Hi, everyone!

Anne datang lagi, nih! Ayoooo merapat! Anne sudah siapkan chapter 4nya. Beberapa yang review minta cerita ini panjanggggg, aaaa... rencananya memang panjang, tapi Anne mikir enaknya standart aja, ya. Sepuluh atau lebih sedikit begitu. Udah panjang kok, ya. Oke, thanks juga yang sudah mendoakan Anne! Yang nungguin, yuk di baca! Thanks buat yang review di chapter sebelumnya:

syarazeina, ninismsaftri, alicia keynes, AMAZING, ayusyafitri132, Dande Liona, Mrs. X. Anne sayang kalian semua, always!

Langsung saja!

Happy reading!


Harry menggeliat di balik selimutnya. Langit-langit kamar menyapanya lebih dulu walaupun sedikit mengabur. "Kacamata—" gumamnya pada sebuah alat yang harus ia gunakan. Tangannya meraih alat bantu penglihatan itu cepat-cepat dari atas meja. Harry memilih bangkit dari posisi berbaring menjadi duduk. Sofa yang kini menjadi tempatnya beristirahat semakin terasa nyaman di punggung Harry. Dua malam sudah sofa putih panjang itu ia gunakan tidur, dan pagi ini Harry serasa tak ingin bangun karena telah menemukan kenyamanan.

Namun, pagi Harry seolah menakutkan ketika ia tersadar jika Ginny tak ada di atas ranjang. Panik, Harry bergegas bangun dan mencari keberadaan Ginny di sekitar kamarnya. Kamar mandi yang termasuk di dalam kamarnya pun tampak kosong. "Apa mungkin di kamar Lily?" tebaknya. Pasalnya, semalaman Harry tak terbangun sama sekali karena tangisan putri kecilnya yang biasa terbangun kelaparan di tengah malam.

"Apa dia masih menyusui Lily?"

Harry sampai di depan kamar Lily. Ia berharap jika memang Ginny berada di dalam sana bersama Lily. "Gin—"

Panggilan Harry terputus ketika dilihatnya Ginny, sedang berdiri di depan ranjang bayi Lily yang terbuka bagian sisinya. Kedua lengan piamanya tergulung hingga siku. Rambutnya diikat ke atas hingga mampu menunjukkan sisi wajahnya yang sedang tersenyum.

"Eh, ketawa.. tinggal sisi satunya, sayang," Ginny bergumam seperti sedang mengajak berbicara Lily. Bayi yang kini tampak lebih segar itu tersenyum mendapat candaan sang ibu.

"Aku tak bermimpi, kan?" batin Harry tak percaya.

Ginny baru saja selesai memasang popok Lily. Ia menurunkan lagi baju kuning yang dikenakan Lily sampai menutupi perut anak itu. ketika Ginny hendak mengambil bedak, ia melihat Harry yang telah berdiri sisi pintu sambil mengamatinya mengurus Lily. "Harry," panggil Ginny syok.

"Ka-kau sudah ba-bangun? Sorry aku berniat membangunkanmu setelah mengecek Lily." kata Ginny coba menjelaskan perkara dirinya yang masih sibuk mengurus Lily. Harry mendekatinya. "Ternyata Lily pup, sekalian saja aku mandikan." Lanjutnya.

Harry tersenyum senang ketika ia melihat Lily tampak senang di atas ranjang bayinya. Baju berwarna kuning yang dikenakan Lily pagi ini sangat pas dengan legging hitam selutut dengan motif bunga daisy. "Princessnya Daddy sudah mandi, ya? Wangi!" goda Harry sambil menciumi pipi Lily. Bayi cilik itu terkikik geli.

"Sudah, Daddy. Tinggal pakai bedak. Sekarang Daddy yang harus mandi, ya! Nanti Lily bau lagi." Jawab Ginny sambil ikut mentowel hidung mancung putrinya.

"Kau mandi saja, setelah itu sarapan di bawah. Biar aku bangunkan James dan Al. Ah, kau mau sarapan apa? Kemarin sudah pancake, jadi pagi ini aku akan siapkan roti panggang. Ah, kau mau pakai telur, daging asap, sosis, atau bacon?"

Harry lagi-lagi tidak dapat berkata apa-apa melihat perubahan drastis pada Ginny. Ia bahkan ditawari sarapan yang memang biasa ia makan sebelum berangkat kerja. Roti panggang. "Em, telur dan sosis saja." jawab Harry senang.

"Baiklah, sudah sekarang kau mandi, ya. Kalau sudah segera ke ruang makan."

Harry belum mau bergerak. Ginny kembali memperhatikannya setelah memberi bedak pada Lily. "Ayo, nanti kau terlambat, Harry," pinta Ginny bersemangat.

Harry bergegas keluar dan menuju kamarnya kembali. Ia lega, paling tidak Ginny mulai ada perubahan. Patutlah Harry berbahagia mngetahui semuanya. Hanya saja, baginya ini terlalu cepat. "Ada apa ini? apa mungkin Mum yang meminta Ginny seperti ini? seharian kemarin Ginny hanya bersama dengan Mum saja dan anak-anak." Batin Harry penuh tanya.

"Ya, setidaknya, aku sudah tenang meninggalkannya sendiri di rumah dengan anak-anak. Mungkin aku harus mulai mengatur jadwal untuk mengajaknya cek ke St. Mungo." Ujar Harry lebih tenang.


Keluar dari kamar, Harry dikejutkan dengan suara Lily yang berteriak kegirangan. Tidak biasanya bayi empat bulan itu bisa tertawa selepas itu. Tidak hanya Lily, suara tawa lain yang tertangkap di telinga Harry adalah suara James dan Al.

"Serunya! Lagi main apa, kids? Daddy ikut, dong!" tanya Harry sambil memperbaiki krah kemejanya. Kedua anak lelakinya menengok bersamaan dari arah kursi santai dekat meja counter dapur. Lily didudukkan nyaman pada sebuah kursi bayi kecil dengan penutup kecil di sana. Lily sedang menjadi objek mainan kedua putra Potter itu.

Harry memperhatikan Lily ada yang berbeda dengan penampilannya. Ada topi rajutan yang terpasang di kepala bayi kecil itu. "Lily kegelian kalau hidungya kena bulu-bulu ini, Daddy." Kata James menutupkan lagi ujung topi yang menjuntai pada hidung Lily. Benang-benang yang disusun menjadi bola di dekatkan James pada lubang hidung Lily. Karena geli, Lily yang ikut senang diajak bermain kedua kakaknya mengusap-usap hidung kecilnya lucu sambil terbahak kecil-kecil.

"Eh, jangan begitu, James. Kasihan Lily, hidungnya gatal begitu," kata Harry melarang.

"Biar, Daddy. Look! Lily suka." Jawab Al. Ia ikut-ikutan mengelitik dengan benang bola lainnya, namun tidak di hidung, tapi di pipi. Harry ikut senang melihat ketiga anaknya yang akrab satu sama lain. Dua putranya begitu menyayangi adik perempuan mereka. Hidup Harry semakin terasa lengkap.

Harry ikut tertawa ketika tiba-tiba Lily bersin akibat gelitikan James di hidungnya. Takut James semakin suka menggoda adiknya, Harry cepat-cepat menyudahi permainan menggelitik hidung itu dengan mengambil alih Lily dari kursi bayinya. "Sudah-sudah, kasihan Lily. Kalian sudah mandi belum?" tanya Harry sambil satu tangannya mengusap rambut Al sementara tangan kanannya menggendong tubuh Lily.

"Sudah! Mummy tadi mandikan aku dan Al, Daddy. Seru, ya, Al." Jawab James.

"Kita mandi berdua. Rambut Mummy sampai basah karena James menciprat-ciprat airnya." Al tertawa.

Harry sempat membersihkan bekas benang yang tertinggal di bagian pipi Lily. Kepala Lily sempat terangkat-angkat karena tak mau di posisikan terbaring. Dengan lembut, tangan kanan Harry menahan pergerakan kepala Lily agar tetap bersandar di lengannya. "Kepalamu jangan diangkat-angkat dulu, ya, sayang. Nanti kalau sudah agak besar! Nanti lehermu sakit." Ujar Harry pada Lily penuh kelembutan.

"Pantas, sudah ganteng-ganteng. Tapi James, Daddy kemarin bilang apa? Jangan nakal-nakal—"

"James tak nakal, kok, Daddy. Bukan begitu, James. Hanya mengajak bermain air." Ginny, melirik ke arah Harry dari arah dapur. Ia mengenakan apron biru yang biasa digunakannya memasak.

Ginny menletakkan dua piring besar roti panggang serta protein seperti telur dan sosis goreng. Sarapan permintaan Harry. "Ayo, sarapan. Sudah hampir siang, loh!" panggil Ginny pada Harry dan kedua putranya.

"Daddy," James menarik pinggiran celana Harry, "aku mau gendong Lily!" pintanya.

"Lily berat, James. Kau nanti tak kuat. Berat badan Lily sudah naik dibandingkan dulu waktu dia baru lahir." Kata Harry memberi pengertian.

James menggembungkan pipinya cepat. "Tapi Daddy bisa menggendong Lily dengan satu tangan. Berarti ringan." Protesnya tak percaya.

Harry tertawa mendengar jawaban lugu James. Al ikut mengangguk membenarkan. "Begini, son. Ringan yang Daddy rasakan berbeda dengan ringan yang kau rasakan, begitu juga Al, ataupun Mummy." Katanya. Setelah menenangkan Lily sejenak, Harry mengembalikan Lily ke kursi khususnya.

"So," Harry tiba-tiba merundukkan badannya lebih dekat dengan James dan Al, "bahkan untuk mengendong kalian berdua, masing-masing satu tangan, Daddy bisa!"

James dan Al memekik keras ketika Harry dengan cepat menggendong keduanya sekaligus. James di tangan kanan sedangkan Al di tangan kiri. Kedua anak itu kegirangan sepanjang jalan menuju ruang makan. Ginny, yang telah menunggu mereka semua di ruang makan tertarik untuk ikut tertawa.

"Mereka memang luar biasa. Aku sungguh beruntung!" batin Ginny bersyukur.

Menghabiskan kurang lebih setengah jam sampai James dan Al kembali sibuk dengan mainannya, sarapan pagi Harry akhirnya kembali hangat seperti saat sebelum Ginny kehilangan memorinya. "Aku senang sekali, Ginny, terima kasih." Kata Harry di depan lubang perapian. Ia kembali melambaikan tangannya ke arah Al yang masih semangat mengantarkan ayahnya berangkat kerja.

"Sama-sama, setidaknya aku sudah mencoba. Em.. ba-bagaimana? Apa ada yang lupa untuk aku kerjakan pagi ini?"

Ginny memang belum mengingat apapun, tapi sikapnya pagi ini membuat Harry merasa Ginny yang lama telah kembali. Ginny istrinya. "Ah.. tidak, semuanya sudah baik kau kerjakan semuanya. Kau hebat, Ginny," ujar Harry memberi apresiasi tinggi.

"Ah, kau bohong lagi. Kau melupakan sesuatu, kan?" Ginny menyerahkan tas dan seragam Auror Harry. Mereka saling tatap, Ginny berusaha mengingatkan Harry tentang hal lain yang teryata ia lupakan.

Harry menyerah, ia menggeleng. Lupa.

"Hati-hati, ya!" bisik Ginny pelan lantas mengecup lembut bibir Harry.

Tidak lama memang, namun lebih hangat daripada yang biasa mereka lakukan. "Aaag—aa iya," jawab Harry terbata. Ia lupa jika ciuman seperti itu sudah lama ia inginkan datang dari Ginny.

"Hubungi Mum kalau kau membutuhkannya, Mum pasti mengerti." Harry mengucapkan pesan terakhirnya sebelum menghilang.

"Pasti, sku akan berusaha yang terbaik untukmu," jawab Ginny. Ia melambaikan tangan tepat saat Harry tersenyum dibalik api hijau yang menjilat seluruh badannya.

Ginny tersenyum malu. Bibirnya basah. "Thanks, Harry."

- TBC -


#

Paling enggak, Harry juga butuh bahagia di chapter ini. Hehehe.. bagaimana kawan-kawan, agak pendek, ya! Soalnya takut kalau Anne terusin jadi kepanjangan. Jadi, tunggu chapter 5nya, ya! Apa update besok? Lihat saja! Maaf kalau masih ada typo! Anne tunggu reviewnya! Thanks, ya! Anne sayang kalian semua! :)

Thanks,

Anne xoxox