat tangan, kini giliran seorang dukun internasional yang memilih tidak ikut campur. Orang-orang yang dianggap baik di bidangnya saja tidak mau berurusan, sementara dia, seorang pemuda yang hanya menginginkan hidup tentram sebagai petugas kebun binatang, malah siang-malam berkucur keringat menahan beban misi yang terlalu berat.

Persetan dengan semua ini.

Dia mau jadi gigolo saja.

"~~"

"~~"

Kalimat bijak hari ini:

"Dukun juga manusia."

"~~"

"~~"

Salam,

Ava : )