Ghastly

.

Gakuen Alice © Tachibana Higuchi

.

March 2012

Chapter 4

Mikan koma.

Natsume masih mengingat kejadian mengerikan itu dengan jelas. Mata Mikan yang terbelalak dan kemudian tubuhnya menghempas ke lantai kayu berderit di rumah Gorg. Entah apa yang dilihatnya sehingga Mikan tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sekarang Ia sedang terduduk di samping ranjang istrinya yang berada di tempat serba putih. Bau alkohol dan obat menyengat penciumannya. Natsume melihat ke arah istrinya yang masih belum pulih, melihat betapa menyedihkan keadaan Mikan dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya.

Dan sore itu, Yuu Tobita langsung panik. Mengingatnya, Natsume tersenyum muram. Ia jelas bersikeras untuk menemani Mikan di rumah sakit daripada menemani Yuu Tobita menyambut tamu dari Inggris itu. Menurutnya, itu semua tidak penting. Di NYC yang besar ini, Mikan tidak mempunyai kerabat kecuali dirinya. Jadi, ia tetap bersikeras. Kalau Tobita tidak memperbolehkannya, dipecatpun Natsume rela. Tapi, Direktur muda itu melunak. Ia memperbolehkan Natsume untuk mengambil cuti selama beberapa hari. Berakhirlah sore itu dengan menemani Mikan di rumah sakit.

"Mr. Hyuuga?" panggil seorang perawat. Natsume segera menoleh.

"Ya?" tanyanya tenang. Tidak perlu Natsume panik terlebih dahulu sebelum dia mengetahui kondisi Mikan yang sebenarnya. Meskipun sebenarnya ketakutan memenuhi hatinya.

"Anda diminta menemui dokter untuk konsultasi masalah istri anda. Juga biaya administrasi." kata perawat berbaju putih itu.

'sore ini lamban.' Batin Natsume. Ia mengangguk kemudian berjalan keluar ruangan rawat Mikan. Natsume berjalan pelan menuju lift, pergi ke lantai satu untuk memenuhi pembayaran Administrasi. Kamar Mikan terletak di lantai lima, tempat kamar-kamar VIP. Uang bukanlah masalah bagi Natsume. Setelah menekan tombol lift menuju ke bawah, Natsume menjejalkan tangannya ke dalam saku celana jins levi's-nya. Berpikir soal beberapa hal tentang dirinya. Dia membutuhkan seseorang untuk menjaga Mikan selagi ia bekerja. Seseorang yang dia percayai, tapi siapa?

Pintu Lift terbuka dan Natsume masuk ke dalamnya. Ia menekan tombol angka satu dan menunggu hingga lift benar-benar telah berada di lantai satu. Tidak sampai lima menit, lift terbuka lagi. Natsume melihat ke arah angka yang tertera di atas pintu lift. Masih lantai empat. Ia melihat ke arah koridor lantai empat yang tampak kosong. Koridor itu terlihat tidak terawat, dengan coret-coretan yang memenuhi dinding-dinding kamar. Natsume menghela napas, ia menekan tombol lift untuk menutup pintunya. Pintu lift bergerak pelan, tapi sedetik kemudian bergerak lagi ke arah berlawanan.

Natsume bukanlah orang yang mempercayai hal-hal semacam angka sial. Seperti lantai empat atau nomor ruangan Mikan, tiga ratus tiga belas. Jadi, ia tidak peduli sama sekali.

'Ada apa ini?' batin Natsume kesal. Pintu lift itu terbuka lagi. Kepala Natsume bergerak keluar, memastikan bahwa memang tidak ada orang di koridor lantai empat ini. Tepat seperti harapannya, tidak ada siapa-siapa di koridor itu. Kepala Natsume bergerak lagi ke dalam dan tangannya menekan tombol tutup. Pintu lift tertutup dan lift mulai bergerak lagi. Natsume menghela napas lega, beberapa menit kemudian ia sampai di lantai satu. Natsume segera keluar dari dalam lift dan berjalan menuju meja administrasi.

Setelah melihat papan-papan yang menggantung di atas langit-langit koridor (mencari petunjuk, maksudku.), akhirnya Natsume sampai ke meja administrasi yang berwarna kuning cerah. Di baliknya, Natsume dapat melihat seorang perempuan berambut biru yang lurus dan kira-kira seusia dengannya dan Mikan.

"Hyuuga-san?" pekik wanita itu kaget.

"Ogasawara? Kau bekerja disini?" tanya Natsume dengan wajah stoic-nya. Natsume mengenali perempuan itu sebagai Nonoko Ogasawara, temannya semasa SMA dulu di Jepang. Memang aneh melihat wanita itu bekerja di rumah sakit Manhattan, sebagai staff administrasi pula. Nonoko dulu dikenal sebagai penggila pelajaran Kimia.

"Iya. Sebagai pekerjaan sampingan, sebenarnya. Rumah sakit ini punya sepupuku. Jadi, aku terkadang diminta membantunya," Natsume mengangguk mengerti mendengar penjelasan Nonoko. Kemudian Nonoko melanjutkan, "Sedang apa Hyuuga-san disini?"

"Mikan koma." Jawab Natsume, merasa benar-benar berat mengatakannya.

"Bagaimana bisa?" tanya Nonoko kaget. Ia tahu tentang Mikan karena ia datang ke pernikahan mereka di Jepang. Lagipula, Mikan dan Nonoko cepat sekali akrab dan menjadi sahabat. Jadi, Nonoko mengenal Mikan dengan sangat baik.

"Ada… suatu kecelakaan menimpanya." Natsume benar-benar tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang bisa membuatnya merasa kalap seperti ini. Jadi, ia berusaha mengalihkan pembicaraan. "Aku disini untuk membayar biaya administrasi."

Nonoko tersentak mendengar perkataan Natsume. Ya, Nonoko jelas bisa melihat sinar kesedihan dari wajah stoic Natsume. Mungkin pria itu tidak mau melanjutkan pembicaraannya tentang Mikan, jadi Nonoko hanya berinisiatif untuk menggerakkan kursinya menuju lemari arsip-arsip. "Baiklah, Mikan-chan dirawat di lantai berapa?"

"Lantai lima." Sahut Natsume.

Nonoko langsung bergumam pelan, bisa dibilang ia kenal dengan Natsume Hyuuga dengan jelas. Natsume dari dulu memang sudah memiliki kekayaan berlimpah, tak heran jika kamar yang dipilihnya adalah kamar VIP. Natsume yang populer di SMA, Natsume yang dingin, Natsume yang selalu menyembunyikan perasaannya sekarang terlihat sedih di depannya. Sebuah pemandangan langka. Tak lama, Nonoko berhasil menemukan data tentang Mikan. Ia menggerakkan kembali kursinya ke meja dan bertatap muka dengan Natsume.

"Maaf, tapi biaya lamanya perawatan masih belum ditentukan. Kau harus menemui dokter terlebih dahulu dan berkonsultasi. Jadi, biaya penanganan dan terapi pertama yang didahulukan." Jelas Nonoko sambil mengetik di komputernya dan mengeprint beberapa lembaran kwitansi.

'Terapi? Memangnya Mikan sakit apa? ' batin Natsume. Ia mengangguk kemudian mengeluarkan dompet kulitnya.

"Ini," Nonoko menyerahkan tiga buah lembaran kwitansi dan sebuah bolpoin. "Tanda tangan disini kemudian silahkan checklist kolom berisi pembayaran. Ada debit, credit, visa dan tunai. Silahkan."

Natsume menanda tangan kemudian menchecklist pembayaran tunai dan menyertakan beberapa lembar dollar.

"Terimakasih. Silahkan temui dokter di ruang sebelas di bagian sayap kanan." Kata Nonoko sambil menyerahkan satu lembar kwitansi dan menunjuk ke arah kanannya. Natsume melipat kwitansi tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jins, kemudian berjalan ke sayap kanan gedung rumah sakit tersebut.

~Ghaslty~

"Ruka?" Natsume merasa menemukan kejutan lain selain tadi di meja administrasi. Setelah ia membuka pintu berplakat emas angka sebelas, kini ia menemukan sahabat dekatnya sewaktu kuliah di Perancis sedang duduk sambil membaca buku Human Anatomy, memakai jas putih bersih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya berada di dalam ruangan itu.

Pria yang dipanggil 'Ruka' itu menolehkan kepalanya, mata sapphirenya terlepas dari buku Human Anatomy dan ketika melihat Natsume, matanya berkilat-kilat senang. "Natsume! Kau tinggal di Manhattan?"

"Kau bekerja disini?" Natsume balas bertanya, bukan menjawab.

Ruka mengalah untuk menjawab terlebih dahulu, "Ya. Setelah menyelesaikan kuliah Magister keduaku. Kau?"

Natsume bergerak ke depan meja Ruka dan duduk di kursi yang memang untuknya, setelah ia lebih rileks, ia baru menjawab,"Aku tinggal disini sudah sejak lama. Sesudah wisuda kita di Perancis, aku diterima kerja di New York Times."

"Oh, begitukah?" Ruka membuka lemari pendingin kecil yang ada di belakang meja kerjanya, "Hebat. Mau kopi? Air mineral? Bir?"

"Air mineral." Jawab Natsume. Meminum Bir bukanlah saat yang tepat untuk sekarang.

"Ah, Natsume… Rasanya baru kemarin kau lulus studi Magister Public Relation dan aku lulus dari studi Magister kedokteran." Mata Ruka tampak berbinar. Ia melemparkan satu botol air mineral dingin dan Natsume menangkapnya. "Salahku tidak mengambil double degree sepertimu."

Mereka bukanlah teman kuliah satu jurusan atau satu fakultas, mereka teman satu kamar. Pada saat itu, Natsume adalah pemegang beasiswa dari Jepang. Orang tuanya ingin Natsume membeli sebuah Flat di Perancis agar lebih nyaman, tapi Natsume lebih memilih tinggal di asrama mahasiswa yang memang haknya. Sementara Ruka Nogi adalah pria blasteran Jepang-Perancis, baru menyelesaikan sarjana di Jepang. Rumah Ruka Nogi memang di Perancis, lebih tepatnya di kota Alberqueque, sementara dia bersekolah di Paris. Tentu jauh sekali bukan? Karena itu dia juga tinggal di asrama mahasiswa. Lagipula, Ruka Nogi juga pemegang beasiswa.

Yang membuat Natsume heran adalah, bagaimana seorang Ruka Nogi, pria dengan bahasa ibu-nya adalah bahasa Perancis bisa begitu lancarnya berbahasa Inggris? Orang Perancis tidak bisa bahasa Inggris dan mereka juga tidak ingin mempelajarinya. Second language-nya Perancis itu bahasa Spanyol, karena itu orang Perancis tidak pernah mempelajari bahasa Inggris.

"Jadi…" Ruka melirik Natsume, menyadari bahwa sahabatnya ini memang bukan merupakan orang yang suka berkomentar. "Ada perlu apa kau kemari?"

"Aku ingin menanyakan kepadamu tentang apa penyakit yang diderita oleh istriku," ucap Natsume.

"Kau sudah punya istri?" mata Ruka membulat. "Siapa namanya?"

"Mikan Hyuuga." Jawab Natsume sambil memutar bola matanya. Bukankah ia juga mengirim kartu undangan penikahan padanya bulan lalu?

"Jadi dia itu istrimu?" Ruka bertanya. Sesaat kemudian, ia tampak berpikir. "Kau memangnya tidak bertemu denganku saat di UGD?"

"Mungkin saat itu kau memakai masker." Kata Natsume cuek.

"Ketahuilah Natsume, kasus istrimu merupakan kasus pasien yang paling aneh yang pernah aku temui." Ujar Ruka sambil membuka laci mejanya dan mengambil berkas-berkas milik Mikan.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Natsume.

"Dia seperti.. kau tahu, mati suri," Kata Ruka serius. "Tapi, kalau mati suri seharusnya dalam waktu beberapa jam dia akan bangun dan detak jantungnya akan berhenti selama jam-jam mati surinya. Tapi yang kudapati adalah, dia pingsan tidak sadarkan diri tapi detak jantungnya masih berjalan. Lebih pantas dikatakan koma, sebenarnya. Tubuhnya panas, naik-turun terus menerus. Selain itu, matanya tidak bisa kubuka. Matanya tetap erat terpejam. Tidak dapat dipastikan dia akan terbangun kapan."

Natsume membeku. Sebenarnya apa yang telah Mikan lihat di rumah istal itu?

"DOKTER NOGI!" seseorang membuka pintu ruangan sebelas itu dengan satu hentakan keras. Ruka dan Natsume langsung melihat ke sana.

"Ada apa?" tanya Ruka pada perawat yang sedang panik itu.

"Pasien… pasien di ruang tiga ratus tiga belas lantai lima… sekarang sedang kejang-kejang!" kata perawat tersebut. Natsume masih ingat, dia adalah perawat yang tadi memintanya ke meja administrasi.

'Ruang tiga ratus tiga belas… Mikan!' batin Natsume sambil berdiri dari kursinya dan melihat ke arah Ruka dengan tatapan cemas.

"Terimakasih, suster." Ruka langsung menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan, lalu berlari menuju lift, diikuti Natsume dibelakangnya.

.

.

Lift bergerak pelan. Natsume tidak dapat menyembunyikan ketakutannya. Ketakutan yang sangat nyata. Raut wajahnya terlihat cemas, segalanya berlangsung dengan cepat tanpa ia sadari. Gambar-gambar tentang kisah hidupnya bersama Mikan tampak bermunculan dalam otaknya. Ia menyesal. Seharusnya ia tidak membiarkan Mikan pergi ke sana meskipun istrinya itu tetap bersikeras. Demi tuhan, ia menyesal. Kini, rasa frustasi merambati setiap jaringan tubuhnya. Ini resiko yang belum pernah ia dapati sebelumnya dan ia tidak pernah menyangka akan mendapatkannya.

Sementara dibelakangnya, Ruka Nogi memandang dengan tatapan nanar. Tidak disangka raut wajah seorang Natsume Hyuuga bisa menjadi sefrustasi ini.

Lift berhenti lagi di lantai tiga, beberapa orang suster tampak keluar dari dalam lift. Mungkin untuk memeriksa pasien. Natsume melihat ke koridor lantai empat, lalu keningnya berkerut samar. Bukankah… bukankah… Koridor ini dipenuhi coretan? Ia melihat dengan seksama. Tidak ada sedikit coretanpun yang melekat di dinding. Dinding koridor itu sangatlah bersih. Kemana semua coretan itu? Dan sejujurnya, Koridor itu terlihat lebih… friendly dibanding tadi. Ada apa ini?

Pintu lift menutup. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Natsume. Bagaimana bisa?

Di saat yang bersamaan, bulu kuduknya merinding.

Pasti karena itu…

Karena Gadis Ibaragi itu…

Suara Ruka menyadarkan lamunan Natsume, "Kau kenapa, Natsume?"

"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja." Jawab Natsume dingin dan Ruka tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dia tahu Natsume sedang banyak pikiran. Lebih baik tidak mengganggunya.

Tak lama, pintu lift terbuka di lantai lima. Natsume segera berlari diikuti Ruka dan para suster. Natsume diberhentikan oleh salah seorang suster ketika ia mau memasuki ruang kamar Mikan.

"Tolong anda tunggu di luar sebentar. Kami akan melakukan penanganan terbaik yang kami bisa." Katanya. Natsume hanya membisu dan duduk di kursi tepat di depan kamar Mikan. Dari kaca (sebelum tirainya ditutup oleh seorang suster) bisa Natsume lihat tubuh Mikan yang kejang-kejang dan matanya yang terbelalak tanpa ada pupil mata disana.

Kata terakhir yang dia dengar dari teriakkan Ruka adalah, "MORFIN! Aku butuh morfin!"

Apa yang terjadi dengan Mikan sesungguhnya?

~Ghastly~

Natsume melaju dengan kecepatan penuh di jalan raya pada sore hari. Ekor matanya menangkap sebuah taman kota yang asri di tengah gedung-gedung kaca pencakar langit. Ia memelankan laju mobilnya, menarik kupling dan memasukkan gigi. Mobilnya berhenti di sisi taman berbentuk bulat itu. Natsume keluar dari dalam mobil sambil menghela napas. Dia melihat ke arah langit sore berwarna oranye, menghirup udara kota New York yang kurang sehat. Setelah merasa paru-parunya terisi penuh, sekadar menambah energi karena energinya sudah terkuras habis-habisan saat di kantor. Belum lagi pikiran tentang Mikan, membuat setiap pagi harinya menjadi lesu. Moodnya hancur lebur ketika sekertaris bosnya menggodanya dan berusaha mengajaknya kencan saat ia baru menginjakkan kakinya di atas lantai marmer kantor. Pendeknya, Natsume sedang memiliki banyak masalah.

Mana mau ia kencan dengan perempuan yang sudah hampir dianggapnya perawan tua itu, sementara istrinya sedang koma di rumah sakit? Lagipula, Koizumi itu seharusnya mencari pasangan sehidup-sematinya sendiri. Bukan mengajak suami orang lain yang sedang banyak pikiran. Perempuan sinting.

Natsume melangkahkan kakinya menuju deretan kursi taman yang berjajar rapi. Ada seorang kakek di ujung deretan kursi yang sedang menikmati sorenya dengan sebotol teh kemasan. Natsume hanya diam, tidak berniat sama sekali untuk menyapa kakek yang sepertinya sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Tiba-tiba, kakek itu berdiri dan menggerakkan tongkatnya. Sang kakek berjalan ke tepi taman dan menyetop sebuah taksi. Tak lama, kakek dan taksi tersebut menjauh dari taman. Hanya tinggal Natsume yang sendirian, berdiam diri di atas kursi taman. Natsume menyandarkan bahunya ke sandaran kursi.

'Sudah satu minggu… ' ucapnya dalam hati. Sudah satu minggu lamanya Mikan berada di rumah sakit. Kesehatannya tidak bertambah baik maupun bertambah buruk. Kondisi Mikan masih sama seperti saat pertama Natsume memasuki rumah sakit tersebut. Tidak sadarkan diri dengan kedua mata yang masih erat terpejam dan sesekali bereaksi aneh.

Setelah cukup menenangkan pikiran di taman, Natsume berencana memeriksa keadaan Mikan dan mengunjungi Ruka. Selama ini, penjagaan Mikan dia percayakan pada teman dan sahabatnya, Nonoko dan Ruka. Dan, Natsume sangat berterimakasih pada mereka berdua.

Natsume… Natsume… Natsume…

Sebuah suara bersahut-sahutan mengerikan menerjang pendengaran Natsume. Dia melihat ke arah kiri dan ke kanannya, tapi dia tidak melihat siapapun. Dia hanya sendiri di taman kota itu.

Hyuuga… Hyuuga… Hyuuga…

Suara itu terdengar lagi. Natsume langsung melihat ke tengah taman, mendapati sebuah ayunan bergerak-gerak pelan. 'Tidak ada angin,' batinnya.

Ngiiiik…

Ngiiiik…

Ngiiiik…

Ayunan itu bergerak semakin kencang dan suara gesekan besi karatan itu benar-benar mengganggu pendengaran Natsume. Rasa kesal dan takut menjalari hati Natsume. Bulu kuduknya merinding melihat ayunan yang bergerak semakin kencang, seperti sedang dinaiki oleh seseorang. Tangannya mencengkram erat syal berwarna abu yang dikenakannya. Angin tidak menentu bulan April menggerakkan beberapa helai rambut ravennya.

"APA YANG KAU INGINKAN?" teriak Natsume. Ini pasti ulah gadis Ibaragi itu yang berniat mengganggunya. Tiba-tiba angin berhembus kencang, sekumpulan dedaunan laurel berwarna cokelat berputar-putar di depan wajah Natsume dan anehnya membentuk sebuah huruf. Natsume terdiam, terlalu kaget untuk bereaksi.

H…

Dedaunan itu bergerumul, membentuk huruf pertama. Beberapa daun terpisah dari kumpulan itu dan membentuk huruf lainnya. Kedua alis Natsume saling bertaut.

E…

L…

P…

HELP. Tolong. Apa maksudnya? Sebelum Natsume sempat memikirkan apa arti dari kata-kata itu, dedaunan laurel itu jatuh ke tanah. Ayunan itu berhenti bergerak. Suara itu berhenti berucap. Natsume membeku sesaat, pikirannya benar-benar bingung dengan teka-teki yang aneh ini.

~Ghastly~

To Be Continued

Apa aku menyebalkan?

Kalau ya, Aku sangat-sangat senang. ^^ Kenapa? Karena aku telah berhasil dengan sukses membuat minna-san semua menjadi penasaran…

Disini ada sedikit info tentang Perancis, semoga kalian menyukainya. Di chapter selanjutnya, akan kutambah lagi dengan beberapa patah bahasa Perancis. Well, aku harus berterimakasih banyak untuk temanku yang baik hati yang mau memberitahuku tentang Perancis.

Nama temanku itu Emilie Erawan, readers. Dia merupakan seorang gadis blasteran Indonesia-Perancis. Dia baik, anggun dan sangat cantik. Matanya beriris cokelat muda, rambutnya berwarna hazel berkilau, alisnya tebal dan wajahnya mirip seperti perempuan-perempuan Arab. Sepetinya, nenek dan ibunya yang orang Perancis asli memiliki darah timur tengah juga. Ayahnya asli orang Indonesia dan ibunya asli orang Perancis, karena perpaduan tersebut Emilie tidak memiliki kulit putih berbintik seperti ibunya. Warna kulit Emilie itu putih bersih seperti susu. Dia punya produk Home made French Yoghurt bernama Odisei. Letak pabriknya persis di basement rumahnya. Ibunya adalah seorang wanita Perancis yang amat sangat baik hati bernama Valerie. (Emilie itu dibaca 'Emili' biasa. Bukan seperti bunyi nama Emily.)

Setidaknya, itulah yang bisa kuceritakan tentang temanku. ^^

Baiklah, balasan review:

Thi3x: Aku sangat-sangat berterimakasih banyak padamu, untuk konkrit dan peranmu sebagai pereview pertama di chapter lalu. Saranmu benar-benar telah membantuku. Soal flashback, aku pikir karena memang plot ceritanya tidak benar-benar menyediakan kolom untuk flasback, jadi tidak aku italic semua. Lagipula, aku juga pernah membaca beberapa Novel yang tidak semua katanya dijadikan italic semua ketika menjelaskan flashback. Tapi, terimakasih banyak karena sudah benar-benar peduli akan hal itu. ^^

Oh... seharusnya 'mempersilakan' ya? Baiklah-baiklah...

Chapter tiga sudah aku perbaiki dengan sebaik-baiknya. :D

Wawancara yang lebih dieksplor? Oke, lain kali akan aku eksplor. (Di chapter ini gimana?)

Iya, ya, kesannya romantis sekali. Mungkin karena aku adalah penulis yang romantis? hahaha lupakan saja... hanya candaan kok! :D dan, terimakasih untuk pujiannya!

Kalau chapter lalu belum kerasa, bagaimana dengan chapter yang ini? Semoga tidak mengecewakan ya!

Keep review Oke? ;)

Kuroichibineko: Wah, benarkah? Bagaimana dengan chapter ini? Lebih horror tidak? Makasih karena kamu bilang chapter kemarin itu keren. (Padahal aku merasa alurnya terlalu cepat ) Maaf di chapter ini tidak ada adegan romantis... Plot di kepalaku sudah begini... :)

Ah, aku mau bertanya padamu, apakah aku terlalu terburu-buru dalam menjelaskan permasalahannya?

Keep Review ya! :D

NatsumeConan: Makasih banyak! XD Yah, dari summary-nya orang pasti akan mengira bahwa ini cerita yang serius, bukan? kebanyakan orang memang lebih suka cerita yang ringan. Entah itu cerita romantis SMA ataupun cerita berunsur Humor. Aku tidak merasa aneh saat kau bilang begitu. :)

Sama! Mereka juga pair favoritku. Setiap kali membaca komik Gakuen Alice, pasti aku tidak pernah luput dengan teriakan histeris. Kenapa? Karena adegan Natsume-Mikannya benar-benar romantis sampai aku merasa kakiku berubah menjadi gumpalan jelly.

Ini update-an paling cepatku lho... *Bangga*

E-eh? Soal itu... entahlah... Aku selalu berpikir bahwa MLS itu terlalu garing.

Baiklah, stay tune ya!

Razux: Tidak apa-apa, Raz. Kau sudah banyak menjelaskannya padaku di PM. ^^ Yang penting, kau suka dengan fiksiku dan bersedia membacanya. :D

Setuju! Fiksi misterius itu adalah berkah. Hahaha... XD

Pelakunya? Kita sama-sama tahu bahwa Nobara merupakan gadis manis yang selalu menurut kepada siapapun. ^^ Kau bisa menebaknya.

Hahaha... terkadang aku juga suka speechless. ^^

Keep review ya! ;)


Well, terimakasih banyak untuk orang yang selalu menyemangatiku selama ini. Ada beberapa orang dari mereka tidak sempat mereview fiksi ini dan aku memaafkan mereka dengan tulus. Mereka mempunyai kesibukan yang sangat gawat dan aku do'akan mereka semua agar sukses selalu. :)

Daiyaki Aoi^^