:' turut berduka cita atas diri gue. Karena cerita dan ide briliant yang sempat singgah dan kutuangkan di fic ini terhapus. Padahal udah ke publish, dg hampir 5rb words. Itu pas ke publish gue liat cuma setengah doang:'v trs pas pengen edit gue salah pencet dan tangan gue kepleset dan...

Dan beberapa cerita sedikit diedit dan terpisah, kemunkinan akan sedikit kata yang berbeda di wattpad dan di ff tp inti tetap sama kok

Oke cukup. Back to The story!

Terimakasih sudah yg mau baca fic abal ini dan kalian yg review double kiss muah2 :*

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

Apa yang kalian lakukan jika kalian menyukai seseorang? Mengungkapkannya? Atau.. Malah memendamnya?

Persoalan itu mungkin sudah menjadi hal yang sering didengar ditelinga kita, bagaimana kita menyikapi ataupun mengatasi perasaan yang kita miliki terhadap lawan jenis.

Namun itu bukanlah persoalan yang mudah untuk diatasi, sebab menyangkut soal perasaan.

Salah sedikit saja kita mengambil suatu keputusan, hati lah yang jadi korbannya.

Bagi Gintoki masalah yang menyangkut tentang asmara memang sulit untuk dipecahkan, tidak semudah ia mengayunkan pedang ke arah amanto-amanto di muka bumi ini. Bahkan, jika disuruh memilih perang atau berurusan dengan hal yang berbau romantisme, Gintoki lebih baik memilih yang pertama.

Kenapa tokoh disini terkesan sangat OOC dari aslinya dan mengapa cerita ini menjadi sangat OOT?

Oh ayolah, ini Gintama. Animenya saja sering melenceng apa lagi fiksinya?

Disclamer : Sorachi Hideaki

Gintoki x Tsukuyo

WARNING : TYPO, OOC, DAN SEGALA MACAM KEKURANGAN LAINNYA.

GA SUKA? YA JANGAN BACA

.

.

.

.

Tidak ada yang tahu hati seseorang, kecuali pemiliknya dan sang pencipta tentunya. Begitu pula Gintoki saat ini, tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Gintoki.

Gintoki pernah bersabda " membuatmu menjadi wanita lagi dan memperlakukanmu sebagai wanita." Teruntuk Tsukuyo.

Benar saja, ia mampu merubah Tsukuyo menjadi agak err.. feminim? Seperti layaknya wanita lainnya, heem wanita. Wanita yang jatuh cinta kepadamu eh Gin?

Gak papa yang penting kokoro mas Gin tertjintah senang, jadi bisa anu beneran.

Tapi kadang Gintoki merasa resah, apakah Tsukuyo merasa dipermainkan olehnya? Merasa digantungkah?

Jelas itu mas! Jelas.

Saat ini yang dibutuhkan Tsukuyo adalah KEPASTIAN. Dimana semua perbuatan sebuah status sebuah permasalahan itu jelas dan PASTI seperti apa.

"Kita itu sebenarnya apa Gin?"

.

.

.

Hujan.

Awan Kabukichou yang cerah kini mulai hilang dan tergantikan dengan awan kelabu. Suasana yang riang berganti suram, membuat suasana hati mendadak down melow.

Jadi inget mantan.

Sepertinya alam tahu jones-jones Kabukichou sedang bersedih makanya diberilah hujan ini. Air yang turun kebumi terasa seperti butiran-butiran kenangan para jones dan mantannya ketika bersama dulu.

Fak.

"Shinpachi Gin-chan kemana aru ka?" Tanya Kagura kepada seorang kacamata.

("Eh apa maksud lu sama seorang kacamata?")

"Shinpachi Gin-chan kemana hari ini hujan aru ne, kok belum pulang."

Rupanya Kagura khawatir dengan bos sablengnya itu. Yah walaupun begitu Kagura tetap menyayangi seperti ayahnya sendiri kan.

"Aku tidak tahu Kagura-chan. Terakhir dia bilang ingin beli susu. Tapi sampai sekarang belum juga pulang, aku akan menjemputnya kalau begitu."

"He? Ikut aru!"

Mereka berdua pun memutuskan untuk menjemput Gintoki, yang entah sejak tadi tidak pulang. Masa iya sih kamu gak pulang Gin? Apa kamu mau jadi titisan bang toyib?

Kagura dan Shinpachi pun menuju Oedo Market tempat dimana mereka sering berbelanja. Hujan yang turun lumayan deras, membuat mereka sedikit mengigil karena udara yang menjadi lebih dingin.

"Hujannya deras aru"

Tidak menanggapi perkataan Kagura, mereka berjalan diantara hujan dan lalu lalu lalang warga Kabukichou. Lagi pula apa sih yang dilakukan Gintoki? Kenapa membeli susu lama sekali, apakah dia hilang ditelan kloset karna babnya terlalu lama? Atau ia menemukan sebuah pintu kemana saja? Namun saat sedang berpikir yang macam-macam matanya menangkap sesosok bujang lapuk yang mereka cari.

"Gin-san!" Teriak Shinpachi, segera ia berlari menghampiri Gintoki yang sudah basah kuyup. Begitu pula Kagura langsung menyusulnya. Shinpachi memandang heran ke arah gintoki, kenapa? Ada apa dengan bosnya ini? Wajahnya seperti kosong. Namun Shinpachi mengenyahkan pikiran itu, ia pun memayungi Gin. Walau sesungguhnya Shinpachi ini sangat kesal, apa lagi mengingat kejadian tadi.

.

.

Flashback

"Oii Shinpachi susu gua kok abis?"

"Kan lu yang minun tenen pama geblek."

"SIAPA YANG MINUM ICHIGO GYUUNYUU GUAAH? GUA SUMPAHIN RAMBUTNYA KRITING."

"SATU-SATUNYA YANG MINUM SUSU DISINI ITU KAN ELU KRITING SIALAN."

Shinpachi mengatur napasnya, berdebat dengan bos gebleknya memang mengeluarkan tenaga yang banyak. Tidak tahu kah ia bahwa dirinya saat ini sedang repot bekerja? Mencuci, mengepel, masak untuk dua rekan yang tidak tahu dirinya itu. Terkadang Shinpachi ini seperti ibu bagi mereka. Lihatlah kelakuan bos sablengnya itu meributkan hal spele, susu yang padahal ia habiskan sendiri tapi menyalahkan orang lain.

"Yasudah kalau tidak ada yang mengaku, Gin-san akan marah loh." Ujar Gin-chan dengan tampang yang menurut Shinpachi menyebalkan.

"DIBILANG YANG DOYAN SUSU KAN LU DOANG." Teriak Shinpachi kesal. Kenapa sih dia bisa-bisanya betah berteman dengan bujang lapuk ini?

"Oh jadi kamu gak suka susu Shinpachi-kun?"

"Susu Otsu-chan si aku suka Gin-san."

"GEBLEG LU PADA."K agura yang mendengarnya di kamar pun sampai berteriak dan memukul kepala Gintoki dan shinpachi.

"Ah sudahlah, lebih baik Gin-san pergi beli susu dulu."

"SONO LU."

Flashback end

Shinpachi mengingat kejadian dirinya berdebat dengan Gintoki hanya karna meributkan susu stroberi sialan milik bos gevleknya malah membuat dirinya gondok. Tapi ya sudahlah yang lalu biar lah berlalu.

"Gin-chan kenapa hujan-hujanan gini sih, bikin penyakit aja aru ne. Udah bujang lapuk juga, kalo sakit jangan lupa minum panadol aru."

Gintoki hanya melirik dengan mata ikan matinya. Memandang wajah Kagura dengan tatapan yang tidak dimengerti.

Shinpachi yang jelas melihat keanehan langsung menyudahi percakapannya, "Ah sudahlah, yuk pulang Gin-san nanti kau demam."

Mereka pun pulang dengan memayungi Gintoki, mungkin akan ada banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Gintoki soal hujan2annya itu.

.

.

.

Mereka pun kembali ke rumah, Shinpachi menyuruh Gintoki membasuh tubuhnya dengan air hangat dan segera mengganti dengan baju. Ia menyerngit merasakann sakit pada tubuh belakangnya namun ia seperti menutupi hal itu

"Makan dulu ya Gin-san." Ujar Shinpachi, tapi yang diajak bicara hanya diam saja.

"Nih kayanya Gin-chan palanya kepentok deh Shinpachi." Celetuk Kagura.

"Gin-san ngapain hujan-hujanan tadi?" Tanya Shinpachi

Yang ditanya hanya melirik sekilas, kemudian duduk disamping Kagura.

"Gue kangen mantan patsuan."

Kagura dan Shinpachi memandang horor ke arah gintoki.

"Sejak kapan lu punya mantan njir?" Shinpachi sewot dengan jawaban Gintoki.

"Sorry ya, Gin-san ini gak kaya lu megane apes, udah jones hobinya ngidol lagi. Gini-gini gua pernah pacaran kok." Jelas Gintoki sambi memasang wajah sombong miliknya

Shinpachi kesal ia tidak mau kalah dengan bos kampretnya itu. Selalu saja menyulut api.

"Eh kriting sialan. Sekali lagi lu ngatain gua. Kaga gua kasih nasi."

"BACOT LU BEDUA. UDAH DEH JONES MAH JONES AJA GAUSAH NGAKU-NGAKU."

Kagura emosi dan menunjuk-nunjuk kedua laki-laki ngeselin itu.

"Nih buat kalian para jones! Jadi lah jones yang bermanfaat. Jangan kaya Shinpachi aru! Ngidol gajelas!"

"JANGAN HINA HOBI GUA LU CINA GEBLEK."

"Gapap fans Gin-san ini tetep banyak. HAUHAHAHAH."

"GAUSA PEDE LU ARU. DASAR BUJANG LAPUK KRITING BEGOOO."

"NGAPA LU. KECIL-KECIL KOK KAYAK BADAK MAKANNYA. PANTES GADA YANG MAU AMA LU, DAYA TARIK LU AJA 0!"

"GUA ITU LOLI DI GINTAMA ASAL LU TAU GIN-CHAN."

"HAHA. IYA LOLI. TEPOS."

Ya begitu lah permirsa, akhirnya mereka pun gebuk-gebukan. Shinpachi yang sudah tidak peduli melanjutkan makanannya."Ah. Geblek lu semua."

Shinpachi menghajar kedua orang gevlek itu

BAB BUK.

.

.

.

.

Hingga malam tiba pun hujan masih setia mengguyur Kabukichou, udara yang dingin serta hujan lebat dan angin kencang membuat orang-orang enggan keluar rumah.

Futon, guling, bantal dan selimut. Bukankah lebih nyaman?

Ah mungkin ga berlaku pada orang-orang gabut. Gintoki mengganti pakaiannya menggunalan baju tidur biru miliknya, namun ketika hendak menggerakan tangannya ke atas ia merasa nyeri yang sangat hebat. Ia menahan sakitnya, supaya orang dirumahnya tidak curiga, kemudian ia memnaggil Shinpachi lalu memberikan amplop berisi uang untuk bayar sewa. Gintoki keluar dari kamarnya lalu menghampiri Shinpachi, "Patsuan ini uang sewa tolong berikan ke baba."

Tumben sekali menyuruh ku pikir Shinpachi.

"Haik Gin-san." Ia pun memandang Gintoki merada ada yang aneh namun ditutupi. Gintoki yang sadar hal itu pun segera berlalu ke dalam kamarnya, "aku tidur duluan Patsuan jangan ganggu."

Shinpachi pun hanya menatap heran bos sablengnya, "Aneh."

Ia pun keluar untuk memberi uang sewa ini, "Kagura, aku ke Otose-san sebentar. Ganti baju mu, dam matikan tvnya sudah malam."

"Baik aru."

.

.

.

"Otose-san itu penghuni atas belom bayar uang sewa."

"Hhhha.. biarkan saja Chatarine, biar Tama yang mengurus."

"Haik, ryokai Otose-sama"

"Nah, ingin minum apa Tsukuyo-san?"

.

.

.

.

Tbc.

DIH HAHAH APAAN NIH WQWQ, SEKALI UPDATE MALAH KAYA GINI. SEMOGA GA KECEWA YA.

itu juga kalo ada yg baca :"v

Btw baca knb ff ue dung hahaha yg gevlek itu. :v