Halohaa minna~
Itsu kembali lagi membawa chapter baru ^^ *Bruk *Praang *Gedubraak
Huweee gomen ne~ minna~ jangan hajar Itsu T_T
Kan Itsu udah nge-update lagi, jadi jangan marah ya minna~ ^^
Mudah2an chapter yang ini tidak membosankan seperti kemarin XD
Soalnya Itsu begadang nulisnya ini lho minna~
Ntah kenapa Itsu mood dan ide nya nongol pasti selalu tengah malam
Padahal kan Itsu paling benci yang namanya kurang tidur T_T
Karena Itsu merasa punya utang dengan minna~ makanya Itsu memutuskan segera update dan maaf yak soal keleletan nya :v
Ya, maklumlah. Orang sok sibuk gini emang #plak
Kalau di bilang aneh, ya Itsu orangnya aneh lho :3
Soalnya kalau di suruh pilih 'makan' atau 'tidur', pasti Itsu pilih tidur /
Ntah kenapa yak menurut Itsu tidur itu lebih menyenangkan ketimbang makan haha #plak
Soalnya Itsu berpikir begini, tidur bisa menghilangkan rasa lapar tapi makan tak bisa menghilangkan rasa ingin tidur alias ngantuk hehehe
Itu hanya pemikiran Itsu aja minna~ gak usah terlalu di gubris
Setiap orang kan kriteria nya berbeda-beda ^_^
Yosh ! Abaikan saja curcol-an gaje dari author yang gaje ini pula :3
Disclaimer : MK (Mikirin Kamu... *dicekek Masashi Kishimoto)
Genre : Romance, Drama (maybe)
Rate : T (cari aman)
Pairing : SasuNaru (paling UTAMA), Slight SaiNaru, ItaDei and Others
Warnings : Yaoi, BL, AU, gaje, abal, Typo(s), kata-kata yang aduhai amburadulnya, OOC, PervertSasuXCuteNaru de el el :v
Okeh2 langsung saja
Happy Reading minna~
Don't like don't read
"Naruto." = Flashback
'Naruto.' = Inner
"Naruto." = Via telepon
.
.
.
.
.
Awalan seperti biasa dipagi hari semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Baik itu berangkat ke sekolah, pergi berbelanja, atau pun ke kantor seperti yang di lakukan pemuda blonde saat ini yang sedang sibuk mengurusi pekerjaan nya sebagai sekretaris. Ia terlihat serius meneliti tiap berkas-berkas yang ada dimejanya. Wajah serius nya itu justru malah semakin manis bagi siapapun yang melihatnya.
Ceklek
Blam
Naruto mendongakkan kepalanya memandang atasannya yang barus saja keluar dari ruangannya.
"Aku ada keperluan sebentar." Ucap Sasuke yang dibalas dengan anggukan dari Naruto.
Naruto hendak mengerjakan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda namun belum sempat ia melakukannya tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat dibibirnya. Di ibaratkan layaknya suami yang pamit sama istri ketika hendak pergi bekerja atau kemanapun.
"Aku pergi dulu." Pamit Sasuke tanpa peduli dengan wajah Naruto yang memerah seperti buah kesukaannya, tomat. Sedang tak ada hubungan apa-apa saja Sasuke sudah seperti itu apalagi nanti kalau mereka benar-benar sudah menikah. Itu pun kalau mereka jodoh.
Setelah Sasuke pergi, Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya yang kali ini disertai gerutuan karena Sasuke tadi berani mencuri ciuman darinya. "Hentai desu." Umpatnya.
Omong-omong soal ciuman tiba-tiba Naruto teringat akan kejadian semalam atau lebih tepatnya teringat dengan perkataan Sasuke sesaat ia nge-rem mendadak hingga membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Mulai detik ini, aku akan memulai lembaran hidupku yang baru dan mencapai masa depanku…" Sasuke menempelkan kening mereka berdua. "…bersamamu."
"Apa maksud dari perkataan Sasuke waktu itu ya ?" Gumam Naruto. Ia berpose dengan menempelkan ujung atas pulpen ke dagunya dan tak lupa bibir yang mengerucut. Ciri khas bibir saat ia sedang berpikir.
Perkataan Sasuke saat itu begitu ambigu. Sasuke berkata seolah-olah bahwa mereka mempunyai hubungan. Bagaimana mempunyai hubungan ? Jumpa saja baru sehari. Itu pun dikarenakan tuntutan pekerjaan yang bahwasaannya Sasuke itu atasan dan dirinya sekretaris. Hanya sekedar itu saja hubungan mereka, tak lebih. Tapi mengapa Sasuke bertingkah seperti mereka sudah kenal lama. Sepulang dari pertemuan tadi malam pun Naruto tak berhenti berpikir. Kata-kata Sasuke terus terngiang di benaknya.
Bukan Naruto ge-er atau semacamnya, ia hanya bingung. Perkataan Sasuke benar-benar ambigu. Perkataan Sasuke seperti pernyataan cinta tapi bukan pernyataan cinta. Ah pusing. Pokoknya rumit sekali. Naruto bingung ingin menjabarkannya seperti apa. Kalau pun ia pernyataan cinta secara tak langsung pun, Naruto tak berharap. Ia tak berharap mempunyai hubungan lebih dari sekedar atasan-sekretaris dengan Sasuke karena menurutnya itu terlalu cepat. Biarlah waktu terus bergulir karena seiringnya berjalannya waktu, cinta itu pasti akan perlahan-lahan tumbuh. Tak perlu terburu-buru. Yah, itulah prinsip Naruto dalam cinta. ^_^
Nyuut
"Lagi mikir jorok ya ?" Suara baritone yang begitu di kenal terdengar di gendang telinga Naruto.
Naruto hendak menjawab namun baru sadar kalau bibirnya sedang di 'comot' Sasuke. Naruto langsung menggelengkan kepalanya hingga tangan Sasuke yang mencubit gemas bibirnya terlepas.
"Huh… Enak saja ! Aku tak sepertimu yang seorang raja mesum." Naruto kembali melanjutkan pekerjaannya setelah sadar bahwa dirinya melamun. Yang parahnya ia justru malah melamunkan hal-hal yang menurutnya buang-buang waktu.
Sasuke sudah kembali dari urusannya dan melihat sekretarisnya sedang melamun dengan pose yang sungguh imut. Sasuke paling tak tahan dengan bibir Naruto yang manyun-manyun itu. Karena gemas, Sasuke langsung saja menarik bibir itu hingga empunya langsung kembali dari dunia lamunannya.
"Lagi ngelamunin apaan sih ?" Sasuke mendadak kepo. Padahal dasarnya Sasuke ini orangnya yang tak peduli dengan lingkungan sekitar tapi bila dengan Naruto, sikapnya yang di bilang tak peduli dan cuek itu menjadi cerewet dan kepo-an. -_-
"Bukan apa-apa." Jawab Naruto cuek tanpa memandang Sasuke. Dirinya tetap fokus ke pekerjaannya.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Sou ka." Tiba-tiba terlintas niat jahil di kepala Sasuke.
Sesaat hening menyelimuti mereka berdua sampai Sasuke memanggil Naruto. "Hei, Naru."
"Hmm ?" Naruto mendongakkan kepalanya bermaksud memandang sang atasan. Iya memandang tapi haruskah wajah atasannya sedekat ini ? Haruskah sang atasan memandangnya intens dalam jarak sedekat ini ? Haruskah sang atasan memegang dagunya seperti ini ? Dan yang lebih terpenting haruskah bibir mereka saling menempel ?!
"Hmmphh… puwaah."
Sasuke hanya mendengus geli ketika melihat sekretarisnya ini kehabisan nafas dan oww… lihat wajah kesal yang terlihat manis itu.
Wajah Naruto memerah menahan marah sekaligus malu. Darah sudah memuncak ke ubun-ubun siap di letuskan ibarat gunung berapi. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar teriakan Naruto yang menggema di ruangan itu. "DASAR SASUKE BAKA-HENTAI !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anata ga nozomu no nara ba~
Inu no yoni jujun ni~
Himo ni nawa ni kusari ni~
Shibarete agemasho~
Naruto yang terlihat sedang sibuk menekuni berkas-berkas kantor melirik ponselnya yang berdering menperdengarkan suara lagu yang begitu di sukainya. Naruto mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Ino-nee
Seketika wajah Naruto langsung sumringah melihat nama yang tertera di layar touchsreen nya. Ternyata kakaknya yang menelpon.
"Moshi-moshi, nee-san ?"
"Halo dedek Naru ? Apa kabar ? Bagaimana hari-harimu di Tokyo ? Oh ya ku dengan kamu bekerja sebagai sekretaris ya ? Waah sugoii ! Bagaimana pekerjaannya ? Lancar kah ? Oh ya-
"Nee-san ! Satu-satu tanyanya !" Sungut Naruto jengkel dengan kebiasaan nee-san cerewet nya yang satu ini.
"Hehehe gomen-gomen. Habis nee-san rindu sekali denganmu, dedek Naru."
Naruto hanya mendengus jengkel mengingat kebiasaan Ino. "Baiklah, Naru jawab satu-satu. Halo juga nee-san. Naru baik kok. Hari-hari Naru berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa…" Tiba-tiba Naruto terdiam. Ia tiba-tiba teringat akan kejadian tadi malam di mana saat atasan –mesum- nya itu menciumnya tanpa izin. Sontak wajah Naruto memerah. Apa itu bisa di bilang termasuk istimewa tidak, ya ?
"Halo, dedek Naru ? Kamu masih di sana kan ?" Suara dari seberang telpon menyadarkan Naruto dari ingatan nista semalam.
"E-eh iya nee-san. Naru masih di sini kok." Naruto berdehem sejenak. "Nee-san tahu Naru bekerja di mana ? Pasti dari kaa-san ya ? Iya, nee-san. Naru bekerja sebagai sekretaris. Hmm lancarnya sih nee-san. Ya lumayan lah." Suara Naruto terdengar ragu di bagian akhir. Sepertinya soal dia ciuman dengan Sasuke tak perlu di ceritakan deh. "Nee-san sendiri bagaimana kabarnya ?"
"Nee-san baik kok. Sangat baik malah tapi nee-san bosan di sini. Ingin cepat-cepat pulang ke Tokyo. Nee-san rinduuuu sekali padamu. Pengen nguyel-nguyel(?) pipimu lagi. hihihi."
Perkataan terakhir Ino membuat wajah Naruto menjadi begini -_-
"Jadi nee-san pulang Cuma buat ngacak-ngacak wajah Naru saja. Huh." Sungut Naruto. Untung saja Sasuke sedang tidak melihat ekspresi imut Naruto saat ini. Kalau iya, sudah bisa di pastikan Naruto langsung di 'makan' di tempat.
"Oh ya Shion-nee mana ? Naru ingin ngobrol dengan Shion-nee soalnya Naru rindu."
"Jadi kamu Cuma rindu sama Shion. Sama nee-san tidak ? Dedek Naru jahat. Hiks hiks." Suara Ino di seberang sana di buat-buat sedih dengan tangisan yang di buat-buat pula.
"Iya, Naru juga rindu sama Ino-nee. Usah lebay deh, Nee-san." Naruto memutar bola matanya merasa nee-san nya yang ini terlalu lebay dan itu memang benar.
"Hehehe, kalau gitu tunggu sebentar ya dedek Naru."
Naruto hanya menggumam tanda responnya. Sayup-sayup Naruto mendengar suara Ino memanggil kembarannya. Ya, Naruto mempunya sepasang kakak perempuan kembar. Namikaze Shion dan Namikaze Ino. Shion lahir enam menit lebih awal ketimbang Ino jadi intinya Shion adalah kakak meskipun usia Cuma beda enam menit. Ino dan Shion memang menggunakan marga ayah mereka dari pada Naruto menggunakan marga ibu nya. Alasannya sih biar ada yang meneruskan marga ibunya. Padahal kan terbalik. Seharusnya Naruto yang notabene seorang anak laki-laki yang harus mengikuti marga ayahnya tapi yaah mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Di tambah lagi ibu nya Naruto begitu menyayangi anak laki-laki nya ekhemmanisekhem itu. Jadi apapun yang di inginkan ibunya mau tak mau ayah Naruto harus menurutinya selagi itu baik.
Oh ya dari tadi Cuma menyebut ayah atau ibu nya Naruto. Lebih baik di sebut namanya. Ayah Naruto bernama Namikaze Minato yang sudah berusia 57 tahun dan istri nya Namikaze-Uzumaki Kushina yang berusia 54 tahun. Sedangkan kedua kakak kembarnya itu sudah berusia 25 tahun dan dirinya anggota termuda di keluarga Namikaze memiliki usia 22 tahun. Ayah Naruto seorang presdir di sebuah Namikaze Corp. dan ibunya seorang pensiuan designer ternama yang kini telah di gantikan oleh kedua kakak kembarnya. Kakak-kakaknya lah yang meneruskan bakat ibu nya dalam merancang, yang juga tak kalah terkenal. Bahkan nama mereka di kenal sebagai De Twins. Saat ini duo kembar itu sedang berada di Paris. Tuntutan pekerjaan mereka sebagai designer.
Baiklah, cukup sudah perkenalan keluarga Namikaze. Seluk beluk selebihnya akan di jelaskan seiring berjalannya cerita. XD
"Halo, Naru ?"
"Nee-san, apa kabar ?!" Teriak Naruto sontak membuat telinga seseorang di seberang sana berdenging.
"Naru, jangan teriak-teriak. Nanti nee-san bisa budek."
"Hehehe gomen ne~. Habisnya Naru rindu sama kalian berdua. Nee-san kapan pulang ?"
"Hhmm mungkin sebentar lagi, Naru. Kira-kira lima hari lagi lah." Jawab Shion tenang. Ciri fisik mereka memang sama yaitu berambut pirang dan sama-sama cantik. Ino dan Shion mempunyai sifat yang bentrok. Bila Ino cerewet, maka Shion mempunyai aura tenang. Bila Ino pelupa, Shion yang selalu ingat. Bila Ino centil maka Shion bersikap dingin. Dan bila mereka merasa galau, Shion akan lebih banyak tidur sedangkan Ino lebih banyak makan. Dan keesokan harinya akan terdengar jeritan Ino karena berat badannya bertambah serta galaunya menjadi 2x lipat.
"Yatta ! Naru tak sabar menunggu kalian pulang. Jangan lupa oleh-olehnya ya, nee-san ! Hehehe."
"Hahaha baiklah, akan nee-san bawakan. Kamu mau di bawakan apa ?"
"Bisa tolong bawakan menara Eiffel, nee-san ?"
"Kamu kira itu mainan bisa di bawa-bawa. Hahaha, dasar kamu ini."
"Hehehe habis tadi nee-san tanya. Ya udah, Naru request dong."
"Ah kamu ini ada-ada saja. Ya, sudah dulu ya. Nanti kita telponan lagi. Nee-san masih ada rancangan yang harus di selesaikan."
"Baiklah, nee-san. Naru juga mau melanjutkan pekerjaan Naru. Bye-bye, nee-san. Naru sayang kalian."
"Ganbatte ne~. Bye-bye, Naru. Kami juga sayang kamu."
Biip
Sambungan telpon pun terputus. Wajah Naruto jadi lebih ceria dari pada sebelumnya setelah selesai ngobrol dengan kedua kakaknya yang paling di sayangi.
"Asyik ya. Habis telpon-an sama siapa ?" Suara barithone terdengar menyeletuk dan itu hampir saja membuat Naruto melambungkan ponselnya karena kaget.
"Uchi- maksudku Sasuke. Sejak kapan kamu di situ ?" Naruto melihat sang atasan sudah berdiri dengan di pintu ruang kerjanya dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Sejak kamu bilang 'Yatta ! Naru tak sabar menunggu kalian pulang. Jangan lupa oleh-olehnya ya, nee-san ! Hehehe' ." Sasuke meniru cara bicara Naruto dengan begitu datar plus ekspresi yang datar pula.
"Eh suaraku terlampau keras ya ?"
"Siapa itu ?" Tanya Sasuke dengan datar mengacuhkan pertanyaan Naruto barusan.
"Kakakku." Jawab Naruto singkat.
"Kakak atau 'kakak-kakakan' ?" Tanya Sasuke dengan nada yang menyebalkan.
"Ih kamu ini kenapa sih ? Kok sewot gitu !? Beneran kakakku. Mereka sedang berada di Paris. Tadi mereka menelpon hanya untuk melepas rindu." Jelas Naruto jadi ikutan sewot.
Sasuke hanya mengedikkan bahunya kemudian hendak melangkah masuk ke dalam ruangannya sebelum suara Naruto terdengar hingga ia menunda langkahnya. "Apa kamu perlu sesuatu ? Sepertinya tadi kamu ada yang penting sehingga mau menunggu."
"Ada sih. Tapi karena tadi kamu asyik menelpon, ya aku terpaksa menunggu." Perasaan Naruto saja atau nada bicara Sasuke seperti hmm… cemburu ?
"Ya, kan aku sudah selesai. Aku sudah bisa membantu keperluanmu." Naruto berusaha membujuk atasannya ini yang sepertinya ngambek.
"Tadinya sih. Sekarang tidak lagi." Selesai Sasuke menjawab, ia pun melangkah masuk ke ruangannya meninggalkan Naruto dengan rasa heran. Atasannya itu kesambet atau gimana. Aneh sekali, pikir Naruto.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto heran dengan atasannya ini. Semalam mesumnya bukan main. Dikit-dikit main cium. Dikit-dikit 'di hukum'. Tapi sekarang kok atasannya ini diam saja. Di ajak ngomong, jawabannya bikin makan ati. Bukannya Naruto perhatian atau apa. Naruto hanya penasaran saja. Jangan bilang semalam itu atasannya ini hanya mengujinya saja. Kalau memang benar, itu sudah keterlaluan. Naruto akan menghajarnya kalau dugaanya benar.
"Sasuke, ini dokumen yang kau minta."
"Hn. Letakkan saja di sana."
Naruto semakin heran jawaban Sasuke yang terkesan datar dan acuh. Padahal semalam ia tak seperti ini. Bahkan tadi saat ia mengajak makan siang saja, Sasuke menolak dan lebih memilih makan di kantor dari pada ikut dirinya ke Cafetaria.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu ?" Tanya Naruto mencoba untuk peduli. Naruto agak ragu bertanya karena takutnya nanti pertanyaannya malah di jawab dengan 'tindakan'.
"Hn." Di sisi lain Naruto bersyukur apa yang di pikirkannya tak terjadi tapi di sisi lain Naruto agak kesal dengan jawaban atasannya ini yang acuh tak acuh padanya.
"Baiklah, aku akan kembali ke pekerjaanku. Permisi." Naruto melangkah keluar ruangan Sasuke yang masih tak mau memandangnya dan lebih memilih sibuk dengan pekerjaanya. Padahal sedari awal Naruto masuk, Sasuke sudah ingin 'menyerang' nya tapi mati-matian ia tahan karena Sasuke sedang bersikukuh mempertahankan yang bahkan Sasuke tak mau mengakui kalau saat ini sedang merajuk. Dia hanya menunggu sekretaris manisnya itu peka. Tapi nyatanya tak peka-peka. Bikin Sasuke jadi tambah merajuk saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah waktunya pulang dan beristirahat. Naruto pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian mulai mengemasi barang-barangnya. Selesai ia berkemas, bertepatan pula dengan Sasuke yang keluar dari ruangannya.
"Ayo, pulang." Ajak atasannya itu atau terdengar seperti perintah bagi Naruto.
"Huh ?" Naruto bingung dengan ajakan Sasuke barusan melainkan dengan Sasuke nya yang tiba-tiba sudah mau ngomong dengannya. Bukannya tadi dia ngambek ?
"Aku bilang, ayo pulang." Ulang Sasuke masih dengan nada datar.
"Eh iya ini juga aku mau pulang. Aku harus bergegas agar tak ketinggalan bus."
Sasuke menaikkan sebelah alis. "Siapa bilang kau pulang dengan bus ?"
"Eh ?"
"Kau pulang denganku. Ayo." Sasuke menarik –menyeret- tangan Naruto agar mau ikut dengannya. Terkesan memaksa sih tapi yah Sasuke nya tak tahan untuk mengabaikan makhluk yang terlampau manis ini.
"Eh, tunggu dulu Uchi- Sasuke. Aku-
Sasuke tiba-tiba berhenti hingga otomatis membuat Naruto pun berhenti. Sasuke menoleh, memandang Naruto yang di belakangnya dengan tatapan tajam yang langsung membuat Naruto menciut. "Mulai hari ini, esok dan seterusnya. Kau akan pulang pergi bersamaku, paham ?"
Naruto yang takut dengan tatapan tajam Sasuke tanpa sadar hanya mengangguk patuh.
"Bagus." Sasuke kembali melangkah dan kali ini dengan tidak menyeret Naruto melainkan memang menggandengnya. Menggenggam tangan Naruto lembut hingga parkiran basement. Untungnya tidak ada yang melihat mereka karena mereka berdua menaiki lift khusus direktur yang langsung menuju ke basement. Naruto sedari tadi hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menahan malu.
Di perjalanan pun tidak ada yang buka suara. Sasuke memang pada dasarnya jarang buka suara hanya diam. Terkecuali dengan pemuda manis di sebelahnya ini. Tapi kan sekarang ini ceritanya Sasuke sedang ngambek jadi yaa Sasuke jual mahal gitu lah. Ia hanya fokus mengemudikan mobilnya. Beda Sasuke, beda lagi Naruto. Ia yang biasanya protes ini itu kali ini hanya diam tak berani buka suara karena masih ingat dengan Sasuke yang menggandengnya tadi. Jadi intinya malu Naruto masih ada. Jadinya ia hanya memandang keluar jendela. Meskipun sudah berada di lampu merah mereka tetap diam.
"Waah ada taman bermain !" Naruto tiba-tiba bersorak takjub sukses mencuri perhatian Sasuke.
"Hn ?" Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Sasuke, ayo mimpir ke sini dulu. Aku sudah lama tidak ke sini." Seakan lupa dengan rasa malunya yang tadi, dengan seenak udelnya Naruto menyuruh Sasuke singgah ke taman bermain yang mana tempat itu sama sekali bukan tempat yang cocok untuk orang-orang seperti Sasuke.
Sasuke mengerutkan keningnya tanda heran. "Kau ini seperti anak-anak saja. Ingat, kau ini sudah 22 tahun. Tak ada pantas-pantasnya lagi pergi ke sana." Komentar pedas Sasuke tak menyurutkan keinginan Naruto untuk ke sana melainkan makin membuncah.
"Ayolah, Sasuke. Sekali-sekali kan tidak apa-apa. Aku janji kau tak akan menyesal bila ikut kesana." Naruto berusaha membujuk Sasuke.
"Tidak." Jawab Sasuke singkat, padat dan jelas sambil melepaskan bekapannya.
Naruto bingung. "Apanya yang tidak ?"
"Kita tidak akan kesana."
Naruto loading sebentar dan akhirnya mengerti maksud perkataan Sasuke.
"Eeehh ? Kok gitu ? Ayolah, Sasuke. Sudah lama sekali aku tidak kesana." Mohon Naruto dengan muka memelas.
"Kau itu bukan anak kecil lagi, Naruto. Ditambah lagi aku tidak suka keramaian." Bantah Sasuke tetap menolak.
"Ayolah, Sasuke. Aku ingin sekali ke sana. Semenjak Ino-nee dan Shion-nee ke Paris, aku tak pernah lagi ke sana sampai sekarang. Padahal biasanya aku ke sana bersama mereka. Ayolah, ku mohon." Wajah Naruto berubah sendu dan sekejap berubah menjadi ekpresi memohon sambil menyerang Sasuke dengan tatapan puppy eyes andalannya yang biasanya selalu berhasil, dan mari kita lihat apakah berhasil untuk seorang Uchiha Sasuke.
Yap, Sasuke hampir goyah melihat tatapan memelas Naruto yang begitu menggemaskan. Sasuke jadi bimbang antara iya dan tidak.
"Ayolah, sebentar saja pun tidak apa-apa. Setidaknya satuuu saja aku mencoba permainannya." Naruto mengacungkan jari telunjuknya dengan ekspresi yang di buat semeyakinkan mungkin. "Ya ya boleh ya ?"
Sasuke menghela nafas lelah. "Baiklah, hanya sebentar." Akhirnya ia luluh juga.
"Yatta !" Sorak Naruto kekanakan. Tanpa sadar Sasuke mengulas senyum tipis.
Lampu lalu lintas yang awalnya warna merah berubah menjadi hijau yang artinya sudah boleh melaju. Seharusnya jalur yang di tempuh Sasuke lurus menjadi belok di karenakan permintaan pemuda kesayangan di sampingnya yang sudah memasang tampang seperti anak yang di ajak orang tuanya ke taman bermain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dahi Sasuke berkedut jengkel melihat pemandangan dan suasana di taman bermain ini. Sekarang ini Sasuke dan calon uke nya sedang berada ditaman bermain yang begitu ramai dengan orang-orang. Sasuke adalah tipe orang yang benci dengan yang namanya ramai. Bukannya dia anti sosial. Dia hanya tak suka berdesak-desakan ataupun di tengah-tengah orang-orang yang hampir menyaingi penonton konser begini. Ia masih bisa toleransi kalau ramai nya seperti di mall karena di mall meskipun ramai tapi tidak akan terlihat padat beda dengan taman bermain seperti. Kalau bukan karena permintaan sekretaris manisnya ini tak bakalan mau Sasuke kemari, siapa lagi kalau bukan pemuda pirang manis a.k.a Naruto yang sekarang sedang menikmati taman bermain dengan mata yang berbinar-binar kesenangan.
Sasuke yang sedang merengut kesal sedangkan tersangka a.k.a Naruto dengan tampang tak berdosa memperlihatkan cengirannya yang mampu meluluhkan hati Sasuke yang sempat dongkol tadi.
"Hmm kemana dulu ya ?"Tanya Naruto pada dirinya sendiri sambil meletakkan telunjuknya didagu. Pose imut yang mampu membuat orang-orang di sekitar mereka yang melihatnya jadi tabrakan satu sama lain.
"Aha ! Kita kesana dulu ya, Sasuke. Aku mau permen apel itu." Ujar Naruto segera menarik tangan Sasuke ke salah satu stan yang menjual permen apel. Sasuke menurut saja karena dia lagi kesenangan digandeng -meskipun terlihat seperti digeret- oleh ukenya oops calon maksudnya. Tadinya Sasuke sudah badmood dan makin badmood ketika melihat suasana taman bermain yang begitu ramai tapi rasa badmood itu berangsur-angsur hilang hanya dikarenakan memandang wajah bahagia Naruto yang entah kenapa membuat hatinya menghangat.
"Paman permen apelnya satu ya." Pinta Naruto pada setelah berada di depan stan penjual permen apel.
"Baik. Ini permen apel yang kau minta." Ujar paman penjual permen apel itu seraya menyerahkan satu permen apelnya pada Naruto.
"Arigatou~ paman." Naruto menerimanya dan hendak membayar kalau saja tangan seputih porselen tidak menahan tangannya.
"Tidak usah. Biar aku yang bayar." Sela Sasuke sembari menyodorkan beberapa lembar uang pada paman itu.
"Eh ? Kok kamu yang bayar ? Kan aku yang…" Sasuke langsung meletakkan telunjukknya dibibir mungil Naruto mengisyaratkan Naruto untuk diam dan Naruto benar-benar langsung diam dengan wajah menunduk malu.
"Ini kembaliannya." Ujar paman penjual permen apel itu sambil menyerahkan kembalin uang pada Sasuke. Sasuke menerimanya dan langsung menggandeng tangan Naruto pergi dari situ.
"Ke-kenapa kamu yang bayar ? Kan aku jadi tidak enak." Naruto menyuarakan rasa segannya pada sang atasan. Ya iyalah, Masa' Naruto yang beli, Naruto yang makan tapi yang bayar Sasuke. Kan jadinya tak enak hati.
"Sudah, jangan di pikirkan. Makan saja permenmu. Tak usah merasa tak enak begitu. Aku melakukannya karena aku ingin."
Mereka berkeliling dalam diam dengan tangan Sasuke yang menggandeng tangan Naruto yang bebas karena yang satunya lagi di pakai buat memegang permen apel yang barusan di beli. Awalnya Naruto menikmati permennya tapi tiba-tiba ia merasa tak enak bila tak menawarkan Sasuke. Siapa tahu Sasuke mau.
"Sasuke mau ?" Tawar Naruto seraya menyodorkan permen apelnya yang sudah tak utuh lagi bentuknya karena Naruto sudah memakannya sejak mereka berkeliling tadi.
"Aku tidak suka yang manis-manis." Tolak Sasuke.
"Ya sudah deh kalau kau tak mau. Aku habiskan sendiri saja." Naruto menarik tangannya dan kembali memakan permen apelnya.
'Tapi kalau manisnya seperti kau, lain lagi cerita' Batin Sasuke sambil tersenyum err… mesum.
Mereka bersenang-senang lebih tepatnya Naruto yang bersenang-senang karena Sasuke sejak awal masuk ke taman bermain hanya memasang stoic face meskipun dalam hati berbunga-bunga karena bisa berduaan dengan uke oops salah lagi, maksudnya calon ukenya.
Kemana pun mereka pergi, Sasuke tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya ditangan mungil Naruto. Bahkan Sasuke menganggap bahwa mereka sedang berkencan yaaah walaupun hanya sepihak dari Sasuke tapi setidaknya itu sudah cukup membuat Sasuke serasa melayang kelangit kedelapan(?).
"Sasuke sepertinya itu mengasyikkan. Ayo, kita kesana." Celetuk Naruto tiba-tiba sambil menarik Sasuke ke stan yang menyediakan permainan tembak-tembakan dengan boneka sebagai hadiahnya.
"Woaah bonekanya bagus sekali. Aku mau boneka itu, paman." Ujar
Naruto setelah sampai di stan. Orang yang dipanggil paman oleh Naruto itu melihat ke arah boneka yang ditunjuk Naruto. Sebuah boneka rubah lucu yang besar berwarna orange dan mempunyai sembilan ekor.
"Sudah kuduga kau tertarik dengan boneka itu. Memang banyak peminat boneka itu hanya saja entah kenapa belum ada yang pernah berhasil mendapatkannya. Nah, silahkan. Berusahalah biar kau bisa menjadi orang pertama yang mendapatkannya." Ujar paman itu seraya memberikan Naruto sebuah senapan mainan yang khusus untuk permainan itu setelah Naruto menyerahkan sejumlah uang pada sang paman.
"Yosh ! Kalau begitu aku akan berusaha. Tenang saja, aku pasti akan mendapatkannya, paman." Ucap Naruto penuh percaya diri. Sasuke yang mendengarnya hanya mendengus.
Kesempatan yang diberi hanya tiga kali dan sayangnya Naruto gagal ketiga-tiganya. Sepertinya Naruto memang tak berbakat dalam hal tembak menembak ya. Ck ck ck.
Naruto hanya manyun karena tidak berhasil. Sasuke yang melihatnya entah kenapa ikut menjadi kasihan dan simpati. Sasuke memandang boneka yang diinginkan Naruto sejenak dan berpikir kalau ia bisa mendapatkan boneka itu, siapa tau juga bisa mendapatkan hati Naruto. Tiba-tiba Sasuke tersenyum gaje. Saatnya jadi pahlawan untuk uke tercinta, pikir Sasuke.
"Paman, aku ingin mencobanya." Ujar Sasuke tiba-tiba yang mengagetkan Naruto. Naruto memandang ke arah Sasuke yang menyerahkan sejumlah uang pada pama itu dan sebagai gantinya ia menerima senapan dari sang paman penjaga stan.
Sebelum memulai, Sasuke sempat melirik Naruto sebentar yang sedang memandang penuh harap padanya. Sasuke tersenyum tipis dan mulai menembak.
Dor
Pluk
Sekali kesempatan dengan sekali tembakan, Sasuke berhasil menjatuhkan boneka itu dan membuat paman yang ada disitu tercengang dengan kemampuan Sasuke. Sejenak paman itu tersenyum dan mengambil boneka itu. Ia menyerahkannya pada Sasuke dan Sasuke pun menerimanya.
"Yeeiyy Sasuke berhasil !" Teriak Naruto kegirangan dan hendak mengambil boneka yang ada ditangan Sasuke agar bisa memeluknya.
Hup
"Are~ ?" Bngung Naruto tiba-tiba boneka yang hendak dipeluknya menghilang entah kemana dan dirinya hanya memeluk ruang kosong. Ia mendongak ke atas dan melihat bahwa boneka itu diangkat tinggi-tinggi oleh Sasuke.
"Sasuke ! Berikan padaku." Pinta Naruto seraya lompat-lompat mencoba menggapai boneka ditangan Sasuke namun karena tubuhnya kurang tinggi –jika tak ingin di bilang pendek- jadinya ia tidak berhasil menggapai apa-apa.
"Kenapa aku harus memberikannya padamu ? Ini kan punyaku." Ujar Sasuke sengaja ingin menjahili Naruto.
"Tapi kan aku yang duluan melihatnya. Jadi, boneka itu milikku." Naruto tetap bersikukuh.
"'Milikku' ? Maksudmu milikku." Ralat Sasuke masih dengan mengangkat tinggi-tinggi boneka yang dipegangnya. "Kan aku yang mendapatkannya. Jadi, artinya boneka ini milikku."
Naruto berhenti melompat-lompat dan membalikkan badannya. Ia terdiam sambil menundukkan kepalanya sedih.
'Benar juga. Kan Sasuke yang mendapatkannya berarti bukan milikku' Inner Naruto sedih dengan raut wajah yang memancing orang untuk merape nya.
Sasuke tersenyum, hatinya merasa tak tega juga. Dari awal kan ia men-targetkan boneka ini memang untuk Naruto. Ia mendekati Naruto yang masih menundukkan kepalanya. Sasuke menyerahkan boneka itu dihadapan Naruto sedangkan ia dibelakang punggung Naruto. Sasuke mengurung Naruto diantaranya dan boneka yang dipegangnya.
Naruto tersentak melihat boneka yang diinginkannya sedari tadi berada dihadapannya. Iapun memegang boneka itu dan memandang kearah Sasuke yang sedang tersenyum padanya.
"Untukmu." Ucap Sasuke.
"Hountou ni ?" Tanya Naruto memastikan. Sasuke pun mengangguk.
Seketika saja wajah Naruto langsung berubah ceria dan segera memeluk boneka erat-erat.
"Arigatou~." Ucap Naruto dengan cengirannya.
"hanya perempuan yang suka boneka."celetuk Sasuke tiba-tiba yang merusak suasana hati Naruto yang tadinya sudah gembira.
TWITCH
"Aku bukan perempuan, bakaaa !" Marah Naruto tak terima.
"Siapa yang bilang kau perempuan ?" Tanya Sasuke dengan tampang tak bersalah.
"Itu barusan kau mengataiku perempuan."
"Aku kan hanya bilang 'hanya perempuan yang suka boneka' bukan bilang kau seperti perempuan." Ralat Sasuke. "Atau jangan-jangan kau memang perempuan lagi."
Kontan wajah Naruto memerah. "Baka ! Aku bukan perempuan !" Ia malu karena ketahuan salah tapi masih ngotot saja. Ia pun menyembunyikan wajahnya pada boneka yang dipegangnya.
"Kau memang bukan perempuan tapi kau adalah bidadariku, Naruto." Bisik Sasuke dengan lembut. Sasuke dapat melihat dengan jelas bahwa kuping Naruto memerah -karena wajah Naruto masih bersembunyi- yang artinya Naruto sudah sangat malu sekali karena Sasuke berkata begitu. Sasuke hanya tersenyum geli dan mengusap-usap kepala Naruto dengan sayang.
"Ne~ Sasuke, tadi sewaktu di kantor kenapa kau mengabaikanku ?" Tanya Naruto setelah mengangkat wajahnya. Masih ada rona merah samar di pipinya.
"Yang mana ?"
"Iih itu lho waktu aku selesai menelpon kakakku, kau tiba-tiba tak mau bicara padaku. Atau aku sebut saja kalau kau itu sedang merajuk."
Akhirnya calon uke nya ini peka juga tapi- ."Aku tidak merajuk." Jawab Sasuke cepat dan datar.
"Lalu ?" Naruto memiringkan kepalanya imut. Tahan, sas.
Sasuke menggaruk-garuk belakang kepalanya yang bisa di pastikan tidak gatal. "Aku hanya tak suka di acuhkan." Ujarnya pelan namun masih bisa di dengar Naruto.
Naruto hanya menghela nafas. "Aku kan tidak mengacuhkanmu, Sasuke. Kan sudah ku bilang kalau aku sedang menelpon. Dan lagi aku juga tidak tahu kalau kau sudah berdiri menungguiku." Naruto menjelaskan dengan hati-hati mengingat atasannya ini selain mesum dan pemaksa. Ia juga keras kepala dan egois. Meskipun mereka baru kenal dua hari tapi Naruto sudah bisa membaca beberapa sifat Sasuke. Jadinya Naruto harus menjelaskannya dengan pelan-pelan agar Sasuke mengerti.
"Kau bilang kau tak suka di acuhkan tapi kau sendiri mengacuhkanku." Lanjut Naruto protes dengan menggembungkan pipinya.
Sasuke hanya terkekeh pelan. "Gomen~." Untuk pertama kalinya Sasuke meminta maaf dengan seseorang yang baru di kenalnya dua hari. Bukan masalah kenal atau tidaknya. Sasuke adalah tipe orang yang tak mudah meminta maaf tapi kali ini dengan gampangnya ia mengucapkannya. Sungguh Naruto benar-benar membuat Sasuke berubah 180 derajat dari yang biasanya. Selamat untuk Naruto.
Hilang sudah badmood Sasuke tadi. Ternyata Naruto peka juga yaah meskipun telat pekanya tapi setidaknya Sasuke senang karena bisa bersama dengan Naruto di waktu yang bebas ini. Intinya sekarang ia ingin bersenang-senang dengan pemuda manis ini. Kapan lagi ia bisa jalan bareng sekretaris manisnya ini. Jadi kesimpulannya, tadi Sasuke ngambek karena keberadaannya tak di gubris Naruto. Ya bukan salah Naruto juga sih. Naruto nya kan tidak tahu kalau ada Sasuke sedang menungguinya. Sasuke nya saja yang terlalu lebay. Ah dasar. (-_-')
TBC
Oh ya bagian Naruto telfon2an ama kakak kembarnya memang it's so boring tapi percakapan itu di perlukan untuk dukungan ceritanya XD
Bila percakapan mereka di kosongkan ntar chapter selanjutnya akan sulit di skenario-kan karena ntik kalau tiba2 mereka nongol (Ino & Shion) kan gak etis, ntar readers malah pada bingung, setidaknya bakalan ada pertanyaan seperti ini, "Lho mereka berdua sebenarnya siapanya Naruto sih, thor?" atau "Aduh aku gak ngerti kok bisa mereka muncul, ini maksudnya gimana sih, thor ?" dan pertanyaan2 bingung yang lainnya :3
Dan bila pertanyaan2 itu mucul maka terbitlah Flashback dan author adalah tipe penulis yang tak terlalu menyukai Flashback #HarapMaklum XD
Sakit tau ingat masa lalu mulu #AuthornyaCurhat (^_^!)
Tapi meskipun tak terlalu suka ya mau gak mau terkadang harus di masukan ke cerita yang Itsu buat biar ceritanya lebih gampang di mengerti #plak #PlinPlan
Huftt tapi akhirnya selesai juga chapter empat
Gimana minna~ gimana ? Kurang asyik kah ?
Hmm sudah Itsu duga (lagi) #plak
Ini Itsu tulis sebelum bulan puasa lho, post nya aja yang baru sekarang hahaha #DiSambit
Jangan lupa krisarnya ya minna~
Kalau masih ada kekurangannya jangan segan untuk memberitahu Itsu karena kritikan bisa membuat suatu karya itu menjadi lebih baik
Dan Itsu akan berusaha untuk memperbaiki kekurangannya :D
Oh ya bila ada yang penasaran dengan lirik nada dering telpon Naru yang Itsu buat di sana itu sebenarnya lagu Rin Kagamine – Iroha Uta ^^
Kalian bisa men-downloadnya jika kalian berkenan
Itsu suka banget dengan lagunya karena lagunya keren sekaligus asyik, makanya Itsu bikin itu jadi nada dering telpon Naru hehehe :v
Syiera Aquila : Ha'i ha'i arigatou ne~ krisar nya Syie-chan (gak apa2 kan panggil gitu ? XD) review mu sangat membantu.
Mudah2an chapter ini gak kebanyakan typo yak. Tapi kalau masih ada banyak juga, ya maklumlah, namanya juga tengah malam haha #Hajared
Lhiae932 : Arigatou ne~ udah mau baca ff abal2 Itsu
Hee kurang panjang ya ? Mudah2an chapter ini panjang deh haha XD
Sas'ke : Arigatou~ Itsu senang ternyata banyak yang suka sama ff Itsu yang tak seberapa ini wkwk
Okeh2 mari kita sama2 menyingkirkan Karin nyiahaha #DiHajarFansKarin
Jasmine DaisynoYuki : Mudah2an chapter ini menjawab pertanyaanmu ^^
kazekageashainuzukaasharoyani : Serius, sampai saat ini namamu membuat mata Itsu kriting (^_^!)
eh iya sepertinya Itsu luput akan hal yang satu itu
nah chapter ini sudah menjelaskan usia nya
arigatou~ telah mengingatkan ^^
liaajahfujo : Kalau penasaran ikuti saja terus ceritanya ^^
45 : Kalau yang authornya Itsu, sudah pasti Sasu nya OOC huahahaha #DiChidori
dewaagustasuryatno : Hei hei rate M udah ada noh di sebelah
kalau yg ini bakalan tetap menjadi rate T sampai kapanpun, semoga XD
Classical Violin : Waah kamu gak memperhatikan kalimatnya ya (^_^!)
"Keduanya membagi kehangatan satu sama lain di malam yang dingin tanpa ada niat untuk berhenti."
Mereka tanpa ada niat berhenti itu saling membagi kehangatan bukannya ciumannya
Ah kamu sih baca nya seponggol doang #DiGampar
Membagi kehangatan kan bukan di lambangkan dengan ciuman saja :3
fara cuties : Kalau Itsu authornya sudah pasti Sasuke nya mesum
dan soal Karin jadi saingannya Naruto, ikuti aja terus cerita ^^ #KokKayakSinterongYak
InmaGination & Dewi15 : Arigatou udah mau baca, itu sudah lanjut ^^
Eun810 : Hah jadian ? :/
Mesumnya dikau nak (-_-')
shiraishi connan : hahaha Sasuke versi author mah gitu :v
Hosoya Yuu : Hah santai ? Hontou ?
Bahasa santai yang dalam segi apa yak ?
Mohon penjelasannya ^^
SapphireOnyx Namiuchimaki : Iya, jahat Karin ya. Kok bisa ya dia sampai sejahat itu #Lah
Yosh ! Arigatou udah mau baca ^^
danang aji p : Hah DAP ? Walaah pantes. Iya sih cocok DAP dengan danang aji p haha :v
kamu review 4 kali berturut2 di chap 3, jadi bingung mau balas yang mana
ya udah, di gabungin aja yak. XD
arigatou udah mau repot2 membaca ff Itsu yang apalah-apalah ini hahaha
michhazz : Okeh2, kamu review 3 kali untuk masing2 chapter
jadinya Itsu gabungin aja yak
arigatou ne~ atas review nya
menggembungkan wajah ? menggembungkan pipi itu maksudnya, hahaha itu misstypo, maap deh~
kalau soal kecepatannya sih namanya juga cinta pada pandangan pertama #eaakkk
tapi tenang aja prosesnya panjang kok, mereka jadiannya gak bakalan kilat gitu hehe
kalau soal berapa chapter nya Itsu gak bisa pastiin tapi ikuti aja terus ceritanya yak ^^
HiNa devilujoshi : Ya, bener masa lalu seperti lagunya mbak linu #plak
Itu udah lanjut ^^
im : Itu udah lanjut ^^
Dwi341 : Aduuh nak ngayal mu itu kok udah jauh banget (^_^!)
URuRuBaek : Karin mati ketabrak ? Doamu jelek banget XD
.11 : itu udah lanjut ^^
Come N Love Me : Pen name mu bikin baper T_T
Arigatou atas support nya ^^
Dan untuk para guest, terimakasih atas review nya. Arigatou udah mau baca ff abal2 Itsu. Mudah2an chapter ini tidak mengecewakan hahaha XD
NB : I'm So Excited nya nyusul ^0^
Oh ya satu lagi mumpung masih suasana lebaran, Itsu mau ngucapin hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin ^^
