Disclaimer: Naruto isn't mine! Naruto is Mas Kim's! *nunjuk2 Masashi Kishimoto*

Warning: AU, OOC, abal, gaje, not a humor fic!, typo (s) bertebaran dimana-mana!

Pairing : DeiHina! Khusus fic ini! Kalau sebenarnya SasoHina, DeiHina, ItaHina

Summary: Konan menyuruh Hinata berbelanja bersama Deidara, apa reaksi Hinata? Kenapa Hinata harus selalu bergandengan tangan dengan Deidara ketika mereka berbelanja di pasar? Hmm just read it!

A/N: Ini ah fic khusus DeiHina! Di chap sebelumnya aku juga udah ngomong kan *tepatnya ngetik* kalau chap 4 ini khusus DeiHina? o.O Yah sudahlah, enjoy it! :3 :D ;D, ;)

Indigo in Black and Red

By: Akasuna no NiraDEI Uchiha

'Cklek, blam,' terdengar suara pintu terbuka dan menutup, lalu pintu itu.

"Ah! Capeknya!" seru Hinata dan melepas jubahnya dan melipatnya kembali, ikat kepalanya juga ia lepas, cincin, dan juga sepatunya, sekarang ia hanya mengenakan pakaian ninjanya dan hendak berganti baju.

"Cklek," Hinata mengunci pintunya dan berganti baju dengan kimono tidur dan mengucir rambutnya menjadi kucir satu.

Ia mengikuti segala permainan truth or dare dari awal sampai akhir, sampai ia lelah sendiri karena ia harus menjawab sesuatu yang privasi dan aneh-aneh, tetapi sebelum ia dapat sampai di tempat tidur dan merebahkan dirinya, seseorang mengetuk pintunya.

"Ya sebentar," Hinata segera membuka pintu mendapatkan Deidara sedang mengetuk pintu.

"Deidara-kun, ada apa?" tanya Hinata, Deidara memeluk Hinata secara tiba-tiba.

"Pelukan selamat malam un, selamat tidur un!" seru Deidara melepaskan pelukannya dan meninggalkan Hinata yang menatapnya aneh, muka Hinata memerah dan jantungnya berdegup kencang.

"A…a…apa tadi?" tanya Hinata, sesaat sebelum ia masuk ke kamarnya lagi, seseorang memegang pundaknya dan mencium keningnya.

"Selamat malam," bisik orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Itachi, Itachipun setelah mencium kening Hinata pergi meninggalkannya.

"Apa-apaan sih mereka itu!" Hinata bingung sendiri dan membanting pintu kamarnya dan terdengar.

"HOI! PINTU MAHAL TAU!" teriak Kakuzu, si bendahara cerewet dari akatsuki, muka Hinata sudah benar-benar merah, Sasori yang mencium pipinya, Itachi yang mencium keningnya, dan Deidara yang memeluknya, sebenarnya apa-apaan sih itu?.

"Ah!" Hinata menjatuhkan dirinya di tempat tidur dan melempar bantal satu-satunya keatas dan tepat mendarat di mukanya.

"Huh," Hinata menatap langit-langit kamarnya, membayangkan wajah Sasori, Deidara, dan Itachi satu-persatu dan tertidur lelap.

"PAGI HINATA-CHAN!" Hinata terbangun mendengar teriakan itu, ia meihat ke samping, pria dengan topeng lollipop berwarna jingga.

"AAAAH!" Hinata spontan mendorong muka itu agar menjauh dari mukanya, ia melirik jam dindingnya, jam 6 pagi, masih terlalu pagi, selanjutnya Hinata mendengar deru langkah dan beberapa pintu terbuka.

"ADA APA HINATA?" Sasori, Deidara, Hidan, Kakuzu, dan Pein sudah ada di ambang pintu Hinata yang terbuka, terlihat sangat panik.

"TOBI! APA-APAAN KAMU?" teriak mereka lagi ketika melihat Tobi yang terjungkal ke belakang di dekat tempat tidur Hinata, Hinata menatap anggota yang ada di ambang pintu, sebelum ia tertawa lepas.

"Ahahahahah, kalian lucu sekali sih," Hinata tertawa lepas, muka orang-orang yang ada di ambang pintu memerah, memerah karena malu dan melihat tawa Hinata.

"Tobi! Ayo sini!" seru Hidan dan menyeret Tobi dari kamar Hinata, Hinata berhenti tertawa lalu melihat ke orang-orang yang disana sekali lagi, semuanya masih mengenakan baju tidur, sepertinya mereka terbangun karena teriakan Hinata.

"Ya sudah un jika Hinata tidak apa-apa un, aku mau tidur lagi un," kata Deidara dan menguap, diikuti Sasori kembali ke kamar mereka.

"Iya, heh Tobi! Jangan disini! Ikut aku!" suruh Hidan, dan menyeret Tobi, Hinata merasa ada yang tidak ada.

"Um, Itachi-kun dan Kisame-san ada dimana?" tanya Hinata, Pein segera menjawab.

"Itachi dan Kisame mempunyai misi, selama tiga hari, ada apa Hinata? Kangen dengan Itachi ya?" goda Pein, Hinata menggeleng, terdapat semburat merah di pipinya.

"Tidak kok, tidak juga," Pein tersenyum dan mengacak-acak rambut Hinata dan keluar dari kamar Hinata diikuti Kakuzu.

"Hina-chan" Hinata terbangun lagi ketika mendapat ketukan pintu, ia segera berdiri dan membukanya, ternyata Konan sudah berdiri didepan pintu membawa baju-baju.

"Konan-san, untuk apa itu?" tanya Hinata menatap baju yang diberikan Konan, Konan segera mendorongnya ke kamar tidur.

"Persediaan makanan di akatsuki habis, aku ingin kamu membelinya! Dan kamu harus memakai baju itu untuk belanja kesana!" seru Konan, Hinata menatap baju yang ia pegang dan terpaksa mengenakannya, kaus berlengan pendek berwarna pink, celana pendek berwarna merah dan jaket berwarna putih, ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia teringat Sakura jika melihat warna-warna ini, ia lalu membalikkan badannya dan memakai sepatu bootsnya, dan ada ketukan pintu berkali-kali, Hinata segera membukanya dan terkejut bahwa yang ada di depan pintu ialah Deidara.

"Un~ ng Konan menyuruhku untuk menemanimu berbelanja, dan memakai burung tanah liatku," kata Deidara agak gugup karena melihat Hinata, Hinata sendiri mukanya memerah karena Deidara mengenakan celana jeans selutut dengan baju berwarna hitam dan jaket berwarna coklat, ia terlihat keren.

"Um, iya, ayo Deidara-kun," ajak Hinata, lalu Konan berjalan kearah Hinata, menyerahkan secarik kertas.

"Ini daftar belanjanya dan uangnya sudah dipegang Deidara, gunakan dengan baik ya!" seru Konan, sepertinya senang melihat Deidara dan Hinata.

"Ng,, Deidara-kun sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Hinata, Deidara membuat burung dengan tanah liat.

"10 km dari sini ada pasar, disana kita akan membeli bahan-bahan masakan un," kata Deidara membuat segel tangan dan tanah liat tadi segera membesar.

"Ayo, Hinata-chan un," Hinata menaiki salah satu burung tanah liat tersebut, Deidara juga menaikinya.

"Sebenarnya, kenapa kita memakai baju seperti ini sih?" tanya Hinata, kini burung itu sudah terbang lepas di langit.

"Agar identitas akatsuki tidak terkuak, jika sudah ketahuan akatsuki akan berbelanja disana, maka orang-orang yang mengincar kami akan mencari di wilayah pasar tersebut dan markas kita akan ketahuan un," jelas Deidara, Hinata mengangguk mengerti.

"Hah kenapa turun disini Deidara-kun?" tanya Hinata ketika 2 burung tanah liat Deidara yang mereka naiki turun mendadak sekitar 100 meter sebelum sampai di pasar.

"Ya, kalau kita turun di pasarnya, orang-orang disana pada kaget dong un," jelas Deidara, Hinata mengangguk mengerti lagi dan mereka berjalan hingga pasar.

Pasar yang dituju Deidara dan Hinata terlihat besar dan ramai, semua orang terlihat sedang sibuk menawar dan membeli barang-barang yang ada dipasar tersebut, Hinata membelalakkan matanya, tenyata pasar yang tergolong tersembunyi ini dapat seramai ini ya, Hinata menganggap pasar ini tersembunyi karena jika dilihat-lihat di sekitar pasar hanya ada hutan belantara saja.

"Barang yang dibeli, 1. Ikan gurame 4 kg un," kata Deidara membaca daftar belanjaan dari Konan, Hinata melihat sekeliling dengan byakugan dan segera mendatangi toko ikan tersebut, Deidara hanya mengikuti di belakang.

"Ano, 4 kg ikan gurame berapa ya?" tanya Hinata kepada penjual yang tergolong masih muda tersebut.

"4 kg, 50.000 ryo," kata penjual itu singkat, tidak menatap pembeli didepannya karena sibuk menimbang-nimbang ikan.

"Bisakah 25.000 ryo?" tanya Hinata.

"Apa kamu bercan-," kata-kata itu terputus ketika melihat gadis yang didepannya itu, cantik sekali, Hinata menatapnya dengan tatapan memohon.

"Ah, baiklah 25.000 ryo, hime," kata penjual itu dengan mata yang berbentuk hati, Hinata bertanya.

"Tidak apa-apa nih?" penjual itu mengangguk mantap dan menyerahkan 4 kg ikan itu ke Hinata.

"Terima kasih!" seru Hinata membungkuk sedikit dan kembali ke Deidara berada.

"Waw un, hebat sekali un," puji Deidara melihat aksi Hinata tadi, Hinata tersenyum.

"Hehe, ayo cepat beli yang selanjutnya! Apa yang harus dibeli?" tanya Hinata merebut daftar belanjaan dari Deidara.

"Nori? Hum byakugan!" Hinata melihat sekeliling dan menemukan toko nori, ramai dan ada spanduk yang tertulis 'Diskon besar-besaran! Limited edition!' Hinata segera berlari ke toko nori meninggalkan Deidara yang masih melihat-lihat toko yang disana.

"Hei hei Hinata-chan kamu dimana? Un," kata Deidara menyadari bahwa Hinata tidak ada disisinya, lalu ia melihat keramaian yang ada di toko nori.

"A…ah! Aduh! Aah! Hei perhatikan auww!" Hinata teriak mengaduh kesakitan karena tubuhnya terhimpit orang-orang yang ada disana.

'Aduh aku jadi makin kurus kalau begini caranya,' pikir Hinata masih terhimpit oleh orang-orang yang ada di toko nori tersebut.

"Aaw!" Hinata mengaduh sekali lagi karena kakinya terinjak oleh orang-orang yang disana, karena rata-rata orang yang disana lebih tinggi dari Hinata ia kesulitan untuk mencari udara dan bergerak.

"Ah! Hah hah hah," Hinata memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk mencari udara, tiba-tiba ada tangan yang memeluk pinggangnya dan Hinata mendapatkan udara segar, Hinata membuka matanya dan melihat Deidara menggendongnya.

"Dei…Deidara-kun?" muka Hinata memerah, Deidara terkekeh kecil melihat Hinata yang terhimpit-himpit seperti tadi.

"Hah, sudahlah yang ini urusanku, kau tunggu disana saja un," kata Deidara menunjuk tempat yang lumayan sepi dari situ.

"A..ah iya, terima kasih Deidara-kun," Deidara menurunkan tubuh Hinata dan membawa sedikit uang dari dompet yang Hinata pegang.

"Deidara-kun," gumam Hinata melihat sosok Deidara yang merebut antrian dan menyumpah-sepahi orang-orang yang ada disana.

"Loh…loh? Eto..," Hinata tidak melihat sosok Deidara lagi karena tertutupi oleh orang-orang yang lewat didepan Hinata.

"Loh? Eh?" dan gadis ini baru sadar bahwa dirinya dibawa oleh arus manusia yang ada disana, karena tadi Hinata memperhatikan Deidara ia jadi tidak sadar.

"Loh, Hinata-chan mana un?" tanya Deidara pada dirinya sendiri ketika melihat Hinata tidak ada ditempat yang tadi ia tunjukkan, ia padahal sudah berhasil mendapatkan nori dalam harga relatif murah karena ia bertengkar mulut dengan penjualnya.

"Aduh aduh ah," Hinata terbawa oleh arus-arus manusia hingga ia terhimpit lagi.

"Byakugan!" seru Hinata, ia mencari Deidara dan melacak chakranya, Deidara ditemukan 10 m dari tempat Hinata berada, tetapi Hinata saja tidak dapat bergerak, bagaimana ia dapat menghampiri Deidara?.

"Hinata-chan dimana?" Deidara mencari-cari sekeliling dan mendapati rambut indigo yang berada didekat toko ayam.

"Deidara-kun," Hinata menonaktifkan byakugannya, ia menatap orang-orang yang ada didepannya.

"Hinata-chan!"Hinata merasakan tangan yang tiba-tiba memeluknya dan membawanya ke sisi orang itu, Hinata melihat ke atas.

"Deidara-kun?" Deidara melepaskan pelukannya dan menyentil kening Hinata.

"Kamu itu ya, baru kutinggal sebentar saja sudah hilang un," Hinata menatap Deidara merasa bersalah.

"Maaf, Deidara-kun," Hinata menundukkan kepalanya, Deidara tersenyum pasrah dan menggandeng tangan Hinata.

"Eh?" Hinata menatap tangan yang Deidara pegang.

"Agar kamu dan aku tak terpisah lagi un, susah mencarimu dikerumunan orang begini un," kata Deidara menyeringai senang, Hinata menatap Deidara sebentar dan mengingat Naruto.

"Ummh, baiklah Deidara-kun, terserah kamu saja," Hinata tersenyum kepada Deidara dan membuat muka Deidara memerah.

"Ayo lanjutkan belanjanya," ajak Hinata, Deidara mengangguk

Mereka berbelanja dengan tangan yang bergandengan, ke manapun mereka berada pasti tangan mereka bergandengan, karena Deidara takut Hinata akan menghilang untuk ketiga kalinya, dan diputuskan Hinata yang bagian tawar-menawar dan Deidara yang mengantarkannya.

Sudah dua jam berlalu di pasar itu, tentu tidaklah mudah untuk berbelanja dengan berbagai kerumunan orang-orang yang ada disana, sempat juga gandengan Deidara terlepas karena orang yang ada diantara mereka akan lewat sehingga Deidara mencari-cari Hinata lagi.

"Capek un!" seru Deidara duduk disalah satu kios penjual minuman, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak disana.

"Iya," tanggap Hinata meminum es tehnya, hari yang lumayan terik dan Hinata memakai jaket putih, ia segera melepasnya dan mengikatkannya di pinggang, muka Deidara memerah melihat kulit Hinata yang putih itu, Hinata merasakan Deidara melihatnya dengan cara yang aneh.

"Ada apa Deidara-kun?" tanya Hinata mengernyitkan alisnya, tanda ia bertanya-tanya.

"Ng..gak apa un!" kilah Deidara melempar pandangan ke arah lain dan meminum jus jeruknya.

"Kamu juga tidak lepas jaket Deidara-kun? Disini kan panas sekali, nanti kamu bisa dehidrasi loh," kata Hinata, Deidara menatap mata lavender Hinata dan membuang pandangan mata, lalu melepas jaketnya yang berwarna coklat dan disampirkannya di bahu.

"Iya un, memang panas un," kata Deidara, Hinata mengangguk dan tersenyum.

"Deidara-kun, terima kasih untuk hari ini, kamu selalu menolongku," kata Hinata menatap mata aquamarine Deidara dan tersenyum hangat.

"Iya un, sama-sama un, aku juga senang kok un," kata Deidara, tersenyum hangat juga, muka Hinata memerah sedikit melihat senyum Deidara.

"Ayo teruskan lagi belanjanya un!" seru Deidara, Hinata tersenyum dan berusaha membawa belanjaan-belanjaan mereka.

"Ah, kubawakan saja un," kata Deidara melihat Hinata kesusahan membawa semua belanjaan itu.

"Konan juga, titip gak kira-kira, harusnya dia menyuruh minimal 3 orang dong un!" kata Deidara membawa belanjaan-belanjaan yang beratnya mencapai 5 kg itu.

"A…ayo kita cepat selesaikan saja," kata Hinata, Deidara mengangguk dan segera berangkat untuk membeli 4 barang yang tersisa di daftar belanjaan itu.

"Ah! Kalian sudah pulang?" Konan menyambut Deidara dan Hinata yang sudah masuk kedalam markas.

"Iya, ini belanjaannya un," kata Deidara menunjukkan belanjaan-belanjaan itu.

"Baik, baik terima kasih ya Dei! Hina-chan!" kata Konan, tersenyum geli melihat muka Deidara yang sudah capek dan pucat, Hinata juga.

"Konan, boleh aku ke kamarku?" tanya Hinata, Konan mengangguk.

"Ya, selamat istirahat Hina-chan!" teriak Konan melambai-lambaikan tangan ke arah Hinata yang sudah melangkah gontai.

"Iya, terima kasih Konan-san," tepat sebelum Hinata masuk ke kamarnya, Kakuzu keluar dari kamar dan memanggil nama Hinata.

"Hinata!" Hinata menoleh, melihat sosok bercadar memanggil namanya.

"Uang?" tanya Kakuzu, Hinata segera merogoh kantung celananya dan mengeluarkan uang yang masih sisa 100.000 ryo.

"Ini, Kakuzu-san," kata Hinata menyerahkan uang kepada Kakuzu.

"Sisanya banyak juga ya, kamu menawar dengan cara apa?" tanya Kakuzu mengingat uang yang diberikan ke Hinata jumlahnya 250.000 ryo.

"Hinata-chan menawar setengah harga dan langsung diterima penjualnya! Karena Hinata memakai feromonnya un!" kata Deidara tiba-tiba.

"Oh baguslah, mulai sekarang kamu yang akan kusuruh belanja, kamu lebih hemat dari anggota lainnya sih," kata Kakuzu memasuki kamarnya.

"Ano, Kuzu-san! Aku tidak!" sebelum Hinata sempat mengejar Kakuzu, Kakuzu sudah menutup pintunya.

"Ah~ harus dihimpit-himpit lagi deh," kata Hinata lunglai.

"Hehehe, sabar Hinata-chan," ucap Deidara dan segera pergi ke kamarnya, Hinata tersenyum dan memasuki kamarnya.

~Tu Bi Kontinyud~

A/N: gimana gimana gimana gimana gima- *ditendang Hinata* ehm maaf atas kesalahan teknis tadi! Hehehe Review ya! Duh aku bingung endingnya nih, ada yang mau menyalurkan ide buat ending? PM saya! Atau review juga boleh kok, chappie depan SasoHina dan ItaHina! Oh ya jangan tanya aku kenapa Hinata bajunya kubuat berwarna pink! :3

Balasan Review:

Deidei Rinnepero: ada tohh? Aku gak tau! Hahahhaha, yee sebenarnya pas ngetik ini aku gak tega Dei jadi perempuan, hiks *inner Dei: trus ngapain di fic ini kamu menistakan saya menjadi perempuan?* makanya jangan baca pas midnight, tar kirain sadako lohh, oke! Ok! Thanks reviwnya!

Mafico Itachi: iyah kumaafkan, ^^, gilaa! Masa bagus sih? Fave? Ehm makasih! SasoHina? Banyak kali yang minta SasoHina? Yah tapi adegan buat mereka next chappie okeh? Yah aku paling gak isa bikin fic humor, tapi yah dicoba deh, yes! Udah apdet kilat! Pake petir nih udahan! Makasih reviewnya

Seichi: exited? Kyaaa makasih! *hug seichi* hehe mungkin apdet cepatnya akan sampai chappie 5 dulu, soalnya aku belum nulis lanjutannya dan aku blum diskusiin sama Rinne, maaf eaa ItaHina? Chappie depan! Okeh? Thanks reviewnya!

Tenshi Kamimaru: Pein? Oh emm Pein lagi pundung di pojok kamar mandi saya tuh *nunjuk2 Pein* heheh HidanHina? Yes yes aku sisipkan sedikit HidanHina disitu!, mau apa tah dari Saso? Ambil semuanya! *ngelempar Sasori ke Tenshi* Umh makasih reviewnya!

Last words: makasih ya~ maaf kalau fic ini gak mengena di hati kalian (?) hehehe,

Salam,

Akasuna no NiraDEI Uchiha