Mawar Darah
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
Warning : Typo, OOC.
.
Chapter 3
Masa Lalu
Perhatian Kaito tentu saja membuat Miku bingung, Kaito bukanlah bawahannya tetapi kenapa sungguh perhatian dengannya, selama ini tidak ada yang perhatian kecuali bawahannya juga pamannya. Tetapi Miku tetap pasrah saja saat di seret, ralat, di tarik oleh Kaito ke dalam Limousine keluarganya, Miku mulai menutup mata dan dia tertidur.
Sesampainya di rumah Kaito menyadari Miku telah tertidur dan kelihatannya tidak bisa di bangunkan, dia menggendong Miku dengan kedua lengannya. Melihat kondisi Miku yang seperti sudah di batasnya membuat semua maid yang menyambut kepulangan mereka langsung menyiapkan kamar sang nona dan Kaito di bimbing menuju kamar sang nona.
Miku seolah-olah boneka hidup yang kehabisan batere sekarang. Sudah seminggu dia tidak tidur hingga kelelahan seperti ini, sebenarnya Miku bisa tahan setahun tidak tidur, tetapi karena dalam seminggu ini dia melakukan kekuatannya terus, kekuatan Miku adalah dia bisa memprediksi masa depan, dan membaca pikiran seseorang. Tetapi pikirannya kini kelabu, dia tidak bisa melihat masa depannya, maupun membaca pikiran Kaito, semuanya terasa seperti melihat saluran televisi buram dengan cahaya yang membuatnya pusing. Tetapi, ketika vampir tidur, mereka menonaktifkan semua kemampuannya dan membuat mereka tenang hingga memulihkan diri mereka lagi.
Tonio yang mendapatkan kabar tentang Miku langsung pulang dari rumah sakit, padahal Tonio berencana untuk berada di rumah sakit seharian. Sesampainya di rumah Tonio menemui Kaito yang berdiri khawatir tentang Miku, mengetahui seseorang datang, dia menoleh dan mendapati Tonio datang, dia langsung menghampiri Tonio.
"Coba ceritakan," hanya itu kata Tonio. Dan Kaito langsung menjelaskannya dari awal hingga akhir, awalnya kenapa Miku hingga akhirnya dia seperti ini. Tonio mengangguk-angguk mengerti, dia kemudian tertawa pelan. "Ku kira apa yang terjadi ternyata hanya seperti ini yang terjadi, Kaito kau tidak perlu khawatir, bila besok dia tidak bangun, ijinkan saja dia, besok malam mungkin dia bangun, dia hanya tidur untuk memulihkan tenaganya," kata Tonio.
Haku kemudian memberitahunya kalau darahnya telah di siapkan, di meja makan. Kaito dan Tonio mulai meminum darah harian mereka.
"Jadi kau ingin tinggal di sini atau pindah ke apartemen?" tanya Tonio ketika baru meminum darahnya setenggak. "Jujur saja, aku ingin kau tinggal di sini saja," kata Tonio sambil meminum lagi darahnya, Kaito yang di sodori pertanyaan itu hanya menatap gelasnya, dia juga bingung. Dia masih ingin bersama dengan Miku, dan Kaito merasa kalau dirinya tertarik dengan Miku, si putri es.
"Kurasa mungkin aku tinggal di sini saja," mendengar jawaban Kaito, Tonio mengembang senyumannya. Tonio juga berharap dengan adanya Kaito, Miku bisa sedikit berkurang sifat dinginnya, jujur, dia rindu dengan Miku yang periang, selalu tertawa, juga selalu melontarkan lelucon, seperti ayahnya.
"Berhubung kau memilih tinggal di sini, ku ingin kau mengembalikan senyuman Miku, dia bisa tertawa itu lebih baik," kata Tonio sambil memandang penuh harap kepada Kaito. Kaito mengangguk menyanggupi permintaan dari Tonio, dia juga ingin melihat senyuman Miku malam itu lagi. Sebuah senyuman yang membawa Kaito menuju kedamaian.
Setelah menghabiskan gelasnya, dia ingin undur diri dan menuju kamarnya, setidaknya dia harus mencari pekerjaan, dia tidak mungkin kan hanya jajan di kantin. Sesampainya di kamarnya dia membuka komputer yang tersedia di sana, dia mencoba mencari lowongan pekerjaan, dia juga tidak menemukan larangan bekerja di sekolahnya. Akhirnya dia menemukan sebuah pekerjaan di sebuah kedai bir sebagai pelayan di sana. Dan mungkin melihat status Kaito yang merupakan vampir, dengan cepat email balasan di dapatnya, menandakan dirinya di terima.
Tetapi dia bimbang akan mengatakan ini atau tidak kepada Tonio, bila dia mengatakannya, tentu saja Tonio akan memberinya uang lebih, dari pengamatannya uang bukanlah sesuatu yang di pikirkan oleh para vampir bangsawan, mereka banyak uang, bahkan tidak perlu bekerja. Tonio suka bekerja makanya itu dia terus berada di rumah sakit walaupun tidak memerlukan uangnya, dia suka membantu manusia.
Kaito pun mulai berjalan menyusuri lorong gelap itu. Meskipun gelap, Kaito dapat melihat warna-warna yang tersembunyi di dalam kegelapan itu, walaupun semuanya menjadi terselimuti warna ungu. Tujuannya, perpustakaan rumah ini. Dia menemukan sebuah pintu besar dan langsung membukanya, aroma buku menyentuh reseptor penciumannya, dan dia dengan langkah cepatnya menelusuri tempat ini, dia ingin melihat sejarah keluarga ini.
Yang dia ambil pertama adalah sebuah album, berisikan foto Miku dan orang tuanya. Saat dia membuka halaman pertama dia dapat melihat foto Miku yang masih kecil memakai gaun yang indah dan ada wanita paruh baya yang duduk di sebuah kursi yang kelihatannya memiliki bantalan dari beludru sambil memegang kedua bahu Miku, dia juga memakai gaun yang indah. Di sebelah mereka ada laki-laki berambut tegap dan memakai jas terbaik dengan tatanan rambut kuncir kuda, bahkan baju Miku dan ibunya sama, yaitu melebar di daerah pinggang, rambut ibu nya di tata keatas dan di hiasi tobil dengan pinggiran lebar dan pita yang menjuntai, sementara Miku memakai sebuah tudung dengan model berkerut yang melingkari wajahnya. Sementara ayahnya yang berambut sama dengan Miku di kepalanya di hiasi topi memanjang yang di hiasi bulu juga lencana keluarga Hatsune di salah satu tepi topinya, dengan hiasan leher berenda yang menyembul dari jas yang dia kenakan dan celana ketat.
Kata-kata selanjutnya membuat Kaito sedikit terkejut. Di situ tertulis, Mikuo Hatsune, Keiko Hatsune, dan putrinya sang half blood princess. Itu berarti Miku ada darah manusia yang ada di tubuhnya, di halamanya tertulis sejarah keluarga itu, dimana Keiko adalah manusia, kemudian di ubah menjadi vampir dan lahirlah Miku, itu adalah jaman dimana para manusia mulai memburu vampir. Pada saat itu vampir di anggap makhluk yang berbahaya, sehingga manusia mulai memburu mereka agar para manusia bisa bertahan hidup.
Kaito beranggapan saat itu manusia menjadi sangat egois dengan anggapan seperti itu, sekarang dunia seperti ini, manusia dan vampir hidup berdampingan. Kaito sedikit memukul lantai sampai lantai yang terbuat dari granit itu retak, dia berfikir seandainya saja deklarasi damai itu 10 tahun lebih cepat, seandainya saja orang tua Miku masih ada, mungkin Miku akan menjadi anak yang ceria. Tidak hanya Miku, para vampir yang sekarang harus hidup mandiri karena orang tua mereka telah di habisi. Setidaknya mereka tidak bisa hidup dengan orang tua mereka karena di bunuh, tidak seperti dirinya. Setelah ayahnya meninggal Ibunya pergi dengan laki-laki yang lebih kaya dan meninggalkan dirinya sendirian di apartemen terbengkalai dengan penyakitnya itu.
Setidaknya nasib para vampir itu lebih baik daripada dirinya. Dia terus melihat foto itu, dari Miku baru lahir hingga berumur 10 tahun, tepat dimana kejadian itu terjadi. Bahkan di bagian terakhir yang membuat Kaito menangis, foto yang bertuliskan, foto terakhir sebelum melakukan perjalanan berbahaya. Disana ayah dan ibu Miku memeluk Miku dengan sangat hangat dan Miku juga tersenyum, senyuman terakhirnya bersama kedua orangtua nya menurut Kaito.
"Sudah puas?" tanya sebuah suara mengejutkan Kaito, dia terlonjak dan melihat ke arah suara itu.
"Tonio-san," gumam Kaito sambil menggosok dadanya. "Maafkan aku telah lancang memberantakan perpustakaan ini dan membaca data diri Miku," kata Kaito sambil membungkuk.
"Tenang saja, aku tidak keberatan kok, kau tinggal di sini, kau berhak untuk mengetahui semuanya," kata Tonio sambil tersenyum hangat. "Sudah waktunya mandi dan sekolah, kau tentu nya tidak ingin terlambat sekolah kan?" tanya Tonio lagi. Kaito langsung bergegas keluar dari perpustakaan setelah sebelumnya membereskan buku yang berserakan dan berpamitan kepada Tonio. Tetapi sebelumnya Kaito mampir ke kamar Miku, Miku masih tertidur dengan damai di kasurnya, bajunya telah berganti piama. "Aku lupa bilang kepadamu, ijinkan Miku nanti ya?" kata Tonio sambil menepuk bahu Kaito, Kaito hanya mengangguk sedih.
Kini dia di limousine sendirian, biasanya dia di temani oleh Miku walaupun Miku hanya akan terdiam selama perjalanan. Sesampainya di sekolah anak yang melayani Miku langsung menghampiri. Dia kebingungan kenapa Miku tidak ada, Miku belum pernah bolos sebelumnya.
"Loh kemana Miku-sama?" tanya Neru dengan pandangan bertanya.
"Miku sekarang masih tertidur, dia telah sebulan tidak tidur," kata Kaito dengan raut muka sedih, Neru juga ikutan sedih.
"Ku mohon kepadamu, nanti ketika pulang ajaklah aku bersamamu, aku ingin merawat Miku-sama," kata Neru sambil menunduk, Kaito langsung menggosok kepala Neru pelan.
"Baiklah, ikutlah," kata Kaito sambil berusaha tersenyum, sepanjang pelajaran pikiran Kaito hanya ada di rumah, tepatnya kamar Miku, dia khawatir Miku tidak akan pernah bangun. Dia tahu itu mustahil karena vampir hanya bisa mati dengan 2 cara, di bunuh dan usia tua, vampir lahir dan mati di tanggal yang sama, mereka akan mati bila mencapai umur 80 tahun manusia biasa. Akhirnya selama pelajaran dia tidak bisa fokus, sementara sepulang sekolah dia ada kerjaan, setidaknya dia harus mengantarkan Neru dulu ke rumahnya lalu berangkat ke tempat kerjaannya. Bahkan saat istirahat Rin dan Luka menayai kemana Miku, Kaito menjelaskan kondisinya dan mereka berdua mengangguk mengerti.
"Ayo ikut kami makan siang," kata Gakupo kepada Kaito. Gakuko kali ini juga ikut, akhirnya dia menanyakan kenapa Kaito murung, dia menceritakan karena dia bersedih kenapa Miku mengalami hal seperti itu, kenapa bukan yang lainnya.
"Kau tahu, istri Tonio-jii juga meninggal di malam berdarah itu, tetapi Tonio-jii selalu berbohong kepada Miku, kalau istrinya sedang di luar negeri dalam urusan tugas, dia tidak ingin menambah kesedihan Miku," kata Gakupo.
"Kenapa tidak mengakatakannya saja, setidaknya Miku bisa tahu dia juga serumah dengan orang yang bersedih seperti dirinya kehilangan orang yang dia sayang," kata Kaito, Len hanya menggeleng.
"Alasan Tonio-jii tidak mengatakannya, karena Tonio-jii meninggalkan istrinya demi menyelamatkan Miku, setelah kembali dari menyelamatkan Miku, ternyata istrinya sudah terkapar di lantai sementara rumahnya telah terbakar, istrinya telah menitipkan Miku kepada Tonio-jii, dia berpesan kepadanya untuk merawat dan menjaga Miku hingga akhir hayatnya, dan Tonio-jii berjanji, asal kau tahu bagi seorang vampir janji adalah sebuah kata-kata yang mengikat benang kehidupan kita, sekali saja kita tidak menepati janji, maka hukuman yang perih siap menghampiri kita, dan takut Miku menjadi semakin merasa bersalah, Tonio-jii memilih merahasiakannya," kata Len.
"Kenapa istrinya Tonio-jii sampai mengatakan hal seperti itu?" tanya Kaito.
"Karena istri Tonio-jii adalah kakak ibu Miku," jawab Len singkat.
"Ibunya Miku kan manusia?" tanya Kaito terkejut, sementara Len hanya mengangguk. Jadi Tonio adalah paman Miku dari ibunya, semalam juga dia membaca bahwa ayah Miku juga kehilangan orangtuanya 10 tahun sebelum dirinya sendiri meregang nyawa. Mereka meregang nyawa di tangan pemburu vampir legendaris pada saatnya, yang sudah turun temurun menghabisi vampir. Dan ibu Miku adalah keturunan dari pemburu vampir itu, tetapi dia terlanjur jatuh cinta kepada ayah Miku, hingga dia berkhianat kepada keluarganya dan menikah dengan Vampir.
Jadi ibunya Miku dan istrinya Tonio pengkhianat keluarga pemburu tersebut. Hingga akhirnya di bunuh oleh keluarganya sendiri, hal ini benar-benar kenyataan yang menyakitkan bila Miku mengetahuinya, makanya Tonio bungkam tentang hal itu.
"Jadi begitu," hanya itu gumam Kaito, di saat itulah dia kemudian bertekad untuk melindungi Miku, menjaganya, dan kalau bisa menyayanginya. Mendengar kata-kata terakhir itu membuat Kaito menggelengkan kepala kuat-kuat, dia menyalahkan dirinya sendiri, apa yang dia pikirkan.
"Oh iya, kau besok harus menyerahkan kau memilih ekskul apa," kata Len mengingatkan, benar juga, dia telah di berikan formulir pilihan ekskul, mungkin nanti malam dia akan membaca apa saja pilihannya, dan memutuskannya besok saja. Dia berharap ketika dia tiba, Miku sudah bangun dari tidur panjangnya.
"Apa Miku memiliki pasangan sebelumnya?" tanya Kaito tiba-tiba, Rin dan Luka langsung tersedak kemudian berteriak histeris dengan senyuman penuh arti.
"Akhirnya ada yang menyukai si ice princess!" kata Gakupo sambil tersenyum, dan menerima sodokan siku dari adik tersayangnya.
"Jangan panggil Miku-nee seperti itu," kata Gakuko sambil sedikit kesal dengan kakaknya sendiri, sementara Gakupo hanya meringis kesakitan.
"Tenang saja Miku-chan masih belum punya pasangan kok, tidak ada laki-laki yang berani mendekatinya karena sikapnya itu," kata Luka sambil tersenyum. "Aku menunggu kabar baiknya," kata Luka sambil tersenyum lagi.
"Bu-bukan seperti itu, aku hanya takut, aku ingin melindunginya, aku takut bila mengganggu hubungannya," kata Kaito sambil mukanya seperti kepiting rebus.
"Sudahlah, aku tahu loh, kau tidak bisa berbohong kepadaku, bahkan walaupun kau sedang membohongi dirimu sendiri," kata Rin sambil tersenyum dan menumpukan kepalanya di atas kedua tangannya. Semuanya menatap kepada Kaito hingga dirinya salah tingkah.
"Kalian berhentilah menatapku seperti itu!" kata Kaito yang semakin memerah mukanya. Dan semua orang di meja itu tertawa karena reaksi lucu Kaito, sementara Kaito mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apakah dia ingin melindungi Miku hanya karena kasihan atau, dia memang jatuh cinta sama Miku. Dia terus menerus memikirkan hal ini hingga saatnya dia pulang dan Neru sudah menungguinya, tentu saja dia sebelumnya mengatakan kepada Tonio kalau dirinya membawa pelayan Miku di sekolah.
Tonio tentu saja mengijinkannya, dan Kaito mengajak Neru untuk menaiki limousine bersama dengan Kaito, awalnya Neru menolak tetapi hanya ini transportasi menuju rumah Miku yang berada lumayan jauh dari sekolah ini, dan rumahnya sangat jauh dari stasiun kereta api, ataupun halte pemberhentian bis. Dan rupanya juga ini pertama kalinya Neru ke rumah Miku, karena Miku selalu menolaknya karena nantinya akan merepotkan Neru.
Si supir yang manusia biasa pun hanya terdiam menjalankan tugasnya dan segera mengemudi menuju rumah, suasana mobil kembali terdiam. Tidak ada suara lain selain deru mobil yang sedang melaju di dalam mobil itu, bahkan Neru hanya terdiam sambil memainkan ponsel pintarnya. Perjalanan bisu itu berlansung hingga mereka akhirnya sampai di pintu gerbang mansion Hatsune, mansion ini memang milik keluarga Hatsune karena Miku yang membelinya, sementara mansion Tonio berada di Hokkaido yang biasanya di kunjungi bila Miku sedang libur musim panas. Neru terpana dengan desain pintu gerbang mansion ini yang memiliki lambang "H" besar di hadapannya, juga papan namanya yang di hias dengan sangat bagus. Perjalanan menuju pintu mansionnya sendiri harus melewati bundaran yang di tengahnya terdapat air mancur dengan malaikat yang ada di atasnya menuangkan kendi berisi air, total ada 4 malaikat disana yang berdiri saling melingkar, dan jalananini di pagar semak-semak setinggi betis manusia dewasa dan beberapa lampu taman yang bergaya era victorian.
Ketika sampai di pintu rumah, dua orang pelayan sudah ada untuk menyambut para tamu yang datang, mereka membuka pintu dari kedua sisi dan mempersilahkan Kaito dan Neru untuk masuk.
.
.
.
TBC
Author note : Pada album yang di buka oleh Kaito menampakkan pakaian era Roccoco-desu, karena saat Miku berumur 10 tahun mereka berada di zaman itu-desu.
